Summary: Naruto datang untuk memenuhi panggilan sekaligus menagih janji dari adiknya.

.

.

Rating: T

.

.

Pair: Naruto x Sanae, ... x Fem!Tsubasa

Misugi x Yayoi

.

.

Warning: Pemula, Acak-acakan

.

.


Jika semua orang mempunyai hari yang tak terlupakan dalam hidupnya, maka jawabannya adalah benar. Baik itu hari yang baik maupun hari yang sangat buruk. Itulah yang di alami Kumi Sugimoto.

Kumi Sugimoto adalah seorang murid tahun angkatan pertama di sekolah SMP Nankatsu yang menjadi asisten manager di klub sepakbola sekolah itu. Ia memiliki penampilan yang cukup membuat lawan jenisnya terpesona. Dengan rambut berwarna coklat muda panjang melebihi bahunya yang ujungnya di ikat menjadi dua, memiliki warna iris mata coklat karamel membuatnya terlihat cantik dan manis.

Abaikan itu. Hari ini, Kumi harus menerima kenyataan bahwa orang yang di kagumi nya sekaligus di cintainya selama ini merupakan seorang Perempuan.

"Tsubasa-senpai..."

Yukari juga shock atas kejadian ini. Ia tidak menyangka bahwa Tsubasa menyembunyikan identitasnya.

'Tapi kenapa!?' batin Yukari tidak mengerti. Dirinya tidak tahu apa alasannya Tsubasa melakukan ini. Lalu gadis berambut hitam tersebut melirik Sanae yang menatap khawatir Tsubasa seolah tidak terkejut karena hal tadi.

"Sanae, jangan bilang kamu sudah mengetahui hal ini?" tanya Yukari menduga-duga.

"Ya. Hanya beberapa orang yang tahu tentang ini" jawab Sanae.

Yukari menggertakan giginya karena kesal terhadap Sanae "Ke-kenapa tidak memberitahu kami? Apa kamu tidak percaya? Apa-"

"Bukan seperti itu" potong Sanae. Ia menatap mata Yukari "Aku sudah berjanji kepada Tsubasa-chan untuk merahasiakan ini kepada semua orang. Dan juga..." Sanae menghentikan perkataannya lalu melihat Naruto yang sedang menidurkan kembali Tsubasa "Aku tidak berhak menceritakan semuanya" lanjutnya.

Hanya diam yang bisa di lakukan oleh Yukari. Sanae benar. Meski kau mengetahui sebuah rahasia terus ingin menceritakan kepada temanmu tetapi tanpa izin dari pihak terkait, akan di anggap sangatlah tidak sopan. Akibatnya, kau tidak bisa dipercayai lagi.

Cup

Suara kecupan terdengar dia ruangan itu, ternyata Naruto sedang mencium kening Tsubasa. Tak lama kemudian, ia menjauhkan bibirnya dari kening adiknya.

"Cepatlah bangun, teman-temanmu masih membutuhkan dirimu" Ia mengelus rambut Tsubasa yang sedikit berantakan "Nii-san bangga padamu." ucap Naruto senang.

Ai Ai Ai

Nada dering ponsel milik Naruto berbunyi tanda ada yang menelepon dirinya. Ia meletakkan rambut palsu adiknya ke meja yang kebetulan di dekat tempat tidur Tsubasa, lalu merogoh saku celana kanannya terus melihat layar hpnya yang menyala. Disitu tertulis kata Okaa-san.

"Dari siapa, Nii-san?"

Naruto mengalihkan pandangannya ke Yayoi yang ada di samping kiri. "Kaa-san menelponku. tampaknya Kaa-san menghawatirkan Tsubasa-chan" ujarnya. Ia melihat Sanae dan Yayoi secara bergantian "Sanae-chan, Yayoi-chan. temani Tsubasa-chan sampai dia sadar. Aku akan kembali nanti." ucap Naruto.

Dua gadis itu mengangguk paham.

Lalu ia menengok ke Kumi dan Yukari "Kalian berdua, tolong temani juga Tsubasa-chan" ujar Naruto.

"Ha'i / Wakatta"

Naruto tersenyum. Ia berjalan menuju pintu keluar namun tiba-tiba berhenti sebentar "Tolong rahasiakan ini dari Imouto ku. Kalau dia bertanya, katakan padanya bahwa Tou-san dan Kaa-san yang menyuruh kalian" kata Naruto tanpa menoleh.

Semua gadis di dalam itu berkata bersamaan "Ha'i"

Setelah mendapatkan jawaban yang di inginkan, Naruto pergi ke suatu tempat. Tak lama kemudian, terdengar suara orang yang bangun dari pingsannya.

"Ugh..."

Mendengar suara orang yang di tunggu mereka sudah sadar, para gadis dan dokter itu mendekatinya. Tsubasa perlahan membuka matanya, yang pertama di lihat olehnya adalah Sanae, Yayoi, Kumi dan Yukari.

"Kamu sudah sadar, Tsubasa-chan?" tanya Sanae khawatir.

Tsubasa terbangun perlahan. Namun, ia tidak menjawab pertanyaan Sanae, melainkan berkata "Aku seperti merasakan Nii-sama memeluk dan mencium ku" kata Tsubasa yang penuh kerinduan.

Yayoi menatapnya lembut "Naruto nii-san masih belum memberi kita kabar darinya, Tsubasa-chan" ucap Yayoi berbohong.

Tsubasa melihat Yayoi dengan pandangan berkaca-kaca "Aku sangat merindukannya, Yayoi-chan"

"Bukan hanya dirimu, aku dan Sanae-chan juga sangat rindu padanya. Mungkin Naruto nii-san sangat sibuk di sana." Yayoi tersenyum maklum karena mengerti perasaan Tsubasa.

"Mungkin kau benar, Yayoi-chan"

Merasakan rambutnya yang terasa berbeda, Tsubasa memegang kepala dengan tangan kanannya. Ia melebarkan kedua matanya "I-ini!?". Tsubasa mengerakan kepala ke kanan kekiri. Apa yang di carinya terletak di atas meja. Sesaat, dengan perlahan Tsubasa menengok ke arah Kumi dan Yukari. Oh tidak, penyamaran yang selama ini ia lakukan akhirnya terbongkar.

"Kumi-chan!? Yukari-chan!?"

Dua gadis yang di panggil hanya diam menatap Tsubasa yang kaget melihat mereka.

"Bagaimana mungkin!?"

"Kami yang melakukannya, Tsubasa-chan."

Tsubasa dengan cepat menoleh Sanae. "Sanae-chan, kenapa!?"

"Itu-"

"Ojii-san dan Obaa-san yang menyuruh kami. Mereka berkata sudah saatnya untuk semua orang mengetahui dirimu yang sebenarnya" Yayoi langsung memotong perkataan Sanae sambil bercerita (bohong) saat akan kesini, mereka di cegat oleh keluarga Oozora. Lalu nyonya Oozora bilang kepada mereka untuk memberi tahu tentang diri Tsubasa.

Sanae pun meyakinkan Tsubasa agar dia percaya cerita dari Yayoi "Apa yang di bilang oleh Yayoi-chan itu benar, Tsubasa-chan" ucap Sanae.

Tsubasa mulai tenang saat mendengar itu. Lantas ia melihat lagi kearah Kumi dan Yukari dengan perasaan bersalah "Gomenne... Karena aku berbohong kepada kalian selama ini" ucap Tsubasa yang memakai suara aslinya namun ada nada sesal.

Kumi dan Yukari yang mendengar suara dari Tsubasa semakin percaya bahwa Tsubasa adalah seorang gadis. Kumi berjalan mendekati Tsubasa dan memegang tangannya. Ia menunduk sehingga raut wajahnya tidak kelihatan karena tertutup poninya. Tiba-tiba bahunya bergetar dan air mata mengalir jatuh di pipinya membuat semua orang kaget.

"Kumi-chan!?"

"Kumi!?"

"Hiks hiks ini tidak adil hiks. Padahal hiks selama ini hiks aku mengagumi dirimu, hiks Tsubasa-senpai. Bahkan, hiks aku sampai hiks mencintaimu. Tapi, hiks kenapa semuanya hiks jadi begini hiks karena orang hiks yang aku hiks cintai hiks ternyata seorang hiks perempuan" ucap Kumi sambil menangis mengeluarkan semua perasaan di dalam hatinya.

Semua orang menjadi tak tega mendengar curhatan hati Kumi yang penuh kesedihan. Yukari coba memegang pundak Kumi.

"Kumi..." Yukari berkata lirih.

Grep

"Eh?" Kumi langsung kaget saat merasakan perasaan hangat di tubuhnya.

Tsubasa yang entah kapan turun dari tempat tidurnya langsung memeluk Kumi untuk menenangkannya. Sebagai sesama gadis, ia tahu perasaan dari gadis yang di pelukannya ini. Andaikan ia ada di posisi Kumi, mungkin ia akan merasakan hal yang sama.

"Gomen, karena telah membuat kamu menangis. Seandainya aku bisa memberi tahu lebih cepat, mungkin tidak akan seperti ini" ucap Tsubasa menyesal.

Ia melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua pundak dari kumi sehingga iris hitam Tsubasa dan iris coklat Kumi saling bertatapan.

"Oleh karena itu, hapuslah air matamu. Suatu saat, kau pasti akan menemukan orang yang kamu cintai" ujar Tsubasa.

Kumi menghapus air matanya "U-um"

"Jadi, apa kamu mau memaafkan ku?" tanya Tsubasa berharap.

Senyum senang tercetak di wajah Kumi meski matanya agak sembab "Aku memaafkan mu, Tsubasa-senpai." kata Kumi ceria.

Para gadis yang tersisa bernafas lega saat satu masalah telah selesai. Namun Tsubasa yang baru sadar dia berada di ruang perawatan berteriak panik "Pertandingannya!? Nankatsu?"

"Teman-teman!? ugh..." Tiba-tiba Tsubasa mengalami sakit kepala.

"Tsubasa-chan / kun / senpai!"

Dokter yang bernama Kamijo kemudian membimbing Tsubasa untuk duduk di tempat tidur "Tenangkan dirimu, pertandingan masih berlanjut."

Sanae kemudian mengambil gelas yang berisi air "Ini, minumlah dulu."

"Sankyu" Tsubasa langsung meminumnya.

Gluk

Gluk

"Tendangan tadi benar-benar hebat, Tsubasa-chan" puji Yayoi saat menyaksikan tendangan Tsubasa beberapa saat yang lalu.

"Benar, Senpai membuat gol yang indah membuat kita unggul" Kumi juga berbicara dengan antusias.

Tsubasa yang mendengar nya jadi senang. Lalu meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja dan langsung mengambil rambut palsunya dan melihat Sanae dan Yayoi "Sanae-chan, Yayoi-chan, bantu aku memasangkan ini" ucap Tsubasa memohon.

"Tapi-"

"Aku tidak perduli apa yang terjadi kepadaku nanti. Yang jelas, aku harus memenangkan pertandingan ini agar bisa menjadi juara untuk ketiga kalinya" potong Tsubasa. Ia bersikeras untuk tetap bermain.

"Sekaligus memenuhi janjiku kepada Nii-sama" lanjutnya di dalam hati.

"Baiklah kalau itu maumu." Sanae hanya pasrah atas kelakukan dari adik kekasihnya ini. Kemudian Sanae memasangkan rambut palsu Tsubasa yang di bantu oleh Yayoi.

"Senpai." Kumi tiba-tiba berceletuk membuat mereka menengok yang otomatis kegiatannya berhenti sejenak.

"Ada apa, Kumi-chan?" Tsubasa bertanya.

"Kenapa Senpai suka bermain bola sampai saat ini? padahal Senpai seorang gadis." Nada serius terucap dari bibir Kumi saat mengajukan pertanyaan itu.

Sanae dan Yayoi yang tidak ada hubungannya dengan itu melanjutkan kegiatannya. Toh, mereka sudah tau dari dulu saat Naruto yang menceritakannya.

Raut wajah Tsubasa berubah "Aku... tidak ingin menceritakan itu untuk saat ini, Kumi-chan" ujar Tsubasa murung.

"Senpai..." Kumi bergumam lirih

Dua gadis yang membantu Tsubasa akhirnya menyelesaikan kegiatannya "Sudah..." ucap Sanae.

Penampilan Tsubasa sekarang sama saat bertanding dengan Toho.

"Arigatou"

Setelah mengucapkan terima kasih, Tsubasa langsung berlari keluar ruang perawatan terburu-buru ke lapangan. Ia tidak sadar saat di lorong, di belakangnya ada Naruto yang bersandar di dinding sambil melipat tangannya di dada.

"Tsubasa-chan / kun / senpai"

Para gadis tidak sempat mengejarnya. Sebelum menyusul Tsubasa yang keluar, Naruto masuk ke dalam ruangan itu membuat semua orang kaget.

"Naruto-kun / Nii-san?"

"Jadi Naruto-kun mendengar semuanya ya..." Sanae langsung mengambil kesimpulan.

Naruto mengangguk kan kepalanya "Ya." Ia melihat dua gadis satu sekolah dengan Tsubasa "Sugimoto-san, Nishimoto-san. Bisa kalian mengejar Tsubasa-chan terlebih dahulu? Aku ingin membicarakan sesuatu disini dengan Sanae-chan, Yayoi-chan dan dokter ini" kata Naruto serius.

"Baiklah.."

Kumi dan Yukari segera berlari ke luar ruangan.

Setelah mereka keluar dari ruang perawatan, Naruto kemudian melihat dokter Kamijo "Dokter, ada satu hal yang ingin ku katakan padamu"

"Apa itu, Naruto-san?"

"Biarkan Tsubasa bermain!" seru Naruto.

"Apa? Bukannya itu akan memperparah cedera dari Tsubasa-san? Apa kau tidak perduli pada adikmu!?" Dokter Kamijo tidak paham dengan pemikiran dari remaja laki-laki yang jadi kakak Tsubasa ini.

Naruto menutup mata "Ada alasan yang membuat ku berkata seperti ini."

"Apa itu?" tanya dokter Kamijo tidak sabar.

Ia membuka matanya yang bersinar.

"Karena ini adalah pertandingan terakhir Tsubasa-chan"

Kumi dan Yukari yang sengaja menguping dari luar ruang perawatan melebarkan mata mereka. Bahkan sangking terkejut, Kumi dengan reflek menutup mulutnya.

"Senpai..."

"Tsubasa...kun..."


Note:

Yo gw balik lagi...

Yah karena urusan di dunia nyata sangat padat, jadi jarang update.

Bagaimana tanggapan kalian tentang chapter ini?

Berikan komentar kalian di review.

Aku sangat menghargainya.

See You Next Time