Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length : Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!


Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

Luhan menyeret langkahanya menjauhi kedai ice cream itu. Entah mengapa setelah melihat pria yang ada di sana tadi. Nafsu untuk membakan ice cream seketika lenyap. Karena dia begitu terkagum dan sedikit geli sebenarnya. Bertanya-tanya, mengapa ada orang makan ice cream dengan begitu lahap dan mata penuh sinar menatap ice cream di hadapannya. Seperti ia memang belum pernah memakan makanan manis itu. Dan jangan lupakan cara makannya meskipun tenang juga terkesan berantakan.

Luhan berjalan menuju ke sebuah minimart yang bertepatan berada di sebeleh kedai ice cream itu. Luhan masuk dan mulai mengelilingi toko berharap ia menemukan makanan dan minum yang ia inginkan. Juga membeli persediaan camilan juga ice cream agar sewaktu-waktu ia tidak perlu berjalan keluar rumah hanya karena ingin memakan camilan atau makan yang ingin ia makan.


.

.

.

CHAPTER 7

.

.

.


Typo bertebaran~


Luhan berjalan tak jauh dari kedai tadi. Dan kini sudah berada tepat di depan minimart yang ia tuju. Sebelum membuka pintu, matanya sempat menangkap sebuah pengumuman lowongan pekerjaan. Matanya menelisik isi pengumuman itu. Sambil berfikir. Ini adalah ide yang bagus menurutnya. Karena disana tertera dibutuhkan seorang karyawan namja dengan umur diatas 25 tahun. Hanya sebuah lowongan pekerjaan menjadi seorang Office boy di salah satu perusahaan ternama.

Sejenak berfikir, sepertinya Luhan tertarik dengan pekerjaan terssebut. Ia pun merasa percaya diri, lantaran kualifikasi dalam pengumuman tersebut adalah minimal seorang lulusan SHS yang mana ia pasti akan mendapatkan peluang tersebut. Mengingat ia juga pernah menjadi seorang OB di salah satu supermarket di Seoul. Dan belum lagi ia memikirkan kebutuhan bayi kembarnya yang pasti akan membutuhkan banyak biaya kedepannya. Ia tak sampai hati meminta uang terus pada Yixing dan Suho meskipuun mereka sebenarnya akan dengan cuma-Cuma memberikan uang dan membiayai kebutuhan Luhan. Dengan tekat bulat, ia segera masuk dan menanyakan kepada kasir minimarket tersebut.

Tak lupa luhan membeli beberapa makanan dan camilan yang memang ia inginkan juga sebagai persediaan di rumah. Kemudian cepat-cepat dia berjalan ke kasir untuk membayar belanjaannya juga menanyakan mengenai lowongan pekerjaan tersebut. Banyak informasi yang dia peroleh dari kasir minimarket tersebut perihan lowongan pekerjaan tersebut. Setelah ia Luhan memilih pamit untuk pulang kerumah.

.

.

.

.

.

Keesokan paginya Luhan berniat untuk melamar pekerjaan sesuai lowongan kerja kemarin. Entah akhir-akhir ini seppertinya Yixing dan Suho sepertinya sedang sibuk di rumahsakit. Namun rutinitas pagi untuk melakukan cek kesehatan untuk Luhan tetaplah rutin dilakukan karena itu memang tanggungjawab utama mereka. Sesudah itu mereka berdua pergi untuk bekerja. Dan sama halnya seperti sebelum-sebelumnya. Luhan berada sendirian di rumah. Karena itu dengan keaadaan sepi tanpa pengawasan tersebut. Luhan berencana untuk mengisi waktu luangnya dengan bekerja.

Luhan berangkat dengan menggunakan bus angkutan kota menuju ke perusahaan penyedia lowongan pekerjaan tersebut. Tak lama memang, hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di sana. Luhan memasuki gedung setelah ia bertanya pada seorang satpam disana. Tak banyak memnag pendaftar sepertinya. Karena ini hanyalah lowongan pekerjaan untuk menjadi seorang OB di perusahaan ini.

Luhan di interview sekitar 10 menit oleh kepala OB di perusahaan ini. Dan disana juga ia langsung diberi pengumuman jika ia diterima. Luhan telah resmi diterima menjadi seorang OB di perusahaan tersebut. Dan berdasarkan dari cv yang ia buat, jika Luhan pernah bekerja juga menjadi seorang OB di salah satu supermarket, juga pernah menjadi seorang barista di sebuah cafe. Luhan akhirnya ditempatkan di OB bagian pembuatan minuman. Dan dia kana resmi bekerja mulai besok pagi. Dengan senang hati ia berjalan keluar gedung tersebut untuk meninggalkan gedung dan berjalan menuju halte bis untuk pulang.

.

.

.

.

.

Sehun sampai di lobby perusahaannya. Dia berjalan dengan penuh wibawanya menuju ke lift pribadi miliknya. Berjalan cepat di iringi sekertaris pribadinya kim Myungsoo atau yang akrab di panggil L. Sekertarisnya mengoceh panjang lebar mengenai jadwalnya hari ini. Mengingatkan sang CEO mengenai jadwal rapat dan pertemuaanya dengan beberapa petinggi perusahaan untuk bekerja sama.

Sehun hanya sesekali merespon sang sekertaris dengan hanya bergumam sambil terus berjalan. Fokusnya hanya menatap ke arah depan tanpa memperdulikan karyawannya menunduk hormat kearahnya. Stelan jas hitam membalut tubuh atletisnya dengan apiknya. Namun, seluruh raganya seketika terhenti ketika kedua mata elang nan tajam menangkap banyangan seorang namja yang amat ia kenal dalam memori otaknya hingga menciptakan letupan tepat mengenai hatinya. Bahkan L sang sekertarin harus menghentikan langkah beriringan di belakang sang CEO dan sedikit terkejut.

Seorang namja yang sangat Sehun kagumi bahkan ia memberikan hatinya hanya untuk namja tersebut selama bertahun-tahun. Tubuhnya masi terdiam, sorotan mata tajam itu hanya menatap kosong kedepan, karena otaknya sdang mencerna mengenai sosok yang baru saja ia lihat tersebut. Jantungnya berdetak kencang. Hingga sang seketaris menyadarkannya karena sebuah panggilan namanya untuk yang kesekian kali.

"Sajang-nim!" Untuk kesekian kalinya sang sekertaris memanggil sang CEO berusaha menariknya dari pemikiran kusut yang tiba-tiba ia dapatkan.

"Ah, ne sekertaris Kim?" Sehun tersentak kaget mendengar panggilan sang sekertaris.

"Adakah yang mengganggu fikiran adana sajang-nim?" Sekertarisnya bertanya karena sedikit heran mengapa sang CEO ini tiba-tiba berhenti dan melamun.

"Em, sepertinya aku harus keluar dulu. Ada berkas yang tertinggal dirumah." Elaknya ketika sang sekertaris yang sedikit bingung dengan sikapnya.

"Ah begitu, baiklah kalau begitu biar saya saja yang mengambilkan berkas tersebut, Oh sajang?" Serunya berniat membantu sang CEO nya tersebut.

"Tidak perlu, berkas itu masih digunakan untuk lusa. Hanya belum selesai aku kerjakan. Dan sebenarya aku berniat membawanya hari ini untuk ku selesaikan. Tapi sepertinya tidak bisa karena aku lupa membawanya. Jadi tidak perlu kau mengambilnya. Biar nanti aku selesaikan itu di rumah." Sehun mengeluarkan argument dan sedikit bumbu-bumbu omong kosong sebenarnya perihal berkas tersebut. Padahal yang membuatnya seketika terhenti berjalan kea rah lift pribadinya hanyalah karena ia menangkap seseorang yang mirip sekali dengan orang yang ia cintai.

"Kalau begitu kita harus berjalan ke ruangan anda, Oh sajangnim. Karena 20 menit lagi aka nada rapat akhir bulan." Skertaris Kim mengingatkan kembali jadwalnya hari ini.

"Baiklah." Sehun kembali berjalan menuju lift pribadinya.

.

.

.

.

.

Yixing dan Suho menjalani rutinitas layaknya dokter pada umumnya. Bukan maksud meninggalkan kewajiban untuk menjaga dan mengawasi Luhan. Tapi mereka juga memiliki pekerjaan lain selain melakukan penelitian dengan professor Jung. Setiap satu atau dua minggu sekali Suho mengirimkan data hasil cek up kesehatan Luhan dan calon bayinya kepada sang professor yang sedang bekerja di luar negeri. Mengirimi hasil scene nan calon bayi Luhan. Di foto itu juga masih telihat kecil dan dengan sedikit mengelabuhi professor Jung mengenai jumlah janin yang sebebnarnya. Suho mengambil gambar scene gambar janin tersebut dari arah yang berbeda. Sehingga hanya akan terlihat satu janin saja. Mungkin untuk sekarang gambar itu bisa dikelabuhi lantaran ukurannya yang masih kecil. Tapi tidak untuk bulan-bulan berikutnya ketika janin itu bertambah besar.

.

.

.

.

.

"Ceklung," gagal becksound nada pesan ponsel Sehun.

Sehun malam itu sedang fokus mengerjakan laporan yang tertuda karena tadi pagi ia sempat lupa membawanya. Fokusnya seketika terpecah ketika mendengar bunyi pesan masuk dari ponselnya. Dengan segera ia mengecek pesan tersebut. Dan terpampang dilayar posel tersebut adalah pesan dari sang Eomma. Dengan santainya di membuka pesan tersebut. Matanya langsung saja tertampar sebuah foto yang membuat sistim kerja otaknya sedikit melemah. Terpampang jelas sebuah foto yang berlatarkan warna hitam, tapi jika diperjelas lagi ada sebuah titik kecil seukuran kacang berada di tengah-tengahnya. Hatinya sedikit meletup bahagia. Tangannya meraba pelan pada layar ponselnya tersebut. Hatinya sedikit bergetar dengan gambar yang ia lihat kini. DIbawah tertera pesan dari sang eomma.

"Ini foto calon cucuku yang masih berumur satu bulan lebih. Aku tak sabar segera menimangnya."

Sehun benar-benar merasakan perasaan yang bahkan tak sanggup ia deskripsikan dengan kata-kata. Hatinya benar-benar berdebar, menghangat dan berbagai perasaan bahagia melihat foto scene calon bayinya yang masih berbentuk janin berumur satu bulan lebih. Tak luput juga perasaan marahnya yang ikut mengeringi rasa bahagiannya. Pasalnya ia begitu marah dengan tindakan sang Eomma yang dengan seenaknya menyewa rahim seseorang hanya untuk keinginanannya mendapatkan seorang cucu. Setelah sebelumnya dengan keras kepala berusaha menjodohkan dirinya dengan beberapa putri dari beberapa kolega perusahaan. Tapi Sehun selalu menolak dan berkata jika umurnya masihlah muda untuk menikah.

.

.

.

.

.

Keesokan paginya. Seperti biasa Luhan akan berada sendirian di rumah. Sedangkan Yixing dan Suho berangkat kerja. Dan begitu mereka berdua berangkat. Luhan bergegas juga untuk berangkat. Ini adalah hari pertamanya kerja. Maka ia bersiap dan berangkat. Beruntunglah jam kerja Luhan itu pukul delapan pagi sampai dengan pukul empat sore karena memang Luhan adalah pekerja baru. Sedangkan Yixing dan Suho memang selalu berangkat pukul tujuh pagi hingga pukul delapan malam. Itupun tergantung keadaan di rumah sakit. Bahkan sering pulang terlambat dari jam kerja mereka. Luhan bergegas berjalan ke halte bis yang tak jauh dari tempat yang kini ia tinggali bersama Yixing dan Suho.

Perjalanan memakan waktu 15 menit sampai ke perusahan tersebut. Perusahaan terkenal dalam bidang property bernama OH CORP. Luhan langsung menuju ke ruang ganti OB yang telah ditunjukkan kemarin. Membuka lokernya dan mengganti bajunya dengan baju OB yang bertugas membuat minuman. Karena memang baju pekerja disini sebenanrya memiliki model yang sama layaknya OB biasanya. Yang membedakan hanyalah warnanya antar OB per bagian. Seperti saat ini Luhan menggunakan seragam OB berwarna biru yang berarti itu seragam untuk OB bagian pengantar dan pembuat minuman.

Luhan bersiap keluar dari ruang ganti pegawai dan berjalan menuju ke dapur. Disana Luhan yang masih baru bersama teman-teman yang lain Luhan diberi pekerjaan membuat atu meracik minuman. Kepala OB bagian ini bernama Kim Jongdae. Dia dengan telaten mengajari Luhan dan pegawai baru lainnya bagaimana cara membuat dan meracik minuman. Luhan begitu cepat belajar apa yang telah di ajarkan oleh Kepala OB tersebut.

.

.

.

.

.

Seminggu bekerja Luhan menikmati setiap pekerjaan membuat minuman untuk staf perusahaan. Tak jarang ia mengantarkan minuman tersebut ke ruangan langsung. Yap.. karena itulah pekerjaannya. Tak sedikitpun Luhan mengeluh. Sebenarnya ia sedikit khawatir di awal ia melamar pekerjaannya. Alas utama adalah bayi kembarnya. Tapi lambat laun bayi kembarnya ini seperti mengerti pekerjaan eommanya. Mereka seakan mengerti dan tidak pernah membuat Luhan kesusahan dalam setiap paginya. Bahkan saat bekerja pun Luhan merasa lebih bersemangat.

.

.

.

.

.

"Hoek..hoek..hoek…" Terdengar suara seseorang yang sedang muntah dari dalam kamar mandi.

Seorang pria jakung nan tampan dengan surai coklat pekat dan kulit bak albino. Bisa ditebak itu adalah Oh sehun. Ia sedang berusaha memuntahkan entah apa yang sebenarnya ia ingin muntahkan. Padahal semalam ia bahkan belum sempat mengisi perutnya. Dan sekarang perutnya bergejolak ingin mengeluarkan isi perutnya. Dan yang keluar hanyalah cairan bening bernama ludah. Di sudah berdiri di depan wastafel selama hampir satu setengah jam hanya untuk mengeluarkan cairan bening tersebut. Kepalanya pening, dan tubuhnya merasa lemas. Setelah dirasa rasa mualnya meredah Sehun mencuci muka dan berniat membatalkan acara mandinya. Ia merasa lemas, dan sepertinya demam.

.

.

.

.

.

Selama bekerja menjadi seorang OB. Luhan mendapat seorang teman baru bernama Byun Bekhyun. Yang juga sama-sama pegawai baru seperti dirinya. Hanya bedanya Baekhyun merupakan OB bagaian pengantar berkas. Dengan warna seragam hijau. Entah bagaimana Luhan bisa berkenanlan dengan Baekhyun. Mungkin karena Baekhyun sendiri adalah seorang yang ramah bahkan bisa dibilang terlalu ramah dan mudah bergaul. Dan saat makan siang Luhan akan makan siang bersama dengan Baekhyun.

.

.

.

.

.

"Ceklek" Bunyi pintu terbuka.

Menampilkan sang sekertaris datang dengan sebuah tas erja ditangan. Pagi-pagi sekali Sehun menghubungi sekertaris Kim untuk memberitahukan karena hari ini dia tiidak bisa masuk kerja karena sakit. Karena itu pagi ini dia segera mengunjungi sang CEO. Sekertaris Kim datang untuk meminta tanda tangan penting perihal pekkerjaan yang memang sangat penting juga tanda tangan berkas tersebut tidak mungkin bisa di wakilkan oleh siapapun.

Usai mendapatkan tanda tangan dari sang CEO. Sekertaris Kim segera beranjak dari rumah Sehun. Dan akan mengabarkan kepada sang Wakil CEO yaitu Tuan Park Chanyeol untuk menggatikan pekerjaan Sang CEO karena ia sedang sakit. Dan perlu kalian tahu, sii wakil CEO atau bisa dibilang direktur perusahaan ini adalah sahabat karib sang CEO. Oleh karena itu Sehun begitu mempercayai Direktur Park menangani perusahaan saat ia ada kepentingan atau saat ia sakit seperti sekarang ini.

.

.

.

.

.

"Terimakasih sayang-sayang ku. Kalian begitu pengertian sekali tidak rewel dan membuat eomma kesusahan saat bekerja." Batinnya.

Luhan mengusap perunya sambil tersenyum. Karena bayi kembarnya di dalam sana seharian ini tidak berulah dengan membuat dirinya mual dan pusing. Ia sedang makan siang bersama sahabat barunya Baekhyun di sebuah kedai mie yang letaknnya bersebelahan dengan tempat kerjanya.


TBC


Note:

Annyeong reader-nim semua.

Mian, Chapter ini HunHan belom bisa ketemu.

Sebenernya sih mau aku temuin.

Tapi, ku pikir akan terlalu panjang kalo aku nemuin HunHan di chapter ini.

So, mungkin chapter depan mereka ketemu.

Jangan kecewa ya.

Chapter depan aku janji bikin yg sweet2 kok.

Oh iya. Sedikit cerita.

Aku minggu depan udah mulai KKN bareng adek2 emes.

Bisa kasih saran apa yang harus ku bawa?

Cz aku rada bingung, nih.

Tempat KKN ku itu cuman berjarak 30 menit dari kos ku sekarang.

Hehehe…


10/07/2018