Tittle : Little Sunshine
Author : Keiko Yummina
Cast : HunHan (Oh Sehun Xi Luhan), Slight EXO OT12
Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family
Length : Chaptered
Rated : M (Mecum)
WARNING! YAOI, M-PREG
bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!
Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!!
.
.
.
Previous
.
.
.
"Luhan ge." Luhan menoleh ke arah si pemanggil yaitu Yixing.
"..." Luhan hanya memandang Yixing tanpa mengeluarkan suara.
"Apa kau ingin jalan-jalan kaluar jika hujan sudah redah?"
"Em.. Bolehkah?" Tanya Luhan agak ragu.
"Tentu saja. Aku tau kau pasti bosan seminggu ini terkurung ditempat ini."
"Besok kalau hari cerah. Kita akan jalan-jalan keluar sebentar. Disana ada sebuah taman kecil dengan kolam ikan hias. Jadi maukan Luhan ge?"
"Em.. gumawo.." Luhan begitu gembira mendengar ajakan dari Yixing.
.
.
.
CHAPTER 3
.
.
.
Hari yang cerah untuk memulai hari ini. Luhan terbangun akibat bias cahaya pagi yang menyapanya lewat celah – celah jendela kamar yang ia tempati. Luhan membuka matanya dan memposisikan tubuhnya untuk duduk. Memandang ke arah jendela sana yang ternyata sudah pagi. Tak seperti biasanya, pagi ini Luhan tidak merasakan mual maupun pusing seperti biasanya.
.
.
.
Entah fikirannya tak menentu. Hanya kebingungan dan banyak pertanyaan di dalam otak kecilnya tentang dimana ia berada, hingga mengapa ia ada disini. Sekelebat banyangan di ingatannya ketika beberapa orang berpakaian hitam membawanya pergi ke dalam mobil.
Setelah seorang pria dewasa yang tak lain adalah ayahnya sendiri dengan tega menukarnya dengan beberpa koper yang berisi uang. Entah berapa jumlah besarnya. Yang ia ingat setelah itu hanyalah seseorang menyekat dirinya dan tak lama pandangannya mengabur. Luhan jatuh pingsan. Setelah bangun, yang ia lihat hanya sebuah kamar yang mirip kamar inap di suatu rumah sakit.
.
.
.
Selama satu jam Luhan hanya memandang ke arah jendela sana dengan fikiran yang entah berlari kemana. Yixing mengetuk pintu kamar itu, kemudian masuk sambil membawa sebuah kereta makanan seperti beberapa hari yang lalu. Perlu di ingat lagi, Luhan sudah berada disini selama hampir dua minggu.
Dengan setiap harinya ia hanya akan di bantu Yixing yang merangkap sebagai perawat tetap dirinya. Sesekali Yixing mencoba untuk memancing Luhan dalam sebuah obrolan yang sebenarnya mirip Yixing bermonolog sendiri. Karena Luhan mungkin hanya merespon hal – hal kecil seperti halnya menjawab satu-dua patah kata dari pertanyaan Yixing. Untuk awal memang seperti itu pikir Yixing.
Jadi Yixing terus mencoba untuk memancing Luhan dalam sebuah obrolan maupun cerita-cerita yang Yixing sampaikan. Untuk sekarang, hal itu masih belum menunjukkan hasil yang baik. Tapi masih lebih baik daripada awal mereka bertemu. Karena Luhan lebih banyak merespon meskipun dengan jawaban singkat.
"Luhan ge, bagaimana kabar mu hari ini? Apa kau merasa buruk di beberapa bagian?"
"Em.. aku baik. Tidak ada."
"Syukurlah."
"Ge, Hari ini adalah waktunya pengecekan kesehatanmu. Jadi setelah sarapan dan berbenah diri. Kita akan melakukan cek kesehatan." Yixing menarik meja beroda khusus untuk pasien seperti Luhan.
"..." Luhan tidak menanggapi pernyataan Yixing. Ia hanya memposisikan dirinya untuk duduk dan menyantap makan yang telah disajikan dihadapannya.
"Lu ge, Kau harus banyak makan dan jangan lupa minum susu dan vitamin mu."
.
.
.
Suasana tenang menyelimuti acara sarapan pagi Luhan. Yixing masihlah belum memberitahu Luhan mengenai kehidupan baru yang berada di dalam tubuhnya. Yixing masih memikirkan bagaimana caranya ia memberitahu Luhan. Mengingat kondisi dari sudut mental Luhan yang saat ini belum stabil meskipun sudah berada disini selama kurang lebih sepuluh hari perawatan.
Dan jika Luhan tau apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini. Yixing takut hal itu akan mempengaruhi kondisi fisiknya dan bisa merambah ke kondisi janin yang ia kandung. Sehingga untuk saat ini Yixing akan diam sambil memikirkan cara memberitahu mengenai janin yang dikandung Luhan.
.
.
.
Luhan dibawa kesebuah ruangan yang lengkap dengan beberapa alat kedokteran entah apa namanya. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah ranjang dengan seprai biru langit melapisi kasurnya. Luhan diantar Yixing dengan menggunakan sebuah kursi roda.
Bukan karena apa Luhan memakai kursi roda. Hanya saja mengingat kondisi Luhan yang sempat beberapa lalu mengalami drop. Sehingga membuat kondisi tubuhnya masih lemas dalam tahap pengembalian kondisi ke kondisi normal.
.
.
.
Luhan dibantu Yixing berbaring ke atas ranjang disana. Beberapa pemeriksaan dilakukan terhadap diri Luhan. Sampai pemeriksaan kondisi janin yang dikandung Luhan lewat USG. Professor Jung yang saat itu tidak berada di tempat untuk ikut memeriksa keadaan Luhan. Memasrahkan semua pemeriksaan itu kepada kedua asistennya yaitu Kim Suho dan zhang Yixing untuk melakukan prosedur cek kesehatan.
.
.
.
Pertama-tama baju Luhan disingkap hingga sebatas dada. Luhan sedikit terkejut atas tindakan Yixing, dan mencoba memegangi ujung piyama yang ia pakai saat akan di singkap. Namun, Yixing mencoba menyakinkan Luhan.
"Tenanglah ge. Kami hanya ingin melihat kondisi perkembangannya saja."
.
.
.
Luhan sedikit bingung. Apalagi saat dengan perlahan sebuah cairan berbentuk gel di oleskan diatas permukaan perut bagian bawahnya secara merata. Sedangkan Suho melakukan cek tekanan darah pada lengan kiri Luhan menggunakan alat tensi darah. Sebuah alat di tempelkan di atas permukaan perut Luhan yang tadi di olesi cairan berbentuk gel.
Luhan mengamati apa yang Yixing lakukan. Jantung Luhan berpacu kencang setelah mendengar kalimat yang dilontarkan Yixing. Yang membuat Luhan dengan segera melihat kelayar yang ada didepan sana mengikuti arah tangan Yixing yang bebas tanpa memegang alat tadi.
"Luhan ge. Dia tumbuh dengan baik. Lihatlah."
Luhan melihat apa yang tersaji didepan sana. Sebuah gumpalan kecil layaknya kacang. Matanya membola melihat ke arah layar disana. Jantungnya berpacu dengan kencang. Darahnya berdesir terasa begitu deras mengalir di dalam sekujur tubuhnya. Deru nafas memberat menahan getaran hebat akibat apa yang ia lihat di layar itu.
"Luhan ge. Tenanglah."
Yixing sedikit khawatir. Apalagi saat merasakan sedikit pegangan tangan Luhan mengerat di pundaknya. Luhan sedikit meremasnyanya. Yixing yang melihat itu mencoba menenangkan Luhan.
"Ge. Tenanglah. Kumohon. Tarik nafas.. buang nafas. Huuuhh ... haaah.. huuuhh.. Haaah..Bernafaslah ge..."
"Huuuhhh...haaaahhh...Huuuuhhhh...haaahhhh..."
"Yap.. seperti itu.. pelan..hirup dan hembuskan.. perlahan.."
Yixing mencoba membantu Luhan karena deru nafas Luhan yang tadi sempat memberat seakan ia dibungkam dan kesulitan bernafas dengan benar.
"Haaahh.. se-sebenarnya apakah itu?"
Lewat pertanyaan yang diajukan Luhan kepada Yixing terhadap gambar yang terpampang dihadapannya kini. Dengan wajah yang meminta suatu kejelasan yang besar. Membuat Yixing seketika saling menukar pandangan kepada Suho. Dengan harapan Suho akan membantu Yixing untuk menjawab pertanyaan yang ingin Luhan mengerti.
.
.
.
Suho beranjak menarik kursi yang tak jauh dari ranjang Luhan, agar duduk lebih dekat dengan Luhan dan Yixing. Dengan tampang sedikit was-was Suho melemparkan tatapan pada Yixing. Yixing meletakkan alat USG ditempatnya semula. Yixing menanggapi dengan mengenggam tangan Suho untuk berupaya memberi kekuatan padanya. Suho menghela nafas dalam-dalam seraya mengalihkan pandangannya kembali ke arah Luhan.
.
.
.
"Em.. sebelum aku menjawab pertanyaan dari mu, Luhan. Biarkan aku lebih dahulu menjelaskan siapa kami dan apa yang kami lakukan. Baru aku akan menjelaskan sebenarnya apa yang sedang kau alami ini."
"Ne.." Luhan menatap tajam penuh tanda tanya seraya mengiayakan kata-kata yang dilontarkan oleh orang dihadapannya ini.
"Baiklah. Dengarkan."
"Em.."
"Kami semua disini adalah seorang dokter. Dokter utama sebagai kepala penelitian adalah professor Jung Il Woo. Mungkin beberapa waktu lalu kau meliahat seorang pria dewasa dengan rambut putih dengan kaca mata."
"Kau bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, Luhan ge."
"..." Luhan hanya mengangguk mengiyakan.
"Sedangkan kami adalah asisten dari proffesor Jung. Namaku Kim Junmyeon atau kau bisa memanggil namaku Suho, dan kau tentu tau siapa Yixing karena sepertinya kau mulai akrab dengannya."
"Disini kami mengadakan penelitian tentang bayi tabung. Dimana kita bisa melakukan pembuahan secara buatan dengan memberikan pereaksi sebagai pemicu untuk proses pembentukan janin. Dan untuk pertama kalinya kami menangani proses pembentukan bayi tabung pada rahim seorang namja."
.
.
.
Luhan tidaklah terkejut dengan penuturan rahim yang ia miliki. Karena memang Luhan sudah mengetahui mengenai keistimewaan yang ia miliki. Dulu waktu kecil, Luhan bertanya-tanya tentang kenapa ibunya seorang laki-laki. Sehingga ibunya bercerita menceritakan perihal keistimewaan yang kebetulan diturunkan ke Luhan.
Meskipun Luhan masih tidak mengerti maksud dari ucapan sang ibu saat itu. Setelah mendengar penjelasan Suho tadi, akhirnya Luhan mengerti. Bahwa keistimewaan itu benar ia miliki.
.
.
.
"Dengan proses rumit yang telah kami lakukan. Janin itu berhasil terbentuk. Dan sekarang sedang tumbuh tepat didalam rahim yang kau miliki, Luhan."
"..." Seketika Luhan melirik perut nya yang masih datar.
"La-lalu. Bagaimana janin bisa terbentuk? Bukankah tetap membutuhkah sel sperma dan sel ovum untuk membuatnya terbentuk?"
.
.
.
~Suho menjelaskan lagi.
"Kau memiliki sel kelamin ganda. Dimana sel ovum mu lebih dominan dari sel spermamu. Yang artinya kau menghasilkan kedua-duannya. Tapi tubuhnmu lebih baik dalam menghasilkan sel ovum. Bahkan sebelum kami melakukan penelitian untuk menanamkan janin dalam rahimmu. Kami sudah melakukan pengecekan kesehatan terlebih dahulu pada rahim yang kau miliki. Dan dari hasil cek kesehatan yang kami lakukan. Sepertinya kau juga mengalami masa menstrusi yang datang setiap bulan semenjak kau berumur 17 tahun, Karena diumur 17 tahun, sel-sel ovum mu berkembang. Tapi kau juga mengasilkn sel sperma meskipun itu hanya sedikit."
Luhan membenarkan apa yang disampaikan Suho mengenai vase lain dari dirinya yang seorang laki-laki. Di umur 17 tahun dia mengalami apa yang dinamakan menstruasi lewat lubang kencingnya. Itu merupakan hal yang memalukan karena dia juga harus mmenggunakan apa yang biasanya perempuan pakai untuk menahan darah yang keluar setiap bulan. Karena hal itu Luhan merasa berbeda dengna teman-teman sebayanya dan mengucilkan diri.
"Dan bagaimana proses pembuahan janin itu terjadi padahal sel sprema mu sedikit."
Suho mengela nafas dalam-dalam dan mengehembuskannya sedikit kasar.
"Seorang wanita yang telah berumur datang pada professor Jung. Ia menawarkan uang yang sangat banyak untuk mendapatkan seorang cucu. Dalam arti lain, wanita itu meminta proffesor Jung untuk membuatkan bayi tabung. Ia bahkan berkata bahwa tidak perduli rahim siapapun, asalkan ia mendapatkan seorang cucu untuk penerus keluarganya. Karena putra semata wayangnya tidak kunjung menikah karena kesibukan kerja yang ia lakukan. Dengan terpaksa, wanita itu memaksa anaknya untuk mengeluarkan sari yang ia miliki sebagai sel yang akan membuahi sel telur dari rahim seseorang yang ia sewa. Tak peduli rahim seorang yeoja maupun namja. Asalkan dalam waktu sembilan bulan lagi ia mendapatakan seorang cucu dengan darah keluarganya."
Seketika Luhan membekap mulutnya dan meneteskan air mata mendengar penuturan yang Suho lontarkan. Luhan tak kuasa menahan sesak yang menggerogoti di dalam dadanya.
"Oleh karena itu, Luhan. Kau disini sangat.. em.. sangat berperan penting terhadap kesuksesan penelitian ini." Suho mengakhiri penjelasan dan hembusan nafas legah.
"Berarti.. berati.. ayah ku dengan tega kemarin menjual diriku pada kalian. Dan kalian memanfaatkan keistimewaan yang aku miliki untuk kepentingan penelitian kalian.. hiks."
Seketika Yixing memeluk tubuh Luhan. Mencoba menenangkan tangian Luhan. Luhan terisak di pelukan Yixing. Tubuhnya bergetar hebat. Yixing mengusap punggung Luhan seraya menenangkan dan membisikkan kata maaf pada Luhan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Note: Tidak ada edite kalimat begitu selesai mengetik ff ini. Dan masih Full cerita keadaan Luhan mungkin hingga chapter kedepan. Jangan tanya Sehun kapan ketemu Luhan. Karena saya gk akan kasih tau. Hehehe. Ff ini sebenernya mau tak panjangin. Berhubung masih banyak tanggungan proyek ff lain yang terbengkalai. Jadi saya cut dulu disini. Dan jika kalian merasa dengan bait-bait kalimat yang saya tulis sedikit bebeda dengan tulisan awal. Karena, Saya merasa tidak lagi bisa menulis seperti sebelumnya. Mungkin akan terkesan berbelit-belit. Tapi saya benar-benar kehilangan gaya tulisan saya sebelumnya. Semoga kalian masih betah baca meskipun alurnya begitu lambat. Mian. Susah mau dicepetin. Ntar jadinya berantakan. Maksih yang sudah nyempetin mampit dan baca ff ini. Paling tidak kasihlah vote setelah membaca ff ini. Salam dari Keiko.
