Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OT12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length : Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!

Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

Seketika Luhan membekap mulutnya dan meneteskan air mata mendengar penuturan yang Suho lontarkan. Luhan tak kuasa menahan sesak yang menggerogoti hatinya tepat di dalam dadanya.

"Oleh karena itu, Luhan. Kau disini sangat.. em.. sangat berperan penting terhadap kesuksesan penelitian ini." Suho mengakhiri penjelasan dan hembusan nafas legah.

"Berarti.. berati.. ayah ku dengan tega kemarin menjual diriku pada kalian. Dan kalian memanfaatkan keistimewaan yang aku miliki untuk kepentingan penelitian kalian.. hiks."

Seketika Yixing memeluk tubuh Luhan. Mencoba menenangkan tangisan Luhan. Luhan terisak di pelukan Yixing. Tubuhnya bergetar hebat. Yixing mengusap punggung Luhan seraya menenangkan dan membisikkan kata maaf pada Luhan.

.

.

.


CHAPTER 4


.

.

.

Flashback On.

Luhan teringat akan ibunya yang membesarkan dan melindunginya. Dengan memiliki seorang ayah yang hanya bermain judi dan mabuk-mabukkan di setiap harinya. Ibu Luhan membesarkan Luhan dengan penuh kasih sayang. Meskipun ayahnya begitu membenci Luhan. Karena menurut ayahnya. Luhan adalah aib begitupun pernikahan yang ia jalani. Ayah Luhan terpaksa menikahi ibu Luhan yang seorang namja. Karena ia telah memperkosa ibu Luhan dan menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab yang sebenarnya tidak sepenuhya ia lakukan. Ayahnya mau menikahi ibunya karena ia tidak ingin masuk penjara karena tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual yang membuat keluarganya malu.

Setelah menikahi ibu Luhan. Ayahnya diusir dari keluarganya. Ibunya bercerita jika ayah Luhan bahkan pernah hampir membunuh janin yang dikandungnya. Ibu Luhan berhasil menggagalkannya meskipun harus mengalami cedera fisik maupun batin. Setelah Luhan lahir, ayah Luhan menjual tubuh istrinya demi mendapatkan uang. Saat Luhan beranjak remaja. Ayahnya beberapa kali berencana untuk menjual Luhan dan memperkerjakannya sebagai seorang jalang. Namun, segala upaya dilakukan ibu Luhan untuk melindungi anaknya. Hingga ibunya wafat karena dijual dan dipakai belasan orang oleh ayah Luhan demi mendapat banyak uang. Dan yang paling Luhan ingat sekarang adalah ayahnya telah berhasil menjual dirinya yang tanpa perlindungan dari seorang ibu, setelah ibu Luhan meninggal demi mendapatkan jutaan atau bahkan ratusan juta won.

Flashback Off.

.

.

.

Luhan merasa bahwa dirinya tidak seharusnya untuk membenci janin yang sekarang tumbuh didalam rahimnya yang baru berumur 10 hari. Janin itu tidaklah bersalah. Karena hanya demi mendapatkan seorang cucu wanita itu rela melakukan segala cara. Namun keserakahan wanita itu adalah hal utama yang menengahi ini terjadi. Fakta itu membuat Luhan begitu geram hingga memberi suatu hantaman keras di dalam dadanya. Luhan akhirnya memutuskan untuk menjaga janin yang ia kandung sekarang.

.

.

.

Selama hampir satu jam. Yixing dan Suho menenangkan tangisan Luhan. Perlahan-lahan isakan Luhan berhenti. Luhan melepaskan pelukan Yixing.

"Luhan ge. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Yixing menyiratkan rasa khawatir.

"Em.. ne.." Sambil menetralisir deru nafasnya ke keadaan normal.

"Luhan ge. Mianhae. Hiks.. Maafkan kami." Yixing menunjukkan ekspresi penyesalannya.

Luhan mengusap leleran air mata yang membasahi wajahnya sambil terus diperhatikan kedua orang didepannya. Seorang namja yang ia kenal bernama Yixing tadi ikut menangisi Luhan. Dan juga membantu untuk menenangkan dirinya. Sedangakan namja yang satunya adalah Suho yang ikut menunjukkan ekpresi tak terbaca seolah ekpresi itu syarat akan rasa iba.

"Hikz... ja-jadi.. didalam sini ada sebuah kehidupan baru, begitu?" Luhan bertanya kembali memastikan bahwa apa yang baru saja mereka ujarkan kepadanya dalah kenyataan.

"Ah... itu.. nn-nee.." Yixing menyahuti dengan canggung dan dengan segera menghapus air matanya.

"Kalau begitu bisakah aku melihat sekali lagi keadaannya?" Matanya berbinar menunjukkan pengharapan yang besar untuk sekali lagi melihat janinnya.

"Oh.. tentu ge.." Yixing menampakkan wajah senangnya mendengar permintaan Luhan.

Yixing kembali memposisikan Luhan seperti tadi. Mengganti sisa gel yang tadi dengan yang baru. Dan mulai mengarahkan alat USG keatas permukaan parut Luhan yang masih rata. Sedangkan Suho sibuk untuk mengecek tekanan darah Luhan pada tangan kanannya.

"Lihatlah Luhan ge. Itu disana adalah janin yang sedang tumbuh." Tunjuk Yixing kearah monitor.

"Benarkah?" Tanya Luhan dengan penuh kekaguman.

"Tentu saja. Dia tumbuh dengan baik ge." Yixing menimpali.

"Em bolehkah aku nanti meminta salinan gambarnya?" Tanyanya dengan raut memohon.

"Tentu ge. Nanti aku akan memberikan gambar salinannya pada mu." Yang dibalas dengan anggukan mantap oleh Yixing juga tak lupa sebuah senyum yang menawan.

"Em, tunggu sebentar Yixing-ah." Sela Suho ikut mengamati gambar USG didepan sana.

"Ne, ada apa Suho hyung?" Yixing bertanya pada Suho.

"Bisakah kau kembali mengarahkan alat itu ke kanan. Terus. Stop." Suho meminta Yixing mengarahkan alat USG itu untuk dapat mengambil posisi yang menurutnya sedikit ganjil. Dan Yixing mengikuti seruan Suho.

"Suho hyung. Apakah.. itu mereka?" Yixing terkejut melihat apa yang benar-benar tersaji di depan sana. Fokus dilayar itu. Bahkan matanya ikut membulat saking terkejutnya.

"Yixing-ah. Berapa banyak sel telur yang sudah terbuahi yang kau masukkan ke dalam kapsul lalu?" Tanya Suho kembali memastikan.

"Em..Aku tidak yakin ge. Sepertinya aku memasukkan ..du-dua bakal janin dalam kapsul itu." Yixing seketika berkeringat dingin dan dan tubuhnya menegang.

"Zhang Yixing. Kau tau apa yang telah kau lakukan?" Suho mengeraskan sedikit suaranya.

"Mianhae Suho hyung." Yixing menundukkan wajahnya.

"Huft.. semoga kita tidak membuat Luhan bertambah tersakit." Helaan nafas menanggapi permintaan maaf dari Yixing untuk Suho.

"Apa maksud kalian dengan dua janin, dan kenapa aku harus tersakiti?" Luhan begitu penasaran dengan apa yang diperdebatkan antara Yixing dan Suho.

"Em.. ge. Sebenarnya aku tidak tega untuk mengatakan ini padamu. Tapi, janin yang kau kandung disini adalah kembar. Karena dengan kelalaianku. Aku telah menaruh bakal janin dalam kapsul itu sebanyak dua. Yang otomatis janin yang berkembang di dalam perutmu ada dua atau kembar." Tutur Yixing menjelaskan apa yang terjadi pada janinnya.

"Benarkah?" Perasaan Luhan membucah. Karena memiliki dua janin sekaligus. Tapi masih dengan kebingungan dengan penyataan jika ia akan bertambah tesakiti.

"Benar." Jawab Suho singkat.

"..." Luhan tersenyum karena merasa rasa sesaknya tergantikan dengan rasa bahagia bisa mendapat dua orang bayi sekaligus.

"Tapi-" Suho menjeda kata-katanya.

"..." Tampang penuh tanya seketika dilontarkan Luhan.

"-Tapi, kau tau bahwa aku telah menjelaskan mengenai wanita yang menyewa rahim untuk mendapatkan seorang cucu." Sambung Suho.

"..." Seketika hatinya kembali tertohok.

"Perjanjian yang telah dilakukan, yaitu ketika bayi itu lahir. Maka bayi itu dengan segera akan dibawa pada keluarga ayahnya." Suho akhirnya memperjelas kalimatnya.

"A-apa mak-sudmu?" Sahut Luhan dengan gugup.

"Kau tidak akan bisa bertemu dengan anak mu." Sambung Suho lagi.

"Tidak. Jangan.." Luhan sedikit membentak, seolah-olah menekankan bahwa ia tidak setuju dengan hal yang disampaikan Suho.

"Maka dari itu aku tak ingin kau lebih tersakiti lagi dengan kehilangan kedua calon anak mu." Jawab Suho Lesu.

"Tidak.. tidak boleh..Hikz..jangan ambil mereka..Hikz." Luhan malah mendekap perutnya dengan erat.

Yixing segera mendekap tubuh ringkih Luhan. Menyalurkan rasa aman dan tenang. Agar Luhan tidak setres, karena jika sampai setres itu akan sangat berpengaruh terhadap janin dalam kandungannya.

"Baiklah-baiklah. Kita tidak akan melakukannya. Kita akan melindungi kalian, Luhan ge." Yixing masih mencoba menenangkan Luhan hingga isakannya berangsur mereda.

Selama hampir setengah jam lalu Luhan tak henti-hentinya terisak dan berkat tidak akan membiarkan mereka kelak mengambil anak-ananknya. Sedangkan Yixing yang terus mendekapnya untuk memberi ketenangan pada Luhan dengan mengelus pundaknya. Suho jadi merasa iba dengan apa yang dialami Luhan. Tapi bagaimanapu nanti, bayi itu memang harus diserahkan kepada keluargannya. Hingga berangsur-angsur isakan pilu itu tergantikan dengan deru nafas teratur. Kedua mata bak rusanya yang tadi sempat meneteskan air mata dengan derasnya dengan perlahan tertutup. Layaknya bayi yang tertidur dengan pulas. Perlahan Yixing memposisikan Luhan untuk tidur dengan baik di atas ranjang itu, dan menarik hingga sebatas dada dengan sebuah selimut lembutnya.

"Suho hyung. Apa yang harus kita lakukan?" Yixing berusaha bertanya mengenai solusi apa yang akan mereka gunakan untuk membantu Luhan.

"Aku juga tidak tahu apa yang kita bisa lakukan untuk membantu Luhan. Tapi untuk perjanjian itu kita tidak bisa menyepelekannya saja. Karena Nyonya Oh itu telah menyokong dana penelitian ini. Dan sepertinya mungkin tidak akan memberikan semua anak Luhan, kelak. Mungkin kita akan menyembunyikan salah satu dari mereka. Agar Luhan tidak terlalu terbebani kehilangan anak-anaknya. Dan memberikan satu dari yang lain kepada keluarga Oh. Juga agar Luhan tidak terlalu tersakiti. " Solusi terbaik yang diungkapkan Suho dalam menyikapi permasalahan ini.

"Kalau begitu, Kita akan menjaga salah satu dari calon anak yang akan dilahirkan Luhan ge." Kata Yixing berharap penuh harapan.

"Ne, Yixing-ah. Tapi ada satu hal lagi yang pasti akan kita hindari." Kata Suho dengan was-was.

"Apa itu?" Yixing memberikan tatapan penuh tanya.

"Kita pasti akan kesulitan untuk menghindari Profssor Jung. Kau tahu, janin yang dikandung Luhan adalah janin kembar. Semoga saja kita mendapatkan jalan untuk menyembunyikan ini semua, tanpa diketahui Professor Jung." Sela Suho.

"Telahlah Suho hyung. Kita pasti akan mendapatkan jalan penyelesaian permasalahan ini." Yixing menggenggam tangan namja di sampingnya ini.

Sebagai seorang kekasih dan seorang partner penelitian di bidang kedokteran. Yixing akan selalu andil bagian untuk menyemangati pasangannya. Apalagi ketika ia dihadapakan dengan permasalahan pelik seperti ini. Ia akan berdo'a agar Tuhan mau menolongnya dan juga Suho, terutama adalah Luhan dan calon anak-anaknya kelak.

.

.

.

Pagi-pagi sekali Professor Jung menghubungi Suho perihal kepulanganya ke korea setelah sibuk mengurus acara kerjasama terhadap suatu penelitian yang berada di Jepang. Setelah hampir dua minggu pasca selesainya penanaman janin di rahim namja kecil itu. Akhirnya professor Jung memutuskan untuk kembali.

Suho menceritakan perihal kepulangan professor Jung pada Yixing dan Luhan. Baik Yixing maupun Luhan yang saat itu sedang sarapan di ruang makan sempat sedikit terkejut mendengar kabar tersebut. Suho menyarankan pada Luhan untuk tetap menjaga sikap seolah-olah Luhan baru datang ke rumah ini. Dan memintanya untuk bersikap asing pada mereka berdua. Karena baik Yixing, Suho maupun Luhan sendiri tak ingin professor Jung tahun kalau mereka kini telah akrab. Apalagi menurut Suho, professor Jung akan benar-benar marah mengetahui jika janin yang mereka tanamkan pada rahim Luhan tidak hanya satu. Melainkan dua janin.

Luhan memang sempat mendiami Suho dan Lay beberapa hari lalu setelah kejadian di ruang pemeriksaan kesehatan. Terkait mengenai kebenaran mengapa dirinya dibawa kemari, hingga kini ia mengandung dua buah janin kembar. Dan sebuah fakta menyakitkan mengenai anaknya kelak yang tak akan bisa bersam dirinya. Mengingat kenyataan itu, rasanya hati Luhan begitu sesak. Yixing bahkan selalu membujuknya agar Luhan mau memaafkan mereka.

Akhirnya Luhan luluh juga ketika dua orang itu berjanji untuk membantunya agar bayi itu tidak diserahkan pada orang asing menurut Luhan sesuai isi perjanjian awal. Suho dan Yixing menyakinkan Luhan, hingga akhirnya Luhan luluh juga. Padahal di batin Yixing dan Suhi terus-terusan mengumamkan kata maaf untuk Luhan kelak. Karena perjanjian tertulis dan ditandatangani di atas matrai itu tidak bisa dirubah. Maka kelak Luhan pasti akan tersakiti karena kehilangan salah satu bayinya.

Dan kembali lagi pada cerita sebelunya dimana professor Jung akan tiba di Korea. Suho meminta Luhan untuk bersikap seolah mereka tidak saling mengenal. Hal itu juga berlaku terhadap Yixing dan Luhan. Dengan begitu professor Jung tidak akan merasa curiga.

.

.

.

Di tengah hiruk pikuk kota Seoul itu. Seorang pemuda dengan surai pirangnya sedang duduk di meja kerjanya memandang lekat pada sebuah bingkai yang terlihat usang. Didalamnya terdapat dua foto yang berbeda, dan terlihat disatukan dalam satu bingkai foto. Bingkai foto yang tak besar memang, hanya seukuran 10R saja dengan ukiran tipis dipingir-pingiran bingakai itu. Dua foto disana adalah foto-foto seorang namja. Salah satu foto didalam sana adalah foto seorang namja dengan stelan cupunya. Karena terlihat disana bertenger indah di depan mata tajam bak elangnya sebuah kacamata bulat. Dan satu foto lagi mendapat tatapan dari sang pemilik bingkai menyiratkan akan sebuah kerinduan dan rasa cinta yang mendalam. Foto seorang namja cantik yang memamerkan senyuman indah seakan-akan senyuman itu dapat membalikkan dunia dari orang yang sedang menatanya lekat ini.

Suara ketukan pintu didepan sana membuyarkan lamunannya. Mata elang yang tadi menatap lekat bingkai itu, Dengan segera menyimpan kembali bingkai usang tadi kedalam laci meja kerjanya. Ia segera memerintahkan orang yang mengetuk pintu tadi untuk memasuki ruangannya.

"Masuklah.." Ucap seorang yang bermata elang tadi.

.

.

.


TBC


Note:

Aku menyelesaikan part ini tidak maksimal.

Mungkin banyak hal yang sedang mengganggu fikiran saya akhir2 ini.

Belum lagi ff sebelumnya yang tiba2 saya putuskan untuk menulis ulang.

Dan juga imajinasi saya untuk membuat ff yang baru keluar begitu saja.

Jadi maafkan saya kalau part ini kurang memusakan.

Terimakasih.

16/02/2018