seluruh karakter belongs to Furudate Sensei, saya cuman minjam.
gendre: romance, smut, little bit angst.
warning: Age gap relationship, typos, BL, hardcore.
[ dosa tanggung sendiri ]
.
.
.
.
[ Miya Atsumu x Hinata Shoyou ]
.
.
.
.
Malam yang tak begitu cerah di kota sepadat Tokyo, hujan deras menderu seisi kota, menghujam tanah dengan air, menggenang jalanan. Pantofel hitam berderap seirama, tangan besarnya memegang gagang payung berwarna hitam, tubuhnya berbalut mantel coklat muda tegap berjalan menyusuri kota.
Sambil sesekali menatap arloji mahalnya, ia berbelok ke arah sebuah jalan yang lebih kecil, lebih gelap, tak ada satupun orang yang memilih jalan itu sebisa mereka.
Derap kakinya pun terdengar, betapa hening jalan kecil itu, hingga ia sampai di ujung jalan, dirinya menemukan tempat yang di tuju, sebuah jalanan besar yang berlawanan, dengan rumah besar khas Eropa, klasik dan mewah terlihat di matanya. Banyak mobil-mobil mahal yang masuk ke dalam pekarangan mansion yang sangat luas itu, orang-orang yang keluar dari sana pun menggunakan jas mahal terbaik, mereka bukan orsng sembarang.
Ia pun ikut masuk, tampa menunjukan identitas pada orang-orang besar yang berjaga ia segera diperbolehkan masuk begitu mereka melihat wajahnya. Berjalan santai di bawah hujan dengan payung yang masih bertengger di tangan kanannya, orang-orang yang masih berada di halaman pun memperhatikannya seketika, jadi pusat perhatian bukan masalah buatnya.
Ia sampai di depan mansion itu, di sambut beberapa pelayan yang segera mengerumuni nya bak semut, ada yang mengambil payung hitamnya, membuka mantel dan menaruh nya di tempat yang semestinya.
"Selamat malam Tuan Miya Atsumu, selamat datang." ucap beberapa pelayan, Miya Atsumu dengan santai mengangguk, kemudian setelah semuanya sudah di singkirkan dari tubuhnya, dengan tangan kanan yang berbalut sarung tangan kulit berwarna hitam, ia sibak rambut pirang nya kebelakang, agak basah sebap sempat terkena hujan.
"Apa adik ku sudah sampai?" tanyanya sembari menengok ke salah seorang pelayanan wanita, pelayan itu mengangguk, "Sudah tuan, beliau sudah sampai, begitu juga dengan tuan Aran dan tuan Suna."
Atsumu sembari membetulkan kancing di sisi lengan kemeja putihnya pun mengangguk, kemudian berlalu masuk saat pelayan yang lainnya membukakan pintu besar itu. Di sambut dengan ruangan yang sangat megah, kursi-kursi nyaman di susun rapih dengan meja-meja yang sudah di sediakan dengan nama-nama undangan.
Ruangan didominasi dengan warna merah maroon, emas, dan hitam itu agak memusingkan matanya, dengan segera tampa mengomentari apapun ia segera berjalan ke depan. Meja bundar yang berisikan nama-nama penting termasuk namanya sudah terisi, rekan-rekannya sudah lebih dulu sampai.
"Oh kau baru sampai? Dari mana saja? Ada apa dengan rambut mu eh?"
Osamu, sang adik kembar berbicara dengan santai, kemudian melahap beberapa cemilan yang ada di meja. Kue-kue mahal yang khusus di buatkan oleh koki handal yang di datang kan langsung dari Prancis, hanya untuk acara besar yang sebetulnya tak diminati Atsumu.
"Ck, macet." Jawabnya singkat, Atsumu segera duduk di bangku yang di sediakan untuknya.
"Hm, Kita-san dimana? Bukankah dia yang mengantar dan menemani mu untuk urusan bisnis dengan kelompok Seijoh?" Tanya Aran yang berada di sisi kanannya.
Atsumu menyenderkan bahu lelahnya ke bantalan kursi, mulai menyamankan dirinya sendiri di sana.
"Ada di mobil, entahlah sudah ada dimana mereka. Toh tamunya aku kan? Dia tak perlu datang pun tak apa."
Aran mengangguk paham, kemudian meja bundar berisi empat pria itu hening, mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing, Suna dengan handphone di tangannya, Aran dengan catatan berwarna hitamnya, Osamu yang masih berkutat dengan makanan di meja, dan Atsumu yang asik beristirahat.
Tak begitu ramai seperti yang ia duga, tamu-tamu undangan pun tak seperti terakhir kalinya ia pergi ke acara ini. Tampak grup-grup besar yang sudah punya nama, ataupun pejabat-pejabat yang sepertinya menyuap untuk bisa masuk ke acara ini. Sisanya paling hanyalah beberapa grup-grup kecil yang punya pamor besar, Atsumu tak begitu peduli sebenarnya, tapi ini lebih baik di banding tahun-tahun lalu.
Tak berapa lama kemudian lampu mulai di redupkan, suara-suara bisikan tamu undangan menggema seisi ruangan, di panggung yang berjarak beberapa kaki dari mejanya mulai di sorot lampu, kemudian pria dengan jas rapih berwarna hitam naik ke atas panggung. Dengan senyuman lebar ia memulai acara tersebut.
"Selamat malam, tuan dan nyonya, terimakasih atas kesediaan nya untuk datang ke acara lelang kami. Kami begitu sangat senang dan bersuka cita karena bisa mengundang tuan-tuan dan nyonya sekalian di acara yang biasa di adakan setiap 2 tahun sekali."
Tepuk tangan tamu undangan terdengar, bahkan beberapa bersorak dan bersiut antusias, pembawa acara membungkuk kan beberapa kali tubuhnya sebagai tanda berterimakasih.
Atsumu mulai menguap bosan, acara lelang memang yang paling buruk. Ia lebih senang di ajak ke casino dan bertaruh disana, di bandingkan datang ke acara yang bahkan barang lelang nya pun tak tentu.
Setelahnya beberapa barang di bawa ke atas panggung, mulai dari beberapa lukisan mahal yang jadi incaran para kolektor barang seni, atau sebotol wine merah yang sangat langka dan susah di dapat ーSuna berhasil memenangkan lelang untuk sebotol wine keluaran tahun 1890 an ituー, perhiasan berupa kalung berbalut permata asli yang pernah di gunakan raja-raja dan ratu-ratu yang pernah berkuasa, hingga jiwa-jiwa malang yang ikut di lelang, di perjual belikan layaknya sebuah barang.
Atsumu meringis prihatin, ketika seorang gadis muda cantik yang tampak terlihat polos tak berdosa datang ke atas panggung tampa sehelai benang melekat di tubuhnya. Tubuh itu bergetar ketakutan, tangan-tangan kurus nya berusaha menutupi tubuh polosnya, menunduk ketakutan, namun pembawa acara itu malah tertawa dan menarik dagu gadis itu, hingga sorak sorai pria-pria mesum di dalam ruangan berdengung seperti kesetanan.
Hingga akhirnya gadis itu di lelang seharga 30 juta yen oleh seorang pria yang kira-kira berumur 50 tahunan berbadan gemuk dan bertampang mesum, Atsumu tahu dia siapa, seorang wali kota yang punya reputasi baik di masyarakat.
"Pfftt, reputasi tak membuat orang benar-benar bisa di percaya baik." ucapnya pelan, yang lain hanya mengangguk sembari tertawa kecil ーsebenarnya ikut kasihanー saat pria tua itu menjemput gadis yang sudah jadi miliknya itu dengan terburu-buru.
Raut wajah minta tolong itu benar-benar terbesit, namun tak seorang pun menolong karena kehadirannya di sini pun sudah pasti karena konsekuensi yang harus di terimanya.
"Baiklah, acara selanjutnya adalah istirahat makan malam, silahkan nikmati hindangan yang sudah kami siapkan, tentu saja dengan bahan-bahan berkualitas yang kami impor langsung, dan di masak oleh koki profesional kami."
Hidangan berupa masakan khas Prancis di hidangkan di setiap meja, botol-botol wine berkualitas di tuang di setiap gelas, ruangan yang tadi temaram kembali terang, kesan tempat pelelangan itu hilang, seperti seolah sengaja di ubah menjadi seperti restauran berbintang yang mewah.
Musik-musik klasik mulai terdengar, nada-nada lembut yang keluar dari piano, petikan bass, dan irama yang di hasilkan violin di ujung ruangan betul-betul menambah kesan mewah acara itu. Atsumu sedikit terkesan dengan perubahan yang terjadi, ia jadi tak begitu menyesal ikut ke acara pelelangan ini.
"Well, tak begitu buruk." ungkapnya saat ia sudah selesai dengan makanannya. Ia segera meletakan garpu dan pisau makannya di atas piring dengan posisi lurus, menandakan ia sudah selesai.
"Ya, tak seperti dua tahun lalu." jawab Osamu, "Makanannya pun enak." sambungnya.
"Kau kan memang hanya peduli dengan makanan, bukan acaranya." sindir Suna sambil tertawa kecil, Osamu mengacungkan jari tengah nya, sementara Aran mulai melerai keduanya.
"Sudahlah berhenti bertengkar, ingat umur, hampir kepala tiga kalian." ucap Aran dengan ketus.
"Hei, aku ini bos kalian, sopan lah sedikit." Jawab Osamu, Aran meletakan gelas wine yang sedari tadi bertengger di tangannya di meja, kemudian pupilnya memutar, "Atsumu pun bos ku."
"Menusuk sekali ucapan mu Aran. Lihat wajahnya sudah merah, kau marah?" kata Suna sembari memegangi dadanya, hiperbola wajahnya, Atsumu tertawa saja melihat tingkah mereka.
Asik bertengkar dan Atsumu yang menonton pertengkaran itu, lampu-lampu akhirnya di redupkan kembali, tanda acara akan segera di mulai kembali.
Pembawa acara yang tadi pun naik ke panggung, dengan senyuman yang menurut Atsumu sungguh menyebalkan ia sekali lagi membungkuk kan badannya saat sorakan para tamu undangan menyambutnya kembali.
"Terimakasih tuan-tuan dan nyonya sekalian, kami berterimakasih atas antusiasme yang kalian berikan. Sesi kedua sekaligus yang terakhir dari pelelangan kali ini akan segera kami mulai."
Beberapa barang-barang yang kurang lebihnya sama naik ke atas panggung, orang-orang normal biasanya akan mengeluarkan uangnya untuk barang-barang seni yang Atsumu yakin itu ilegal, perhiasan-perhiasan cantik yang jadi incaran nyonya-nyonya tamu undangan, ataupun orang-orang yang di lelang disini bagi mereka berhidung belang.
"Oke sebentar, sebelum ke barang berikutnya, saya ingin bertanya satu hal, apa kalian tahu submissive itu apa?" pembawa acara itu mulai bertanya, Atsumu yang sebenarnya sudah bosan setengah mati tak begitu memperhatikan pertanyaan-pertanyaan
"Budak!"
"Jalang?"
Sorak tawa bergema, semuanya mulai menebak-nebak apa arti yang di maksud oleh sang pembawa acara.
"Lelaki yang bisa hamil? Pfftt."
MC dengan semangat menunjuk salah satu nyonya yang terakhir menjawab, semuanya langsung terpukau dengan jawaban dan apa yang akan segera di lelang setelah ini. Barang unik yang sangat jarang sekali di dapatkan, seorang lelaki submissive yang bahkan orang tak banyak tahu keberadaannya.
"Bawa barang itu kemari!" Teriak MC, tak berapa lama kemudian beberapa orang datang ke panggung dengan kaki di rantai, lusuh, dengan pakaian minim, beberapa di antaranya gemetar ketakutan, sisanya pasrah ada disana.
"Kita mulai dari yang nomer pertama! Sedikit cacat, mata kirinya buta, dan beberapa luka tercetak di beberapa bagian tubuhnya, kita mulai dari harga paling rendah, 5 juta yen!"
Lelaki kecil bersurai hitam legam itu meringis ketakutan ketika orang-orang mulai menyoraki nominal uang yang tak kecil untuk membelinya. Hingga yang paling besar ada di 15 juta yen, di menangkan oleh seorang nyonya yang tampak sendirian di mejanya.
"Oh, bukankah dia dari grup Touho? Pemimpin grup Touho wanita kan?" Tanya Aran berbisik, Suna mengangguk, "Dia generasi ke 7 kalau tak salah? Ck, 2 tahun kemarin dia membawa 3 submissive pulang dari acara pelelangan, dengar-dengar memang hobinya." jawabnya.
"Kau memang informan yang bisa ku percaya." Ucap Atsumu yang sebenarnya menyindir ilmu menggosipnya, sementara yang di puji tersenyum bangga.
Hingga akhirnya submissive yang ke enam dan terakhir di perkenalkan, badannya agak lebih tinggi dari yang lainnya, badannya lebih kurus, surai oranye yang panjangnya sebahu menjuntai indah, wajahnya cantik dan sangat menggemaskan, di wajahnya terdapat noda merah namun tak menghapus kesan cantik dan mahal yang ada pada dirinya. Banyak orang-orang bersorak atas kehadirannya di atas panggung.
Atsumu baru pertama kali melihat submissive selekat ini, pertama mungkin karena jarak mereka dekat, dan kedua memang lelaki di hadapannya betul-betul cantik. Matanya tak bisa berkutik, berkedip pun rasanya enggan, seakan takut hilang dari pandangan bila ia berkedip. Bahkan Suna sampai bersiul keras begitu melihatnya.
"Terakhir, tentu saja tanpa cacat, yang paling bagus dari yang lainnya. Kita mulai dari harga paling rendah, 30 juta yen!"
"Wuih mahal sekali." ucap Suna sembari meringis, banyak sekali yang sangat berminat dengan lelaki cantik di atas panggung.
"Kau perlu bayar lebih untuk sesuatu yang berkualitas kan?" jawab Osamu, sama-sama terkesan melihat si submissive.
Banyak penawaran yang terlibat, benar-benar sesuatu yang sangat jarang, apalagi tampa cacat sekalipun.
"80 juta yen."
Lagi-lagi nyonya dari grup Touho menawar, dua kali lipat harganya di banding yang terakhir menawar sebelumnya, tak ada lagi yang berani mengangkat tangannya untuk menawar lebih jauh, senyuman bangga tercetak jelas di bibir dengan polesan lipstik merah menyala itu.
"1 miliyar yen."
Harga yang tak tanggung itu keluar dari mulutnya seketika, sembari mengangkat tangannya dengan santai, dengan pandangan yang tak putus terus menatap ke arah si submissive, keduanya bahkan saling menatap, yang di tawar menatapnya dengan pandangan terkejut tak percaya.
"Tak ada lagi yang menawar?"
Semua di ruangan itu hening, rasanya bodoh sekali melebihi angka itu untuk menawar seorang submissive, belum lagi kalau berurusan dengan kelompok seperti Inarizaki. Bahkan nyonya Touho sama sekali tak berkutik.
Suna, Aran, dan Osamu memandang Atsumu dengan tak percaya, yang biasanya paling anti dengan pelelangan, kini berdiri dan menawar dengan harga paling tinggi.
"Kau, gila." kata Osamu, masih tak percaya apa yang kembaran nya lakukan.
"Tak ada? Baiklah, nomer enam resmi di lelang seharga 1 Miliyar Yen oleh Tuan Miya Atsumu!"
Palu di ketok, beberapa orang bertepuk tangan, harga fantastik untuk seorang submissive yang bahkan tak tahu asal usulnya dari mana.
Seorang lelaki dengan jas rapih menghampiri meja mereka dan memberikan surat pembayaran, dan langsung di tanda tangani olehnya. Akhirnya lelaki cantik itu turun dari panggung, pergi ke belakang dengan di jaga beberapa orang.
Bahkan Atsumu sama sekali tak berkutik, terus memandangi apa yang baru saja jadi miliknya hingga hilang di balik panggung yang bercahaya.
Rasanya, dirinya seperti di sihir.
TBC
