Disclaimer: Never own anything

Written by schwarzhaarige


Prolog:

BAU-BAU KEHANCURAN


.

Tirai hitam membentang menutupi jarak pandang vertikal dunia, bersama kelebihannya yang menggambar bulan dan menarik-narik sekumpulan awan dari kaki langit.

Sorcerer yang tinggi dengan wajah bengisnya itu mendongak dan memelototi bulan yang hampir tertutupi sepenuhnya oleh gerombolan awan. Ia tampak mirip manusia kecuali matanya yang merah.

Angin-angin yang bertiup dalam bayang-bayang, menembus kesunyian, dan membebaskan diri untuk menampar wajah pucat Sorcerer.

Ada sebuah surat tajam yang tersampaikan ke dalam indera penciumannya. Sang Sorcerer mengeraskan bentuk wajahnya ketika menerima pesan itu.

Ia mengerjapkan mata dengan kalap. Dugaannya benar; mereka tergesa-gesa menuju ke sini. Entah untuk memangsa atau dimangsa. Ia kembali melotot ke hadapannya yang gelap, lalu berkata dengan nada dingin. "Menyebar! Sembunyi di balik pepohonan dan sesemakan. Terkam mereka saat mereka datang!"

Di sekelilingnya bermunculan tiga belas Orc bersenjatakan macam-macam; pedang, tombak, dan kapak besar. Mereka bertubuh besar dengan kulit yang berwarna coklat gelap dan lengan-lengan kekar.

Monster-monster itu bergegas masuk ke sesemakan, menggeram-geram sambil bersembuyi. Tidak lama kemudian bunyi gemerisik itu menenang dan hutan hanya diisi oleh suara gesekan angin kepada daun-daun.

Sorcerer tersebut mengintip dari balik sebatang pohon besar, memandang ke arah jalan setapak. Suasana yang sebetulnya gelap bagi manusia manapun untuk bisa melihat, tapi baginya cahaya bulan yang suram bagaikan cahaya matahari yang menerobos sela-sela pepohonan.

Orc-Orc tidak bisa melihat sebaik Sorcerer; mereka meraba-raba laiknya orang buta, kerepotan dengan senjata mereka masing-masing.

Sorcerer itu mendesis geram karena keresahan yang diutarakan monster-monster itu. mereka pun menyurut mundur, tidak bergerak. Sorcerer itu menahan kejijikannya—mereka bau seperti daging busuk—dan kembali menatap ke arah sebelumnya. Mereka hanya sekedar alat, tidak lebih.

Kemudian, Sorcerer itu mendengar derap langkah yang ramai menuju ke arahnya. Sontak tubuhnya menegang, "Bersiaplah!" perintahnya kepada para Orc.

Permukaan rembulan yang tadinya tertutup awan, dengan cukup singkat tersingkap. Cahayanya menjalar-jalar ke dalam hutan.

Jalan setapak pada tengah-tengah hutan, diinjaki tapak-tapak kuda yang berlari tergesa. Mereka dikendarai oleh para Elf yang terhitung berjumlah sepuluh orang.

Elf-Elf itu berhenti serentak mengikuti perintah Elf wanita yang berada pada garis terdepan. Posisi mereka tampak kacau. Mereka memperhatikan sekeliling mereka, karena bau busuk yang begitu ketara mereka rasakan.

"Terimakasih sudah repot-repot datang …"

Suara bariton dari Sorcerer yang keluar dari balik batang pohon mengejutkan para Elf. Mereka bersamaan memandang ke arah Sorcerer itu. Dengan mata-mata yang terbelalak lebar, Elf-Elf itu melihat Sorcerer yang tersenyum bengis kepada mereka.

"… para Elf bodoh yang termakan umpan."

Dengan tiba-tiba setelah Sorcerer selesai berkata, dari sekeliling mereka muncul para Orc untuk menerkam mereka. Sontak Elf-Elf itu terlonjak dengan tubuh yang menegang, tak cukup kuat untuk bereaksi. Akibatnya, setengah dari jumlah mereka diterkam oleh monster-monster itu karena tak sempat menghindar.

Elf-Elf yang terterkam oleh Orc dicabik-cabik dengan sadis, sehingga menguar jeritan-jeritan ngilu dari mereka. Sedangkan sisa-sisa Elf yang lain terperangah menyaksikan kejadian itu.

"Jangan hanya diam saja! Lawan mereka!" teriak seorang Elf wanita berambut panjang dengan warna pirang pucat.

Kontan mereka terperanjat, dan saat sadar di hadapan mereka sudah ada Orc-Orc yang ingin menerkam mereka.

Elf-Elf itu langsung menarik pedang dari pinggang mereka masing-masing, lalu menerjang monster-monster yang menyerang mereka itu.

Elf wanita yang tadi berteriak mulai merapalkan mantra dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh siapapun di sana. Setelah selesai, muncul simbol-simbol kuno bercahaya emas yang bergelantungan di udara, yang kemudian langsung melesat tajam dan menghujam Orc-Orc di sekitarnya.

Orc-Orc yang terkena serangan dari Elf itu kemudian tubuhnya meledak, dan puing-puing dagingnya berhamburan. Aroma yang sangat busuk pun memenuhi udara.

Sorcerer mengeraskan wajahnya ketika melihat kejadian itu. Ia dengan marah mendesiskan deretan mantra-mantra kejam. Di sisi-sisinya lantas bermunculan lingkaran-lingkaran merah gelap, yang menembakkan leser-leser runcing berwarna sama pula ke arah Elf wanita itu.

Elf wanita itu yang menyadari serangan Sorcerer langsung melompat dari kudanya, kemudian berguling-guling di permukaan tanah. Alhasil leser-leser yang dilontarkan oleh Sorcerer itu menancap pada kudanya dan Elf pria yang berada di belakangnya tadi.

Elf wanita itu terperangah mendapati rekannya yang tumbang dari atas kuda karena serangan Sorcerer barusan. Belum sempat ia bereaksi lebih lanjut, kedua kaki dan kemudian perutnya ditusuki leser-leser yang sama menyerangnya tadi.

Hal itupun membuatnya tersedak dan batuk-batuk darah. Di tengah-tengah rintihannya, ia mendongak patah-patah ke arah Sorcerer yang menyerangnya itu.

Sorcerer itu berjalan mendekati Elf wanita yang bersimpuh di atas tanah itu. Dengan lagak arogannya, ia merendahkan tubuhnya ketika sampai di hadapan Elf itu.

Tangan kanannya mengamit dagu empuk Elf wanita itu, kemudian didongakkan untuk bertemu mata dengannya. Terlihat dua bola mata hijau dari Elf itu gemetaran melihat mata merah yang menatapnya sinis.

Sorcerer menyeringai bengis menyadari ketakutan Elf itu kepadanya. Kecantikan Elf tersebut, yang akan memesona manusia manapun, tidak berarti apa-apa baginya.

Elf itu mencoba membuka mulutnya yang lemah, tampak ingin merapal mantra, tapi hal itu tak luput dari perhatian Sorcerer. Ia langsung mengarahkan telunjuk kirinya ke arah mulut kecil Elf tersebut. "Greaga!"

Dari jari telunjuk Sorcerer menembakkan gumpalan api kecil tepat ke arah mulut Elf tersebut, sehingga membuat mulut yang anggun itu menjadi rusak lebur. Tak lama kemudian membuat Elf wanita itu tak sadarkan diri.

Sorcerer itu membuang wajah Elf yang sudah tak sadarkan diri itu. Ia kemudian berdiri untuk memperhatikan sekitarnya, dan mendapati sisa-sisa Elf yang lain telah tumbang dan disantapi oleh para Orc. Kontan matanya melebar dengan bibir yang menyeringai lebar hingga memperlihatkan deretan giginya.

Sorcerer menggenggam kuat kedua tangannya, kemudian mengangkatnya setinggi mungkin. Ia tampak begitu menikmati kerayaan kemenangannya.

Lalu Sorcerer mengambil kudanya dari tempat persembunyian di sela-sela pepohonan. Sesudah mengikat Elf wanita tadi di pelana, ia menunggangi kudanya. Ia menyesap indra penciumannya, bau-bau yang bermacam-macam terhirup olehnya. Ia menyeringai lagi.

"Kita telah selesai! Ayo pergi!" perintahnya kepada para Orc.

Orc-Orc itu berkomat-kamit mendengar perintah dari Sorcerer. Mereka berseok-seokkan mengambil tunggang mereka yang berupa srigala-srigala bengis, lalu menungganginya dan segera menyusul Sorcerer yang telah lebih dulu meninggalkan mereka.

.