Tittle : Little Sunshine
Author : Keiko Yummina
Cast : HunHan (Oh Sehun & Xi Luhan), Slight EXO OTP12
Genre : Hurt-Comfort, M-preg, Romance, Family
Length : Chaptered
Rated : M (Mecum)
WARNING! YAOI, M-PREG
Bagi yang tidak suka YAOI apalagi M-PREG mending gk usah baca!
…
Jangan biasakan jadi SIDER, Okey!
…
Previous
.
.
.
"Sehunnie. Aku ingin pulang ke Korea." Luhan benar-benar ingin segera keluar dan pulang ke Korea.
"Tapi Luhannie ku ini belum sembuh benar. Aku tidak ingin kesayangan ku ini kenapa-napa. Aku juga tidak ingin baby kenapa-napa." Sehun memohon.
"Tapi aku rindu ingin bertemu Baekhyun. Hiks." Sepertinya ini merupakan bagian dari moodswing si rusa hamil.
"Cup-cup. Jangan menangis. Jika kau rindu sahabat mu itu. Sebaiknya kau makan sarapan mu ini. Lalu nanti siang setelah dokter menyatakan kau baik-baik saja. Maka kita akan bersiap pulang. Bagaimana?" Bujuk Sehun lagi.
"Benarkah? Kita akan pulang nanti siang?" Terlihat sekali Luhan segera menghapus jejak-jejak air matanya yang tentu saja dibantu Sehun.
"Ne, aku janji hari ini kita pulang." Sehun memberikan senyum terbaiknya. Saking senangnya Luhan menarik Sehun untuk dipeluknya. Sehun dengan senang hati menerima pelukan itu. Ia membalas pelukan sang terkasih.
.
.
.
CHAPTER 22
.
.
.
Typo bertebaran~
Siang ini dokter melakukan pengecekan secara detail sebelum mengizinkan Luhan untuk pulang. Luhan yang tak sabar menunggu doktek menyelelesaikan pemeriksaan pada dirinya hanya bisa menunjukkan ekspresi harap-harap cemas. Takut-takut keinginannya untuk segera pulang ke Korea akan tertunda karena kondisinya yang bisa jadi belum sembuh benar. Sehun yang tahu jika kekasihnya ini sedikit cemas, dengan perlahan mengusap tangan si mungil yang tak lagi menggunakan infus, guna menyalurkan perasaan sayang juga menenangkannya.
Luhan segera menoleh ke wajah Sehun. Disana ia menangkap ekpresi Sehun yang terlihat tenang juga memberikan senyum menenangkan untuk Luhan. Wajah cantik itu entah merasa ikut lega usai mendapat tatapan lembut dari Sehun. Hingga tak terasa Dokter telah selesai melakukan pengecekan kesehatannya.
"Semua baik-baik saja. Nyonya Oh juga kandungannya, mereka sehat. Dan anda dapat mengajaknya untuk berpergian jauh." Dokter itu menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada Sehun. Karena jelas saja Luhan tidak bisa berbahasa mandarin.
"Terimakasih Dokter." Ucap Sehun tulus juga senang mendengar hasil pemeriksaan itu secara langsung.
"Tuan Oh, saya berpesan agar anda menjaga istri anda untuk tidak berfikiran terlalu berat maupun melakukan beraktifitas terlalu berat. Karena jika hal seperti kemarin terulang lagi, maka akan sangat membahayakan ibu juga kandungannya." Terang sang dokter memperingati Sehun.
"Tentu Dokter. Saya akan lebih memperhatikan istri saya ini. Terimakasih banyak dokter." Sahut Sehun kepada sang dokter.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan Oh, dan Nyonya Oh." Dokter tersebut undur diri.
"Silahkan Dokter." Sehun mempersilahkan dengan sopan.
Mendengar Sehun menyebut dirinya dengan sebutan istri apalagi Nyonya Oh. Entah mengapa membuat Luhan tersipu malu diam-diam. Jangan ingatkan jika pipi juga telinganya juga memerah. Sehun melirik sekilas ke arah Luhan juga ikut tersenyum.
.
.
.
.
.
Sehun mengantar Dokter itu hingga keluar kamar rawat inap Luhan. Sepeninggal dokter yang telah merawat Luhan selama ia dirawat di rumah sakit ini. Sehun kembali menghampiri Luhan yang masih setia duduk diatas ranjangnya.
"Jadi, apakah kekasih manis ku ini siap untuk pulang ke Korea?" Tanya Sehun kepada Luhan.
"Aku siap Sehunnie." Seru Luhan dengan gembira.
"Kalau begitu kita akan mengemasi barang-barang mu, dan segera berangkat ke bandara." Ucap Sehun membuat Luhan sedikit tersentak.
"Sehunie." Luhan memanggil Sehun dengan suara lembutnya.
"Ada apa Luhannie?" Jawa Sehun sambil sesekali mengumpulkan barang-barang milik kekasihnya ini untuk dimasukkan ke dalam koper.
"Jika kita berangkat sekarang. Apakah kita akan naik pesawat yang waktu itu?" Tanya Luhan polos.
"Tentu saja sayang. Mereka sudah bersiap dan menunggu kita dibadara." Jawab Sehun pelan.
"Tapi Sehunnie. Lulu takut dengan ketinggian. Hiks." Mode Luhan yang seperti ini lagi adalah hal yang terkadang membuat Sehun gemas sendiri.
"Luhannie sayang. Kau bisa menggenggam tangan ku selama perjalanan nanti. Aku akan melindungi mu juga baby. Jadi kau tidak perlu cemas, ne?" Sehun merengkuh kekasihnya juga menenangkan Luhan dari perasaan risaunya akibat phobia yang dideritanya.
"Sehunnie, Aku sangat mencintai mu." Seru Luhan mengungkapkan perasaan cinta dengan tulusnya.
"Aku juga mencintai mu, Luhannie sayang." Jawab Sehun yang merasa sangat bahagia jika Luhan mengungkapkan rasa cinta padanya.
.
.
.
.
.
Sepasang kekasih itu begitu tak sabar untuk terbang dan sampai ke negara asalanya yaitu Korea Selatan. Sehun sangat menyanyangi Luhan. Bahkan ia tak akan pernah bisa menolak apapun permintaan Luhan. Kecuali satu, yaitu memintanya untuk pergi dari sisi nya. Sehun tak akan sanggup. Dan tak akan mau mengulang kembali hal itu. Dimana ia menunggu dan menyimpan perasaannya hanya untuk dirinya sendiri.
Untuk sekarang dan Sehun berharap untuk seterusnya. Jika Luhan akan menjadi prioritas utamanya, masa depannya, bahkan separuh jiwanya. Luhan kini telah menjadi poros hidup sang Pria Tampan bak dewa Yunani ini. Maka ketika ia sudah berjanji untuk sang terkadih. Maka ia tak akan bisa mengingkarinya.
Dilain tempat, Luhan entah mengapa begitu bersemangatnya. Terlihat dari pancaran matanya. Rusa itu sepertinya sudah tak sabar untuk bertemu dengan Baekhyun. Sahabat barunya yang bahkan sudah seperti adiknya sendiri. Meskipun Luhan tak mengenal Baekhyun dengan jangka waktu yang cukup lama. Namun dengan kepolosannya Luhan dapat berteman baik dengan seorang Byun Baekhyun.
.
.
.
.
.
Sehun membantu Luhan mengemasi barang-barang nya. Hanya beberapa potong pakaian selama berada di rumah sakit kemarin. Sepasang mata tajam itu berubah berbinar saat mendapati pria cantiknya itu terlihat manis tepat dihadapannya. Luhan yang sepertinya sedikit kesal karena baju-bajunya malah bertambah banyak dan membuatnya kesulitan untuk mengemas kedalam tas koper mungil miliknya. Sesekali bibirnya mengerucut dengan sedikit omelan yang tak terdengar. Namun dapat tertangkap oleh sepasang mata tajam milih Oh Sehun. Sehun yang memperhatikan ekspresi Luhan yang sedang kesal itu malah mengulas senyum tipis.
Tiba-tiba saja ada perasaan bersalah yang menyeruak dalam benak Sehun. Mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu ketika ia menemukan rusa cantiknya ini tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang merembes disela-sela kakinya. Itu adalah hal yang sangat mengerikan untuk Sehun. Ia merasa lalai untuk mengawasi pria cantiknya ini hingga kejadian itu bisa terjadi. Beruntung ia masih sempat membawanya ke rumah sakit dan Luhan tertolong dengan segera. Jika sedetik saja ia lupa, entah apa yang akan terjadi. Sehun tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Maka dari itu mulai detik ini ia bertekat akan lebih memperhatikan apapun yang berkaitan dengan kekasih cantiknya ini. Tanpa terkecuali masalah yang masih disembunyikan oleh Luhan terkait kondisinya yang sekarang sedang hamil ini. Sehun merasa sangat wajib untuk mencari tahu tentang hal itu.
Sehun akhirnya mendekat ke arah Luhan dan memberikan intruksi pada sekertarisnya untuk membawakan koper kosong sebagai wadah baju-baju Luhan lewat ponselnya. Tak lama salah seorang bodyguard mengantarkan sebuah koper kosong ke arah Sehun dan Luhan sebelumnya mengetuk pintu kamar rawat inap itu. Mereka bersiap keluar dari kamar tempat Luhan sebelumnya dirawat.
"Cah.. Lulu ku cantik ini sudah siap untuk pulang." Sehun berseru sembari memasangkan sebuah syal dileher Luhan.
"Hunnie. Lulu tidak cantik. Lulu tampan." Protes nya sambil mempout kan bibir nya.
"Iya-iya. Lulu tampan." Sehun yang gemas malah menyambar bibir maju itu dengan kecupan singkat yang membuat si pemilik bibir itu sedikit terkejut atas tindakan yang baru saja ia terima.
"Sehun. Kenapa mencium ku tiba-tiba?" Si cantik bertambah cemberut.
"Aish.. Kau menggoda ku lagi?" Sehun tidak menanggapi sinyal kesal dari pria dihadapannya ini. Malah ia berakhir kembali tergoda untuk menggoda rusa cantiknya ini.
"Huh.. Hunnie.." Sepertinya rusa cantik ini sekarang benar-benar kesal.
"Baiklah.. baiklah. Aku minta maaf mencium mu tiba-tiba." Sehun akhirnya mengalah sebelum si rusa akan bertambah kesal dan mendiami nya.
"Huh?" Kali ini Luhan yang tak mengerti kenapa Sehun malah mengucap kata maaf.
"Memang kau tidak suka ya jika ku cium?" Tanya Sehun yang ikut tak memahami maksud kekesalan Luhan.
"Bukan begitu." Jawab Luhan malu. Ia menunduk melihat kebawah. Bahkan telinganya sudah memerah.
"Lalu?" Sehun berakhir menjadi bingung juga.
"Kau tau tidak, Hunnie. Jika disini tidak hanya ada kita berdua. Tapi ada dua orang perawat itu yang sedari tadi memperhatikan kita. Bahkan saat kau mencium ku juga." Terang saja si rusa cantik itu malu. Sambil memberikan code pada Sehun lewat matanya. Karena didalam ruangan ini tak hanya ada mereka berdua, tapi juga dua orang perawat yang sedang membereskan peralat rumah sakit yang tak jauh dari meraka berdiri.
"Oh.. Kalau begitu kami permisi." Dengan tanpa malu Sehun merengkuh pingga si mungil untuk berjalan bersama keluar dari ruangan itu.
.
.
.
.
.
Perjalanan menuju bandara lagi-lagi membuat Luhan menegang. Sedangkan Sehun dengan senantiasa menggenggam tangan Luhan dan berupaya menengankannya agar tak terlalu cemas. Mereka bertiga telah sampai di bandara internasional China untuk bertolak menuju Korea. Sebelumnya sekertaris Kim memang telah menunggu keduanya di bandara. Sedangkan Sehun dan Luhan langsung menyusul ke bandara tanpa terlebih dahulu singgah di rumah yang menjadi tempat tinggal mereka bertiga selama berada di China. Tak lupa pesawat milik Sehun sudah terparkir selama satu jam di lapangan terbang nya sejak tadi. Hanya tinggal menunggu si pemilik pesawat bersama rombongannya untuk take off.
"Hunnie. Aku takut." Seru Luhan cemas.
"Lulu ku sayang. Disini ada aku dan tidak akan terjadi apa-apa." Sehun mencoba menyakinkan Luhan. Sesekali tangan besarnya yang merengkuh pundak mungil itu mengusap pelan untuk menenangkan si cantik.
"Uch.. Hunnie. Dia terus berputar-putar membuat ku sedikit sesak sedari tadi." Wajah cantik itu memelas karena mereka seperti bermain sepak bola didalam sana.
"Huh?" Sehun yang tak paham hanya bisa mengernyit tanda dia bingung dengan apa yang Luhan katakana.
"Ini.. Disini (Menunjuk ke arah perut besarnya yang tertutup mantel tebal yang ia kenakan). Tak mau diam." Wajahnya memelas.
Sehun yang akhirnya paham dengan maksud Luhan dengan segera berhenti berjalan. Lalu ia berbalik menghadap Luhan. Entah doroangan dari mana Sehun menurunkan dirinya hingga wajanya sejajar dengan perut bulat milik sang terkasih. Satu tangannya merengkuh pinggang si mungil untuk lebih mendekat. Sedang tangan yang lain terangkat dan dengan perlahan mengusap perut bulat milik sang terkasih ini pelan. Dalam benaknya berharap agar bayi-bayi disana merasa tenang juga. Naluri seorang Appa yang tak mungkin bisa dibohongi.
"Hai baby mungil disana. Jangan membuat mommy mu bertambah gusar ne. Appa janji akan membawa mommy mu dan tentu saja baby selamat sampai dirumah. Cah sekarang jadilah anak yang penurut. Agar mommy mu tidak merasa cemas ne?" Dua tendangan tepat terasa di telapak tangan Sehun. Hal itu membuat Sehun merasa terkejut juga takjub karena mendapat respon dari bayi didalam perut Luhan. Perasaan bahagia juga menghangat ketika mendapat respon dari bayi dalam kandungan kekasih cantiknya ini. Perasaan keterkejutan atas respon tadi yang entah kenapa dalam benaknya bertanya-tanya. Sepasanga mata tajam itu sedikit memperbesar diameternya. Sehun sempat menghentikan aktifitasnya mengusap perut Luhan dengan sentuhan halus. Seketika pandangan matanya sedikit menelusuri tepat di area perut buncit Luhan yang tertutupi oleh sweeter yang dikenakannya.
"…." Luhan hanya bisa memperhatikan apa yang baru saja dilakukan Sehun dalam menenangkan bayi-bayi nya. Namun keterdiaman Sehun barusan telah tertangakap oleh sepasang mata rusanya. Dalam benak Luhan membuatnya ikut bertanya-tanya mengapa Sehun menampilkan wajah seperti itu barusan.
"Lu, aku merasakan dua tendangan keras barusan. Apa (Menjeda) apakah mereka lebih dari satu?" Sehun yang telah ketahuan menampilkan ekspresi bertanya itu. Berakhir bertanya pada Luhan dengan penasaran. Mata tajam itu memang terlahir seperti itu. Karena hal itu membuat Luhan sedikit gugup dengan tatapan Sehun kali ini. Seolah ia akan di introgasi kali ini.
"Hem. Mereka.. em.. sebenarnya…mereka kembar.. hunnie." Cicit Luhan pelan tak berani memandang mata tajam itu karena sudah terlanjur ketahuan oleh Sehun mengenai bayi-bayi dalam perutnya.
"Lu (Sehun menjeda). Kenapa kau tidak mengatakan ini sebelumnya?" Kalimat terakhir menunjukkan nada bahagia sebenarnya. Namun karena Luhan tak berani menatap mata itu. Sehingga menganggap jika suara keras barusan tanda Sehun marah. Karena hal itu membuat Luhannya malah takut.
"Maaf hunnie." Jawa Luhan pelan sembari masih tetap menunduk tak berani bertatapan langsung dengan Sehun. Terlihat mata rusa itu mulai berkaca-kaca.
"Hei. Lulu ku sayang. Ini terdengar bagus jika disana memang ada dua bayi kecil yang lucu." Jawab Sehun dengan sumringah menunjukkan rasa syukurnya. Entah kenapa semenjak tahu Luhan hamil tempo hari. Perasaan pria berumur hampir kepala tiga ini ikut sanagt bahagia. Tak ingin membuat Luhannya bersedih itu juga hal yang menjadi pantangan untuk Sehun tentunya.
"Huh?" Luhan terkejut langsung seketika mengangkat wajah nya dan menatap sepasang mata sabit itu yang semakin terlihat sipit saat ia tertawa.
Sehun kembali mengusapkan tangannya memutar di atas perut puncit Luhan. Luhan menampilkan wajah sumringahnya dan kembali diam mengamati apa yang Sehun lakukan. Disana pria nya itu kembali menyapa bayi-bayi nya itu dengan pelan dan penuh kasih sayang.
"Baiklah. Biar aku ralat perkataan ku tadi. Hai bayi-bayi kecil disana. Jangan membuat mommy mu bertambah gelisah, ne? Appa janji akan membawa mommy dan juga kalian selamat sampai di rumah. Cah.. jangan nakal dan jadilah anak baik didalam sana. Cup. Appa menyayangi kalian." Seakan alunan lagu penenang. Sehun menasehati bayi-bayi Luhan untuk tenang dan tak membuat cemas sang momy. Tak lupa ujaran kata sayang untuk mereka. Bahkan ia mengakhiri perkataannya dengan sebuah kecupan hangat di atas perut Luhan.
Seakan mengerti apa ungkapan perasaat sayang dari sang appa. Mereka pun benar-benar menuruti apa permintaan Sehun. Hati Luhan menghangat menerima perlakuan dari Sehun. Dan yang sebenarnya terjadi adalah mereka berdua yang memang benar sebentar lagi akan menjadi sepasang orang tua hanyalah bahagia. Sedang orang yang diperlakukan semanis itu begitu terharu melihat bagaiaman sang kekasih tak hanya mencintai dirinya. Namun juga menyayangi bayi-bayinya. Terlihata bagaiaman cara Sehun membuat ini semua menjadi terlihat lebih mudah.
Usai menenangkan bayi-bayi di dalam perut Luhan. Sehun kembali berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan masih menghadap Luhan. Tangannya terulur untuk megusap pipi yang kini terlihat lebih gembil dari sebelumnya. Luhan yang merasakan hangatnya tangan Sehun itu hanya meresapi rasa hangatnya itu sampai ke dalam hatinya sembari memejamkan mata. Tak lama Sehun kembali memposisikan diri untuk merengkuh pingga Luhan dari samping dan berjalan bersama menuju pesawat mereka.
"Baiklah, ayo kita pulang." Tak lama Sehun kembali memposisikan diri untuk merengkuh pingga Luhan dari samping dan berjalan bersama menuju pesawat mereka.
"Terimakasih Hunnie yang telah menyayangi baby." Seru Luhan pelan sembari menengok ke wajah Sehun. Terlihat betapa tegas nya tulang rahang sang kekasih ini. Begitu tampannya. Dan ia hanya miliknya. Mengeklaim miliknya secara penuh.
"Apapun untuk mu dan baby lulu cantik kesayangan Sehunnie." Jawaban singkat Sehun sukses membuat pipi Luhan bersemburat merah hingga ke telinga. Sehun yang tau itu hanya semakin mengeratkan pelukannya dan menuntun Luhan berjalan ke depan.
.
.
.
.
.
Mereka telah berada di dalam pesawat yang akan mengantar ketiganya kembali ke Korea. Luhan duduk tenang disebelah Sehun. Sesekali ia mengeratkan pegangan tangan nya pada lengah kokok milik sang terkasih. Sedang sebelah tangannya yang lain memegang sebuah boneka bambi berukuran sedikit besar yang dibelikan Sehun tempo hari karena si rusa merengek meminta boneka bambi untuk teman tidurnya selama di rumah sakit. Permintaan Luhan yang tak bisa ditolak oleh Sehun sungguh membuat Luhan benar-benar mirip bocah. Namun dengan senang hati Sehun akan melakukan semua keinginan Luhan.
Tak lama usai pesawat lepas landas. Luhan merengek ingin makan kue strawberry. Beruntung dikapal ini memiliki kelengkapan persediaan makanan yang telah terlebih dahulu disiapkan Sehun. Berjaga-jaga siapa tahu si rusa mungil ini meminta makanan atau camilan selama perjalanan pulang. Dan begitu Sehun menghubungi sekertaris Kim terkait keinginan Luhan. Tak lama seorang pelayan datang dengan sebuah brankar mini membawakan pesanan Luhan dan menyajikannya.
Luhan memakan kue strawberry itu dengan lahap. Tak lupa strawberry milkshike sebagai pelengkapnya. Sepertinya rusa hamil ini melupakan ketakutannya terhadap ketinggian. Dan teralihkan dengan makanan yang sedang ia nikmati siang menuju sore ini. Sehun hanya memperhatikan betapa menggemaskannya kekasih mungilnya ini saat menyantap kue itu. Sesekali Sehun membersihkan sudut bibir Luhan yang terkena krim dari kue yang ia makan.
.
.
.
.
.
Ketiganya sudah sampai di bandara Internasional Incheon. Lagi-lagi Sehun mendapati Luhan yang masih tertidur dengan lelapnya sembari memeluk bambi kesayangannya. Dengan perlahan Sehun merogoh saku kemejanya untuk mengambil phonsel miliknya. Begitu ia mendapatkan apa yang ia cari. Sehun segera saja menyalakan phonsel miliknya itu sembari membuka kamera. Kemudian mengambil gambar Luhan yang sedang tertidur dengan lelapnya. Usai mendapatkan gambar Luhan. Ia kemabali menyimpan phonselnya ke dalam saku. Tangannya terulur menyibak rambut bagian depan Luhan. Sepertinya ia tidak bisa membangunkan rusa cantik itu karena tak tega. Dengan perlahan Sehun melepaskan sabuk pengaman milik Luhan. Kemudian mulai memposisikan diri menggendong Luhan ala bridal style keluar dari pesawat yang baru saja mereka tumpangi.
Luhan sepertinya tak terganggu sama sekali didalam gendongan sang terkasih. Malahan ia menelusupkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Sehun. Sehun dengan hati-hati menggendong Luhan hingga ke mobil yang memang telah menjemput mereka. Tak lupa Sekertaris Kim yang sudah berjalan di depan ikut membantu membukakan pintu mobil itu. Ketiganya pun diantar menuju ke apartemen dimana Sehun tinggal.
.
.
.
.
.
Sehun segera membawa Luhan ke dalam kamar miliknya. Menidurkan Luhan dengan perlahan keatas ranjang miliknya. Sehun kemudian berjalan ke lemari pakaian yang tak jauh letaknya dari ranjang miliknya itu. Mengambil secara acak piama berwarna cream dan mulai mengganti baju Luhan dengan piama miliknya. Dengan pelahan Sehun melepaskan sweeter yang Luhan kenakan. Mungkin jika ini orang lain maka akan terlihat tindakan kurang ajar terhadap orang yang sedang tidur. Namun ini beda cerita, karena selama di rumah sakit kemarin hanya Sehun lah yang di ijinkan atau yang memang membuat peraturan dimana hanya dialah yang boleh membantu Luhan untuk membersihkan diri.
Sweeter milik Luhan berhasil terlepas beserta kemejannya. Terlihat jelas disana perut membuncit Luhan yang tampak menggemaskan didalam sana. Sehun mendekatkan diri dan mencium perut itu tanpa penghalang apapun. Dan entah kenapa perasaannya terasa menghangat ketika ia melakukan ini. Usai memandangi dan mengusap perut buncit itu. Sehun segera memakaikan piayama tidur itu agara Luhan lebih merasa nyaman saat tidur.
Sepertinya si cantik ini benar-benar merasa lelah. Bahkan tidurnya seakan tak terusik sama sekali. Selesai itu Sehun menyelimuti tubuh mungil itu. Sebelum keluar dari kamar bernuansa abu-abu itu, Sehun sempat mendaratkan kecupan manis tepat di dahi si rusa yang masih betah terlelap ini. Lalu ia keluar dari ruangan pribadinya itu untuk mengambil air di dapur.
.
.
.
TBC
Note:
Maafkan sudah hiatus selama hampir setahun ini.
Kei bener2 sibuk di kerjaan.
Tapi seakarang Kei gak sibuk cz baru aja jadi pengangguran. hehehehe
Typo itu udah jadi kebiasaan.
Kei gak sempat nambahin hal yang manis-manis.
Next chapter semoga masih dalam hal2 yg manis.
Salam manis dari kei untuk kalian semua.
04/02/2020
