Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length : Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!

Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

.

Sehun melihat sekertaris Kim telah kembali memasuki ruangannya bersama seseorang yang masih setia berdiri di belakangnya. Ia memperhatikan dengan seksama.

"Oh Sajangnim. Saya telah selesai mengantar tuan Luhan mengganti stelan bajunya." Usai mengabarkan jika ia telah selesai menjalankan perintah sang CEO. Sekertaris Kim kemudian bergeser untuk memberi ruang Luhan berhadapan langsung dengan sang CEO.

Dihadapan Sehun kini berdiri seorang yang bertambah manis dengan menggunakan stelan jas dengan tutle nex warna senada. Sepasang mata elang itu menelisik dengan teliti namja cantik dihadapannya kini. Sedikit senyum tersungging di bibir tipisnya menandakan dia puas dengan pakaian pilihannya. Dia mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Disana jarum jam telah menunjukkan jam makan siang untuk seluruh pekerja. Tak terkecuali jam istirahat dan makan siang untuk dirinya. Ia kembali mengintrupsi sang sekertaris.

"Kalau begitu terimakasih sekertaris Kim. Bagaimana dengan jadwal siang ini?" Tanya Sehun mengenai jadwalnya kepada sang sekertaris.

"Siang ini tidak ada pertemuan yang harus anda hadiri Sajangnim. Hanya ada beberapa berkas yang harus anda lihat dan anda tanda tangani." Jawab Sekertaris Kim usai memeriksa jadwal sang CEO di dalam tablet yang ia bawa.

"Kalau begitu aku akan pergi keluar dan kembali sore nanti untuk melihat berkas tersebut. Tolong kau siapkan mobil pribadiku sekarang." Sehun meminta sang sekertaris menyiapkan mobil pribadinya.

"Baik, sajangnim." Sekertaris Kim segera keluar untuk mempersiapkan keperluan sang CEO.

"Luhan, kau ikut aku." Seru Sehun pada Luhan.

"Em, baik sajangnim." Luhan mengikuti Sehun keluar dari ruangan itu.

.

.

.


CHAPTER 12


.

.

.


Typo bertebaran~


Luhan kembali menaiki mobil pribadi Sehun. Luhan terlihat kesusahan membenarkan sabuk pengaman untuk dirinya. Sehun yang melihat itu dengan telaten memasangkan sabuk pengaman untuk Luhan. Jantung nya berdebar tak karuan saat jarak yang ditimbulkan saat Sehun memasang sabuk tersebut. Usai membantu Luhan memasangkan sabuk pengamannya. Ia kemudian membenarkan posisi duduknya kembali dan memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri. Kedua tangannya sudah memegang kemudia. Diliriknya Luhan yang sepertinya begitu diam sedari tadi.

"Hyung, wajah mu begitu cemas." Seru Sehun kepada Luhan.

"ow, benarkah?" Luhan yang sedikit salah tingkah kini berusaha menetralkan detak jantungnya yang menggila. Menormalkan hembusan nafasnya. Sambil tersenyum canggung ke arah Sehun.

"Aku tidak akan menculik mu hyung. Aku hanya ingin mengajak mu makan siang dan pergi ke suatu tempat." Sehun mencoba menggoda Luhan dan membuatnya sedikit relax, mungkin.

"Ne sajangnim." Luhan teringat jika sedekat-dekatnya ia dengan Sehun. Ia masihlah bawahan dan Sehun adalah atasan yang wajib dihormati.

"Hyung, panggil aku seperti biasah saja, ne? Saat aku hanya bersama mu." Sehun memohon untuk tak seformal itu jika hanya dengannya.

"Ne, aku mengerti Sehunna." Luhan menjawab dengan memberikan senyum termanisnya untuk namja tampan dihadapannya ini.

"Baiklah, kalau begitu ayo berangkat." Sehun segera menghidupkan mesin mobilnya. Dan bersiap menjalankan mobil ini membelah jalanan Kota Seoul yang padat di jam istirahat.

.

.

.

.

.

Sehun membawa Luhan menikmati makan siang nya di salah satu restoran Italy dengan berbagai hidangan yang menggugah selera. Dari makanan pembuka hingga penutup yang tak henti membuat Luhan meneteskan liurnya karena makanan dihadapannya ini, selain cantik dalam segi penataanya, juga nikmat di lidahnya.

Hidangan Stek dengan daging berkualitas menjadi hidangan utama di resotan ini. Kedua mata rusa itu berbinar melihat hidangan steak dihadapannya. Padahal Luhan itu bukan penggemar hidangan steak. Tapi entah kenapa hari ini hidangan steak begitu menggugah selera namja hamil ini. Seorang koki datang menghidangkan makanan tersebut dengan menyajikan teman makanan ini dengan sebuah anggur putih buatan Italy tahun 1960 an.

Luhan ingat jika ia tidak boleh minum-minuman beralkohol. Mengingat bayi dalam kandungan nya membutuhkan asupan makanan dan minuman yang bergizi juga memiliki nilai vitamin untuk asupan mereka. Luhan berseru pelan kepada Sehun.

"Em, Sehunnah. Em, bisakah aku minum air putih atau sejenis jus jeruk saja tanpa sebuah alcohol tentunya?" Seru Luhan pelan takut-takut membuat Sehun marah karena menolak minuman semahal itu.

"Baiklah." Sehun tersenyum menanggapi permintaan Luhan. Ia memerintahkan seorang pelayan untuk memberikan minuman tanpa alcohol untuk Luhan.

"Silahkan tuan. Ini minuman pesanan anda. Sebuah jus jeruk tanpa tambahan alcohol untuk anda." Pelayan memberikan minuman tersebut kepada Luhan dengan sopan dan ramah.

Luhan kembali menikmati makan siang nya. Ia mulai memotong-motong daging itu dengan perlahan. Sehun yang diam-diam memperhatikan Luhan. Dengan perlahan Sehun menghentikan acara memotong daging itu dan menggeser piring miiknya yang berisikan daging yang telah ia potong kecil-kecil siap dimakan. Sedikit rona kemerahan di pipi Luhan karena perlakuan Sehun yang begitu manis. Menukar piring dengan potongan siap dimakan milikinya untuk Luhan. Sehun memperhatikan Luhan yang lagi-lagi makan dengan begitu lahapnya.

Sekitar hampir tiga puluh menit mereka berdua menyelesaikan makan siangnya. Sebelum beranjak Sehun memanggil seorang pelayan untuk melakukan pembayaran untuk makan siang mereka. Tak berlangsung lama mereka pun meneruskan perjalanan. Lelbih tepatnya sih Sehun yang berniat mengajak Luhan pergi ke suatu tempat.

Sehun melajukan mobilnya menuju ke sebuah planetarium di tengah kota. Sehun menggandeng Luhan usai membeli dua buah tiket masuk untuk mereka. Dan disinilah semua dimulai. Sebuah perkenalan hingga terjalin pertemanan antara Sehun dan Luhan di waktu SHS. Luhan ikut mengenang bagaimana mereka berdua bertemu. Sebuah kenakalan di waktu remaja yang terjadi kurang lebih hampir sepuluh tahun yang lalu. Mereka membolos hanya untuk datang ke planetarium yang saat itu memang baru saja diresmikan dan di buka untuk umum. Mereka yang kebetulan bertemu, dan baru menyadari jika mereka berada di sekolah yang sama. Ketika Luhan membantu Sehun yang saat itu sedang dibully oleh beberapa siswa di SHS. Mungkin akan Kei ceritakan kisah semasa SHS mereka berdua lain kali untuk kalian.

Suasana planetarium yang sedikit lenggang, kerena memang hari ini masihlah hari aktif kerja. Sehingga tak banyak orang berlalu lalang mengunjungi tempat ini. Siang itu bisa kita katakan kencan untuk mereka berdua, setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Hari itu keduanya begitu senang. Apalagi untuk Sehun yang terobati perasaan rindu yang sekian lama ia pendam hanya untuk Luhan. Hyung pemilik hatinya. Sedangkan Luhan begitu gembira bisa mengenang masa-masa dulu bersama junior SHS nya ini. Mungkin sebenarnya ia memiliki rasa yang membucah lebih dari mengenang masa lalu. Entah kenapa perasaannya begitu menghangat tiba-tiba ketika ia berdekatan dengan Sehun. Bahkan calon bayi-banyi nya tidak sama sekala merepotkan dirinya untuk hari ini. Mungkin karena bayi Luhan tahu jika mereka berada sangat dekat bahkan berinteraksi langsung dengan sang Appa.

.

.

.

.

.

"Sebenarnya dimana rusa cantik itu. Kenapa sampai jam segini ia belum pulang juga." Yixing yang merasa khawatir karena Luhan tidak pulang-pulang. Mengingat ini sudah sore, bahkan ia telah menunggu selama satu jam tanpa ada batang hidung si namja rusa itu terlihat di hadapannya.

Yixing berjalan mondar-mandir di ruang tamu usai menyiapkan makan malam untuk mereka. Hatinya sungguh tak tenang mengingat hyung cantiknya itu bahkan tak memiliki ponsel untuk bisa dihubungi dan ditanyai keberadaanya. Karena hal itu membuat Yixing kian frustasi. Suho satu jam lagi akan sampai dirumah. Tapi hyung cantiknya ini belum kunjung terlihat dirumah. Bisa-bisa Suho marah padanya, atau paling kejam adalah membuat Luhan terkurung dirumah. Yixing pasti ikut sedih, karena ia tahu Luhan begitu tampak murung ketika ia hanya berada di rumah tanpa teman. Karena kalian tahu Yixing dan Suho masihlah harus bekerja di salah satu rumah sakit ternama.

.

.

.

.

.

Sehun kembali ke perusahaan bersama Luhan tepat pukul 16.00 KST. Mereka kembali berjalan ke arah ruangan Sehun. Luhan masih setia mengikuti sang CEO berjalan dibelakangnya. Sehun tetap berjalan penuh wibawa meskipun beberapa staf karyawan yang sepertinya bersiap pulang. Tak berapa lama keduanya memasuki lift yang membawa keduannya menuju ke lantai dimana ruangan Sehun berada. Sehun memasuki ruang tersebut disambut oleh Sekertaris Kim. Luhan masih mengikuti Sehun hingga masuk kedalam ruangan itu.

"Luhan, besok sekertaris Kim akan menerangkan lebih lanjut mengenai tugas mu sebagai sekertaris pribadi ku." Kata Sehun mengingatkan.

"Ne, Sanjangnim." Jawab Luhan dengan siap dan sopan.

"Em, Sajangnim. Aku membawa berkas yang harus anda lihat dan anda tanda tangani. Mohon di cek kembali." Sekertaris Kim mengitrupsi perihal berkas yang tadi siang dibicarakan.

"Kalau begitu bawa kesini." Kata Sehun memerintahkan untuk membawa berkas itu kemejanya.

Sekertaris Kim segera menyerahkan berkas itu ke meja sang CEO dan segera undur diri untuk melakukan tuganya kembali ke ruangannya. Sedangkan Luhan sudah terduduk di kursi barunya di pojok ruangan itu. Ia sedikit bingung dengan apa yang harus ia kerjakan. Beberapa menit Sehun memilah-milah berkas yang akan ia tanda tangani. Pandangannya begitu serius disaat bekerja. Hal itu tak Luput menjadi perhatian Luhan. Karena entah mengapa Luhan selalu ingin memperhatikan segala hal yang dilakukan snag CEO tersebut. Luhan hanya bisa duduk diam karena masih tidak memiliki hal yang bisa ia kerjakan. Sehun merasakan keheningan di ruangan itu. Dia memecahkan keheningan di dalam ruangan itu dengan berdehem dan memulai pembicaraan.

"Ehem.. Hyung, Kau boleh pulang sekarang. Ini sudah jam pulang untuk seluruh karyawan di perusahaan ini." Seru Sehun sambil tetap berfokus kearah beberapa berkas yang sebentar lagi selesai ia tanda tangani.

"Em, maaf sajangnim. Tapi anda juga belum meninggalkan ruangan anda. Maka dari itu sebagai karyawan anda saya menunggu anda hingga anda selesai dan pulang." Jawab Luhan mengeluarkan opini nya.

"Tinggal ini, dan Selesai." Ucap Sehun sambil menandatangani berkas terakhir di sore ini.

"…" Luhan masih setia mengamati Sehun.

"Kalau begitu kau mau pulang bersama ku?" Tanya Sehun yang mulai membereskan beberapa berkasnya ke dalam tas kerja miliknya. Meraih mantel yang tersampir apik di gantungan mantel di pojok ruangan itu. Dan berjalan menghampiri Luhan. Luhan juga bersiap membereskan mejanya meskipun sebenarnya mejanya masihlah rapi hanya sebuah bolpin yang tadi sempat ia gunakan.

"Tidak perlu, sajangnim. Saya bisa pulang dengan menggunakan bis seperti biasanya. Lagi pula sahabat saya pasti juga sudah menunggu saya seperti biasanya untuk pulang bersama." Tolak Luhan secara halus saat Sehun menawarkan untuk mengantarnya pulang.

"Em, baiklah kalau begitu. Udara diluar sana pasti turun hingga beberapa minus sebelumnya. Mengingat bulan ini mendekati musim dingin. Aku tidak ingin kau kedinginan diluar sana saat kau menunggu bus yang lewat. Jadi Luhan hyung harus menggunakan ini agar tidak merasa kedinginan." Sehun menerima penolakan Luhan untuk mengantarnya. Ia memakaikan mantel miliknya yang terlihat menenggelamkan tubuh mungil itu di dalam matel miliknya. Sehun hanya tidak ingin Luhan kedinginan diluar sana saat ia harus menunggu bis yang datang. Mengingat musim dingin sebentar lagi akan datang.

Luhan dengan canggung pasrah saat Sehun memasangkan mantel hangat miliknya ke tubuh Luhan. Mantel itu membuatnya terlihat begitu kecil, karena ia tenggelam didalam mantel tersebut.

"Oh, satu lagi hyung. Aku tidak bermaksud untuk merendahkan mu, hyung. Tapi gunakan ini agar aku mudah untuk menghubungi mu. Mungkin jika Luhan hyung merasa tidak nyaman. Hyung boleh menyimpannya dan tidak menggunakannya lagi jika hyung sudah mendapatkan yang baru dengan hasil kerja keras hyung. Tapi dariku, ini sebagai hadian yang aku berikan padamu hyung. Mengingat dulu kau sering sekali memberikan hadiah pada ku. Aku sudah memasukkan normor ponsel ku di dalam sana." Sehun merogoh saku jas yang ia kenakan, dan memberikan sebuah ponsel gengam yang terlihat baru. Yaps, memang itu masih baru. Terlihat dari sreen guard layar dengan logo ponsel itu yang masih belum terlepas dari layar depannya. Tak lupa ia menyerahkan dosbook dalam paper back itu. Luhan yang mengerti akan maksud Sehun yang tak ingin menyinggung perasaannya karena barang tersebut pun meneriman pemberiannya.

"Terimakasih Sehunnah. Terimakasih untuk hari ini. Kalau begitu aku pulang dulu. Kau hati-hati saat berkendara." Luhan pamit pulang pada Sehun.

"Hati-hati Luhan Hyung." Sehun mengantarkan Luhan hanya sampai di depan pintu ruanganya.

Mereka pun berpisah untuk beberapa jam kedepan sebelum memulai harinya kembali esok pagi.

.

.

.

.

.

Luhan menghampiri loker miliknya yang berada di ruangan kerja sebelumnya. Ia membuka loker itu dan memasukkan barang-barang didalam loker ke sebuah tas yang ia bawa. Tak banyak baragn sebenarnya, mungkin hanya ada baju ganti dan beberapa barang kecil lainnya. Usai membereskan loker miliknya, Luhan melirik jam dinding yang bertenger apik dinding diatas sana. Sedikit terkejut karena ini benar-benar sudah sore. Bisa gawat ketika Yixing tidak mendapati nya berada dirumah.

Jam menunjukkan pukul 16.30 KST. Dengan segera ia berjalan menuju ke area pejalan kaki menuju ke halte di dekat tempat kantornya. Hanya menghabiskan dua menit saja untuk berjalan menuju alte bis disana. Sedikit harap-harap cemas jika sahabat barunya sudah pasti pulang lebih dahulu darinya. Namun dari jarak beberapa meter dari halte, Luhan bisa menangkap punggung sang sahabat yang sama mungilnya dengan dirinya. Luhan segera menghampiri Baekhyun yang sedang berdiri disana.

"Baekhyuna. Syukurlah, kau belum pulang." Sapa Luhan begitu lega karena Baekhyun ternyata masih belum pulang.

"Ow, Luhan hyung. Kukira kau sudah pulang?" Sahut Baekhyun sedikit terkejut melihat Luhan juga baru pulang.

"Aku harus mampir membersihkan barang ku di loker." Jawab Luhan seadanya.

"Em, hyung. Kau masih berhutang penjelasan padaku?" Baekhyun mengingatkan.

"Ah tentang itu.." Sedikit menunduk. Luhan sebenarnya bingung harus memulai ceritanya dari mana.

"Hyung, kenapa kau jadi pendiam? Em.. tunggu. Aku rasa ada yang berbeda dari penampilan mu." Baekhyun menelisik penampilan Luhan dengan sesakma. Ia bahkan memutar tubuh Luhan untuk melihat penampilannya kini yang syarat akan orang-orangan sawah sebenarnya. Karena Luhan masih mengenakan mantl yang menenggelamkan dirinya menjadi bertambah mungil.

"…" Luhan hanya terdiam sedikit malu dengan penampilannya.

"Hyung, ngomong-ngomong semenjak kapan kau menjadi bertambah mungil di dalam mantel ini? Dan ini sepertinya bukan style mu?" Baekhyun kembali menyelidik kea rah Luhan.

"Em itu, ceritanya panjang. Mungkin besok aku akan menceritakan padamu Bakhyunnah." Jawab Luhan sedikit malu dan berjanji untuk menceritakan lebih lanjut besok siang.

"Kenapa harus besok sih hyung?" Bujuk Baekhyun dengan manja.

"Karena bis nya sudah sampai. Dan aku begitu lelah dengan hari ini. Untuk spoiler saja jika aku kini tidak bekerja sebagai OB lagi." Luhan memberi sedikit bocoran tentang apa yang akan ia ceritakan besok pada Baekhyun.

"Lalu kau masih bekerja kan hyung?" Tanya Baekhyun yang bertambah penasaran.

.

.

.

.

.

Dari kejauhan terlihat sbuah mobil hitam yang terlihat mahal sedang parker di seberang jalan dekat halte tersebut. Terlihat seorang pria yang dengan lekat memperhatikan sang namja cantik disana terngah mengobrol dengan salah seorang karyawan juga mungkin di perusahaannya. Kedua mata elangnya memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda cantik disana. Hingga kedua pemuda yang sama-sama memiliki postur yang mungil itu menaik bis yang membawa mereka pulang. Setelah itu, kaca jendela itu ditutupnya, dan mobil segera melaju meninggal area tersebut.

"Kau bisa menjalankan mobilnya sekarang Pak Han." Ia menyuruh sang sopir menjalankan mobilnya.

"Baik tuan." Jawab hormat pada sang tuan.


.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.


Note:

Sebenarnya Kei tidak ingin memutus cerita ini di chapter ini. Sayangnya keyword untuk tiap chapternya sudah mencapai batas maksimal dari yang telah Kei tentukan. Jadi di lanjut ke Chapter depan ne.

Dan maaf untuk Kei yang sedikit mengingkari janji jika akan mengUp chapter ini di awal minggu. Ke benar-benar kehilangan mood bersamaan realife yang membuat Kei sibuk di awal minggu. Kei mengUp chap baru ini karena sudah berjanji pada kalian. Keii tidak mengedite atau membaca ulang chap ini. Semoga chap ini tidak mengecewakan.


Finish Chapter 12 21/05/2019

Realize 31/05/2019