*Warn! Age-gap, Quirkless AU, typo bertebaran, cerita gajelas, dan yang lain-lainnya.

*Dibuat karena gabutz dan kurang asupan. Maklumin aja ya.


Leandychic proudly present,

{ Strangers who come to my life }

-[ Bagian Satu ]-

"Oh, jadi kau .. Gadis yang selalu diceritakan oleh Toshinori-san."


"Oke, semua tugas sudah selesai. Mari istirahat sebentar," monolog Izuku sambil meregangkan tubuhnya yang kaku akibat terlalu fokus pada tugas. Matanya melirik benda persegi yang berdetak di dinding, lalu tersenyum senang. Yap, kerja bagus Izuku.

Jam dinding masih menunjukan pukul setengah sembilan malam, sebuah pencapaian besar yang perlu diapresiasi mungkin, karena biasanya dia harus berkutat pada tugas kuliah yang seakan tak ada habisnya. Itu belum dihitung dengan naskah-naskah yang harus Izuku koreksi, bisa-bisa semua itu baru selesai tengah malam.

Sepertinya perkataan Eijirou ada benarnya, jadi editor naskah dan kuliah itu berat.

Namun, mau bagaimana lagi? Hanya ini yang bisa ia lakukan agar tidak merepotkan paman Toshinori, orang misterius yang tiba-tiba mengadopsinya tepat seminggu setelah pemakaman ibu tercintanya. Saat itu Izuku putus asa, hampir saja mengakhiri hidupnya jika saja paman Yagi tidak mengetuk pintu dan merengkuh tubuhnya yang lemah. Mungkin pesan terakhir sang ibu memang benar, "Lanjutkan hidupmu, karena masih banyak yang menyayangimu."

Dan setelah urusan adopsi dan semuanya selesai, beliau membelikannya sebuah apartemen dan siap menanggung seluruh biaya hidupnya. Bukannya Izuku tidak bersyukur, tapi aneh saja jika hidupnya yang awalnya sederhana bahkan hampir kekurangan mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Saat ditanya mengapa paman Yagi repot-repot melakukan semua itu, beliau hanya menjawab "Hanya sebuah balas budi."

Sungguh, sekali lagi Izuku merasa jika semua itu akan sangat merepotkan bagi paman Yagi. Jadi ia bertekad untuk hidup mandiri dan sebisa mungkin mencukupi kehidupannya. Sehabis berdiskusi panjang – – dengan 'paman baik hati juga sedikit keras kepala', Izuku diberikan kesempatan untuk membiayai sendiri keperluan sehari-hari dan juga setengah biaya kuliahnya, untuk urusan apartemen dan sisanya tetap bagian paman Yagi. Namun, jika Izuku benar-benar tidak sanggup, paman Yagi dengan senang hati akan mengurusnya.

Tertantang dengan deklarasi tidak langsung pamannya, Izuku berusaha mencari setidaknya dua lowongan pekerjaan, yang satu untuk sampingan dan yang satunya lagi akan jadi penghasilan utama. Beruntunglah gadis itu, kami-sama mengabulkan harapannya. Ia diterima sebuah perusahaan penerbit mayor sebagai editor naskah dan juga mendapat kerja sampingan setiap akhir pekan di sebuah restoran yang tak jauh dari apartemennya.

Kriing'

Suara telepon apartemen membuyarkan lamunan Izuku yang sedang melamun. Dengan tergesa, gadis itu bangkit dan meraih gagang telepon.

"Ya, dengan Midoriya Izuku disini. Ada yang-"

"Turun ke bawah sekarang, aku harus bertemu denganmu."

Tak bertele-tele dan terdengar seperti sebuah ancaman. Gadis itu tergagap, apakah ini teror?!

"U-um, maaf … Tapi-"

"Tidak ada penolakan, sialan."

Dan ditutup begitu saja.

Lenggang, Izuku menutup telepon dan melangkah mundur. Tangannya dengan panik menggapai ponsel dan dengan segera menekan satu-satunya nomor yang ada disana, milik paman Yagi tentu saja.

"Paman, tolong aku."


"Izuku!"

Secepat kilat yang menyambar, paman Yagi tiba dan mengetuk pintu apartemennya. Napas tersengal, jas yang tak terpasang dengan rapi, juga raut wajah yang panik luar biasa terpampang di hadapannya.

Yagi-san cepat sekali.

Menarik tubuhnya , lelaki paruh baya itu memeluk erat. "Kau tak apa, kan? Syukurlah."

"Paman Yagi, aku baik-baik saja. Terimakasih sudah datang."

Melepaskan pelukan mautnya, paman Yagi memeriksa seluruh tubuh Izuku. Setelah memastikan tidak ada luka, beliau menghela napas, "Jadi, ada masalah apa, Izuku?" Pria tua itu menutup pintu, menyampirkan jas lalu mengamati kamar anak asuhnya. "Tidak biasanya kau menelponku."

"I-itu.. Aku diteror," cicit Izuku takut-takut.

Gagal paham, pria itu melongo. "Ha?"

Kriing!

Menjawab kebingungan, telepon apartemen berbunyi lagi. Izuku lantas menunjuk-nunjuk barang itu dan berteriak histeris, "Hii! Itu orang yang menerorku, Yagi-san!"

Bukannya terkejut, yang lebih tua justru menaikkan sebelah alisnya, "Dari telepon?"

Gadis itu mengangguk. Membuat paman Yagi ber-oh ria dan berjalan santai ke arah benda berdering itu.

"Baiklah, biar kuatasi orangnya," ujar lelaki itu sambil menggulung lengan kemejanya. Izuku menatap dengan ngeri, atmosfer terasa begitu mencekam baginya.

"Halo?"


"Sudah kubilang, cepat turun!"

"Eh, Katsuki?" Kelopak mata yang awalnya terpejam perlahan membuka, memperhatikan gerak-gerik paman Yagi yang tiba-tiba tertawa. Izuku semakin gemetar.

Huwaa! Yagi-san kerasukan!

"Ternyata kau, sudah ada dibawah?" Pria berhelai kuning cerah itu membuka tirai jendela, melihat ke bawah. "Ah' baiklah, aku melihatmu. Tentu, lain kali cobalah untuk lebih lembut dengan anak itu, ya."

"Tch, dia saja yang pengecut."

paman Yagi tertawa lagi, kini lebih keras. "Ha'i. Akan kubawa dia padamu."

Kenapa? Aku mau dibawa ke mana?

Telepon ditutup dengan tenang, pria itu menghela napas dan terkekeh kecil. "Na, Izuku... Sudah menyiapkan makan malam?"

Dengan sisa-sisa ketakutannya, Izuku menggeleng.

"Belum, apa Paman Yagi ingin makan di sini?"

"Tidak, bukan itu," geleng yang lebih tua. "Kita akan makan di luar malam ini. Dan-"

Rambut hijau itu bergerak naik-turun, mengangguk patuh. Menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulut paman Yagi.

"Akan kukenalkan kau padanya."

"Siapa?"

"Orang yang kau kira peneror itu, lho... Ada yang ingin kubicarakan juga dengan kalian berdua."

Tubuhnya berjengit ngeri, ingin rasanya ia menolak. Tetapi Izuku sendiri tidak punya pilihan, ia sebenarnya penasaran dengan sosok yang nada suaranya terdengar seperti pemalak utang yang pernah ia lihat di drama televisi beberapa hari yang lalu.

Semoga orangnya tidak seganas yang kubayangkan.


"Nah ... Izuku, ini Katsuki. Dan Katsuki, ini Izuku."

Tangannya tremor, menjulur pelan ke depan lelaki berambut pirang. Setidaknya ia harus tetap bersikap sopan,

"Hai, M-mmidor-riya I-izuku desu, Senang-"

"Bakugou Katsuki. Juga, tidak usah jabat tangan."

Ya ampun. Ini sangar dan angkuh dijadikan satu, ya?

Badan besar, tinggi, wajah yang tidak bisa santai, juga rambut urakan. Jika saja pria ini tidak memakai setelan jas dan bersikap lebih bar-bar, mungkin Izuku akan mengira Bakugou Katsuki adalah seorang debt collector.

"Ahaha, senang bertemu dengan anda.. Bakugou-san."


TBC Dlu, pan kapan dilanjut :v


Ohaihai gess, makasih udah mampir /lambai-lambai

Yap, ini tiba-tiba aja terlintas ketika sedang rebahan. Daripada numpuk di otak, mending pitik tulis.

Udah gitu aja, klo berkenan silahkan review :3

Baibai, sampai jumpa lageee