Seperti Cinta, Insomnia juga Antara Dituntaskan dan Dibiarkan
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, sho-ai (DanDaza), crack pair, ga jelas, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Dan Kazuo (03/02/2021).
Insomnia menjadi teman yang akhir-akhir ini harus Dan Kazuo tanggapi. Bahkan saking parahnya kantong mata yang Dan bawa, pada hari ulang tahunnya Dan justru dihadiahkan waktu tidur seharian, oleh Sakaguchi Ango, Oda Sakunosuke serta Dazai Osamu.
Bungou yang lain sampai menyetujui musyawarah mufakat milik Buraiha, yang digelar dengan suara lantang. Namun, kendatipun dibilangnya hadiah untuk Dan adalah tidur seharian, seribu sayang ia justru melakukan kebalikannya lagi. Mungkin sudah sekitar empat atau lima jam Dan hanya memandangi langit-langit kamar. Perasaan tidak enak hatinya jelas menjadi-jadi, hingga akhirnya Dan mencoba merogoh bagian dalam nakas yang diisi obat tidur.
"Sesekali meminumnya tidak masalah, kok. Yang terpenting adalah ikuti dosisnya."
Di tengah deburan ombak dan deru gelombang pasang, suara Dokter Mori terngiang dalam kepala Dan. Aturan pemakaiannya Dan baca sekali lagi, walaupun ia ingat Dokter Mori telah menjelaskannya. Sebab Dan pikir jika begini, keputusannya segera final. Bahkan ia sengaja menekankan pada diri sendiri, minumlah langsung atau tiba-tiba Dazai mendapati Dan tengah meneguknya. Suasana pun hanya kucar-kacir akibat Dan ragu-ragu.
Sebelum menjadi reinkarnasi penulis dari berbagai era, Dazai pernah bahkan sering kali overdosis obat tidur, soalnya. Korelasi penjelasan tersebut dengan penekanan Dan adalah, intinya ia takut Dazai berpikir macam-macam. Apalagi selama Dan terlihat insomnia, Dazai hanya percaya Dan mampu kembali terlelap secara normal.
"Tenang saja. Kalau kulakukan sekarang pasti masih aman. Dazai tidak akan tahu ju–"
Sejurus kemudian, tablet obat tidur beserta botolnya justru terdengar membentur lantai, dan tidak satu pun mendarat di tangan Dan. Seseorang memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu, masalahnya. Dan sampai merasa udara menggencetnya, bahkan berniat meremukkan dia, ketika yang Dan pikirkan hanya Dazai-lah yang kemari.
"Dan-kun? M-maaf ... aku mengagetkanmu, ya?"
Butir demi butir obat yang berserakan Tokuda Shuusei bereskan. Sepiring pai buah yang ia siapkan sampai lebih dulu diletakkan di atas lemari pendek. Sebenarnya pula Dan berniat menyusul dengan cepat, andaikata ia tak terlampau memikirkan langkahnya–apakah ia menginjak lantai atau tablet? Botolnya masih jauh, 'kan? Dan takut tergelincir jika tapaknya menyentuhnya, lalu menimbulkan kegaduhan yang mendatangkan Dazai kemari.
"Istirahat saja. Biar aku yang bereskan semuanya."
"Aku merepotkanmu, lho." Bilangnya begitu pun, Dan tetap berdiri di samping ranjang tanpa meringankan Shuusei. Tiada seorang pun yang berbicara lagi. Tahu-tahu pula hanya bibir Dan yang manis, sedangkan tindakannya kecut sebab mengingkari ingin.
"Sepertinya Dan-kun masih belum bisa tidur, ya."
"A-ahaha ... begitulah. Berapa kali pun aku mencoba memejamkan mata, tetap saja tidak tidur." Tengkuknya seperti keras ketika Dan mengusap-usapnya. Mendadak melihat wajah Shuusei yang cemas–padahal mereka tidak dekat atau apa pun–menjadi alasannya. Shuusei terlalu baik, Dan pikir. Apalagi kantuknya Dan lagi akut. Sangat sulit untuk berpikir jernih dengan kepala yang seolah-olah mabuk kepayang.
"Dokter Mori mengatakan apa padamu?"
"Minumlah obatnya, jika aku tidak kunjung bisa tidur. Lalu begitulah niatku, tetapi aku tak mau meminumnya jika Dazai akan kemari."
Sekali lagi Shuusei membuka mulut, akan tetapi tangan Dan terjulur mendahuluinya. Seolah-olah Dan tahu, beberapa detik lalu milik Shuusei hanya mempunyai maaf, begitu pun sekarang. Obat yang telah Shuusei rapikan ia beri kepada Dan. Botolnya justru digenggam erat-erat, daripada Dan membuka tutupnya lantas menuangkan beberapa butir ke telapak tangan. Mengabaikan pula air muka Shuusei yang seolah-olah menyampaikan, "Akan kujaga ini sebagai rahasia".
"Ya ampun. Kenapa aku tidak pernah merasa bisa, ya? Masa harus dicekoki dulu, sih?" Ketawa Dan terdengar hambar. Sebagai satu-satunya yang menemani Dan serta ruangan ini, Shuusei jadi merasa ia harus berpikir lebih keras. Dan mana memerlukan kue, tegas Shuusei kepada dirinya sendiri. Kalaupun Dan memakannya karena sungkan terhadap Shuusei, maka mungkin Dan butuh obrolan agar ia turut memaniskan hatinya.
"Atau mungkin ... Dan-kun mau sedikit bercerita?"
"Eh? Bercerita?"
"Hmm, ya … bercerita. Namun kurasa ini terlalu mendadak, ya? Harusnya pula Dan-kun melakukan ini dengan Ango-kun, Odasaku-san, atau Dazai-kun."
"Terima kasih telah memikirkan itu untukku. Sayangnya aku tidak bisa bercerita pada Ango maupun Odasaku, apalagi Dazai. Ini terkait Dazai soalnya, dan sebenarnya sudah terlambat."
"Tidak ada yang terlambat, Dan-kun. Bukankah Dan-kun masih sedih, karena kamu tak bisa menceritakannya kepada siapa pun? Meski aku enggak memaksa juga. Terlebih posisiku hanya orang menumpang lewat."
Guna menghemat pengeluaran, Kanchou mengusulkan supaya ulang tahun Shuusei serta Dan digabung saja. Shuusei langsung mengiyakan. Satu Februari tidak dirayakan bersama tiga Februari pun, Shuusei kurang peduli sejujurnya. Ia lebih mementingkan pendapat Dan, di mana karena Dan menginginkan saran Kanchou, maka Shuusei tinggal mengikuti alur. Setuju-setuju juga ketika disuruh mengantarkan kue untuk Dan, sebab Shuusei menjadi salah satu bintang cemerlang di hari ini.
Wajar Shuusei bilang ia hanya menumpang lewat, bukan? Toh, setelah memberikan kue ini, harusnya Shuusei kembali berpesta di ruang tengah.
Namun, sebenarnya untuk Dan secara pribadi, kehadiran Shuusei yang tidak disangka-sangka bahkan melebihi kejutan. Malah sebaiknya Dan bersyukur, karena dia adalah Shuusei. Orang yang pertama kali sang alkemis ajak untuk setiap saat menyelamatkan literasi. Sosok paling berusaha, sampai-sampai keluhannya justru turut menjadi pekerja keras. Seseorang yang bantuannya terbatas, tetapi kemanusiannya tanpa batas.
(Karena musuh terbesar rasa takut adalah Dan, tentu terjadi sebaliknya di mana Dan justru penasaran, kira-kira bagaimanakah rasanya kembali menjadi manusia bersama Shuusei itu?).
"Duduklah di mana pun yang kausuka. Akan kuceritakan, walaupun tidak bisa panjang-panjang."
Kursi yang menghadap meja Shuusei ambil. Langsung mendudukkan diri di sana, selagi netra senada obsidiannya mengunci sosok Dan. Kini Shuusei merasa bukan hanya melihat biru, hijau lumut dari jaket, atau fingerless glove yang cokelat, melainkan pula serabut merah tipis pada sepasang pipi Dan.
"Pertama-tama aku mau memastikan, Tokuda-san … sudah tahu, 'kan, Dazai dan Akutagawa-san berpacaran?"
"Ah, itu. Beritanya heboh banget, sih. Dazai-kun terlihat sangat senang, bahkan dia berpidato terus menangis haru." Sudah cukup lama juga, menurut Shuusei. Katakanlah sekitar dua atau tiga minggu lalu, di mana epilognya Dazai malah terjatuh dari podium (meja)–tertidur, akibat tenaganya terkuras untuk bahagia. Jari-jari Dan tampak mengepal. Ternyata inilah yang Dan maksud, bahwa ia tak bisa menceritakannya panjang-panjang. Arahnya bisa Shuusei tebak, sih.
"Memang iya kami sahabat baik. Aku sampai membuat novel tentang Dazai, dan Dazai juga menghargai itu. Namun, siapa sangka selama kami menghabiskan waktu sebagai representasi jiwa penulis, aku malah jatuh cinta pada Dazai."
"Kapan waktu pastinya memang kurang kuingat. Menurutku juga Dazai tidak menyadarinya, dan buatku tidak aneh. Tokuda-san harusnya juga tahu, betapa besarnya perasaan Dazai untuk Akutagawa-san. Aku adalah sahabatnya, dan menurut Dazai itu sudah lebih. Jadi, ya … mana bisa aku lebih dari sahabat?
Kenapa pula Dan mengakui hal seperti jatuh cinta dan mencintai itu? Ketika bahkan ia tak menjabarkan alasannya, dalam monolog panjang lebar tersebut.
Namun, tidak pernahkah kalian berpikir, mengapa orang-orang harus menanyakan itu? Sebab, jika ada yang bertanya di manakah rumah cinta, atau dari negara manakah cinta berasal? Pasti tiada yang tahu, selain semua mulut dikunci satu per satu yang artinya: tak perlu alasan untuk jatuh cinta dan mencintai seseorang.
Apabila cinta berasal dari Prancis dan rumahnya di Paris, maka seseorang hanya bisa mencintai mereka yang menyukai baguette, Menara Eiffel, carambars, atau eau de toilette–sebatas yang bernuansa Prancis saja.
Jikalau misalnya cinta berasal dari Jepang saja dan rumahnya di Tokyo, berarti seseorang sekadar bisa mencintai mereka yang menyukai Gunung Fuji, Akihabara, edo furin, atau omamori–hanya yang memiliki rasa serta khasiat Jepang.
Oleh karena itu, lebih bijak jika tiada yang bertanya, kenapa seseorang mencintai dia atau ia? Karena cinta tak memiliki asal, barulah seseorang dapat memeluk segala buruk, dan kekurangan yang orang lain miliki. Shuusei menyukai konsep yang demikian. Pada akhirnya dikatakan atau tidak, Shuusei akan selalu merasa Dan sangat indah di tanggal tiga Februari ini.
"Apa Dan-kun mengungkapkan perasaanmu?"
"Ini memang memalukan, tetapi aku belum melakukannya. Padahal kalian mengenalku sebagai orang tanpa rasa takut. Namun, setiap kali ingin mengutarakannya pada Dazai, aku jadi ciut. Payah banget, ya, hahaha …"
Teh mereka adalah ketawanya Dan yang hambar. Rasa-nya merupakan kekikukan, yang sudah lama tidak bersentuhan dengan suara manusia, sampai-sampai lupa ia ini terluka. Shuusei kurang mengetahui, bagaimanakah ia menatap Dan sekarang ini. Namun, apabila tertawanya Dan memutuskan berhenti, sebab mata Shuusei terlihat sengit sekaligus kurang menyukai Dan yang sekarang, maka Shuusei yakin itulah yang terbaik.
"Menurutku, bisa memiliki perasaan seperti itu saja sudah hebat. Makanya kumohon, jangan tertawakan dirimu sendiri, Dan-kun. Memang tidak ada yang lucu soalnya."
"Maaf. Maaf. Habisnya aku bingung perasaan ini harus kuapakan, karena terlambat sampai pada Dazai. Kupikir pantasnya memang ditertawakan, tetapi Tokuda-san ternyata berpandangan lain. Kamu itu benar-benar orang baik, ya."
"Jadi gara-gara itu Dan-kun tidak bisa tidur?"
"Kira-kira begitulah. Apakah menurut Tokuda-san aneh? Ini pertama kalinya bagiku, sih. Jadinya bingung banget." Senyuman Dan mekar dengan malu-malu. Wajahnya memang semakin lelah, mungkin karena Dan mulai sanggup untuk ingin berhenti berharap, lalu malah lega karena itu. Namun, Shuusei justru merasa Dan yang begini jauh lebih baik, dibandingkan sebelum-sebelumnya. Bahwa sebentar lagi Shuusei bisa berkata, Dan pasti dapat nyenyak.
"Harusnya tidak aneh. Jujur saja aku belum pernah mengalaminya, sehingga tak tahu juga mesti berkomentar apa. Mungkin ada dua saran untuk ini. Pertama, lupakan saja perasaanmu terhadap Dazai-kun. Kedua, tetap ungkapkan walaupun Dazai-kun sudah bersama Akutagawa-san."
"Solusi yang kedua berani banget, ya. Tokuda-san yakin menyarankan itu padaku?"
"Tentu saja yakin. Memangnya kenapa?"
"Apa Tokuda-san enggak kepikiran, hubunganku sama Dazai bisa saja renggang?"
Kata "renggang" yang Dan sebut menohok Shuusei. Mendadak sastrawan naturalis itu malu–terus-menerus yakin, agar Dan baik-baik saja nantinya, justru membuat Shuusei kurang memikirkan kata-katanya. Sekilas ia berdeham. Hening kembali bergeming cukup lama dalam ruangan ini, di mana pertama-pertama adalah karena Dan sendirian. Sementara sekarang ini, sebab Shuusei benar-benar memperhatikan Dan–rasanya-rasanya Dan ingin berkata ia sangat hangat, sekarang juga.
"Tokuda-san itu hangat, ya." Begitu pun kata-kata yang Dan ucapkan, karena ia tak menahannya sedikit pun. Netra Shuusei lantas mengerjap-ngerjap mengindikasikan keheranan. Dan malah mesem-mesem yang semakin tak menjelaskan suasana.
"… ada apa tiba-tiba bilang begitu?"
"Sungguhan, kok. Tokuda-san itu hangat. Anggaplah seperti cokelat dalam cangkir besar, kaus kaki, perapian di ruang tengah, kotatsu, kado dari sahabat, ucapan selamat ulang tahun, sebuah perhatian. Bagiku Tokuda-san adalah semua itu."
Perasaan yang tidak Dan lukiskan kepada Dazai telah mendingin seutuhnya, Dan pikir. Bisunya kata-kata, lantas membekukan ia dari dalam. Menjadi titik-titik es; hujan melankolis yang Dan sebut tanpa nama, sebab ia tak menyebut Dazai sebagai alasan kesedihannya. Bahwa diam-diam pula sebenarnya Dan merasa malu, ketika ia tidak bisa bahagia untuk sahabatnya. Saat Dan justru terpuruk, akibat Dazai bersama Akutagawa Ryuunosuke.
Lalu, dengan sesuatu yang tidak terlihat seberapa, Shuusei datang dan sesederhana menawarkan kesempatan agar Dan didengarkan. Terkesan seolah-olah jika bukan sekarang, Dan yang sekarang tak akan dimiliki siapa pun lagi. Di mana mungkin saja, itu benar adanya.
Sesuatu yang tidak terlihat seberapa itu justru teramat besar, sebenarnya. Makanya kini, Dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Mengucapkan Shuusei adalah hangat sudah lebih dari cukup, soalnya Walaupun untuk Shuusei, tampaknya ia kurang puas sebab Dan terkesan random. Sulit dimengerti, kenapa ia jadi mengibaratkan Shuusei dengan bermacam-macam hal.
"Tapi bukan itu yang kita bicarakan, Dan-kun. Kurasa tetap kamu katakan kepada Dazai-kun, hubungan kalian pasti baik-baik saja. Soalnya Dazai-kun adalah sahabat Dan-kun. Tentu hubungan kalian tidak akan hancur dengan mudah, 'kan?"
"Sebenarnya aku sudah tahu jawaban itu, Tokuda-san."
"I-iya … kah? Hah … aku memang tidak pandai soal beginian ternyata." Kepala yang tidak gatal tetap Shuusei garuk. Rambutnya jadi acak-acakan membuat Dan ingin tertawa kecil, tetapi ia pikir nanti Shuusei tiba-tiba sungkan.
"Sebentar. Kalau Dan-kun sudah tahu jawabannya, berarti kamu tidak membutuhkan saranku, dong."
"Sudah tahu pun, seseorang tetap butuh didengarkan, Tokuda-san. Rasa-rasanya aku malah jadi menyukai Tokuda-san, deh."
"Bi-bicara apa Dan-kun ini? Omong-omong aku baru teringat sesuatu. Tadi Dazai-kun menitipkan sebuah benda padaku. Katanya Dan-kun pasti bisa tidur, kalau menggunakan ini."
Barang yang dimaksud adalah sebuah koin, dan benang putih yang telah mengikat lubang kecil di tengahnya. Shuusei menggoyangkan alat hipnotis itu ke kiri serta kanan. Berulang-ulang. Berkali-kali. Sampai akhirnya Shuusei-lah yang justru ambruk. Tertidur di atas lantai dengan wajah pulas yang menggemaskan.
"Aduh. Maaf, Tokuda-san. Pas kamu melakukan itu, aku sebenarnya melihat wajahmu. Serius banget habisnya."
Kasihan pada Shuusei yang mengecup dinginnya lantai–padahal ia sudah membawakan kue sampai mendengarkan; merasai Dan–tubuhnya Dan gendong agar Shuusei tidur di ranjangnya. Pai buah yang dihias aneka warna segar, akhirnya Dan lahap. Menduduki kursi di mana Shuusei duduk yang juga hangat. Lalu ketika meletakkan piring di atas nakas, dan menyembunyikan obat tidur … Dan merasa semua-muanya gelap.
"Tokuda-sensei! Kami datang mengunjungimu, soalnya sudah satu jam lebih Sensei enggak balik-balik."
"Ish. Dazai bego! Dan pasti lagi tidur sekarang. Jangan kencang-kencang, dong."
"Duh, Ango. Suaramu juga kencang, lho. Malah suara kita sebenarnya keras."
Tanpa mengindahkan peringatan Oda, akhirnya Dazai mewakili mereka membuka pintu kamar Dan. Awal-awal ketiganya hanya begitu senang, melihat Dan bisa tertidur lelap. Namun, tatkala menyadari Dan malah duduk di kursi, sementara Shuusei justru di atas ranjang Dan, mau tak mau mereka jadi berpandangan heran.
"Ada apaan, ya? Sakti banget mereka bisa bertukar tempat kayak begitu." Dazai lebih dulu beropini. Oda dan Ango ikut berpikir, sambil perlahan-lahan melangkah meninggalkan kamar.
"Yang pasti, teknik hipnotis yang Dazai-kun anjurkan itu manjur, 'kan? Shuusei-san sampaiikut tidur."
"Kabar baik, mah, kabar baik. Masalahnya, kenapa Dan bisa di kursi? Mereka ninja, ya?" Konsep dari Ango itu Dazai puji sebagai keren. Setelah bergembira atas Dan yang berhasil tidur, usai berturut-turut insomnia, nanti mereka akan bertanya kepada Shuusei serta Dan.
Menjelma ninja atau apa pun itu, setidaknya semua bahagia karena segalanya berakhir baik.
Tamat.
A/N: Inspirasi judulnya itu dari karya Eka Kurniawan, "Seperti Rindu, Dendam Harus Dibayar Tuntas". Awalnya aku gak mau bikin buat ultah Dan, tetapi karena pas siang selesai nulis orific-nya lebih cepet, akhirnya kuputuskan buat bikin. Dan x shuusei atau shuusei x dan (entahlah yang mana, aku lebih prefer yang pertama sejujurnya) adalah crack pair yang dicetuskan sama kak elkan. Ini pertama kalinya aku bikin crack pair di BTA. Kupikir mereka bisa2 aja dihubungkan, soalnya ultah mereka berdekatan juga. Jadi ya kayak kata shuusei, digabung aja daripada pengeluaran membengkak.
Semoga kalian suka fic ini. Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic selanjutnya.
