Kriiinngg!
Kringggg!
Kriiinngggg!
Kriii—
Dukk!
"Iya, iya. Tanpa kau berbunyi aku juga sudah bangun,"
Beranjak dari ranjangnya, ia mengubah posisinya kini menjadi duduk di sebelah ranjang. Melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan saat bangun tidur yaitu mengumpulkan kesadaran untuk bangun sepenuhnya dari rasa kantuk. Atau istilahnya 'sedang mengumpulkan nyawa dahulu'.
Namun yang sebenarnya terjadi adalah pemuda ini tidak tidur sama sekali semalam. Mungkin memejamkan mata beberapa saat kemudian hampir tertidur dilakukannya, namun dunia mimpi hanya beberapa detik dirasakannya sebelum ia membuka matanya kembali untuk merubah posisi tidurnya.
Siklus itu terus berulang hingga mentari sudah terbit dari timur. Menyadari bahwa ia memang tidak tertidur sama sekali karena masalah tersebut.
"Semoga saja saat bersama Sara nanti aku tidak tertidur di kereta," Ucapnya sambil mengucek matanya.
Ia berdiri dan meregangkan badannya yang terasa pegal. Merapihkan baju tidurnya yang berantakan. Kemudian menggaruk kepalanya yang terasa gatal dan sekilas mulutnya menguap.
"Kalau ditanya, susah tidur karena mengajak Sara pergi sih bisa saja," Ucapnya sambil bersedekap. "Aku belum pernah mengajak jalan-jalan cewek secara langsung."
"Tapi.. aku benci ketika potongan mimpi itu lewat dalam tidurku dan membuatku pusing saat terbangun."
Brak! Brak!
"Naruto! Sampai kapan kau mau tidur hah!"
"Iya ini aku bangun!"
Naruto hampir lompat dari tempatnya berdiri karena ibunya secara mendadak menggebrak pintu kamarnya dan berteriak sangat kencang. Kejadian biasa sih sebenarnya, ketika jam beker tidak berhasil membangunkannya maka ibunya yang menjadi alarm paling efektif untuk anti kesiangan.
"Lagipula ini kan libur musim panas! Aku bisa bangun siang!"
BUGH!
"JIDATMU BANGUN SIANG! APA KAU LUPA ADA JANJI DENGAN KAMIZAKI-CHAN?"
Ibunya Naruto memukul kembali pintu kamarnya, namun kali ini lebih keras dan membuat seisi kamar Naruto sedikit bergetar.
"Chan?" Naruto bingung dengan imbuhan yang diberikan Ibunya kepada Sara. "AKU TAHU KOK! TAPI KAN JANJI KAMI—"
"TIDAK ADA ALASAN, TTEBANE! TITIK!"
Setelah omelan terakhir Ibunya, Naruto mendengar suara langkah kaki yang menjauh dan terdengar gusar tiap melangkah. Naruto mengusap dadanya secara perlahan karena masih dalam kaget dengan kejadian sebelumnya.
"Ampun dah. Aku mandi dulu saja deh. Mimpi itu bisa dipikirkan nanti."
.
.
.
.
Disclaimer.
Punya Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi.
Summary:
Rangkaian potongan mimpi yang hadir pada tidur layaknya bagaikan sebuah memori dari kejadian yang pernah terjadi pada masa lampau. Ini bermula di kala awal masa remajanya hingga kini semakin sering terjadi saat umurnya hampir menginjak 17 tahun. Teka-teki yang menggelitik rasa penasaran seakan memaksanya untuk merasakan kejadian yang tidak pernah ia duga akan terjadi di luar nalar.
(Bad summary)
Rate: T (M?)
Warn: OOC, Typo, EYD tidak rapih.
Note:
((-*)/italic): Flashback.
(*): Point of View.
Enjoy and take your time.
.
.
.
-*
"Apanya yang lucu?"
"Tidak ada yang lucu, percayalah! Aku senang!"
Ketika aku mengatakannya, ia nampak begitu marah dari raut wajahnya yang mengeras dengan matanya yang menatapku tajam.
"Jika aku pikir kembali, aku yakin bisa mengalahkanmu disini!"
"Apa yang kau bilang? Jangan omong kosong, kau pecundang!"
"Aku tidak akan selamanya menjadi pecundang!"
Kami saling menatap dalam diam, tidak ada balasan darinya yang terus menatapku dengan tatapan penuh kebencian.
"Kau.. Pecundang sepertimu lebih baik jangan berlagak sok paling tinggi dan kuat!" Ia membalasnya dengan cemoohan yang semakin menjadi-jadi.
Aku tersenyum dan mendengus karenanya. "Seperti bukan dirimu saja yang kehilangan sifat dinginmu dan membuat keributan!"
"Sangat tidak dirimu sekali!"
Entah berapa lama kami saling adu mulut. Saling membuat satu pihak merasa jengkel dan kesal, namun kami merasa ragu dan juga ... takut.
Itu hanya pendapatku pada diriku sendiri, aku tidak tahu isi hatinya saat ini. Bahkan selama ini, aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidupnya. Apa memang hanya karena ingin membalas dendam terhadap Kakaknya?
Aku menyebut diriku sendiri sahabatnya, walau aku tidak mengetahui segalanya tentang dirinya sendiri. Rasanya aku ingin kesal terhadap diriku sendiri!
"Kau mengganggu pemandangan!"
"Itu karena kau tetap lemah, *!"
"Lemah? Aku mengatakan itu karena aku menganggap diriku memang yang seharusnya paling tinggi dan kuat!" Sifat sombongnya kembali ia tunjukan.
"Apa kau pikir, aku dan dirimu itu adalah sama?"
"Yeah, tentu saja! Aku tidak pernah berpikir bahwa diriku lebih rendah darimu!" Balasku tidak mau mengalah.
Kesabarannya telah habis karena aku terus mengoceh, aku bisa melihatnya berlari kearahku dengan cepat.
"Naruto!"
...
...
-*
...
"—ruto."
"Naruto."
"Naruto."
"Huh! Uh?"
Tidurnya yang cukup nyenyak mendadak terbangun dan membuatnya sedikit kaget. Penyebabnya karena ia dibangunkan paksa oleh Sara yang terus memanggil namanya sambil menggoyangkan tubuhnya.
"Mau lanjut kelahi!"
"Kelahi?"
"Eh?" Naruto yang masih mengigau perlahan kembali dalam kesadarannya dengan mengerjapkan mata beberapa kali.
Matanya melihat sekitar yang dimana cukup ramai orang-orang duduk dan berdiri. Sebagian orang melihatnya aneh karena teriakannya barusan.
"Kereta sudah hampir sampai di Kyoto. Jadi aku membangunkanmu." Balas Sara lagi.
"Oh, begitu kah?" Ia memijat pelipisnya pelan karena masih terbawa efek pusing karena dibangunkan.
Dengan meregangkan lehernya kearah kanan dan kiri, Naruto menghela nafasnya sambil memejamkan mata. Kemudian menoleh dan membukanya kembali untuk melihat Sara yang duduk disebelahnya.
"Apa aku tidur cukup lama?" Tanya Naruto.
"Mungkin." Singkat Sara.
"Mungkin?"
"Sejak awal kita duduk di gerbong, kau sudah tertidur duluan."
"Masa sih? Aku lupa." Naruto menggaruk rambutnya yang mendadak gatal.
"Dasar tukang tidur." Celetuk Sara.
"Ha? Siapa yang kau panggil tukang tidur?"
"Siapa ya.. Masinis-nya mungkin?" Balas Sara dengan senyum tipis sambil mengalihkan wajahnya.
"Oh, jadi begitu."
"Oke. Tunggu sebentar." Naruto berdiri dari duduknya, lantas membuat Sara kebingungan saat ini.
"Mau kemana?"
"Ke gerbong masinis kereta-nya. Aku mau bilang dia dipanggil tukang tidur sama Sara-ojousama."
"Ap—"
"Sebentar ya— weeeeh!
"A-apa kau gila!"
Sara menarik paksa tangan Naruto, hingga pemuda itu kembali duduk pada bangkunya di kereta. Mencengkram wajah Naruto hingga pemuda itu kejang-kejang karena nafasnya ditahan oleh Sara. Dengan terheran-heran Naruto memandang Sara setelah cengkramannya lepas
"Uwah! Uuh.. Biasa saja lho."
"B-biasa apanya!" Balas Sara teriak.
"H-hei, shhhhh!" Naruto memberi isyarat jari telunjuk di bibirnya. "Tenanglah! Kita sedang di tempat umum!"
"K-kau sendiri yang mulai duluan!" Sengit Sara tidak mau mengalah.
"Baiklah, baiklah! Aku tidak akan pergi ke gerbong masinis-nya!" Naruto mengibaskan tangannya.
"Puas?"
"H-hm!" Balas cuek Sara yang kemudian kembali tenang.
Ya ampun. Harusnya Naruto ingat kalau cewek ini yang merupakan teman masa kecilnya akan berbeda menanggapi candaannya, karena saat diajak bercanda malah selalu dibawa serius olehnya. Tidak di sekolah dan tempat umum seperti ini terus, kalau ada sesuatu hal yang mengganggunya pasti bakal heboh sendiri.
Mungkin keras kepala juga, ya? Kadang-kadang Sara tidak percaya jika Naruto bicara tentang sesuatu sebelum ia lihat sendiri dengan matanya. Baru setelah tahu Naruto bicara jujur, ia malah beralasan aneh-aneh.
Walau ... Naruto harus jujur, Sara tampil cukup manis saat ini. Dengan pakaian casual berupa sweater shirt V-neck berwarna biru muda untuk atasan dan rok pendek diatas lutut berwarna abu-abu untuk bawahannya.
Naruto memalingkan wajahnya kearah berlawanan dengan Sara. Kalau ketahuan sedang memperhatikannya bisa cukup berbahaya nantinya.
Salahnya sendiri juga sih ... Sok menantang Sara mengerjakan soal Quiz Sejarah. Mereka bertaruh siapa yang menang akan di turuti keinginannya oleh yang kalah.
Dan hasilnya seperti ini. Ia harus menuruti keinginan Sara untuk jalan-jalan ke Kyoto untuk mengisi waktu libur musim panas. Padahal sebenarnya Naruto lebih ingin bersantai dan bermalas-malasan di rumah
Haaah.
Namun, kembali bicara soal itu.
Mimpi itu datang lagi, walau ia tidur di tempat umum. Dengan keadaan yang sama, yaitu ketika ia ingin menyebut nama seseorang yang ada di mimpinya tersebut selalu saja ia tidak bisa mendengar ucapannya sendiri.
Seakan ia dilarang untuk tahu namanya.
Jika memang mimpi biasa pun, rasanya tidak akan menjadi sulit seperti ini.
Perasaan seperti kejadian itu pernah dialaminya, semua tergambarkan dalam mimpi. De Javu mungkin orang menyebutnya, perasaan seperti pernah melihat atau menyaksikan sesuatu yang seakan ia sudah melihatnya tapi sebenarnya belum.
Mungkin saat ini rambut pirang miliknya sudah tumbuh uban karena memikirkan hal-hal tersebut.
Pusing.
.
.
.
.
.
Cklek!
Bunyi minuman kaleng yang jatuh dari Vending Machine membuatku menundukan badan untuk mengambil kaleng minuman yang telah kupilih setelah memasukan beberapa koin Yen pada mesin ini.
Total ada dua kaleng minuman yang keluar. Aku sendiri memilih Iced Coffee, sementara satu lagi yaitu Choco Milk untuk Sara yang kini sedang menunggu dan melihat-melihat danau di depan restoran yang baru saja kami kunjungi.
Masakannya cukup enak, harganya juga pas di kantong. Untuk berhemat lebih, kami memesan hot pot kecil yang berisi sayuran, daging dan tahu. Memakannya bersama sebagai lauk untuk nasi.
Setelah selesai makan siang, kami memutuskan untuk mencari minuman penutup yang menyegarkan. Namun hanya Vending Machine yang bisa kutemukan setelah berkeliling di sekitar restoran. Ingin memesan kembali minuman di restoran makanan pun rasanya terlalu berlebihan. Jadinya lebih baik aku membeli minuman kaleng saja untuk amannya.
"Kubilang saja nanti ke dia. Penjual minuman di sekitar kuil di culik Youkai! Jadinya tidak ada yang berjualan minuman disini!"
Isengin Sara sepertinya menarik. Tapi apa kali ini ia akan panik? Wahahaha! Aku hampir keceplosan tertawa memikirkan wajahnya saat itu terjadi!
"Kunou, kemana kita akan pergi berikutnya?"
"Nison-in Jalur Bambu! Jojakko-ji! Aku akan membawa kalian ke semua tempat itu!"
Aku berpapasan dengan gerombolan orang yang saling mengobrol satu sama lain dengan nada cukup keras. Apa yang mereka bahas dengan jelas dapat kudengar, walau sebenarnya aku tidak niat menguping sih.
Terlihat dari pakaian mereka, nampaknya seperti anak sekolahan. SMA mungkin? Entahlah, pakaian mereka nampak berbeda dari pakaian anak sekolah pada umumnya.
Tapi, salah satu dari mereka nampak berbeda. Berpakaian khas biarawan wanita dan ... hm, loli.
Aku membeku sebentar karena menyadari hanya gadis kecil itu yang berbeda dari mereka. Cosplay kah? Soalnya jika memang gadis itu biarawan, kurasa umurnya terlalu muda menjadi biarawan.
Tunggu—. Aku rasanya jadi bejat sekali ketika memikirkan kata 'loli' barusan.
Lupakan, lupakan!
Bisa-bisa aku di bawa Polisi nanti.
Setelah beberapa menit berjalan, aku sudah sampai kembali di depan danau di depan restoran dan menyapa Sara.
"Sara-ojousama, ini minumannya."
Sara terkaget dan menoleh. "B-baka! Jangan panggil aku seperti itu di tempat umum seperti ini!"
"Hahaha! Baiklah, baiklah."
Aku membuka kaleng minuman dan langsung meneguknya cukup lama. Haus yang melanda rasanya menjadi hilang seketika saat cairan kopi mengalir menuju tenggorokanku.
"Huaah! Segar!" Seruku semangat.
"Ditempat beginian masa kita jajannya seperti ini?" Balas Sara sedikit kesal dari nadanya.
"Aku mencari penjual minuman di sekitar, namun tidak ada penjual yang ada. Walau aku telah memutari beberapa tempat di sini."
"..'Mau bagaimana lagi, deh.' Nanti seperti itu ngomongnya pasti." Ledek Sara menirukan gaya bicaraku.
Aku tertawa. "Kau tahu sekali diriku ya, haha!"
"T-tentu saja." Balas Sara. "Aku selalu memperhatikanmu."
"Memperhatikan?"
"I-iya! Habis ini kita ke jembatan Togetsu-kyo!" Balas Sara cepat dengan gugup.
"Kau mengalihkan pembicaraan.."
Setelah itu kami diam dengan tenang, memperhatikan danau indah yang ada di depan kuil Tenryu-ji ini. Begitu damai dan indah ketika mataku melihatnya, berbeda sekali dengan di Tokyo yang selalu kaku akan hiruk pikuk kesibukan.
Mungkin tidak ada salahnya jalan-jalan seperti ini lagi.
Lain kali ajak saja yang lainnya ya? Karena berdua begini saja dengan Sara rasanya canggung sekali.
"Omong-omong, Naruto."
"Ha'i?"
"Apa kau melihat kejadian di depan stasiun Kyoto tadi?"
"Kejadian?" Aku mengingat-ingat dengan sedikit lama.
"Oh iya. Masinis-nya marah karena disebut tukang tidur?"
"H-ha? Bukan itu bodoh!" Balas Sara sambil memukulku pelan.
Aku tersenyum iseng. "Iya iya. Canda. Tentang keributan orang mesum yang meraba-raba dada pengunjung stasiun 'kan?"
"Kau tahu? Aku rasa, aku hampir jadi korban orang itu.."
"Kok bisa?"
"Karena sesaat setelah turun dari kereta, aku dipandangi terus oleh orang itu dengan tatapan aneh.."
"L-lalu?"
"Aku langsung berlindung di belakangmu. Lalu setelah itu dia malah pergi."
"Oh, jadi itu alasan sebenarnya kau mendadak mepet dan mendorong punggungku?"
Sara mengangguk pelan.
Aku mengehla nafas. "Syukurlah jika begitu."
"Ta—."
"Kau tidak bohong kan?" Tanyaku kembali untuk memastikan.
"Untuk apa aku bohong!"
Aku meneguk kembali minuman kaleng ini hingga setengah. Sudah benar pendapatku untuk mengajak yang lain jika nanti pergi jalan-jalan lagi. Aku hampir merinding mendengar ucapan Sara.
"Tapi.. aku lebih suka jika kau yang merabanya.."
BYURRRRR!
Astaga naga.
Siang bolong begini rasanya ada serangan petir menyambar kepalaku. Minumanku jadi tersembur karena dia!
Apa-apaan ucapannya itu!
"S-Sara.."
"Aku serius, Naruto!"
"K-kau demam?"
"Deman? Aku masih sehat bugar begini kok!"
"A-aku minta maaf karena bercanda terus kepadamu tadi.."
"..Masih ada tempat yang belum kita kunjungi!"
"I-itu tadi bahaya lho.."
"Tapi mau 'kan?"
Aku mengangguk pelan. Tentu—
"B-Bukan! Maksudku.. Itu terlalu tiba-tiba!"
Man. Mungkin laki-laki lain senang jika begitu. Tapi tetap saja itu berbahaya! Apalagi di tempat suci seperti ini!
"Kena kau!"
"H-ha?"
"Satu sama deh!"
Satu.. sama?
Oh, pala botak. Ternyata aku dikerjain sama si rambut tomat ini.
"TEMEE! AKAN KUBALAS KAU YA!"
Aku hampir marah saat itu.
Namun, aku melihat sesuatu hal yang aneh di kakiku sekilas.
"Kabut asap?" Perasaan merinding mengalir ke leherku saat itu juga.
Firasatku sangat tidak enak secara mendadak.
"Sara. Kita harus ... pergi?"
Sara?
Sara menghilang begitu saja di depanku!
"Sara!" Aku berteriak dan menoleh ke sekitar.
"Hoi, Saraaaa!"
Ada hal aneh lain yang terjadi setelah kuamati baik-baik.
Semua orang menghilang! Para pengunjung dan beberapa Biksu menghilang seluruhnya! Rasa panik menjalar di tubuhku. Bingung dan linglung menjadi satu.
Apa yang terjadi baru saja?
"SARAAAAAA!"
Blam!
Blam!
Blam!
Ledakan?
Aku mendengar dengan sangat jelas suara ledakan yang berasal dari arah menuju jembatan Togetsukuyo. Memang agak jauh dari sini, tapi suaranya terdengar jelas. Membuatku gemetaran seketika hingga kakiku sedikit goyah keseimbangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadiiiiii!"
.
.
.
...
.
.
"Tuhan. Aku rasanya mau mati saja disini.."
Lututku terasa begitu lemas. Aku melihat itu semua, penyebab ledakan yang terjadi sebelumnya. Ternyata berpusat di jembatan Togetsukuyo. Kejadian yang berada di luar logika dan nalar manusia, aku melihat seluruhnya.
Aku tidak berhenti menelan ludahku sendiri karena rasa takut ini.
Bermula dari bayangan hitam yang menutupi semua bagian jembatan, dan dari bayangan itu muncul banyak sekali monster-monster yang bentuknya aneh. Salah satu dari monster itu menembakan serangan yang mampu menghancurkan pertokoan yang ada di sebelahku!
Iya—, jika kau bertanya. Aku sedang bersembunyi di salah satu pertokoan oleh-oleh yang ada di ujung jembatan Togetsukuyo. Dan kurasa pilihanku bersembunyi ini tepat, berbahaya jika aku dekat-dekat dengan jembatan.
Ta-tapi serangan monster tadi bisa saja mengenaiku jika toko yang kutempati ini menjadi sasarannya!
Tenanglah, Naruto.
Kau harus tenang.
Setelah diriku merasa tenang, selanjutnya aku bisa melihat objek terbang yang nampaknya terlihat seperti manusia, tapi sayapnya ada banyak sekali!
Objek itu seperti bertubrukan dengan serangan yang kuat sehingga aku pun bisa melihat ada air dari sungai yang terciprat sehingga seperti hujan lokal secara mendadak dari jarak sejauh ini.
Kemudian suara seperti pertarungan antar gesekan senjata dapat kudengar. Sayangnya, aku tidak bisa melihat dari sini karena jarak jembatan yang cukup jauh membuat pandanganku terbatas untuk menyaksikannya.
"... Seperti dunia Anime saja."
Biasanya aku melihat ini ketika menonton anime yang bergenre action. Tapi ini berbeda! Seakan aku yang menjadi karakter di anime itu!
"He?"
Aku menundukan badanku dan kembali menyembunyikan diri dengan memanfaatkan etalase toko untuk menutupi badanku. Sesaat aku mendengar suara langkah orang berjalan mendekat dan membuatku siaga.
Langkah kakinya hampir kudengar ada di sampingku. Kemudian melewati toko ini dari suara langkahnya yang menjauh kearah jembatan Togetsukuyo.
Aku perlahan-lahan bangun untuk melihat situasi kembali. Sedikit mengintip dengan kepala yang kuangkat sedikit tinggi dari etalase, kemudian berdiri tegap ketika orang itu sudah cukup jauh dari sini.
"Apa yang ia bawa? Pedang?"
Aku melihat punggungnya yang perlahan menjauh, akan tetapi fokusku sedikit terpusat pada tangan kirinya yang menggenggam sebuah pedang yang berwarna hitam.
"...?"
Dalam sadar, tanpa sengaja mimpi yang pernah kualami mulai membuatku sedikit melamun karena secara tak sengaja muncul kembali dalam potongan-potongan memori yang ada di kepalaku saat ini.
"Aduh-duh..!"
Semakin kulihat seksama walau hanya melihatnya dari belakang, postur dan rambut itu memberi banyak ingatan memori yang muncul dari mimpiku. Hingga aku sedikit merasa pening dan refleks memegang kepalaku.
Kata-katanya yang ia ucapkan kembali terputar.
"Inilah jalan yang kupilih. Bukan kau atau orang lain yang bisa mengubahnya!"
Ia mengucapkan itu dengan posisi yang sama, membelakangiku.
Ayolah, jangan muncul di saat seperti ini!
"Sara.."
Iya.. Sara! Aku harus mencarinya! Aku hampir lupa karena melamun sejenak!
Aku sibuk dengan pikiranku sendiri hingga aku tidak memperhatikan adanya cahaya biru yang melesat kearah sini.
Zyuut!
Kabooom!
"Ap—uwaaaah!
Sejenak, aku merasa seperti melayang setelah mendengar suara ledakan yang menghempaskan badanku kedepan dengan keras.
Buggh!
Mataku memejam erat dengan dadaku yang terasa sakit karena mendarat pada pijakan keras yang kurasakan. Lalu, aku tidak bisa mengontrol diriku yang berguling-guling setelah momen melayang itu. Efek ledakan itu cukup kuat hingga memberi dorongan seperti ini.
"S-Sara.."
Aku bangkit dari posisi tengkurap dengan kepayahan. Tubuhku telah berhenti berguling dan membuatku sedikit linglung. Pandanganku juga buram saat mencoba melihat sekitar.
Dadaku serasa seperti ditabrak truk saat ini. Ketika aku mencoba bernafas, dadaku terasa sakit dan rasanya begitu nyeri hingga ke tenggorokan.
Dengan menumpu pada kedua sikut tangan, aku melihat kearah depan. Walau masih samar-samar aku dapat melihat beberapa orang yang berdiri agak jauh dariku.
Kupaksa mataku terbuka lebar untuk memperjelas penglihatan, akan tetapi rasanya berat menahan kelopak mataku untuk tetap terbuka. Rasa kantuk juga datang begitu saja tanpa tahu situasi.
Sejenak, sebuah pemikiran datang.
Apakah ini rasanya saat seseorang akan mati?
.
.
.
"Ada terlalu banyak gangguan. Namun, itu sungguh upacara pembukaan yang menyenangkan, Gubernur Azazel." Ucap Cao Cao merasa puas setelah beberapa kali beradu serangan dengan Gubernur Malaikat Jatuh, Azazel.
Dia melanjutkan. "Malam ini kami akan menggunakan medan energi spesial dari Kyoto dan pemimpin Kyuubi, dan mengubah Istana Nijou menjadi eksperimen besar! Kalau ingin menghentikan kami, datang dan ikut sertalah!"
Semua orang nampak tertegun mendengar ucapan Cao Cao, kecuali Rossweisse yang berada di depan mereka, terpisah oleh jembatan Togetsukuyo yang terbelah. Dalam keadaan masih mabuk dan terhuyung-huyung hingga menyebabkan ada cairan pelangi keluar dari mulutnya.
"Oh iya." Cao Cao menepuk-nepuk tombak True Longinus pada pundaknya.
"Aku masih menunggumu untuk ikut ke Fraksi Pahlawan. Kami butuh orang-orang — tidak, manusia yang menarik sepertimu."
Kelompok Gremory melihat satu sama lain, tidak paham akan maksud ucapan Cao Cao. Hingga mereka refleks menoleh kebelakang dan menemukan seseorang yang Cao Cao maksud sedang menundukan badannya dan memunggungi mereka.
"Hm? Ada tamu yang tak diundang?" Cao Cao bertanya.
"Georg?"
"Aku sudah memastikan hanya Gubernur Azazel dan kelompok Gremory saja yang kupindahkan dengan Lost Dimension." Jawab salah satu seseorang berkacamata di samping Cao Cao.
"Nampaknya menggunakan kabut Lost Dimension masih belum sempurna kulakukan."
Berpindah pihak kepada orang yang baru bergabung. Dengan pakaian seragam sekolah yang sama dengan kelompok Gremory, ia nampak menundukan badannya dan melihat kondisi orang yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri karena terkena serangan asal-asalan milik Rossweisse.
Awalnya ia mendengar bunyi debuman kecil, namun ketika melihat ke belakang ia menemukan orang ini yang nampaknya seorang pengunjung biasa kuil Tenryu-ji karena pakaiannya berbeda dengan yang lain. Ledakan sihirnya ia rasa cukup besar hingga membuat orang ini terkena dan terlempar begitu saja.
"Apa dari sana awal tempatnya terlempar?" Katanya sembari melihat toko yang sudah hancur dan sempat ia lewati beberapa saat sebelumnya.
Azazel menyela. "Jangan kau dengarkan—"
"Maaf saja. Aku sama sekali tidak tertarik untuk ikut main pahlawan-pahlawanan konyol seperti kalian."
Ia memotong perkataan Azazel yang mencoba ingin mencegahnya. Berbalik badan sambil menghunuskan pedang hitamnya ke arah Cao Cao, ia kembali berkata.
"Aku sempat mendengar alasanmu ketika berbicara dengan Azazel. Mengetahui batas menjadi manusia dan menantangnya? Huh, mendengar itu saja membuatku semakin jijik dengan adanya kalian."
"Tajamnya. Hatiku sekarang terasa teriris karenamu saat ini." Balas Cao Cao dengan nada sedih dibuat-buat.
"Aku harap kau tidak menyesal karena lebih memilih mereka menjadi sekutumu."
"Sekutu? Siapa yang mengatakan aku bersekutu dengan Iblis-iblis ini?" Sanggahnya dengan nada ketus.
Cao Cao tertawa, kemudian ia membalas Sasuke.
"Tapi tidak masalah. Kau akan menyaksikannya sendiri saat malam nanti. Dimana hal jijik yang kau bilang — akan jadi titik balik dari perkataanmu sendiri."
Kabut yang bertambah tebal mulai menutupi kelompok Pahlawan dan juga kelompok Gremory. Menutupi seluruh daerah kawasan jembatan Togetsukuyo hingga menutup pandangan sekitar.
"Kalian semua! Orang-orang sekitar sudah dikembalikan ke realita semula! Sembunyikan senjata kalian!"
Mendengar perintah Azazel, kelompok Gremory menyembunyikan peralatan tempur mereka dan kembali berpenampilan seperti biasanya.
Kemudian, kabut menghilang dan mereka kembali ke Arashiyama yang sebenarnya. Jembatan Togetsukuyo yang hancur juga nampak baik-baik saja. Berikut dengan panorama sekitarnya yang kembali asri dan indah.
"Sasuke!"
Azazel berlari kearah Sasuke yang sebelumnya sempat berbicara kepada Cao Cao. Menyadari bahwa ada seseorang yang nampak tidak sadarkan diri di depan Sasuke dengan posisi tengkurap.
"Dia jadi korban serangan sihir Rossweisse yang mabuk. Karena aku lengah ketika guru merepotkan itu lepas dari pengawasanku." Ucap Sasuke mencoba menjelaskan.
"Dia terkena serangan Rossweisse?"
Sasuke mengangguk. "Kurasa ia sedang bersembunyi dan terkena serangan sihir hingga terlempar kesini."
"Dasar Valkyrie itu." Azazel facepalm.
"Kemudian, bagaimana orang ini bisa terbawa Lost Dimension? Bahkan aku melihat sendiri Georg juga kebingungan saat itu."
"Jangan tanya aku. Harusnya kau yang lebih mengetahuinya." Balas Sasuke.
Azazel melihat kelompok Gremory yang nampak mengobrol satu sama lain. Kemudian ia meninju tiang listrik yang ada di dekatnya. Amarah yang sempat lupa kembali ia ingat karena para Golongan Pahlawan akan melakukan hal yang berbahaya saat malam nanti.
"Dasar bocah tengik! Berbicara seenaknya dan bereksperimen di Kyoto? Jangan—."
Sasuke tidak mengindahkan Azazel yang kesal. Karena ia sendiri lebih memperhatikan korban dari serangan Rossweisse dengan seksama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued!
