Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length : Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!

Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

Tepat satu bulan yang lalu Sehun berhenti mencari tahu mengenai rencana Eommanya. Mungkin Sehun benar-benar kesal untuk bertanya atau pun mencari tahu perihal hal tersebut. Karena dengan gamblangnya Eommanya mengatakan langsung dihadapnya untuk tidak ikut campur terhadap apa yang Eommanya lakukan karena ini demi kebaikan dirinya sendiri. Dan ketika Sehun bertanya mengenai orang manakah yang dengan gampangnya bersedia menyewakan rahimnya untuk mengandung calon anaknya ke pada sang Eomma. Sedangkan sang Eomma juga menjawabnya secara gampang, bahwa itu bukan urusan Sehun. Bahkan ia juga mengatakan tidak penting orang itu perempuan atau laki-laki (cerrier) yang terpenting ia mendapatkan seorang cucu dalam kurun waktu delapan bulan lagi.

Hal itu membuat geram Sehun sebenarnya. Karena dia tidak tahu-menahu mengenai hal itu. Jangankan mengetahuinya. Malahan, eommanya memblok seluruh akses untuk mencari informasi tersebut. Bahkan sang sekertaris kepercayaannya tidak mampu berbuat apa-apa dengan ultimatum yang telah dikeluarkan Eommanya untuk tidak ikut campur terhadap rencananya. Karena itulah, berakhir Sehun berhenti mencari tahu maupun menyelidikinya.

.

.

.


CHAPTER 6


.

.

.

Typo bertebaran~

Hari ini seperti hari-hari sebelumnya. Yixing mengajak Luhan untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Sebetulnya bukan maksud mengajak Luhan. Tapi Luhan yang memaksa ikut dengan alasan yang sama. Ia bosan ketika harus terus berada di rumah. Sedangkan di hari-hari biasa Suho dan Yixing bekerja layaknya dokter pada umumnya di rumah sakit yang memang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Semejak kepergian professor Jung. Luhan memang di ijinkan keluar rumah asalakan dengan pengawasan Yixing. Meskipun Luhan memaksa untuk keluar sendiri. Suho masih begitu mengawasi pergerakan Luhan. Takut mungkin Luhan akan melarikan diri. mungkin. Padahal menurut Luhan, Suho dan Yixing adalah keluarga barunya. Karena kalian tahu sendiri jika Luhan ini sudah tidak memiliki keluarga. Anggap saja Luhan sudah tidak memiliki appa. Karena jika kalian ingat, Luhan bahkan telah dijual. Sungguh appa yang tidak sayang apalagi peduli pada anaknya.

.

.

.

Ditempat lain. Sehun sebenarnya tidak benar-benar menyerah mencari tahu mengenai rencana eommanya. Dia hanya meminta anak buahnya untuk mengawasi pergerakan eommanya. Sulitnya mendapatkan apa yang ia mau membuat Sehun berakhir menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sesekali Sehun akan terdiam, mengingat kembali kata-kata eommanya mengenai akan lahirnya calon anaknya dalam beberapa bulan lagi.

Dibenaknya masih bertanya-tanya mengenai siapakah orang yang dengan rela mau menyewakan rahimnya. Dan bagaimanakah nanti rupa anaknya ketika ia lahir. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya tanpa ada secercah jawaban yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

.

.

.

Seperti hari ini, Luhan bangun kesiangan. Dia keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih untuk meredakan dahaganya. Kepalanya menengok kanan dan kiri berharap ia akan menemukan Yixing atau Suho yang masih di rumah. Tapi, nihil. Mereka sepertinya sudah berangkat.

Luhan berjalan ke arah lemari untuk mengambil gelas. Sebelum mencapai rak itu. Kedua mata rusa itu menangkap pesan yang ditulis oleh Yixing dan tertempel di note tepat di pintu lemari pendingin.

"Luhan hyung, Aku sudah membuatkan sarapan mu. Kau bisa menghangatkannya dulu setelah kau bangun nanti. Maaf aku tidak bisa menunggumu bangun tidur. Aku dan Suho harus bergegas menuju rumah sakit. Karena ada sedikit acara disana. Jangan lupa makan dan buat susu mu. Maaf karena tak membuatkan susu mu seperti biasanya. Karena aku takut susunya nanti dingin sebelum bangun. Jangan lupakan vitamin mu". From Yixing yang paling tampan daripada Suho.

Luhan tersenyum setelah membaca note tersebut. Juga sedikit geli ketika membaca tulisan "From Yixing yang paling tampan daripada Suho". Padahal jika kalian tahu. Yixing itu malah lebih cantik, bukan tampan. Kekekeke. Luhan tertawa juga akhirnya.

"Baiklah aegi, kalau begitu eomma akan memanaskan masakan buatan Yixing. Dan membuat susu untuk mu". Gumam Luhan sambil mengelus perutnya.

.

.

.

Entah mengapa hari ini Sehun ingin sekali makan ice cream. Padahal yang dia tahu hari ini tidaklah terik dan kegerahan yang cocok untuk menyantap makanan dingin seperti itu. Bahkan cuaca diluar malah mendung bercampur petir. Tapi entah mengapa di sela-sela ia mengerjakan laporannya. Ia begitu menginginkan ice cream coklat vanilla dengan toping yang banyak. Sehun benar-benar ingin memakannya sekarang. Karena itu ia segera beranjak dari ruang kerjanya, untuk menuju ke kedai ice cream yang tak jauh dari kantornya.

.

.

.

Luhan selesai menghabiskan sarapannya dan mengakhiri agenda paginya itu dengan meminum susu hamil yang memang untuknya. Selesai acara sarapan pagi yang sebenarnya sekarang tidak lagi pagi. Ia beranjak dari ruangan dapur usai membereskan piring beserta gelas yang tadi sempat ia pakai. Mencucinya dan menaruh kembali ke tempat semula.

Luhan kembali duduk di ruang televise dengan sebuah gelas berisi jus jeruk ditangannya. Menonton acara televise adalah kesehariannya. Karena kesibukan kedua dokter yang berperan sebagai pengawasnya atas perintah dari professor Jung. Siapa lagi kalau bukan Yixing dan Suho. Tapi mereka juga memiliki pekerjaan utama sebagai layaknya seorang dokter di rumah sakit. Oleh karena itu, Luhan akan menghabiskan waktunya di rumah.

Mungkin sesekali dia berjalan-jalan disekitaran rumah. Ya.. memang awalnyanya Suho tidak setuju untuk mengijinkan Luhan keluar rumah. Tapi karena permohonan dari Yixing yang memang sulit untuk ditolak oleh seorang Kim Junmyeon aka Suho. Akhirnya Luhan diberi ijin untuk keluar rumah. Luhan sendiri berjanji hanya akan berkeliling dan tidak akan kabur. Karena menurut Luhan untuk apa ia kabur kalau ia sudah tidak memiliki tujuan maupun keluarga. Appanya telah membuangnya, keluargapun dia tak tahu menahu masih adakah sanak keluarganya.

Rasa bosannya yang menggerogoti hari ini. Banyak hal yang sudah ia lakukan untuk mengusir rasa bosannya hari ini. Bahkan acara televise seakan tak lagi menarik perhatiannya. Sebenarnya Luhan memang sedari pagi, begitu ia bangun, Luhan tidak melakukan aktifitas apapun terkecuali layaknya orang pada umumnya. Membersihkan diri dan sarapan adalah hal yang wajib Luhan lakukan. Sedangkan untuk mengerjakan tugas yang lain seperti beres-beres rumah. Yixing sangat mewanti-wanti agar Luhan tidak membereskan rumahnya berlebihan hingga membuatnya kelelahan. Tapi begitulah Luhan, si rusa yang keras kepala. Ia malah senang membantu Yixing membereskan rumahnya.

Didepan sana Luhan memandang kosong ke arah televise. Entah apa yang sebebnarnya difikirkan oleh otak kecilnya itu.

"Kruukk.." (Suara perut lapar)

Seketika Luhan sadar bahwa hari telah beranjak siang. Sehingga ia merasa lapar. Seketika ia mengusap perut yang tak lagi rata itu dengan lembut dan penuh kasih saying.

"Apakah aegi lapar?" Tanyanya seakan-akan ia berbicara langsung dengan calon bayinya itu.

"…"

"Hem. Sepertinya eomma juga lapar aegi-ya. Bagaimana kalau kita membuat makan siang. Hem?" Luhan bersiap beranjak dari sofa empuk yang dia duduki sedari tadi.

Sebelum itu Luhan mengambil remot televise untuk mematikannya. Tapi sebelum televise itu benar-benar mati. Mata rusanya langsung disuguhi pemandangan acara makan-makan yang menampilkan ice cream coklat vanilla dengan toping berwarna-warni. Seketika saja ia menelan bulat-bulat ludahnya. Mata rusanya mengerjap sambil mengelus perutnya. Hem, Sepertinya Luhan sangat tergiur dengan ice cream di televise itu. Luhan begumam lagi pada aegi nya.

"Aegi-ya. Apakah kalian juga ingin makan ice cream vanilla dengan banyak toping seperti itu?" Sambil menunjuk kea rah televise yang masih menyala.

"…" Seakan mendapat respon dari aeginya. Luhan mengangguk-angguk tanda setuju dengan keinginana calon bayinya itu.

"Baiklah, kalau begitu eomma akan pergi membelinya."

Dengan keinginan yang membucah, Luhan bergegas mengambil jaketnya dan bersiap mencari kedai terdekat yang mungkin menjual ice cream seperti di televise tadi. Tak lupa ia mematikan televise dan mengunci pintu. Di memakai sepatu kets berwana nevy dengan sebuat hoddie hitam membalut tubuh nya.

.

.

.

Sehun sampai di kedai ice cream. Sebenarnya Sehun sedikit terkejut ketika memasuki kedai pagi menjelang siang ini. Karena disini jelas banyak anak kecil. Apakah kalian lupa, kalau ice cream memang banyak disukai anak-anak. Sehingga jelas kedai ini banyak pengunjung anak-anak. Sehun berjalan menuju antrian disana. Tak banyak sebenarnya yang mengantri. Tapi juga tidak bisa dibilang sedikit juga. Hingga akhirnya ia sampai pada gilirannya. Sehun segera memesan ice cream yang ia inginkan.

"Silahkan tuan, Ini menu ice creamnya?" salah seorang pelayan datang menghampirinya dan menyodorkan menu ice cream yang ada.

"Em, Aku pesan ice cream coklat vanilla dengan banya toping diatasnya. Tapi tolong jangan tambahkan kacang." Sehun memesan ice cream sesuai keinginannya dan mengingatkan pelayan tersebut untuk tidak memberikan toping kacang di atas ice creamnya. Ice cream telah selesai dipesan. Dan saatnya kini ia menunggu pesanannya datang.

"Baiklah tuan. Satu ice cream coklat vanilla komplit akan segera datang." Kata pelayan sembari melenggang pergi membuat pesanan Sehun.

Sehun jatuh saja padahal keinginan awalnya, yaitu Ice cream coklat vanilla dengan beraneka toping untuk nya. Sedikit menggelikan memang seorang pria dewasa sedang mengantri untuk memesan ice cream. Tapi apa boleh buat. Rasanya ia seperti mengidam saja ingin makan ice cream. Padaha kalian tahu. Ini belum memasuki jam istirahat. Ya memang tinggal setengah jam lagi. Tapi Sehun untuk hari ini malah mengabaikan pekerjaannya sejenak demi memenuhi keinginannya makan ice cream.

Sehun segera mencari lokasi duduk yang masih kosong. Ia mengedarkan pandangan ke arah sekitar ruangan kedai ia. Matanya seketika tertuju tepat di salah satu kursi yang berada di pojok dengan jendela besar yang langsung mengarah ke trotoar jalan.

.

.

.

Luhan berjalan-jalan siang itu. Sebenarnya siang ini tidaklah terik. Bahkan sedikit mendung dan berangin. Luhan berjalan menyusuri beberapa kedai yang tak jauh dari tepat tinggalnya. Langkah kaki kecilnya membawa hingga ke sebuah perempatan jalan dengan banyak orang yang berkerumun sembari menunggu lampu hijau untu pejalan kaki.

Eh, Biar sedikit aku luruskan disini. Luhan memang boleh keluar rumah asalkan tak jauh dari lingkungannya. Dan hari ini ia berjalan menuju ke kedai ice cream yang jaraknya tak jauh dari rumah yang ia tinggali. Hanya sekitar dua blok setelah melewati lampu merah perempatan.

.

.

.

Suasana trotoar siang itu masihlah sama seperti hari-hari sebelumnya. Jalanan juga trotoar mulai dipadati kendaraan dan pejalan kaki. Ya karena ini mendekati jam makan siang. Luhan berada di lampu merah, sedang menunggu lampu berwarna hijau untuk pejalan kaki. Sembari menunggu, matanya menelusuri sekelilingnya. Disebelah kananya terdapat seorang pria dan wanita yang sepertinya tengah hamil tua. Terlihat dari protektifnya namja di sampingnya yang sepertinya adalah suami dari wanita hamil itu. Menggandengnya, sekaakan-akan, segala halangan didepan sana apapun itu akan ia singkirkan untuk melindungi istrinya. Sesekali tangannya yang bebas ikut mengusap perut buncit sang istri dengan penuh saying.

Tanpa sadar Luhan mengusap perut nya yang mulai membuncit itu. Seakan menenangkan calon bayinya didalam sana, karena merasa iri dengan sepasang suami istri disana. Sedangkan Luhan bahkan tak tahu menahu siapa orang yang mendonorkan spremanya. Hingga ia bisa mengandung sebuah janin yang katanya kembar ini.

"Mian aegi-ya. Meskipun kau tidak bisa mendapatkan elusan saying dari appa mu. Tapi setidaknya eomma bisa mengusapmu sebagai gantinya. Jangan sedih ne?" Sedikit bergumam menengkan calon bayi-bayinya.

Kepalanya mengedarkan lagi tepat ke sisi jalan yang lain. Diseberang sana terlihat kedai ice cream yang akan ia tuju. Hem, rasanya sudah tidak sabar Luhan untuk mencapai tempat itu. Lampu hijau untuk pejalan kaki. Luhan segera menyebrang jalan dan berjalan ke arah kedai ice cream di depan sana.

.

.

.

Seorang pelayan membawa semangkuk besar ice cream pesanan dari si namja tampan. Sehun sedikit tersentak kaget saat pelayan menyajikan ice cream pesanannya. Penuh toping berwarna-warni. Wajahnya begitu sumringah melihat tampilan ice cream dihadapannya. Sehun berucap "Terimakasih" sebelum pelayan itu pergi. Dan dibalas dengan "Selamat Menikmati" dari pelayan tersebut.

Wajah sumringah ia tampilkan saat menatap ice cream pesanannya itu. Sehun meraih ponselnya yang berada saku jas nya. Entah kenapa ia ingin sekali mengabadikan ice creamnya hari itu. "C-krik", Menandakan Sehun sudah berhasil mengambil gambar ice tersebut. Dia segera meraih ice creamnya itu. Dan menyendoknya dengan sedikit dan sempurna mengena toping diatas ice cream tersebut. Membawa satu suapan pertama kedalam mulutnya. Menyecapi seluruh rasa manis bercampur dengan rasa khas dari toping-toping diatasnya.

.

.

.

Luhan sampai di tempat tujuan. Yaitu tepat berada di depan kedai ice cream yang memanga sedari tadi ia tuju. Dia berhenti sejenak beberapa meter di depan kedai untuk memandang segala ornament dan hisana dari kedai sampai ke bagian dalam kedai yang bisa terlihat dari jendela besar disana. Matanya terus menjelajahi dan memerhatikan. Seorang pelanggan wanita dewasa yang sedang menggandeng seorang anak kecil laki-laki yang sedang asik memesan di kasir. Para pelanggan lain yang sedang asik menikmati ice cream mereka.

Dan mata rusanya menangkap seorang pria dewasa dengan stelan jas formar dan rambut hitam juga hum.. tampak kalo boleh Luhan bilang. Sedang duduk di sudut kedai yang tepat di pook jendela dihadapannya. Yang bisa dia tebak pria tersebut seorang pegawai kantoran. Dan yang membuat Luhan sedikit tertawa adalah. Karena ia sedang duduk sendiri sembari menikmati suapan demi suapan darinya sendiri. Dengan wajah seakan-akan ia baru pertamakali menemukan makanan selezat ini.

Kedua mata rusa itu malah terpaku melihat pria disana. Bahkan Luhan sedikit tesenyum melihat cara makan pria itu yang sedikit berantakan. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya dengan saying. Seakan-akan ia merasa sudah kenyang hanya karena melihat pria disana makan ice cream dengan tenang.

"Aegie-ya. Apakah kau juga sama sepemikiran dengan eomma?" Luhan menunduk tepat di perutnya seakan bertanya pada calon bayinya.

"…" Usapan-usapan pelan dan penuh sayang oleh Luhan.

"Sepertinya eomma sudah tak ingin memakan ice cream coklat vanilla lagi, aegi-ya. Bagaimana kalau kita membeli susu di minimart saja?"

"…" Luhan kembali melayangkan pertanyaan seolah-olah calon bayinya itu bisa mendengar dan menjawab pertanyaannya.

"Sepertinya kau juga setuju. Cah.. eomma akan membelikan susu coklat untuk mu dan beberapa camilan juga ice cream untuk persediaan, kalau-kalau kau menginginkan icecream lagi."

.

.

.

"Hem, benar-benar sesuai dugaan ku. Ini benar-benar enak dan manis. Aku harus sering-sering memakan ini, karena ini mampu meredahkan moodku yang sedang buruk." Gumannya entah pada siapa.

Sehun menyendok terus ice creamnya dengan perlahan dan penuh penghayatan saat menikmati ice cream pesanannya itu. Menyuapkan sesendok demi sesendok ice cream ke dalam mulutnya. Hingga ice cream dihadapannya kini habis tak tersisa dimakannya. Sehun menyelesaikan acara memakan ice creamnya. Karena ya, ice cream itu memang sudah musnah dan masuh ke dalam perutnya. Ia mengakhiri acara makan nya dengan mengelap mulutnya. Sedikit terkekeh geli sendiri, ia bisa makan ice cream selahap ini, bahkan hingga belepotan. Beruntung dia makan sendirian.

.

.

.

Luhan menyeret langkahanya menjauhi kedai ice cream itu. Entah mengapa setelah melihat pria yang ada di sana tadi. Nafsu untuk membakan ice cream seketika lenyap. Karena dia begitu terkagum dan sedikit geli sebenarnya. Bertanya-tanya, mengapa ada orang makan ice cream dengan begitu lahap dan mata penuh sinar menatap ice cream di hadapannya. Seperti ia memang belum pernah memakan makanan manis itu. Dan jangan lupakan cara makannya meskipun tenang juga terkesan berantakan.

Luhan berjalan menuju ke sebuah minimart yang bertepatan berada di sebeleh kedai ice cream itu. Luhan masuk dan mulai mengelilingi toko berharap ia menemukan makanan dan minum yang ia inginkan. Juga membeli persediaan camilan juga ice cream agar sewaktu-waktu ia tidak perlu berjalan keluar rumah hanya karena ingin memakan camilan atau makan yang ingin ia makan.

.

.

.


TBC


Note:

Annyeong semua.

Sapa yang masih nunggu ff ini?

Sepoiler aja.

"Abis ini kita bakalan liat Sehun ketemu terus ama Luhan di ff ini."

Cukup mereka pisah di dunia nyata.

Tapi disini mereka ketemu terus.

Lagi bertempur dengan Realife.

Demi kelulusan yang ke-2 dan cepet dapet kerja.

Mian. kagak bisa update tiap minggu, ato bahkan tiap bulan.

27/06/2018