Tittle : Little Sunshine
Author : Keiko Yummina
Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12
Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family
Length : Chaptered
Rated : M (Mecum)
WARNING! YAOI, M-PREG
bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!
…
Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!
Previous
.
.
.
"Apakah kau benar-benar melupakan diriku jika seperti ini?" Tanya Sehun memastikan setelah merubah penampilannya lewat kacamata juga tatanan rambut yang tadi ia gunakan.
"Oh Se-hun?" Luhan begitu serasa djavu. Obsidian rusanya melebar karena begitu terkejut dengan yang ada dihadapannya sekarang.
Kedua manik rusanya menelusuri wajah namja dihadapannya ini. Mencoba mencari celah dan menepis pendapatnya jika orang ini adalah orang yang sama saat SHS dulu. Seseorang namja yang begitu Luhan ingat karena mereka pernah dekat. Namun tiba-tiba saja mereka kehilangan kontak masing-masing.
"Ne, hyung. Apa kau masih mengingat ku?" Sehun mencoba menanyakan pada Luhan benarkah ia mengingat dirinya dengan pandangan menyelidik ke arah Luhan.
.
.
.
CHAPTER 10
.
.
.
Typo bertebaran~
"Benarkah ini dirimu? Salah satu junior ku di SHS. Sehun? Benarkah itu?" Luhan kembali menanyakan apakah orang yang ada di hadapannya ini benar-benar orang yang pernah ia kenal.
"Ne, hyung. Ini aku.. Sehun." Sehun membalas dengan mantap bahwa dia adalah orang yang sama seperti yang telah Luhan tebak.
Sehun memberikan senyuman tertampannya di hadapan sosok namja yang memang telah lama mencuri hatinya. Sedangkan namja dihadapannya kini memandang dengan mata berkaca-kaca, perasaan lega dan desiran halus memenuhi relung hatinya. Entah perasaan macam apa ini. Tapi Luhan merasakan perasaan yang membucah karena bertemu dengan salah seorang teman lama. Diisamping itu selain Luhan kembali bertemu dengan salah seorang yang ia kenal semasa SHS. Luhan begitu terkejut bahwa namja tampan dan berwibawa yang sedang berdiri dihadapannya ini adalah seorang CEO di tempat ia bekerja. Sungguh menurut Luhan dunia itu begitu sempit karena bisa bertemu lagi dengan seseorang yang dikenalnya, sedangkan harapan untuk dapat bertemu dengan teman lama hanyalah angan semata baginya.
Luhan mulai melangkah pelan ke arah namja di hadapannya ini. Pria dewasa yang begitu tampan juga gagah ini dulunya adalah seorang juniornya semasa SHS yang memiliki penampilan cupu layaknya kutu buku, karena Sehun memiliki kacamata bulat yang tidak menarik. Juga tatanan rambut yang begitu melengkapi untuk dikatakan seorang nerd. Bahkan tak jarang ia akan di bully oleh beberapa siswa berandalan di sekolahnya. Yang membuat jiwa penology seorang Xi Luhan tergoyahkan untuk menolong dan membantunya.
Begitu Luhan sampai dihadapan Sehun. Entah mengapa reflek tangan kanannya terangkat menuju ke pipi kiri Sehun. Sedangkan Sehun hanya malah bertambah senang ketika namja dihadapannya ini malah menyentuh pipi kirinya. Sadar atau tidak Luhan menyentuh pipi itu cukup lama. Dengan kedua mata rusanya menatap lekat wajah namja yang ada dihadapannya ini.
Ia meneliti tiap inchi wajah adik tingkatnya itu dengan seksama. Dimulai dari alis tebal dan hitam membuatnya terlihat garang, mungkin. Jatuh kepada sepasang mata tajam yang kini juga menatapnya begitu lekat dan tersembunyi dibalik kacamata yang sedang dipakainya. Kaca tembus padang itu bahkan tidak mengurangi tatapan tajamnya. Kedua mata rusa itu kembali bergulir ke arah hidung macung yang memang asli dimilikinya tanpa ada operasi atau apapun yang membuat hidung itu jatuh tegak dengan indahnya. Kembali lagi sepasang mata itu begulir turun tepat pada bibir merah, tipis nan runcing itu. Terlihat jelas bibir itu masih menyunggingkan senyum mempesonanya. Hingga mata rusa itu menangkap pemandangan dagu runcing dengan rahang tegas yang menampilkan sisi unik dari ketampanannya.
Selang beberapa waktu mereka masih dalam fikiran masing-masing. Begitu sadar, Luhan secara reflek melepaskan sentuhan tangannya pada pipi Sehun. Dan segera menunduk meminta maaf karena entah mengapa Luhan merasa tindakannya adalah kurang sopan meskipun mereka saling kenal. Sedangkan Sehun hanya tertawa melihat ekspresi Luhan karena tiba-tiba ia melepaskan setuhan telapak tangannya dan merunduk meminta maaf.
"Ah, mian. Em.. Sehu..n.. Sajang-nim." Luhan seketika melepaskan sentuhannya pada pipi Sehun ketika sadar tindakannya itu tidak sopan.
"Tenanglah, Luhan hyung. Disini juga hanya kita berdua. Dan aku tidak akan marah seperti tadi pagi." Sehun meyakinkan jika apa yang dilakukan Luhan terhadapnya tidak akan mendapatkan kemarah seperti yang terjadi tadi pagi.
"Em.. Tapi em.. Sajangnim, ini masih di jam dan lingkup kantor." Luhan kemudian menunduk takut-takut ia melakuan hal yang lancang kembali. Karena bagaimanapun seseorang yang berada di hadapannya kini tetaplah CEO tempat ia bekerja.
Beberapa saat suasan menjadi canggung. Sehun mencoba memecahkan keheningan dengan menayakan kabar Luhan.
"em, ya aku mengerti, Hyung, bagaimana kabar mu? Dan mengapa Hyung bisa sampai disini?" Sehun bertanya dengan penuh penasaran.
Sehun sangat mengingat jaman dulu ketika ia masih berada di SHS. Hyung ada dihadapannya ini bukanlah orang yang bodoh. Bahkan Luhan yang ia kenal adalah siswa yang sering mendapat juara pararel di sekolahnya. Lalu bagaimana Luhan yang sekarang berada dihadapannya ini menggunakan seragam OB perusahaanya. Itulah yang dipertanyakannya Sehun dalam fikirannya.
"Em, banyak hal terjadi setelah aku lulus SHS Sehun-ah." Jawab Luhan sambil menunduk. Akhirnya Luhan memanggil CEO dihadapannya ini tanpa canggung.
"Aku siap mendengarkan, Hyung." Entah mengapa Sehun ingin sekali mengetahui semuanya tetang Luhan. Dan bagaimana ia bisa berada disini. Bekerja sebagai OB di perusahaanya.
.
.
.
.
.
Ketukan pintu mengitrupsi obrolan mereka berdua. Seketika mereka berhenti dengan topic yang sangat ingin Sehun ketahui terkait Luhan. Sebuah dorongan pintu terbuka menampakkan Sekertaris Kim yng masuk ke ruang sang CEO. Dan ketukan sepatu beradu dengan lantai ruangan itu menghampiri Sehun.
"Mohon maaf Sajangnim. Dua jam lagi akan ada rapat penting dengan investor dari Jepang." Sekertaris Kim mengingatkan kembali jadwal CEO nya tersebut.
"Ah benar juga. Apa kau telah menyiapkan berkas untuk rapat nanti?" Sehun kembali bertanya pada Sekertaris Kim perihal beberapa berkas yang akan digunakan dalamrapat dengan investor nanti.
"Sudah Sajangnim." Jawab mantap oleh Sekertaris Kim.
Sehun kemudian melirik jam yang melingkar apik di tanan kirinya. Ia masih memiliki waktu kulang lebih satu jam untuk pergi sarapan pagi sepeti apa yang dilakukannya setiap hari. Pria mungil berseragam OB di depan mereka sedikit terabaikan. Ia hanya tetap berdiri menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ah, kalau begitu aku akan ke keluar sebentar untuk sarapan dan minum kopi pagi ku terlebih dahulu. Aku akan berada di ruang rapat lima belas menit sebelum rapat dimulai. Dan sekertaris kim, sepertinya aku tidak bisa menyambut investor tersebut. Tolong untuk sementara kau yang menyambut investor itu. Jangan lupa siapkan mobilku." Sambil melirik jam tangan di pegelangan tangan nya. Sehun mengintruksikan pada sang Sekertaris untuk lebih dulu menyambut investor itu. Karena dia akan menikmati sarapan paginya seperti biasanya. Dan tanpa bantahan Sekertarisnya melakukan permintaannya.
"Baik Sajangnim." Sekertarsnya menyetujui perintah sangn CEO.
Sehun yang merasa mengabaikan Luhan. Segera mengalihkan pendangannya kea rah Luhan. Dipandangnya dari sebrang, Luhan masih menunduk diam. Sehun sedikit menyunggingkan senyumnya. Paras hyung yang telah mencuri hatinya ini masih sama cantiknya dengan beberapa tahun lalu ketika terakhir ia bertemu dengnanya.
"Luhan." Sehun tiba-tiba memanggil Luhan. Sekertaris Kim hanya dia mengamati apa yang dilakukan CEO nya itu.
"Ah, ne Sajangnim." Luhan menyahuti dengan sedikit gugup.
"Kau ikut aku." Sehun menggenggam telapak tangan kiri Luhan dan membawanya berlalu begitu saja berjalan dihadapan sang Sekertaris keluar dari ruangnnya.
Sang sekertaris hanya menatap kepergian sang CEO dengan penuh tanya.
.
.
.
.
.
Mereka berdua keluar dari ruangan tadi. Bahkan sang resepsionis ruangan Sehun ikut terkejut dengan keluarnya sang CEO sambil menggandeng seorang pria cantik berseragam OB.
Sampai di lorong menuju lift pribadi Sehun. Sehun sedikit memelankan ritme jalan mereka bedua.
"Apa yang kau lakukan, Sajangnim. Kenapa menarik ku seperti ini?" Luhan bertanya karena dengan terkejut karena tarikan paksa dari Sehun sedari tadi. Bahkan tautan tangan itu tidak terlepas ingga sekarang.
"Kau harus ikut aku sarapan pagi hari ini." Seru Sehun tanpa melihat Luhan. Fokusnya masih tetap kedepan menuju ke lift pribadinya yang sebentar lagi mereka berdua capai.
Luhan mengurungkan niatnya untuk protes lebih lanjut. Karena genggaman tangan Sehun begitu erat. Disela langkah kaki yang beriringan itu. Luhan dapat melihat raut wajah seseorang di hadapannya ini dari samping. Sungguh ketampanan yang membuatnya lupa bahwa orang yang ada di depannya ini adalah orang yang sama yang beberapa tahun lalu ia kenal baik dan telah menganggap layaknya adiknya sendiri.
Mereka berdua telah memasuki lift yang memang dikhususkan untuk CEO yang tak lain adalah Sehun sendiri. Sehun segera menggiring Luhan untuk ikut memasuki lift tersebut. Dengan lancer dan sangat hafal Sehun menekan tombol yang mengarah ke lantai 1. Luhan hanya mampu terdiam mengikuti alur yang Sehun buat. Bahkan Sehun tidak sekalipun mengeluarkan sepatah kata lagi. Lengan yang kuat. Bahkan telapak tangan itu terlihat masih memegang erat tangan mungil Luhan. Hingga bunyi "Ting" tanda lift telah membawa mereka berdua ke lantai satu.
Keduanya keluar dari lift begitu pintu lift terbuka. Jarum jam yang telah menunjukkan jam aktif kerja pagi ini. Dengan suasana kantor yang mulai ramai dengan pegawai yang melakukan ceklock. Terlihat beberapa pegawai sudah mulai berada pada bagian masing-masing.
Sehun masih saja menggandeng Luhan hingga melewati kerumunan pegawai yang memandang heran dan penuh tanya. Banyak pasang mata berikir "Kenapa sepagi ini CEO perusahaannya itu berjalan dengan gagah menggandeng seorang OB."
Tapi hal itu tak diabaikan sama sekali oleh Sehun. Ia terus berjalan hingga sampai ke pintu utama kantor. Ia keluar dari sana dan langsung disambut dengan mobil pribadinya yang telah bersiap untuk digunakan. Begitu sampai dihadapan mobil itu. Disanalah Sehun harus rela melepaskan genggaman tangan pada tang si mungil. Sebelum menaiki mobil itu. Tak lupa ia membukakan pintu mobil dan menyuruh Luhan masuk kedalam dan menyamankan duduk nya. Jangan lupakan, Sehun juga memasangkan sabuk pengaman untuk kursi Luhan. Tak lama Sehun menutup pintu dan berputar ke arah pintu sebelah atau kursi kemudi. Dan mereka pergi dari area kantor.
.
.
.
.
.
Tak sampai lima menit Sehun sampain di sebuah bangungan kafe sederhana di ujung jalan. Sehun mengajak Luhan ke Kafe yang biasah dia kunjungi. Sehun turun dari mobil dan segera mengajak Luhan untuk masuk kedalam. Setelah menyuruh seorang pelayan restoran memarkirkan mobinya dan sepertinya sudah tau kebiasaannya. Tak Lupa Sehun menggandeng telapak tangan Luhan kembali.
Sehun menggiring Luhan menuju meja yang biasah ia gunakan ketika makan disini. Sehun memperlakukan Luhan dengan begitu manis sedari tadi. Bahkan ia juga membatu Luhan untuk menepatkan kusinya. Seorang pelayang datang menghampiri dengan membawa menu dan catatan kecil ditangannya.
"Ini buku menunya. Silahkan dilihat." Pelayan menyerahkan buku menu itu pada Luhan dan Sehun.
Terlihat Luhan sedikit canggung dengan keadaan ini. Terlihat dari raut wajahnya yang sedikit bingun. Sehun yang melirik sekilas, diam-diam memperhatikan Luhan kembali tersenyum. Bagaimana tidak tersenyum usai menampilkan wajah gugupnya. Ia kini menampilkan wajah bingungnya. Tak lupa sepertinya kebiasaan Luhan yang mempoutkan bibirnya itu masih juga dilakukan ketika bingung. Sedangkan pelayan yang tadi masih menunggu dengan seksama tuan-tuan dihadapan mereka ini memberikan menu pesanan mereka. Beberapa menit berselang, sepertinya Sehun tau Luhan masih bingun memilih. Akhirnya Sehun berinisiatif menyuruh pelayan itu pergi sembari menunggu Luhan memilih menu sarapannya.
"Kami masih ingin melihat-lihat menunya. Saya akan memanggil anda kembali setelah menentukan menu sarapan nya." Seru Sehun pada pelayan tersebut.
"Oh, tentu tuan. Silahkan memilih terlebih dahulu." Pelayan tersebut akhirnya permisi dan beranjak melayani pealanggan yang lain.
"Jadi, apa menu apa yang akan kau pilih Luhan Hyung?" Sehun kembali bertanya pada Luhan.
"Eh.. Sehun-ah. Sebenarnya aku bingung dengan menu-menu yang ada disini. Karena semua tertulis dengan bahasa Asing yang tak ku mengerti. Dan lagi aku juga tak nyaman dari tadi Sehun-ah." Luhan mengungkapakan kebingungannya tentang menu-menu yang tertulis dengna bahsa asing.
"Hyung, kau manis sekali saat bingung seperti itu. Baiklah, kalau begitu biar aku yang pesankan menu sarapannya." Sehun akhirnya mengalah dan memesankan menu sarapan meraka.
Setelah pelayan datang menghampiri dan bertanya menu yang akan mereka pesan. Sehun menyebutkan beberapa menu saran dengan nama yang menurut Luhan begitu asing ditelinganya. Pelayan itu mencatata dan kemudian berlalu pergi menyiapkan pesanan mereka. Jika kalian tau, restoran ini adalah restoran Prancis. Jadi tentu saja Luhan tidak mengerti tentang menu-menu yang tertulis di dalam buku menu itu. Meskipun tampak sederhana, tapi restoran ini cukup ramai. Dan aku ingatkan sekali lagi, Luhan itu fasih bahasa Inggris dan China.
.
.
.
.
.
"Luhan hyung, ngomong-ngomong apa ang membuat mu tidak nyaman?" Sehun hampir lupa dengan perkataan Luhan yang berkata tidak nyaman.
"Em, itu Sehun." Sedikit ragu megatakannya.
"Katakan saja Hyung. Tidak apa-apa." Seru sehun dengan pelan.
"Sebenarnya aku merasa tidak nyaman sedari tadi. Semenjak kau terus menggandeng tangan ku keluar dari ruangan mu. Apalagi begitu turun dari lift juga orang-orang terus memandangi ku." Jawab Luhan sambil menunduk tidak berani menatap Sehun.
"Ah tentang ini. Maaf kalau sedari tadi aku terus menggandeng tangan mu. Tapi untuk orang-orang disana. Aku harap kau mengabaikan mereka, Hyung." Permohoan maaf karena sedari tadi Sehun terus menggandeng Luhan. Dan saran untuk mengabaikan mereka yang tadi sempat memandangi Luhan.
"Dan lagi.." Luhan sedikit melirik Sehun tapi tak berapa lama kembali menundukkan kepalanya.
"Dan kenapa lagi Hyung?" Tanya Sehun penasaran tetang apa lagi yang membuat Luhan tak nyaman.
"Em, itu.. Aku malu dilihat orang-orang disini sedari tadi. Kau menggunakan setelan formal seperti itu. Dan makan dengan aku yang hanya menggunakan pakaian OB." Seru Luhan menyuarakan rasa tidak nyamananya sedari tadi diberikan tatapan olah orang sekitar mereka.
"Hyung. Jangan merasa kecil hanya karena pakaian yang saat ini kau kenakan. Apalagi duduk makan bersama ku. Kau layak untuk makan bersamaku. Karena aku tidak memandang tentang satus orang hanya karena pakaian atau barang yang orang lain kenakan. Aku mengajakmu kesini juga karena aku memang ingin makan bersama mu. Apalagi kita sudah lama sekali tidak bertemu dan makan bersama seperti ini. Dulu bahkan kau sering mentraktir ku makan mie di minimart bersama." Sehun berusa membesarkan hati Luhan. Kerena ia bukanlah oran yang akan memandang status sosial orang lain dengan penampilan atau barang yang mereka kenakan. Dan lagi Sehun begitu senang bertemu dengan Luhan.
"Permisi Tuan-tuan. Pesanan anda sudah siap." Seru pelayan yang menyajikan menu sarapan mereka.
Sedikit lega mendengar penuturan Sehun tadi. Tanpa sadar Luhan mengelus perutnya yang masih tebilang rata. Entah perasaannya begitu lega karena hal itu. Perasaannya yang tidak nyaman berangsur-angsur berkurang. Seperti mendapat penenang hatinya Sehun dapat menghilangkan perasaan tidak nyaman atau bisa dibilang kekhawatiran Luhan terhadapa pemikirannya yang sempit itu.
Pembicaraan Sehun dan Luhan sejenak berhenti saat makanan yang mereka pesan telah siap disajikan. Pelayan menata dengan rapi di atas meja mereka.
"Jika ada lagi yang anda inginkan. Anda bisa memanggil kami. Kami permisi. Dan selamat menikmati." Seru pelayan tersebut hanya mendapat anggukan dari Sehun. Pelayan itu pun pergi.
.
.
.
.
.
Susana sarapan pagi ini berjalan menyenangkan. Sehun dan Luhan mencoba mengenang masa-masa dimana mereka bisa menjadi akrab layaknya saudara kandung. Mereka masing mengenang masa-masa indah yang pernah mereka lakukan bersama. Tidak lama memang mereka berbincang-bincang. Namun karena pertemuan mereka kembali ini membuat salah satu dari dua orang tersebut ingin kembali meraih cintanya. Orang itu adalah Sehun. Yang sangat ingin memenangkan hati namja mungil dihadapannya ini yang penuh dengan pesona. Sehun bertekat untuk mendapatkan Luhan dengan caranya dan tak ingin kehilangan namja cantik itu lagi.
Acara sarapan itu berjalan dengan lancarnya tanpa direncanakan. Luhan makan begitu lahap, entah kondisinya saat ini begitu baik. Bahkan hari ini morningsick nya tidak tampak sama sekali. Luhan berfikir karena hari ini ia bisa makan enak, dan membuat kehidupan di dalam perutnya ini ikut senang.
Tadi sewaktu sarapan, Sehun juga sempat mengelap sudut bibirnya yang belepotan. Entah kenapa dadanya berdegup kencang atas perlakuan Sehun. Sedangkan Sehun melakukannya tanpa canggung sama sekali. Tak ayal membuat Luhan tersenyum malu dibuatnya. Sehun yang mengerti jika Luhan malu atas perlakuannya masih pura-pura diam. Meskipun dalam hati ia terseyum menang.
Mereka kembali ke kantor usai menghabiskan sarapan pagi mereka. Sehun mengatakan kepada Luhan untuk kembali bekerja pada posisinya awal. Dan luhan bertambah senang karena itu berate ia tidak jadi dipecat. Sedangkan Sehun kembali keruangnya dan merapikan diri bersiap-siap menuju ruang rapat pagi ini.
.
.
.
.
.
Beberapa minggu terakhir ini Suho dan Yixing begitu sibuk di rumah sakit. Sampai-sampai mereka luput mengawasi kegiatan Luhan. Mereka memang mengijikan Luhan untuk keluar, dengan syarat jika Luhan tidak akan kabur. Dan Luhan pun juga berjanji tidak akan kabur. Tapi hari ini Xiying pulang lebih awal dari jam biasanya. Pada hari biasa ia akan pulang disaat jam sudah menunjukkan pukul 19.00 KST. Tapi hari ini ia pulang lebih awal di jam 16.00 KST. Dia bisa pulang lebih awal karena kemarin ia sempat tak pulang kerumah. Maka dari itu hari ini dia pulang lebih awal. Tak lupa sebelum pulang Yixing berbelanja bahan makan malam.
Yixing sampai di rumah, dengan segera melepaskan mantel dan menarunya di gantungan dekat pintu. Juga sepatu yang ia pakai ke dalam rak sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah.
"Aku pulang." Teriaknya.
Yixing bingung, kenapa tidak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah. Dimanakah Luhan hyung nya itu. Yixing segera mengecek kondisi rumah yang sepi. Dengan segera saja ia membawa langkahnya menuju ke kamar Luhan. Dan disana tampak rapi. Masih dengan memanggil-manggil nama Luhan. Ia mencari ke sekeliling rumah, hingga ke halaman belakang. Tapi tak mampu menemukan batang hidung pria mungil itu. Yixing segera kembali ke kamar Luhan. Dia berprasangka kalau Luhn telah kabur dari rumah. Dengan segera Yixing membuka lemari baju Luhan. Dan ia sedikit merasa lega, karena baju-baju Luhan masih tersusun rapi seperti sebelumnya. Akhirnya Yixing berinisiatif membersihkan diri setelah menaruh barang-barang belanjaannya di dapur.
"Mungkin Luhan hyung sedang berjalan-jalan diluar. Atau membeli sesuatu." Yixing mencoba membesarkan hatinya agar tak begitu khawatir terhadang namja mungil yang sedang hamil itu.
.
.
.
.
.
TBC
Note:
Lama sekali rasanya Kei melanjutkan cerita ini. Maafkan Kei ya? Satu setegah semester kemarin Kei harus menyelesaikan Studi S1 setelah sebelumnya Kei menyelesaikan D3. Dan Alhamdulillah Kei berhasil. Dan sekarang Kei adalah seorang penganguran. Kekeke. Yaps… Kei belum mendapat pekerjaan. Jadi jika Kei menghilang lagi. Mohon maaf ya. Sebenernya pas ultah ayah (OohSehun) kemarin Kei ingin sekali meng-update semua ff Kei. Tapi sayangnya Realife itu berat. Cukup Kei aja ya. Dan untuk cuap2 yang bisah lewat di Wattpat yang Kei tulis. Harap maklum ya. Kei sebenernya punya banyak masalah. Terutama kondisi psikologi Kei sepertinya sedikit terganggu. Kei tidak gila ya chingu. Tapi Kei gak bisa berbuat banyak. Doa kan aja Kei bisa segera ditangani oleh orang-orang yang ahli di bidang psikologi. Doa akan juga Kei cepet dapet kerja. Juga lanjut terus ff Kei yang terbengkalai. Kei Langsung Update aja ff ini begitu selesai. Mohon maaf kalau typo. Semoga Kei segera memperbaikinya. Kekekeke. Annyeong.
HBD Anak Ayam. Maaf Telat.
17/04/2019
