Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length : Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!

Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

Disisih lain. Sehun mengedarkan pandangannya. Ia kehilangan jejak Luhan. Padahal ia hanya berbicara dengan manager personalia sebentar. Ia di arahkan menuju ke area pengambilan makanan oleh manager personalia. Sehun sedikit ragu dengan makanan-makanan yang disediakan. Untuk menutupi kegugupannya. Sehun tetap harus bertindak tegas dan menunjukkan wibawanya. Akhirnya ia mengambil nampan dan menyodorkan kepada para koki untuk mengisi nampan makannya itu dengan nasi dan beberapa lauk, juga pencuci mulut. Karena yang datang hari ini adalah CEO perusahaan. Koki sedikit menyiapkan menu makanan yang berbeda dari karyawan yang lain. Meskipun sejujurnya Sehun tidaklah berminat dengan makanan ditempat ini.

Usai mengisi napan makannya. Manager personalia mengajak Sehun untuk makan bersama menager-manager yang lain di bangku depan sana. Tapi Sehun menolak halus usulan manager personalia tersebut. Sehun mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menemukan Luhan. Dan ia melihat gesture namja rusa kesayangan itu berada di sebuah angku dengan seorang pria mungil sama seperti Luhan di pojok ruangan dan tak terlalu ramai. Akhirnya Sehun pamit dari manager personalia dam berjalan menuju ke arah Luhan.

.

.

.

.

.

"Hyung, aku ingin menagih janji cerita mu hari ini mengenai bagaimana kau bisa diangkat menjadi seorang sekertaris pribadi CEO perusahaan ini dan bagaiamana kau bisa mengenalnya?" Tanya Baekhyun.

.

.


CHAPTER 17


.

.

.

Typo bertebaran~

Belum sempat Luhan menimpali pertanyaan Baekhyun. Seseorang lebih dahulu mendudukkan diri tepat sebelah Luhan. Dan Baekhyun seketika berhenti mengarahkan sendok makan miliknya dengan sebuah lauk diatas nasinya. Saat pandangan matanya menangkap orang yang paling disegani di perusahaan ini. Tak lain dan tak bukan adalah Oh Sehun. Si CEO perusahaan ini.

Keterdiaman Baekhyun yang tiba-tiba membuat reflek Luhan menengok ke samping kirinya dan mendapati seseorang yang mengekorinya kesini tadi memilih duduk disebelahnya. Ketimbang duduk bersama manager-manager yang juga berada disana untuk makan siang.

Dengan sedikit kesal karena sehun malah duduk disampingnya. Sedangkan hampir seluruh mata tertuju pada keduanya yaitu Baekhyun dan Luhan. Dia dengan santainya berkata, "Mengapa kalian menghentikan acara makan siangnya?" ke seluruh staf yang tertegun melihat pemandangan yang bahkan tak pernah mereka bayangkan akan berhadapan langsung dengan CEO perusahaan tempat mereka bekerja. Apalagi bisa makan ditempat yang sama. Sungguh suatu keberuntungan bagi mereka. Namun begitu sial bagi Luhan. Karena orang-oran pasti akan berfikir macam-macam.

Sedangkan si pembuat heboh acara makan siang itu dengan santai berdehem dan mengatakan, "Aku harap kedepannya kalian tidak akan terkejut mendapati ku makan siang disini. Jadi selamat makan!" Seru Sehun dengan santai.

Baekhyun bahkan tidak mampu berkata-kata apapun. Sehun yang melihat dan mengamati orang seperti apa yang memiliki janji makan siang bersama Luhan nya disini. Dan ternyata seorang namja yang tak lebih cantik tapi cukup sama-sama manis seperti Luhan nya. Sedikit geli sebenarnya. Ketika Sehun memfokuskan memandang balik pandangan Baekhyun. Seketika Baekhyun tertunduk malu dan juga sedikit tegang juga grogi.

"Ah, jadi ini teman yang tadi kau ceritakan Lu?" Entah kata-kata itu meluncur saja dengan apik dari bibir Sehun.

"Ne Oh sajangnim. Ini Baekhyun. Sahabat baru ku." Luhan menjawab dengan singkat dan jelas.

Sehun kemudian menyapa Baekhyun yang sedang duduk tepat dihadapannya. Sedangkan Luhan melanjutkan makan siang yang tertunda. Bahkan ia malah terkesan sebal sekali dengan pria disebelahnya ini yang mengganggu ketenangan makan siangnya dengan Baekhyun. Sedangkan orang yang ditatap Sehun masih menunduk takut-takut ia melakukan hal bodoh yang bisa mengancam pekerjaannya.

"Hai, jadi nama mu Baekhyun?" Sapa Sehun seramah mungkin yang terkesan garing.

"Ah, ne Oh sajangnim. Nama saya Baekhyun. Sahabat Luhhan hyung." Dengan gugup dan sedikit terbat-bata Bakhyun memperkenalkan dirinya pada sang CEO.

"Kalau begitu sebaiknya lanjutkan makan siang mu, Baekhyun." Pinta Sehun dengan nada santai baginya, namun terkesan memerintah untuk orang lain.

"ne, sajangnim. Anda juga. Selamat makan." Baekhyun sedikit canggung memakan sesendok nasi beserta laukna yang sempat tertunda masuk mulut cerewetnya.

Sehun juga iku memakan makan siangnya. Sepasang mata tegasnya itu melihat nampan makannya yang penuh dengan makanan lezat juga kompllit. Kemudian ia melirik ke nampan makan milik Luhan yang terkesan bisah saja. Entah kenapa ia meresakan sangat di istimewakan disini. Sebelum ia sempat menyendokkan sesuap nasi kedalam mulutnya. Ia lebih dulu memindahkan lauk-lauk yang menurutnya berlebihan itu juga beberapa buah pencuci mulut itu ke nampan Luhan.

Luhan menghentikan pergerakan sendok beserta sumpit yang ia pegang. Saat mendapati sumpit dan sendok Sehun berpindah meletakkan beberapa daging juga telur gulung ke atas nampan makan Luhan beberapa kali. Seketika Luhan tertegun melihat Sehun dengan santai nya memberikan lauknya ke atas nampan makannya. Hingga Sehun sadar jika Luhan telah berhenti dari aktifitas mari memasukkan nasi dan lauk itu kedalam mulut. Dan berakhir menangkap raut wajah Luhan yang memandangnya seakan bertanya "mengapa kau melakukan ini?".

Sehun dengan canggung tersenyum ke arah Luhan dan berkata," Lauk ku sangat banyak. Aku tidak bisa menghabiskannya sendirian. Jadi aku memberikannya pada mu. Jadi cepat makan yang banyak."

Baekhyun yang berada dihadapannya mereka berdua bertambah penasaran dengan hubungan sahabta barunya itu dengan sang CEO. Tapi mulutnya benar-benar ia jaga karena takut ia akan berkata tidak-tidak dan terancam dipecat karena mulut nya yang blong jika sedang bicara.

Sepuluh menit kemudian mereka selesai menghabiskan makan siang bersama. Tidak ada pembicaraan apapun selain sapaan Sehun dan perkenalan Baekhyun. Karena jelas saja mereka sangat canggung sekali. Bahkan Baekhyun tidak jadi menanyakan tentang hal yang sempat tadi dia tanyakan. Luhan pun memberikan ekspresi code pada Baekhyun jika ia tidak bisa bercerita sekarang. Dan Baekhyun memaklumi hal itu karena memang kondisinya yang tidak berada di tempat yang baik untuk bercerita.

Kecanggungan itu akhirnya berakhir tak kala jam makan siang sudah selesai. Dan mereka harus kembali bekerja ke tempat masing-masing.

"Kalau begitu, saya permisi Sajangnim." Baekhyun lebih dahulu undur diri dengan sopan. Dan hanya ditanggapi dengan anggukkan.

Usai Baekhyun meninggalkan tempat itu. Sehun berseru pada Luhan. "Sebaiknya kita kembali ke ruangan ku, Luhan." Yang ditanggapi dengan sopan oleh Luhan, "Ne, Sajangnim."

.

.

.

.

.

Suasana sedikit canggung juga risih dirasakan Luhan. Karena lagi-lagi pandangan orang-orang seperti menghujam langsung padanya. Hingga mereka berdua sampai di ruangan Sehun.

"Sepertinya kau tidak nyaman sekali berjalan dengan ku, Luhan hyung?" Di ruangannya Sehun kembali memanggil Luhan dengan embel-embel hyung lagi.

"Aku hanya merasa tidak nyama, sajangnim." Dengan sedikit merunduk Luhan sepertinya memang tidak nyaman sesuai apa yang ia katakana barusan.

"Hyung. Dengarkan aku." Sehun mendekat dan meraih pundah sempit Luhan dengan kedua tangan besarnya apda sisi kanan dan kiri pundak Luhan.

"…" Luhan terdiam mendongak kea rah wajah Sehun juga soraotan mata tegas Namja di hadapnnya ini.

"Kau tidak harus peduli dengan mereka yang menatap mu seperti itu. Kau disini bekerja, karena aku yang memilih mu bekerja disini. Mungkin mereka merasa iri dengan mu. Karena kau bisa bekerja dengan ku secara langsung seperti ini." Sehun dengan tatapan tajam juga kalimat menenangkannya berhasil membuat Luhan merasa lebih lega dan aman. Entah perasaan seperti apa itu yang ikut menghangat di dadanya.

"…" Luhan mencerna setiap kata-kata Sehun.

"Jadi kau tidak perlu takut lagi dengan mereka. Aku akan melindungi mu jika mereka berbuat macam-macan pada mu." Sehun masih menyakinkan Luhan. Yang dibalas dengan anggukan kecil dari Luhan tanda ia percaya pada Sehun.

.

.

.

.

.

Usai mengobrol singkat dengan Sehun. Luhan ingat jika ini waktunya ia harus meminum vitamin juga susu nya. Sedikit menyela pembicaraan dengan sopan. Sehun yang saat itu masih berdiri di hadapannya seketika terdiam memperhatikan Luhan.

"Em, Sajangnim. Aku ingin ke dapur sebentar untuk mengambil air. Apakah Sajangnim ingin dibuatkan minuman juga?" Luhan berujar dengan sopan.

"Ah, kalau begitu buatkan aku secangkit kopi hitam." Reflek Sehun meminta dibuatkan secangkir kopi hitam.

"Sajangnim. Kopi itu tidak baik di minum terlalu sering. Apalagi pagi tadi anda sudah meminum kopi hitam. Itu tidak baik untuk lambung mu. Bagaiman kalau segelas cappucino cream dingin?" Tawar Luhan.

"Begitukah? Kalau begitu buatkan aku cappucino cream dingin." Sehun menyetujui usulan Luhan.

"Kalau begitu saya permisi sebentar." Luhan bergegas kedapur yang berada di dekat ruangan itu.

Sambil menenteng sebuah tas kecil ditangan kurusnya. Luhan berjalan menuju ke pintu ruangan ini untuk keluar dan berjalan menuju dapur. Sedangkan sepasang mata tajam sedari tadi masih terus mengawasi hingga Luhan menghilang dibalik pintu itu. Usai Luhan benar-benar menghilang dari balik pintu itu. Sehun kembali melanjutkan kegiatannya membaca beberapa document yang memang harus ia tandatangani.

.

.

.

.

.

Luhan sampai di ruangan dapur yang berada tepat dibalik ruangan Sehun. Ia segera saja menggeser dirinya menuju ke sebuah pantry yang sudah tersedia sebuah dispentser tertata apik di atas sana. Dengan lincah tangannya membuka sipper tas kecil yang ia bawa kemudian ia mengeluarkan beberapa botol dari salam sana. Lebih tepatnya dua botol kecil yang jelas saja itu berisikan vitamin yang tentu saja untuk kandungannya. Selama ia hamil sampai sekarang, Luhan sangat merasa beruntung karena bayi-bayi dalam perutnya tidak sama sekali merepotkan atau membuatnya tersiksa.

Ia segera mengeluarkan beberapa butir vitamin yang memang harus ia konsumsi setelah makan. Juga menyeduh susu hamil rasa coklat kesukaannya ke dalam botol minum yang memang biasah ia bawa. Sesekali tangan lincahnya itu meraci sebuah minuman untuk Sehun juga. Tangan licah miliknnya itu meraih sebuah gelas kosong yang memang berada di atas nakas sana. Mengisinya dengan air putih kedalam gelas bening itu. Kemudian mulai menenggak cua butir vitaminnya juga menghabiskan air putih itu hingga kandas. Usai meminum vitamin itu, segera menyelesaikan untuk membuat cappuccino juga susu dalam botolnya. Kemudian ia segera bergegas kembali kerusang kerjanya. Sembari menyampirkan tas kecil milinya berisi vitamin dan botol minumnya. Sedangkan kesua tangannya membawa segelas cappuccino yang telah di beri beberapa balok ice untuk Sehun.

.

.

.

.

.

Luhan sampai di ruangan Sehun kembali. Dengan segera Luhan menempatkan gelas berisi cappuccino cream di atas meja sang CEO. Dengan senang hati Sehun menerima minuman buatan Luhan dan segera mencicipinya. Sedangkan Luhan kembali ke meja kerjanya. Ia mendudukkan dirinya di kursi yang memang ia gunakan untuk bekerja di dalam kantor ini. Sembari sesekali mulut mungil nya menyeruput susu hamil yang memang ia buat tadi. Luhan selalu memperhatikan kebutuhan dan nutrisi untuk bayi-banyinya lewat makanan yang ia konsumsi. Dari itu Luhan juga rutin meminum vitamin dan susu yang sudah dianjurkan Yixing. Sekalipun sibuknnya pekerjaan Luhan. Luhan tidak boleh lalai dengan kondisinya sekarang.

.

.

.

.

.

Di tempat lain. Suho sampai di lokasi perbukitan dekat dengan pegunungan Alpen dimana lokasi ini bernar ditemukan bangkai kapal. Lokasi yang sulit dijangkau membuat Suho juga rombongan investigasi sedikit kesulitan menuju kesana. Dan benar saja, pesawat itu hanya tersisa puing-puing saja tanpa menyisakan satu petunjukpun tentang korban meninggal atau selamat. Karena nyaris pesawat itu terbakar dan menjadi puing-puing kecil saat pertamakali ditemukaan.

Berdasarkan investigasi itu. Dinyatakan pilot, seluruh awak kapal juga penumpang tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Suho benar-benar syok menghadapi hal tersebut. Ia bahkan seakan tak memiliki tenaga lagi setelah menyaksikan langsung bangkai pesawat itu. Beruntung temannya yang lebih dulu berada di lokasi menguatkannya.

Suho memang segera bergegas kesana setelah hampir sepuluh jam menaiki pesawat terbang menuju ke lokasi ditemukannya bangkai kapal itu. Hasil yang benar-benar nihil untuk menemukan tanda-tanda kehidupan disana. Suho mencoba tegar menghadapi kenyataan jika dokter Jung Il Woo merupakan seorang professor juga seorang ilmuan yang merangkap sebagai dokter kepala dalam banyak penelitiannya dalam bidang rekayasa genetikadan eberapa ilmu ilmiah lainnya. Juga seorang rekan kerja yang merangkap sebagai seorang ayah bagi Suho. Kini benar-benar telah pergi.

.

.

.

.

.

Hari ini suasana kantor benar-benar sibuk. Luhan yang mulai terbiasah dengan pekerjaan barunya sebagai sekertaris pribadi Sehun. Sanggup mengimbangi kesibukan sang CEO. Meskipun sebenarnya Luhan tidak menghandel banyak pekerjaan secara langsung dikarenakan ia adalah pekerja baru. Atau bisa dibilang Luhan bekerja sebagai sekertaris pribadi adalah karena permintaan Sehun sendiri. Seperti tidak tau saja jika Sehun ingin kembali dekat dengan Luhan nya. Ups.

Selama seminggu kedepan Luhan akan benar-benar sibuk. Ia bahkan tidak pulang ke rumah karena harus melakukan perjalanan dinas yang tentunya bersama Sehun. Sedangkan Yixing memang sudah seminggu ini pergi menyusul Suho ke Jerman. Yixing pergi kesana karena memang ada beberapa hal yang harus ia selesaikan terkait dengan penelitian professor Jung. Lain halnya dengan Luhan, karena ini pertamakali ia harus melakukan perjalanan dinas apalagi ini berada di China yang tentu saja ia harus melakukan penerbangan.

Jika kalian tau, Luhan itu phobia terhadap ketinggian. Sehun jadi merasa cemas melihat Luhan yang memasang wajah pucat. Berulang kali Sehun mencoba mengusir rasa cemas Luhan lewat kata-kata yang menenangkan. Luhan berangsur-angsur membaik. Tapi jujur kecemasan itu juga berimbas pada bayi-bayi nya yang ikut merasakan kecemasan sang eomma. Terlihat berkali-kali akhirnya Luhan mengalami mual yang mengharuskannya bolak-balik kursi tunggu dengan toilet. Sehun bahkan ikut mengekori Luhan sampai di toilet. Sedangkan sekertaris Kim hanya tersenyum melihat Sehun yang secemas itu dengan kondisi Luhan.

Usut punya usut, sekertaris Kim sepertinya tahu mengenai perasaan lain CEO nya itu pada sekertaris pribadinya itu. Bagaiamana ia tidak curiga jika dengan tiba-tiba Sehun menyuruhnya memanggil Luhan dan memberikan posisi penting dan berada dekat sekali dengan jangkaunnya secara tiba-tiba. Apalagi dengan tak main-main CEO nya itu bahkan memberikan jabatan penting yaitu sekertaris pribadi untuk Luhan. Padahal sekertaris Kim tau jika Luhan adalah pekerja baru di perusahaan mereka. Tapi selama hampir satu bulan ini, sekertaris Kim melihat banyak perubahan dari CEO nya ini. Atau bisa dibilang Sehun itu adalah sahabatnya. Ia mengenal Sehun sejak kuliah di Amerika beberapa tahun yang lalu.

Sehun adalah orang yang dingin bahkan tidak peduli pada kondisi sekitarnya bisa berubah banyak karena adanya namja mungil yang sedang dirangkul Sehun di ujung sana. Yaps. Sepertinya Luhan baru selesai dari kamar mandi dibantu Sehun yang merangkul pundaknya dengan berjalan pelan. Dulu bahkan ia tak akan peduli dengan orang yang terjatuh tepat di depannya. Namun kali ini terlihat begitu berbeda. Bagaiamana Sehun memberi perhatian pada Luhan dengan berlebihan menurut sekertaris Kim. Dari itu saja sekertaris Kim sudah bisa menebah isi hati sang CEO nya ini. Dan lihatlah sekarang, bahkan Sehun terlihat layaknya seorang suami yang menjaga sang istri agar tetap berjalan dengan baik tanpa melepaskan sedikitpun rangkulan tangan besarnya di pundak sempit itu. Takut-takut jika Sehun melepaskannya, maka Luhan tak akan sanggup berjalan dan jatuh karena tak kuat menopang berat beban tubuhnya. Sekertaris Kim hanya tersenyum melihat kehangatan kedua orang ini tanpa ingin membuat mereka tidak nyaman dengan spekulasi pemikiriannya.

.

.

.

.

.

Sehun sedikit cemas dengan kondisi Luhan. Bahkan secara langsung ia melihat Luhan bolak-balik dari kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Hingga Sehun benar-benar tak tega melihat Luhan yang sedikit pucat. Hingga menyuruhnya agar sebaiknya tidak iku perjalanan dinas kali ini. Yang mendapat penolakan keras dari Luhan sendiri. Karena bagi Luhan ini adalah pengalaman pertama menjadi seorang sekertaris pribadi Sehun dan ikut dalam perjalanan dinasnya. Sehun akhirnya mengiyakan keinginan Luhan untuk tetap iku perjalan dinas kali ini yaitu ke China.

.

.

.

.

.


TBC


Note:

Tidak ada yang special hari ini. Aku hanya ingin menulis saja.


14/12/2019