Summary: Naruto datang untuk memenuhi panggilan sekaligus menagih janji dari adiknya.
.
.
Rating: T
.
.
Pair: Naruto x Sanae, ... x Fem!Tsubasa
Misugi x Yayoi
.
.
Warning: Pemula, Acak-acakan
.
.
"Kau!?"
"Na-Naruto-kun!?"
"Na-Naruto Nii-san!?"
Rasa terkejut dari mereka yang mengenal Naruto saat orang tersebut datang ke Jepang. Siapa yang tidak terkejut kalau orang itu pergi jauh tanpa memberi kabar lalu tiba-tiba muncul begitu saja?
Sanae berdiri dari bangku stadion dan melangkah perlahan menghampiri Naruto. Air mulai terlihat di pelupuk matanya.
"I-ini dirimu, kan? Naruto-kun?" tanya Sanae terbata-bata.
Senyum teduh merekah di wajah tampan Naruto melihat kekasihnya yang mulai menangis. Sepertinya Sanae-chan melihat dirinya seperti ilusi, pikir Naruto.
"Tentu saja" jawab Naruto.
Yayoi juga melakukan hal sama seperti yang di lakukan oleh Sanae. Air mata mengalir di pipi manisnya.
"I-ini bukan mimpi?" Yayoi berharap bahwa ini bukan khayalannya.
Anak pertama dari pasangan Oozora ini tetap mempertahankan senyumannya namun tidak menjawab pertanyaan dari Yayoi. Tapi dia merentangkan kedua tangannya "Kemarilah! Sanae-chan! Yayoi-chan!" kata Naruto meyakinkan mereka berdua.
Sanae dan Yayoi telah di hadapan Naruto.
Mereka berdua menatap mata biru shappire yang menenangkan yang sudah lama tidak dilihat oleh 2 gadis ini.
Grep
Grep
Secara bersamaan, Sanae dan Yayoi memeluk Naruto di sisi kiri dan kanan. Mereka menangis pelan karena merindukan orang yang di sayangi.
Remaja tampan ini membalas pelukan keduanya tidak memperdulikan bajunya yang basah.
Sanae membuka pembicaraan sambil tetap memeluk Naruto "Hiks... Akhirnya kamu hiks pulang juga, hiks Naruto-kun" ucapnya tersedu-sedu.
"Ya, itu karena aku merindukanmu" kata Naruto berbisik dengan sedikit gombalan. Sanae yang dalam di pelukan kekasihnya merona tipis saat mendengarnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya
Kali ini giliran Yayoi yang bertanya "Kenapa dalam hiks 1 tahun ini Nii-san tidak hiks memberi kabar sama sekali?"
Naruto mengeserkan wajahnya menengok rambut coklat gadis yang dikenalnya saat ia masih tinggal di tokyo "Gomen, aku akan menjelaskannya nanti"
Mereka bertiga tetap berpelukan meski jadi pusat perhatian. Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar akibat ulah mereka sendiri.
Salah satu penonton, yaitu gadis berambut coklat sebahu dengan ujungnya yang di ikat di sisi kiri dan kanan, mata yang senada dengan warna rambutnya, memakai seragam sekolahnya mencoba bertanya kepada teman di sebelahnya yaitu gadis berambut hitam panjang yang di ikat ponytail, mata berwarna hitam, memakai baju yang sama dengan gadis berambut coklat itu.
"Nee Yukari-senpai, apa senpai mengenal laki-laki itu? dan kenapa Sanae-senpai memeluk dia sampai menangis? apa Yukari-senpai tahu sesuatu?" tanya beruntun si gadis coklat kepada senpainya yang bernama Yukari.
Gadis yang di panggil Yukari sedikit sweatdrop karena ia ditanyai bertubi-tubi "Kalau tanya satu-satu dulu, Kumi-chan. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang terjadi. Lebih baik kita tanyakan kepada Sanae nanti." ia menjawab seperti itu sebab tidak tahu hubungan dari laki-laki itu dengan Sanae apalagi perempuan lain juga memeluknya. 'Apa yang kau rahasiakan, Sanae?' batin Yukari.
Kumi-chan atau yang nama aslinya Kumi Sugimoto memutuskan tidak bertanya lagi. Kemudian melihat kembali mereka bertiga. Ia berbinar-binar sebab rupa menawan dari laki-laki itu "Kalau dilihat lagi, dia sangat tampan melebihi Tsubasa-senpai. Kyaa!" Kumi menjerit kecil.
Yukari sweatdrop karena mendengar ucapan dari kouhainya.
.
.
Disisi lain, Jun Misugi sendiri tidak mempermasalahkan sang pacar memeluk orang yang tidak dikenalnya, apalagi dia mendengar manajernya memanggil orang itu dengan sebutan Nii-san. Yang jadi menarik perhatiannya, wajah dari orang itu sangat mirip dengan orang yang telah dia jadikan rival.
'Orang itu, mirip sekali dengan Tsubasa-kun. Hanya berbeda gaya rambut dan warna matanya. Siapa dia?' batinnya bertanya-tanya sambil menatap intents.
.
Naruto yang ditatap oleh Misugi sedikit tidak nyaman, apalagi bisik-bisik di sekitarnya semakin kencang. Sudah saatnya mengakhiri pelukan dari mereka.
"Sanae-chan, Yayoi-chan, apa kalian akan memelukku terus? kita jadi pusat perhatian." celetuk Naruto menyadarkan mereka.
Sanae dan Yayoi tersentak kecil, lalu melepaskan pelukan mereka dan melihat sekeliling. Mereka sedikit malu atas yang mereka lakukan tadi.
Yayoi melihat Misugi dan meminta maaf "Gomenne, Jun. Aku jadi lupa denganmu" ucap Yayoi menyesal.
"Ah, tidak apa-apa. Aku memakluminya" Misugi memaafkannya. Ia tau perasaannya jadi tidak berhak untuk marah.
"Arigatou"
Naruto lalu melihat Sanae yang menatapnya. "Ayo kita duduk dulu, kakiku sudah mulai pegal-pegal" ajaknya karena kakinya kesemutan karena berdiri terus. Dia juga belum istirahat sejak dari bandara.
Nakazawa Sanae merutuki dirinya sendiri karena lupa sang kekasih baru pulang dari Inggris 'Mou, kenapa aku lupa seperti ini? Naruto-kun pasti lelah' pikir Sanae.
"Ah kesini" Gadis berambut ungu gelap sebahu ini menuntun Naruto ke bangku penonton yang di duduki nya tadi. Tapi sebelum mengikuti Sanae, Naruto menengok ke Yayoi dan bertanya kepadanya.
"Apa kau mau ikut, Yayoi-chan? Sekalian saja ajak temanmu itu." Naruto mengajak Manager dari tim SMP Musashi itu.
Yayoi yang diajak langsung bersemangat "Tentu saja, Nii-san." Ia langsung ke tempat duduknya dan memegang tangan Misugi "Ayo, Jun".
Kapten tim Musashi itu langsung berdiri "Baiklah". Misugi tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat Yayoi semangat sampai seperti ini
Pasangan ini kemudian menuju ke tempat Naruto dan Sanae yang mereka sudah duduk duluan.
.
.
"Yo... 3 tahun tidak bertemu, kau tidak banyak berubah ya"
Seorang remaja laki-laki berambut hitam runcing di sisi kiri dan kanan, memiliki tanda x di dahinya menyapa sok akrab kepada Naruto.
Naruto yang merasa di sapa kemudian menengok sang pelaku. Ia tersenyum tipis melihat remaja itu "Dan kau tidak berubah sama sekali, kapten Nishigaoka"
Remaja itu mendengus kesal saat di panggil seperti itu "Namaku Hanji Urabe. Ingatlah itu!" seru Urabe.
"Akan ku ingat itu." kata Naruto. Namun, ia merasa ada yang janggal "Kenapa kau tidak bermain? Seingatku, kau satu tim dengan'nya'." Ia mencoba bertanya karena terakhir yang diingat, si Urabe ini telah bermain 1 tim dengan adiknya saat pertandingan pembukaan kejuaraan prefektur tingkat SD.
Urabe yang mendengar itu tentu saja paham apa yang di maksud olehnya "Setelah kami juara nasional waktu itu, aku dan ketiga kawanku ini memutuskan untuk keluar dari Nankatsu SC. Dan kami masuk ke sekolah yang berbeda agar bisa melawan Tsubasa."
Urabe kemudian menghela nafas lelah "Tapi, selama 3 tahun berturut-turut kami tetap tidak bisa menang darinya. Kami telah berlatih sangat keras dan mempunyai pemain baru di tahun ini, namun hasilnya sama saja" Urabe menggerutu kesal sambil menunjuk ke empat orang di sampingnya.
Naruto melirik orang-orang yang di tunjuk. 3 dari 4 orang itu ia pernah melihatnya karena berada di tim yang sama dengan Tsubasa. Namun orang yang terakhir Naruto tidak mengenalnya. 'Mungkin dia yang dimaksud' batinnya.
"Yah, aku tidak terkejut saat dia semakin berkembang dari tahun ke tahun" Naruto tidak heran atas kemampuan adiknya.
"Kau benar"
Salah satu teman Urabe, yaitu remaja rambut hitam dengan gaya rambut unik berbisik kepada Urabe "Hei, Urabe. Kau mengenalnya? Aku seperti pernah melihatnya."
Kapten dari tim SMP Otomo itu heran atas temannya ini "Apa kau sudah lupa? Dia itu pemain Nankatsu yang dulu mengalahkan Shutetsu yang di jaga oleh Wakabayashi bersama dengan Tsubasa sebelum di gantikan oleh Misaki. Dan juga, dia dan Tsubasa mengalahkan timku dengan skor 13-3. Kau ingat kan, Kishida?"
Kishida mengingat kembali pertandingan antar sekolah Nankatsu dengan Shutetsu itu. Ia tersentak kecil "Woah!!! kau yang mencetak 2 gol ke gawang Wakabayashi waktu itu kan!?" Setelah memutar otak, akhirnya dia ingat. Lalu bertanya kepada Naruto dengan nada terkejut sambil menunjuk Naruto dengan jari telunjuknya.
Penonton di sekitar terkejut dengan pertanyaan dari pemain Otomo ini, termasuk pemain tim-tim yang berpartisipasi di turnamen nasional tingkat SD 3 tahun lalu.
'Orang itu pernah membobol Wakabayashi Genzo!?''
Dia bukan orang sembarangan!'
Misugi yang mendengar nya juga ikut kaget 'Orang ini...dengan kata lain, kemampuannya setara dengan Tsubasa-kun dan Hyuga'. Dia tau siapa Wakabayashi Genzo. Seorang kiper hebat yang di miliki oleh Jepang. Setahunya, yang pernah mencetak gol ke gawang Wakabayashi hanya Tsubasa dan Hyuga walaupun khususnya dari kabar Tsubasa, ia hanya mendengar dari cerita manager nya.
Naruto mengabaikan mereka yang terkejut oleh fakta yang tak terduga dari dirinya sendiri. Ia melambaikan sebelah tangannya "Aku tidak sehebat itu, lagipula Tsubasa-chan bisa melakukannya juga" ucap Naruto merendah diri.
'Chan?' pikir para penonton bertanya-tanya.
Sanae dan Yayoi menatap Naruto dengan pandangan seolah meminta penjelasan.
"Naruto-kun, apa ini saatnya?" Sanae mewakili mencoba memastikan apa yang di pikiran mereka.
"Aku tidak ingin membuat Tou-san dan Kaa-san khawatir lagi, Sanae-chan, Yayoi-chan"
Mereka berdua mengangguk paham. Orang tua mana yang tidak khawatir kalau seorang gadis ikut sepak bola laki-laki?
"Daripada itu, lebih baik menonton pertandingan ini. Lihatlah, Tsubasa-chan membawa bola" Naruto mencoba mengalihkan perhatian penonton sekitar dan terbukti berhasil meski masih ada diantara mereka yang penasaran.
Di lapangan, Tsubasa sedang berlari membawa bola. Namun di depannya, seorang pemain Toho datang dengan Sliding Tackle tapi bisa di hindar dengan Feint ke kanan. Lagi-lagi pemain Toho mencoba menghentikan Tsubasa, tetapi Tsubasa melewatinya dengan Mengolongi bola.
[Hebat! Teknik yang hebat!]
"Sasuga, Tsubasa-kun"
Celetukan dari Misugi membuat Naruto menoleh "Sepertinya kau mengaguminya ya, Misugi Jun"
Misugi yang merasa di panggil orang yang sempat menarik perhatiannya pun juga menatap balik "Anda benar, eto..." dia menjeda perkataannya karena tidak tau nama orang yang jadi lawan bicaranya.
"Panggil saja Naruto"
Misugi mengangguk "Anda benar Naruto-san. Saya bukan hanya mengagumi nya, tapi saya menganggap Tsubasa-kun sebagai rival saya"
Naruto tersenyum sangat tipis jadi Misugi tidak memperhatikan nya 'Kalau kau tahu Tsubasa yang sebenarnya, apa kau akan berkata seperti itu?' batin Naruto. "Jangan ada kata formalitas saat berbicara denganku, Misugi Jun. Aku tidak terbiasa dengan itu" Naruto mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Baiklah Naruto-kun, kamu juga memanggilku Misugi saja" Misugi juga mengulurkan tangannya.
Mereka berdua berjabat tangan.
[Meski sudah babak belur karena cedera, dia tidak sama sekali tak menurunkan performanya! Benar-benar si anak sepak bola.]
Kemudian mereka melepasnya lalu menatap kembali ke lapangan. Mereka melihat Tsubasa sedang melompat.
[Seorang pemain yang serba bisa, Dialah sang bocah kecil sepak bola, Oozora Tsubasa-kun!]
Tsubasa mendarat dengan sempurna.
[Akhirnya dia berhasil menerobos pertahanan Toho sendirian!]
"Woah..."
Suara kagum terdengar di sekitar Naruto saat Tsubasa melewati semua pemain Toho. Lalu Naruto melihat Tsubasa mengambil ancang-ancang untuk melakukan tendangan yang tidak asing baginya.
"Itu... Apakah Tsubasa-chan menguasai Drive Shot?"
Sebuah pertanyaan meluncur dari mulutnya saat adiknya memakai teknik yang sangat sulit di kuasai. Menurut nya, tidak semua pemain bakat bisa menggunakan Drive Shot. Yah meski dirinya bisa memakai bahkan ke tingkat tertinggi dari teknik yang berasal dari Amerika Selatan ini.
Drive Shot adalah sebuah teknik yang biasa di gunakan oleh para pemain profesional di Amerika Selatan seperti Brazil dan Argentina. Drive Shot sangat sulit di kuasai karena tendangan ini memberikan efek bola putaran ke depan, naik ke atas lalu jatuh tiba-tiba ke arah gawang membuat kiper terkecoh.
Sebuah pemikiran muncul tiba-tiba di pikirannya. Ya, hanya dia yang datang ke rumahnya 3 tahun lalu penyebabnya.
'Tapi tidak kusangka Roberto Hongo memberi ilmu ini kepada adikku' batin remaja mata biru shappire ini yang tidak menyangka dengan mantan pemain brazil itu.
"Ha'i. Tsubasa-chan bisa melakukannya sejak di perempat final"
Sang kekasih tercinta menjawab kebingungannya. Ia melirik Sanae dengan ujung matanya "Setelah ini, jelaskan secara rinci tentang hal ini selama aku putus komunikasi dengan kalian, Anego." kata Naruto dengan nada serius.
Gadis yang dulunya di panggil akrab Anego hanya diam seribu kata. Kalau Naruto memanggil dia seperti itu, berarti ada hal yang harus di bicarakan dengan sungguh-sungguh. Ia hanya bisa menganggukan kepalanya.
Kumi dan Yukari yang di samping mereka berdua memiliki banyak pertanyaan di dalam kepala mereka karena bingung antara hubungan Sanae dengan orang itu. Apalagi suffix yang digunakan Sanae ke Tsubasa berubah.
'Sanae-senpai, apa hubunganmu dengan orang itu? bukannya kau menyukai Tsubasa-senpai?' batin Kumi.
'Kenapa Sanae memanggil Tsubasa-kun dengan suffix -chan sejak orang itu datang? Apa yang terjadi?' pikir Yukari.
[Seolah sudah memprediksi nya, Hyuga-kun bersiap di depan gawangnya!]
Suara komentator membuyarkan lamunan mereka dan melihat lagi ke lapangan. Disana, Tsubasa yang siap menendang di hadang oleh pemain Toho bernama Hyuga.
'Hyuga?' Pikir Naruto bingung. Kemudian ia mengingat lagi informasi dari Katagiri kembali 'Aku ingat. Dia adalah Hyuga Kojiro. Orang yang katanya Rival dari Tsubasa-chan. Namun selalu kalah dari adikku 3 kali berturut-turut.'
[Apakah Tsubasa-kun yang akan menembak? Ataukah Hyuga yang akan menghentikannya? Siapakah yang lebih cepat?]
Hyuga melakukan Tackle dan berkata "Sliding Tiger Shot!!".
[Sliding nya Hyuga-kun sedikit lebih cepat! Tsubasa-kun gagal menembakkan bola!]
Tsubasa pun terjatuh dan bola dengan aura kuning melesat namun di tahan oleh salah satu pemain Nankatsu dengan perutnya.
Remaja berparas tampan ini memicingkan mata saat melihat pemain Nankatsu yang dikenalnya. "Ishizaki ya? Kau tidak banyak berubah. Rambutmu tetap cepak seperti dulu" kata Naruto berbisik pelan.
Di penglihatan matanya, para pemain Nankatsu mencoba berbicara kepada sang adik. Ishizaki mengoperkan bola lambung ke adiknya.
Tsubasa berdiri tertatih-tatih lalu berlari yang tidak sempat di susul oleh Hyuga. Kemudian Tsubasa melakukan ancang-ancang yang berbeda dari sebelumnya.
Naruto sedikit kaget karena ia tahu posisi itu "Jangan-jangan!?"
[Timing bolanya jatuh dan posisi menembaknya benar-benar tepat]
Misugi yang mendengar nada bicara orang yang baru dikenalnya menengok ke arah Naruto "Kau tau sesuatu, Naruto-kun?" Ia penasaran kemampuan orang ini karena dia tahu tentang Drive Shot. Misugi ingin berduel dengan Naruto.
Naruto melirik ke arah Misugi yang menatapnya dengan rasa ingin tahu. Lalu melihat lagi ke arah lapangan "Tsubasa-chan akan melakukan tingkat akhir dari Drive Shot"
Semua orang di sekitarnya melihat ke arah dirinya termasuk Misugi dan grup Urabe.
"Tingkat akhir Drive Shot?" beo Urabe.
Tidak menjawab gumaman dari Urabe, Naruto malah berkata yang membuat orang tidak mengerti "Perhatikan dan lihat apa yang terjadi!"
Mereka semua menatap kembali ke pertandingan.
Kiper Toho yang bernama Wakashimazu berucap "Aku akan menghentikan tendanganmu, Tsubasa!"
Bola tepat jatuh di bawah, dan secara bersamaan Tsubasa mengayunkan kakinya. Lalu ia menendang dengan sekuat tenaga.
Whuuussss
Bola mengeluarkan aura biru melaju kencang ke sebelah kiri menuju gawang Wakashimazu. Sang penjaga gawang mencoba menghentikan bola agar tidak kebobolan lagi. "Akan ku hentikan bolanya meski hanya dengan satu tangan kanan ini!"
Tiba-tiba bola menukik ke arah tanah.
"Apa!?" Wakashimazu terkejut.
Sempat berputar di tanah kemudian memantul ke sisi kanan gawang.
[Me-memantul?]
Komentator dan penonton juga kaget melihat bolanya.
Wakashimazu tidak bisa berbuat apa-apa karena ia masih meloncat ke arah kiri gawang. Tanpa halangan apapun, Bola masuk ke sisi pinggir kanan gawang Toho dan menabrak jaring gawang tersebut.
[G-Gol! Pada babak pertama perpanjangan waktu, tembakan Tsubasa-kun berhasil membalikkan kedudukan]
"GOOOLLLL"
Suara bergemuruh dari penonton langsung terdengar merayakan gol dari Nankatsu.
.
"Mu-mustahil! Drive Shot nya berbeda dari yang biasanya!" Misugi tidak percaya apa yang ia lihat dalam matanya. Menurutnya, tendangan itu memang sulit di prediksi kiper manapun. Apa yang di ucapkan oleh Naruto benar adanya.
Misugi menatap Naruto seolah meminta penjelasan yang tentu saja disadari oleh Naruto sendiri.
"Miracle Drive Shot..."
"Miracle Drive Shot!?" ucap kembali Misugi namun dengan nada tanya.
Naruto mengangguk. "Berbeda dari Drive shot biasa, Miracle Drive Shot memberikan efek perputaran acak pada bola sehingga bola ini sangat sulit di tebak. Bola akan memantul ke tanah lalu berpindah ke sisi gawang yang kosong jadi kiper tidak bisa berbuat apapun lagi. Namun, teknik ini juga memberikan dampak yang lebih berat dari Drive Shot bagi yang menggunakan nya" Ia menjeda bicaranya sebentar. "Tapi untuk kasus Tsubasa-chan, sepertinya dia melakukannya dalam keadaan tidak sadar karena tekadnya" Jelasnya.
Misugi tidak bisa berkata lagi mendengar penjelasan dari Naruto. Ia hanya bisa mengucap "Jadi begitu. Teknik yang luar biasa". Tetapi dalam pikirannya, kenapa orang ini bisa tahu sejauh ini. Kapten Musashi ini memutuskan bertanya untuk memenuhi rasa penasaran dalam dirinya "Kenapa Naruto-kun bisa tahu segala tentang Drive Shot ini?"
"Mudah saja." Naruto menjeda perkataannya membuat rasa penasaran lawan bicaranya semakin kuat. Lalu Naruto menengok ke lapangan dimana adiknya yang di sangga oleh Ishizaki sedang berkumpul bersama dengan teman satu timnya tanpa terganggu oleh kebisingan penonton.
"Karena aku juga sudah menguasai Drive Shot" Ia melanjutkan perkataannya dengan sedikit menekan di bagian ucap Drive Shot.
Misugi Jun melebarkan kedua matanya karena mendengar itu. "A-apa!?" hanya satu kata yang terucap dari mulutnya.
Sanae, Yayoi, Kumi, Yukari dan lawan-lawan Tsubasa sebelumnya yang kebetulan dekat dengan mereka memberikan reaksi yang sama seperti Misugi.
"Tidak.. Mungkin.."
"Dia juga bisa melakukan Drive Shot!?"
"Apa dia berkata jujur!?"
Misugi tentu saja bukan orang yang mudah percaya omongan orang lain. "Apa kau bisa dipercaya?"
Mendengar pertanyaan mengandung ketidakpercayaan,Naruto melirik ke Misugi. "Aku bisa menunjukkannya kepadamu setelah pertandingan ini selesai, Misugi. Selain itu..." Ia berdiri dari kursinya menghadap ke Misugi "Ada hal yang lebih penting dari ini" lalu Naruto berjalan melewati Yayoi.
"Kau mau kemana, Nii-san?"
Naruto menoleh ke arah Yayoi. "Tentu saja aku mau menyusul Tsubasa-chan. Resiko teknik yang dipakainya membuat dia pingsan. Lihatlah" Ia menunjuk ke lapangan
Semua orang melihat apa yang di tunjuk. Terlihat Tsubasa yang pingsan sedang ditandu ke luar lapangan. Tentu saja membuat khawatir teman-temannya.
"Tsubasa-kun!"
"Tsubasa-chan!"
"Tsubasa!"
"Tsubasa-senpai!"
Naruto kemudian berjalan melewati Misugi dan Yayoi. Namun sebelum menaiki anak tangga yang ke satu, Sanae memanggil dirinya.
"Tunggu, Aku ikut. Naruto-kun!"
"Aku juga, Nii-san"
Sempat menengok ke belakang, Naruto melanjutkan langkahnya "Ayo!"
Sanae dan Yayoi menyusul Naruto. Namun sebuah suara menghentikan mereka.
"Tunggu sebentar, Sanae-senpai"
Mereka bertiga melihat seorang gadis berteriak. Lalu gadis itu berjalan yang di ikuti temannya di belakang. Saat telah dekat, gadis itu berbicara dengan Sanae.
"Senpai, biarkan aku ikut!" seru gadis itu dengan memaksa.
Sanae bukannya tidak membolehkan Kouhai nya ikut, tapi demi menjaga identitas Tsubasa, Ia rela berbohong selama ini.
"Kumi-chan, kamu disini saja bersama Yukari-chan. Biar aku yang akan merawat Tsubasa-chan" tolaknya.
Kumi geram dengan Senpainya ini. Lagi-lagi ia tidak di perbolehkan untuk membantu perawatan Tsubasa-senpai. Air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya. "Kenapa!?" badan Kumi bergetar pelan. "KENAPA SENPAI SELALU MEMBUAT ALASAN YANG SAMA!? KITA INI SATU TIM KAN!? LALU KENAPA SENPAI SEOLAH-OLAH ADA SESUATU YANG TIDAK BOLEH KETAHUI OLEH KAMI. KENAPA SENPAI!??" Ia berteriak keras sampai pemain Nankatsu yang agak dekat dari mereka menengok ke arah bangku penonton.
"Kumi? kenapa berteriak seperti itu?" Kisugi bingung. Tidak biasanya dia marah-marah.
"Entahlah, akupun tidak tau" Izawa juga tidak tahu apa yang terjadi.
"Tapi sepertinya dia marah kepada manajer" Taki memperhatikan posisi dari Kumi dan Sanae.
"Kau benar, Taki."
Saat pemain Nankatsu berbisik-bisik. Ishizaki tidak fokus dengan perkelahian itu. Namun ia melihat laki-laki yang membelakanginya sehingga hanya rambutnya yang terlihat 'Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?'
.
Merasa tidak ada jawaban dari Sanae yang hanya diam, Kumi berbicara kembali "Jawab senpai! hiks kenapa!?" Ia mulai menangis pelan dengan air mata yang mengalir di pipinya. Yukari yang melihat Kumi seperti itu memutuskan untuk memeluknya untuk menenangkan dia.
"Kumi benar, Sanae. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari kami?" sepupu dari Hiroshi Jito ini bertanya karena ingin tahu kebenarannya.
Sanae tidak tahu lagi alasan apa yang bisa membohongi teman-temannya "Soal itu..."
Puk
"Eh?"
Sebuah tepukan tangan berada di pundak kirinya. Ia melihat sang kekasih menatap matanya yang seolah memberi sebuah isyarat. Paham akan arti tatapan Naruto, Sanae hanya bisa pasrah.
Naruto tersenyum lembut saat gadisnya mengerti akan tatapannya. Kemudian melihat gadis yang di peluk oleh temannya.
"Nama kalian siapa?" Dengan nada ramah, Naruto bertanya kepada dua gadis ini agar tidak canggung kepada dirinya.
"Su-sugimoto Kumi, desu"
"Nishimoto Yukari"
Mereka menjawabnya meski ada perasaan gugup.
Setelah tahu nama mereka, Naruto mengulurkan tangannya "Namaku Naruto, yoroshiku. Sugimoto-san, Nishimoto-san"
"Yoroshiku" Yukari menjabat tangan Naruto.
Setelah selesai berjabat tangan, Naruto berkata "Kalian boleh ikut, tapi jangan terkejut nanti"
2 gadis ini bingung saat mendengar omongan laki-laki tampan ini. Namun mereka memutuskan untuk tidak bertanya, nanti akan tahu sendiri.
"Ayo!" seru Naruto.
Mereka berlima melangkah menuju ruang perawatan. Tapi lagi-lagi suara menghentikan langkah kaki mereka.
"Tunggu, Naruto-kun!"
Naruto kemudian melihat sang pelaku yang memanggilnya.
"Ada apa, Misugi?"
Misugi berdiri dari duduknya dan menatap tajam Naruto "Siapa dirimu sebenarnya, Naruto-kun!? ucap Misugi serius.
Melihat Misugi menatap tajam dirinya, Naruto memutuskan tatapan mereka. Bukan jawaban yang ingin Naruto berikan. Tapi, tiba-tiba udara menjadi berat di sekitarnya. Akibatnya, mereka semua sedikit berkeringat dingin termasuk Urabe dkk, Misugi serta lawan-lawan Tsubasa. Keempat gadis ini juga terkena dampaknya sampai-sampai menatap takut ke arah dirinya.
'Ada apa ini!?"
'Apakah ini gara-gara orang itu!?'
'Dia berbeda dari sebelumnya'
"Kau akan tahu sendiri, Misugi Jun" ucap Naruto tanpa menoleh.
Setelah itu, Naruto melanjutkan langkahnya yang di ikuti oleh keempat gadis di belakangnya meninggalkan tempat itu yang di iringi dengan tatapan rasa takut dan tidak percaya dari penonton sekitar.
.
.
Sebenarnya aku tidak tahu apa fic ini akan lancar. Tapi ya semoga saja.
Tinggalkan kritik dan saran di kolom review.
Aku sangat menghargainya.
See you next time
