One Hand
Crossovers: NARUTO,. Infinite Stratos
Charakter:[Naruto Uzumaki,.Rin],.Orimura Ichika
Genre: Sc-fi, Mecha, Matrial Arts, School,
Episode 6 :
"Tenang saja aku akan membantumu!" seru Rin sembari menarik lengan kiri Naruto dan membawanya ke sebuah toko pakaian untuk membeli Yukata.
Di toko pakaian terlihat Rin mengenakan Yukata dengan corak bunga Sakura, sementara Naruto terlihat aneh dengan mengenakan Yukata hitam, tubuhnya terlihat lebih tinggi dan kurus penampilan Naruto juga terlihat sedikit aneh, karena tangan kanannya yang tidak ada, membuat lengan kanan Yukatanya melambai-lambai kesana kemari dan bajunya juga terlihat longgar, bahu kanan Naruto juga kadang terbuka karena Yukatanya sedikit melorot di bagian kanan.
"B-bagaimana menurutmu Rin?" tanya Naruto yang merasa kurang nyaman dengan pakaiannya.
"Kau terlihat aneh, aahahahahaha!" jawab Rin sembari tertawa renyah melihat penampilan Naruto yang sangat aneh menurutnya. Naruto yang mendengar jawaban Rin sedikit cemberut dan membenarkan pakaiannya dengan tangan kirinya, karena bagian bahu kanannya terus terbuka.
"Sialan, kalau saja tanganku masih ada," gumam Naruto dengan wajah kecewa," ungkap pelan Naruto sembari menatap prustasi lengan kananya yang tidak ada.
"Sudah-sudah, maaf tadi aku hanya bercanda, ayo pergi," ujar Rin sembari tersenyum lembut ke arah Naruto dengan mahkota bunga yang masih menempel di kepalanya. Naruto yang melihat hal itu jadi sedih sendiri, ia tahu apapun yang ia inginkan ia pasti akan tetap kembali ke dunia Shinobi, itu sudah merupakan sistem dari Dimension Travel yang pernah ia jalani selama ini.
'Aku penasaran apakah aku masih bisa memanggil katak dari gunung Miyoboku, kalau bisa, itu ada kemungkinan aku bisa kembali melalui Gyaku Kuchiyosei. Tapi kalau aku pulang sama saja dengan aku melanggar perjanjianku, saat ini aku juga belum bisa berkomonikasi dengan Kurama entah apa sebabnya, tapi dengan kekuatan yang diberikan oleh empat hokage aku rasa itu bukan masalah besar,' batin Naruto mengingat chakranya jauh lebih kuat dari sebelumnya karena keempat hokage edotensei memberikan seluruh chakra dan jutsu mereka kepada Naruto.
"Oh iya Naruto, bagaimana kau bisa mendapatkan mahkota bunga ini dan apa itu chakra?" tanya Rin yang baru sadar kalau apa yang Naruto lakukan tidak bisa dilakukan oleh manusia normal pada umumnya.
"Aku membuatnya dengan ninjutsu elemen kekeigenkai elemen kayu, chakra adalah energi dari dalam tubuh yang kami para shinobi gunakan untuk membuat jutsu atau memperkuat diri," jawab Naruto pada Rin. Naruto menjawab hal itu tanpa menyembunyikan apapun.
"Aku baru dengar hal itu, apa aku juga bisa melakukannya?" tanya Rin pada Naruto.
"Kau tidak akan bisa, karena kau bukan berasal dari keluarga shinobi, belum lagi di duniamu tidak ada yang namanya pohon shinju jadi tidak akan ada manusia yang memiliki chakra di dunia ini, hanya aku yang berasal dari dunia lain lah yang memilikinya," jawab Naruto pada Rin.
Rin pun terdiam, ia sadar kalau Naruto tidak berbohong mengenai dirinya berasal dari dunia lain, yang artinya Naruto akan kembali ke dunianya cepat atau lambat pasti akan terjadi.
"Apa kau tak bisa tinggal di sini untuk selamanya?" tanya Rin.
"Kalau aku bisa, aku sudah melakukannya semenjak aku berada di dunia gente tsukoyomi, tapi nyatanya aku tidak bisa," ujar Naruto.
"Gente Tsukoyomi?" tanya Rin sembari berjalan pelan menuju tempat diadakannya festival musim panas.
"Dunia yang membuat semua hal terbalik, tempat dimana ayah dan ibuku masih hidup karena di dunia asliku ayah dan ibuku sudah mati, bukan hanya nasib tapi melainkan sifat atau tingkah laku orang-orang disana berubah menjadi terbalik, orang yang sangat cerdas di dunia asliku menjadi sangat bodoh di sana, orang yang bijak menjadi mesum, banyak hal yang berubah tapi aku senang karena saat di sana aku tidak sendirian ada ayah dan ibuku yang masih hidup, meskipun namaku berubah menjadi Menma," tanggap Naruto sembari mengingat kenangannya selagi berada di gente tsyukoyomi, dan terlihat air mata Naruto sedikit menetes karenanya.
"Naruto," gumam sedih Rin.
"Tak apa, kau tak usah memikirkan hal itu, oh iya sebaiknya kau rahasiakan soal perbincangan kita ini dan aku juga akan berusaha untuk menyembunyikan kekuatanku sebaik mungkin," pinta Naruto pada Rin.
"Em tentu saja aku akan merahasiakannya," tanggap Rin sembari tersenyum pahit, karena ia sadar kalau Naruto tidak bisa bersamanya selamanya, pasti ada saat dimana Naruto akan meninggalkan akademi IS, bukan karena lulus tapi karena tugasnya selesai dan ia menghilang kembali ke dunia aslinya.
Tak lama setelahnya akhirnya mereka memasuki tempat festival, terlihat orang-orang banyak mengenakan pakaian tradisional di sana, bukan hanya itu di festival musim panas yang diadakan pada malam hari itu terlihat sangat ramai pengunjung dengan banyaknya pedagang supenir yang meletakan kios mereka di sepanjang jalan menuju kuil.
"Waaaah indah sekali," ucap kagum Naruto yang melihat pemandangan festival yang hanya diterangi lentera dan seolah kota moderen itu kembali ke era samurai dimana semua penerangan ditempat itu hanya ada lentera bukan lampu listrik.
"Yah begitulah. Oh iya apa kau tak pernah mengunjungi Festival budaya seperti ini sebelumnya, Naruto?" tanya Rin pada Naruto dengan tatapan penasaran jujur saja ia tidak tahu apa-apa mengenai Naruto, melihat Naruto sangat antusias dengan festival.
Naruto yang mendapat pertanyaan dari Rin, langsung mengingat kapan terakhir kali ia merayakan festival dan hal yang paling ia ingat adalah festival penyambutan Hokage ke lima Tsunade Senju dan hal itu membuat wajah Naruto kembali menampakan senyuman tipis.
"Sebenarnya kalau soal festival aku sudah pernah mengunjunginya, walaupun hanya ketika aku masih berusia 12 tahun, karena setelahnya aku sibuk berlatih dan membuatku kekurangan waktu untuk bersenang-senang, suasana damai seperti ini membuatku tak bisa menahan rasa gembira. Sudah sangat lama bagiku tidak menikmati hal semacam ini," ungkap pelan Naruto sembari berjalan pelan dan menggenggam erat lengan kanan Rin dengan tangan kirinya, lalu Naruto tersenyum kembali, "Jika aku tidak bisa menetap di sini aku ingin pulang ke tempatku bersama denganmu," ujar Naruto sembari tersenyum lembut ke arah Rin.
"Naruto," gumam pelan Rin, nampak gadis berambut coklat itu sedikit terharu dengan perkataan Naruto, "Baka! Jika memang itu yang kau inginkan sebaiknya kau bilang dari awal," ucap Rin lagi sembari mengalihkan pandangan dan memukul pelan perut Naruto.
Naruto hanya tersenyum tipis mendengarnya, jujur ia sebenarnya tidak serius mengatakan itu, karena ia juga tidak tahu apakah ia bisa membawa orang dari dunia lain ke dunianya atau tidak, mereka kemudian berjalan ke kios topeng di sana Naruto langsung membeli topeng rubah dan memakainya, Rin yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis saja melihat Naruto mengenakan topeng rubah.
"Apakah aku terlihat cocok dengan topeng ini?" tanya Naruto pada Rin.
"Kau terlihat konyol," jawab Rin sembari tertawa kecil, Naruto yang mendengar jawaban itu sedikit kaget karena ia dianggap konyol. Namun, ia tetap senang karena melihat Rin tertawa.
"Ne bagaimana kalau kita ke kios permainan di sana?" tawar Rin sembari menunjuk kios kusus yang mengijinkan pemainnya untuk mendapatkan apapun yang mereka mau asalkan bisa memenangkan permainan yang disediakan.
Naruto yang mendapat ajakan dari Rin dan mengikuti langkah lari Rin yang menarik lengan kirinya, Naruto hanya tersenyum tipis melihat keaktifan Rin yang terus menariknya menuju cahaya kebahagiaan bagi Naruto. Sesampainya di kios tersebut, terlihat jelas kalau si penjaga Kios menatap ke arah Naruto dan Rin, lalu Naruto pun membuka topengnya dengan tangan kiri dan menatap ke arah Rin.
"Naruto bisa kau dapatkan boneka itu untukku?" pinta Rin pada Naruto. Naruto yang mendengar permintaan dari Rin langsung menatap ke arah paman tua yang menjaga kiosnya.
"Berapa harga boneka itu?" tanya Naruto dengan sopan.
"Maaf anak muda, boneka ini tidak dijual, tapi kau bisa mendapatkannya dengan menjatuhkan semua target dengan senapan mainan ini," ujar si penjaga kios sembari menunjukan beberapa target dan menyodorkan senapan kayu ke arah Naruto.
"Oke, berapa uang yang harus aku berikan agar aku bisa bermain?" tanya Naruto dengan serius.
"Apa kau yakin Naruto, sebaiknya kita cari di tempat lain, lagi pula kau tak mungkin membidik semua target hanya dengan satu tangan," tanggap Rin yang melihat tingkat kemustahilannya cukup tinggi.
"Tenang saja, meskipun kalah aku tidak akan menyesal, kenapa karena kita kemari untuk menikmati festival, jadi rasanya akan sangat tidak lengkap kalau ada satu permainan yang tak aku mainkan," ujar Naruto sembari memberikan uang kepada si penjaga kios.
"Humf terserah kau saja lah!" ucap Rin sembari sedikit mendelik ke arah Naruto yang mulai mengambil senapannya dan nampak Naruto begitu kesulitan untuk memasukan pelurunya ke dalam senapan miliknya.
"Yosh sekarang sudah terisi," gumam Naruto.
"Baiklah silahkan bidik dan jatuhkan target berwarna emas untuk mendapatkan boneka beruang besar yang kau inginkan," ucap si penjaga Kios.
Mendengar hal itu Naruto pun langsung membidik dengan senapannya hanya dengan tangan kiri, jujur Naruto cukup kesulitan karena stabilitas dan akurasi senjata api berlaras panjang akan sangat buruk jika kau tidak menggunakan kedua tanganmu. Rin yang melihat itu nampak gugup, Naruto juga terlihat sedang berkonsentrasi untuk menstabilkan senapan mainannya.
Tek!
traaak!
Seketika target berupa papan emas yang berada di paling belakang jatuh dalam satu kali tembakan bersama target-target lain yang melindunginya, hal itu disebabkan karena Naruto sedikit mencurangi mekanisme senapan mainannya dengan chakra yang membuat daya dorong dan kekuatan peluru serta akurasi meningkat drastis yang membuat peluru kayunya mampu menembus beberapa target.
"Yeaaah!" seru Naruto yang berhasil dalam satu kali percobaan, bahkan si penjaga kios kaget bukan main melihat hal itu, karena seingatnya tenaga dari senapan mainan itu hanya sanggup merobohkan satu target saja, jadi entah bagaimana Naruto mampu merobohkan lima target dalam satu tembakan.
"Kau hebat Naruto!" seru Rin yang tidak menyangka kalau Naruto bisa mengenai target dalam satu kali percobaan.
"Yeaah, begitulah," gumam canggung Naruto karena ia memenangkan hal itu dengan kecurangan. Naruto pun meletakan kembali senapannya ke meja kios dan menatap si penjaga, "Tolong bonekanya," pinta Naruto sembari menadahkan tangannya ke arah penjaga kios meminta bonekanya.
"Baiklah, ini kuberikan padamu," ujar penjaga Kios sedikit prustasi karena tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah mendapatkan bonekanya, Naruto pun langsung memberikannya kepada Rin, "Ini kau menginginkannya kan, ayo ke tempat lain," ucap Naruto sembari memberikan bonekanya pada Rin.
Rin pun mengambilnya dan memeluk boneka itu lalu mengikuti Naruto dari belakang, Naruto berjalan santai menyusuri kerumunan masyarakat kota. Rin dan terlihat Rin dan Naruto begitu bersemangat memainkan semua permainan yang ada di festival, termasuk menangkap ikan dengan sendok kertas, meski sering gagal, mereka tetap tertawa dan menggunakan uang mereka untuk bersenang-senang.
"Ahahahahaha, tadi lucu sekali!" seru Naruto seolah ia sudah melupakan segala hal yang ia ungkapkan sebelumnya, meski begitu bukan berarti Naruto sudah tidak memikirkannya, sebenarnya ia masih memikirkan hal itu, hanya saja ia tidak ingin Rin merasa sedih, makanya ia mengabaikan perasaan sedihnya dan memokuskan diri pada hal-hal menyenangkan di festival.
"Rin bukankah itu Ichika dan Shinonono-san?" gumam Naruto sembari menunjuk ke arah lelaki berambut hitam pendek yang berjalan dengan perempuan berambut gelap diikat ponitail bercabang sedang berjalan bersama, bahkan terlihat gadis itu mengenakan baju miko.
"Ah benar, terus kenapa?" tanya Rin sembari mendelik ke arah Naruto yang lagi-lagi bahu kananya melorot.
"Tidak bukan apa-apa, aku hanya bertanya-tanya, kapan Ichika bisa memahami perasaan dari Houki-san yang sebenarnya. Mah aku sih tidak heran jika Ichika sangat sulit menyadarinya, karena selain karena Ichika seperti diriku yang dulu, Houki-san terlihat terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya pada Ichika, kau tahu kadang gadis tsundere itu akan sangat sulit untuk mendapatkan pasangan jika orang yang ia taksir adalah teman masa kecilnya yang selalu membenarkan perkataan orang," ujar Naruto sembari berjalan menjauh.
"Maaf saja jika aku juga seperti itu," ucap Rin sedikit tersinggung.
"Ya mau bagaimana lagi ... tapi kadang di situlah sisi imut seorang gadis yang jatuh cinta, meskipun akan sulit di notice tapi seorang Tsundere punya pesona tersendiri, yaitu sulit untuk dilupakan," ujar Naruto sembari menyenti dahi Rin.
"Au! Mooo, Naruto-kun!"
"Maaf, apakah semua benda itu tidak berat untukmu, aku bisa membawa sebagian jika kau mau," ucap Naruto ketika melihat Rin membawa semua hadiah yang mereka dapatkan dari permainan festival.
"Ma... aku rasa aku sangat membutuhkan batuan sekarang," gumam pelan Rin. Naruto hanya sedikit menunggingkan senyuman dan memperhatikan sekitarnya, dilanjutkan dengan Naruto yang mengambil sebuah buku dan menggambar sebuah aksara fuin di setiap lembar halamannya, lalu dengan cepat Naruto menempelkan barang-barang yang mereka dapatkan ke aksara fuin yang telah ia gambar dan barang-barang itu menghilang dalam kepulan asap hal itu membuat Rin terkejut.
"Apa yang kau lakukan kemana semua barang-barang kita?!" tanya Rin kaget.
"Tenang lah, aku menyimpannya ke dalam buku ini," ujar Naruto sembari membuka bukunya dan mengeluarkan boneka panda besar yang langsung diberikan ke arah Rin lagi, "Jangan lupa kalau aku punya banyak kemampuan special di mana hanya kau yang boleh tahu mengenai hal ini."
Rin hanya bisa menatap kagum Naruto yang dengan kerennya menyimpan semua benda-benda yang mereka miliki ke dalam buku dan mengeluarkannya kembali, "Andai aku juga bisa melakukannya aku pasti akan menjadi orang paling hebat di seluruh kota IS," gumam Rin sembari tersenyum kecil.
Naruto ikut tersenyum dan mengusap kepala Rin dengan pelan, "Karena cukup mengenal tempat ini, jadi aku rasa kau pasti tahu tempat terbaik untuk melihat kembang api," ucap Naruto sembari tersenyum, Rin yang mendengar hal itu langsung mengangguk sebagai respon dari pernyataan Naruto.
"Apa kau ingin pergi ke tempat itu?" tawar Rin.
"Tentu, selama bersama denganmu aku tidak akan keberatan," tanggap Naruto, Rin pun tersenyum dan menarik tangan kiri Naruto dan membawanya berlari sembari menatap ke arah Naruto dengan senyum manisnya.
'Tuhan, kalau ini adalah mimpi aku mohon biarkan mimpi ini menjadi nyata saat aku terbangun nantinya,' batin Naruto sembari tersenyum kecil berjalan mengikuti langkah kaki Rin.
Bersambung
