CAMELOT DAN GREYHAL


Arturia Pendragon, seorang bangsawan sekaligus putri dari raja Camelot yaitu Uther Pendragon, saat ini sedang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang kayu pinus.

Camelot sendiri adalah salah satu kerajaan yang berdiri di Brunia, tepatnya di negeri Briton. Kerajaan ini menguasai daratan Briton dan diperintah oleh bangsawan Pendragon sejak dulu.

Sebelum berada dan terbaring di sini, Arturia sedang dalam pelarian menyelamatkan diri dari kerajaannya yang mengalami pengudetaan, yang didalangi oleh teman ayahnya sendiri, Goetia.

Kudeta berdarah itu membunuh banyak dari orang-orang yang setia kepada ayahnya, juga dari keluarganya. Gadis itu pun dapat melarikan diri dari kerajaan karena pengorbanan dari kakaknya, Arthur Pendragon, yang saat ini tak diketahui apakah kakaknya itu masih hidup atau tidak.

Uther Pendragon, selaku ayah dari Arturia sepertinya pun telah mati, dan mungkin saja yang membunuhnya adalah teman ayahnya itu sendiri, Goetia.

Entah apa yang menjadi alasan Goetia yang sebenarnya adalah teman akrab Uther berkhianat dengan mengudeta tahta Uther atas Camelot. Hal itu terjadi begitu saja dengan tiba-tiba, yang entah bagaimana Goetia mendadak mempunyai pasukan besar dan mengerikan, kemudian melakukan serangan kejut kepada kerajaan Camelot saat malam hari.

Arturia ketika itu sempat ikut dalam pertarungan yang sontak terjadi itu, akan tetapi karena tak adanya persiapan akan serangan Goetia, kubu Uther hancur dan diremukkan seluruhnya oleh kubu Goetia.

Uther Pendragon yang melihat kehancuran kerajaannya itu, menyempatkan dirinya untuk memberitahu kedua anaknya, Arthur dan Arturia untuk menyelamatkan diri. Sempat terjadi pertentangan dari kedua anaknya itu, tapi Uther dengan murka pun memerintahkan mereka untuk lari.

Uther telah berjanji kepada mediang istrinya, bahwa apapun yang terjadi ia akan melindungi kedua anaknya itu sebagai ayah, mengabaikan tanggung jawabnya sebagai raja yang seharusnya memprioritaskan rakyat di atas apapun.

Karena kemurkaan ayah mereka, Arthur dan Arturia pun memaksakan diri mereka untuk melarikan diri dari kerajaan. Akan tetapi, saat baru beberapa langkah melakukan pelarian mereka, mereka dihadang oleh orang-orang Goetia yang berjumlah banyak.

Arthur memerintahkan Arturia untuk melarikan diri sendirian, yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Arturia. Arthur pun murka seperti ayahnya kepada Arturia, tapi adiknya itu tetap membantah. Bersikeras ingin tetap menemani Arthur untuk melawan orang-orang Goetia itu.

Kemudian anggota knight of round table datang menghampiri mereka. Arthur yang melihat kedatangan kelompok khususnya itu, langsung memerintahkan Bedivere, anggota yang paling dekat dengan dirinya untuk membawa pergi Arturia dari kerajaan.

Bedivere langsung saja menuruti perintah Arthur tanpa membantah, dan membawa paksa Arturia pergi dari tempat itu.

Namun, saat sampai di gerbang perbatasan Arturia dan Bedivere dihalangi oleh orang-orang Goetia kembali. Melihat itu Bedivere meminta untuk Arturia pergi dan meninggalkannya sendiri, yang entah kenapa dituruti langsung oleh Arturia tanpa membantah seperti yang gadis itu lakukan kepada kakaknya.

Arturia terus lari menjauh dari kerajaan tanpa tujuan yang jelas, beberapa pasukan Goetia juga masih ada yang mengejarnya. Arturia pun melarikan diri jauh ke dalam hutan Forêt de Valon yang berada di sebelah barat-barat laut negeri Briton, untuk mengelabui pasukan Goetia yang masih terus mengejarnya.

Setelah berlari dengan kedua kakinya sendiri, menempuh jarak yang sangat jauh, Arturia akhirnya mencapai batas kemampuannya menahan diri. Di tengah-tengah hutan Forêt de Valon yang rimbun, ia pun pingsan tepat setelah ia menyandarkan punggungnya di batang pohon besar.

Arturia pingsan selama satu hari lebih di hutan itu, hingga Naruto yang saat itu sedang berburu di sana menemukan gadis itu yang masih pingsan.

Naruto membawa Arturia ke Greyhal, kota tua yang membatasi wiliyah negeri Briton dan negeri Orleans, serta dihalangi pegunungan Mooside Hills yang berada di hadapan Forêt de Valon. Naruto sampai di sana dari hutan Forêt de Valon ke kota itu setelah dua belas jam perjalanan, dengan Arturia yang tak sadarkan diri dan setia dalam gendongannya.

Naruto menempuh perjalanan tanpa berhenti barang sejenak, ia terus saja berlari dan berlari untuk menuju Greyhal.

Sesampainya ia di Greyhal, Naruto langsung bergegas menemui kenalannya yang tinggal di kota itu, seorang gadis yang bernama Parvati.

Parvati bukanlah satu-satunya orang yang Naruto kenal di Greyhal, hanya saja Parvati adalah orang yang memahami ilmu medis dengan baik, terlebih Naruto pun paham bahwa Parvati adalah gadis yang sangat baik, dia pasti akan menolong Arturia setelah Naruto membawanya ke tempat gadis itu.

Naruto sampai di rumah Parvati pada pukul tujuh pagi. Keringat terlihat sangat jelas membanjiri wajahnya yang memucat karena berlarian tanpa henti. Ia dengan tak sabaran mengetuk pintu rumah Parvati, yang tentu saja mengejutkan sang tuan rumah.

Setelah Parvati membukakan pintu rumahnya, ia kontan terkejut melihat Naruto yang tampak kacau dengan seorang gadis yang berada dalam gendongannya.

Sebelum Parvati sempat bertanya apa yang terjadi, Naruto telah lebih dulu menjelaskan secara singkat semua yang terjadi dari ia yang menemui Arturia di Forêt de Valon hingga membawanya ke sini.

Penjelasan Naruto membuat Parvati mencengang selama beberapa saat, sebelum disadarkan oleh Naruto yang masih kalap saat itu.

Parvati pun sadar dan langsung mempersilakan Naruto masuk ke dalam rumahnya membawa Arturia untuk segera ia obati.

.

.

Naruto duduk di atas kursi kayu yang menghadap ke arah perapian di dalam rumah Parvati. Kedua telapak tangannya menggosoki gelas besi yang berisi kopi panas untuk mengais sedikit kehangatan.

Brunia saat ini sedang mengalami musim dingin tanpa salju. Berada di dalam rumah saja sudah cukup membuat Naruto kedinginan, ia tak tahu bagaimana kondisi Arturia sekarang, yang ketika ia temukan saja tubuhnya sudah sangat dingin seperti mayat.

Tubuhnya benar-benar digerogoti rasa letih setelah berlarian sepanjang hari, bahkan setelah beristirahat selama beberapa jam di sini rasa letih itu masih belum mereda.

Naruto merilekskan tubuhnya di atas kursi sembari terus-terusan menyembuhi nafasnya. Ia menuggui Parvati yang masih merawat Arturia sejak tadi dengan gelas kopi dalam genggamannya, yang kali ini sudah gelas kedua.

Parvati yang ditunggui oleh Naruto keluar dari kamar tempatnya merawat Arturia, dan langsung bergerak menuju tempat Naruto berada.

Parvati yang telah sampai di dekat Naruto mendudukkan dirinya di kursi sebelah Naruto, seraya meregangkan tangan-tangannya dan mengusap peluh yang bermunculan di wajah ayunya.

Naruto menoleh ke arah Parvati. "Bagaimana keadaannya?"

"Hm?"

Parvati hanya menggumam untuk menjawab pertanyaan Naruto karena masih merilekskan tubuhnya. Setelah itu, ia barulah menyenderkan punggungnya di kepala kursi yang ia duduki.

"Dia terkena hipotermia, sangat berbahaya jika saja kita terlambat menolongnya. Fisiknya lemah seperti habis melakukan aktivitas ekstrem, serta terpapar suhu yang sangat dingin dalam waktu yang lama. Untuk saat ini, setidaknya dia membutuhkan istirahat sebanyak mungkin untuk mengembalikan tenaganya yang terkuras habis."

Parvati menoleh ke arah Naruto setelah memberikan penjelasan, kemudian tersenyum lembut. "Kau telah berusaha keras, Naruto." Pujinya.

Naruto membalas senyum Parvati. "Terimakasih," Ia menoleh ke arah perapian di hadapannya selama beberapa saat, kemudian menunduk. "Aku pikir dia tak akan selamat, aku menemukan gadis itu saat tubuhnya benar-benar memiliki daya hidup yang sangat lemah." Pungkas Naruto.

Parvati memandang dengan sangat dalam wujud Naruto. Ia trenyuh dengan kegigihan Naruto yang tetap membawa Arturia kepadanya meski dalam keadaan tak yakin. Senyumnya pun mengembang dan pandangannya bertambah lembut menerima sosok Naruto dari matanya.

Parvati menjulurkan tangan kanannya ke kepala Naruto, kemudian mengelus-elusnya lembut. "Kau benar-benar orang yang baik, Naruto."

Naruto tersenyum lemah diberikan perlakuan dan perkataan ramah itu dari Parvati, "Aku harap begitu," ujarnya lirih.

Parvati tak memudarkan senyumnya, dan tetap mengelus-elus rambut lusuh Naruto selama beberapa saat sebelum menarik tangannya kembali.

"Tinggallah dulu di sini," ucap Parvati.

"Maaf, aku tida—"

"Tidak, Naruto! Kau harus mengistirahatkan dirimu juga, aku bisa melihat bahwa kau sangat kelelahan saat ini. Kau pasti telah berpergian ke banyak tempat."

Parvati serta-merta menyela Naruto yang akan menolak tawarannya, membuat lelaki itu cukup tersentak beberapa saat.

Naruto pun menghela nafas panjang, kemudian memejamkan matanya. Sepertinya lebih baik ia menerima penawaran Parvati.

"Selain itu, kau harus mengetahui siapa sebenarnya gadis yang telah kau selamatkan itu."

Naruto membuka matanya terkejut, dan sontak menegakkan punggungnya serta menoleh ke arah Parvati.

"Kau tahu siapa dia?"

Parvati mengangguk. "Awalnya aku tak yakin, tapi setelah benar-benar menyelidikinya aku pun juga terkejut."

Naruto memandang fokus kepada Parvati yang akan memberitahunya identitas dari gadis yang ia bawa itu.

Parvati menatap Naruto serius. "Dia adalah Arturia Pendragon, putri dari Uther Pendragon …"

"… raja Camelot."

.

.

.

Sedikit informasi tambahan mengenai latar yang ada di chapter ini:

Briton; negeri yang terletak di sebelah barat laut Brunia yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Camelot.

Camelot; kerajaan yang memerintah negeri Briton, dipimpin oleh bangsawan Pendragon yang kemudian dikudeta oleh Goetia.

Greyhal; kota tua yang terletak di sebelah barat Brunia, yang menjadi batas antara wilayah Briton dan Orleans.

Forêt de Valon; kawasan hutan liar yang rimbun. Terletak di wilayah barat-barat laut negeri Briton yang di hadang oleh pegunungan Mooside Hills dan memisahkan hutan itu dengan jalanan menuju kota Greyhal.

Mooside Hills; pegunungan dengan tinggi rata-rata 600 meter yang membatasi kawasan antara Forêt de Valon dan jalan arteri menuju kota Greyhal. Di suatu sisi pegunungan ini memiliki ngarai tersembunyi (ngarai inilah yang dilalui Naruto ketika membawa Arturia), sebagai jalan memintas untuk melewati pegunungan ini.