Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length : Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!


Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

"Terimakasih sayang-sayang ku. Kalian begitu pengertian sekali tidak rewel dan membuat eomma kesusahan saat bekerja." Batinnya.

Luhan mengusap perutnya sambil tersenyum. Karena bayi kembarnya di dalam sana seharian ini tidak berulah dengan membuat dirinya mual dan pusing. Ia sedang makan siang bersama sahabat barunya Baekhyun di sebuah kedai ramen yang letaknnya bersebelahan dengan tempat kerjanya.


.

.

.

CHAPTER 8

.

.

.


Typo bertebaran~


Pagi menjelang siang, eomma Sehun datang ke rumah sang putra setelah mendapat kabar bahwa Sehun tengah sakit dan tidak masuk kerja. Ia sampai di depan pintu rumah sang putra dan dengan lancarnya jemari-jemari lentik itu memencet beberapa digit angka password rumah tersebut. Sehun sebenarnya lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri yaitu rumah orang tuannya ketimbang tinggal disini. Namun karena alasan tertentu seperti jarak antara rumah dengan kantornya lumayan jauh. Sehingga Sehun akhirnya memilih untuk membeli rumah yang tidak terlalu besar dan juga mewah. Tapi cukup elegan segi penataannya juga gaya arsitekturnya.

Rumah dengan berisikan dua kamar, ruang tamu, dapur, ruang makan, ruang tv, ruang kerja, dan sebuah ruang keluarga ang tidak terlalu besar dengan dilengkapi sebuah garasi mobil dan taman dengan sebuah pohon dan ayunan besi dipelatarannya. Rumah bernuansa elegan dengan cat berdominasi silver dan beberapa wallpaper dinding bercorak menghiasi dinding ruang tamu. Dan masih banyak lagi hal-hal yang bersangkutan dengan teknologi rumah pintar.

Meskipun sebenarnya Sehun akan pulang tiap bulannya ke rumah utama yaitu rumah orang tuannya. Alasanya lainnya kenapa ia harus pulang tiap bulaannya adalah karena Sehun sangat tau eommanya pasti akan kesepian dirumah besarnya. Meskipun begitu sang eomma juga tak pernah lelah untuk sering mengunjunginya setiap waktu. Apalagi seperti saat ini, saat sang sekertaris Sehun memberitahu kalau sang CEO tidak bisa masuk kerja dikarenakan sakit. Sang eomma langsung saja meminta pak Han seorang supir pribadi keluarga Oh tersebut mengantarnya ke rumah sang anak semata-wayangnya.

.

.

.

.

.

Setelah sampai di rumah pria termuda di dalam hidupnya. Ia segera memasukkan beberapa digit angka password yang sangat ia hafal. Dan begegas ke arah kamar sang putra.

"Sehunnie sayang. Bagaimana keadaan mu, nak?" Seru sang eomma begitu ia sampai di kamar sang putra bungsunya.

"Uh, eomma. Apa yang eomma lakukan disini?" Sehun terbangun setelah mendengar suara panggilan sang eomma.

"Eomma hanya ingin menjengukmu, nak? Sekertarismu tadi mengabari eomma, kalau kau tidak bisa masuk kerja karena sakit." Eomma Sehun dengan santainya duduk tepat di sebelah Sehun berbaring di atas ranjangnya.

"Aku baik-baik saja eomma. Dan aku bisa mengurus diriku sendiri eomma." Dengan suara sedikit dipaksakan ia menjawab sang eomma. Ketika sekali ia sedang menahan diri dari sakitnya.

"Tapi eomma kan hanya ingin tahu keadaan mu saja." Sambil mengulurkan tangannya tepat ke dahi sang putra bungsu untuk mengecek apakah Sehun ini demam atau tidak.

"Hems, baiklah-baiklah eomma. Aku sekarang merasa pusing dan mual. Dan mungkin sedikit demam. Jadi biarkan aku beristirahat agar pusing dikepalaku ini hilang, eomma." Sedikit menepis secara halus. Sehun menaruh turun tangan sang eomma berharap eommanya berhenti memeriksa kondisinya. Kemudian menjelaskan apa sebebnarnya yang dirasakan dirinya sekarang agar eommanya ini menghilangkan wajah khawatirnya itu.

"Kau pasti belum makan kan? Kalau begitu eomma akan membuatkan mu bubur ne." Sedikit mengerti dengan kebiasaan putranya ini. Sang eomma akhirnya mengalah dan beranjak dari kamar sang putra

"Terserah eomma saja." Sehun berusaha mengabaikan eommanya itu, dan kembali beristirahat.

Sepeninggalnya sang eomma ke dapur untuk membuatkan buburnya. Sehun kembali merebahkan tubuh nya ke atas ranjang king size nya. Berharap dengan istirahat sejenak pusing dan mualnya akan mereda.

.

.

.

.

.

"Luhan hyung. Ini makan punyak ku. Sepertinya kau masih lapar." Sambil menyodorkan setengah ramen nya ke arah Luhan.

Baekhyun adalah sahabat baru Luhan, Ia begitu takjub dengan kondisi cara makan Luhan. Luhan makan begitu lahap hanya dengan semangkok ramen saja. Dan dalam sekejap mangkok itu bersih tak bersisa. Sepertinya Luhan masih terlihat lapar. Padahal Baekhyun masih baru beberapa suap merasakan ramen miliknya ini. Terlihat ketika Baekhyun akan menyuapkan ramen miliknya dengan sumpit kedalam mulutnya. Ternyata Luhan tengah memperhatikan dengan mata berbinar. Karena hal itu membuat hati Baekhyun tersentuh. Membuat Baekhyun menghentikan makannya. Ia kemudian menaruh suapan ramen di ujung sumpitnya kembali ke dalam mangkoknya. Lalu menggeser mangkok ramennya untuk pada Luhan. Luhan menerimanya dengan senang hati dan semangat. Dan dengan lahapnya ia memakan mangkuk ramen yang ke dua itu hingga habis tak terisisa. Entah mengapa hanya dengan melihat Luhan makan, malah membuat Baekhyun sudah merasa kenyang.

.

.

.

.

.

Dua hari kemarin Sehun memang jatuh sakit, hingga membuat sang eomma khawatir. Sampai-sampai nyonya Oh datang sendiri ke rumahnya. Yap.. tepat di apartemen sang putra bungsunya itu. Ia merawat Sehun yang sedang sakit itu dengan penuh kasih sayang. Beruntung setelah istirahat hampir dua hari lalu Sehun bisa sembuh dan memulai aktifitanya kembali ke kantornya. Setelah sempat mengabaikan segudang aktifitas kantornya yang begitu padat merayap selama ia sakit.

Tak seperti pemimpin perusahaan yang lain. Sehun adalah orang yang disiplin, juga keras dalam melakukan segala aktifitasnya. Hingga seluruh pekerja sangat menjaga kedisiplinan bekerja di perusahaan milik Sehun ini. Rutinitas datang lebih awal adalah suatu kebiasaan Sehun ketika datang ke kantornya ini. Tak jarang beberapa staf OB kebersihan benar-benar bekerja keras membersihkan kantor ini di pagi buta. Mengingat sang CEO mereka ini sering datang lebih awal dari jam-jam kantornya.

Pagi itu Sehun sampai di perusahaannya tepat pukul 07.00 KST. Ketika kedua mata tajamnya melirik sekilas pada jam tangan yang melingkar tepat di pergelangan tangan yang kokoh itu. Tentu saja tak lupa ia didampingi sang sekertaris yang juga disiplin dalam pekerjaanya yaitu sekertaris Kim. Sebenarnya, aktifitas kantor ini dimulai pada jam 08.00 KST. Sehingga di jam segini yang akan didapati hanyalah beberapa OB dengan bagian masing-masing mengerjakan tugasnya dengan tanggung jawab. Oleh karena itu perusahaan masihlah sepi. Karena orang-orang yang bekerja disana belumlah hadir atu bisa dikatakan sampai di jam itu.

.

.

.

.

.

Suasana kantor saat itu masihlah sangat pagi. Terlihat beberapa OB sedang berkerja pada bagian masing-masing. Entah itu mengepel, mengelap kaca, menyiram tanaman dan masih banyak hal yang dilakukan oleh mereka dengan penuh semangat. Sehingga tampak beberapa orang berlalu-lalang dengan kesibukannya sendiri. Dan ketika diketahui sang CEO atau pemilik dari perusahaan ini ada di sini pada jam itu juga. Seketika mereka menghentikan sejenak dari pekerjaan yang sedang mereka lakukan, kemudian menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat terhadap seorang pemimpin. Sesekali menyapa sang CEO ketika ia berada dihadapan mereka. Meskipun tak akan ada balasan apapun yang diperoleh dari CEO nya tersebut.

Seperti halnya salah seorang namja mungil ini. Ia melakukan pekerjaannya dengan penuh semangat setiap harinya. Namja berperawakan mungil. Mungkin itu yang bisa digambarkan dari namja ini. Apalagi mata rusanya itu. Yang menjadi ciri khas darinya. Siapa lagi kalau bukan Luhan. Namja yang baru dua minggu kira-kira bekerja sebagai seorang asisten OB bagian pembuat minuman di perusahaan ini. Siapa lagi kalau bukan Luhan. Namja yang melakukan pekerjaannya dengan penuh semangat dan gembira melakukan pekerjaan tersebut.

Kali ini Luhan sedang berjalan menuju ke arah lift pekerja yang terletak di sebelah eskalator pegawai disana. Dan jangan lupakan napan yang sedang dipegang kuat-kuat oleh kedua tangan mungilnya itu. Dengan beberapa gelas yang memiliki asap mengepul di atas tiap-tiap gelasnya. Gelas-gelas tersebut berisikan sebuah cairan pekat berwarna hitam yang memiliki aroma khas dari minuman tersebut. Rasa pahit yang akan tercecap oleh lidah orang-orang yang merasakan cairan dalam gelas tersebut. Minuman ini merupakan minuman favorit orang-orang disini. Apalagi kalau bukan kopi hitam favorit orang-orang disini.

Mengantar kopi adalah hal yang menjadi rutinitsnya paginya setiap hari selama ia bekerja disini selama hampir sabulan ini. Luhan diterima menjadi salah satu OB di bagian pembuatan minuman karena kalau boleh di ingatkan kembali. Kalau dulunya Luhan pernah bekerja disalah satu kafe menjadi sorang barista. Maka dari itu Luhan mendaftar menjadi seorang OB bagian pembuatn minuman di perusahaan ini. Dan beruntungnya baru beberapa waktu yang lalu ia ditrima bekerja di perusahaan ini.

Memang hampir beberapa minggu ini mengantarkan minuman pekat berwana hitam itu ke meja-meja staf pegawai kantor disana adalah sebagai pekerjaan utama Luhan. Tak jarang beberapa staf pegawai disana memuji dirinya karena kopi yang ia buat memiliki rasa yang nikmat. Padahal menurut Luhan sendiri ia membuat kopi juga sama seperti membuat kopi pada umumnya. Tapi entah mengapa menurut orang yang meminumnya itu, cita rasa kopi yang dibuat Luhan itu berbeda dari yang lain.

Luhan begitu hati-hati dalam membawa nampan berisikan kopi panas tersebut. Karena takut-takut jika ia akan bertindak ceroboh saat membawa nampan berisi kopi panas ini sampai-sampai tumpah kemana-mana. Sunggu suatu bayangan yang tak ingin ia lalui. Maka ia pasti akan dimarihi habis-habisan karena mempahkan kopi panans tersebut tentu saja oleh kepala Staf OB bagian pembuat dan pengantar minuman. Lebih-lebih Luhan akan dipecat. Itu adalah hal yang sunggu sangat dihindari Luhan dan atak ingin ia bayangkan. Sehingga dengan langkah pelannya ia berjalan menuju ke lift yang memang digunakan untuk para OB.

.

.

.

.

.

Sehun berjalan kearah pintu besar perusahaannya. Sedangkan kedua mata elangnya yang begitu tajam masih fokus ke arah depan. CEO tampan ini memang dikenal sebagai seorang yang tegas, disiplin dan keras. Karena ketegasan dan kedisiplinanya dalam memimpin ini sehingga mampu membawa perusahaan yang telah didirikan sang Appa kian berkembang pesat.

Langkahnya segera saja berjalan menuju ke sebuah eskalator yang tersedia disana. Sebuah eskalator itu berada tepat di tengah-tenga ruangan itu. Tepatnya berdekatan dengan lobby kantor tersebut. Memang bukan hal yang asing lagi untuk melihat pemilik perusahaan mereka itu berdiri menaiki eskalator tersebut. Ketika sedang berjalan seperti ini. Maka seluruh staf pekerja maupun OB yang ada disana menghentikan sejenak pekerjaan maupun aktifitas yang sedang mereka lakukan. Dan kemudian menunjukkan rasa hormatnya dengan menunduk saat Sehun dan rombingannya lewat dihadapan mereka. Sehun hanya akan memasang wajah datar tak berekpresi tanpa ada keinginan membalas mereka. Sedangkan Sang sekertaris memberikan kode kepada para staf pekerja untuk melamjutkan aktifitas yang mereka lakukan begitu sepeniggalnya Sehun dari hadapan mereka.

Entah mengapa hari ini ia malah ingin menaiki tangga berjalan tersebut. Padahal sebenarnya Sehun memiliki lift pribadi yang memang dikhususkan untuknya dan beberapa investor atau tamu yang datang ke perusahaannya itu. Bentuk lift yang elegan karena jelas saja. Lift pribadi Sehun memiliki kaca tembus pandang yang langsung saja mengarah ke penjuru kantor perusahaannya ini. Sehingga dari atas sana Sehun dapat melihat langsung bagaimana para staf pekerja dalam bekerja.

Sebenarnya eskalator ini digunakan untuk umum. Ya maksudnya eskalator ini digunakan oleh seluruh pekerja yang ada di perusahaan ini. Sehun sendiri sebenarnya jarang untuk menaiki lift pribadinya tersebut. Kecuali memang ada kepentingan lain. Selebihnya ia malah menikmati menggunakan eskalator ini. Dan tak lupa sang sekertaris dengan setia berjalan mengikuti sang CEO dari belakang.

.

.

.

Dengan langkah pelan dari kedua kaki mungilnya. Luhan berjalan dengan hati-hati sambil membawa nampan yang penuh cangkir kopi yang mengepul tadi. Kedua mata rusanya sesekali memperhatikan arah depan. Juga melirik cangkir kopi yang ia bawa dengan kedua tangannya. Sehingga fokusnya terbagi antara memegang nampa, juga berjalan lurus ke depan. Sebenranya focus utama Luhan malah jatuh pada nampa yang ia bawa. Sehingga ia tidak menyadari keadaan di depan sana terdapat segerombolan orang yang sangat penting juga sangat disegani oleh seluruh pekerja yang ada di perusahaan ini.

Luhan berniat membawa nampan penuh cangkir berisikan kopi panas tersebut menuju ke lantai atas. Sehingga ia harus menggunakan sebuah lift pekerja yang memang biasah ia gunakan maupun staf pekerja lain gunakan. Letaknya tak jauh dari eskalator disana. Hingga tanpa disadari Luhan telah melangkah di atas sebuah lantai yang masih basah karena baru saja di pel. Namun, pijakan yang kurang pasti membuatnya jatuh terpeleset dan terdorong ke depan. Dan tanpa sadar ia sedikit mengeluarkan teriakan karena terkejut. Hingga beberapa cangkir gelas yang berisikan kopi panas tadi seakan ikut terlempar ke depan dan melayang sebelum mendarat bebas di lantai kramik yang keras. Sekarang lantai kramik putih itu telah berubah dengan penuh corak hitam akibat tumpahan kopi panas tadi beserta pecahan-pecaha cangkirnya. Luhan jatuh terjerembab ke depan dengan tangan menyangga tubuhnya lebih dulu ketika jatuh tadi. Sehingga ia masihlah baik-baik saja tanpa luka, hanya rasa syok yang ia rasakan.

Namun ada satu hal yang menganjal ketika kedua manik rusa itu menatap lantai di depan sana. Tepat berjarak kurang lebih satu meter dari tempatnya terjatuh. Terdapat sepasang sepatu hitam yang juga ikut ternoda oleh tumpahan kopi yang ia bawa tadi. Kedua mata rusa itu kemudian mndongak ke atas dengan kedua mata rusa yang begitu polos. Luhan begitu terkejut dengan apa yang ia dapati di hadapannya kini. Bukan suatu keberuntungan ia bisa bertemu secara langsung dengan keadaan seperti ini. Dan tak sedikit pun Luhan membayangkan bertemu dengan sang CEO perusahaannya itu dengan cara seperti ini.

Sepasang kaki bersepatu hitam yang kini memiliki corak karena tumpahan kopi yang tak sengaja mengenai sepatu itu adalah milik sang CEO perusahaan yang beberapa kali dibicarakan oleh beberapa OB saat berada di ruang istirahat. Dari gossip yang dia dengar bahwa CEO perusahaannya ini memiliki paras yang tampan, juga bertubuh tegap bak model majalah unggulan. Namun dia memiliki sikap yang disiplin, dingin dan tegas, juga keras. Seketika Luhan menelat bulat-bulat ludahnya. Karena ia benar-benar gugup sebentar lagi pastinya dia akan dipecat.

"Maafkan saya, Tuan." Luhan segera mmbangunkan dirinya dan menghampiri sang CEO muda tersebut. Sambil membungkuk memohon maaf dengan tindakan yang baru saja dia lakukan.

Luhan berniat maju dan berjongkok untuk membersihkan sepatu sang CEO muda dengan sebuah lap yang ia bawa. Sambil menggosok sepatu sang CEO Luhan terus berguman maaf. Sedangkan CEO nya hanya diam dan datar melirik apa yang sedang dilakukan Luhan dengan sepatunya yang telah kotor tersebut. Hingga sang sekertaris segera menghampiri Luhan dan menyruhnya menghentikan tindakannya.

"Kumohon berhentilah." Seru Sekertaris Kim untuk meminta Luhan behenti.

"Maaf kan saya, Sajangnim." Luhan tetap kekeh mengelap noda kopi di sepatu sang CEO tersebut.

Hingga Sehun sang CEO malah merunduk dan ikut bejongkok. Kemudian tangannya terarah memegang kedua lengan Luhan yang sedang berusaha membersihkan node kopi tersebut dengan lap yang ia punya.

"Berhentilah." Sehun menyuruh OB yang tak lain adalah Luhan ini untuk berhenti.

Seketika itu kedua manik rusa Luhan bertemu pandang dengan sang CEO yang tak lain adalah Sehun. Namun dengan segera Luhan memalingkan pandangannya ke bawah. Sehun kemudian membawanyan untuk berdiri

.

.

.

.

.


TBC


Note:

24/09/2018

gw revisi lagi.

Revisi 05/10/2018