Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun Xi Luhan), Slight EXO OTP12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!


Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

"Kumohon berhentilah." Seru Sekertaris Kim untuk meminta Luhan berhenti.

"Maaf kan saya, Sajangnim." Luhan tetap kekeh mengelap noda kopi di sepatu sang CEO tersebut.

Hingga Sehun sang CEO malah merunduk dan ikut bejongkok. Kemudian tangannya terarah memegang kedua lengan Luhan yang sedang berusaha membersihkan node kopi tersebut dengan lap yang ia punya.

"Berhentilah." Sehun menyuruh OB yang tak lain adalah Luhan ini untuk berhenti.

Seketika itu kedua manik rusa Luhan bertemu pandang dengan sang CEO yang tak lain adalah Sehun. Namun dengan segera Luhan memalingkan pandangannya ke bawah. Sehun kemudian membawanya untuk berdiri.

.

.

.


CHAPTER 9


.

.

.

Typo bertebaran~

Kedua pasang mata itu bertemu sapa. Namun dengan segera mata si namja yang bekerja sebagai OB tersebut memalingkan pandangannya ke arah lain. Sedangkan Kedua obsidian tajam itu sedikit membola karena merasa terkejut dengan pandangan yang dia dapati. Seketika itu ia melepaskan genggaman erat pada kedua lengan seseorang dihadapannya tersebut. Jantungnya dengan cepat berdenyut serta darahnya kian memompa dengan derasnya. Apa yang ia dapati ini bukanlah hal biasa.

Bahkan hal ini adalah apa yang telah lama ia harapakan namun tak pernah ia bayangkan untuk benar-benar tewujud. Seorang Oh Sehun yang tidak bisa melupakan seorang yang sangat penting dalam hidupnya juga masa lalunya. Dan orang yang sangat penting itu adalah seseorang yang sama dengan wajah yang selalu ia ingatnya. Dan wajah itu baru saja ia dapati kembali tepat didepan matanya. Dan dihadapannya sekarang adalah seseorang yang diam-diam dirindukannya.

Kedua obsidian milikinya tak akan mungkin salah mengakap wajah yang begitu ia kenali. Sedangkan namja yang berseragam OB perusahanannya ini seketika tertunduk sambil tetap menggumamkan kata 'maaf' dengan lirih. Sehun hanya diam dan menghela nafas dengan teratur begitu ia sanggup mengendalikan degupan jantungnya yang menggila dengan masih tetap memandangi seseorang dihadapannya ini.

Tak berapa lama seorang kepala bagian OB perusahaannya datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Ia segera datang begitu mendengar salah seorang pekerjannya melakukan kesalahan.

"Tolong maafkan dia Sajanim. Dia masih baru bekerja disini. Saya akan segera memecatnya." Ucap sang kepala bagian OB begitu saja di hadapan sang CEO begitu tahu pegawai barunya membuat kesalahan yang menurutnya begitu fatal.

Luhan yang mendengar hal itu hanya tertunduk diam. Tanpa bisa menyangkal kesalahannya ataupun membela hanya tertunduk bagaikan seorang pencuri yang tertangkap basah di depan majikannya. Sedangkan Sehun di bantu sang sekertaris menangani permasalah kecil di pagi hari ini.

Sang kepala Ob tersebut dengan segera menggeret Luhan untuk mundur beberapa langkah dari sang CEO di ikuti skertaris CEOnya. Terjadi obrolan ringan antara sang sekertaris dengan kepala bagian OB perusahaanya tersebut untuk menyelesaikan permasalahan ini. Tak sedikit Sehun melirik ke gerombolan mereka. bahwa namja yang sangat ia kenali sebagai orang itu (kenalannya) sedang dimarahi oleh sang kepala OB tersebut. Dan setetes air mata yang jatuh begitu saja dari wajah itu berhasil ditangkap oleh sepasang mata tajamnnya. Terlihat sekali kepala pelayannya itu terus-terusn memarahi namja itu.

Sehun menghela nafanya dalam-dalam beranjak untuk menghentikan obrolan tersebut, karena menurutnya hal ini bukanlah hal yang penting. Namun menjadi begitu penting untuk Sehun ketika ia dihadapkan dengan seorang namja yang berada disana. Hatinya entah mengapa sedikit sakit saat melihat namja itu dimarahi sampai meneteskan air matanya.

"Suruh dia datang keruanganku setelah ini!" Sehun menghampiri mereka bertiga dan mengintruksikan agar namja yang baru saja menumpahkan kopi hingga mengenai sepatunya untuk datang ke rungannya.

"Ne Sajangnim."Begitu sahutan dari sang sekertaris setelah mendapat perintah langsung sang CEO.

Setelah itu Sehun segera melanjutkan perjalannya menuju ke ruangan miliknya yang berada di lantai paling atas gedung ini. Rungan itu tepat berada di lantai 12 gedung perusahaannya tersebut.

.

.

.

.

Luhan begitu sedih karena ia malah berakhir di marahi habis-habisan oleh bosnya. Bahkan pekerjaan yang baru ia dapatkan beberapa minggu yang lalu ini terancam hilang begitu saja karena jelas saja ia akan dipecat. Air matanya begitu dengan mudahnya meluncur bebas membasahi pipinya. Apalagi ketika ia malah dibentak dengan keras sepeninggalnya sang sekertari CEO perusahan tempatnya ia berkerja. Dan Luhan berhadapan langsung dengan sang kepala OB.

"Maafkan saya Kepala Kim. Saya tadi hiks .. benar-benar tidak sengaja menjatuhkan nampan tersebut. Lantai disana begitu licin. Dan saya tidak tahu kalau lantai tersebut baru saja selesai di pel." Mohon Luhan untuk memaafkan dirinya karena kejadian tadi merupakan murni ketidak sengajaannya. Bukan hal yang disengaja.

"Aku tidak peduli Luhan. Kau masihlah pegawai baru disini. Aku juga tidak bis berbuat apapun. Setelah ini segera bereskan barang-barang mu usai kau menemui Sajangnim." Si kepala OB tersebut menghela nafas dalam-dalam berusaha meredam amarahnya terhadap pegawai barunya tersebut. Entah kenapa ia merasa iba sebenarnya saat melihat namja cantik dihadapannya ini menangis sesenggukan setalah ia menegurnya dengan keras.

"Baiklah kalau begitu saya permisi, terimakasih banyak kepala Kim." Luhan tertunduk lesu dan beranjak dari hadapan sang Kepala OB. Namun langkahnya segera terhenti begitu sang Kepala Kim di belakangnya kembali memanggilnya.

"Em, Luhan. Aku akan mengirim gajimu yang pertama dan terakhir. Anggap saja sebagai pesangon mu, karena kau telah bekerja dengan baik selama beberapa minggu ini." Ucap Kepala Kim menjelaskan.

"Terimakasih sekali lagi Kepala Kim." Luhan mengucapkan terimakasih sekali lagi kepada atasannya tersebut.

.

.

.

.

.

Sehun tiba begitu saja di rungannya dan dengan segera ia mendudukkan diri di sebuah kursi kebesarannya. Ia segera menggeser laci teratas dari meja kerjannya dan mengeluarkan foto dengan bingkai yang terlihat sudah lama beserta fotonya. Ia menerawang jauh sambil meraba salah satu bagian foto dengan gamba seorang namja cantik disana. Dengan tanpa perintah ia malah menyunggingkan senyum dari kedua sudut bibirnya. Matanya masih menerawah jauh. Dan dengan tanpa di perintah mulutnya mengumamkan sebuah nama

"Akhirnya takdir mempertemukan lagi kita" dalam batinnya "Luhan hyung" terucap dari bibir nya begitu saja.

.

.

.

.

.

.

Tak berapa lama datanglah sang sekertaris yang sebenarnya juga adalah sahabatnya itu masuk ke ruangan sang CEO. Sekertaris Kim segera saja menghampiri sang CEO yang sedang duduk tenang di kursi kebesarannya itu sambil kedua matanya fokus menatap layar laptop di depannya.

"Sajangnim, ini saya sudah mengambilkan sepatu ganti anda." Sang sekertaris berujar tentang sebuah kotak yang berisikan sepatu ganti untuk sang CEO.

"Letakkan saja di dekat kursi itu." Sehun hanya berujar singkat dan menunjuk tempat untuk meletakkan sepatu gantinya tersebut.

"Baik, Sajangnim." Sekertaris Kim segera beranjak menuju ke kursi yang di tunjuk oleh sang CEO tersebut. Dan meletakkan kotak tadi di kursi sana.

"Sekertaris Kim. Apa saja yang terjadi beberapa hari yang lalu ketika aku sakit?" Sehun ingin mendengar laporan mengenai pekerjaan di perushaannya yang tidak bisa dilaksanakannya secara penuh mengingat beberapa hari lalu dia sakit.

"Sebenarnya selama anda sakit beberapa hari lalu. Banyak agenda yang sedikit tertunda. Tapi saya sudah menyelesaikan hampir seluruhnya sesuai instruksi yang anda berikan. Untuk yang lain tidak bisa saya selesaikan sendiri karena beberapa proyek memerlukan kehadiran anda secara langsung." Sang Sekertaris melaporkan kegiatan-kegiatan yang ia lakukan menggantikan sang CEO selama sang CEO nya itu sakit beberapa hari yang lalu.

"Baiklah. Lalu apa saja jadwal ku untuk hari ini?" Sehun menanyakan perihal jadwal pekerjaannya hari ini.

"Hari ini hanya ada agenda penandatanganan kerjasama antara Perusahan OH Corp dengan Wu Galaxy Corp untuk kerjasama bisnis property ke di adakan di gedung auditorium pusat kantor ini sekitar pukul 7 malam. Selebihnya hanya agenda anda seperti sehari-hari." Beberapa jadwal Sehunyang telah dibacakan oleh Sekertaris Kim.

"Baiklah kalau begitu. Kau bisa melanjutkan pekerjaan mu." Sehun menyuruh sekertarisnya kembali pada pada pekerjaannya.

.

.

.

.

.

Setelah selesai berbicara dengan Kepala Kim. Dan berakhir dengan keputusan yang membuat Luhan cukup sedih. Luhan segera berjalan menuju ke rungan sang CEO. Dari yang dia tahu, ruangan sang CEO ini berada di lantai teratas gedung ini. Sehingga Luhan langsung saja menekan tombol dengan angka 12. Tepat ke lantai teratas dan rungan sang CEO berada. Sebenarnya sedikit bingung juga menurut Luhan. Kenapa juga hanya karena permasalahan seperti ini. Sang CEO perusahaan ini harus ikut campur langsung turun tangan memecat dirinya. Bukankah hanya melalui kepala Kim selaku kepala OB nya saja itu sudah cukup. Dan tak ambil pusing lagi untuk Luhan . Karena pada akhirnya hari ini juga Luhan sudah dipastikan dipecat.

Begitu suara lift berdenting, yang menandakan lantai tujuan Luhan telah sampai. Pintu lift pun terbuka. Dengan gugup ia berjalan menuju ke seorang resepsionis di sana. Dia sepertinya harus memberikan laporan perihal kedatangannya dia ke ruangan sang CEO. Begitu sampai saja, Luhan langsung diajukan pertanyaan mengenai perihal mengapa ia ada disini. Dan beberapa pertanyaan sebelum sang resepsionis menelpon dan menanyakan 'apakah Luhan bisa masuk ke ruangan CEO perusahan ini ataukah tidak bisa'. Entah telpon itu diangakat oleh siapa. Tapi yang jelas telpon itu pastilah mengarah ke dalam ruangan Sang CEO di dalam sana. Terbukti begitu selesai resepsionis tersebut menelpon. Luhan dengan segera dipersilahkan masuk ke rungan CEO perusahaan ini.

.

.

.

.

"Kring…kring.."anggep dering telepon.

Sebelum sang sekertaris Kim sempat berbalik. Terdengar bunyi telepon di mejanya berdering. Dengan segera sekertaris Kim mengangkatnya.

"Oh, dia sudah berada sudah berada di sana? Baiklah, aku akan menyampaikannya pada Sajangnim." Sekertaris Kim diberitahu resepsionis di depan ruangan CEO nya tersebut. Jika ada seorang namja berpakaian OB yang mengatakan ingin bertemu dengan sang CEO. Karena itu juga perintah sang CEO.

"Siapa yang datang, Sekertaris Kim?" Tanya Sehun pada Sekertarisnya tersebut.

"Seorang pegawai yang tadi sempat menyiram sepatu anda tanpa sengaja, Sajangnim. Dan dia sudah berada di depan ruangan anda." Jawab Sekertaris Kim

"Kalau begitu suruh dia segera masuk." Seru Sehun dambil meneruskan pekerjaannya di layar laptop dihadapannya itu.

.

.

.

.

.

"Silahkan masuk." Seorang yeoja resepsionis di depan ruangan Sang CEO itu mempersilahkan Luhan masuk ke dalam ruangan tersebut. Yang dibalas Luhan dengan anggukan patuh saja.

Dengan langkah pelannya Luhan memasuki rungan Sang CEO perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Dan jangan lupakan ini juga hari terakhinya ia bekerja di perusahaan ini sebagai OB.

"Silahkan." Sekertaris Kim mempersilahkan Luhan untuk mendekat hingga berada di depan meja Sehun (CEO).

".." Luhan yang mengerti langsung berjalan mendekat hingga berhenti di depan tak jauh dari meja Sehun.

"Kalau begitu saya permisi dulu Sajangnim." Ijin Sekertaris Kim untuk undur diri dari hadapan CEO nya.

.

.

.

.

.

Sepeninggalnya Sekertaris Kim. Suasana begitu canggung dirasakan oleh Luhan. Karena di depan sana CEO nya sedang focus menatap layar laptop dihadapannya. Sejenak suara hening tercipta. Luhan tidak berani melihat langsung sang CEO. Sehun yang merasa telah mengabaikan seseorangn di depannya ini. Menghentikan aktifitasnya. Sedangkan Luhan hanya bisa menunduk. Takut-takut ia akan dimarahi habis-habisan. Karena sekali lagi ia di ingatkan tadi oleh beberapa pegawai OB lainnya kalau CEO nya ini terkenal dengan kedisiplinannya.

Sehun kemudian berdiri dari kursi kebesarannya. Dan berjalan menuju ke arah Luhat tepat berjarak sekitar dua meter dari mejanya.

"Jadi, nama mu adalah…" Tanya Sehun memastikan kalau dugaannya ini tidak salah.

"Xi Luhan, Sajangnim." Jawab Luhan dengan gugup.

"Apakah kau tahu, mengapa kau di panggil kemari oleh ku?" Tanya Sehun lagi.

"Tahu sajangnim. Saya dipanggil kesini karena kejadian tadi pagi. Dan saya pasti akan dipecat, di marahi, apa lagi akan disuruh ganti rugi terhadap sepatu anda yang tersiram kopi." Jawab Luhan dengan terus menunduk.

"Sebenarnya bukan itu yang ingin aku lakukan." Sanggah Sehun.

Seketika Luhan mendongak menatap langsung ke wajah CEO nya itu yang sekarang berdiri tepat sekitar satu meter dari ia berdiri. Matanya yang sudah beralih sedikit membulat karena terkejut dengan sanggahan yang diberikan Sang CEO di depannya ini. Raut bingung terlihat jelas kini memenuhi wajah Luhan. Lalu segera membuang muka menunduk lagi, takut-takut menatap sang CEO secara langsung.

"Lalu, apa yang akan anda lakukan, Sajangnim?" Luhan kembali memastikan kenapa ia harus dipanggil ke ruangan ini.

"Sebenarnya aku ingin menyapa mu, Luhan hyung." Sepenggal kalimat sapaan dilontarkan oleh Sehun. Karena hal itu kontan Luhan kembali memadang sang CEO didepannya ini dengan penuh tanda tanya.

"A-apa maksud anda Sajangnim?" Luhan kembali memastikan apa yang dia dengar ini bukan karena telinganya yang rusak.

"Apa kabar Luhan hyung? Ini aku Oh Sehun." Sehun dengan lancarnya menanyakan tentang kabarnya. Juga mengakui jika dirinya adalah Oh Sehun.

"Apa yang anda kata-…? Luhan menanyakan kembali pada Sehun namun segera di potong karena sepertinya Sehun akan menunjukkan sesuatu.

"Biar aku ingatkan kembali hyung." Sehun segera memutar tubuhnya berbalik.

"-kan." Potongan pertanyaan yang di lontarkan Luhan.

Sehun berjalan menuju meja kebesarannya untuk mengambil sebuah kacamata baca yang ia miliki. Kemudian ia memakainya dan mulai mengacak rambutnya menjadi bentuk poni yang menutupi seluruh dahinya. Hal itu tak luput dari perhatian sepasang obsidian berbentuk rusa di hadapannya itu. Kemudian Sehun menghampiri Luhan lagi.

"Apakah kau benar-benar melupakan diriku jika seperti ini?" Tanya Sehun memastikan setelah merubah penampilannya lewat kacamata juga tatanan rambut yang tadi ia gunakan.

"Oh Se-hun?" Luhan begitu serasa djavu. Obsidian rusanya melebar karena begitu terkejut dengan yang ada dihadapannya sekarang.

Kedua manik rusanya menelusuri wajah namja dihadapannya ini. Mencoba mencari celah dan menepis pendapatnya jika orang ini adalah orang yang sama saat SMA dulu. Seseorang namja yang begitu Luhan ingat karena mereka pernah dekat. Namun tiba-tiba saja mereka kehilangan kontak masing-masing.

"Ne, hyung. Apa kau masih mengingat ku?" Sehun mencoba menanyakan pada Luhan benarkah ia mengingat dirinya dengan pandangan menyelidik ke arah Luhan.

.

.

.

.

.


TBC


Note:

Gua Update cepet. Jadi apakah kalian senang? Cek this Out.

06/10/2018