Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length : Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!

Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

Dari kejauhan terlihat sbuah mobil hitam yang terlihat mahal sedang parker di seberang jalan dekat halte tersebut. Terlihat seorang pria yang dengan lekat memperhatikan sang namja cantik disana terngah mengobrol dengan salah seorang karyawan juga mungkin di perusahaannya. Kedua mata elangnya memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda cantik disana. Hingga kedua pemuda yang sama-sama memiliki postur yang mungil itu menaik bis yang membawa mereka pulang. Setelah itu, kaca jendela itu ditutupnya, dan mobil segera melaju meninggal area tersebut.

"Kau bisa menjalankan mobilnya sekarang Pak Han." Ia menyuruh sang sopir menjalankan mobilnya.

"Baik tuan." Jawab hormat pada sang tuan.


CHAPTER 13


Typo bertebaran~

Luhan dan Baekhyun duduk di salah satu bangku yang kebetulan kosong. Suasana bis hari ini juga tidak begitu penuh. Malah terkesan lenggang. Mungkin karena jam pulang kerja mereka yang sedikit terllambat dari jam biasanya. Makanya bis ini cukup lenggang dengan penumpang.

"Jadi Hyung sekarang bekerja di bagian apa?" Baekhyun mengulangi pertanyaan yang sempat ia tanyakan tadi sebelum menaik bis.

"Aku sekarang di pindahkan ke bagian lain. Aku diangkat menjadi sekertaris pribadi dari CEO perusahaan ini." Jawab Luhan pelan.

"APA..." Baekhyun begitu terkejut mendengar penuturan Luhan.

"Syut. Pelankan suara mu." Seru Luhan memperingati.

"Apa kau tidak bercanda hyung?" Tanya Baekhyun lagi memastikan pendengarannya tidak salah.

"Aku tidak bercanda. Hal ini pun benar-benar diluar ekspektasi ku. Sungguh. Tapi aku akan menceritakan padamu lebih jelasnya besok, ne? aku sedikit lelah hari ini." Jawab Luhan berusaha menghentikan kehebohan baekhyun mengenai pernyataan kerjanya tadi. Mungkin juga maksudnya menunda bercerita sekarang karena Luhan merasa begitu lelah.

"Uh hyung. Padahal aku sangat ingin mendengar ceritamu. Tapi baiklah kalau begitu. Aku akan menagih cerita mu besok. Kau sudah berjanji padaku." Seru Baekhyun akhirnya mengalah untuk tidak bertambah kepo.

Tak sampai lima belas menit memang jarak antara daerah tempat tinggal Luhan dengan kantor. Sedangkan Baekhyun masih harus menempuh sekitar lima menit lagi untuk sampai ke rumahnya dari pemberhentian Luhan.

"Kalau begitu aku duluan ya Baekhyunah." Sapa Luhan untuk Baekhyun ketika hendak turun dari bus.

"Ne, hyung. Sampai jumpa besok. Dan hati-hati." Baekhyun menimpali.

"Kau juga Baekhyunah."

Luhan berjalan ke arah rumah yang saat ini ia tinggali bersama dengan bisa dikatakan mereka adalah keluara baru baginya. Tak begitu jauh dari halte pemberhentiannya sekitar seratus meter dari halte ini ke rumah nya. Luhan berjalan pelan ke arah jalan pulang. Sebenarnya ia sedikit khawatir pulang jam segini. Sudah hampir jam 17.00 KST Ini pertama kalinya ia pulang jam segini. Padahal pada hari-hari sebelumnya Luhan akan pulang lebih awal sekita jam 16.00 KST. Apalagi nanti ketika ia harus bekerja dengan posisinya yang baru. Dan belum lagi dirumah ia masih harus berhadapan dengan Yixing dan Suho. Luhan akhirnya memilih menghela nafas beratnya, dan berjalan pelan menuju rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya.

"Aku pulang." Luhan membuka pintu dan berjalan pelan menaruh sepatu kedalam rak nya.

"Hyung, kau darimana saja?" Dengan terburu-buru Yixing menghampiri Luhan ke arah depan.

"Ah itu.. sebenarnya aku.. aku.." Luhan bingung harus menceritakan tentang hal ini atau tidak. Tapi dihadapnnya kini Yixing seakan menunggu dirinya bak satpam komplek yang berhadapan dengan pencuri. Membuat Luhan sedikit takut.

"Katakan saja Luhan hyung. Aku tidak akan marah. Aku begitu khawatir Karena begitu aku pulang kau tidak ada dan rumah begitu sepi. Sebenarnya kau dari mana saja." Raut muka khawatir Yingxin juga sedikit marah dalam tiap katanya membuat Luhan semakin takut untuk menjawab dan mengatakan apa yang ia kerjakan tadi.

"Aku.. aku pergi bekerja." Seru Luhan dengan cepat. Bahkan kedua mata rusa itu ikut tertutup juga kepalanya yang menunduk. Tidak berani bertatapan langsung dengan Yixing.

"Astaga hyung. Kau bekerja?" Sedikit naik stu oktaf dari nada biasanya. Kapalanya memanas mendengar jawaban hyung tercintanya ini.

"Apalagi ini? Luhan hyung bekerja? Astaga apa yang sebenranya ia fikirkan?" batin Yixing

" Em Yixing-ah. Aku.. aku lapar sekali. Baby juga lapar. Bisakah setelah makan baru aku akan menjelaskannya?" Dengan takut-takut Luhan memohon agar menunda introgasi dari Yixing. Bahkan sepasang mata rusa itu juga sudah berkaca-kaca dan menunjukkan raut melasnya.

"Hem.. baiklah. Sebaiknnya kau masuk dan segera berganti pakaian. Aku menunggu mu di ruang makan. Dan aku akan menagih jawaban mu selesai makan nanti." Sedikit helaan nafas berat dikeluarkan begitu saja olah Yixing. Meskipun sedikit marah, tapi sebenarnya Yixing khawatir terhadapa Luhan.

Yixing mempersilahkan Luhan setelah ia menaruh sepatu dan mantelnya di dekat pintu masuk. Kemudian Luhan melewati Yixing dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan ia segera berjalan menuju ruang makan dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Jangan tanya dimana Suho aka Kim Junmyeon berada. Karena ia sedang sibuk di rumah sakit dengan pasien oprasinya. Tak sampai menunggu sepuluh menit Luhan telah sampai di ruang makan. Ia mendudukan dirinya di kursi tepat disudut meja seperti biasanya ia duduk. Sedangkan Yixing masih sibuk menyiapkan makanan mereka.

"Makan yang banyak Hyung!" Perkataan Yixing bagaikan perintah bagi Luhan.

Entah karena ia benar-benar lapar atau ia hanya ingin menyenangkan hati Yixing. Luhan makan dengan lahapnya bak seorang yang tidak makan berhari-hari. Kedua pipinya bahkan sampai menggembung sanking banyaknya makanan yang ia masukkan kedalam mulutnya. Pipinya yang mulai gembil ikut bertambah besar karena ia makan dengan cara seperti itu. Yixing yang sedang makan dihadapannya ini hanya bisa menahan tawa saja. Takut-takut jika ia kelepasan tertawa, Luhan malah akan berhenti makan. Karena Luhan akhir-akhir ini begitu sensitive, mungkin karena hormone kehamilannya.

"Ikni benakhr-bhkenar Lezzzzat." Dengan mulut penuhnya Luhan menanggapi Yixing. Hahaha dasar rusa kelaparan.

Acara makan itu hanya berjalan sekitar tigapuluh menit. Kemudian Luhan membatu Yixing untuk membersihkan piring-piring yang telah mereka gunakan. Karena pekerjaan yang dilakukan bersama-sama akan terasa lebih ringan. Yixing mencuci peralatan makan yang kotor itu. Luhan menaruh peralatan makan yang bersih itu ke rak yang telah disediakan disana.

Lima menit kemudian Yixing dan Luhan kembali duduk berhadapan dimeja makan mereka. Luhan harus bersiap bercerita pada namja yang sudah ia anggap layaknya adik baginya ini. Yixingpun menunggu Luhan untuk menjawab pertanyaan nya tadi. Dengan helaan besar dari mulut sang rusa betina itu. Mereka memulai percakapan ini.

"Jadi, sebenarnya aku tadi baru pulang bekerja." Luhan masih menunduk tidak mau bersitatap dengan Yixing.

"Dimana kau berkeja, dan pekerjaan apa yang hyung lakukan?" Tanya Yixing penuh selidik.

"Awalnnya aku bekerja sebagai OB di bagian pembuat minuman untuk para karyawan." Luhan mengucapakan dengan lantunan pelan.

"Apa? Hyung bekerja menjadi OB?" Seru Yixing sedikit terkejut dengan pekerjaan Luhan.

"Em.. ne. Aku berkerja sebagai OB selama hampir sebulan ini. Tapi aku baru dipromsikan sebagai sekertaris." Luhan hanya bisa menunduk, takut Yixing akan semakin memarahinya.

"Astaga Hyung. Kau sudah berkerja hampir sebulan ini? Bagaimana aku maupun Suho Hyung tidak tahu menahu akan hal ini.." Yixing tak habis fikir, bagaiamana ia tidak mengetahui apapun tentang Luhan yang bekerja kini.

"Itu.. itu karena kalian berdua selama hampir satu bulan ini begitu sibuk di rumah sakit." Jawab Luhan pelan.

"Dan apa lagi itu? Kau bekerja menjadi Sekertaris. Astaga hyung, aku tidak ingin kau kelelahan. Apalagi sekarang di tubuh mu ada dua janin yang sedang tumbuh. Aku tidak ingin terjadi apa-apa baik pada dirimu maupun pada kedua janin dalam kandungan mu." Dengan wajah frustasi nya Yixing mengatakan kekhawatirannya terhadapa Luhan dan kedua janin dalam perutnya. Sedikit keras memang lantunan nada yang Yixing berikan. Itu sudah mampu membuat Luhan mulai menangis. Terdengar Luhan begitu menahan suara isakan kecilnya.

"Hiks.. aku.. aku bisa menjaga mereka dengan baik kok Yixing-ah. Aku bekerja hanya karena aku tidak ingin merepotkan kalian. Hikz." Jawab Luhan sambil terisak.

"Astaga Hyung, bukan maksudku. Ah begini, aku sangat khawatir mendengar mu bekerja. Hyung tidak merepotkan kami sama sekali. Jangan pernah berfikir bahwa kami kerepotan karena adanya hyung. Sungguh, aku sudah menganggap hyung layaknya kakak bagi ku. Jadi jangan merasa kami adalah orang asing, hyung." Yixing segera bergeser duduk disebelah Luhan. Segera memeluk dan menenangkannya.

"Hikz.. hikz.." Luhan mencoba mengatur nafasnya disela-sela tangisannya.

"Sudah hyung. Aku tidak marah padamu. Sungguh." Ucap Yixing sambil mengusap punggung Luhan.

"Sebenarnya aku bekerja juga ingin menabung untuk anak-anak ku ketika suah lahir. Jadi aku berusaha bekerja dengan baik. Bahkan aku juga selalu meminum susu dan vitamin yang kau berikan. Aku menjaganya dengan jiwa dan raga ku." Isakan Luhan berangsur-angsur meredah.

"Ne hyung menjaganya dengan baik. Hyung uga tidak perlu untuk bekerja keras sendirian. Kami pasti akan membantu mu. Dan bisa hyung jelaskan bagaimana bisa bekerja sebagai OB dan sekarang sekertaris?" Yixing sangat memaklumi sifat moody Luhan. Dengan pelan ia bertanya kembali.

"Em.. sebelumnya aku tidak sengaja menemukan lowongan perkejaan sebagai OB ketika aku membeli beberapa camilan juga es krim di minimarket di depan sana. Dari itu aku coba melamar dengan kualifikasi pengalaman bekerja sebagai barista di sebuah kafe di dekat tempat tinggalku dulu. Kemudian aku diterima bekerja sebagai OB di perusahaan itu. Tugas ku hanyalah menyiapkan minuman untuk para karyawan disana. Dan hari ini ada sedikit masalah yang membuat aku hampir dipecat." Luhan bercerita mengenai bagaimana ia bisa mendapatkan perkejaan sebagai OB.

"Bagaimana bisa hyung bisa hampir dipecat?" Yixing menyimak dengan seksama, sesekali ia bertanya.

"Aku terpeleset dan terjatuh hingga menjatuhkan kopi yang seharusnya aku antar, dan jatuh tepat mengenai sepatu CEO perusahaan tempatku bekerja."

"Astaga Luhan hyung kenapa kau tidak bilang dari tadi jika kau habis terpeleset dan jatuh. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan janin mu disana? Hyung, sebaiknya kita harus mengecek kondisi meraka. Ayo!" Yixing dengan tanpa bantahan menggeret Luhan ke ruang pemeriksaan di ruangan miliknya. Luhan hanya bisa pasrah mengimbangi kecepatn jalan milik Yixing.

"Aku tidak apa-apa Yixing-ah. Mereka juga baik-baik saja. Tadi ketika jatuh aku masih sempat menahannya dengan kedua tangan ku sehingga perutku tidak terbentur sama sekali. Percayalah." Luhan mencoba menyakinkan bahwa ia baik-baik saja begitupun dengan kedua janin yang sedang tumbuh di dalam perutnya.

"Tapi hyung aku begitu khawatir. Kau tau, usia janin mu itu masih muda dan rentan dengan hal-hal seperti itu." Yixing masih mengeret Luhan hingga sampai dipintu ruang cek up yang ada dirumah ini.

"Baiklah-baiklah. Aku menurut saja." Luhan menuruti permintaan Yixing.

"Bagus, kau anak baik." Yixing sedikit terseyum ketika Luhan tidak sama sekali membantahnya.

"Yixing-ah. Aku bukan anak kecil." Luhan mendudukkan dirinya di ranjang pemeriksaan dengan wajah sdikit ditekuk dan bibir yang cemberut.

"Astaga hyung. Aku begitu gemas." Reflek saja Yixing mencubit pipi Luhan yang mulai gembil itu.

"Yixing. Sakit tau." Luhan benar-benar kesal sepertinya.

"Ow, mianhae." Yixing menampilkan wajah memohonnya, namun tak dihiraukan oleh Luhan. Sepertinya rusa yang satu ini benar-benar kesal

Beberapa pemeriksaan dilakukan untuk mengecek kondisi kedua janin di perut si pemilik mata bak rusa itu. Dari melakukan tensi dan beberapa alat yang tidak sama sekali dimengerti oleh Luhan (begitu juga author). Ia hanya pasrah mengikuti instruksi Yixing selama pemeriksaan berlangsung.

"Hyung, lanjutkan ceritamu tadi?" Yixing kembali mengintrogasi Luhan.

"Tak lama setelah kejadian itu, Kepala OB memanggilku untuk menghadap keruangannya. Aku sudah berfikir akan segera dipecat setelah kemarahan Kepala OB yang memarahi ku dengan keras. Namun tak berapa lama aku malah diberi tahu untuk menghadap langsung kepada CEO perusahaan." Luhan menjeda ceritanya mengingat kejadian tadi pagi.

"Lalu apa yang kau lakukan begitu hyung berhadapan dengan CEO tempat hyung bekerja?" Tanya lagi Yixing yang sepertinya mulai penasaran.

"Aku benar-benar tidak menyangka dan terfikir aku akan dipanggil langsung apalagi berhadapan dengan CEO perusahaan tempatku bekerja. Aku benar-benar takut karena hal itu. Ketika aku memasuki ruangannya. Aku begitu gugup dan yang bisa kulakukan hanya menunduk. Aku hanya berdoa dalam hati dan begitu was-was. Karena CEO itu berdiri tepat dihadapan ku dan menatapku bulat-bulat seakan dengan tatapannya aku akan langsung mati. Menunggu suasana tegang di dalam ruangan itu. CEO ku bahkan tak kunjung mengatakan apapun. Aku bertambah cemas. Lama ku menunggu ucapan yang akan ia sampaikan langsung hingga memanggilku datang keruangannya." Luhan menceritakan dengan wajah innocent nya.

"Kemudian apa yang terjadi?" Yixing sudah tidak mampu lagi memendam rasa penasarannya.

"Kau bisa membayangkan ada seorang pria gagah berdiri tepat dihadapanku. Ia mengenakan jas style abu-abu yang membalut tubuh tegapnya. Rambut yang ditata rapi keatas. Aku tidak dapat mendiskripsikannya dengan banyak kata. Yang aku ingat dia begitu tampan juga menawan dan tentu saja tampilannya begitu elegan." Luhan malah sedikit tersipu mengingat perawakan juga wajah tampan sang CEO. Bahkan dihadapan Yixing kini terlihat semburat merah bertenger apik di pipi yang mulai gembil itu.

"Astaga hyung, aku tidak menanyakan bagaimana kondisi dan perwujudan CEO mu itu. Aku menanyakan apa yang ia lakukan setelah bertemu dengan mu?" Sedikit kesal sebenarnya dengan Hyungnya yang satu ini. Gemas juga sih authornya.

"Ups... Maaf. Tapi memang dia tampan." Luhan tersipu malu mengatakannya.

"Aish. Hyung, serius sedikit." Yixing benar-benar kesal sepertinya.

"Huh.. Baiklah. Aku akan serius. Tiba-tiba saja dia memperkenalkan dirinya dan menanyakan padaku tentang apakah aku melupakannya. Karena hal itu aku sedikit terkejut. Untuk apa dia menyapa dan mengingatkan aku siapa dirinya. Aku bertambah bingun dan penasaran siapa sebenarnya orang yang berada di hadapn ku ini."dengan wajah innoncent ya Luhan menunjukkan gesture tubuh berfikir layaknya kilas balik yang ia lalui sebelumnya.

"Jadi, sebebnarnya siap dia, hyung?" Yixing penasaran siapakah orang itu.

"Entah ini hanyalah suatu kebetulan atau mungkin dunia ini begitu sempit. CEO yang sedang berdiri dihadapan ku itu adalah salah seorang junior ku di SHS dulu. Dulu kami begitu dekat semasa SHS. Dia sudah layaknya adik bagi ku. Aku bahkan sering melinddunginnya. Meskipun kadangnya kami akam babak-belur melawan anak-anak nakal yang membully dirinya." Cerita final siapa CEO itu dari Luhan.

"Ah, jadi dia junior mu di SHS, hyung." Yixing menampilkan wajah terkejutnya.

"Yixing-ah. Sebenarnya aku senang bisa bertemu dengan orang yang aku kenal. Tapi juga sedikit tidak menyenangkan. Kau tahu? karena kekuasannya, aku tidak jadi dipecat, namun malah dipromosikan menjadi seorang sekertaris pribadinya dan itu dimulai hari ini. Aku sudah mencoba menolak secara perlahan, mengingat aku hanya lulusan SHS saja, tapi dia tetap memaksa dan mengatakan pada ku bahwa itu adalah mutlak perintah. Sedikit terpaksa aku berakhir mengikuti perintahnya. Karena jika tidak, kontrak ku bekerja di bagian OB sebelumnya menyebutkan 'Peraturan nomor anda melanggar kontrak selama 3 bulan pertama dengan keluar dari perusahaan dengan sengaja, atau terjadi eksident pemecatan akibat kecerobohan individu. Maka anda akan dipecat tanpa pesangon. Dan harus membayar denda' begitu dalam surat kontrak itu. Dan aku bekerja disana baru akan satu bulan. Akhirnya aku memilih mengikuti perintah untuk menjadi sekertaris pribadi CEO jelek itu." Luhan sedikit cemberut menceritakannya.

"Hyung, dibalik itu semua, sebenarnya kau senang bukan?" Yixing mulai menggoda Luhan. Karena menurut ceritanya tadi, itu seperti bukan dia terpaksa atau tidak suka. Tapi ada perasaan senang dibalik itu.

"Apa yang kau bicarakan? Aku biasah saja." Sangkal Luhan. Tapi, pipi dan telinganya sudah memerah itu sudah membuktikan dia senang namun malu untuk mengatakannya.

"Kau berbohong ya, hyung?" Kini giliran Yixing semakin menggodanya.

"Aku tidak bohong." Luhan masih pura-pura saja. Tapi Yixing tidak mudah dibohongi.

"Ah, baiklah. Hyung rusa ku ini nanti akan menangis jika digoda terus menerus. Jadi, apakah Hyung mau melihat mereka berdua?" Yixing akhirnya mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk Yixing kearah perut Luhan.

"Tentu saja mau." Nampak Luhan begitu antusias.

"Baiklah, kalau begitu kita pindah ke ranjang disebalah sana." Yixing mengarahkan Luhan untuk berpindah ke ranjang di depan sana yang sudah lengap dengan alat USG.

Disebuah ruangan kerja yang tampak rapi dengan tumpukan buku-buku di atas rak nya. Seorang pemuda sedang duduk di sebuah meja kerja miliknya. Sepasang mata tajamnya memandang Lurus kearah layar leptop yang menyala dihadapannya kini. Ia sepertinya sedang sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan penting. Secangkir kopi hitam ikut menemani malam nya kini. Tangannya terus mengetik diatas tombol-tombol keybord leptop miliknya dengan cepat.

Sudah hampir dua jam ia berusaha menyelesaikan pekerjaanya ini dengan cepat. Namun fokusnya sedikit berkurang saat tiba-tiba saja banyangan pertemuannya dengan sang pencuri hatinya terlintas saja dibenaknya. Seketika sepasang mata nan tajam itu menerawang jauh dan mengingat apa saja yang ia lakukan bersama dengan sang pencuri hatinya hari ini. Sedikit sudut bibirnya terangkat menandakan ia mengulas sedikit senyum di bibirnya. Beberapa menit berselang, Sehun segera meraih ponsel miliknya yang memang diletakkan tepat disebelah leptop yang sedang ia gunakan. Menekan beberapa digit huruf yang menampilkan nomor orang diseberang sana.

"Ini aku."

"Aku ingin kau mencari informasi lain."

"Ini bukan tentang kegiatan ibu ku. Tapi aku ingin kau mencari informasi tentang seseorang."

"Tetap awasi juga aktifita ibu ku."

"Aku akan mengirimkan foto dan namanya. Segera cari informasi tentang dia. Aku menunggu mu dalam tiga hari."

"Aku tidak menerima perpanjangan waktu."

"Baiklah aku tunggu tiga hari lagi."

"pip" suara sambungan dimatikan.


TBC


Note:

Mian karena chp ini gak ada moment HunHan nya. Karena Kei menulis ini mengalir begitu saja. Maaf Kei terus-terusan hiatus. Something troub dan gak bisa Kei jelasin disini. Sedikit terobati ketika beberapa hari yang lalu Kei pergi menemui pantai hijau.

Selama Malming.

13/07/2019