Tittle : Little Sunshine

Author : Keiko Yummina

Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12

Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family

Length : Chaptered

Rated : M (Mecum)

WARNING! YAOI, M-PREG

Bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!


Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!


Previous


.

.

.

Sehun sampai di dapur. Dan disambut L yang telah berada di ruang makan.

"Sehun. Dimana Luhan?" Seru L yang melihat Sehun turun sendirian dari tangga lantai dua tanpa ada pria cantik yang akhir-akhir ini mengubah hari sang sahabatnya ini.

"Aku tadi berniat mengajaknya untuk sarapan. Tapi aku malah menemukannya tengah berjongkong didepan closet sembari memuntahkan sesuatu yang sepertinya membuatnya mual. Bahkan aku mendapati wajah Luhan sedikit pucat." Jawab Sehun dengan raut wajah sedih dan juga khawatir.

"Lalu apa kau sudah menghubungi dokter? atau kau akan membawa Luhan ke rumah sakit?" Tanya L yang ikut khawatir.

"Aku sudah berencana melakuak itu semua. Tapi Luhan tidak mau. Bahkan ia memaksakan untuk tetap masuk ke kantor hari ini. Aku hanya sedikit heran akhir-akhir ini sifat benar-benar membuat ku pusing. Bahkan aku tak berani untuk sedikit meninggikan nada suara ku. Karena khawatir dia malah akan menangis. Atau tiba-tiba sifat keras kepalnya sedang kambuh. Bahkan dia juga berani meninggikan suaranya dihadapan ku." Sepertinya Sehun sedikit kewalahan mengatasi moodswing Luhan. Kewalahan menghadapi si rusa hamil.

.

.

.


CHAPTER 20


.

.

.

Typo bertebaran~

"Kau tau Sehunnah. Mendengarmu bercerita jika kau sedikit kewalahan dengan sifat ajaib Luhan akhir-akhir ini. Membuatku berfikir jika kau layaknya suami-suami yang sedang menghadapi mood buruk seorang istri yang sedang hamil. Kau bahkan tak berani meninggikan suaramu dihadapnnya. Padahal Sehun yang aku kenal begitu kejam dengan seseorang yang berani melawan perintahnya. Luhan benar-benar unik sekali. Hingga mampu membuat seorang Oh Sehun mampu bertekuk lutuk padanya." L berkata sesuai apa yang dilihatnya. Sembari bertepuk tangan senang membayangkan Sehun yang sedikit tersiksa namun tak bisa menolak permintaan apapun si rusa mungilnya itu.

"Kau ini L. Aku melakukannya karena terang saja kau tau jika aku sangat mencintainya dan sangat menginginkannya berada disisi ku hingga kelak aku menua. Memang benar aku benar-benar tak bisa menolak keinginannya itu. Apalagi dengan tatapan memelasnya selalu membuatku luluh. Aku tak sanggup melihat ia menangis hanya karena aku tak mampu menuruti keinginan ajaibnya ini. Tapi L (Sehun menjeda sejenak perkataannya). Aku bahkan belum pernah melakukan apapun padanya. Mana mungkin aku terlihat seperti seorang suami yang sedang memenuhi keinginan istrinya yang sedang mengandung. Kau benar-benar gila, L." Sedikit meninggikan suara nya di kalimat terakhir. Sehun menepis perkataan konyol L tentang dirinya yang layaknya suami yang sedang memenuhi masa mengidam sang istri.

"Aku hanya bicara Sehun. Kau tidak perlu sekesal itu." Seru L tak bersalah.

"Huh." Hanya dengusan yang dikeluarkan Sehun saat menimpali perkataan L.

"Hem, baiklah. Aku hanya bercanda. Lebih baik kau segera berbicara pada koki di dapur untuk memasakkan makanan untuk Luhan." L mengingatkan.

"Ah iya. Aku hampir lupa." Sehun segera beranjak dari kursi yang ia duduki menuju ke koki yang sedang memasak tak jauh dari sana.

.

.

.

.

.

Usai sarapan terlebih dahulu. Sehun membawa nampan berisikan makanan untuk Luhan. Terlihat Luhan yang telah lebih segar dari sebelumnya dengan rambutnya yang masih basah. Luhan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos besar bergambar Bambi berwarna coklat yang sedikit turun diarea lehernya. Bahkan hampir memperlihatkan bahu kanan mulusnya. Luhan lagi-lagi menggukan boxer super pendeknya tanpa rasa bersalah dihadapan Sehun. Saat sadar jika ia tak sendirian di kamar ini. Luhan sedikit terkejut saat sepasang mata rusanya itu menangkap sosok pria yang akhir-akhir ini selalu membuat jantung nya berdebar dengan kencang.

Luhan menghentikan langkahnya. Ia ingat dengan bayinya. Takut-takut perutnya buncitnya akan terlihat. Luhn segera membenarkan posisi kaos yang ia kenakan. Beruntung kaos yang ia kenakan begitu besar. Sehingga Luhan tak perlu repot-repot menutui perutnya dengan benda atau hal lain. Ia berdoa dalam hati semoga Sehun tak menyadari kondisi perutnya ini. Sedikit menghela nafas dalam-dalam sembari menetralkan degupan jantungnya. Luhan berjalan dengan pelan menghampiri Sehun yang sedang duduk di atas ranjang miliknya.

"Se-sehunah. Kau? Sudah lamakah berada disini?" Tanya Luhan sembari menyembunyikan rasa gugup nya.

"Aku baru saja sampai disini Lu." Jawab Sehun sama sekali tak melepaskan pandangannanya dari wajah cantik ini.

"Oh, aku kira kau sudah sedari tadi berada disini." Terlihat Luhan.

"Kau sepertinya lebih terlihat segar setelah mandi ya?" Sehun mengamati Luhan.

"Ah, ne." Jawab Luhan gugup.

"Lu, sebaiknya kau duduk disofa itu dan segera sarapan. Akan akan membantu mu mengeringkan rambut mu sembari kau duduk disana." Titah Sehun.

"Ne, Sehunah." Ia hanya menurut saja.

Luhan berjalan menuju sofa kecil yang memang berada di kamar ini. Sehun menghampiri Luhan dengan nampan yang sebelumnya Sehun letakkan di nakas sebelah ranjang Luhan. Sehun meletakkan nampan berisi makanan itu tepat dihadapan Luhan. Membantunya membuka apa saja yang tersaji dipalik tudung makanan itu. Dengan wajah sumringah Luhan melihat menu sarapannya sesuai dengan keinginannya. Bahkan disana dilengkapi potongan apel, pir, kiwi, dan anggur sebagai pencuci mulunya nanti. Sedangkan Sehun memutar tubuhnya berjalan ke belakang sembari membantu Luhan mengeringkan rambut si rusa yang masih basah dengan handuk.

"Sehunna, ini sesuai keinginan ku. Terimakasih ya." Seru Luhan.

"Iya Lu. Apapun untuk mu, Lu." Sehun terus menyibak helaian rambut berwantan coklat almon dengan handuk. Untuk mengurangi kondisi basah pada rambut Luhan.

"Huh." Sedikit terkejut dengan sepenggal kalimat Sehun barusan.

"Sekarang cepat makanlah yang banyak." Seru Sehun lagi sembari mengusap lembut kepala Luhan setelah selesai membantu si rusa ini mengeringkan rambutnya.

"Ne." Luhan mulai memakan sarapan paginya dengan hikmat.

Sehun mendudukkan diri tepat berada di sebelah Luhan. Entah mengapa melihat Luhan saat sedang memakn makanannya ini terasa Luhan seribu kali lebih cantik dimatanya. Sehun terus memandangi Luhan tanpa sedetikpun berniat melepaskan pandangannya pada setiap gerakan-geriknya. Sebenarnya ada sesuatu hal yang mengganggunya fikirannya. Sehun tadi sempat tertegun dengan sesuatu yang sepertinya Luhan sembunyikan. Sesuatu itu berada tepat dibalik kaos besar yang Luhan gunakan. Tercetak jelas dibaliknya, dan sesuatu itu membuncit dan cukup besar. Ketika Luhan menyadari jika Sehun memperhatikannya. Seketika ia membenarkan letak kaos yang ia gunakan dan seolah-olah menutupi perutnya kembali.

Sehun jadi teringat tentang perkataan L sebelumnya. Yang mengatakan seolah-olah ia tengah menuruti keinginan seorang ibu hamil dan menerima seluruh hal yang dilakukan orang tersebut. Dalam hati Sehun berkata jika apa yang ia lihat itu mungkin tidaklah benar. Namun ada sebuah lubang yang mengganjal tepat dihatinya. Sehun tak berani untuk bertanya lebih lanjut kepada Luhan. Tentu saja itu mungkin sebagai privasi bagi Luhan. Selain itu Sehun menghindari hal-hal yang bisa membuat Luhan menangis. Karena benar saja selama hampir seminggu ini Sehun sedang berusaha memaklumi kesensitifan Luhan. Sehun menepikan apa yang baru saja ia lihat dan membuat ia terlalu pusing memikirkannya.

Dilain sisi Luhan makan dengan pelan. Ia sepertinya sangat menyukai masakan berbahan dasar daging itu. Terlihat Luhan memakan masakan dengan menu utama daging kecap itu dengan lahap meskipun dalam mode pelan. Namun, setalah berselang limabelas menit menikmati acara mari melihat Luhan sarapan. Sehun tersadar jika makanan itu tak sepenuhnya habis. Luhan menghentikan acara sarapannya. Sehun terheran.

"Lu, kenapa kau tidak menghabiskannya?" Tanya Sehun pelan.

"Aku sudah kenyang Sehunnah."

"Bagaimana kalau kau habiskan daging kecap kesukaan mu saja?" Bujuk Sehun berharap Luhan mau menghabiskan sarapannya.

"Aku kenyang." Jawab Luhan lagi sebari menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana kalau aku suapi?" Bujuk Sehun lagi.

"Aku tidak mau. Huhuhu." Sepasang mata rusa itu mulai berkaca-kaca.

"Baiklah-baiklah. Aku tidak akan memaksa mu. Kalau begitu segera kau bersiap." Sehun mengalah.

"Heum, ne." Jawab Luhan sembari menghapus air mata yang terlanjur lolos membasahi pipinya.

Sehun beranjak dari kamar Luhan usai mengusap kembali kepala si pria cantik ini. Kemudian keluar sembari membawa nampan sarapan yang masih tersisa beberapa lauk nya diatas sana.

.

.

.

.

.

Pagi menjelang siang. Ketiganya telah berada di kantor cabang OHS CORP. Sehun dengan dua orang lainnya. Hari ini adalah agenda terakhir. Dimana akan diadakan rapat penutupan terkait kerjasama OHS CORP dengan beberapa kolega. Tak banyak hal yang akan dilakukan hari ini sebenarnya. Hanya agenda tanda tangan kerjasama dan selebihnya hanya jamuan makan siang lebih tepatnya.

Hari pagi menjelang siang. Sekitar pukul 10.00 waktu China. Luhan benar-benar mematuhi perintah Sehun dengan tidak menjaga jarak lebih dari dua meter darinya. Sedikit keterlaluan memang. Tapi ini adalah bukti keprotektifan seorang Oh Sehun pada orang terkasih nya tentu saja. Wajah pria bermata rusa ini sebenarnya masihlah sedikit pucat. Hanya saja ia mampu menutupi wajah pucatnya itu dengan sapuan make up yang membuatnya lebih segar. Atau bisa kita bilang ia malah bertambah cantik.

Rapat penutupan berjalan kurang lebih dua jam. Dan akan berakhir sekitar pukul dua belas waktu China. Sehun pun mengakhiri rapat itu dengan berjabat tangan dengan kolega perusahaan-perusahaan.

"Terimakasih telah bergabung dengan OHS CORP." Seru Sehun dengan bahasa mandarin fasihnya pada kolega dihadapannya ini. Sembari menyunggingkan senyumnya.

"Tentu Tuan Oh. Ada adalah pria muda yang sudah sukses." Begitupun dengan koleganya ini juga tersenyum. Seorang pria berumur hampir lima puluh tahun yang menjadi koleganya kali ini.

"Terimakasih atas pujiannya. Ini semua berkat didikan dari kedua orang tua saya tuan." Jawab Sehun merendah.

"Ya, aku mengenal mendiang ayah anda. Dia adalah seorang pemimpin yang tegas juga bijaknsana. Dan hal itu jelas diturunkan kepada pribadi anda." Terang koleganya itu lagi.

"Tentu saja tuan Yun. Ayah saya adalah idola pertama saya."

"Ya ya." Koleganya itu mengakui apa yang disampaikan Sehun barusan sembari mengangguk ke arah Sehun.

"Kalau begitu mari (Sehun mengarahkan ke tempat jamuan makan siang), selamat menikmati jamuan makan siangnya tuan." Dengan ramah dan sopan Sehun mempersilahkan koleganya.

"Tentu."

"Kalau begitu saya permisi sebentar." Sehun beranjak dari sana usai meminta ijin koleganya.

"Silahkan Tuan Oh."

Sehun tak melihat Luhan sejak jamuan makan siang ini dimulai. Rusa mungilnya sepertinya tersesat. Sehun dengan segera menghampiri L yang terlihat sedang berbincang dengan beberapa kolega. L yang menyadari Sehun menghampirinya seketika mengucap permisi sebentar pada orang-orang dihadapannya ini.

"Ada apa Sajangnim?" Tanya L yang menangkapa raut khawatir di wajah sahabatnya ini.

"Luhan. Dimana Luhan, Sekertaris Kim?" Tanya Sehun yang tersirat syarat akan kekhawatiran.

"Tadi ia bersamaku sewaktu anda sedang berbincang-bincang dengan tuan Yun. Ia baru saja ijin pergi ke kamar mandi."

Mendengar penjelasan L barusan. Terang saja Sehun dengan tergesa-gesa menuju ke kamar mandi yang tak jauh dari ruangan ini. Entah kenapa Sehun merasakan perasaan khawatir sekali dengan pria cantik itu.

Sehun dengan sedikit berlari tanpa menghiraukan beberapa orang yang menyapanya. Beruntung L sempat mengikutinya tepat dibelakang Sehun. Bahkan ia meminta maaf pada para kolega yang berada disana atas kelakuan pimpinan dan juga sahabatnya ini.

.

.

.

.

.

Sehun sampai di depan toilet yang tak jauh dari ruang jamuan makan siang terlebih dahulu dan disusul L dibelakangnya. Sehun dengan langkah seribu segera memasuki toilet itu. Dan benar saja baru beberapa langkah ia berjalan memasuki toilet. Sehun mendapati si pria rusanya ini tengah tergeletak tak sadarkan diri di dekat wastafel dengan posisi miring. Sehun segera saja menghampiri Luhan.

"Luhan." Sehun segera mendekat dan mengangkat kepala Luhan kepangkuannya. Sembari tangannya menepuk pipi putih itu sebari berusaha menyadarkan Luhan.

"Luhan. Kau kenapa Lu? Ayo bangun. Aku mohon." Wajah tegas itu sudah berganti dengan wajah khawatirnya. Bahkan kerutan didahinya terlihat. Sehun bertambah panik saat tak sengaja ia melihat rembesan darah berada tepat di sela-sela celana yang Luhan kenakan ketika Sehun merengkuh tubuh tak sadarkan diri itu kedalam pelukannya.

"Sekertaris Kim…. L.." Sehun berteriak memanggil sahabat juga sekertarisnya itu.

"Iya Sehun. Hah hah..Oh Luhaan." Dengan deru nafas yang buruk usai berlari menuju ke toilet. L menyahuti teriakan Sehun yang memanggil namanya. Namun apa yang ia dapati membuat L sangat terkejut. Dimana Luhan yang tengah tek sadarkan diri.

"L.. tolong siapkan mobil. Kita akan membawa Luhan menuju ke rumah sakit. Segera. Aku tidak akan meminta mu memanggilkan ambulan karena itu akan memakan waktu yang lebih lama." Sehun memberikan intrusi pada L.

"Baik Sehunnah." L keluar dari toilet. Lalu segera menghubungi keamanan untuk menyiapkan mobil dibawah.

Sehun segera melepas jas yang ia kenakan dan menempatkannya menutupi tubuh Luhan. Kemudian dengan segera ia menganggkat Luhan ala bridal style. Keluar dari toilet itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi Sehunnah?" L bahkan lupa cara berbicara sopan pada Sehun.

"Aku tidak tau L. Aku menemukannya tergeletak di lantai yang dingin itu. Dan sepertinya Luhan tengah mengalami pendarahan." Sehun dan L masih sudah menaiki lift untuk turun ke lantai 1 kantor ini.

"Bagaiamana bisa?" Tanya L yang ikut bertambah khawatir.

"Aku juga tidak tau. Aku benar-benar sangat khawatir. Hati ku sudah tak nyaman sedari tadi. Dan.. KENAPA LIFT INI LAMA SEKALI?." Sehun benar-benar ingin segera membawa Luhan ke rumah sakit saat ini.

"Tenanglah Sehunnah." L berusaha menasehati Sehun untuk tenang.

"Kau tidak lihat. Bahkan wajahnya begitu pucat."

"…" L tak sanggup berkata apapun.

Akhirnya mereka sampai di lantai satu. Suasana siang itu tentu masih sangat ramai untuk kantor. Orang-orang yang melihat sang pemiliK perusahaan sedang berjalan tergesa-gesa sambil membopong seseorang di gendongannya tak membuat Sehun peduli saat ini.

Mereka sampai di lobby depan dengan mobil yang sudah siap dijalankan. Keamana telah membukakan pintu untuk keduanya.

"Sehunah. Biarkan aku yang menyetir." L tahu jika kondisi Sehun tidak bagus untuk menyetir. Maka dari itu ia mengajukan diri untuk menyetir.

"Hem. Cepatlah." Sehun akhirnya duduk di bangku belakang dengan Luhan yang masih berada di pelukannya.

.

.

.

.

.

L menyetir bagaikan pembalap sesuai perintah Sehun. Beruntung pengawal Sehun membantu membuatkan rute perjalanan. Mereka sampai di rumah sakit kurang dari lima belas menit dengan Sehun yang terus memaki orang-orang yang menghalangi jalannya.

"SHIT.. ."

Usai sampai di depan rumah sakit terdekat. Sehun kembali menggendong Luhan dan segera meletakkan tubuh ringkih itu ke atas ranjang dorong yang telah dipersiapkan oleh perawat. Luhan dibawa masuk menuju ke ruang UGD. Sehun yang masih kalut terduduk di kursi panjang tepat di depan ruangan UGD itu. Didalam sana Luhan segera ditangani oleh dokter. Sedangkan L duduk tepat di samping Sehun.

"Sehunah. Luhan pasti akan baik-baik saja." Sembari menepuk pundak Sehun seakan memberikan semangat untuk sahabatnya ini.

"Aku benar-benar khawatir. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Luhan, L. Aku lalai tidak bisa selalu ada untuk menjaganya." Tanpa sadar leleran air mata itu membasahi pipi seorang Oh Sehun yang terlihat kuat. Namun kini terlihat begitu rapuh. Saat sang terkasih tengah berada pada kondisi kritis.

"Sehunnah. Hei. Ini bukan kesalahan mu. Bahkan kau juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Luhan. Kita harus berdoa semoga Luhan baik-baik saja." L berusaha menenangkan Sehun. Memang dari segi umur juga L lebih tua setahun dari Sehun.

"Hem." Sehun hanya menanggapi dengan gumaman. Kemudian ia mengusap wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Mendudukan dirinya bersadar pada kursi sembari mendongak keatas. Terlihat sekali pandangannya begitu frustasi. L yang sadar jika kemeja yang Sehun kenakan telah ternoda dengan darah. Segera saja L menghubungi anak buahnya untuk membawakan baju ganti untuk sang CEO. Juga meminta beberapa anak buah nya mengurus langsung acara penutupan rapat hari ini. Juga meminta untuk menyampaikan banyak permohonan maaf terkait kepergian sang CEO yang mendadak dan tidak bisa berada disana.

.

.

.

.

.

Kurang lebih 45 menit Luhan ditangani di dalam sana. Seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu. Segera saja Sehun menghampiri sang dokter dan menanyakan tentang keaddaan Luhan.

"Dokter, bagaimana keadaan Luhan?" Tanya Sehun syarat akan perasaan khawatir dan ingin tahunya.

"Beruntung anda segera membawanya kemari. Nyawa kedua janin dalam kandungannya dapat diselamatkan. Beruntung ketiganya baik-baik saja." Terang dokter terkait kondisi Luhan.

"Tunggu dokter. Anda baru saja mengatakan… jika Luhan beserta kedua janin nya baik-baik saja. Jadi Luhan benar-benar hamil?" Tanya Sehun terkejut dan L yang berada di sebelah sehun yang sedari ikut mendengarkan juga tak kalah terkejutnya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Iya. Luhan adalah seorang carier. Ia adalah seorang pria carier dan calon ibu yang kuat." Jawab sang dokter.

"Lalu bagaimana….bagaimana Luhan bisa mengalami pendarahan, dok?" L akhirnya bertanya pada sang dokter. Melihat kondisi Sehun yang lebih syok dengan apa yang terjadi pada Luhan. Ia bahkan tak mampu berkata apapun.

"Seorang pria carier atau wanita yang sedang hamil. Sebaiknya tidak melakukan banyak aktifitas atau hal-hal yang menambah beban fikirannya. Dan sepertinya apa yang dialami Luhan ini karena ia terlalu banyak fikiran yang membuatnya sedikit setres. Hingga berakibat buruk dengan kondisi tubuhnya. Apalagi ia sedang mengandung dua janin sekaligus. Setelah ini dia tidak boleh melakukan kegiatan atau memikirkan hal yang dapat membuatnya setres. Karena bisa jadi kejadian seperti ini terjadi kembali. Beruntung ketiganya dapat terselamatkan." Terang dokter lagi.

"Baik dokter. Terimaksih telah menolong menyelamatkan Luhan dan kedua janinnya." L berujar terimakasih pada sang dokter.

"Em, tuan." Dokter itu memanggil Sehun.

"Iya dokter." Jawab Sehun yang seakan ditarik dari kondisi blank ke keadaan normal.

"Sepertinya anda begitu syok dengan apa yang dialami istri anda. Ini pasti anak pertama anda sehingga anda seperti ini ya?"

"Huh. Maksud dokter?" Sehun sedikit bingung. Siapa yang dokter maksud sebagai istri. Luhan kah?

"Ada sebaiknya harus lebih memperhatikan istri anda yang tengah hamil muda. Apalagi ini masih berjalan ke tri semester pertama. Jangan sampai kejadian seperti ini terjadi kembali, tuan." Nasehat sang Dokter pada Sehun.

"Memangnya berapa usia kandunganya, dok?" Tanya Sehun memotong nasehat sang dokter.

"Usianya hampir tiga bulan."

"Huh.." Sehun kembali terkejut. Jadi selama ini ia tidak tahu menahu jika Luhan tengah hamil.

"Kalau begitu saya permisi dulu, tuan-tuan." Dokter undur diri dari hadapan keduanya.

"L.. Bagaiamana bisa Luhan hamil? dan siapa orang yang telah menghamilinya? Lalu, bagaiamana bisa kita tidak tau sama sekali tentang ini. Dan.. dokter itu mengira aku suaminya. Sedangkan yang aku baca dari profil milik Luhan. Luhan belum pernah menikah. Lalu bagaimana ia bisa sampai hamil? Jangan-jangan Luhan pernah diperkosa? Aissss….. ini membuatku bertambah frustasi." Perasaan Sehun kali ini antara khawatir sedih dan dia bingung. Juga merasa bersalah. Tak luput perasaan kesal.

"Sehunah. Tenangkan dirimu." L berusaha menenangkan Sehun.

"Aku harus mencari tahu bagaimana semua ini bisa terjadi pada Luhan." Tekan Sehun. Sepertinya tekatnya ini sudah bulat.

Seorang suster menghapiri keduanya dan mengatakan jika sebentar lagi Luhan akan dipindahkan ke kamar pasien. L meminta sang perawat memberikan Luhan kamar vvip untuk Luhan. Tak lama seorang anak buah L datang dengan membawa sebuah paper bag berisikan baju ganti untuk sang CEO. Sedang sang CEO masih bergelut dengan pemikirannya. Ia tampak begitu frustasi terlihat dari caranya mengacak-acak dan menarik rambutnya sendiri.

"Sehunah. Sebaiknya kau membersihakn dirimu terlebih dahulu. Sebelum kau pergi untuk melihat keadaan Luhan dikamar rawat inapnya."

"…" Sehun masih tak bergeming.

"Sehunnah. Nanti aku akan membantumu mencari tahu apa yang sebenarnya Luhan alami. Jadi sebaiknya sana kau bersihkan dirimu. Kemejamu terkena ceceran darah Luhan tadi."

"Terimakasih L." Barulah Sehun menanggpi usai L mengatakan akan membantunya nanti. Sehun beranjak dari sana usai menerima paperb ag dari L untuk mengganti bajunya yang sempat terkena noda darah Luhan saat menggendongnya tadi.


TBC


Note:

Ngarep ya seminggu sekali update?... hahaha..

Kei lagi sibuk sebenarnya. Tapi kei sedikit mangkir. Otomatis kerjaan numpuk. Wkwkwk..

Kei pengen keluar dari kerjaan yang baru kei lewati hampir 2 bulan ini. Tapi kei juga mikir. Diluar sana banyak orang di phk. Cari kerjaan juga susah. Kei aja nganggur 1 tahun. Kei dengan seenaknya mau cabut. Tapi jujur kei kadang ngerasa jadi babu tau. Kei tertekan disini. Adakah saran dari kalian buat ngadepin boss yang pelit, songong, juga semaunya sendiri?

Jangan ngarep kei bisa update setiap saat ya.. kei bukan JINNY bukan JENNY... Hehehe…

Kei kaga punya libur gaes... Proyek terus jalan. Dan berhenti kalo anggota tim kena covid 19. Hari ini ada wartawan sotoy yang sok2an gurui gaes. Terpampang jelas judul bahas APD terkait covid 19. Lah tiba2 ngatain kerjaan yang gak sesuai SOP. Dia kali ya yg gk tau SOP. Sok-sok an ngajarin. Kei tambah kesel.

Jadi berbahagialah kalian yang masih bisa kerja dirumah. Have a nice day. Keep heatly. And stay in home. Peluk dan cium dari kei yang lagi di proyek.


12/04/2020


HBD AYAH SEHUN OH.