Tittle : Little Sunshine
Author : Keiko Yummina
Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12
Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family
Length : Chaptered
Rated : M (Mecum)
WARNING! YAOI, M-PREG
bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!
…
Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!
Previous
.
.
.
Sudah hampir dua jam ia berusaha menyelesaikan pekerjaanya ini dengan cepat. Namun fokusnya sedikit berkurang saat tiba-tiba saja banyangan pertemuannya dengan sang pencuri hatinya terlintas saja dibenaknya. Seketika sepasang mata nan tajam itu menerawang jauh dan mengingat apa saja yang ia lakukan bersama dengan sang pencuri hatinya hari ini. Sedikit sudut bibirnya terangkat menandakan ia mengulas sedikit senyum di bibirnya. Beberapa menit berselang, Sehun segera meraih ponsel miliknya yang memang diletakkan tepat disebelah leptop yang sedang ia gunakan. Menekan beberapa digit huruf yang menampilkan nomor orang diseberang sana.
"Ini aku."
"…"
"Aku ingin kau mencari informasi lain."
"…"
"Ini bukan tentang kegiatan ibu ku. Tapi aku ingin kau mencari informasi tentang seseorang."
"…"
"Tetap awasi juga aktifita ibu ku."
"…"
"Aku akan mengirimkan foto dan namanya. Segera cari informasi tentang dia. Aku menunggu mu dalam tiga hari."
"…"
"Aku tidak menerima perpanjangan waktu."
"…"
"Baiklah aku tunggu tiga hari lagi."
"…"
"pip" suara sambungan dimatikan.
.
.
.
CHAPTER 14
.
.
.
Typo bertebaran~
Yixing sudah menyiapkan alat-alat USG untuk Luhan. Dengan perlahan Yixing membuka beberapa kancing kemeja Luhan tepat di perut yang mulai keras dan sedikit menonjol itu. Ia juga tak lupa mengoleskan gel pada area perut yang sedikit membuncit itu. Dengan perlahan ia Yixing mengoleskan hingga rata ke permukaan perut Luhan. Kemudian Yixing mulai menempelkan sebuah alat di atas perut Luhan. Dan tampilah dua bulatan kecil di dalam layar samping mereka.
"Hyung, Lihatlah. Mereka lebih besar dari satu bulan yang lalu. Mereka terlihat sehat didalam sana. Apakah kau ingin mendengarkan detak jantungnya?" Yixing menawari Luhan untuk mendengarkan suara detak jantung janin di dalam kandungannya.
"Apakah sudah bisa mendengarkan detak jantung mereka?" Luhan bertanya heran.
"Tentu saja Hyung. Usia mereka masihlah muda. Dua bulan yang lalu mereka terlihat sangat kecil. Tapi lihatlah perkembangannya bulan ini. Mereka sudah mulai tumbuh lebih besar dari pada sebelumnya. Dan tentunya kau bisa mendengarkan detak jantungnya, hyung." Jelas Yixing yang membuat Luhan kian bersemangat mengetahui kondisi dua janin yang sedang tumbuh itu.
Yixing menyiapkan sebuah earphone kepada Luhan untuk mendengarkan detak jantung janin nya dengan di bantu beberapa alat-alat yang tentunya hanya Yixng juga dokter-dokter yang berada di spesialis yang sama dengan Yixing.
"Bagaimana menurut mu hyung?" Yixing mengamati mimik Luhan saat mendengarkan detak jantung janin-janin nya dengan perasaan yang membucah.
"Aku.. aku.. aku begitu terharu bisa mendengarkan detak jantung mereka." Matanya sudah berkaca-kaca saat mengungkapkan rasa haru juga bahagiannya kepada Yixing. Yixing ikut merasa senang melihat Luhan dan dan kedua janinnya sehat dan baik-baik saja.
"Kau harus selalu sehat hingga mereka lahir dalam kurun waktu tujuh bulan lagi, hyung."Yixing menasehati Luhan.
"Tentu saja, Yixing-ah. Aku jadi tidak sabar untuk melihat mereka secara langsung begitu mereka lahir." Luhan benar-benra harus bersabar menanti kelahiran bayi kembarnya.
"Aku juga tidak sabar melihat mereka hyung." Seru Yixing sama antusiasnya dengan Luhan.
"Yixing-ah. Bolehkah aku meminta salinan foto mereka?" Luhan berharap bisa menyimpan foto janin kembarnya itu.
"Tentu saja Luhan hyung. Aku akan memberikan salinan fotonya nanti untuk mu." Yixing menjanjikan memberikan salinan foto janin kembar itu untuk Luhan.
.
.
.
.
.
Malam itu Sehun sedang duduk di sebuah kursi santai yang terletak di balkon apartemennya. Sebuah minuman dengan kadar alkohol yang tidak banya menemani malam nya kini. Mata elangnya menerawang jauh melihat pemandangan kerlap-kerlip sorotan lampu dari padatknya rumah-rumah di kota ini. Sesekali ia menyesap gelas berisikan minuman yang sedang ia pegang. Tiba-tiba terlintas di kepala nya untuk menghubungi seseorang.
Seseorang yang diam-diam telah lama mencurihatinya itu. Sekarang kian dekat berada di sekitarnya. Sehun banyak berharap kali ini ia mampu untuk menjangkau seseorang special ini. Meletakkan namja cantik ini agar berdiri berdampingan dengannya. Tak akan membiarkan namja cantik ini jauh atau menghilang dari hadapannya. Karena kini dia bukan lagi namja yang polos dan tidak mengerti bagaimana membuat cintanya bisa diraih. Kekuasaannya yang sekaragn tak lagi terbatas seperti dulu. Yang hanya bisa mengagumi seseorang ini dari jauh. Dia bukan lagi seorang yang pengecut untuk mengungkapakan perasaannya. Sekarang dengan kuasa yang ia miliki ia kan menggunakan nya untuk membuat dan menjadikan namja cantik ini menjadi miliknya. Tentu bukan dengan cara-cara yang licik atau memuakkan yang akan ia gunakan. Tapi dengan mendekatinya secara perlahan juga sebuah pengawasan ketat untuk sekitarnya terhadapa namja cantik itu.
From: Sehun
To: Lu Han
Luhan Hyung.
Apakah kau sudah tidur?
Dengan harap-harap cemas Sehun menunggu balasan dari sang terkasih.
.
.
.
.
.
Luhan malam itu sedang duduk diatas ranjangnya. Pandangan matanyanya masih tertuju pada sebuah kertas yang berada pada genggaman tangannya. Kertas itu berisikan sebuah foto gelap yang penuh makna. Foto itu tak sebesar foto-foto yang terpajang di atas nakas disana. Karena Luhan memang meminta Yixing untuk mencetak foto itu dengan dua ukuran yang berbeda. Satu memang sengaja diletakkan kedalam sebuah bingkai plastik diatas nakas sebelah ranjangnya. Dan yang satu lagi bisa muat dimasukkan ke dalam dompet miliknya. Luhan masih mengamati selebar foto itu dengan seksama. Sekaan tak percaya bahwa ada sebuah kehidupan baru didalam perutnya. Lebih tepatnya dua janin yang kini ikut tumbuh di dalam dirinya. Perasaan yang tidak dapat diungkapakan dengna kata-kata.
Bayangan kelak ia akan menimang kedua anaknya dengan bahagia. Menimangnya dsan membesarkannya dengan penuh cinta. Membayangkan kedua anaknya yang entah itu perempuan atau laki-laki itu akan memanggilnya momy. Sedikit menggelikan mengingat ia adalah seorang namja. Tapi Luhan tidak akan merasa bosan ketika kedua anak kembarnya kelak memanggilnya dengan panggilan penuh cinta. Membayangkannya saja sudah sesenang ini. Apalagi jika semuannya benar-benar segera terjadi. Parasaanya menghangat mengingat hal itu.
Lamunannya terbuyarkan ketika sebuah notifikasi pesan masuk dari ponsel canggih yang tadi siang dengan seenaknya Sehun berikan. Dengan hati-hati Luhan menyimpan kembali foto itu kedalam dompetnya. Seakan foto itu akan rusak jika Luhan meletakkan dengan tidak baik di dalam sana. Selesai itu ia menaruh dompet tersebut keatas nakas di sebelahnya. Tangan mungilnya menggapai ponsel yang berada tak jauh dari dompet miliknya. Dengan segera ia mengecek notifikasi yang tertera disana.
From: Oh Sehun
To: Luhan
Apakah kau sudah tidur, Luhan Hyung?
Entah mengapa perasaannya sedikit membucah saat menerima sederet kalimat tanya dari Sehun. Bahkan jantungnya sedikit berdegub tak beraturan sesaat ingin membalas pesan tersebut. Usai menormalkan kegugupannya, Luhan membalas pesan Sehun.
From: Luhan
To: Oh Sehun
Aku belum tidur Hunnah.
Bagaimana dengan mu?
..
From: Oh Sehun
To: Luhan
Aku belum mengantuk.
Apa yang sedang kau lakukan?
..
From: Luhan
To: Oh Sehun
Aku sedang bersiap tidur.
..
From: Oh Sehun
To: Luhan
Ah.. Kalau begitu sebaiknya hyung tidur.
..
From: Luhan
To: Oh Sehun
Ne.. Kau juga Hunnah.
..
From: Oh Sehun
To: Luhan
Selamat malam hyung.
..
From: Luhan
To: Oh Sehun
Selamat malam Hunnah.
..
From: Oh Sehun
To: Luhan
Sampai jumpa besok pagi di kantor.
..
From: Luhan
To: Oh Sehun
Ne. Oh Sajangnim
..
From: Oh Sehun
To: Luhan
Tidurlah hyung.
..
From: Luhan
To: Oh Sehun
Kau juga Hunnah.
Entah perasaan macam apa yang keduannya rasakan. Luhan memposisikan dirinya untuk berbaring di atas ranjannya. Membenarkan selimut yang ia kenakan hingga sebatas dada. Sebelum itu Luhan terlebih dahulu melakukan ritual yang dua bulan ia lakukan sebelum tidur. Menyapa janin-janin di perutnya.
"Selamat malam aegy-aegy momy didalam sana. Mimpi indah." Luhan memberikan usapan lembut diatas perut nya yang sedikit membuncit juga keras miliknya.
Tak berapa lama Luhan pun terlelap membelah dunia mimpinya. Dalam sekejap saja ia bisa tertidur dengan sepulas itu. Mulutnya sedikit terbuka. Sepertinya Luhan benar-benar lelah seharian ini.
.
.
.
.
.
Di tempat lain, Sehun tersenyum dengan lebar melihat pesan singkatnya dengan Luhan. Entah mengapa jantungnya ini tidak pernah berubah ketika berhadapan dengan Luhan. Ia masih mempunya cinta yang sama seperti dulu pada Luhan. Tidak sekalipun perasaan itu berubah. Bahkan sekarang, setelah dipertemukannya lagi dengan si pencuri hatinya. Cinta itu kian bertambah besar terhadap si pemilik mata rusa cantik itu. Sedikit menghangat ketika rasa canggung setelah sekian lama tak bertemu itu tidak tampak dalam percakapan mereka barusan.
Sehun kemudian membereskan gelas dan minuman sisa yang tadi ia minum. Ia berjalan menuju dapur dan meletakkan semua nya itu di meja dapur. Ia bersiap membersihkan diri sebelum pergi berkelana kea lam mimpinya. Mengambil sebuah handuk bersih dan berjalan memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya.
.
.
.
.
.
Pagi itu Kim Junmyeon aka Suho pulang ke rumah setelah beberapa hari ia disibukkan dengan pasien-pasien di rumah sakit tempatnya bekerja. Yixing menyambut nya dengan senyuman manis yang khas untuk sang terkasih. Seakan dimple di pipinya itu kian cekung saja.
"Kau sudah pulang?" Tanya Yixing saat mendapati Suho sang kekasih juga partner setiannya ini sampai di rumah.
"Yah.. Tapi aku harus kembali nanti siang kerumah sakit." Jawab Suho dengan raut wajah lelahnya.
"Kau mau sarapan atau membersihkan diri dulu?" Sambil membantu Suho menaruh mantel yang ia gunakan juga menyimpan tas kerjanya.
"Aku akan mandi terlebih dahulu." Seru Suho sembari membuka dasi kemudian kancing kemeja teratasnya juga kancing lengannya.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menyiapkan air hangat untuk mu." Yixing pergi untuk menyiapkan keperluan mandi Suho.
Yixing yang sudah lama tinggal dengan Suho. Tau betul kebiasaa pasangannya itu. Layaknya istri yang melayani suaminya. Yixing dengan telaten memperhatikan segala kebutuhan Suho setiap harinya. Ia mulai menyiapkan air panas untuk Suho mandi atau bisa disebut berendam. Selesai dengan itu ia menyiapkan handuk dan baju ganti. Usai menyiapakan semua itu. Yixing segera keluar menghampiri Suho untuk menyuruhnya segera membersihkan diri.
Yixing berjalan keluar dari kamar mandi di dalam kamar mereka. Berjalan kea rah ruang tamu berniat mencari Suho yang bisa dipastikan ia terlelap seperti biasanya di sofa panjang itu. Dan benar saja, ia mendapati sang terkasih terlelap sambil duduk di sofa ruang tamu. Dengan sedikit tak rela Yixing tepaksa membangunkan Suho untuk segera membersihkan diri.
"Suho hyung. Bangun." Sedikit guncangan di bahu Suho membuatnya seketika terjaga.
"Uh, Yixing-ah." Sedikit mengumpulkan kesadarannya.
"Aku sudah selasai menyiapakan air hangat juga baju ganti mu. Sebaiknya cepat kau mandi dan turun untuk sarapan. Baru kau boleh istirahat." Yixing dengan penuh perhatian memberikan perintah pada sang terkasih. Tentu dengan nada lembutnya.
"Terimakasih sayang." Dengan secepat kilat Suho mengecup bibir menggoda milik Yixing dan segera kabur melsat ke kamar mereka. Sebelum si unicorn itu mengamuk karena telah berani mencuri ciuman paginya.
"Yak.." Yixing kesal Suho dengan santainya melakukan itu secara terang-terangan di ruang tamu. Apalagi ini ada Luhan yang tak sengaja keluar dari kamar miliknya yang memang berhadapan langsung dengan ruang tamu.
Sedikit semburat merah di pipi Yixing merasa malu karena kepergok Luhan. Sedangkan Luhan hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Jangan mengejek ku, hyung." Yixing memperingati Luhan untuk tidak mnegjeknya. Padahal tanpa Luhan mengeluarkan sepatah kata pun. Yixing sudah sangat malu hingga semburat merah memenuhi pipi nya hingga menular ke telinganya.
"Aku tidak melihat apapun, Yixing-ah." Sanggah Luhan agar Yixing tidak bertambah malu.
"Baiklah kalau begitu ayo bantu aku menyiapkan sarapan." Dengan cepat Yixing mengajak Luhan membuat sarapan pagi ini.
"Ne. Kajja." Luhan mengekori Yixing yang telah terlebih dahulu berjalan menuju kea rah dapur.
.
.
.
.
.
Yixing dibantu Luhan menata meja makan dengan menu sarapan sederhana untuk mereka bertiga. Tak lupa segelas susu coklat yng terkhusu untuk Luhan karena itu menrupakan susu hamil miliknya. Sembari menunggu Suho selesai mandi. Yixing dan Luhan sedikit mengobrol dengan topik yang random.
"Hyung, hari ini kau tampak rapi sekali dengan style yang berbeda? Bahkan kau memmakai jas?" Yixing sedikit menelisik style baju yang Luhan pakai hari ini. Karena sebelumnya ia bahkan tak pernah melihat Luhan menggunakan mpakain seperti ini.
"Ah ini. Sebenernya aku sedikit merasa asing dengan gaya berpakaian ku. Tapi ini adalah ulah Boss baruku yang memintaku menggunakan pakaian seperti ini." Jawab Luhan dengan polosnya.
"Aku jadi penasaran orang seperti apakah Boss mu itu." Dengan pose befikir Yixing membayangkan Boss Luhan itu adalah orang yang tampan juga kaya seperti yang diceritakan Luhan tempo hari.
"Em.. entahlah. Seseorang yang dulu dekat dengan ku semasa bangku sekolah itu terkadang begitu asing. Tapia da kalanya aku merasakan kedekatan layaknya pertemanan kami dulu. Aku tidak bisa menolak permintaanya karena sedari dulu aku juga sangat memperhatikan dirinya. Dan sekarang aku juga tidak bisa membantah perintahnya karena dia adalah seorang Sajangnim di perusahaan tempat ku bekerja." Jelas Luhan mengenai adik tingkatnya yang juga Sajangnim di perusahaan tempatnya bekerja.
"Hem.. Lalu apa nama perusahaan tempat mu bekerja itu hyung?" Yixing penasaran dengan perusahaan tempat Luhan bekerja.
"Perusahaan itu bernama OHS Crop yang bergerak di bidang bisnis property." Jawab Luhan dengan gamblang.
"APA?" Yixing sedikit terkejut dengan pernyatan Luhan barusan.
"Memang ada apa dengan perusahaan itu?" Tanya Luhan santai juga polos.
"Kau benar-benar tidak tau Hyung?" Tanya Yixing karena Hyung dihadapan ini benar-benar terlihat jujur tidak tau menahu mengenai perusahaan tempat ia bekerja.
"Itu merupakan perusahaan yang telah sukses merajahi pasar Asia hingga Eropa. Bahkan perusahaan itu sudah memasuki sepuluh besar perusahan terkenal di bidang property di dunia. Dan bagaimana kau tidak mengetahui tentang itu?" Dengan gambalang Yixing menyebutkan fakta-fakta yang sangat mudah dicari di internet mengenai perusahaan tersebut.
"A-aku tidak tau sama sekali Yixing-ah." Luhan sama terkejutnya dengan apa yang disampaikan Yixing. Ia tidak pernah menyangka perusahaan tempat ia bekerja sekarang adalah perusahaan sesukses itu.
"Dan lagi. (Yixing sedikit menjeda). Kau bilang jika kau beteman dekat dengan Sajangnim dari perusahaan tersebut?" Dengan tanpa ekpresi Yixing bertanya lagi. Sebenarnya bukan menjurus ke pertanyaan melainkan sebuah penyataan. Dan wajah syok ala Yixing yang berubah tak cerita adalah wajah yang sesungguhnya ketika ia benar-benar merasa SYOK.
"Ne." Jawab Luhan singkat karena ia benar-benar tidak tau mau mengatakan apa lagi.
Beberapa saat terjadi keheningan di anatar mereka berdua. Seakan pikiran keduanya menerawang jauh selayaknya kehilangan kata-kata. Tak berapa lama keheningan itu tepecah ketika seorang lelaki yang beberapa hari ini sibuk tidak pulang kerumah itu datang menghampiri mereka berdua.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Suho yang datang menghampiri keduannya di ruang makan. Karena melihat keheningan diantar mereka berdua.
"…" Belum ada sahutan dari bibir keduanya.
Hingga Suho berinisiatif memanggil Yixing.
"Yixing-ah. Kenapa kau hanya diam saja?" Suho memanggi Yising sembar memegang pundak sang kekasih.
"Ah, Suho hyung. Kau sudah selesai mandi?" Tanya Yixing reflek setelah sadar Suho sudah berada di samping kursi duduknya.
"Aku sudah selesai beberapa menit yang lalu. Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa kalian hanya diam?" Tanya Suho penasaran melihat mereka berdua yang hanya terdiam di depan meja makan.
"Ah itu. Kita terlalu asik memikirkan menu masakan yang ingin kita buat untuk akhir minggu ini. Benarkan Luhan hyung?" Jawab Yixing dengan penuh kecanggungan.
"Hem, ne. Aku rasa aegy ingin sekali makan daging bakar buatan paman Suho nya." Jawab Luhan tak kalah asal menutupi kecurigaan Suho.
"Kalau begitu bagaimana kalau akhir minggu ini kita membuat barbeque di halaman belakang?" Sontak saja Suho mengeluarkan ide barbeque bersama.
"Wah sepertinya ada yang sedang mengidam rupanya." Sindir Yixing untuk Luhan.
"Tapi aegy benar-benar menginginkannya." Dengan raut memelas Luhan menunjukkan wajah memelasnya.
"Aku pasti akan membautkan daging panggang terenak untuk mu, hyung." Seru Suho yang antusias dengna keinginan Luhan.
"Terimakasih Suho-ya." Jawab Luhan dengan berbinar.
"Tidak masalah hyung." Suho dengan senang hati akan membantu memenuhi keinginan namja hamil dihadapannya ini.
"Kalau begitu ayo kita sarapan."Seru Yixing.
Mereka menikmati sarapan pagi ini dengan kitmat. Luhan pagi ini sedikit mual. Karena itu ia hanya bisa makan pelan. Setidaknya perutnya harus terisi karena ini demi kedua janin yang sedang tumbuh di dalam perutnya.
"Em.. ngomong-ngomong tumben sekali melihat Luhan hyung berpakaian seperti itu. Memangnya hyung mau pergi kemana?" Suho sedikit penasaran melihat Luhan yang tampak rapi dengan sebuah stylan jas yang ia kenakan.
"Ah ini.. Aku menggunakannya karena aku harus bekerja." Jawab Luhan begitu saja.
"APA?" Suho sedikit meninggikan suarannya begitu mendengar Luhan akan pergi bekerja.
.
.
.
.
.
TBC
ote:
Jangan terlalu menunggu semua ff Kei.
Karena Kei bakalan update sesuai mood dan realife.
Mohon bersabar dengan author seperti Kei.
Maaf juga bulan kemarin Kei tidak sama sekali meng-update ff ini.
Seperti yang Kei bilang sebelumnya.
Kei hanya sedang berusaha menyelesaikan segala ff yang Kei tulis.
Jangan merasa kecewa jika suatu saat nanti Kei membuat cast yang bukan HunHan sebagai main cast dalam cerita.
Kei tetap HHS sekalipun Kei menulis ff dengan cast lain.
01/11/2019
