One Hand

Crossovers: NARUTO,. Infinite Stratos
Charakter:Naruto Uzumaki,. Orimura Ichika
Genre: Sc-fi, Mecha, Matrial Arts, School, Romance.
Episode 3:

{Trank}

"Cepat!" gumam kaget Rin yang melihat tiba tiba Naruto muncul dihadapannya dan melayangkan sebuah tebasan mematikan yang benar benar tidak disangka sangka akan didapat oleh dirinya {Trererererererk}

"Rin maaf mengejutkanmu" ucap Naruto.

"Heh apa yang kau katakan?, ini pertarungan jadi serangan kejutan itu memang diperlukan, itu tidak buruk" ucap Rin sambil tersenyum ke arah Naruto {Sring} jarak mereka kembali terpisah karena dorongan kuat Rin pada Naruto membuat Naruto sedikit terlempar ke belakang, namun itu tidak berlangsung selamanya Naruto langsung kembali bergerak cepat dan kembali muncul di dekat Rin kali ini dibelakang, lalu melayangkan tebasan diagonal dari bawah kiri ke atas kanan, Rin yang menyadari hal itu dengan cepat melompat untuk menjauhi Naruto.

{Trank!} Energy pertahanan IS Rin langsung berkurang akibat tertebas katana milik IS latihan yang Naruto gerakan, meskipun tidak banyak karena hanya berupa goresan tetap saja itu namanya kena.

"Cih, Haaaaaaaaaaaaa!" teriak Rin kali ini Rin yang Agresif dia yang datang menyerang Naruto lalu menebaskan pedang besarnya secara Horizontal dari kiri kekanan dan kanan kekiri dan ada pula ia menggunakan tebasan diagonal dan dan menusuk, namun Naruto selalu dapat menepisnya dengan menggunakan pedang di tangan kirinya.

{Teng trang teteteteteteteteng trararaarank Dreng!} serangan cepat dan mengerikan itu terus diberikan oleh Rin ke arah Naruto namun Naruto selalu dapat menepisnya. {Trank!}

"Hebat, tidak buruk untuk pemula kelas satu, bahkan kau dua kali lebih baik dari Ichika" puji Rin sambil tersenyum saat ia dan Naruto saling mengadu tenaga dengan senjata jarak dekat mereka, Rin dengan dua tangan dan pedang besarnya, Naruto menggunakan tangan kiri dan katana IS miliknya.

"Untuk itu terimakasih Rin-chan" panggil Naruto yang juga ikut tersenyum.

"Cha chan!" seru Rin kaget wajahnya juga memerah kaget ketika Naruto memanggilnya dengan embel embel chan.

"Ah maaf apa itu tidak boleh?" tanya Naruto.

"I itu bi bisa dibicarakan nanti, tapi untuk sekarang kita dalam pertandingan, aku tidak akan mengalah meskipun kau adalah temanku" ucap Rin memperkuat dorongannya pada pedangnya.

"Heeeeeeh, oke, jika itu maumu aku juga tidak akan mengalah" ucap Naruto lalu juga ikut meningkatkan kekuatan dorongan pada tangan kirinya untuk mengimbangi tenaga Rin.

Sekarang tekanan pedang Naruto jauh lebih kuat membuat pedang besar Rin tergerak mundur karena Rin tak sanggup mengimbangi tenaga Naruto, namun ternyata Rin punya teknik rahasia ia membiarkan dorongan tenaga Naruto mampu mengalahkannya, dan saat pedang mereka berdua, sudah sangat dekat dengan tubuh Rin, tiba tiba tangan kiri Rin melepaskan pegangannya dari pedannya, hal itu tentu membuat Naruto kaget karena, dengan dua tangan saja Rin tak sanggup menahan tenaganya kenapa malah menggunakan satu tangan, namun hal itu segera terjawab dengan munculnya pedang kedua dengan ukuran yang sama besarnya dengan pedang yang di adukan dengan katana IS yang Naruto pegang, Naruto kaget akan hal itu, karena tiba tiba Rin menyerangnya dengan tangan kiri yang sudah dipersenjatai pedang yang sama dengan tangan kanannya.

Jika ia melepaskan tekanannya dan menahan pedang tangan kiri Rin maka sebelah kanan yang menyerang, namun Naruto tak ke habisan ide, ketika pedang itu sudah dekat dengan Naruto, Naruto langsung menunduk hingga pedang itu hanya melewati kepalanya dan {Blaaarrrrrr} tanah hancur ketika terkena tebasan Rin, lalu pedang ditangan kanan Rin kembali menyerang ke arah Naruto, Naruto melompat mundur menghindari serangan tersebut, sekarang Rin lah yang terlihat agresif dengan kemampuan dua pedangnya.

"Cih, tak aku sangka kau punya dua pedang" ucap Naruto pada saat itu {Trank}

"Kenapa, kau takut?" tanya Rin dengan senyum merendahkannya, maksudnya meremehkan Naruto, padahal ia yang di desak oleh Naruto tadinya.

"Tidak, aku malah semakin tertantang untuk melawanmu, yah meskipun aku tidak tau akan menang atau tidak, tapi aku tidak mau kalah tanpa perjuangan" jawab Naruto.

"Ah aku juga setuju denganmu" ucap Rin lalu dengan cepat ia melesat ke arah Naruto, begitu juga dengan Naruto ia ikut melesat ke arah, Rin dengan kecepatan yang sangat tinggi mereka berdua saling menebas dan saling menggores shilt Energy masing masing {Trank , trekn trarararararararararararang!" tebasana dan tusukan Brutal Naruto berikan namun berhasil di imbangi oleh tebasan brutal Rin dengan dua pedangnya, Shilt Energy mereka semakin lama semakin berkurang dan itu sangat drastis, pertarungan itu sangat cepat, semua orang yang ada disana hanya tercengang, karena itu bukanlah pertarungan kelas pelajar, mereka bertarung sperti menggunakan tubuh sendiri, Ichika pun kagum melihat Naruto.

Karena Naruto yang baru dua kali menggunakan IS sudah bisa bermanuper dengan IS sementara dia cukup menyedihkan ia bahkan gagal dalam pelajaran mendarat.

Kembali ke pertarungan.

Sekarang mereka berdua berada di udara. Shealt Energy Uchigane Naruto hanya tersisa 70, sedangkan Senglong milik Rin tersisa 190, mereka berdua terlihat kelelahan di udara, Naruto terlihat mencoba memasang kuda kuda bertarungnya sekali lagi, begitu juga Rin.

'Kalau begini terus aku akan kalah, sebaiknya aku menggunakan meriam angin untuk mengalahkannya' batin Rin menatap bahu IS miliknya yang di ciptakan dalam bentuk bulat dan berlubang dan lubang itu tempat keluar peluru udara yang sangat kuat, Naruto merasakan adanya aliran Energy yang bekumpul pada pelindung bahu IS milik Rin langsung waspada, dan akhirnya Rin pun membidik tubuh Naruto dan {Doar doar!} dua tembakan secara bersamaan keluar.

Naruto yang kaget langsung terkena dampak serangan {deng deng Blaaaaaaarrrrr}

"Arrrrrrrrrrrrrrrrrrggggh!" {syuuuur blaaarrrrrrrrrr!} IS latihan itu terjatuh karena tidak sanggup menahan tekanan Udara yang sangat kuat, Naruto terkena serangan sangat telak, Rin pun turun dan berjalan pelan ke arah Naruto.

"Cik koso" gumam Naruto, Naruto melihat kalau Energy pertahanan miliknya tersisa 1, Naruto sempat membaca kalau dalam pertandingan seseorang kehabisan Energy pertahanannya maka ia akan dianggap kalah artinya ia sedang berada dalam ke adaan kritis.

"Naruto-san kau tak apa?" tanya Rin pada Naruto.

"Em seranganmu tadi hebat sekali" ucap Naruto sambil berusaha untuk berdiri dengan IS miliknya "Tapi aku akan serius" ucap Naruto yang memasangkan segel Hiraishin giri milik Tobirama Senju, kenapa ia memilih milik Tobirama karena milik Tobirama bersifat sementara atau segelnya tidak menempel secara permanen di objek yang ia tempelkan, kalau milik ayahnya maka akan menempel secara permanen dan pasti akan menarik perhatian kalau para teknisi mesin melihat pedang dari Uchigane yang ia gunakan memiliki segel Hiraishin.

"Benarkah" sahut Rin, kali ini Rin menyatukan kedua pedangnya menjadi satu dan Rin juga memasang sikap Waspada yang sangat kuat.

"Terimalah serangan terkuatku Rin!" seru Naruto yang langsung melempar katana miliknya ke arah Rin, Rin yang kaget tentu saja langsung menangkis katana Naruto dengan pedangnya {Trank} Katana IS latihan yang Naruto gunakan terlempar ke udara dalam ke adaan berputar.

"Hanya itu?" tanya Rin pada Naruto, namun Rin harus menerima pil pahit dari Naruto karena saat ia menatap ke arah Naruto, Naruto sudah berada dihadapannya dan langsung menarik tubuh IS Rin dan menendangnya ke udara dengan sangat keras, tapi sesuai perkiraan Naruto, Rin langsung menghindar dengan cara melompat dan terbang, namun yang sama sekali tidak disangka Rin terbang ke arah jatuhnya pedang Naruto, Rin melihat senyum mencurigakan Naruto langsung waspada dan benar saja IS yang ia kenakan mendeteksi bahaya dari atas, Rin menggeser tubuhnya sedikit dan katana besar pun jatuh disamping nya.

Namun Rin harus kembali kaget melihat Naruto secara tiba tiba muncul di dekat katana jepang itu dan dengan cepat Naruto mengambil katananya lalu mengalirkan chakra angin di pedang itu lalu melakukan gerakan tebasan cepat.

"Fuuton Kaze kiri no ken" dengan cepat Naruto menebaskan katana berlapiskan elemen angin itu ke arah Rin.

Rin tidak mau kalah ia bergerak ke arah Naruto dan mereka saling menebas lalu {Blaaaaaaarrrrrrrrrrr!}, mereka berdua sama sama kena, Naruto terjatuh dari langit dan begitu juga Rin {Boooom} Uchigane atau IS latihan yang Naruto gunakan rusak berat akibat serangan IS pribadi milik Rin unit China bernama Senglong, dan terhempas dari langit, sedangkan Rin ia baik baik saja, Shelt Energynya masih tersisa 1.

"Huf aku kalah" gumam Naruto yang sedang terbaring lemah di halaman IS, sedangkan Rin, ia terlihat kelelahan meski tubuhnya baik baik saja, Rin pun menghilangkan IS miliknya dan akhirnya ia berlari ke arah Naruto.

"Naruto-san kau tak apa?" tanya Rin pada Naruto.

"Ah aku tak apa apa Rin-chan, aku baik baik saja, yah untuk saat ini" ucap Naruto mencoba untuk tersenyum, terlihat tubuhnya mengeluarkan banyak darah karena terbentur dengan tanah dari ketinggian yang berpuluh puluh meter dari permukaan, ditambah Sheilt Energy milik Naruto habis ketika terkena tebas oleh Rin.

Naruto pun pingsan semua orang panik sekali gus kagum akan Naruto yang menyuguhkan pertarungan Epic dengan IS latihan meski hanya sebentar dan berakhir dengan kekalahan.

"Apanya yang baik baik saja, baka yaro?! Lihat tubuhmu berdarah kau harus ke ruang perawatan sekarang!" ucap panik Rin sambil mengeluarkan Naruto dari IS Latihan itu, Naruto yang sudah keluar, hanya tersenyum ke arah Rin, menurutnya Rin adalah gadis yang baik.

"Mah, setidaknya aku masih bisa bergerak bukan" jawab Naruto, sebenarnya luka Naruto sudah tertutup dan darahnya sudah tertutup.

"Tapi tetap saja kita harus keruang perawatan, untuk menyembuhkan lukamu, mau tidak mau kau harus iku, aku tidak menerima penolakan" ucap Rin pada saat itu dengan tegas, semua orang yang ada disana tercengang akan hal itu, mereka jadi bingung dengan sikap Rin, karena dulu Rin sangat nempel dengan Ichika tapi kenapa sekarang malah dengan Naruto, apa specialnya coba Naruto itu, udah muka pas pasan iyakan tangan cuma ada satu, yah mendingan kalau itu tangan kanan, ini malah tangan kiri, lemah pula.

Yah itulah beberapa pandangan para Siswi yang merasa kalau Naruto itu tidak cocok dengan Rin seorang pilot terbaik di kelas dua, namun bagi Rin, Naruto adalah orang pertama yang membuatnya serius dalam pertarungan yang sebentar ini hanya dengan menggunakan IS latihan, lagian apa apaan kecepatan Naruto saat menggunakan IS latihan saja kecepatannya sudah semengerikan itu apalagi kalau ia pakai IS pribadi.

"Hoooh, hebat juga" gumam Chifuyu menatap ke arah Naruto.

"Tak usah lukaku sudah sembuh kok" ucap Naruto pada Rin.

Rin diam sebentar menatap ke arah Naruto, ia tidak percaya akan apa yang Naruto ucapkan, oh iya alasan Rin tiba tiba perhatian pada Naruto bukan karena Naruto hebat dalam bertarung dengan IS, namun karena dalam keadaan begini, dimana Ichika lelaki yang ia sukai itu memiliki banyak gadis yang mencintainya atau bisa dikatakan jika tetap bertahan maka banyak saingan dan Ichika juga orang yang tidak pekaan, sedangkan Naruto, ia adalah lelaki yang agak menyenangkan dalam setiap obrolan terasa tidak membosankan dan kadang membawa tawa, ia juga lebih sering tersenyum ketika bersama dengan Naruto, apa lagi makanan kesukaan mereka sama, jadi ada kemungkinan ia lebih bahagia bersama Naruto dari pada Ichika, lagian wanita mana yang mau cintanya terbagi.

"Eeeeeeemm,,,,lukamu sudah sembuh atau tidak aku sama sekali tidak peduli, lagian kalau jatuh dari ketinggian seperti itu emangnya tidak meninggalkan luka apa apa, itu mustahil, jadi biarkan petugas medis memeriksamu, lagian tubuhku juga terasa sedikit sakit ketika jatuh dari ketinggian" ucap Rin sambil memalingkan wajah dari Naruto, terlihat pakaian latihannya yang agak ketat itu sedikit sobek dan beberapa kulitnya mengalami luka ringan dan lecet.

"Hah, baiklah, kalau begitu mohon bantuannya Rin-chan" ucap Naruto dengan lembut, Rin pun menatap ke arah Naruto dan ikut tersenyum akhirnya mereka berdua meminta ijin untuk ke ruang perawatan sekolah untuk mendapatkan pengobatan, Naruto dan Rin pun berjalan bersama menuju tempat itu, namun ada yang janggal, yaitu Naruto berjalan dengan kondisi yang biasa biasa saja seolah tubuhnya tidak mengalami cedra sedikitpun, sedangkan Rin yang cedranya tidak terlalu terlihat, berjalan dengan susah dan tidak normal.

Naruto yang melihat Rin berjalan sambil meringis menahan sakit jadi tidak tega dan langsung mengambil inisiatif dengan bertanya.

"Hey, apa kau baik baik saja?" tanya Naruto.

"Em aku baik baik saja, hanya saja rada sedikit sakit karena kakiku agak lecet dan terkilir" jawab Rin sambil meringis.

"Mau istirahat, karena aku tidak tahan melihatmu menahan sakit ketika berjalan" tawar Naruto sambil tersenyum dan duduk di lantai sekolah, oh iya mereka sedang dalam perjalanan menuju ruang perawatan.

"Tapi"

"Sudahlah, duduk dan istirahat saja, sampai kau tidak terlalu merasa sakit" ucap Naruto, Rin tidak punya alasan untuk menolak, akhirnya ia duduk di lantai lebih tepatnya disamping Naruto, sambil menahan sakit ia mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan, memang itu hanya luka lecet dan tidak seberapa, namun tetap saja sekali sakit ya tetap sakit meskipun tidak terlalu menyakitkan, Naruto pun mengarahkan tangan kirinya ke arah luka yang ada di tubuh Rin, Rin kaget namun ia hanya diam ketika melihat tangan Naruto bersinar dengan pendar kehijauan, ia menatap wajah Naruto, terlihat Naruto masih fokus terhadap apa yang ia lakukan.

Rin terpaku melihat wajah tampan Naruto saat dalam keadaan Fokus, secara perlahan tapi pasti rasa sakit di sekujur tubuhnya yang lecet mulai menghilang, luka lecet dan juga lebamnya juga sedikit demi sedikit menghilang, tak lama kemudian Naruto menghentikan kegiatannya dalam menyembuhkan Rin.

"Sudah selesai, sekarang coba kau gerakan tubuhmu, apa masih terasa sakit" tanya Naruto pada Rin sambil tersenyum simpul.

"Em sudah tidak, tubuhku terasa lebih ringan dan nyaman digerakan, apa yang kau lakukan?" jawab sekaligus tanya Rin penasaran sambil menatap Naruto.

"Em aku hanya menggunakan ninjutsu medis padamu" jawab Naruto "Karena lukamu sudah sembuh, bagaimana kalau aku membawamu ke kantin untuk makan, sekarang karena aku punya banyak kufon jadi aku bisa mentraktirmu sekarang" ucap Naruto sambil tersenyum ke arah Rin, senyuman tulus Naruto ternyata mampu membuat jantung Rin bergetar, dia tersenyum manis dan wajahnya sedikit memerah, agar tidak ketahuan ia langsung menunduk menutupi wajahnya dan menjawab tawaran Naruto dengan nada gugup.

"E e eto bo boleh aja, ta tapi a apa tidak apa apa makan duluan se sebelum yang lain?" tanya Rin.

Naruto yang sedang membersihkan bercak merah yang merupakan darahnya dari tubuhnya itu hanya tersenyum, Rin kaget melihat Naruto, ketika darah Naruto dibersihkan tubuh Naruto tidak memperlihatkan bekas luka sama sekali.

"Na Naruto, lukamu, se sembuh?" ucap tak percaya Rin pada Naruto.

"Em, lukaku akan terus menutup dengan segera, saat aku terluka, itulah kenapa aku tidak perlu masuk ruang perawatan karena setiap luka yang aku alami akan secara otomatis menutup dan sembuh" jawab Naruto sambil tersenyum lalu menarik tangan Rin hingga Rin berdiri dan Naruto pun sekarang saling berhadapan dengan Rin.

"Kalau begitu kenapa tanganmu sampai buntung kalau kau memang bisa memulihkan diri dengan cepat?" tanya Rin.

"Memulihkan atau menyembuhkan luka bukan berarti menumbuhkan organ tubuh yang hilang, itu sangat berbeda Rin" jawab Naruto lalu Naruto menggenggam tangan kanan Rin dengan tangan kirinya lalu. "Sebaiknya kau tidak perlu memikirkan lenganku yang hilang, lebih baik kalau kita makan ramen bersama bukan, ayo ikut aku" ucap Naruto lalu menarik Rin.

"Wowowowoaaa, Tu tunggu Naruto-kun, aku bisa jalan sendiri" ucap Rin, namun Naruto tidak melepaskan pegangannya malah genggaman tangan Naruto semakin kuat dan Naruto hanya menatap Rin dengan senyumnya lalu kembali fokus kedepan.

Rin yang mendapat perlakuan hangat Naruto jadi sedikit tersenyum karena bisa bersama dengan Naruto, tanpa sadar wajah Rin memerah malu, ia tidak menyangka kalau Naruto tidak mau melepaskan pegangan tangannya bahkan Naruto hanya memberikan senyuman.

Di kantin sekolah kemudian.

Ruangan moderen itu benar benar membuat orang seperti Naruto tak berhenti berdecak kagum, kalau orang orang melihatnya saat ini sudah pasti Naruto akan dianggap bocah kampungan.

Lalu Naruto dan Rin pun memesan semangkok Ramen, Rin melihat Naruto begitu kesusahan membawa mangkok ramennya dengan satu tangan jadi merasa kasihan.

"Naruto-san kalau kau mau aku bisa membawakannya untukmu" ucap Rin pada saat itu.

"Tidak perlu Rin, aku bisa sendiri lihatlah" ucap Naruto yang sudah menyentuh bagian tengah nampan ramennya dan mengangkatnya dengan satu tangannya.

"Ah hebat sekali"

Beberapa bulan kemudian.

Akhirnya sebentar lagi hari libur yang ditunggu tunggu oleh para siswa pun tiba, dimana para murid murid yang ada di IS akademy itu berlibur dengan pulang ke rumah masing masing, sedangkan murid pindahan dari Negara lain berlibur ke negara mereka ada juga yang mencari penginapan di jepang, kalau Naruto, meskipun libur ia malah memilih tinggal di asrama sekolah, baginya meskipun libur sekolah ini sudah seperti rumahnya, jadi libur atau tidak ia akan tetap tinggal, kecuali kalau ia dilarang tinggal, lagian ia tidak punya rumah di jepang, jadi mau liburan kemana dia, kalau lapar dan kantin tutup mungkin ia akan mencari makanan dengan jalan jalan ke kota besar lalu mencuri, mungkin.

Rin, gadis yang dekat dengan Naruto lalu mendatangi Chifuyu atau Orimura-sensei guru atau pengawas yang mengajar di kelas satu.

"Ada apa Rin?" tanya Chifuyu Orimura pada gadis china itu.

"Em anu, ketika liburan nanti, apa benar Naruto-san ada dalam pengawasan anda?" tanya Rin.

"Yah begitulah emanngnya ada apa?" tanya Chifuyu.

"Apa anda akan membawa Naruto kemanapun anda pergi agar bisa mengawasinya?" tanya Rin lagi, Chifuyu kali ini benar benar bingung akan keinginan gadis china ini, karena ia tiba tiba bertanya begitu, dan terus bertanya.

"Iya lalu"

"Besok kan libur apa anda akan membawa Naruto berlibur bersama anda, kalau ia katakan kemana?" tanya Rin.

"Heh" gumam tak percaya Chifuyu karena Rin malah mengincar Naruto, karena setaunya seluruh wanita yang ada di sekolah ini selalu mengincar adiknya, tapi kenapa Rin malah menanyakan Naruto dia benar benar bingung mendengarnya namun ia dengan santainya menjawab.

"Em entahlah, mungkin kalau ada waktu aku akan pulang ke rumah sebentar" jawab Orimura sambil tersenyum tapi bukan senyum manis, melainkan senyuman aneh.

"Oh sokah, kalau begitu aku pergi dulu"

"Hm mencurigakan, tapi ya sudahlah" gumam Chifuyu ia tidak terlalu ingin mencampuri urusan orang lain.

Hari libur pun tiba.

Sesuai dengan namanya semua murid berlibur dari pelajaran yang mereka pelajari tentang IS, hanya Naruto yang masih berada di asrama, semua orang di asrama itu sudah tidak ada hanya dia yang masih tinggal disana.

"Hoy Naruto kau tidak pergi liburan" tanya teman sekamar Naruto namanya adalah Ichika, ia adalah tokoh utama dalam cerita ini.

"Maaf tidak bisa, aku tidak punya rumah dan uang, sekolah kemari itu karena kakakmu yang membawaku untuk bersekolah disini" jawab Naruto, ia berkata jujur, soalnya untuk apa bohong, baginya bohong tidak ada gunanya disaat seperti ini, lagi pula ia tidak sedang dalam misi, ia juga sudah menyembunyikan beberapa kekuatannya dengan baik, ia hanya menampilkan jurus jurus yang tidak terlalu mematikan, ia hanya menggunakan chakra untuk meningkatkan ketajaman pedangnya saja.

"Oh, kalau begitu bagaimana kalau kau berlibur ke rumahku saja?" tanya Ichika pada Naruto.

"Untuk hal itu aku harus meminta ijin dulu pada kakakmu" jawab Naruto.

"Oh, kalau begitu aku harap kau di ijinkan, kalau kau sudah dapat ijin, katakan saja padaku agar aku membawamu bersama kami" ucap Ichika sambil tersenyum ke arah Naruto, Naruto hanya mengangguk, lalu pergi dari kamar, seperti ia memang ingin meminta ijin pada sang guru.

"Orimura-sensei" panggil Naruto pada guru perempuan galak yang ada dihadapannya itu.

"Hm ada apa Uzumaki-san?"

"Hari ini hari libur, apa boleh saya berlibur di rumah anda bersama dengan adik anda Ichika?" tanya Naruto dengan hormat pelan ia tidak mau membuat gorila yang ada didepannya ini mengamuk.

"Hm, aku rasa karena kau masih harus dalam pengawasanku aku tidak bisa mengijinkanmu berlibur maaf" ucap Chifuyu pada Naruto, Naruto yang mendengar hal itu hanya mengangguk lalu pergi.

Di pintu keluar ruang guru.

"Anu Naruto apa kau di ijinkan?" tanya Ichika.

"Kakakmu menolaknya maaf" jawab Naruto dan akhirnya Naruto pergi meninggalkan Ichika, Ichika pun pergi meninggalkan Naruto.

Tengah hari di rumah Ichika.

Ada seorang gadis berambut pirang dengan mata ungu dan mengenakan baju berwarna hitam sedang berdiri di depan rumah keluarga Orimura tersebut.

"Tidak apa apa, tak apa apa... semuanya akan baik baik saja dan dia juga sudah bilang akan pulang hari ini" ucap gadis tersebut, yang tidak lain adalah Charlotte langsung mendekati tombol lonceng rumah dan secara perlahan mencoba menekan tombolnya.

"Loh, Char kah?" sapa seseorang dari belakang.

"Heh, eeeeeeee!" kaget Charlotte saat menatap ke arah belakang, ia kaget akan seseorang yang ada dibelakangnya, yang ternyata adalah Ichika sang pemilik rumah, ternyata habis pulang dari belanja. "Ichika... anu Hari ini hari yang indah" sahut gugup Charlotte.

"Hah" sahut bingung Ichika pada ucapan Charlotte.

"Bukan... a anu Saya Charlotte dari sekolah IS apa Orimura-kun ada?" tanya nya sakin gugupnya kata katanya malah menjadi kacau dan aneh.

"Bicara apa kamu ini?" tanya Ichika dengan wajah bingung.

"Huaaaaaa!" seru Charlotte ia benar benar semakin gugup kaget karena kata katanya malah menjadi semakin kacau.

"A"

"A?"

"Aku sudah datang" ucap Charlotte dengan nada santai seolah sudah bisa mengendalikan rasa gugupnya. Sedangkan Ichika hanya bisa menatap ke arah charlotte dengan wajah *waaaaaah aku malah bingung dengan apa yang dia ucapkan*

'Bodoh! Bodohnya aku! Kenapa aku malah berbicara seolah aku adalah pacarnya?' seru Charlotte dari dalam hati.

"Begitu yah?, kalau begitu, ayo masuk!" ucap Ichika pada Charlotte, ia membolehkan gadis itu masuk kerumahnya.

"Boleh masuk?" tanya Charlotte dengan mata berbinar binar ia membawa tas nya yang entah isinya apa.

"Kamu datang untuk mainkan? Atau kau ingin ke tempat lain?" tanya Ichika pada Charlotte.

Dengan cepat Charlot menggelengkan kepalanya.

"Tidak! Sama sekali tidak ada!" balas Charlotte.

"Ahahaha, kamu aneh ya" ucap Ichika sambil membuka gerbang rumahnya.

Sedangkan Charlotte merasa agak gimana gitu ketika dikatai aneh oleh Ichika.

Di dalam rumah keluarga Orimura kemudian.

Terlihat Charlotte begitu kagum akan apa yang ia lihat dari rumah tersebut, dan ia menatap kagum Ichika yang tengah memasak di dapur.

"Hei, Ichika. Apa kau yang melakukan pekerjaan rumah tangga sendirian?" tanya Charlotte pada Ichika.

"Ya, karena Chifuyu-nee sibuk, jadi dia jarang pulang" jawab Ichika pada Charlotte sambil menatap ke arah Charlotte sebentar lalu kembali fokus pada apa yang ia kerjakan.

"Be-begitu, ya?" gumam Charlotte pilot IS prancis itu sambil menatap ke arah Ichika yang mungkin sedang mencuci beberapa peralatan lalu kembali menatap ke depan dan membatin.

'Ichika nanti pasti akan menjadi suami yang baik, ya' batin Charlotte kagum 'Su-suami?' batin Charlotte ia benar benar malu karena tanpa sadar sudah memuji Ichika dari dalam hatinya.

"Ini, teh gandum" ucap Ichika sambil meletakan secangkir minuman di meja di depan sofa yang dimana Charlotte duduk sekarang.

"Ah" ucap Charlotte dengan nada rendah saat kaget dan langsung menatap ke arah Ichika.

Ichika pun duduk dan mungkin sedikit tidak enak karena baru dibuat pagi ini" ucap Ichika sambil duduk di sofa yang ada dirumahnya lalu menatap Charlotte.

"Em Terimakasih" ucap Charlotte sambil mengambil secangkir teh gandum yang diberikan Ichika 'Berdua dengan Ichika...' batin Charlotte dan saat ingin meminum minuman itu secara tiba tiba suara lonceng berbunyi, membuat Ichika dan Charlotte kaget.

Lalu Ichika dan Charlotte pun akhirnya membukakan pintu dan ternyata yang ada didepan gerbang adalah gadis inggris dari IS akademy yang memiliki rambut pirang di bagian ujungnya hampir membentuk bor dan mengenakan bandu biru, ia tengah tersenyum dengan kemeja putih tanpa kancing dan hanya menutupi setengah badan dengan dalaman sebuah baju seksi dengan warna biru.

"Wah, Cecilia" ucap Ichika kaget ketika melihat kamera yang terpasang di gerbang masuk rumahnya.

"Ichika-san Hallo dan sedang apa kamu, Ichika-san?" tanya Cecilia dari luar."Aku tadi cuman kebetulan lewat, jadi mampir sebentar" tambah Cecilia pada Ichika.

"Kebetulan lewat, ditempat seperti ini" ucap Ichika tidak percaya dan hal itu berhasil membuat Cecilia kaget dan bicara cepat.

"Ah ini! Ini kue dari toko terkenal yang katanya enak!" dan saat di persilahkan masuk, Cecilia masuk dan saat membuka pintu ia kaget kalau sebelum ia Charlotte sudah datang duluan dan sedang berada dibelakang Ichika memandangnya dengan aura suram.

Saat di ruang tamu kemudian Cecilia pun mengeluarkan apa yang ia bawa dan itu adalah kue mewah yang terbuat dari buah dan terlihat enak.

"Jadi semuanya berbeda jenis" ucap Ichika melihat ada tiga buah Kue dari dalam kotak makanan yang dibawa Cecilia.

"Ya, begitulah" balas Ceclia dengan gugup.

"Haaah" hela nafas Charlotte dengan pelan 'Ku kira bisa berduaan saja dengannya" batin Charlotte pada saat itu, ia benar benar tidak menyangka akan ada yang datang selain dirinya.

Cecilia pun menatap ke arah Charlotte dengan pandangan gimana gitu yah aku susah bilangnya lalu membatin 'Kenapa Charlotte-san... Apa mungkin ia berencana untuk mengakali kita?' tanya batin Cecilia.

Ichika pun mencoba kue tersebut dan.

"Enak!" seru Ichika dengan nada gembira "Bagaimana kalau kalian juga mencobanya?" tawar Ichika pada kedua gadis yang ada dalam rumahnya.

"Itu ide yang bagus" ucap Cecilia sambil mengangkat sebuah cangkir yang entah isinya apa, teh mungkin.

"Kelihatannya seperti saling menyuapi yah?" ucap Charlotte sambil memejamkan mata, atau mungkin itu yang di sebut eye smile, Ichika langsung tersenyum mendengarnya.

"Oh, bukankah itu bagus?" tambah Ichika. Pada saat Ichika mengucapkan hal itu, mata kedua gadis pirang itu langsung berbinar binar penuh harap.

"Tapi apa kalian mau sesuatu yang sudah dimakan oleh seorang pria?" tanya Ichika, mendengar pertanyaan Ichika kedua gadis itu langsung cemberut, melihat ekspresi mereka yang cemberut Ichika pun langsung bicara lagi.

"Kalau begitu, kalian berdua saja..."

"Itu sama sekali bukan masalah bagiku!" seru Cecilia dengan semangat.

"Tidak apa apa, Ichika!" seru Charlotte mendukung Cecilia. "Lagi pula kita juga ingin coba semua kuenya!" ucap gugup Charlotte menambah alasan mereka agar bisa disuapi oleh Ichika lalu setelah itu Cecilia dan Charlotte langsung saling menatap dengan suasana canggung, lalu mereka berjabat tangan dan tiba tiba muncul latar bendera Prancis dan Inggris disamping mereka dengan cahayanya masing masing.

"Begitu, ya?" gumam Ichika "Kalau begitu, tak apa apa"

"Pertama tama, aku ingin kue dari Ichika-san" ucap Cecilia pada saat itu.

"Aku juga ingin di suapi!" seru Charlotte.

Akhirnya Ichika mengangguk lalu menyuapi mereka berdua dengan menggunakan garpu kecil dan pertama ia menyuapi Cecilia, lalu setelah sampai ke mulut Cecilia, Cecilia menikmati kue itu dengan nyaman, mungkin bukan karena rasanya, karena saya tau orang elit seperti Cecilia itu udah sering makan makanan mewah seperti kue yang dibawanya, sedangkan kenapa ia menikmatinya aku bisa mengambil kesimpulan karena yang menyuapinya adalah Ichika.

Dan giliran kedua untuk disuapi adalah Charlotte gadis Prancis itu kelihatannya sangat menunggu suapan dari Ichika dengan mata berbinar binar ia menunggu suapan dari Ichika dan reaksi yang sederhana namun terlihat jelas kalau ia begitu menikmati suapan itu, hm misteri wanita, lelaki yang enggak peka mana tau perasaan mereka.

Lalu setelah itu,Ceclia pun ingin menyuapi Ichika dan akhirnya Ichika berusaha menolak, namun Charlotte dan Cecila tidak membiarkannya dan saat hampir menyuapi Ichika, tiba tiba lonceng rumah terdengar dan saat pintu dibuka ada tiga orang gadis disana.

"Kenapa kalian juga ada di sini?" tanya Rin, gadis China bermata hijau emerlat berambut coklat dengan gaya twin tail mengenakan jaket ungu tua dengan rok mini berwarna hitam..

"Semuanya juga memikirkan hal yang sama yah" gumam Cecilia pada saat itu sedangkan Charlotte hanya menghela nafas dan Ichika garuk garuk kepala.

Akhirnya semuanya ngumpul di sofa.

Dengan suasana canggung yang ada para gadis duduk dengan gaya masing masing, hm ada satu gadis berambut abu abu memakai penutup mata di mata kirinya dengan mata kanan yang berwarna merah, ia mengenakan gaun berwarna hitam sedang duduk dengan tangan kanannya memegang sebuah kue yang mirip onigiri tapi berwarna agak coklat.

"Haaah, seharusnya jika kalian ingin berkunjung ya bilang dulu dong" ucap Ichika ia merasa belum siap akan kedatangan tamu yang merupakan teman temannya.

"Tidak ada cara lain! Aku baru sadar pagi ini kalau aku punya waktu luang" ucap gadis jepang bermata biru berambut hitam dengan gaya poni tail bercabang dua mengenakan ikat rambut berupa kain putih, mengenakan kemeja putih bergaris hitam tanpa lengan dan rok biru sebagai bawahannya.

"Itu benar, tidak ada alasan lain" jawab Rin pada saat itu menambahkan jawaban Sinonono Houki yang merupakan teman masa kecil Ichika tadi. "Apa kamu tidak suka kita datang tiba tiba?" tanya Rin, sebenarnya tujuan Rin bertamu ke rumah Ichika bukan untuk menemui Ichika melainkan Naruto, karena ada kemungkinan Chifuyu membawa Naruto kerumah keluarga Orimura saat hari liburan.

"Apa kau menyembunyikan barang barang mesummu?" tanya Houki pada saat itu lagi.

"Aku ingin mengejutkanmu dengan datang secara tiba tiba. Bagaimana? Kamu senang kan?" ucap gadis German itu secara tiba tiba, gadis berambut abu abu bermata merah dengan penutup mata di mata kirinya mengenakan gaun hitam namanya Laura, ia mengucapkannya dengan seluruh kepercayaan dirinya.

Para gadis disana langsung menatap iri ke arahnya dan membatin dan mengatakan kalau mereka iri dengan kepercayaan gadis aneh yang dengan sikap dinginnya selalu tiba tiba tidak agresif namun berbahaya saat sudah mengambil tindakan ini benar benar merepotkan.

Sedangkan yang ditatap tajam itu hanya diam santai menatap ke arah depan dimana ada Ichika yang sedang berdiri sambil memakan kue yang ada di tangannya.

"Lalu setelah ini apa yang akan kita lakukan?" tanya Ichika pada para gadis yang ada di rumahnya tersebut. "Karena di luar sedang panas panasnya, apa yang akan kita lakukan di dalam rumah?" tambah Ichika lagi.

"Kedengarannya bagus" ucap para gadis secara serempak.

'Tentu saja, aku datang tepat di hari Ichika pulang' batin Houki pada saat itu.

'Jika Orimura-sensei pulang hari ini ada kemungkinan aku bisa bertemu Naruto jadi tunggu saja sebentar' batin Rin pada saat itu.

'Aku ingin tahu sesuatu hal yang baru tentang Ichika-san' batin Cecilia.

'Jika ada kesempatan, aku ingin melihat kamar Ichika' batin Charlotte.

'Datang ke rumah pelatih Orimura juga merupakan alasan yang menarik' batin Laura sambil memakan kue yang ada ditangannya.

"Baiklah. Apa yang bisa kita lakukan dengan orang sebannyak ini?" tanya Ichika pada saat itu sambil menatap ke arah lain membelakangi para gadis yang ada di rumahnya.

Lalu akhirnya dipilihlah game membentuk lilin anak tk untuk dijadikan bahan tebak tebakan, dan semua gadis disana langsung merancang sesuatu menjadi apa pun yang mereka inginkan untuk di tebak.

"Baiklah bagaimana kalau Laura saja yang duluan" ucap Houki.

"Aku terima" ucap Laura meletakan karya miliknya yang berbentuk seperti kerucut menjulang tinggi ke atas, yah enggat tinggi banget juga sih. Para gadis disana langsung bingung melihatnya.

"Apa itu ada di bumi?" tanya Houki pada saat itu.

"Ya" jawab Laura.

"Lebih besar dari manusia?" tanya Houki lagi.

"Ya" lag lagi itu jawaban Laura.

"Buatan manusia?" tanya Houki lagi.

"Bukan" "Dan tak aku ijinkan kalian bertanya lagi" tambah Laura.

Akhirnya Houki langsung berpikir keras mencoba menjawabnya, setelah menatapnya sekian lama dan ia pun menjawabnya dengan keras.

"Ah, Sumur minyak!" seru Houki dengan seluruh kepercayaan dirinya.

"Salah" jawab singkat Laura. Semua orang langsung menatap Houki tak percaya dengan aura suram mereka masing masing, dan mereka bertanya tanya kenapa malah sumur minyak yang keluar dari mulut Houki.

"Tampaknya ini terlalu sulit untukmu" gumam Laura dengan datarnya "Jawabannya gunung.

"Hah?" ucap kaget mereka, karena mereka tidak pernah melihat ada gunung yang ujungnya lancip.

"Gunung" jawab Laura lagi.

"Tunggu tunggu gunung tidak selancip itu" ucap Ichika mulai protes.

"Tidak juga. Gunung Evrest terlihat begini" jawab Laura pada Ichika.

"Kalau begitu kamu harus bilang Everest supaya semuanya mengerti.

"Dasar orang berisik Lalu kamu ini istriku?" ucap Laura dengan santainya pada saat itu.

"Makanya aku ini bukan Istrimu!" seru protes Ichika.

{Trek} sebuah pintu terbuka ternyata ada seorang gadis berambut hitam panjang terikat bagian belakangnya, usianya sekitar 25 tahunan mengenakan kemeja putih dengan dalaman berupa baju kain berwarna hitam dadanya juga besar, dan ternyata dia adalah kakaknya Ichika yaitu Orimura Chifuyu.

"Apa? Ternyata kalian, ya, yang berisik" ucap Chifuyu pada saat itu.

"Orimura-sensei!" ucap kaget mereka.

"Selamat datang, Chifuyu-nee" sapa Ichika, "Pulang cepat, ya? Makan siangnya... Kalau belum aku akan buatkan sesuatu" ucap Ichika, Chifuyu sama sekali tidak menjawab ia hanya menyerahkan tasnya pada Ichika dan Ichika mengambilnya.

"Tidak sudah kok" jawab Chifuyu sambil berjalan menjauhi Ichika.

"Kalau begitu, teh juga tidak apa apa Yang panas atau yang dingin, mau yang mana?" tanya Ichika pada kakaknya yang baru pulang.

"Begitu ya... Karena diluar panas aku pilih yang dingin" jawab Chifuyu sambil melepaskan kemejanya.

'Apa apaan mereka ini? Terlihat seperti Suami Istri' batin para gadis yang ada disana melihat kelakuan kakak beradik tersebut.

'Jadi, pelatih saat di rumah seperti itu, ya?' batin Laura sambil melihat kelakuan Chifuyu dengan bersila tangan di antara dada dan perut.

Chifuyu pun menatap ke arah belakang dan dilihatnya para gadis disana menatapnya dengan pandangan kalau ia adalah saingan terberat.

"Ah, baiklah aku akan segera berangkat. Ada kerjaan" ucap Chifuyu secara tiba tiba, lalu para gadis disana langsung mengalihkan pandangan kecuali Rin.

"Dari sekarnag?' tanya Ichika.

"Berbeda dengan kalian, para guru subuk pada musim panas" jawab Chifuyu pada saat itu, lalu menatap ke kumpulan para gadis disana dan berkata.

"Kalian bisa istirahat. Tapi jangan menginap, ya" ucap Chifuyu pada saat itu "Dan juga Shinonono" panggil Chifuyu.

"Ya" sahut Houki sambil menatap ke arah Chifuyu.

"Coba sekali kali temui bibimu" ucap Chifuyu "Kamu belum pulang kan?"

"Iya" jawab Houki dengan nada pelan.

"Baiklah" ucap Chifuyu lalu pergi.

"Tunggu!" panggil Rin, Chifuyu pun menatap Rin.

"Apa?"

"Anu, apa Naruto-san anda bawa kemari, kalau dia ada biarkan dia disini sebentar, nanti aku akan membawanya kembali ke asrama jika jika kita sudah selesai bermain, yah dia kan anak baru jadi aku, ah tidak kami ingin akrab dengannya" ucap Rin pada saat itu.

Chifuyu pun mengerti maksud dari pertanyaan Rin, Rin ingin bisa bersama Naruto di hari libur itu.

"Aku tidak membawanya kemari, dia masih ada di Asrama" jawab Chifuyu.

"Ka kalau begitu aku pamit dulu nanti aku akan datang lagi" ucap Rin bersiap pergi.

"Eh?" gumam tanya mereka masing masing melihat Rin berlari melewati Chifuyu sedangkan Chifuyu hanya tersenyum melihatnya.

'Dasar anak muda' batin Chifuyu.

Ichika menatap heran kepergian Rin sedangkan yang lain hanya menganga mendengar ucapan Rin, tumben Rin mau akrab dengan murid baru. Sedangkan Chifuyu hanya senyum senyum sendiri.

"Chifuyu-nee kelihatannya kau seperti sedang mempermainkan Rin" ucap Ichika pada kakaknya.

"Mah aku rasa membuatnya berdebar itu ada baiknya juga" tambah Chifuyu sambil emanatap Rin yang sudah keluar dari ruang tamu dan menuju pintu keluar rumah.

Di luar rumah kemudian.

Rin terpaku diluar menatap ada seorang lelaki tampan mengenakan jaket kulit berwarna hitam celana jeans panjang lengan kanan jaketnya terlihat melambai lambai karena tertiup angin, wajah nya yang berwarna tan dengan mata biru tajam menatap ke arahnya di hiasi rambut pirang jabrik, berdiri tepat dihadapannya.

"Na, Na, Naruto" gumam Rin kaget akan kehadiran seseorang yang ia cari ada dihadapannya, jantungnya berdegup kencang wajahnya memerah.

"Ah, Rin Ohayou" sapa Naruto sambil mengeluarkan senyum lima jarinya.

Bersambung