KEEGOISAN DAN KEPEDULIAN


.

Tubuh Arturia menegang, dan matanya melotot tak percaya. Kedua bola mata gadis itu gemetaran hebat menangkap sosok Naruto di hadapannya.

Kesadaran terasa menghilang di sekitar putri Pendragon itu tepat setelah Naruto mengatakan tentang berita yang ia dengar. Ufuk kesegaran yang menguar dari sekat-sekat pinus rumah Parvati menyesak, digenggam hawa emosi panas akibat kabar yang Naruto katakan.

Alhasil, tak ada yang bergerak di sana kecuali waktu selama beberapa saat. Hingga setengah nafas dari Arturia mengintrupsi, mengetuk kesadaran ketiga manusia yang berada di sana.

"A-apa y-yang kau …"

Bidang bibir Arturia bergetar ketika mengeluarkan respon untuk pertama kalinya setelah mendengar dari apa yang dikatakan Naruto. Sekat-sekat kedua matanya mengakar merah, dan di ujung itu menimbun genangan yang siap mengalir dalam beberapa saat kemudian.

Rasa cemas membuncah dari dalam diri Naruto, melihat bagaimana kalutnya sosok Arturia di hadapan matanya, sehingga membuat gadis itu tak sanggup untuk bereaksi dengan wajar.

"T-tenang dulu, tuan putri. M-mungkin saja berita itu tidak benar." Ucap Naruto gelagapan.

Kilahan Naruto tak berpengaruh banyak kepada Arturia. Gadis itu tetap bergeming dalam getaran tubuhnya yang belum mereda sedikit pun. Melihat hal seperti itu, Naruto secepat mungkin berlutut dengan kedua kaki.

Diiringi pandangan yang begitu khawatir, Naruto mengalihkan kedua tangannya yang memegang tangan Arturia, kepada bahu gadis itu yang mulai bergelombang.

"T-tuan putri, kita belum benar-benar tahu apakah raja Uther memang sudah wafat, aku akan memastikan berita itu. Anda tenanglah, dan beristirahatlah dahulu di sini. Biarkan Parvati merawat anda."

Tubuh Arturia tersentak, dan kontan menggelengkan kepalanya kacau. "Tidak! Aku juga harus pergi. Aku ingin memastikan itu sendiri."

Naruto dan Parvati serempak terperanjat mendengar apa yang dikatakan oleh Arturia.

"Tunggu dulu, Nn. Arturia. Anda masih belum pulih." Ujar Parvati cepat.

Parvati menggesar dirinya ke sisi Arturia, dan memandang putri Pendragon itu dengan cemas. Ia kemudian menggunakan telapak tangan kanannya untuk mengelus-elus punggung Arturia dengan lembut. Berharap itu dapat sedikit memberikan ketenangan kepada Arturia yang benar-benar kalut sekarang.

"Setidaknya biarkan anda beristirahat dulu selama beberapa hari." Ujar Parvati lagi.

Arturia yang mendengar nasehat itu menunduk sebentar. Kedua bahunya semakin berguncang, dan tampak tetesan-tetesan air berjatuhan dari wajahnya yang tertutup itu.

"T-tidak bisa … a-aku harus melihat ayahku, dan … kakakku …"

Arturia mengatakan hal itu dengan lirih, serta dibarengi dengan gemetaran yang mengikat suaranya.

"T-tapi, nona—"

"JANGAN MENGHALANGIKU!"

Arturia berteriak kencang menyentak ucapan Parvati. Kedua matanya yang berlinangan air menatap tajam ke arah Parvati, yang membuat Parvati terbelalak takut hingga bergeser mundur sedikit menjauhi Arturia.

"Kau tak tahu apa yang kurasakan saat ini!" teriak Arturia dengan masih memandang tajam kepada Parvati.

Setelah itu, Arturia kembali menunduk. Gadis itu menangis kecil. "… k-kumohon … b-biarkan aku pergi,"

Isakan gadis itu teredam. Ia terbungkus begitu banyak rasa cemas dan takut akan kabar sesungguhnya dari sang ayah, juga kakaknya.

Sedangkan Naruto dan Parvati terpaku selama beberapa saat. Membiarkan; belum dapat mengerti apa yang harus mereka lakukan untuk bisa membantu putri Pendragon itu.

Akhirnya, selama beberapa saat ruangan itu hanya diisi oleh isakan Arturia yang diredam olehnya sendiri itu, di tengah-tengah itu, Naruto mengeratkan kedua tangannya yakin.

"Baiklah. Aku akan mengantar anda, tuan putri." Ujar Naruto.

Sontak mendengar apa yang dikatakan oleh Naruto, Parvati dan Arturia menoleh terkejut ke arah lelaki itu. Kedua gadis itu tercengang setelah mendapati air muka yang ditampilkan oleh Naruto.

"A-apa maksudmu, Naruto? Kau juga masih butuh istirahat," ucap Parvati sedikit gagu.

Naruto menoleh ke arah Parvati, kemudian tersenyum kecil. "Tak apa, Parvati. Aku sudah cukup banyak istirahat semenjak berada di sini." lelaki itu menoleh ke arah Arturia yang masih memandang diam kepadanya.

"Selain itu, aku juga ingin memastikan kebenaran tantang hal ini." Lanjut Naruto saat dirinya memandang penuh kepada Arturia.

Parvati yang mendengar apa yang dikatakan oleh Naruto itu hanya terdiam. Ia merasa sangat ingin menentang apa yang akan dilakukan lelaki itu, tetapi entah kenapa ia seperti tak bisa melakukannya.

Naruto selama beberapa saat hanya memandang sayu kepada Arturia, kemudian tersenyum, seraya membawa kedua tangannya untuk kembali memegang bahu gadis itu.

"Anda masih tak kuat untuk berjalan sendiri, tuan putri. Karena itu, izinkan aku untuk menggendong anda." Ujar Naruto pelan.

Dan lagi, Parvati pun tersentak mendengar hal itu, "Apa?! Kau masih kelelahan Naruto, kau bisa lebih parah nantinya." Seru gadis itu cepat, dengan mendesakkan diri ke arah lelaki itu untuk memegang bahunya.

Naruto pun menoleh ke arah Parvati setelah mendapati reaksi gadis itu, sembari tetap mempertahankan senyumnya. "Aku sudah cukup baikan, Parvati. Dan aku juga tak akan memaksakan diri seperti kemarin."

"Tidak! Kau pasti akan memaksakan dirimu lagi." Sanggah Parvati cepat, "Benar! Bagaimana jika kalian menggunakan kuda saja?" tanya gadis itu setelahnya.

Naruto tersenyum seraya menggeleng mendengarnya, "Aku tak memilikinya, dan tak akan ada yang bisa meminjamkannya kepada kita di sini." jawab lelaki itu.

Parvati tersentak mendengarnya, "T-tapi … tapi …" gadis itu gundah. Ia gelisah dengan semua yang Naruto jawab dari pertentangan yang diutarakannya. Ia ingin menentang keputusan Naruto lagi, namun ia tak tahu harus mengatakan apa lagi.

Melihat kegelisahan yang ditunjukkan oleh Parvati, Naruto pun tersenyum lembut kepada Parvati. "Aku akan baik-baik saja. Kau tunggulah di sini, dan pastikan aku akan kembali lagi ke sini."

Parvati tertegun mendengarnya. Sedikit dari kegelisahannya mereda, dan matanya yang terbuka lebar memandang wajah Naruto yang tersenyum kepadanya. Seakan lelaki itu mencoba untuk menyampaikan, bahwa gadis itu tak perlu khawatir.

Namun …

"Kau bohong," lirih Parvati setelah menunduk dalam kepalanya. Kedua bahunya sedikit berguncang, sebagai bentuk ekspresi kegelisahannya yang kembali naik.

"Kau pasti hanya akan kembali berbohong padaku, Naruto!" Sentak Parvati keras. Ia menengadah dan melotot kepada Naruto. Putih-putih matanya mengakar, serta bulir-bulir likuid mulai menggeseki kedua pipinya.

Naruto yang disentak seperti itu oleh Parvati kontan saja terkejut. Ia tak menduga reaksi dari gadis itu yang ia dapat akan seperti ini.

"T-tunggu, Parvati, aku tak akan berbohong," ucap Naruto sedikit gelisah.

"Tidak!" Parvati mendesak ke arah Naruto dengan kedua tangannya yang mencengkram erat bahu lelaki itu. "Kau akan berbohong padaku, Naruto, kau selalu seperti itu!"

"A-apa mak-sudmu? Aku tida—"

"Lupakan saja gadis egois ini! Dan tetaplah di sini bersamaku, Naruto!" berang Parvati cepat memotong apa yang ingin dikatakan Naruto.

Sontak saja Naruto terbelalak, begitu pun Arturia, mendengar bagaimana Parvati mengatakan itu dengan emosi panas yang begitu mendidih.

Naruto pun hanya diam, tak tahu harus bereaksi seperti apa, atau, ia masih belum mengerti kenapa Parvati berkata seperti itu.

Parvati yang masih menatap tajam kepada Naruto yang ia cekal, kemudian beralih pudar. Pertunjukkan wajahnya begitu lusuh, air mata yang memberai di kedua sisi pipi gadis itu menunjukkan betapa pecahnya laut kesabaran yang selama ini ia bendung.

Setelah itu, Parvati menyorong, membaringkan wajahnya ke dalam dada Naruto. Ia memeluk lelaki itu sembari terisak. "K-kenapa … kau selalu menjauh dariku … Naruto," lirihnya.

.