Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length : Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!

Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

Sebelum Luhan menaiki Bus yang akan mengantarkan dirinya menuju tempat kerja nya. Ia harus menunggu Bus tersebut sekitar lima sampai tujuh menit lagi. Luhan duduk di sebuah kursi tunggu disana. Bersama beberapa orang yang juga sama ikut menunggu bus dengan tujuan yang sama.

Sebuah mobil sport Lamborgini Huracan Performante Spyder berwarna putih mendekati halte Bus tempat Luhan menunggu Bus datang. Tak jauhdari halte mobil itu berhenti, dan keluarlah sosok pria tampat keluar dari dalam mobil keren itu. Seorang pria tampan dengan style jas berwarna hitam dengan sepatu hitam mengkilat. Potongan rambut yang rapi ke arah samping, dan wajah nan rupawan berjalan menghampiri Luhan yang sedang duduk tak memperhatikan orang-orang sekitar yang seakan terpikat dengan ketampanan yang dipancarkan oleh pria itu. Hingga begitu sadar Luhan melihat sepasang sepatu hitam berada tepat di depan kakinya berpijak sekarang.

Terlihat sekali Luhan sedang melamun hingga ia baru menyadari sepasang kaki bersepatu itu berhadapan langsung dengan sepasang kaki mungil miliknya yang juga menggunakan sepatu hitam baru miliknya. Sedikit menegang disekujur tubuhnya. Luhan takut-taku untuk mengdongak ke atas menyaksikan siapa gerangan orang yang sedang berdiri dihadapannya ini. Sedikit mengatur laju nafasnya yang sedikti memburu. Ia juga berusahan meneguk ludahnya bulat-bulat membasahi kerongkongan ternggorokannya yang terasa kering dengan tiba-tiba. Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya ke atas. Dan-

.

.

.


CHAPTER 16


.

.

.


Typo bertebaran~


Dan sesorang yang sedang berdiri dihadapan Luhan kali ini adalah pria tampan yang entah mengapa mampu membuat hatinya berdetak lebih cepat dua kali lipat dari biasannya akibat ketampanan juga pesonanya. Luhan sangat mengenali pria ini sebagai seseorang yang ia kenal dekat bahkan sekarang menjadi bos perusahaannya. Siapa lagi jika bukan Oh Sehun. Junior juga CEO perusahaan dimana Luhan bekerja. Manik rusanya yang cantik itu masih menatap ke arah wajah tanpan Sehun. Dengan mata berkedip-kedip seakan sosok pria dihadapannya ini hanyalah halusinasi saja. Setelah beberapa detik menatap lekat-lekat. Luhan akhirnya yakin bahwa pria dihadapnnya ini benar-benar nyata.

"Saja-.. Sehun. Apa yang kau lakukan disini?" Seperti permintaan sang CEO yang melarang keras Luhan memanggil dengan embel-embel Sajangnim saat mereka hanya berdua. Dengan sedikit terkejut Luhan reflek bertanya.

"Aku hanya kebetulan lewat sini, dan berhenti karena melihat mu." Jawab Sehun santai.

"Tapi, bukan kah rumah mu berlawanan arah dari daerah tempat tinggal ku?" Tanya Luhan bingung. Sehun kemudian mesejajari Luhan dengan duduk di kursi panjang tepat disamping Luhan duduk yang kebetulan kosong.

"Aku kan sudah bilang aku hanya kebetuan melewati jalan ini." Sehun tetap mengedepankan jawaban awalnya.

"Hem, baiklah-baiklah. Lalu apa yang kau lakukan sekarang?" Tanya Luhan lagi.

"Aku mau mengajak mu berangkat bersama." Jawab Sehun final.

"Tapi.. tapi-.." Luhan sedikit tidak suka dengan ide Sehun yang mengajaknya beragkat bersama. Tapi sebelum jawaban lain terlontar dari bibir si rusa cantik ini. Sehun sudah lebih dulu memotong kalimatnya.

"Kau tau aku tidak suka dibantah." Sehun menekankan kalimatnya. Dan terasa sedikit aura mengitimidasi yang dikeluarkan oleh Sehun.

"Hufh." Luhan mendengus sedikit sebal. Tapi tidak berani membantah Sehun.

"Ayo." Sehun dengan mudahnya menarik telapak tangan Luhan. Kemudian mnggandeng dan menggiringnya ke mobil Sehun yang terparkir tak tau malu di jalur yang tidak boleh parker sebenarnya.

Luhan hanya mempu pasrah mengikuti kemana Sehun menggandeng tangannya hingga mempersilahkan ia memasuki mobil yang super duper mahal ini. Membukakan pintu penumpang layaknya ia adalah seorang ratu yang sangat dijaga dan dihormati. Bahkan Sehun dengan telaten memasangkan sabuk pengaman di kursi Luhan. Jarak yang sangat dekat ketika Sehun memasangkan sabuk pengaman itu membuat Luhan dengan susah paying menahan nafas juga detak jantungnya yang menggila. Berharap Sehun tidak mendengar suara detak jantungnya yang memalukan.

Di sisih lain, Sehun yang sebenarnya tahu jika Luhan begitu gugup malah dengna kurang ajaranya mendekatkan dirinya saat memasangkan sabuk pengaman untuk Luhan. Dengan semirk yang tak ketara Sehun begitu senang bisa sedekat ini dengan Luhan. Meskipun keinginan untuk menyentuh hingga mendekap Luhan malah semakin besar karena jarak sedekat ini.

Meraka akhirnya pergi dari area Halte setelah sebelumnya Sehun menempatkan diri di kursi pengemudi. Dan melajukan mobilny dengan kecepatan yang bisa dikatanakan kencang untuk mobil kelas ini usai memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri. Sedangkan Luhan sebenaranya sedikit takut dengan laju mobil yang ia tumpangi bersama dengan Sehun kali ini. Tapi perasaan gugup itu masih menghinggapi dirinya. Hingga terlihat samar-samar telinganya sedikit memerah menahan malu.

.

.

.

.

.

Meraka berdua sampai di kantor hanya beberapa menit saja. Luhan sangat bersyukur karena kecanggungan segera saja diakhiri. Mereka turun dari atas mobil itu yang langsung saja dihadiahi oleh sorotan wajah kagum untuk CEO perusahaannya. Tapi begitu sengit untuk Luhan karena dengan terang-terangan Luhan kembali lagi datang ke kanto bersama dengan CEO mereka. Luhan yang ditatap dengan pangdangan mengitimidasi hanya menunduk saja. Sehun yang mengetahui aura tidak menyenangkan dari pandangan karyawan-karyawannya dengan segera menarik lengan Luhan dengan pelan. Usai menyerahkan kunci mobil itu pada petugas parkir di kantornya itu.

Mereka berjalan dengan Luhan yang mengekori Sehun tepat dibelakannya. Setelah Luhan meminta Sehun untuk melepaskan cengkraman tangannya dari lengannya. Sehun dengan sedikit tidak rela akhirnya menuruti keinginan Luhan. Hingga mereka memasuki lift, keduanya engga untuk berbicara apapun. Sebenarnya itu terjadi pada Luhan. Sedangkan Sehun, banyak hal yang ingin ia bicarakan terhadap Luhan.

Luhan terlebih dahulu keluar dari dalam lift itu setelah melihat nomor latai yang mereka tuju bersama. Keduannya memasuki ruang kerja itu dengan Sehun yang memperhatikan Luhan dari belakang. Terlihat gesture yang tidak bersemangat dari Luhan. Sungguh sangat berbeda dari yang ia temui pagi tadi. Apa ini karena kejadian di lobby kantor tadi? Pemikiran Sehun.

Keterdiaman itu berjalan hingga mereka duduk di kursinya masing-masing. Sehun masih setia mengawasi Luhan dengan mata tajam bak elangnya. Tapi pandangannya melembut hanya untuk Luhan. Bukan seperti pandangan yang ia tampilkan saat menghadapi rival kerjanya. Sedikit mengela nafas berat. Akhirnya Sehun berinisiatif memanggi Luhan ke hadapannya.

"Tilililit..tilililit.." Suara deringan telepon di meja Luhan.

"Ne, Oh Sajang-nim." Jika kalian tau, jarak antar meja Luhan dengan Sehun hanya berjarak 3 meter saja. Luhan memandang Sehun dari kursinya. Terlihat jelas sorotan mata tajamnya menatap tajam ke arahnya. Luhan yang saat itu sedang mengecek berkas akhirnya menghentikan aktifitasnya.

"Cepat datang kehadapan ku sekarang juga." Ingat, perintah Sehun tidak dapat diganggu gugat. Sehun masih tetap menatap Luhan tanpa berkedip.

"Ne, Oh Sajang-nim." Luhan menutup teleponnya usai meng-iya-kan perintah Sehun. Dengan satu tegukan ludah. Luhan berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah meja sang CEO.

.

.

.

.

.

Luhan berdiri tepat didepan meja sang CEO. Namun, Sehun malah memberi kode lewat mata dan gesture tubuhnya. Menyuruh Luhan untuk berpindah ke samping kursinya. Akhirnya Luhan berdiri di samping Sehun sekarang.

"Ada apa Oh Sajang-nim?" Luhan bertanya dengan pelan.

"…" Sehun tidak menjawab pertanyaan Luhan. Ia malah berdiri dari kursinya dan mendekat ke araha Luhan.

"App-pa yang kau lakukan, Sehun?" Luhan malah terkejut ketika Sehun malah berjalan mendekat dan memegang kedua pundak Luhan. Lalu menatap tajam dan mengintimidasi.

"Sebenarnya ada apa dengan mu, Hyung?" Sehun bertanya dengan tenang.

"Aku tidak.. tidak kenapa-kenapa." Jawab Luhan dengan gugup. Entah mengapa jantung Luhan kembali berulah. Dan di batinnya merasa begitu senang bisa sangat dekat dengan Sehun seperti ini. Sepertinya janin di perutnya ikut merasakan kebahagian yang entah Luhan tidak mengerti bagaimana mendiskripsikannya.

"Kau terus saja diam dan berubah tidak nyaman ketika berada di dekat ku sejak kita sampai di kantor. Sebenarnya apa yang sedang kau fikirkan?" Tanya Sehun tanpa berbelit-belit.

"Aku.. aku hanya merasa pandangan karyawan lain saat aku tadi berjalan bersama mu. Membuat ku tidak nyaman." Jawab Luhan sambil menunduk sedih.

Sehun yang mellihat gesture Luhan sedih. Dengan segera merrengkuh wajah nya dengan kedua telapak tangannya yang kokoh dan besar itu. Menyentuhnya dengan penuh kelembutan takut-takut wajah luhan akan remuk jika ia memegangnya dengan keras.

Luhan yang diperlakukan seperti itu sedikit terkejut dengan tindakan Sehun. Tubuhnya ikut menegang dengan tindakan yang dilakukan Sehun padanya. Mata rusanya hanya mampu mengerjap-ngerjap memandang kea rah wajah Sehun yang berada lebih tinggi darinya.

"Luhan hyung. Jangan pedulikan mereka. Kau hanya perlu mendengar ku saja. Kau mengerti?" Sehun menasehati dengan pelan.

"Ne, aku mengerti Sehun." Bagaikan alunan lagu. Nasehat Sehun seakan membuang kegundahan hatinya mengenai pandangan orang lain terhadapnya. Seakan kata-kata barusan menyihir dirinya untuk menjadi Luhan yang dulu. Luhan yang tidak peduli perkataan orang lain yang hanya bisa mencaci maki dirinya.

Keduanya hanyut menyelam ke dalam mata masing-masing lawannya. Hingga dengan reflex Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Entah dorongan dari mana Sehun mendekatkan bibirnya ke bibir ranum yang sedari tadi menggoda dihadapannya. Memangutnya dengan penuh kelembutan. Luhan yang seakan terhipnotis hanya mampu mengikuti alur Sehun sembari memejamkan sepasang mata rusanya. Sedangkan Sehun juga melakukan hal yang sama. Dengan memejamkan sepasang mata elang miliknya. Luhan menikmati pangutan bibir tipis milik Sehun diatas bibirnya. Hanya sebuah fresh kiss Luhan begitu terbuai hingga kesadarannya tiba-tiba saja kembali. Luhan seketika sadar dan membuka dan melebarkan matanya. Kemuadian kedua telapak tangannya terangakt dan menyelip diantara tangan Sehun yang masih memegangi wajahnya. Saat sampai di dada Sehun, Luhan segera mendorong Sehun hingga pangutan keduanya terlepas.

"Maafkan aku hyung." Sehun seketika sadar, jika tindakannya benar-benar salah kali ini.

"Aku.. aku akan ke kamar mandi." Tanpa menghiraukan permintaan maaf Sehun. Luhan dengan segera melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu menuju kamar mandi di luar.

"Aish. Aku benar-benar bodoh melakukan itu pada nya." Sehun menyesali perbuatannya barusan. Sampai-sampai ia menepuk-nepuk jidatnya sendiri sambil mengatakan "Oh Sehun, kau bodoh sekali" berulang kali.

Akhirnya ia memilih berjalan ke ruangan pribadinnya yang memang terletak tersembunyi di balik ruang kerjanya. Disana terdaat sebuah kamar tidur minimalis yang biasah ia gunakan untuk beristirahat. Juga sebuah kamar mandi pribadi. Sehun berjalan ke kamar mandi di ruangan pribadinya itu untuk membasuk mukannya. Entah mengapa kali ini Sehun merasa jika dirinya memang keterlaluan.

.

.

.

.

.

Luhan sampai di kamar mandi diluar ruangan itu. Dengan segera ia memasuki salah satu bilik kamar mandi, dan mengunci pintunya. Dia duduk di atas kloset sembari terbengong disana. Tangan kanan nya meraba bibirnya yang sedikit lembab. Mata rusanya menerawang jauh ke kejadian yang baru saja ia alami. Menikamati ciuman bibir yang dilayangkan oleh CEO nya yang juga merupakan juniornya di masa SHS bukanlah hal yang pernah dibayangkan Luhan sebelumnya. Semua terjadi begitu cepat. Bahkan, Ia bukannya langsung mendorong ketika Sehun dengan berani mencicipi bibir sucinya. Malah ia menikmati dengan apa yang Sehun lakukakn pada dirinya.

"Aish.." Luhan reflek menepuk jidatnya.

Ia benar-benar bodoh. Dalam kondisi seperti itu, hatinya malah berdetak tak karuan. Dan lagi, sepertinya bayi-bayinya malah merasa senang terbukti dari menghangatnya relung hatinya.

Sekali lagi Luhan termenung memikirkan kejadian barusan. Pipi nya memerah hingga menulari sepasang telinganya. Dia masih dengan berguman tak jelas dan merutuki kebodohannya. Hingga tak terasa ia sudah lama berada di kamar mandi ini ketika ia melirik jam yang meingkar apik di pergelangan tangan kanannya. Sudah hampir setengah jam ternya ia berada di dalam sana. Akhirnya ia beranjak dari bilik kamar mandi menuju ke wastafel untuk mencuci wajahnya sebelum kembali ke ruangan itu.

.

.

.

.

.

Kacanggungan berlansung lama. Karena terang saja jam kerja baru saja di mulai sekitar dua jam yang lalu. Dan masih ada sekitar 3 jam lagi waktu istirahat baru akan dimulai.

Sehun keluar dari ruangan itu dengan gugup. Beruntung Luhan sepertinya belum kembali. Terlihat mejanya yang masih kosong. Dengan lega ia berjalan ke arah mejanya sendiri. Ia mulai melakukan aktifitasnya kembali mengecek bebrapa berkas dan mengecek bahan presentasi untuk rapat nanti siang setelah makan siang. Rapat nanti siang sedikit membuatnya sedih karena ia tidak akan bisa melihhat Luhannya bekerja didekatnya. Karena memang jabatan untuk Luhan adalah sekertaris pribadi nya. Yang sebenarnya adalah alasan agar Luhan berada pada jangkauan Sehun. Untuk itu tak banyak juga tugas yang harus Luhan kerjakan untuknya.

Tak lama pintu itu terbuka. Memperlihatkan Luhan yang berjalan tenang menuju ke meja. Saat melihat Luhan yang memasuki ruangna hingga ia dudu di kursinya. Sehun tetap mengawasi dalam diam. Takut-takut ia melakukan hal-hal yang lebih buruk dari apa yang ia lakukan barusan. Sedangkan Luhan kembali mengecek berkas yang sempat tertunda untuk diperiksa.

"Eherm." Sehun berdehem memecah kesunyian.

"…" Luhan masih fokus ke map yang ia pegang.

"Hyung." Sehun denganpelan memanggil namanya.

"…" Luhan masih berkutat membaca berkas di tangannya.

"Hyung, tolong maafkan tindakan tak tahu malu ku tadi yang men-…." Belum selesai Sehun mengucapkan kalimatnya. Luhan sudah terlebih dahulu memotongnya.

"Sehun. Aku mohon jangan membahanya lagi, ne!" Lebih ke penekanan. Luhan merasa malu untuk membahasnya.

"-cium mu (Suaranya mengecil). Tapi Hyung." Sehun hendak protes.

"…" Tapi dengan segera Luhan melemparkan pandangan rusa tajam yang terkesan menakutkan menurut Luhan.

"Baiklah aku tidak akan membahasnnya. Jadi maafkan aku yang telah lancang… menciummu (suara mengecil di bagian akhir)." Sehun kembali meminta maaf. Tapi mulutnya tetap lancang mengatakan kalimat yang membuat Luhan kesal.

"Sehun." Reflek Luhan sedikit meninggikan suarannya saat Sehun mengatakan kata "cium". Luhan kembali melemparkan delikan tajam.

"Ne, hyung. Aku tidak akan mengatakannya lagi." Sehun menahan gemas melihat ekspresi kemarahan Luhan. Karena delikan tajam si rusa betina ini bukannya membuat Sehun takut. Ia malah merasa gemas sekali. Tapi Sehun harus menahannya. Karena takut-takut Luhan akan bertindak anarkis.

.

.

.

.

.

Beberapa jam telah terlewati. Waktu makan siang juga telah tiba. Luhan segera pamit untuk makan siang di kantin kantor. Hari ini ai ada janji dengan Baekhyun. Segera saja usai membereskan mejannya. Ia segera beranjak dari sana. Dengan mode diam, ia berdiri dan hendak berjalan keluar dari ruangan itu. Sehun yang melihat itu segera memanggil Luhan.

"Luhan hyung. Apakah kau mau makan siang?" Tanya Sehun basa-basi.

"Tentu." Jawab Luhan singkat dan padat tanpa menoleh ke Sehun. Sepertinya Luhan sengaja menghindari Sehun.

"Em, bolehkah aku ikut makan siang dengan mu?" Tanya Sehun pelan. Entah mengapa Sehun menjadi tak tahu malu begini. Tapi dia malah merasa senang.

"Tapi, aku akan makan di area kantin kantor, Hunnah." Jawab Luhan tegas.

"Tidak masalah. Aku juga ingin mencoba makanan disana." Entah mengapa Sehun malah terdengar senang ketika Luhan memanggil nama nya seperti itu.

"Terserahlah kalau begitu." Jawab Luhan dengan malas.

"Kalau begitu ayo pergi." Sehun dengan segera bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Luhan sembari mengajak Luhan berangkat ke kantin karyawan sekarang juga.

Luhan hanya bisa mengela nafas dalam-dalam dan berjalan mengekori Sehun. Sehun sepertinya semangat sekali. Karena ini adalah hal yang baru bagi dirinya. Dia bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di kantin kantor sama sekali. Ia hanya tau letak tempat itu. Tapi tak pernah sekalipun ia mencoba makan disana. Entah hari ini kenapa dia malah mau mengikuti Luhan makan disana. Di tempat yang tidak pernah ia datangi.

.

.

.

.

.

Mereka berdua sampai di kantin kantor. Terlihat beberapa karyawan sedikit terkejut melihat kedatangan CEO mereka yang tak pernah sama sekali menginjakkan kaki di tempat ini. Sedangkan Luhan bertambah kesal ikut menjadi perhatian. Salah seoorang meneger personalia menghampiri Sehun dan mengajak ngobrol sembari menjadi tour gaet dadakan. Luhan yang melihat Sehun dikerubungi banyak orang. Memanfaatkan situasi dengan menyelinap menjauh dari Sehun.

Akhirnya ia bisa terbebas dari Sehun untuk sejenak. Ia segera mengambil nampan makannya dan mengisi makanan ke atasnya. Entah karena lapar atau dia memang sedang kesal. Luhan mengambil nasi dan beberapa lauk ke dalam nampannya dengan seenaknya. Tanpa mempedulikan seberapa banyak ia menuangkan nasi dalam nampannya. Usai mengambil makan siannya. Mata rusanya mengedarkan pandangan ke segala arah mencoba mencari tempat yang sedikit sepi. Dan kebetulan seseorang yang memang telah membuat janji untuk makan siang bersama menyapannya dan meminta Luhan untuk duduk bersama.

"Luhan Hyung. Disini." Teriak Beakhyun yang tak sama sekali mengganggu orang-orang disekitarnya.

"Ne." Luhan yang mengerti langsung berjalan ke arah Baekhyun.

.

.

.

.

.

Luhan sampai di bangku panjang yang hanya di isi dengan dirinya dan Bekhyun saja di sini. Dan letaknnya sedikit berada di pojok juga jauh dari keramaian. Mereka bisa makan dan mengobrol dengan tenang berada disini.

"Akhirnya aku bisa makan siang bersama lagi dengan mu, Hyung." Baekhyun begitu senang karena bisa makan siang bersama Luhan seperti sebelumnya.

"Aku juga senang bisa makan siang bersama mu lagi, Baekhyunnie." Jawab Luhan dengan semangat.

"Kalau begitu ayo makan dulu hyung." Seru baekhyun.

"Ne, selamat makan." Luhan menimpali.

.

.

.

.

.

Disisih lain. Sehun mengedarkan pandangannya. Ia kehilangan jejak Luhan. Padahal ia hanya berbicara dengan manager personalia sebentar. Ia di arahkan menuju ke area pengambilan makanan oleh manager personalia. Sehun sedikit ragu dengan makanan-makanan yang disediakan. Untuk menutupi kegugupannya. Sehun tetap harus bertindak tegas dan menunjukkan wibawanya. Akhirnya ia mengambil nampan dan menyodorkan kepada para koki untuk mengisi nampan makannya itu dengan nasi dan beberapa lauk, juga pencuci mulut. Karena yang datang hari ini adalah CEO perusahaan. Koki sedikit menyiapkan menu makanan yang berbeda dari karyawan yang lain. Meskipun sejujurnya Sehun tidaklah berminat dengan makanan ditempat ini.

Usai mengisi napan makannya. Manager personalia mengajak Sehun untuk makan bersama menager-manager yang lain di bangku depan sana. Tapi Sehun menolak halus usulan manager personalia tersebut. Sehun mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menemukan Luhan. Dan ia melihat gesture namja rusa kesayangan itu berada di sebuah angku dengan seorang pria mungil sama seperti Luhan di pojok ruangan dan tak terlalu ramai. Akhirnya Sehun pamit dari manager personalia dam berjalan menuju kea rah Luhan.

.

.

.

.

.


TBC


Note:

Hai. Aku tidak tau akan menulis pesan apa.

Hanya berharap kalian masih bersedia membaca ceritaku ini.

Terimakasih pada salah satu author HunHan yang kapan hari saling menyemangati.

Today Is Friday


11/10/2019