KABAR YANG MENGGUNJANGKAN
Saat pagi, berkas cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela, menyalami wajah Naruto. Sambil menggosok-gosok mata, ia duduk di tepi papan panjang yang digunakannya untuk tidur semalam.
Lantai kayu pinus terasa dingin di kedua telapak kakinya. Ia meregangkan kakinya yang sakit dan menggaruk-garuk punggungnya, kemudian menguap.
Naruto menoleh ke arah meja kayu di sampingnya, dan menemukan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap-uap panas, beserta segelas penuh air putih. Ia tersenyum kecil dengan pandangan sayu menatap cangkir berisi kopi itu. Parvati benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik.
"Kau sudah bangun, Naruto?"
Naruto menoleh ke asal suara yang menyapa pendengarannya, dan menemukan Parvati berjalan mendekatinya. Gadis itu terlihat mengenakan celemek putih yang membaluti gaun ungu yang dikenakannya.
Naruto tersenyum lembut sebagai balasan atas sapaan Parvati kepadanya barusan.
"Jika kau sudah meminum air putihnya, kau boleh meminum kopi itu." ujar Parvati setelah berada di hadapan Naruto.
"Uhm, terimakasih." Jawab Naruto dengan suara yang agak serak. Ia kemudian mengambil gelas berisi air putih, kemudian meneguknya pelan hingga ia habiskan setengah dari isi gelas itu.
Parvati tersenyum melihatnya. Ia memang gadis yang amat baik dengan segala perhatian yang berasal darinya. Hampir seluruh penduduk Greyhal mengetahui perihal itu, dan sangat menghargai sifat menganggumkan dari Parvati.
"Aku ingin belanja bahan makanan setelah ini, kau bisa menjaga rumah untukku?" tanya Parvati sembari mengelap kedua tangannya yang basah pada celemek yang ia gunakan.
Naruto langsung menoleh ke arah Parvati, "Biar aku saja yang belanja," timpalnya cepat.
Parvati mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya beberapa kali, "Tapi kau belum meminum kopimu," ucap gadis itu.
Naruto tersenyum kecil mendengarnya, "Aku akan meminumnya dulu sedikit. Tak masalah, kok, kalau cuma ditinggal sebentar." Timpal lelaki itu dengan lebih halus.
Lantas Parvati tersenyum, "Baiklah kalau begitu, akan ku buatkan daftar belanjaannya untukmu." Pungkas gadis itu seraya membalikkan tubuhnya dan menjauh dari hadapan Naruto.
Naruto masih menahan senyumnya sampai sesaat setelah Parvati berlalu dari hadapannya. Setelah itu, ia pun mengambil cangkir berisi kopi yang Parvati sediakan untuknya, kemudian menyeruputnya sedikit.
Setelah menyeruput cairan heterogen itu, Naruto kemudian berdiri dari papan yang ia duduki sembari menarik kedua tangannya ke atas dengan cukup kencang untuk memberikan peregangan pada tubuhnya yang masih kaku.
.
.
Kedua kaki Naruto saling melangkah bergantian membawa tubuhnya menyusuri jalanan pasar di kota Greyhal. Tangan kanannya menenteng keranjang berisi bahan makanan yang baru saja ia beli, serta tangan kirinya yang memegang selembar kertas daftar belanjaan yang dituliskan Parvati untuknya tadi.
Mata Naruto meneliti list belanja di kertas yang ia pegang, memastikan yang mana lagi yang harus ia dapatkan untuk melengkapi belanjaannya saat ini.
Saat dirinya sedang sibuk meniliti daftar belanjaan itu, sayup-sayup pendengarannya menangkap pembicaraan yang kontan menarik perhatiannya.
Naruto menghentikan langkah kakinya, kepalanya langsung menoleh ke arah orang-orang yang sedang berbincang yang menjadi sebab ia menghentikan langkahnya sekarang. Kemudian Naruto menggerakkan dirinya sedikit mendekat pada orang-orang itu.
"Benar, aku juga mendengar tentang Camelot yang dikudeta itu,"
Naruto terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan oleh salah seorang pria paruh baya yang ada di sana.
'Camelot … dikudeta? Kenapa? Oleh siap—'
"Dan juga, raja Uther telah dibunuh oleh koleganya sendiri, tuan Goetia."
Lantas saja Naruto kembali dikejutkan dengan apa yang dia dengar lagi barusan. Kedua bola matanya bergetar kalut, pikirannya berguncang setelah mendengar kemalangan dengan sisipan nama ayah dari seorang gadis bangsawan yang ia selamatkan kemarin.
Sontak saja, Naruto langsung bergerak mendekati kumpulan orang yang sedang berbincang mengenai kudeta Camelot di sana.
"Permisi, tuan-tuan."
Setelah Naruto mengatakan itu, kontan saja rombongan orang di sana melihat padanya dan memandang dirinya heran. Naruto mengabaikan hal itu.
"Apa benar kerajaan Camelot dikudeta? Kapan itu terjadi?" tanya Naruto cepat.
"A-ah … iya benar, aku mendengarnya semalam, dan dari yang kudengar kudeta itu terjadi dua atau tiga hari yang lalu." Jawab seorang pria paruh baya sedikit gelagapan karena pertanyaan Naruto yang tiba-tiba dan terdengar memaksa.
Sedangkan Naruto yang mendengar jawaban itu, kedua matanya membelalak tegang. Ia berdiri kaku di hadapan orang-orang di sana selama beberapa saat, menjadikan suasana di sekitarnya cukup mengeruh.
"Nak, ada apa?"
Naruto langsung saja tersadar dengan panggilan itu, ia pun beralih memandang kepada wanita paruh baya yang barusan menanyainya.
Naruto menggeleng pelan, "Maaf, saya tak apa, nyonya." Jawabnya.
Kemudian Naruto beralih pada pria paruh baya yang tadi menjawab pertanyaan, setelah itu menundukkan kepalanya sedikit kepada orang itu.
"Terimakasih, tuan."
Setelah mengucapkan terimakasih, Naruto langsung bergegas pergi dari tempat itu, meninggalkan kumpulan orang-orang itu keheranan dengan sikapnya.
Naruto berlari dengan emosi tak percaya yang menyemat di air mukanya, menuju rumah Parvati ditemani satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
'Bagaimana mungkin ..?'
Langkah-langkah Naruto memburu ketika memasuki rumah Parvati. Raut kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya saat itu juga.
"Parvati! Kau ada di mana?"
Tepat setelah itu, Naruto mendengar derap langkah yang terburu-buru seperti menuju ke arahnya. Kemudian Naruto beralih dan mendapati Parvati yang berlari keluar dari sebuah kamar menuju dirinya dengan ekspresi cemas.
"Syukurlah kau sudah pulang, Naruto. Ada yang ingin ku—"
"Ada yang ingin kuberitahu padamu!"
Naruto langsung memotong perkataan Parvati ketika gadis itu sampai di hadapannya. Sontak saja Parvati langsung menegang, dan kedua matanya terbelalak menatap Naruto.
"T-tunggu dulu, aku ingin mengatakan hal penting." Ujar Parvati gelagapan.
"Yang ingin aku katakan juga hal penting, Parvati. Sangat penting. Ini menyangkut putri Pendragon itu." balas Naruto sengit. Ia mendadak menjadi sosok yang asing dalam dirinya karena bersikap seperti ini.
Parvati bungkam mendengarnya. iris mata ungunya mengkilap gesit dan bergetar ketika mendengar nama yang Naruto ucapkan dan dikaitkan dengan hal penting yang ingin dibicarakan oleh lelaki itu.
"J-jangan-jangan … kau sudah mendengarnya juga?" tanya Parvati cemas.
Naruto yang hendak mengatakan berita yang tadi ia dapatkan ketika dirinya berada di pasar tadi langsung tersentak mendengar Parvati yang bertanya kepadanya.
"Apa maksudmu?"
Parvati baru saja membuka mulutnya berniat menjawab Naruto, tapi suara tubrukan menginterupsi mereka. Kontan saja mereka langsung mengalihkan pandangan mereka ke asal suara itu, dan mendapati Arturia yang berdiri lunglai di ambang pintu dengan tubuh yang bersender pada lawang.
Sontak ketika melihat Arturia, Parvati langsung bergegas mendekati gadis itu kemudian memapah tubuhnya. Naruto juga ikut mendekati putri Pendragon itu.
"Anda seharusnya tetap berbaring, nona Arturia." Tegur Parvati khawatir setelah menduduki dirinya di lantai bersama Arturia yang ia pegangi.
Namun Arturia tak mengindahkan teguran itu. Ia tiba-tiba melompat dari pegangan Parvati dan menyeruduk Naruto ketika lelaki itu baru saja sampai di sisi mereka.
Kedua tangan Arturia meremas lemah baju lusuh yang dikenakan Naruto, kedua matanya bergejolak buncah ketika memandang wajah lelaki itu. Sedangkan Naruto hanya balas memandang khawatir kepada Arturia.
"Ayahku …" sudut-sudut mata Arturia mulai menumbuhi air, "… a-apa kau mendengar tentang ayahku?" tanyanya dengan nada penuh kegentaran kepada Naruto yang ia rengkuh.
Kontan saja setelah mendengar pertanyaan Arturia, ekspresi Naruto yang semula khawatir beralih muram. Ia kemudian menunduk untuk menghindari tatapan kusut dari gadis yang memeganginya itu.
Arturia yang melihat Naruto seperti itu mengeratkan cengkramannya pada baju lelaki itu, "Katakanlah sesuatu!" jeritnya kalap.
Naruto pun kembali menegakkan kepalanya dan memandang getir kepada Arturia. Bibirnya tersangkut, dan menorehkan senyum layu. Ia kemudian menyentuh kedua tangan Arturia dan meremas lembut.
"raja Uther … wafat …"
.
