Cerita ini dibuat setelah aku baca new story dari Kak gekanna87 yang berjudul Choke Me Like You Hate Me. What a great story!
Seketika muncul ide untuk menulis cerita gaje yang terinspirasi dari sebuah lagu juga. Salah satu lagu favorit aku . Lagu korean hiphop yang punya sexy vibes! Hahha. . . Ketawa yadong uhukk...
BODY
.
.
Warning : Mature Content detected
Semburat warna jingga menyusup masuk melalui jendela besar yang tirainya dibiarkan terbuka itu. Selaras dengan segelas cognac yang kemudian ditenggak sekaligus oleh pemuda berambut raven yang saat ini terlihat gusar.
Tubuhnya ia sandarkan santai di sofa single empuknya yang menghadap sisi jendela, menikmati senja. Kepalanya sedikit pusing akibat minuman beralkohol yang baru saja ia tenggak habis. Namun, tak cukup untuk membuatnya mabuk.
Sasuke seakan sakau. Bukan karena drugs tapi kepada seorang wanita. Wanita berambut pirang dengan mata aqua terang yang sukses menyihirnya.
Wanita yang sukses membuatnya bertekuk lutut dan memohon akan sentuhannya. Ah ya, wanita itu seakan memiliki magnet yang dapat menariknya kapan saja. Wanita yang sangat digilainya sampai ingin mati rasanya. Ah, Sasuke benar-benar merindukannya. Yamanaka Ino.
Aku merindukan tubuhmu...
Suara napasmu yang menggelitik...
Aku ingat samar-samar...
Aku tak bisa merasakanmu...
Aku merindukan tubuhmu...
Rambutmu yang berkilau..
Aku ingat samar-samar...
Jadi, dimana kamu?
Wanita itu sangat tahu cara tarik-ulur. Ada waktu dimana dia akan datang, membuatnya terangsang setengah mati, dan memberikan semuanya. Lantas wanita itu seakan menghilang setelahnya. Tak ada suara, tak ada tanda, tak bersua.
Yang Sasuke tahu, namanya Yamanaka Ino. Wanita itu.
Flashback
Sasuke dengan malas menghampiri pintu rumahnya yang tengah diketuk beberapa kali oleh orang yang tak sabaran.Orang itu harus belajar sopan santun.
Sasuke hendak saja ingin protes seketika membuka daun pintu itu. Namun ia hanya mematung. Mendapati seorang gadis pirang tengah menggigil kedinginan dengan baju yang sudah basah kuyup. Apa gadis itu semacam bermain hujan-hujanan? Pikirnya. Jika iya, mungkin gadis itu sudah gila.
Hari ini cuaca Konoha benar-benar tak bersahabat. Seharian penuh hujan deras tak kunjung mereda. Sasuke juga tak akan menyangka akan menghadapi seorang gadis misterius yang saat ini berdiri di depan rumahnya dengan kondisi basah kuyup.
"Maaf, cari siapa?" Sasuke membuka percakapan, karena dirasa gadis itu tak juga mulai berbicara.
"Em,ano...Apaaku boleh berteduh di sini?" Gadis itu mengigil kedinginan.
Tuhan memang adil. Gadis itu -well Sasuke akui cantik. Namun mungkin ia bodoh atau semacamnya.
Sasuke orang asing, dirinya pun demikian bagi Sasuke. Dan apa? Berteduh di rumahnya?
Baru saja Sasuke akan berbicara, petir besar bergemuruh. Kilatannya terlihat jelas di langit. Gadis itu, spontan menutup menutup mata dan menubruk Sasuke.
Laki-laki itu tentu saja terkejut. Apa-apaan gadis ini? Tubuh Sasuke seketika mengigil kedinginan. Bajunya basah tertular si gadis. Wajahnya memanas ketika dapat ia rasakan bagian tubuh gadis itu menghimpit lengannya.
Sasuke menilik pada manusia yang saat ini masih senantiasa memeluk lengan Sasuke ketakutan.Terbesit rasa iba melihat kondisi gadis asing yang kedinginan itu.
Bagaimana jika ini hanya tak-tik perampok? Menggunakan gadis cantik yang malang agar dapat dengan mudah mendekati target. Sudahlah, Sasuke tak sudi banyak berpikir. Lagi pula jika memang itu benar, ia pemegang sabuk hitam di taekwondo. Tubuhnya kedinginan dan bajunya basah. Sasuke melepas pelukan lengan Ino. Menarik wanita itu masuk dan menutup pintu.
Ino berjalan takut-takut. Mengekor di belakang Sasuke. Lucu sekali? Gadis itu tanpa ragu menggedor pintunya dan mengatakan ingin berteduh di rumah seorang pria yang sama sekali tak dikenal. Namun, sekarang apa? Gadis pirang itu was-was?
Sasuke menuju kamarnya,bermaksud mengganti pakaiannya yang basah. Namun, kemudian netranya tertuju pada seorang yang berdiri dengan baju basah di ruang tamunya. Ya, bukan hanya Sasuke di sini yang perlu mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti pakaian basahnya, Sasuke meraih baju shirt hitam polos miliknya, yang mungkin kebesaran di tubuh gadis itu. Sasuke tak peduli, itu bukan urusannya. Ia sudah berbaik hati meminjamkan pakaiannya. Tentu gadis itu tak hanya membutuhkan atasan saja kan? Sasuke menyerahkan shirt dan celana pendek pada si pirang. Tak ada pakaian dalam! Mana Sasuke punya pakaian dalam perempuan di rumahnya!
Ino menerima pakaian yang diberikan Sasuke.
"Terima kasih banyak."
"Kamar mandi di sebelah sana." Sasuke menunjuk arah tempat yang ia sebutkan tadi.
Sasuke lapar, dan cuaca sangat mendukung untuk makanan berkuah sekarang. Ia mengambil dua bungkus ramen dan memasaknya sembari menunggu orang asing itu selesai berganti pakaian.
"Ano..." Sasuke menoleh ke arah Ino. Matanya membuat melihat keadaan gadis itu sekarang. Seperti dugaannya, bajunya begitu longgar pada tubuh itu. Celana pendek yang ia berikan tertutupi sepenuhnya, seperti halnya gadis itu memakai dress selutut.
Penglihatan Sasuke masih sangat tajam untuk mendapati bagian dada gadis itu menampilkan bekas, akibat tak memakai bra. Buru-buru Sasuke mengalihkan wajahnya.
"Ya, ada apa?"
"Bajuku?" Ino memegang pakaiannya yang basah dan memperlihatkannya pada Sasuke. Bermaksud menanyakan tempat untuk menaruhnya.
"Masukkan saja ke keranjang baju kotor di sampingmu. Dan kemarilah sebelum ramenku lembek." Ino hanya menuruti perkataan Sasuke.Menarik kursi di depan pria itu yang sedang menyodorkan semangkuk ramen hangat padanya. Ino mengambil sumpit yang telah disiapkan Sasuke. Mereka menyantap makanannya dalam diam. Sekilas Sasuke melihat Ino yang sedang menyantap makanannya. Gadis itu nampak biasa. Tak ada yang mencurigakan.
"Hei Kau. Siapa namamu?" Sasuke perlu tahu bukan identitas orang asing yang saat ini tengah memakai baju dan masuk ke rumahnya.
"Aku... Yamanaka Ino. Kau?"
"Uchiha Sasuke." Pria itu fokus menyantap makanannya tanpa memperhatikan si lawan berbicara. Ino mendengus. Pria itu seperti pria baik, namun sama sekali bukan tipe yang ramah.
"Di mana rumahmu? Akan ku cuci bajumu dan hubungi keluargamu segera untuk menjemput." Sasuke meletakkan piring kosongnya di wastafel. Pria itu lantas melangkah menuju mesin cucinya untuk membereskan pakaian gadis itu.
"Ah.. aku tak punya ponsel." Jawab gadis itu polos.
What the hell?! Di jaman semaju ini, tak memiliki ponsel? Apa gadis itu hidup di goa? Pria itu heran.
"Lalu dimana rumahmu? Terpaksa aku yang akan mengantar."
"Ti-tidak usah Uchiha-san. Aku akan pulang begitu hujannya sedikit mereda." Tolak Ino buru-buru.
"Lalu, kenapa kau bisa kehujanan dan muncul di depan rumahku?"
"Ah aku hanya memiliki urusan di sekitar sini."
Ruangan itu hening. Sasuke sibuk berkutat pada mesin cucinya. Sedangkan Ino masih sibuk pada semangkuk ramennya.
Setelah mengeringkan pakaian itu, Sasuke menggantungnya agar benar-benar kering. Wajahnya memerah. Ya, itu tentu saja karena Sasuke tak terbiasa dengan pakaian dalam wanita! Dan satu yang Sasuke tahu, ukuran dada Ino benar-benar besar. Baka!
Sasuke menuju ruang televisi diikuti oleh Ino. Suasana begitu canggung. Dua orang yang sebelumnya tak saling mengenal ini duduk berjarak dalam diam.
Dapat Sasuke cium wangi tubuh gadis disebelahnya. Pandangannya tertahan pada helaian pirang gadis itu. Masih sedikit basah. Sasuke beranjak dari posisinya bermaksud mengambil pengering rambut untuk si gadis.
"Keringkan rambutmu." Sasuke memberikan hair dryer pada Ino. Gadis itu hanya menerimanya dengan bingung. Sungguh ia tak tahu bagaimana cara menggunakan alat ini. Paham akan sikap Ino, Sasuke mengambil alat itu dan berakhir membantu Ino mengeringkan rambutnya.
Dapat Sasuke lihat dari jarak yang lebih dekat dari sebelumnya, gadis ini benar-benar sangat cantik. Kulitnya seputih susu. Pipinya yang halus terdapat rona merah muda. Membuatnya semakin cantik. Bibirnya yang merah natural sedikit terbuka. Apa gadis itu berusaha menggodanya, atau memang ini hanya pikiran mesumnya saja?
Tentu saja pekerjaannya sebagai model cukup membuatnya populer di kalangan wanita. Namun, Sasuke berpikir berurusan dengan wanita akan sangat merepotkan.
Ino mendapati Sasuke tengah intens menatapnya. Iris aqua itu bertukar pandang dengan iris gelap Sasuke. Ini bukanlah kompetisi siapa yang paling lama tidak berkedip. Hanya saja, mereka saling tenggelam akan keindahan objek yang berada di depan mereka.
Seperti tersihir, Sasuke mendekatkan wajahnya. Refleks Ino menutup mata. Sasuke berhenti tepat 3cm di depan bibir Ino. Kewarasannya masih mengingatkan. Gadis yang berada di depannya adalah orang asing, tak perduli secantik apapun fisiknya.
Nampaknya hal itu tak cukup membuat Sasuke sadar. Tanpa berlama-lama Sasuke mengecup bibir itu. Terasa manis. Ino nampak tak keberatan. Tak ada penolakan. Sasuke memagut bibir itu lagi. Lebih dalam. Lebih panas. Lidahnya menelusup masuk ke mulut gadis itu. Dapat ia rasa sedikit rasa ramen yang tertinggal di sana.
Sasuke menangkup pipi Ino. Memperdalam ciumannya. Kepala berbeda warna itu bergerak-gerak menyamankan diri agar hidung mereka tak saling menghalangi.
Kita bukan adam dan hawa...
Mereka berkata lebih baik bersikap dingin...
Maksudmu?
Aku ingat tubuhmu...
Porsi sempurnamu...
Mereka semakin hanyut dalam permainan itu. Sasuke memeluk pinggang gadis itu agar lebih merapat padanya. Tubuhnya yang hangat sangat nyaman didekap. Sasuke melepaskan pagutannya. Menilik ekspresi sayu gadis itu. Biarlah Sasuke ditampar sekarang jika memang gadis itu menolak dan merasa dilecehkan. Namun itu semua tak terjadi. Gadis itu seakan memberinya izin untuk bertindak lebih jauh.
Sasuke menarik lepas kain yang menutupi tubuh Ino, yang tak lain adalah bajunya yang ia pinjamkan tadi. Sasuke terpesona akn pemandangan di hadapannya kini.
Tubuh Ino begitu sempurna, dengan kulit seputih susu dan rona kemerahan yang nampak jelas di wajahnya yang cantik. Membuat Sasuke tak bisa berdiam diri lagi. Sasuke mencium bibir merah yang sedikit bengkak itu, lagi. Tangannya kini tak tinggal diam. Menjelajahi lembut punggung mulus Ino yang tak berpenghalang. Tangannya terlalu penasaran untuk tak merasakan dada gadis itu. Besar, bulat dan begitu pas di tangannya.
"Ahh..." Ino meleguh di sela-sela ciumannya. Tubuhnya begitu geli merasakan sentuhan-sentuhan Sasuke. Dan juga, ingin merasakan lebih.
Bagian bawah pria itu tak dapat berbohong. Dirinya snagat menginginkan Ino. Celananya kian sesak, tubuhnya ingin segera dibebaskan dari keputus asaan.
Sasuke mengangkat tubuh ringan itu. Membawanya ke kamar pribadinya yang sebelumnya tak pernah ada orang lain yang memasuki.
Ino diletakkan di ranjang besar itu. Aroma maskulin pria itu dapat Ino cium pula di bed cover dan bantal yang saat ini ditidurinya.
Sasuke melepas atasannya. Menampakkan bahu lebar dan otot-otot tubuhnya yang terlatih. Tentu saja pekerjaannya menuntutnya untuk memiliki tubuh yang bugar.
Ino menatapnya takjub. Sasuke begitu sempurna. Pria itu lantas merangkak naik ke atas tubuhnya. Membuat keduanya saling dapat mendengar degup jantung yang tak karuan dan alunan napas yang berat.
Sasuke melepas satu-satuna kain yang menutupi tubuh Ino. Lantas dihadiahi pemandangan sensual tubuh polos gadis itu seutuhnya. Lekuk tubuh Ini, dan bagian-bagiannya yang sangat menggairahkan. Membuat Sasuke tak bisa mundur lagi. Tak peduli konsekuensi apa yang akan timbul setelah ini. Sungguh ia tak peduli.
Sasuke melebarkan kedua kaki Ino. Kewanitaan gadis itu dengan sangat kurang ajar membuat tubuhnya kian panas. Ereksinya sangat tersiksa terhalang celana.
Sasuke dengn segera membuka celana sialan itu. Memperlihatkan tubuh atletis dengan bagian bawah yang sudah sebegitu keras dan tegak. Ino merona melihat pemandangan Ino. Ah, bagian bawahnya terasa lembab.
Sasuke mencium bibir Ino kembali. Mencumbunya dalam dan panas. Tangannya bergerak semakin ke bawah sana. Menemukan lembah kenikmatan yang saat ini tengah siap menerimanya.
Sasuke menusukkan jarinya ke dalam. Menjajal apakah vagina itu sudah benar-benar siap menerima penisnya yang besar.
"Ahh.. Ohh... " Ino tak dapat menahan desahannya. Jari-jari Sasuke semakin liar memasuki kemaluannya. Membuatnya tak tahan lagi.
Cukup sudah pemanasan ini. Penis Sasuke serasa akn meledak jika tak segera ia benamkan dalam tubuh Ino. Dengan sekali hentakan, Penis itu telah masuk sepenuhnya. Ah, rasanya sangat sulit didefinisikan.
Otot-otot kewanitaan Ino benar-benar mencengkram penisnya. Seakan ingin meremasnya habis. Sasuke tak tahan untuk tak bergerak. Dengan cepat, ia melakukan pergerakan. Bibirnya mengatup erat, menahan erangannya. Tentu ini bukanlah hal baru bagi Sasuke, namun entah mengapa melakukannya dengan stranger cantik terasa sangat berbeda dan berlipat kali lebih menggairahkan.
"Sasuke-sanh.. ahh..." mendengar namanya didesahkan Ino, membuatnya semakin hilang kendali. Sasuke bergerak dengan kasar dan liar. Membuat dada Ino berguncang hebat. Melihat pemandangan itu, membuat tangannya tak ingin tinggal diam. Diremasnya dengan gemas kedua gundukan daging yang terasa kenyal itu. Ino megap-megap merasakan gelenyar kenikmatan di tubuhnya akibat ulah seseorang yang bahkan ia hanya tau sebatas nama saja.
Suara deritan ranjang dan napas yang mendesah hebat menjadi musik pengiring kegiatan panas mereka malam itu. Bukankah Sasuke sempat ingin mengantar Ino pulang, serta gadis itu berniat ingin pulang sendiri? Namun kini mereka berakhir di kamar pemuda itu dan berbagi kehangatan. Sudahlah, tak ada yang tahu bukan takdir akan membawa mereka kemana?
Merasa akan mencapai puncaknya, Sasuke buru-buru melepas penyatuannya, begitu pula Ino yang juga telah 'sampai'. Sasuke merasa lega setelah pelepasannya. Ia memilih membaringkan diri di sebelah wanita yang baru saja ia cumbu itu. Sang pria menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. Ino mengeratkan selimutnya, matanya memberat. Ia lelah dan mengantuk. Ino memposisikan tubuhnya menghadap Sasuke yang saat ini juga tengah berbaring ke arahnya. Mereka nampak sama, berantakan.
Tempat tidur saat itu...
Datanglah saat kau lelah...
Cukup tidurlah...
Aku memiliki semua yang kau butuhkan...
Sasuke terganggu dengan sinar matahari yang dengan jahil mengganggu tidurnya. Mau tak mau ia harus bangun, dan teringat dengan Ino. Namun nihil. Di sisinya tak ada siapapun. Ah, apa benar gadis itu pencuri? Sasuke mengecek barang-barang di rumahnya. Namun semua aman. Tak ada yang hilang ataupun bergeser dari tempat awal. Sasuke lantas mengecek pakaian Ino yang sebelumnya ia keringkan. Tak ada. Gadis itu pergi. Namun, ia menemukan secarik kertas yang dijepit di hanger baju Ino sebelumnya.
'Terima kasih Uchiha-san, karena telah menolongku. Dan maaf karena tidak berpamitan sebelumnya.'
Ya, sudah seharusnya seperti ini dari kemarin. Tapi Sasuke merasa kesal karena Ino pergi begitu saja. Bahkan Sasuke tak tahu Ino tinggal dimana. Jujur saja Sasuke tertarik dengan gadis itu. Gadis itu sekaan menyihirnya. Sasuke mengacak rambutnya kesal. Mungkin memang harusnya begini. Ino tak lebih dari seorang gadis asing yang melakukan sex dengannya. Hanya itu.
Sasuke menjalani harinya seperti biasa. Terima kasih karena jadwal pemotretannya yang padat, Setidaknya ia sedikit melupakan gadis misterius itu.
Sasuke melepas sepatunya asal. Tubuhnya sangat lelah. Ia menuangkan segelas air putih dan menenggaknya sekaligus. Ketika ia hendak membersihkan diri, suara ketukan terdengar beberapa kali dari pintu rumahnya. Siapa pula orang sinting yang tengah malam bertamu? Sasuke memilih tak menghiraukannya. Namun ketukan itu masih kembali terdengar. Pada dasarnya tubuh Sasuke lelah, dan pikirannya pun ikut lelah, membuatnya dengan emosi menghampiri pintu yang terus diketuk itu berniat ingin memaki-maki si pengetuk. Siapapun disana sungguh ini sangat menjengkelkan.
Daun pintu terbuka, menampilkan Ino yang berdiri di sana. Melempar senyum manis pada Sasuke. Rasanya seperti de javu namun dalam situasi yang berbeda.
Sasuke berdiri mematung. Tak percaya akan apa yang ada di depannya. Benarkah Ino? Gadis itu? Ino nampak berkali lipat lebih cantik dari sebelumnya. Entah itu nyata atau memang karena Sasuke diam-diam merindukannya.
"Maaf, apa aku boleh masuk?" Kali ini entah mengapa Ino seperti sedikit lebih berani dari sebelumnya.
Dengan segera Sasuke menggeser tubuhnya dari depan pintu, memberi jalan Ino untuk masuk.
Ino meneliti rumah Sasuke. Masih sama, seperti saat ia kemari waktu itu. Rapi dan bersih. Kini keadaan berbalik, Sasuke mengekor di belakang Ino. Seakan wanita itu ialah sang pemilik rumah.
Tentu rasa penasaran Sasuke mengapa wanita itu datang ke rumahnya pada tengah malam seperti ini kalah besar dengan rasa bahagianya karena dapat bertemu dengan Ino lagi.
Ino menghampiri tempat dimana Sasuke berdiri. Gadis itu mendekat, memeluk tubuh Sasuke kemudian. Sasuke balas memeluknya dengan erat. Ya, Ino juga merindukannya. Ia tak sendirian.
Sasuke menangkup wajah Ino. Mencecap kembali bagaimana manisnya rasa bibir sensual si gadis. Ah,rasanya masih sama. Masih sangat memabukkan dan seperti candu. Sasuke mendorong Ino hingga terduduk di sofa di belakangnya. Sasuke lantas memerangkapnya dalam dekapan posesif tak ingin Ino pergi.
Tentu sudah jelas bukan bagaimana selanjutnya mereka berakhir. Mereka saling memberi dan menerima. Mengobati rasa rindu yang anehnya kian terasa besar bahkan setelah mereka bertemu kembali. Rasa lelah Sasuke sirna sudah. Diganti dengan begitu besar keinginannya untuk memiliki Ino. Biarkanlah setidaknya malam ini mereka bersama lagi.
Ino mengerjapkan matanya. Hari masih sangat gelap. Jam masih menunjukkan pukul 3 pagi. Ino memandangi wajah Sasuke yang damai dengan napasnya yang teratur. Setidaknya mereka baru tidur selama kurang lebih satu jam setelah kegiatan panas mereka tadi.
Tangan Sasuke memeluk perutnya dengan erat, mungkin pemuda ini takut Ino menghilang lagi. Dengan perlahan, Ino memindahkan tangan Sasuke. Dirinya beringsut turun dari ranjang dan memakai pakaiannya kembali.
Kali ini,Ino tak menuliskan pesan sperti sebelumnya. Sasuke akan terbiasa dengan ini.
Ino memandang langit yang masih gelap. Bintang-bintang nampaknya enggan memperlihatkan diri. Seketika muncul sayap di punggung gadis itu. Sayap itu berwarna putih, lalu mengembang lebar. Gadis itu lalu terbang, entah kemana. Meninggalkan beban yang lebih berat pada pria yang baru saja ia temui itu. Ino pasti kembali. Pasti. Karena ia mencintai Sasuke.
Flashback end
Sasuke menuangkan kembali cairan berwarna coklat terang itu ke dalam gelasnya. Meneguknya dengan sekaligus. Ia berharap ia bisa pingsan. Namun kenapa sangat sulit?
Sejak saat itu, Ino belum juga mendatanginya. Sedangkan dia dengan bodohnya membiarkan gadis itu pergi lagi tanpa sempat tahu dimana tempat tinggalnya. Yang bisa Sasuke harapkan sekarang hanyalah Ino datang kepadanya lagi. Ia akan memarahi gadis itu. Pasti.
Aku sekarat karenamu...
Kamu seorang pembunuh...
Kesadaranku, menonjokku...
Temanku menyebutmu mantanku...
Namun aku ingin mengucapkan dengan cara yang lebih seksi...
Ditengah kesadarannya yang hilang, Sasuke mendengar ketukan beberapa kali di pintu rumahnya. Entah itu hanya khayalan atau sungguhan ia tak peduli. Dengan terburu Sasuke menghampirinya, berharap jika itu adalah wanitanya. Tubuh Sasuke limbung, ambruk ketika ia hampir saja meraih pintu itu. Padangannya buram, menggelap seketika.
"Kau kah itu, Ino?" Sasuke bergumam di tengah ketidaksadarannya.
-BODY by MINO
End
