Tittle : Little Sunshine
Author : Keiko Yummina
Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12
Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family
Length : Chaptered
Rated : M (Mecum)
WARNING! YAOI, M-PREG
Bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!
Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!
Previous
.
.
.
"Luhan. Apa yang sedang kau minum itu?" Tanya Sehun yang penasaran dengan apa yang dibua Luhan itu.
"Ini cuman susu penambah energi." Luhan berbohong. Ia tak akan mungkin bercerita jika ia mengkonsumsi susu hamil. Karena terang saja mereka bahkan tidak tahu menahu jika Luhan tengah berbadan dua.
"Ah. Kalau begitu cepat minum dan habiskan." Kata Sehun lagi.
"Hem." Luhan sedikit memasang senyum canggung. Kemudian sepasang tangan mungilnya meraih gelas berisi susu coklat itu dan menenggak habis hingga kandas.
Kedua orang yang lain hanya tersenyum memandang Luhan yang meminum susunya persis seperti bocah. Tanpa ada rasa curiga sedikit pun mengenai susu energi yang dikonsumsi Luhan. Sebenarnya tak salah juga jika susu itu disebut sebagai susu energi oleh Luhan. Karena terang saja susu itu memang susu energi bukan hanya untuk tubuhnya. Tapi susu energi untuk kedua janin yang sedang tumbuh didalam perutnya itu.
.
.
.
CHAPTER 19
.
.
.
Typo bertebaran~
Tengah malam. Sehun merasa haus sekali. Akhirnya ia harus keluar kamar dan pergi kedapur untuk menyelesaikan rasa dahaganya. Langkahnya pelan menuruni tangga karena minimnya cahaya. Hanya cahaya dari luar yang menumbus melewati kaca jendela. Dengan sedikit mengantuk terlihat dari cara jalan Sehun yang sedikit ragu-ragu.
Tiba langkahnya terhenti saat melihat area dapur dengan lampunya menyala. Sehun mulai mendekat kea rah dapur. Dan benar saja ia mendapati sesosok pria cantik yang sedang asik makan dengan lahap. Sehun pun membawa langkah kakinya mendekati si rusa cantiknya.
"Kau sedang apa, Lu?" Sehun mendudukkan dirinya dikursi meja makan tepat di depan Luhan.
"Uhuk.." Luhan tersedak karena kaget melihat Sehun yang berada di hadapannya.
Sehun yang melihat Luhan tersedak seketika menuangkan air putih kedalam gelas yang berada tepat di tengah2 meja makan. Kemudian menyodorkan gelas berisi air putih itu ke arah Luhan.
"Minumlah ini Lu." Sembari memebrikan gelas itu.
"Hum..gluk gluk.."Luhan meneguk air minum yang diberikan Sehun dengan rakus.
"Pelan-pelan Lu." Sehun menasehatinya.
"Aaaahhh." Luhan merasa lega usai menghabiskan air itu.
"Sudah lebih baik?" Tanya Sehun.
"Heum. Sudah." Jawab Luhan dengan canggung.
"Jadi apa yang sedang kau makan?" Sehun penasaran dengan apa yang Luhan makan.
"Em.." Luhan sepertinya malu sendiri karena ketahuan makan di tengah malam seperti ini.
"Tidak usah malu Lu." Seru Sehun yang sepertinya tau jika Luhan tengah menahan malu. Karena terang saja itu sudah tersaji di hadapannya. Terlihat dari semburat merah di pipi hingga telinganya. Sehun malah tersenyum melihat tingkah malu Luhan yang terlihat imut dan manis.
"Aku lapar. Dan aku hanya menemukan nasi, kimchi dan beberapa lauk sisa semalam di kulkas yang tadi aku hangatkan sebentar di microwave. Aku juga menambahkan minyak wijen kedalam campurannya." Jawab luhan sabil malu-malu.
"Hem, sepertinya itu enak. Apakah aku boleh mencobanya?" Sehun malah ingin mencoba nasi campur buatan Luhan.
"Kau mau memakan nasi seperti ini?" Luhan sedikit terkejut dengan perkataan Sehun barusan.
"Iya, memangnya tidak boleh ya?" Jawab sehun dengan wajah sedihnya.
"Tentu saja kau boleh mencobanya." Luhan mulai memindahkan sebagian nasi campur miliknya ke dalam mangkuk bersih yang terletak di atas meja. Dan memberikannya pada Sehun.
"Ini.." Sehun meletakan nasi campur itu di depan Sehun.
"Terimaksih." Sehun mengucapkan terimakasih. Kemudian ia muali menyedokkan satu suapan penuh kedalam mulutnya.
Sedangkan Luhan iku memakan nasi campur miliknya tadi. Karena terang saja Luhan juga mungkin tidak akan bisa menghabiskan nasi campur itu Karena porsinya yang banyak.
"Ternyata nasi campur itu enak juga ya." Gumam Sehun yang masih bisa di dengar Luhan.
Mereka memakan makanannya dalam diam. Hingga keduanya telah menghabiskan makan itu. Sedari tadi Luhan melihat Sehun yang sepertinya lahap sekali. Bahkan lebih lahap dari nya saat memakan nasi campur buatannya itu. Sesuai pertanyaan akhirnya berkecamuk dalam batinnya. Barulah Luhan bertanya pada Sehun usai makanan kduanya benar-benar telah habis.
"Sehun?" Sela Luhan.
"Huh." Sehun menghentikan sejenak makan lahapnya.
"Kau tidak pernah memakan nasi campur seperti ini?" Tanya Luhan penuh selidik.
"Kau tau Lu. Ini pertama kalinya aku memakan makanan seperti ini." Jawab Sehun secara jujur.
"Apa?" Luhan terkejut mendengarnya.
"Terimakasih untuk nasi campurnya Lu." Sehun meminum air putih usai menghabiskan makanan itu. Dan berujar terimakasih sebelum meninggalkan Luhan.
SUngguh hal yang tak terduga. Rasa hausnya membuat dirinya merasakan makanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sehun tersenyum sendiri mengingat hal yang baru ia lalui ini.
.
.
.
.
.
Seperti pagi-pagi sebelumnya. Wakil CEO kita sedang bekerja seperti biasanya. Mungkin lebih sibuk karena ia yang harus menghandel seluruh pekerjaan selama CEO nya ini melakukan perjalanan dinas keluar negeri. Seperti saat ini, Wakil Ceo yang akrab dipanggil Park Daepyunim itu sedang berkutat dengan beberapa berkas-berkas penting. Sekertari pribadinya sedari tadi keluar masuk ruangannya sembari menenteng berkas yang harus Park Daepyunim nya periksa. Karena sepertinya ia akan melakukan lembur terus menerus hingga CEO terhormat yang juga sahabat karibnya itu pulang dari perjalanan dinasnya.
Jika kalian lupa siapa itu Park Daepyunim. Ia merupakan salah seorang sahabat dekat Sehun sedari kecil. Bisa dibilang mereka sangat dekat karena mereka bertetangga. Namun ketika bersekolah di jenjang JHS. Mereka tidak bisa bersekolah di tempat yang sama. Karena Sehun yang saat itu harus pindah ke Seoul sedangkan sahabatnya ini melanjutkan sekolahnya di Busan. Mereka baru bertemu kembali ketika berada di perguruan tinggi. Park Daepyunim atau yang lebih akrab dipanggil Park Chanyeol kembali menjalani persahabat dengan Sehun. Tentunya ia juga mendapatkan tambahan sahabat baru yaitu Kim Myungsoo yang akrab dipanggil Sekertaris L. Ketiganya berada di kampus yang sama dengan jurusan yang berbeda.
Seperti beberapa hari yang lalu ketika Chanyeol harus melemburkan diri di kantor. Tapi kali ini dia benar-benar pulang larut. Bahkan ketika di selesai membareskan barang-barangnya dan keluar dari ruang kerjanya. Ia melihat sekeliling ruangan disekitar ruangnnya telah gelap tanda tak seorang pun beradda di ruangan-ruangan itu. Sepanjang jalan tepat di koridor menuju ke lift diujung sana bahkan tak terlihat satu orang pun berlalu lalang. Sepasang mata lebarnya melirik ke sebuah jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangan kanannya. Benar saja ia mendapati jam 22.00 KST. Ini bahkan kali lembur pertamanya di kantor.
Langkah kakinya berjalan cepat menuju ke arah lift setelah belokan sana. Matanya memicing melihat seseorang yang sepertinya salah satu OB disana. Ia sedang berada dinaiki sebuah kursi guna mencapain bagian jendela di atas sana. Tepat berada di sebelah lift yang ia tuju. Mencoba tak peduli karena benar saja Ob itu tak penting baginya. Perlahan ia mendekat ke arah lift itu. Sepertinya orang yang sedang membersihkan jendela ini bahkan tidak menyadari eksistensinya disini. Dan lagi ini sudah jam larut untuk para karyawan seperti orang dihadapannya ini masih berada di kantor.
Sedikit rasa kepedulian atau memang merasa gatal untuk memberi peringatan pada salah satu karyawannya ini. Akhirnya Chanyeol berhenti dan memanggil seseorang itu. Dalam batin menebah jika seseorang dihadapannya ini adalah seorang perempuan.
"Bukankah ini sudah jam larut untuk mengerjakan pekerjaan mu sekarang?" Ujar Chanyeol yang berdiri tepat di belakang seseorang itu.
"Waw.." Seseorang itu terkejut dengan suara orang yang berbicara barusan. Seketika ia menjerit dan berbalik. Namun na'as kursi yang ia gunakan sebagai pijakan ikut bergeser hingga membuatnya seketika terjatuh dari sana.
"BRUK.." Suara benda jatuh.
Seketika Chanyeol malah tercengang melihat seseorang yang jatuh di depannya itu. Sepasang mata lebarnya mengawasi seseorang dihadapannya ini yang mengaduh sakit karena pantat bulatnya mendarat terlebih dahulu dengan indahnya mencium lantai. Chanyeol yang diwala berniat menegur seseorang dihadapnnya ini malah habis tanpa kata-kata. Ia begitu terpesona hanya dengan pandangan pertama dengan orang dihadapannya ini.
"Aduh..aduh..Sakit.." Seru pria mungil itu.
"Maaf kalau aku mengagetkan mu." Akhirnya otak kosongnya berfungsi untuk membuat dirinya mengucapkan kata maaf.
"Kau tau tidak. Pantat ku sakit sekali." Tanpa peduli siapa orang dihadapannya ini ia berujar.
"Kalau begitu mari aku bantu berdiri." Chanyeol menawarkan bantuan dengan mengulurkan tangannya.
"Huh." Orang itu malah terdiam melihat pria tinggi dihadapannya ini.
"Ayo. Biarkan aku membantu mu berdiri. Hari sudah malam. Sebaiknya kau segera pulang dan menyelesaikan tugas mu besok." Seru Chanyeol lagi. Sembari mengitrupsi.
"…" Pria itu menerima bantuan Chanyeol. Ia pun bangun dari posisi jatuhnya tadi.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tentu aku baik-baik saja." Seru orang itu.
"Kalau begitu lekas pulang." Usai menyuruhnya pulang. Chanyeol juga hendak beranjak menuju ke lift disebelahnya. Namun ia terhenti ketika mendengar rintihan sakit orang dihadapannya lagi.
"Terimaka-..Akh kaki ku." Pria itu kembali mengadu sakit. Kali ini bukan pantat nya yang sakit melainkan kaki kirinya yang sakit.
"Kau kenapa?" Chanyeol kembali menghapiri.
"Pergelangan kaki kiri ku sakit." Kaluh pria dihadapnnya.
"Coba aku lihat." Chanyeol berinisiatif memeriksa pergelangan kaki pria itu. Dan benar saja ia mendapati pergelangan kaki kiri pria mungil ini sepertinya terkilir.
"Ugh." Menahan sakitnya.
"Apakah kau masih bisa berjalan?"
"…" Pria itu hanya menggeleng tanda jika benar pergelangan kaki kiri nya sakit.
"Maaf karena niat ku menegur mu. Kau malah mengalami cedera seperti ini. Bagaimana kalau kau aku antar ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan pertama?" Tanya Chanyeol berharap orang dihadapnnya ini mau menerima pertolongannya.
"Tidak perlu. Aku masih bisa mengatasinya." Namja ini menolak ajakan Chanyeol untuk ke rumah sakit.
"Lihat. Kau pasti akan susah berjalan dengan kondisi mu yang seperti ini." Seru Chanyeol yang terlihat guratan khawatir diwajahnya. Entah sosok namja mungil dihadapannya ini membuat sedikit hatinya bergetar saat memandang sepasang bola mata indah itu.
"Aku .. Akh.." Namja mungil nan keras kepala ini akhirnya benar-benar kesakitan karena memaksakan diri menggunakan kaki nya yang terkkilir untuk berjalan.
Chanyeol menghampiri namja mungil itu. Seketika ia berjongkok tepat disebelah namja itu. "Ayo, naiklah." Chanyeol mengintruksi jika namja mungil untuk naik ke punggungnya.
"…" namja itu sedikit terkejut menanggapi permintaan Chanyeol ini.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Sembari menolehkan kepalanya tepat kearah namja mungil itu.
Dengan perasaan penuh kecanggungan. Namja mungil itu akhirnya mengiyakan permintaan Chanyeol. Dengan perlahan ia memposisikan tubuhnya pada punggung lebar dihadapannya ini.
"Berpeganglah." Chanyeol mulai menegakkan posisinya menjadi berdiri usai memberi peringatan pada namja mungil di punggungnya ini.
Reflek saja namja mungil itu mengalungkan lengannya melingkari leher dan bahu Chanyeol. Chanyeo berjalan dengan pelan menuju lift itu. Dengan bantuan tangan si namja mungil itu untuk menekan tombol pintu lift itu. Karena benar saja kedua tangan Chanyeol telah penuh dan kuat menopang kaki-kair ramping milik si namja mungil dalam gendongan di pundaknya itu.
"Ngomong-ngomong. Siapa nama mu?" Tanya Chanyeol basa-basi.
"Nama ku Byun Baekhyun. Kau.. Ups.. maaf. Maksud saya anda dapat memanggil saya Baekhyun. Siapa nama anda?" Jawab Baekhyun dengan canggung.
"Kau tidak perlu sungkan. Karena aku tidak memandang orang hanya dari tinggi jabatan pekerjaanya. Tapi kau benar tidak tau siapa aku?" Tanya Chanyeol lagi.
"Maaf aku tidak tau." Jawab Baekhyun sarat akan penasaran.
"Aku Park Chanyeol. Kau bisa memanggil ku Chanyeol." Jawal Chanyeol singkat.
"Apaa.. anda Park Daepyunim." Baekhyun seketika terkejut.
.
.
.
.
.
Pagi ini adalah hari penentu mengenai proyek kerjasama Oh Corp dengan beberapa rekan bisnisnya dari China. Hari yang cerah ikut membawa suasana baik bagi selaku orang nomor satu di Oh Corp. Segelas kopi hitam menjadi teman paginya. Ia duduk di dekat balkon kamarnya sesekali menyesap pahitnya cairan hitam itu. Sebuah jam tangan hitam yang melingkar apik di pergelangan kiri nya.
Pagi ini Sehun sudah rapi karena benar saja dalam dua jam kedepan ia bersama dua orang lainnya harus pergi ke kantor cabang ynga berada di negara ini. Melirik jam yang menunjukkan pukul 7.00 pagi. Sepertinya ini sudah waktunya turun kebawah untuk sarapan pagi bersama.
.
.
.
.
.
Seperti pagi ini Luhan bangun dengan keadaan sedikit demam. Kepalanya berdenyut sakit. Pandangannya sedikit mengabur untuk melihat sekeliling. Sepasang mata itu terlihat berkaca-kaca. Pusing itu lah yang sekarang dirasakan Luhan. Bahkan ia tidak menyadari jika suhu tubuhnya mengalami kenaikan. Luhan demam, tapi rasa pusingnya membuat nya tidak menyadarinya. Tubuhnya sedikit menggigil. Nafas hangatnya pelan-pelan berderu.
Luhan bangun dan mendudukkan diri sembari menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Tangan kanannya meraba bagian kepalanya yang berdenyut nyeri. Sembari mengumpulkan kesadarannya. Sesekali mata itu mengerjap menyesuaikan cahaya. Kepala mungil milik sang rusa itu menoleh ke arah kiri tepat ke jendela. Terlihat di luar sana jika hari telah beranjak siang.
Belum sepenuhnya ia mendapatkan kesadaran penuhnya. Tiba-tiba lonjakan mual menyerang lambungnya. Baru kali ini setelah mual diawal-awal kehamilannya. Luhan kembali merasakan mual sama seperti saat itu. Dengan sedikit tenaga yang ia miliki, Luhan beranjak dari ranjangnya. Sepasang kaki mungil miliknya metapak ke lantai yang dingin dan berjalan dengan terburu-buru menuju ke toilet dikamarnya. Begitu sampai didalam kamar mandi. Luhan memuntahkan cairan bening tepat pada washtafel disana.
"Hoek.. Ugh.. Hoek.." Hanya cairan bening yang keluar.
Perutnya sedikit sakit. Sepertinya bayi-bayinya disana sedang berulah hingga membuat Luhan merasakan sedikit kram tepat diperut bagian bawah. Ia masih berusaha mengeluarkan segala hal yang membuatnya mual. Memuntahkan cairan bening tanpa ada apapun yang keluar lagi dari dalam lambungnya.
.
.
.
.
.
Sehun berniat memanggil Luhan yang memiliki kamar tepat bersebelahan dengan kamar miliknya. Ia berdiri di depan pintu bercat putih gading itu. Sedikit menetralkan degupan jantungnya. Barulah Sehun berani mengetuk pintu si pria cantik pemilik hatinya itu.
Beberapa kali ketukan pintu itu dilayangkan oleh Sehun. Namun seakan si pemilik kamar tak terusi sama sekali dengan hal itu. Bahkan tak terdengar suara lankah kaki mendekat ke arah pintu ini. Dalam benaknya sedikit bertanya-tanya kemanakah gerangan pemilik kamar ini. Apakah mungkin ia telah bangun dan berada di ruang makan. Itu beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam ia sudah sampai di depan pintu kamar itu.
Sehun mencoba menempelkan telingnya ke daun pintu kamar Luhan. Namun nihil, ia tak dapat mendengar suara apapun. Dengan perlahan Sehun mencoba membuka pintu itu dengan menarik hendelnya. Dan "Bingo" pintu kamar Luhan tak terkunci. Dengan perlahan Sehun membuka pintu itu dan berjalan layaknya penguntit memberanikan diri masuk tanpa ijin si pemilik kamar. Sungguh beraninya Sehun memasuki kamar yang didominasi warna hijau muda itu tanpa permisi.
Ketika ia telah memasuki kamar Luhan. Terdengar suara kran dan gemericik air juga seseorang yang sepertinya sedang muntah-muntah dari arah kamar mandi. Langkahnya dengan segera ia bawa menuju ke kamar mandi. Terlihat pintu kamar manddi yang terbuka. Sepasang mata elang menangkap bayangan seseorang yang tengah terduduk di depan kloset kamar mandi sembari kepalanya menunduk. Terlihat sekali namja cantik itu tengah kesusahan mengeluarkan sesuatu yang mengganggunya hingga membuatnya mual.
Sehun membawa dirinya melangkah mendekati Luhan yang tengah terduduk lemas disana. Terlihat Luhan hanya terus memuntahkan cairan bening tanpa ada yang bisa di keluarkan lagi dari dalam lambungnya. Sehun mensejajarkan posisinya sembari berjongkok di samping Luhan.
"Luhan. Ada apa dengan mu?" Sehun mengulurkan tangannya ke pundak Luhan.
"Ugh.. Sehun. Ugh.. Hoek. hoek." Luhan kembali memuntahkan cairan bening lagi. Tangan kanan Sehun terulur memijit pelan tengkuk Luhan berharap itu dapat membantu Luhan mengeluarkan muntahannya.
"Luhan. Kau sakit?" Tanya Sehun lagi.
"Ugh tidak Sehun. Aku hanya sedang masuk angin saja." Luhan berbohong.
"Tapi wajah mu pucat sekali?" Terlihat guratan khawatir disana.
"Aku tidak apa-apa Sehun. Mungkin ini semua karena dari kemarin makan telat." Jawab Luhan seadanya.
"Kau benar-benar tidak apa-apa? Apa kita harus ke rumah sakit?" Sehun merasa khawatir sekali melihat pria mungilnya ini terlihat kesakitan.
"Tidak perlu Sehun. Aku baik-baik saja." Senyum manisnya sedikit dipaksanakan karena terang saja Luhan benar-benar lemas dan pusing secara persamaan.
"Kalau begitu hari ini kau tidak perlu ikut ke kantor. Lagipula hari ini hanya rapat penutupan saja." Putus Sehun melihat kondisi Luhan yang seperti ini.
"Tidak apa Sehun-ah. Aku akan baik-baik saja sebentar lagi. Kau tidak perlu khawatir. Hari ini aku akan tetap pergi ke kantor dan bekerja dengan baik." Luhan menyakinkan Sehun jika kondisinya baik-baik saja.
"Huh Lu. Kau harus mendengarkan kata-kata ku. Dan sebaiknya kau tetap berada dirumah. Tidak perlu memaksakan diri." Seru Sehun lagi meminta Luhan untuk tetap tinggal dirumah.
"Tidak bisa Sehunah. Aku akan tetap ikut ke kantor hari ini. Aku janji setengah jam lagi aku sudah baik-baik saja." Si rusa yang tak mau mengalah berdebat. Seperti nya perdebatan ini juga membuat rasa mualnya kian memudar.
"Hemz.. (menghembuskan nafas kesalnya). Baiklah kau boleh pergi ke kantor. Asalkan kau berjanji pada ku dua hal." Sedikit perjanjian sepertinya perlu untuk Sehun keluarkan kali ini.
"Huh. Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Luhan dengan keinginan tahuanya.
"Kau boleh ke kantor asalkan kau tidak menjaga jarak dari ku kurang dari dua meter. Dan jika kau mulai merasa tidak enak badan kembali. Kau harus segera memberitahu ku. Kau mengerti?" Seru Sehun tegas.
"Baiklah. Aku akan menuruti permintaan mu kali ini." Tumben-tumbenan si rusa ini menuruti permintaannya.
"Kalau begitu ayo aku bantu kau berdiri, Lu." Kata Sehun.
"Tapi aku masih lemas sekali Sehunah. Kepala ku juga masih sedikit pusing." Jawab si rusa ini.
"Kalau begitu aku akan menggendong mu saja. Dan sebaiknya kau beristirat sebentar. Nanti aku akan membawakan makan mu kesini. Baru setelah sarapan kau boleh mandi."
"Hem. Sehun gendong aku didepan seperti koala. Bolehkah?" Hal seperti ini yang paling bahkan sangat tidak bisa membuat Sehun menolak. Dimana si cantik ini menunjukkan deer eyes nya yang tertu saja membuat seoarng Sehun luluh.
"Baiklah. Ayo." Sehun akhirnya menggendong si rusa cantik ini yang entah akhir-ahir ini bertambah cantik bahkan pipinya malah bertambah gembil.
Luhan memposisikan dirinya lingkarkan tangannya ke leher Sehun. Sembari Sehun menggendongya ala koala menuju kembali ke kamar Luhan. Tubuh Luhan sedikit melengkung karena takut-takut posisinya akan menekan perut bulatnya yang tertutupi sweter kebesaran yang ia kenakan. Jika kalian tau, Luhan hanya tidung menggunakan sweter kebesaran dengan boxer pendek putihnya. Yang otomatis paha mulusnya terekpose. Sehun harus mati-matian menahan diri jika tidak ingin dibilang kurang ajar dan memanfaatkan ketidakberdayaan Luhan.
"Kau tunggu disini ya. Aku akan meminta juru masak membuatkan makanan yang bisa mengurangi rasa mual mu." Usai mendudukan Luhan ke atas ranjang nya. Sehun pamit turun ke bawah.
"Jangan lama-lama ya, Sehun." Pesannya pada Sehun yang ditanggapi dengan anggukan oleh Sehun.
"Hem."
"Sehun. Bisakah kau menambahkan daging kecap untuk sarapan ku. Aku ingin sekali makan daging sapi dengan bumbu kecap." Deer eyes itu lagi-lagi membuat Sehun jatuh berkali-kali kepadda Luhan.
"Tentu Lu." Akhirnya Sehun beranjak dari kamar itu dan menuju ke dapur.
.
.
.
.
.
Sehun sampai di dapur. Dan sisambut L yang telah berada di ruang makan.
"Sehun. Dimana Luhan?" Seru L yang melihat Sehun turun sendirian dari lantai dua tanpa ada pria cantik yang akhir-akhir ini mengubah hari sang sahabatnya ini.
"Aku tadi berniat mengajaknya untuk sarapan. Tapi aku malah menemukannya terngah berjongkong didepan closet sembari memuntahkan sesuatu yang membuatnya mual. Bahkan wajahnya pucat." Jawab Sehun dengan raut wajah sedih dan khawatir.
"Lalu apa kau sudah menghubungi dokter atau kau akan membawanya ke rumah sakit?" Tanya L yang ikut khawatir.
"Dia tidak mau. Bahkan ia memaksakan untuk tetap masuk kekantor hari ini. Aku hanya sedikit heran akhir-akhir ini sifat benar-benar membuat ku pusing. Bahkan aku tak berani untuk sedikit meninggikan nada suara ku. Karena khawatir dia malah akan menangis. Atau tiba-tiba sifat keras kepalnya sedang kambuh. Bahkan dia berani meninggikan suaranya dihadapan ku." Sepertinya Sehun sedikit kewalahan mengatasi moodswing menghadapi si rusa hamil.
.
.
.
TBC
Note:
Kei sungguh minta maaf karena kei benar-benar sibuk. Dari bulan februari persiapan cpns. Hingga kini kei mendapat pekerjaan. Kei seperti tak punya waktu untuk bersenang-senang lagi. Hari ini kei mencoba menyelesaikan satu chapter ini setelah beberapa hari selama seminggu sebelumnya kei berusaha mencicil cerita ini. Maaf jika gk sesuai ekspektasi kalian. Tapi hanya segini yang masih sempet kei kerjakan. Semoga kei masih sempat mengejakan ff kei ini maupun yang lain juga.
06/04/2020
