Tittle : Little Sunshine
Author : Keiko Yummina
Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12
Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family
Length : Chaptered
Rated : M (Mecum)
WARNING! YAOI, M-PREG
bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!
…
Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!
…
Previous
.
.
.
Beberapa minggu terakhir ini Suho dan Yixing begitu sibuk di rumah sakit. Sampai-sampai mereka luput mengawasi kegiatan Luhan. Mereka memang mengijikan Luhan untuk keluar, dengan syarat jika Luhan tidak akan kabur. Dan Luhan pun juga berjanji tidak akan kabur. Tapi hari ini Yixing pulang lebih awal dari jam biasanya. Pada hari biasa ia akan pulang disaat jam sudah menunjukkan pukul 19.00 KST. Tapi hari ini ia pulang lebih awal di jam 16.00 KST. Dia bisa pulang lebih awal karena kemarin ia sempat tak pulang kerumah. Maka dari itu hari ini dia pulang lebih awal. Tak lupa sebelum pulang Yixing berbelanja bahan makan malam.
Yixing sampai di rumah, dengan segera melepaskan mantel dan menarunya di gantungan dekat pintu. Juga sepatu yang ia pakai ke dalam rak sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah.
"Aku pulang." Teriaknya.
Yixing bingung, kenapa tidak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah. Dimanakah Luhan hyung nya itu. Yixing segera mengecek kondisi rumah yang sepi. Dengan segera saja ia membawa langkahnya menuju ke kamar Luhan. Dan disana tampak rapi. Masih dengan memanggil-manggil nama Luhan. Ia mencari ke sekeliling rumah, hingga ke halaman belakang. Tapi tak mampu menemukan batang hidung pria mungil itu. Yixing segera kembali ke kamar Luhan. Dia berprasangka kalau Luhn telah kabur dari rumah. Dengan segera Yixing membuka lemari baju Luhan. Dan ia sedikit merasa lega, karena baju-baju Luhan masih tersusun rapi seperti sebelumnya. Akhirnya Yixing berinisiatif membersihkan diri setelah menaruh barang-barang belanjaannya di dapur.
"Mungkin Luhan hyung sedang berjalan-jalan diluar. Atau membeli sesuatu." Yixing mencoba membesarkan hatinya agar tak begitu khawatir terhadang namja mungil yang sedang hamil itu.
.
.
.
CHAPTER 11
.
.
.
Typo bertebaran~
Luhan hari ini bekerja dengan sangat giat. Entah mengapa ia merasa senang sekali ketika bertemu dengan junior nya dulu. Ia berusaha lebih berhati-hati saat bekerja. Ingatkan Luhan jika dia sedang mengandung seorang janin dibalik perutnya yang masih rata. Beruntunglah tidak terjadi apa-apa terhadap kandungannya, karena tadi pagi Luhan lebih dulu memeluk perutnya saat terpeleset. Dan beruntung juga posisi Luhan jatuh kesamping. Tangan kanannya juga masih sempat menopang berat badannya. Sehingga janin-janin didalam perutnya tidak terluka.
Ngomong-ngomong karena kejadian tadi pagi. Beberapa orang banyak yang menggosipkan dirinya sepertinya. Luhan tidak mendengar langsung sebenarnya. Tapi ia mendengar beberapa karyawan atau bahkan OB yang bekerja bersama dirinya ikut menggunjing nama dirinya. Dan dari gerak gerik yang ditunjukkan oleh mereka terhadap Luhan seperti sangat tidak suka. Bahkan tatapan ketidaksukaan mereka terhadap Luhan dengan terang-terangan mereka layangkan dengan tajam. Luhan hanya menghela nafas mencoba mengabaikan apa yang mereka tampilkan dan lakukan terhadap dirinya. Luhan benar-benar tak ingin ambil pusing dengan mereka.
Siang itu ketika Luhan sedang berada di dapur, yah tempatnya bekerja karena Luhan OB bagian pembuatan minuman untuk kariyawan di perusahaan ini. Baekhyun datang dari Luar membawa nampan yang telah kosong di tangannya. Ia adalah teman baru Luhan disini. Bahkan mungkin akan menjadi sahabatnya. Melihat dari kedekatan mereka berdua layaknya adik dan kakak, taka ayal orang yang melihatpun melihat mereka layaknya saudara.
Ia menghampiri Luhan yang terlihat sedang termenung di depan meja counter mesin pembuat kopi. Baekhyun segera saja menghampirinya, dan berdiri disampingnya.
"Hyung. Luhan hyung." Panggillan baekhyun tidak sekali mendapt respon dari Luhan.
Beberapa kali ia memanggil nama luhan. Tapi Luhan tek kunjung menyudahi lamunannya. Akhirnya ia menepuk pundak sang hyung di sebelahnyanya ini.
"Hyung.." Sambil menepuk pundak Luhan tak terlalu keras.
"Astaga.." Respon Luhan yang begitu terkejut merasa ada seseorang menepuk pundaknya.
"Hyung mian." Baekhyun hanya bisa menampilkan wajah masamnya sambil menahan tawa melihat ekspresi Luhan yang sekarang begitu lucu. Sepasang mata rusa itu sedikit membola dengan bibir tipis yang membentu huruf O.
"Kau mengagetkan ku, Baekhyun-na. Huf." Dia segera menetralkan degupan jantungnya karena terkejut.
"Salah hyung sendiri sedari tadi hyung kupanggil-panggil masih tetap melamun terus. Dan sebenarnya apa sih hyung yang kau lamaunkan hingga kau tak mendengar sama sekali panggilanku?" Tanya Baekhyun penasaran kenapa hyung dihadapannya ini melamum sampai-sampai tak mendengar panggilanya.
"Ah, itu.. em aku.. aku bertemu teman lama." Jawab Luhan malu-malu terlihat dari semburat warna merah di pipi gembilnya.
"Ah, kau bertemu dengan teman lama, atau bertemu seseorang yang.." Baekhyun sedikit menggoda dengan menggantungkan pertanyaannya, dan sebelum Baekhyun menyelesaikan kalimatnya Luhan sudah terlebih dahulu memotong kalimat Baekhyun.
"Aku tidak berbohong kok, dia hanya teman lama. Salah seorang junior ku dulu di SHS." Jelas Luhan dengan cepat, sebelum Baekhyun berfikir kemana-mana.
"Ow, jadi begitu. Hanya seorang junior semasa SHS." Baekhyun mencoba mengalah untuk tidak lagi menggoda Hyung dihadapannya ini. Meskipun terlihat jelas dari raut wajah hyung dihadapannya ini menyembunyikan sesuatu. Tapi Baekhyun mencoba mengalah untuk tidak memaksa Luhan untuk bercerita lebih lanjut. Toh mereka masih belum sedekat itu untuk saling berbagi rahasia.
"Hehehe, iya Baekhyuna." Tawa Luhan sangat garing.
"Oh iya Hyung. Aku tadi melihat Sekertaris Kim berada di dpan ruangan ini. Dia meminta ku untuk memanggil mu agar datang menemuinya. Katanya ini penting." Baekhyun memberitahukan bahwa sekertaris Kim memanggilnya, dan menunggunya di depan ruangan ini. Luhan sedikit terkejut, karena mengapa orang sepenting sekertaris Kim jauh-jauh menemuinya ke area ini. Luhan baru ingat, dia memiliki tugas untuk segera mengantarkan minum-minuman yang baru saja ia buat ke ruangan karyawan dilantai dua.
"Em, Baekhyunna. Bisakah kau membantuku mengantar ini ke lantai dua?" Luhan meminta bantuan Baekhyun mengantar ini ke ruangan karyawan dilantai dua.
"Em, bagaimana ya..?" Baekhyun kembali menggoda Luhan dengan menampilkan wajah berfikirnya akan permintaan tolong Luhan.
"Kumohon, ne, ne..?" Luhan menunjukkan deer eyes nya.
"Em.." Baekhyun masih menggoda Luhan.
"Aku akan membelikan mu sektak susu strawberry untuk mu. Otte?" Luhan menawarkan sebuah hadiah susu kesukaan puppy yang satu ini.
"Ah, baiklah aku akan membantu mu." Dasar puppy satu ini. Wajah Luhan langsung sumringah.
"Gumawo Baekhyunna." Seru Luhan senang karena Baekhyun mau membantunya. Ya meskipun dia harus memberi imbalan padanya nanti.
"Kalau begitu kau tinggal mengantarkannya saja. Aku selesai membuatkan minumannya." Seru Luhan menunjukk jajajran minuman yang siap diantarkan ke setiap karyawan disana.
"Eh Hyung, sebelum pergi, aku ingin menanyakan sesuatu?" Tanya Baekhyun yang menampilkan wajah penasarannya.
"Kau ingin menanyakan apa Baekhyuna?" Seru Luhan sambil melepas sebuah clemek yang sempat tadi ia gunakan saat membuat kopi.
"Ah, itu. Aku mendengar orang-orang menggosipkan tentang dirimu yang tadi pagi pergi bersama sangjangnim. Bahkan kata mereka sajangnim juga menggandeng tangan mu?" Tanya Baekhyun sedikit khawatir sebenarnya untuk menanyakan hal tersebut. Tapi mengingat Luhan ini suadah ia anggap layaknya hyung nya. Ia tidak ingin mendengar gossip buruk tentang hyung dihadapannya ini.
"Ah itu.. em…" Sedikit gugup Luhan akan menjawab pertanyaan baekhyun. Tapi belum sempat terlontar jawaban lebih lanjut. Berbincangan itu telah mendapat intrupsi dari seseorang yang memasuki ruangan itu.
"Luhan, Kau sudah ditunggu Sekertaris Kim di depan ruangan ini." Salah seorang pegawai yang bekerja seperti dirinya bernama Ken datang dan mengintrupsi perbincangan mereka berdua.
"Em, kalau begitu aku ke depan dulu ya." Entah karena kebetulan atau bissa disebut keberuntungan karena Luhan juga bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Baekhyun.
"Hyung, Kau masih memiliki hutang penjelasan padaku." Seru Baekhyun, saat Luhan seperti mendapatkan celah untuk menghindari pertanyaan Luhan.
.
.
.
.
.
Luhan menghampiri sekertaris Kim yang berada di depan ruang dapur itu. Dengan pelan ia berjalan ke arah sekertaris Kim. Dengan penuh tanya dalam otak kecilnya mengenai "Untuk apa sekertaris Kim repot-repot datang menemui dirinya di dapur ini?" itu adalah pertanyaan dalam otak kecilnya.
"Em, permisi Sekertaris Kim. Ada apa anda mencari saya?" Tanya Luhan penasaran tak tahan ingin mengetahui kenapa sekertaris Kim menemuinya.
"Luhan-si. Saya diminta Oh Sajangnim untuk menjemput anda untuk menemuinya diruangannya." Seru penuh sopan sang Sekekrtaris Kim terhadap Luhan.
"Baik, Sekertaris Kim." Luhan mengangguk sebagai persetujuan atas perintah san Sanjangnim.
"Kalau begitu, mari saya antar anda menemui Oh Sajang ke ruangnya." Dengan itu Luhan mengikuti langkah sang Sekertaris menaiki lift itu lagi. Lift pribadi Sang pemilik perusahaan ini.
.
.
.
.
.
"Ting" Suara lift menandakan telah sampai di lantai yang di tuju.
Luhan masih mengekori sekertaris Kim dibelakangnya hingga sampai kembali di depan ruang ini. Ruangan yang belum ada dua puluh empat jam ia datang kembali. Suasana masih sama. Tapi degupan jantungnya ini berbeda. Jika sebelumnya degupan jangtung itu berdetak kencang tak kala ia menunggu keputusan dirinya dipecat atau tidak. Tapi degupan jantung ini jauh lebih kencang untuk orang yang berada di balik ruang ini. Seseorang yang entah sejak menit keberapa atau detik keberapa dengan seketika membuat dirinya memiliki detak jantung sekeras ini. Luhan bahkan tidak mengerti dengan sistim kerja jantungnya hari ini. Dan tidak tau menahu mengenai perasaan macam apa yang kini ia rasakan.
.
.
.
.
.
"Pip..pip..pip.." Suara sambungan telepon di mejanya yang tehubung dengan resepsionis di depan ruangan sana.
Suara itu mengitrupsi kegiatan sang CEO yang sedang berada di depan leptopnya. Ia lalu mengangkat panggilan itu, dan memerintahkan sang resepsionis untuk memberi ijin mereka masuk.
"Suruh mereka masuk." Dengan ketegasan dalam intonasi suaranya Sehun memerintahkansang resepsionis agar mereka masuk ke dalam ruangannya.
.
.
.
.
.
"Permisi sajangnim. Saya sudah membawa tuan Luhan kemari." Seru sang Sekertaris pada CEO nya.
"Ah, terimakasih sekertaris Kim." Sehun menghentikan sejenak apa yang ia kerjakan dan melepaskan kacamata yang bertenger apik di pangkal hidungnya ke atas meja.
"Ne, sajangnim." Jawab sekertaris Kim dengan hormat dan sopan.
"Ah, Luhan. Aku memanggil mu kesini lagi untuk memberi tahu mu mengenai pekerjaan yang akan kau lakukan, seperti yang aku katakana pagi tadi." Seru Sehun menerangkan maksud dan tujuan ia memanggil Luhan kemabali ke ruanganya.
"Ne, sajangnim. Apakah berarti saya diberhentikan dari pekerjaan saya sebagai OB dibagian minuman karyawan, sajangnim?" Tanya Luhan dengan pelan menyembunyikan perasaan gugupnya.
"Iya, kau diberhentikan dari pekerjaan mu menjadi OB dibagian minuman untuk karyawan disana, namun kau masih bekerja di perusahaan ini." Sederet kalimat yang Sehun ucapakan sedikit membuatnya bingung. Pasalanya jika ia memang diberhentikan dari pekerjaan bisanya. Lalu perkerjaan apakah gerangan yang akan ia kerjaakan.
"Sajangnim. Jika saya diberhentikan dari pekerjaan OB dibagian minuman untuk karyawan. Lalu saya akan bekerja di bagian mana, Oh sajangnim?" Tanya Luhan begitu penasan ia akan diperkerjakan di mana setelah ini.
"Aku akan memindahkan mu sebagai sekertaris pribadi ku. Kau akan bekerja dan memiliki ruangan tepat di ruangan ini. Aku sudah menyiapkan meja untuk mu di sana." Seru Sehun dengan tegas. Bahkan Sehun telah menyiapkan meja khusus untuk dirinya di dalam ruangan ini.
Luhan begitu terkejut mendengar pemindahan pekerjaannya dan menjadi seorang sekertaris pribadi sang CEO. Ia bahkan tidak sekalipun membayangkan orang seperti dirinya dapat menempati posisi tersebut. Sehun benar-benar gila. Matanya sedikit membola setelah mendengar hal itu terucap begitu saja dari mulut sang CEO. Seketika ia membuang muka tepat berhadapan dengan wajah tampan sang CEO sekaligus junior nya ini.
"Mohon maaf sajangnim. Bukan kah ini berlebihan untuk menetapkan saya pada pekerjaan dengan tanggung jawab yang sangat besar. Bahkan saya tidak pernah memimpikan hal tersebut dalam hidup saya. Anda bahkan tahu saya hanyalah seorang namja tamatan SHS saja. Bagaimana saya bisa diberikan posisi sepenting itu. Jadi saya mohon sajangnim untuk memikirkan kembali mengenai hal ini." Luhan memohon dan memberikan hormat dengan sangat sopan pada sang CEO untuk mempertimbangkan kembali mengenai jabatan yang akan diberikan padanya.
"Luhan hyung. Aku memintamu menjadi sekertaris pribadi ku. Karena aku ingin kau membantu pekerjaan ku selama aku di kantor, ah tidak, maksudku saat diruangan ini. Semua pekerjaan masih akan tetap dikerjakan oleh sekertaris Kim. Hyung juga bisa belajar nanti dari sekertaris Kim. Untuk sementara mungkin aku akan meminta hyung mengerjakan beberapa hal yang ada di ruangan ini. Untuk selebihnya nanti sekertaris Kim yang akan menunjukkannya." Jelas Sehun dengan penuh kelembutan saat berbicara dengan Luhan.
"Tapi, Sehun.. Ups.. maksudku sajangnim, aku benar-benar tidak cocok untuk posisi ini." Hampir saja Luhan keceplosan memanggil nama Sehun seenaknya tanpa embel-embel sajangnim di belakang nama Sehun. Dengan reflesk juga ia menutup mulutnya.
Sehun yang masih memperhatikan Luhan sedikit tersenyum melihat tingkah gugup namja cantik dihadapannya ini. Sedangkan Luhan benar-benar tidak sanggup menyembunyikan rasa gugupnya ini. Jantungnya kembali berdegup dengan kencang.
"Luhan hyung. Aku tidak menerima penolakan." Jawab Sehun tegas.
"Huh.. Baiklah sajangnim." Luhan bernafas dalam saat akan menjawab dan menyetujui keinginan sang CEO. Dia tidak lagi bisa membantah.
"Kalau begitu sekertaris Kim. Tunjukkan Luhan ke ruang ganti untuk segera mengganti bajunya dengan stelan jas yang telah aku pilih. Dan beritahu dia bagian mana yang harus ia kerjakan hari ini." Perintah Sehun mutlak. Maka sang Sekertaris Kim yang juga sebenarnya sahabatnya itu segera melaksanakan perintah sang CEO.
.
.
.
.
.
Mungkin aku belum menjelaskan jika di awal jika sebenarnya Sekertaris Kim ini merupakan sahabat sang CEO atau biasa dianggil Sehun ini. Tapi meskipun begitu, Ia selalu menghormati Sehun selayaknya BOS dan anak buah. Ia selalu menghormati setiap keputusan sang CEO, bahkan ia tidak pernah mempertanyakan mengenai perubahan dari segi sikap selama seharian ini. Sehun yang ia kenal begitu dingin, ia tertutup untuk banyak hal. Entah bagaimana dulu semasa kuliah di amerika ia bisa menjadi sahabat manusia dingin ini. Tapi untuk hari ini saja, ia melihat banyak perubahan pada diri sang sahabat ini.
Sekertaris Kim atau yang dikenal dengan nama Kim Myungsoo ini sudah sedari dulu tau jika sahabatnya ini memiliki sebuah rahasia tentang perasaannya. Dan yang ia tau selama hampir sepuluh tahun mengenal sang sahabat ini. Tidak sekalipun ia menjalin hubungan maupun membuka hati untuk orang-orang yang berusaha mendekati dan mencari perhatian pada dirinya. Ia melihat, Sehun seakan akan menyimpan rapat-rapat perasaannya.
Hingga yang ia tau sahabatnya ini menjadi begitu dingin dalam kehidupannya. Dan yang ia lakukan setiap harinya hanya bekerja dan bekerja. Hingga pperusahaan miliknya ini telah membuka cabang di berbagai negara. Bahkan menurutnya nya, sahabatnya ini bisa saja duduk santai tanpa mengerjakan apapun. Dia tetap akan menghasilkan jutaan dolar.
Dan apa yang terjadi pagi ini membuat seorang Kim Myungsoo memikirkan hal yang berbeda untuk sahabat juga CEO nya tersebut. Semua perubaha sikap yang ia tunjukkan hari ini karena satu orang namja cantik yang detik ini juga berdiri dihapan sang CEO. Namja cantik, manis, dengan kedua mata rusa yang memikat. Dari itu ia mengerti jika pusaran hidup sang sahabat berada tepat dihadapannya saat ini.
.
.
.
.
.
Sekertaris Kim mengantarkan Luhan ke ruang ganti yang berada di ruangan Sang CEO. Ia sempat memberikan stelan jas baru seukuran dengan namja dihadapannya ini. Sebelum masuk keruang ganti dan mengganti baju kerjanya.
.
.
.
.
.
Luhan keluar dari ruang ganti itu dengan stelan jas berwana coklat susu yang membuat Luhan tampak manis dengan stelan jas yang ia kenakan. Sekertaris Kim menghampiri Luhan dan menyerahkan tanda pengenal baru dengan tali biru untuk Luhan. Tanpa sepatah kata pun Luhan kemudian mengikuti sekertaris Kim kembali ke ruangan sang CEO. Ia begitu gugup untuk memulai siang ini menjadi seorang sekertaris pribadi sang CEO. Dia bahkan masih beberapa minggu bekerja disini. Tapi sudah mendapat jabatan sepenting ini.
.
.
.
.
.
Sehun melihat sekertaris Kim telah kembali memasuki ruangannya bersama seseorang yang masih setia berdiri di belakangnya. Ia memperhatikan dengan seksama.
"Oh Sajangnim. Saya telah selesai mengantar tuan Luhan mengganti stelan bajunya." Usai mengabarkan jika ia telah selesai menjalankan perintah sang CEO. Sekertaris Kim kemudian bergeser untuk memberi ruang Luhan berhadapan langsung dengan sang CEO.
Dihadapan Sehun kini berdiri seorang yang bertambah manis dengan menggunakan stelan jas dengan tutle nex warna senada. Sepasang mata elang itu menelisik dengan teliti namja cantik dihadapannya kini. Sedikit senyum tersungging di bibir tipisnya menandakan dia puas dengan pakaian pilihannya. Dia mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Disana jarum jam telah menunjukkan jam makan siang untuk seluruh pekerja. Tak terkecuali jam istirahat dan makan siang untuk dirinya. Ia kembali mengintrupsi sang sekertaris.
"Kalau begitu terimakasih sekertaris Kim. Bagaimana dengan jadwal siang ini?" Tanya Sehun mengenai jadwalnya kepada sang sekertaris.
"Siang ini tidak ada pertemuan yang harus anda hadiri Sajangnim. Hanya ada beberapa berkas yang harus anda lihat dan anda tanda tangani." Jawab Sekertaris Kim usai memeriksa jadwal sang CEO di dalam tablet yang ia bawa.
"Kalau begitu aku akan pergi keluar dan kembali sore nanti untuk melihat berkas tersebut. Tolong kau siapkan mobil pribadiku sekarang." Sehun meminta sang sekertaris menyiapkan mobil pribadinya.
"Baik, sajangnim." Sekertaris Kim segera keluar untuk mempersiapkan keperluan sang CEO.
"Luhan, kau ikut aku." Seru Sehun pada Luhan.
"Em, baik sajangnim." Luhan mengikuti Sehun keluar dari ruangan itu.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Note:
Kei lagi berusaha mengetik hal yang manis-manis untuk beberapa chapter berikutnya. Apa mungkin alurnya terlalu cepat menurut kalian? Sebenarnya ini sedikit melenceng dari alur yang Kei buat diawal. Tapi kei ingin melihat hal yang manis-manis dalam cerita. Cape kalo Luhan dibikin sedih terus. Dan jika kalian menemukan typo. Mohon maafken. Kei paling malas cek ulang begitu selesai mengetiknya. Mian ne?... Happy 520 HunHan.
20/05/2019
