Kuroko no Basuke Fanfiction

Belongs to Fujimaki Tadatoshi

AU! OOC, TYPO

Selamat membaca!


In the Name of Love

When there's madness, when there's poison in your head
When the sadness leaves you broken in your bed
I will hold you in the depths of your despair
And it's all in the name of love

.

Akashi Seijuurou memulai harinya dengan sarapan bersama dengan Sanga Ayah. Tuan Akashi sudah memakai pakaian dinas lengkapnya, seragam militer dengan pangkat yang berjajar terpasang.

"Selamat pagi Ayah," sapa Seijuurou sambil duduk di depan Ayahnya. Sang Ayah, yang sedang membaca sebuah berita dari Ipad-nya, mengangguk singkat. Pelayan di rumah besar itu sudah memasak berbagai jenis hidangan untuk sarapan hari ini.

"Sudah mau ke kantor?" tanya Ayahnya.

"Iya," jawab Seijuurou, "ada rapat hari ini."

Mereka mulai memakan hidangan sarapan di depan mereka. Seijuurou hanya sanggup memakan setengah porsi di piringnya.

"Kau harus makan lebih banyak lagi," kata Ayahnya, "nanti kau tidak punya tenaga untuk bekerja."

Seijuurou hanya menanggapinya dengan tawa kecil. "Tenang Yah, pekerjaanku tidak membutuhkan banyak tenaga," jawabnya. "Aku hanya duduk di belakang computer saja. Tidak seperti seseorang," ujarnya sambil melirik Ayahnya.

Tuan Akashi mendengus. "Berpikir juga butuh tenaga," katanya, "apalagi kau suka menghabiskan waktu untuk bermain shogi kan?"

Seijuurou akhirnya mengalah, "aku memang tidak bisa mendebat Ayah," katanya. Lalu, dia kembali memakan sisa porsi sarapannya. Ayahnya tersenyum tipis melihat putra tunggalnya kembali memakan sarapannya.

"Apa malam ini kau pulang ke rumah lagi?" tanya Ayahnya.

Seijuurou menggeleng. "Sepertinya tidak," katanya, "tapi aku akan mengunjungi Ayah hari libur nanti."

"Kita harus liburan bersama sesekali," kata Tuan Akashi, "sudah lama sekali kita tidak liburan berdua."

Seijuurou tersenyum. "Lihat siapa yang bicara," katanya, "yang selalu sibuk mengurusi tentara negara siapa?"

Tuan Akashi mendesah. "Seperti kau tidak saja," balasnya, "padahal kau sering melakukan perjalanan bisnis."

"Perjalanan bisnis beda dengan liburan," kata Akashi. Dia menatap Ayahnya, "mungkin kita memang harus ambil cuti berdua dan liburan selama 2 minggu."

Seijuurou sudah selesai makan. Dia berhasil menghabiskan satu porsi sarapannya dan sekarang perutnya terasa sedikit penuh. Dia bangkit dari kursinya. "Aku berangkat Ayah," katanya sambil mengecup pipi Ayahnya.

"Telepon aku jika kau sudah sampai di apartemen nanti malam," kata Tuan Akashi.

"Baik Ayah."

.

Seijuurou melepaskan kacamata anti radiasinya ketika dia selesai membaca laporan hari ini dari para Manager dan Supervisor. Hari sudah beranjak larut dan Seijuurou memutuskan untuk meyudahi kegiatannya. Apartemennya besar dan sepi, itu karena dia tinggal sendiri. Alasan pertama Seijuurou memilih tinggal di apartemen dibandingkan tinggal bersama Ayahnya di rumah, karena jaraknya lebih dekat ke kantor. Seijuurou hanya pulang ke rumah ketika hari libur saja, untuk menemani Sanga Ayah.

Seijuurou melirik ponselnya yang tidak bersuara sedari tadi. Dia sengaja tidak menyetel mode getar di ponselnya agar jika ada telepon masuk, dia tidak melewatkannya. Yah, Seijuurou juga sedang menunggu kabar seseorang sejak 2 minggu yang lalu.

Seijuurou bangkit dari meja kerjanya dan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Setelah ini, dia akan menonton serial HBO sampai larut malam dan akhirnya tertidur. Ketika Seijuurou sedang menegak air minum, bel apartemennya berbunyi.

Ditaruhnya gelas kosong itu di meja makan dan Seijuurou bergegas menuju pintu apartemennya. Senyumnya merekah ketika dia tahu siapa yang memencet bel apartemennya. Dia segera memutar kunci apartemen dan membuka lebar pintu tersebut.

Dia berusaha tidak langsung melompat pada sosok di depan pintu tersebut. Sosok itu memakai baju dinas hijau tentara, bahkan lengkap dengan sepatu boot nya dan tas sandangnya. Seijuurou mempersilahkan sosok itu masuk ke dalam apartemennya.

"Kau tidak menghubungiku selama 2 minggu," kata Seijuurou, "aku benar-benar khawatir."

Tasnya ditaruh begitu saja di lantai apartemen dan pintu apartemen Seijuurou tertutup kembali. Sosok itu meraih pinggang Seijuurou yang lebih kecil dan ramping darinya.

"Maaf," katanya, "mustahil menghubungimu 2 minggu ini."

Seijuurou memberinya tatapan maklum. "Tidak apa-apa," katanya, "kau sudah di sini sekarang."

Seijuurou mengalungkan lengannya di leher sosok tersebut. Dia jauh lebih besar dan tinggi, sehingga Seijuurou harus berjinjit. Mengetahui hal tersebut, sosok itu mengangkat tubuh Seijuurou sampai mata mereka berada di dalam satu garis lurus.

"Kau bertambah kurus ya?" tanyanya.

Seijuurou tertawa. "Ayah sudah memaksaku menghabiskan sarapanku pagi ini," katanya, "jadi jangan sebut aku kurus."

"Beliau memang harus melakukan itu," kata sosok tersebut, "putranya memang susah makan sedari dulu."

"Aku tidak mau dengar komentar dari monster pemakan segalanya sepertimu," kata Seijuurou. Sosok tersebut berjalan masuk ke dalam apartemen besar itu masih dengan mengangkat Seijuurou.

Dia menyeringai. "Aku pulang, Sei."

Bibir mereka berdua bertemu. Seijuurou membuka mulutnya, sehingga memberikan akses penuh bagi sang pencium. Seijuurou melingkarkan lengannya semakin kuat di sekitar lehernya, sementara kedua kakinya dilingkarkan ke pinggang orang tersebut.

Ciuman itu begitu penuh kerinduan dan hasrat. Seijuurou wangi sabun mandi dan mulutnya terasa seperti mint, karena pasta gigi yang digunakan Seijuurou rasa mint. Seijuurou sendiri menikmati ciuman itu. Dia melepaskan diri sesaat sebelum mulai menciumnya lagi. Tanpa sadar, mereka berdua sudah berada di depan kamar Seijuurou.

Ciuman itu dilepas.

"Selamat datang di rumah, Daiki."

Dan inilah alasan kedua Seijuurou memilih tinggal sendiri di apartemen.

.

Mengenal Akashi Seijuurou merupakan tantangan tersendiri bagi Aomine Daiki. Bagi Aomine sendiri, Seijuurou itu bagai berlian langka, terletak di perut bumi paling panas dan paling dalam, dan sangat sulit diraih.

Akashi Seijuurou merupakan putra tunggal dari Jendral dari Angkatan Darat. Pertama kali Aomine bertemu dengan Seijuurou adalah ketika dia ditugaskan untuk mengawal Jendral makan malam bersama Perdana Menteri, dan kebetulan putranya juga ikut.

Seijuurou memiliki pesona yang berbeda, baik berbeda dari laki-laki maupun perempuan. Garis wajahnya tajam dan tegas, persis seperti Ayahnya. Rambutnya sewarna darah, begitu pula dengan bola matanya. Awalnya Aomine tidak percaya itu warna iris aslinya. Namun, terlalu asli untuk dibilang hanya softlens. Perawakannya tidak begitu besar, tetapi juga tidak begitu kecil. Untuk ukuran laki-laki, bisa dibilang normal.

Tatapan matanya tajam, seperti elang yang sedang mengincar mangsanya. Kulitnya putih bersih, seperi porcelain dari China. Bagi Aomine, Akashi Seijuurou sangat cantik dan menawan.

Tentu saja tidak mudah. Dengan posisi Sang Ayah sebagai seorang Jendral, mana mungkin dia menyerahkan putra tunggalnya begitu saja pada Aomine Daiki, seorang Perwira Pertama. Posisi Aomine tidak ada apa-apanya bagi keluarga Akashi. Seijuurou pantas mendapatkan yang lebih dari dirinya.

Aomine membuka matanya. Kasur empuk membuatnya terbuai, setelah dua minggu tidur di kasur tipis. AC kamar Seijuurou masih menyala dan membuat kulitnya terasa dingin. Rupanya, dia hanya memakai selimut sampi pinggangnya saja, karena dadanya sudah tidak tertutup selimut lagi.

Aomine berbalik dan mendapati Seijuurou masih tidur dengan pulas disebelahnya. Selimut itu menutupi seluruh tubuh Seijuurou, meskipun perpotongan lehernya masih terlihat. Di leher seputih porcelain berdapat banyak bercak merah-merah yang tidak akan hilang untuk beberapa hari ke depan.

Seijuurou bernapas dengan teratur dan ekspresinya damai. Kepalanya terbenam sempurna di bantal berisi bulu angsa tersebut. Dibandingkan putri tidur, Seijuurou jauh lebih menawan dan indah. Aomine membungkuk untuk mengecup pelan bibir tipisnya yang sekarang lebih bengkak dan merah muda. Lalu, dia turun dengan hati-hati dari tempat tidur besar tersebut, memakai celananya dan keluar kamar.

Aomine membuat satu cangkir kopi panas. Lalu, dia berjalan menuju jendela besar di apartemen Seijuurou sambil menikmati pemandangan Tokyo dari lantai 40. Waktu masih subuh, lampu-lampu masih berkedip-kedip di gedung-gedung dan jalanan masih terasa lengang. Suasana Tokyo tidak pernah membuatnya bosan.

Dia baru menghirup kopinya untuk kedua kali ketika dia merasa seseorang memeluknya dari belakang.

"Kau sudah bangun?" tanya Aomine tanpa memutar tubuhnya.

"Kenapa tidak membangunkanku?" pertanyaan itu masih bernada mengantuk.

Aomine mendengus, "Tidurlah lagi kalau masih mengantuk," kata Aomine, "ini masih terlalu pagi juga."

Aomine bisa merasakan kepala Seijuurou menggeleng di punggungnya. Kalau baru bangun tidur, lelaki itu bisa menjadi sangat manja, padahal biasanya dia seperti tembok beton yang tidak tertembus. Aomine menyukai sisi Seijuurou yang seperti ini. Dia bisa menjadi seperti anak kucing yang meminta perhatian, begitu manja dan tergantung pada Aomine. Jadi, dia membiarkan Seijuurou memeluknya dengan manja seperti itu.

Seijuurou sendiri menyamankan dirinya untuk memeluk tubuh topless milik Aomine. Rasanya dia bisa jatuh cinta berulang kali pada tentara ini. Seijuurou membuka matanya dan dia melihat punggung Aomine yang berdiri dengan tegap. Begitu banyak bekas luka dan jaringan parut. Dengan tangannya, Seijuurou mulai menyusuri satu per satu bekas luka milik Aomine.

Dia menyusurinya dengan pelan dan lembut, dengan tangan dan bibirnya menciumi setiap bekas luka milik kekasihnya. Bekas luka itu terasa kasar di tangan maupun di bibir milik Seijuurou, tetapi dia tidak berhenti melakukan aktivitasnya. Semua bekas luka itu adalah bukti bahwa Aomine telah melalui banyak hal dan masih hidup sampai sekarang.

Kegiatannya terhenti ketika Aomine berbalik dan langsung mengangkatnya. "Kau sengaja melakukan hal itu ya?" retorik Aomine.

Seijuurou hanya tersenyum.

Aomine menunduk dan mulai mencium putra tunggal Jendralnya. Dia mengangkat Seijuurou dan mereka kembali masuk ke dalam kamar.

Ya, pikir Seijuurou, ini terasa benar.

Jika dia bersama dengan Aomine, semuanya terasa benar. Semuanya terasa baik-baik saja.

.

SELESAI


A/N: kangen sama pair AoAka, jadilah cerita singkat ini. Tidak ada alur cerita, cuma pengen nulis aja.

Silahkan tinggalkan jejak berupa review, follow ataupun favorite (ketiga2nya juga tidak apa-apa)

Sampai jumpa di karya selanjutnya!