Tittle : Little Sunshine
Author : Keiko Yummina
Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12
Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family
Length : Chaptered
Rated : M (Mecum)
WARNING! YAOI, M-PREG
Bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!
…
Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!
Previous
.
.
.
Sehun sedikit cemas dengan kondisi Luhan. Bahkan secara langsung ia melihat Luhan bolak-balik dari kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Hingga Sehun benar-benar tak tega melihat Luhan yang sedikit pucat. Hingga menyuruhnya agar sebaiknya tidak ikut perjalanan dinas kali ini. Yang mendapat penolakan keras dari Luhan sendiri. Karena bagi Luhan ini adalah pengalaman pertama menjadi seorang sekertaris pribadi Sehun dan ikut dalam perjalanan dinasnya. Sehun akhirnya mengiyakan keinginan Luhan untuk tetap iku perjalan dinas kali ini yaitu ke China.
.
.
.
CHAPTER 18
.
.
.
Typo bertebaran~
Mereka akhirnya sampai di bandara Internasional China. Jika kalian tau jika sepanjang perjalanan tadi Sehun selalu senantiasan memperhatikan Luhan. Entah kenapa phobia Luhan begitu parah selama perjalanan tadi. Tak henti-hentinya Sehun menggenggam tangan Luhan selama perjalanan. Bahkan Luhan sendiri tak sedikit pun ingin melepaskan tangan Sehun. Wajahnya sedikit pucat dan berkeringat dingin saking takutnya. Tapi ia masih sanggup memberikan senyum dan meyakinkan Sehun jika dirinya baik-baik saja. Sehun hanya mampu memberikan ekspresi khawatirnya selama perjalan berlangsung.
Dan saat dipesawat tadi Sehun memberikan usapan dikepala Luhan. Beruntung usapan lembut dikepalanya itu mampu membuat Luhan benar-benar jatuh tertidur. Mereka sudah seperti pasangan suami istri. Terlihat sekali pancaran cinta dari sepasang mata tajam itu untuk peria yang tengah dielusnya. Dan aku ingatn lagi jika ini adalah pesawat pribadi milik keluarga Oh. Jadi jangan ditanya lagi seberapa nyaman pesawat ini untuk dinaiki.
Mereka sampai di negara tirai bambu itu saat hari telah mengijak sore. Karena benar saja mereka berangkat tadi siang dari Korea. Luhan yang terlelap itu begitu cantik dimata Sehun. Sepasang alis tipis juga bulu mata yang lentik menghiasi sepasang mata rusa yang sedang terpejam itu. Hidung mungil yang cocok sekali dengan wajahnya mungilnya. Sepasang pipi yang terlihat menggembil itu dan terlihat menggemaskan untuk ia gigit. Juga sebuah bibir yang berwarna merah natural dan terlihat menggoda untuk ia kecup. Bahkan bibir itu sedikit terbuka.
Sepasang mata tajam itu terhenti menatap lurus kearah bibir si rusa tidur ini. Jantungnya berdetak dengan keras. Bahkan nafasnya seakan tersendat membayangkan terakhir kali ia mencicipi bibir ini karena ia sangat tergoda. Mungkin akan selalu tergoda. Dan sekali lagi dengan ketidak warasan otaknya ia mengulangi kesalahan yang sama. Dengan mengecup, menjilat bahkan menghisap bibir merah itu yang telah menjadi candu baginya.
Dengan penuh perasaan yang membucah Sehun melumat bibir itu dengan pelan. Sang rusa bahkan tak terlihat tergangu sama sekali atas tindakan kurang aja pria dihadapannya ini. Yang sedang asik menikmati betapa manisnya bibir merah ini. Kegiatannya harus terhenti saat mendengar ketukan pintu yang mengitrupsi kegiatan Sehun. Ia menghentikan acara mencicipi bibir manis itu.
"Oh sajangnim. Kita sudah sampai dibandara." Seru seseorang dari luar pintu.
Sehun memang membawa Luhan masuk kedalam ruangan pribadi di pesawat ini. Mendengar instruksi dari sekertaris Kim. Membuat Sehun menoleh ke arah pintu dan menjawab seruan sekertarisnya itu.
"Sebentar lagi aku akan keluar." Sahutnya.
"Kalau begitu saya tunggu diluar, Oh sajangnim." Sekertarisnya permisi terlebih dahulu.
Sehun kembali mengarahkan pandangannya ke arah Luhan. Ia melihat Luhan yang masih terlelap dengan sedikit bibir yang berantakan karena ulah kurang aja Sehun. Tangannya segera meraih sebuah sapu tangan yang biasa ia bawa di sakunya. Kemudian mengelap sudut bibir Luhan yang sedikit berantakan itu. Rusa tidur ini sama sekali tidak terusik sepertinya. Sehun jadi takut sendiri jika rusa ini pergi sendirian dan tertidur layaknya orang mati seperti ini. Bisa-bisa Luhan bisa mendapatkan pelecehan seperti yang baru saja Sehun lakukan. Atau yang paling sadis adalah kasus penculikan. Karena Luhan yang saat ini tengah tertidur ini malah menampilkan wajah bocahnya. Sepertinya lain kali Sehun benar-benar tak akan membiarkan Luhan pulang sendirian.
Sehun berinisiatif membangunkan rusa itu. Sedikit memanggilnya pelan dan mengguncang pundaknya. Sehun mencoba membangunkan Luhan.
"Luhan. Luhan. Bangun. Kita sudah sampai." Etah semenjak kapan Sehun tak lagi memanggil Luhan dengan embel-embel hyung dibelakang namanya.
"Hoah.. Kita sudah sampai?" Sambil mengusap kedua matanya dan juga menguap.
"Iya, kita sudah sampai. Ayo turun." Jawab Sehun.
"Hem.." Iya menganggukkan kepala. Sembari melepaskan sabunk pengamannya.
Mereka turun dari pesawat dengan Sehun yang kembali menggandeng Luhan saat berjalan. Bukan karena apa Sehun kembali menggandeng Luhan. Tapi Luhan yang masih dalam mode mengantuknya ini. Membuat Sehun khawatir kalau-kalau Luhan akan tersangdung dan jatuh jika ia tidak mengandengnya. Luhan selaku orang yang digandeng hanya mau-mau saja. Sedangkan sekertaris Kim mengekori keduannya tepat dibelakang mereka.
Di arah depan sana sudah tersedia supir yang menunggu kedatangan mereka semua. Ketiganya akhirnya diantarkan menuju rumah tinggal yang tentunya milik Sehun. Mata Luhan yang seakan tak mau berkompromi untuk terjaga. Kembali tertidur dengan berbantalkan pundak Sehun. Sehun yang sedikit terkejut ketika merasakan ada seseorang yang menumpangi pundaknya pun reflek menoleh ke sebelahnya. Dan disana ia kembali tersenyum melihat Luhan yang kembali jatuh tertidur. Sepertinya Luhan benar-benar kelelahan karena kesibukan kantor akhir-akhir ini.
Mereka sampai di rumah yang tidak bisa dianggap sederhana ini. Rumah ini memang tak sebesar rumah miliknya di Seoul. Tapi masih cukup besar untuk rumah bagi kalangan orang biasah. Sehun yang merasa kasian melihat Luhan yang sepertinya sungguh kelelahan akhirnya memutuskan menggendong Luhan ala bridalstely kedalam rumah. Sedangkan sekertaris Kim hanya menatap kedua orang itu dengan pandangan sulit diartikan.
Sehun meletakkan Luhan ke sebuah ranjang besar, melepaskan sepatunya, dan menyelimutinya. Hari memang duah gelap ketika ketiganya sampai disini. Malam ini masih belum ada kegiatan apapun. Ia hanya perlu mempersiapkan bahan untuk besok. Sehun beranjak keluar kamar Luhan. Dan pergi menuju kamar miliknya sendiri. Sebelum sebelumnya meninggalkan kamar itu. Sehun mencuri satu ciuman lagi tepat didahi Luhan. Barulah ia benar-benar beranjak pergi.
.
.
.
.
.
Sehun keluar dari kamarnya usai membersihkan diri juga mengganti pakaiannya. Ia turun dari kamarnya yang berada dilantai dua. Sehun mendapati sekertaris kim sedang mengintruksikan kepada pelayang rumah yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Sehun pun menghampiri sekertaris Kim.
"L, apakah kau sudah melihat Luhan turun dari kamarnya?" Tanya Sehun tanpa ada embel-embel sekertaris seperti biasnya.
"Saya belum melihatnya, Sajangnim." Jawab Sekertaris Kim aka Kim Myungsoo yang akrab dipanggil L oleh Sehun ketika mereka sedang tidak bekerja seperti saat ini.
"Aku sudah memberitahu mu untuk tak formal padaku jika tidak berada dalam perkerjaan L." Seru Sehun memperingati.
"Aku sudah biasah berkata formal padamu, Sehun ah."
"Nah, bagus. Kita sedang berada di rumah meskipun kita di China. Jadi jangan panggil aku seperti tau?"
"Iya Sehun yang cerewet." Balas L.
"Dasar. Sekali aku mengijikan mu memanggil ku secara tidak formal. Kau malah mengatai ku." Sedikit memicingkan matanya ke arah L.
"Hahaha. Habisnya kau mulai berubah Sehun-ah." Jawab L dengan senyum khasnya.
"Bagianmananya aku berubah? Coba jelaskan?" Sedikit mengernyit.
"Hem. Jadi kau ingin tahu?" Dibalas balik oleh L
"Ya. Aku ingin tahu." Jawab Sehun tegas.
"Sikap mu mulai banyak berubah semenjak kedatangan Luhan dalam hidup mu." Jawab gamblang L. Sontak membuat Sehun mendengus.
"Huh. Aku tak mengerti maksud mu?" Sehun berucap datar. Tapi terlihat sekali ia sedang berfikir.
"Jadi kau tidak menyadarinya?" Sekarang giliran L yang bingung.
"Menyadari apa?" Sehun kembali memicingkan kedua matanya.
"Aku melihat tatapan cinta dan memuja mu hanya untuk Luhan. Dan bagaimana kau memperlakukan Luhan. Bahkan aku tak mengerti mengapa kau malah menempatkan Luhan kian dekat dengan mu didalam pekerjaan. Tapi semua itu adalah keputusan mu. Luhan terlihat adalah orang yang baik." Tutur L kepada Sehun.
"Karena dia adalah orang yang sangat special bagi ku, L. Orang yang telah lama aku cari keberadaannya. Luhan adalah cinta pertama ku. Dan kelak aku sangat berharap Luhan menjadi cinta terakhir ku." Jawab Sehun penuh keyakinan kepada sahabatnya ini.
"Kalau begitu dapatkan dia." L memberikan semangat untuk Sehun.
"Tentu." Sehun menganggukkan sebagai tanda pasti.
.
.
.
.
.
Di sebuah kamar bernuansa hijau daun. Terlihat seorang priam mungil pemilik mata rusa itu mengerjap-ngerjap kembali menormalkan cahaya yang masuk ke retina matanya. Pandangannya mengedar ke sekeliling kamar yang ia termpati. Terlihat sepi sekali hanya sebuah lampu penerangan yang menyinarinya juga sinar dari cahanya luar yang masuk melalui celah jendela kamar.
Ia baru menyadari jika dirinya sudah tidak lagi berada di mobil. Melainkan berada di dalam sebuah kamar. Sepertinya seseorang telah memindahkannya. Ia fikir itu pasti ulah Sehun seperti tempo lalu ketika ia kelelahan dan tertidur di kursi dengan kepalanya bersandar keatas meja. Dan Sehun memindahkannya tidur di sofa empuk di ruangan kantornya.
Sepasang mata rusa itu menangkap sebuah koper yang sangat ia kenali. Sebuah koper biru polos dengan pegangan silver. Koper miliknya yang sudah berada di dekat lemari di kamar ini. Ia segera beranjak dari atas kasur dan segera mandi untuk menyegarkan diri dan menghilangkan rasa kantuknya.
Sekitar dua puluh menit kemudian Luhan turun dari kamarnya yang berada di lantai dua tepat bersebelahan dengan kamar Sehun. Ia disambut dengan Sehun yang terlihat sedang berbincang dengan Sekertaris Kim. Luhan tak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Langkahnya mendekat ke arah keduanya. Antara ruang tamu dengan ruang makan memang langsung terlihat.
.
.
.
.
.
Sekertaris Kim aka L memberikan kode pada Sehun jika orang yang barusan ia bicarakan itu ternyata sudah bangun dan menghampiri keduanya. Sehun menghentikan pbrolannya dan menengok kebelakang tepat ke arah Luhan. Dan benar saja Luhan terlihat lebih segar juga manis secara bersamaan dengan Sweter yang dikenakannya. Karena baju Luhan itu terlihat menenggelamkan tubuh mungilnya.
"Luhan. Kau sudah bangun?" Tanya Sehun pada Luhan. Sedang sekertaris Kim hanya memperhatikan.
"Iya, maaf aku merepotkan mu, Sehun. Ups." Seketika ia sadar jika memanggil nama Sehun tanpa embel-embel sajangnim di hadapan sekertaris Kim. Bahkan ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena reflek. Matanya juga ikut melebar.
"Ada apa Luhan?" Sehun memperhatikan ekspresi Luhan.
"Maafkan saya sajanim karena tidak memanggil anda dengan benar." Sembari menunduk. Luhan tidak bisa membungkuk terlalu berlebihan karena nanti perutnya akan sakit.
"Tenanglah. Kita berada dirumah." Sehun memberikan sedikit senyumnya.
"Tapi.." Luhan sedikit khawatir karena disana ada sekertaris Kim.
"Kau tidak perlu khawatir. Sekertaris Kim atau yang biasa aku panggil L ini sebenarnya adalah sahabatku. Jadi kau tenang saja." Jelas Sehun enteng. Sedangkan manusia yang dibicarakan hanya membalas keduanya dengan senyuman.
"Ah begitu." Seru Luhan mengerti.
"Hampir saja aku berencana menghampiri kamar mu. Tapi kau sudah disini. Sebaiknya kemarilah dan ayo kita makan malam."
"Ayo duduk, Luhan-ssi." Ajak L sekalian.
Luhan memposisikan dudukna tepat sebelah Sehun. Sedangkan L berada dihadapan mereka. Para pelayan sudah menyiapakan menu makan malam untuk tuannya. Makanan dihadapan Luhan ini benar-benar menggoda selera. Hingga tanpa sadar tangan kirinya mengelus perut buncit dibalik sweeter yang ia kenakan mala mini.
"Tapi Sehunnah. Kenapa kau memanggil ku hanya dengan nama saja?" Tanya Luhan sembari memicingkan matanya kearah Sehun.
Sehun menimpali pertanyaan Luhan dengan santai, "Mulai hari ini aku hanya akan memanggilmu tanpa embel-embel 'Hyung'. Dan aku akan memanggil mu Luhan seperti biasanya aku memanggil mu dikantor."
"Tapi Sehun-ah. Aku kan mem-.." Jawabannya terpotong.
"Ini perintah. Kau tidak boleh menentangnya." Sehun tak kalah memasang wajah galaknya.
Luhan yang merasa terintimidasi akhirnya hanya bisa patuh tanpa perlawanan, "Huhf, baiklah."
Sedang manusia diseberang sana hanya mampu terseyum melihat keduanya. Layaknya bocah keduanya berdebat. Sedang Sehun merasa menang.
"Dan kenalkan. Namaku Kim Myungsoo atau bisah dipanggil L. Mungkin kau juga boleh memanggil ku sama seperti yang sehun lakukan ketika berada di luar kantor." Seru L
"Baik. Tapi aku lebih nyaman memanggil anda 'Sekertaris Kim' begitu." Seru Luhan. Sedang orang yang baru menjadi lawan bicaranya ini tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu tererah mu Luhan-ah." Jawab L ramah.
"Sudah-sudah. Saatnya kita makan malam." Sela Sehun.
Ketiganya menikmati makan malam itu dengan tenang. Namun baru beberapa menit berlalu, terlihat salah satu orang dari ketiganya menghentikan aktifitas makan malam nya. Kedua orang yang lain pun akhirnya menyadari salah seorang itu berhenti makan. Sedangkan matanya malah memandang ke sebelahnya sembari menunjukkan ketertarikan makanan milik sebelahnya itu. Orang yang menghentikan aktifitas makannya itu adalah Luhan. Dan kedua orang yang lain yaitu Sehun dan L menyadari jika Luhan telah menghentikan acara mari menyuap nasi kedalam mulut.
"Luhan. Kenapa kau tidak memakan makanan mu?" Tanya Sehun heran.
"Em, itu. Em.." Luhan bingung mengatakannya. Tapi makanan dipiring Sehun terlihat lebih menggoda dari pada makanan dipiring miliknya. Padahal jelas-jelas makanan itu sama.
"Katakan saja." Sehun mengerti jika Luhan merasa tidak enak untuk mengatakannya. Maka dari itu Sehun meyakinkan pada Luhan untuk tidak malu mengataknnya dengan berujar pelan.
"Sebenarnya. Aku ingin memakan makanan yang berada dipiring mu, Sehun-ah." Sederet kalimat itu mencelos begitu saja. Sedang yang diminta makananya bertambah heran.
"Tapi, Bukannya makanan mu dan makanan dipiring ku ini sama saja?" Sembari mengernyit ke arah Luhan.
"Memang benar. Tapi aku sungguh ingin sekali makan makanan yang ada di piring mu." Dengan sepasang mata rusanya yang memelas. Luhan terlihat benar-benar menginginkan sepiring makanan yang dimakan Sehun. Sedangkan Sehun dan L saling berpandangan tak mengerti mengapa Luhan malah bersikap seperti itu.
"Kalau kau tak mengizinkan aku memakan sepiring makanan milik mu itu. Ya sudah aku tidak akan makan saja." Si rusa hamil ini malah merajuk. Hahaha membuat Sehun bertambah bingung dengan sederet kalimat syarat akan sedikit ancaman.
"Hei, hei. Luhan. Jangan marah seperti itu. Ini kau bisa memakan sepiring makanan milik ku. Aku akan mengambil makanan baru. Ini." Sehun yang tak tega dengan Luhan. Dan ia juga tak mau si rusa ini kelaparan akhirnya memberikan sepiring makanan miliknya untuk Luhan.
"Terimakasih Sehunnie." Luhan menerimanya dengan wajah sumringah. Sedang L yang melihat interaksi keduanya bertambah bingung.
Sehun akhirnya melanjutkan makan malamnya usai mengganti piring juga makananya yang baru saja diberikan kepada Luhan. Namun baru beberapa menit berlalu, ia kembali melirik ke sebelahnya tepat pada Luhan. Ia kembali termenung di dapan sepiring nasi dan lauk yang sudah sah menjadi miliknya itu. Membuat Sehun kembali heran dan bertanya lagi.
"Ada apa lagi, Lu?"
"Sehunnie. Bolehkan aku meminta bantuan mu sekali lagi?" Luhan malah mengajukan permintaa bantuan pada Sehun.
"Iya. Apa itu?" Tanya Sehun penasaran.
"Maukah kau menyuapi ku?"
"Huh?" Sehun kembali bingung dengan sikap Luhan.
"Kau tidak salah dengar, Sehunnie. Aku ingin sekali kau menyuapi ku." Luhan kembali memasang deer eyes nya. Yang membuat Sehun akan selalu luluh ketika dibari tatapan seperti itu.
"Baiklah. Sini berikan padaku piringnya." Sehun akhirnya harus menunda makan malamnya karena keinginan Luhan yang minta disuapi itu. Sedang Si Luhan diam-diam mengelus perut buncitnya lagi dibalik sweeter nya.
Sepertinya bayi-bayinya sukses mengerjai sang Appa. Namun keduanya tidak tahu menahu mengenai sesuatu hal yang akan mengikat keduanya lebih erat dari hubungan special. L malah tersenyum lebar melihat tingkah laku keduanya sembari memakan makanannya. Sedangakan Sehun mulai menyuapi Luhan dengan telaten. Si rusa saking senang dan sedikit malu hingga ia melahap setiap sendokan suapan Sehun untuknya. Sesekali semburat merah mewarnai pipi gembilnya. Acara makan malam itu ditutup dengan Sehun yang harus menyelesaikan makan malamnya sendiri sedangkan yang lain hanya menemaninya di meja makan.
Si rusa itu ingat jika ia belum meminum susu hamil nya. Dengan segera Luhan permisi sebentar untuk mengambil sesuatu didalam kamar. Tak lama Luhan kembali dengan menenteng sebuah tas kecil berbentuk tas jinjin yang dikenali Sehun sebagai tas yang biasa Luhan bawa ketika kekantor pun. Dan sewaktu jam makan siang biasa Luhan bawa ke dapur sembari membuatkan minuman untuk Sehun. Entah apa sebenarnya yang berada didalam sana. Tapi kali ini Sehun begitu penasaran dengan apa yang terdapat didalam tas tersebut.
Luhan yang kembali ke dapur dengan tas digenggamannya itu. Segera menggeserkan diri ke area gelas-gelas dan air dingin maupun hangat. Terlihat Luhan sedang meracik sesuatu disana. Karena Luhan mengambil setengah air hangat kedalam gelas. Memasukkan beberapa bubuk yang diyakini Sehun dan L jika itu adalah sebuah minuman serbuk dari dalam toples kecil yang berasal dari dalam tas jinjing itu. Lalu mengaduknya dan menambahkan air dingin (air dengan suhu normal) kedalam gelas itu hingga penuh. Kemudian mengaduk nya lagi. Selesai membuat minuman itu. Luhan kembali bergeser pada kursi awal miliknya tadi sambil membawa sebuah minuman berwarna coklat itu dan mendudukkan dirinya.
"Luhan. Apa yang sedang kau minum itu?" Tanya Sehun yang penasaran dengan apa yang dibua Luhan itu.
"Ini cuman susu penambah energi." Luhan berbohong. Ia tak akan mungkin bercerita jika ia mengkonsumsi susu hamil. Karena terang saja mereka bahkan tidak tahu menahu jika Luhan tengah berbadan dua.
"Ah. Kalau begitu cepat minum dan habiskan." Kata Sehun lagi.
"Hem." Luhan sedikit memasang senyum canggung. Kemudian sepasang tangan mungilnya meraih gelas berisi susu coklat itu dan menenggak habis hingga kandas.
Kedua orang yang lain hanya tersenyum memandang Luhan yang meminum susunya persis seperti bocah. Tanpa ada rasa curiga sedikit pun mengenai susu energi yang dikonsumsi Luhan. Sebenarnya tak salah juga jika susu itu disebut sebagai susu energi oleh Luhan. Karena terang saja susu itu memang susu energi bukan hanya untuk tubuhnya. Tapi susu energi untuk kedua janin yang sedang tumbuh didalam perutnya itu.
.
.
.
TBC
Note:
Kei baru saja selesai mengetik ff ini di jam 2 pagi.
Kei terbangun satu jam yang lalu dan sekarang sulit memejamkan mata.
Masihkah ada yang terjaga sama seperti Kei sekarang?
06/01/2020
