Tittle : Little Sunshine
Author : Keiko Yummina
Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12
Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family
Length : Chaptered
Rated : M (Mecum)
WARNING! YAOI, M-PREG
bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!
…
Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!
Previous
.
.
.
Mereka menikmati sarapan pagi ini dengan kitmat. Luhan pagi ini sedikit mual. Karena itu ia hanya bisa makan pelan. Setidaknya perutnya harus terisi karena ini demi kedua janin yang sedang tumbuh di dalam perutnya.
"Em.. ngomong-ngomong tumben sekali melihat Luhan hyung berpakaian seperti itu. Memangnya hyung mau pergi kemana?" Suho sedikit penasaran melihat Luhan yang tampak rapi dengan sebuah stylan jas yang ia kenakan.
"Ah ini.. Aku menggunakannya karena aku harus bekerja." Jawab Luhan begitu saja.
"APA?" Suho sedikit meninggikan suarannya begitu mendengar Luhan akan pergi bekerja.
.
.
.
CHAPTER 15
.
.
.
Typo bertebaran~
Suho terkejut mendengar penuturan Luhan jika ia sekarang sedang bekerja. Karena hal itu dengan segera Suho mengintrogasi Luhan. Bahkan ini lebih parah dari Yixing yang menanyainya macam-macam.
"Ne. Aku sekarang bekerja." Luhan menjawab dengan gugup. Melihat ekspresi Suho yang sepertinya tidak menyukai kabar tentang dirinya yang bekerja.
"Bagaimana aku tidak tahu jika kau bekerja hyung. Aku tak habis fikir dengan kondisi mu sekarang kau memilih untuk bekerja bahkan tanpa memberitahu kami." Sedikit nada kecewa didalam ungkapan Suho pada Luhan.
"Aku..aku minta maaf jika tidak memberitahu kalian perihal aku yang bekerja." Luhan dengan pelan meminta maaf pada kedua orang dihadapannya.
"Jangan-jangan Yixing juga ikut terlibat membantu mu menyembunyikan fakta bahwa kau sekarang bekerja?" Selidik Suho pada kekasihnya.
"Tidak.. tidak. Bukan seperti itu. Yixing tidak tau apapun mengenai aku yang bekerja. Bahkan ia baru tahun kemarin sore. Dan sama syok nya seperti dirimu sekarang." Dengan cepat Luhan menyanggah bahwa dugaan tersembunyi yang ditujukan untuk Yixing itu tidak benar. Sedangkan Yinxing hanya diam menunggu Suho meredakan marahnya.
"Aku..aku minta maaf jika tidak memberitahu kalian perihal aku yang bekerja. Tapi bukan maksudku untuk tidak memberi tahu kalian. Selama hampir sebulan ini kalian sepertinya sibuk di rumah sakit. Makannya aku belum sempat membicarakan ini dengan kalian berdua. Aku benar-benar minta maaf. Hiks." Jawab Luhan sambil terisak.
Hati seorang yang sedang hamil itu sedikit sensitife. Seharusnya Suho mengerti dengan hal itu karena ia seorang dokter meskipun ia bukan spesialis dokter kandungan seperti Yixing kekasihnya. Nada biacara Suho yang sedikit meninggi sepertinya membuat Luhan takut terlihat dari gesture tubuhnya yang sedikit bergetar. Yixing yang melihat hal itu dengan sigap berusaha menenangkan Luhan yang sedikit terisak. Pandangan membunuh dilayangkan seketika oleh Yixing kepada Suho. Suho yang dengan cepat menangkap sorotan tajam dari Yixing dengan segera menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengehembuskannya dengan keras untuk mengurangi perasaan kesalnya.
Memarahi Luhan tentu tak ada gunanya juga karena Luhan sudah terlanjur bekerja. Selain itu dengan memarahi Luhan nanti juga akan berakiat buruk pada kondisi psikis namaj hamil ini. Karena itu Suho mencoba mereda rasa kesalanya dan mencoba berbicara baik-baik kepada Luhan. Bagaimanapun juga Luhan sekarang adalah seseorang yang telah dianggap saudara oleh Suho dan kekasihnya Yixing. Selain itu Luhan adalah asset berharga penelitian mereka terlepas dari dari rasa persaudaraan mereka. Luhan wajib dijaga dan dilindungi yang merupakan kewajiban mereka berdua.
"Maaf aku tadi sedikit merasa kesal mendengar kau bekerja sekarang. Jadi ceritakan padaku dimana kau berkerja? dan di bagian apa kau bekerja, hyung?" Suho yang telah meredakan amarah nya dan kembali menanyai Luhan perihal pekerjaan yang ia lakukan.
"Tapi kau harus berjanji jangan membentakku lagi, hiks." Pinta Luhan untuk tidak dibentak lagi. Sungguh rusa yang sensitive dengan nada bicara yang meninggi.
"Iya, hyung. Aku janji tidak akan berbicar dengan nada yang keras seperti tadi." Suho pun menyanggupi permintaan Luhan.
"Jadi aku bekerja di OHS Corp sebagai seorang sekertaris pribadi sang CEO." Tutur rusa hamil nan sesitif itu pada Suho.
"Apa? Bagaimana bisa kau bekerja disana?" Suho menyembunyikan keterkejutannya kembali. Bahkan dari tuturkata yang baru saja ia dengan dari rusa hamil didepannya ini lebih membuat dirinya syok karena Luhan bekerja di sebuah perusahaan terkenal.
"Em, sebenarnya aku baru mendapatkan promosi sebagai seorang sekertaris pribadi baru kemarin ini. Aku juga tidak percaya dengan pekerjaan ku sekarang. Bahkan tak sekalipun aku bermimpi bekerja sebagai seorang sekertaris pribadi dari seorang CEO di persahaan tempat ku bekerja. Dengan riwayat pendidikan ku yang hanya tamatan SHS. Semua seperti bualan semata karena awalnya aku hanyalah salah seorang OB di bagian pembuat minuman di perusahaan itu." Terang Luhan dengan hal yang menurut yang mustahil terjadi pada orang seperti dirinya.
"Astaga hyung, kau bekerja sebagai OB awalnya. Lalu bagaimana bisa kau menjadi seorang sekertaris pribadi dari CEO perusahaan tersebut?" Suho semakin penasaran dengan cerita Luhan yang diangkat menjadi seorang sekertaris pribadi dengan riwayat pendidikan seperti itu. Selain itu, perusahaan ini bukanlah perusahaan biasah. Karena jelas saja perusahaan sebesar ini selain maju tapi juga sangat terkenal di seluruh Korea bahkan Asia dan Eropa. Maka dari itu bagaimana bisa Luhan dengan gampangnya di angkat menjadi seorang sekertaris pribadi.
"Sebenarnya aku juga tidak menyangka menyangka akan menjadi sekertaris pribadi dari CEO perusahaan tersebut. Awalnya aku pikir aku akan dipecat saat menjadi OB, aku membuat suatu kesalahan yang tidak disengaja dengan menumpahkan minuman yang aku bawa hingga menengai sepatu CEO perusahaan tempatku bekerja. Aku dimarahi habis-habisan oleh kepala OB disana juga dipecat. Namun tak lama saat aku membereskan barang-barang dari loker pribadiku. Seorang pria yang mengatakan dirinya adalah sekertaris dari Sajangnim mendatangi ku untuk menyampaikan pesan dari Oh Sajangnim agar aku segera menemui Oh Sajangnim diruangannya. Aku benar-benar takut karena ku pikir urusan ku hanya selesai dengan kepala OB bagian ku bekerja. Tapi harus menemui seorang yang sangat penting di perusahaan tempat ku bekerja." Luhan menjeda perkataannya.
"Lalu apa yang kau lakukan setelah bertemu dengan nya?" Tanya Suho lagi. Sedangkan Yixing hanya ikut mendengarkan apa yang mereka berdua dihadapannya ini bicarakan.
"Aku bertemu dengan Oh Sajangnim secara langsung. Awalnya aku sangat gugup karena kufikir aku akan pasti dipecat dan di maki-maki. Atau mungkin diminta mengganti sepatu yang tadi tak sengaja ku kotori dan itu tak akan mungkin untuk ku bisa mengganti dengan sepatu yang sama. Mengingat pasti sepatu milik Oh Sajangnim bukanlah barang yang murahan. Tapi pemikiran ku keseluruhan adalah salah." Luhan malah tersenyum mengingat kejadian kemarin itu.
"Dari pertemuan kemarin itu aku baru mengetahui jika Oh Sajangnim adalah salah satu junior ku di SHS. Dia juga termasuk orang yang dekat dengan ku semasa SHS. Aku bahkan sempat tidak mengenali bahkan untuk percaya saja rasanya tidak mampu. Tapi dengan caranya menyakinkan ku bahwa dia adalah orang yang sama yang pernah aku kenal dulu. Entah karena keras kepalanya dengan seenaknnya menjadikan ku sekertaris pribadinya. Padahal aku sudah menjelaskan jika aku hanya lulusan SHS. Tapi dia tetap bersikeras dengan keinginannya." Luhan menceritakan kekeraskepalaan Sang CEO Perusahaannya.
"Bukan kah itu sedikit berlebihan?" Suho sedikit heran dengan CEO juga sahabat Luhan ini.
"Sebenarnya aku meminta padanya untuk tetap membiarkan ku kembali bekerja sebagai OB. Tapi dia menolak mentah-mentah permintaan ku. Lebih lagi jika aku dipecat dimasa percobaan kerja ku. Maka aku dikenakan denda yang tidak sedikit. Maka dari itu berakhir aku menerima tawaran kerja itu." Luhan menyelesaikan ceritanya.
"Huh. Aku jadi curiga maksud dari CEO tempat mu bekerja, hyung." Sambil menampilkan wajah penuh selidik. Suho berfikir keras mengenai maksud dari CEO perusahaan tempat Luhan bekerja yang tidak jadi memecat dirinya dan malah memindahkan Luhan ke jabatan yang tidak main-main.
Suho masih dengan wajah berfikir keras tentang hal itu. Sedangkan Yixing dan Luhan menyantap sarapan pagi mereka dengan pelan. Luhan sesekali melirik kea rah Suho. Takut-takut Suho akan memarahinya apalagi dengan nada tinggi nya tadi sudah membuat Luhan ketakutan atas tindakannya. Yixing membantu menenangkan Luhan dengan mengusap punggung sempitnya itu.
"Jadi hyung, coba jelaskan lebih mengenai-" Seketika Suho berhenti dan melihat notifikasi ponsel miliknya yang berkedip-kedip.
"Pip, pip. Pip, pip." Suara notifikasi panggilan masuk dari ponsel Suho yang berada tepat di atas meja. Mengintrupsi sesi intrograsi Suho kepada Luhan. Karena menurutnya ada hal yang sedikit mengganggunya dengan kabar Luhan yang bekerja.
"Bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" Suho segera mengangkat panggilan telepon dari sebuah nomor yang ia kenali. Dan berbicara dengan seseorang disebrang sana.
"Proffesor Jung ikut menjadi korban dalam kecelakaan pesawat terbang tadi siang saat bertolak dari Prancis ke Jerman." Seru orang disebrang sana.
"Bagaiamana mungkin?" Terlihat wajah terkejut Suho mendengar kabar tersebut. Yixing yang memperhatikan raut wajah Suho ikut bertanya-tanya. Sebenarnya kabar apakah yang di terima Suho hingga membuat raut wajahnya memucat.
"Pesawat yang ditumpangi professor Jung dan rombongan tiba-tiba saja kehilangan kontak dan hilang disekitaran perbukitan dekat dengan pegunungan Alpen. Beberapa tim sar masih mencoba mencari jejak terakhir pesawat itu berada." Jelas seseorang disebrang sana pada Suho.
"Bagaimana ini bisa ter-" Suho benar-benar terkejut mendengar berita tersebut.
"Oh.. Junmyeon-si. Sepertinya mereka telah berhasil menemukan bangkai pesawat terbang itu. Aku akan segera pergi kelokasi ditemukaannya bangkai pesawatnya. Kalau begi-" Sebelum mengatakan kalimat berikutnya Suho lebih dulu memotong pembicaraan itu.
"Aku akan segera menyusul ke sana. Tolong beritahu aku lokasi nya begitu kau sampai disana." Seru Suho yang bersiap-siap terbang menuju Jerman.
"-gitu. Baiklah. Aku akan mengabari mu begitu aku sampai di lokasi kejadian." Seseorang diseberang sana mengakhiri sambungan tersebut.
"Pip." Sabungan telepon itu berhenti menyisakan Suho yang terduduk lemas mengingat rentetetan berita yang baru saja ia peroleh.
Tanpa bertanya pun Yixing tau sekali jika telepon yang diterima prianya itu adalah sebuah kabar yang buruk. Dengan pengertian Yixing menyodorkan segelas air putih ke arah Suho. Suho pun menerimannya dan meneguk air dalam gelas itu hingga kandas. Luhan hanya diam mengamati dua orang dihadapannya. Sebenarnya ia bertanya-tanya mengenai kabar apa yang Suho dapat sampai-sampai Suho mampu merubah ekspresi semenyedihkan ini di hadapan mereka.
"Apa yang terjadi Suho hyung?" Tanya Yixing yang sedari tadi sudah cemas melihat ekspresi Suho yang sedikit pucat.
"Aku baru saja mendapat panggilan dari Ann. Dia adalah asisten professor Jung selama melakukan penelitian di Prancis. Dia baru saja memberi kabar jika professor Jung menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat terbang. Ketika bertolak dari Prancis menuju ke Jerman dan jatuh di sekitaran di pegunungan Alpen. Ia baru saja mendapatkan kabar jika bangkai pesawat terbang yang jatuh tersebut sudah ditemukan. Aku akan berangkat ke sana segera." Ternag Suho pada Yixing dan Luhan.
"Kalau begitu aku akan membantumu berkemas sembari hyung memesan tiket pesawatnya." Ujar Yixing segera meninggalkan ruang makan menuju kamar mereka untuk membantu Suho berkemas. Tak lupa Yixing memberi kekuatan lewat genggaman tangan hangatnya ke tangan kuat Suho yang mendingin sebelum beranjak dari sana. Kekuatan itu bukan kekuatan seperti yang tidak-tidak. Tapi hanya untuk menguatkan Suho atas kabar yang baru saja mereka peroleh.
"Ne, Kalau begitu aku akan memesan tiket pesawatnya sekarang juga." Ujar Suho sembari tangannya meraih posel pintarnya kembali. Menscrolling halaman pemesanan tiket pesawat. Sembari menyesuaikan jadwalnya. Mata agelic yang menelusuri satu persatu jadwal pesawat yang tertera di ponsel pintarnya.
Luhan masih dalam mode diam memperhatikan keduannya yang sesekali terlihat mondar-mandir dan sibuk sendiri. Ia menyelesaikan sarapan milikknya dalam diam dan ditutup segelas susu hamil berperasa coklat yang rutin ia minum sebagai penunjang vitamin untuk kedua janin dalam perutnya. Ia masih bergerak perlahan dan sibuk berfikir. Haruskah ia langsung berangkat saja menuju kantor karena jam sudah menunjukkan jam masuk kerjanya. Ataukah ia mengganggu keduannya yang terlihat sibuk. Sedikit perang batin tentang dua hal itu. Yang membuat Luhan mengambil keputusan dengan sedikit menggangu dan menghentikan kegiatan Yixing yang sibuk memasukkan baju Suho ke dalam koper.
Luhan menghampiri Yixing untuk berpamitan berangkat kerja karena waktunya sudah hampir memasuki jam kerjannya. Yixing yang saat itu menyadari Luhan berdiri di depan pintu kamarnya segera saja ia menyuruh Luhan menghampiri nya.
"Luhan Hyung. Apa yang kau lakukan disitu? Kemarilah." Pinta Yixing agar Luhan menghampirinya.
"Em, Setengah jam lagi jam masuk kantor ku dimulai. Aku hanya ingin berpamitan untuk berangkat ke kantor sekarang." Seru Luhan pelan saat meminta ijin dan berpamitan.
"Ah, maafkan kami jadi mengabaikan mu, Hyung. Aku terlalu sibuk membantu Suho hyung berkemas." Yixing meminta maaf karena mengabaikan Luhan.
"Tidak perlu minta maaf Yixing-ah. Aku mengerti kondisi yang sedang kalian hadapi." Luhan memaklumi keduannya.
"Terimakasih, Hyung. Kalau begitu sebaiknya hyung berangkat sekarang juga sebelum terlambat. Dan hati-hati dijalan. Jangan samai kelelahan." Yixing berpesan agar Luhan memahami kondisinya.
"Ne. Aku mengerti. Kalau begitu aku berangkat dulu." Pamit Luhan pada Yixing.
Sebelum Luhan beranjak dari kamar Yixing. Yixing kembali memanggil Luhan. Karena panggilan itu Luhan kembali berbalik kearah Yixing.
"Luhan Hyung. Tunggu sebentar." Yixing memanggil Luhan dengan pelan karena Luhan hanya berjarak beberapa meter dari posisi ia duduk di ranjang.
"Ne, ada apa lagi Yixing-ah?" Tanya Luhan penasaran kenapa Yixing kembali memanggil dirinya.
"Ah itu. Aku sebenarnya bingung bagaimana jika kau terlambat pulang kerumah. Dan kami tidak mendapat kabar dari mu. Sedangkan kami belum sempat memberikan ponsel untuk mu." Yixing bingung bagaimana cara menghubungi Luhan.
"Ah itu. Tenang saja Yixing-ah. Aku diberi pinjaman ponsel oleh Bos ku." Jawab Luhan dengan polos.
"Huh, bagaimana bisa? Dan apa itu 'pinjaman posel'?" Tanya Yixing sedikit bingung dengan apa yang disampaikan Luhan terkait ponsel pinjaman boss nya.
"Aku akan menjelaskan nanti ketika aku pulang bekerja. Sebaiknya aku menyimpan nomor mu sekarang karena aku takut datang terlambat ketika sampai kantor." Sela Lhan sebelum Yixing bertanya lebih lanjut dan memotong waktu berharganya untuk berangkat ke kantor.
"Kalau begitu nomor ku 08xx-xxx-xxx-xxx. Jangan lupa memberiku nomor ponsel mu ya hyung." Seru Yixing karena Luhan segera saja beranjak pergi usai mendapatkan nomor ponsel Yixing.
"Ne.." Seru Luhan sembari berjalan cepat keluar rumah dan berangkat menuju halte bis.
.
.
.
.
.
Sebelum Luhan menaiki Bus yang akan mengantarkan dirinya menuju tempat kerja nya. Ia harus menunggu Bus tersebut sekitar lima sampai tujuh menit lagi. Luhan duduk di sebuah kursi tunggu disana. Bersama beberapa orang yang juga sama ikut menunggu bus dengan tujuan yang sama.
Sebuah mobil sport Lamborgini Huracan Performante Spyder berwarna putih mendekati halte Bus tempat Luhan menunggu Bus datang. Tak jauhdari halte mobil itu berhenti, dan keluarlah sosok pria tampat keluar dari dalam mobil keren itu. Seorang pria tampan dengan style jas berwarna hitam dengan sepatu hitam mengkilat. Potongan rambut yang rapi ke arah samping, dan wajah nan rupawan berjalan menghampiri Luhan yang sedang duduk tak memperhatikan orang-orang sekitar yang seakan terpikat dengan ketampanan yang dipancarkan oleh pria itu. Hingga begitu sadar Luhan melihat sepasang sepatu hitam berada tepat di depan kakinya berpijak sekarang.
Terlihat sekali Luhan sedang melamun hingga ia baru menyadari sepasang kaki bersepatu itu berhadapan langsung dengan sepasang kaki mungil miliknya yang juga menggunakan sepatu hitam baru miliknya. Sedikit menegang disekujur tubuhnya. Luhan takut-taku untuk mengdongak ke atas menyaksikan siapa gerangan orang yang sedang berdiri dihadapannya ini. Sedikit mengatur laju nafasnya yang sedikti memburu. Ia juga berusahan meneguk ludahnya bulat-bulat membasahi kerongkongan ternggorokannya yang terasa kering dengan tiba-tiba. Dengan pperlahan ia mengangkat kepalanya ke atas. Dan-
.
.
.
.
.
TBC
Note:
Maafkan jika Kei mengingkari untuk mengupdate ff kei akhir minggu kemarin.
Beberapa hal yang membuat Kei merasa senang hingga merasa gila sepertinya.
Dan sebenarnya memang ada trouble juga dibalik kesenangan itu.
Untuk pengumuman yang Kei buat.
Kalian boleh kecewa dengan pengumuman kei lalu ttng like dan coment terbanyak. Dan kei janji akan update ffnya.
Tapi serius. Dibalik itu.
Kei tidak berniat hanya untuk mencari vote dan coment terbanyak.
Kei hanya ingin melihat respon kalian saja terhadap ff yang kei buat.
Selebihnya kei akan membiarkan kalian berfikir semau kalian.
Terimaksih selama ini masih mau membaca ff kei.
17/09/2019
