Polaroid, kata itu pastinya sangat tidak asing bila dikaitkan dengan dua hal. Pertama, jelas saja dalam dunia fotografi. Sisanya, sesuatu yang berhubungan dengan vintage. Mungkin pernyataan terakhir agak membuat sebelah alis terjungkit ketika membacanya, aneh. Akan tetapi, cobalah perhatikan foto-foto di dunia maya dengan tag khusus old-stayle tersebut, maka pasti menemukan benda ini sebagai salah satu esensi pelengkap gaya.

Namun, tahukah kau, kadang cinta pun memiliki sifat cepat saji yang sama seperti kerja kamera itu?

Contohnya…


Diclaimer: Jujutsu Kaisen miliknya Gege Akutami.

Gnre: Romance, Humour.

Min Chara: Gojo Satoru, Inumaki Toge.

Warnings: DLDR. OOC-ness, alternative universe, agedown!Satoru, serta seperti kebanyakan peringatan dalam fanfiksi yang telah ada sebelumnya.


Polaroid

Gojo Satoru tertunduk lesu, tapi kakinya tetap menciptakan derap-derap untuk melangkah. Padahal ini masih pagi, di mana sewajarnya manusia seusia dirinya harus dalam keadaan segar-bugar sebelum menerima siksaan dosen dalam bentuk ujian. Entah bagaimana kabarnya beberapa jam kemudian, setelah sukses didera kuis dengan soal-soal yang mampu diibaratkan hanya dewa yang mampu menyelesaikannya.

Sialnya lagi, Satoru lupa memakai sun-glasses favoritnya.

Mencoba menyegarkan indera visual dengan melihat-lihat sekitar, tersenyum ambigu begitu memandangi sekumpulan bunga hortensia yang sedemikian memikat atensinya. Mendadak menghentikan tapakan, bukan untuk benar-benar mengamati tanaman tersebut, tapi disibukkan oleh mulutnya yang ternganga lebar karena menguap. Tidak tahu apa yang terjadi padanya semalaman, hingga kekurangan tidur seperti sekarang ini. Aah, berpikiran positif saja, mungkin anak laki-laki pemilik rambut platinum silver itu asyik belajar sampai lupa waktu.

Kendati realitanya…

"Aku sibuk menaikkan stage-ku semalam!" jawaban tersebut terlontar gampang, waktu seorang teman di kursi sebelah menanyakan alasan mengapa kantung netranya menyerupai mata panda. Tidak, ini tentunya bukan level melahap ilmu yang dia tingkatkan. Namun, permainan via online yang membius otak, sampai lupa segala-galanya – termasuk masalah ulangan akhir semester. Lelaki itu juga mengaku kalau berdeterminasi penuh buat menyelesaikan seluruh tantangan dalam 24 jam.

Benar saja, ketika ujian berlangsung, dalam pengerjaan soal pilihan ganda, dia hanya bisa bergantung pada kemurahan hati sahabat di dekatnya, juga tidak lupa pada kebaikan Tuhan untuk memberinya sebuah door prize berupa keberuntungan. Fokus pikiran Satoru cuma satu, segera pulang ke rumah buat melanjutkan aktivitas sleeping (not) handsome, lalu meneruskan aksi di depan komputer. Materi abu-abu dalam kepalanya sudah keracunan, toksin telanjur menjalar di mana-mana.

"Thanks, Suguru!" ujarnya di luar ruangan, saat bel tanda ujian selesai berdentang nyaring. Ia memang harus mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada sahabatnya satu itu. Bagaimana tidak, lebih separuh jawaban yang Satoru terima, didapatnya dari pemuda yang dikenalnya dari zaman mereka sekolah dasar. Lantas tersenyum sumringah, tatkala menerima saran untuk menghentikan kegilaannya pada permainan dunia maya.

Sialan! Satoru hanya menanggapi dengan acungan jempol dan kedipan mata jahil.

"Akan kupikirkan caranya," tuturnya tak lama, waktu orang yang sama makin memerpanjang ceramah buat meninggalkan life style-nya yang amat merugikan ini. Lantas, seenaknya menerapkan jejak langkah menuju pulang ke rumah. Melewati jalan yang sama, mendapati pemandangan yang itu-itu saja, dan tidak ada kejadian yang membuatnya berpikir untuk sekedar menghentikan gerak kaki – termasuk menguap. Sampai pada akhirnya, secara otomatis betis Satoru tak lagi mampu meneruskan tapakan.

Di sana, berjarak tidak sampai sepuluh meter darinya, retina mata biru langitnya menemukan satu sosok (asing) sedang berdiri di samping kumpulan bunga hortensia yang tadi sempat mencuri atensinya. Anak lelaki yang imut sekali, Satoru baru kali ini melihatnya. Mungkin orang itu baru saja pindah ke daerah sini, atau memang dia yang kurang memerhatikan sekitarnya. Sesaat indera visual mereka bertemu, dan…

Satoru terkesima oleh iris mata yang cantiknya mengalahkan padang bunga ungu tersebut.

Sampai sosok yang bersangkutan mengalihkan pandangan, ia tetap diam mengamati, dan sebuah ransangan aneh yang tak dapat dikendalikan lagi menghasutnya agar mendekati objek observasi. Tepat berdiri di belakang sang pemuda, masih agak ragu Satoru untuk menegur. Hilang sudah skema indah tentang tidur dan game, kini yang berada dalam benaknya hanya mengetahui nama si orang (menawan) ini.

Agak terkejut ketika dengan mendadak lelaki itu membalikkan tubuhnya. Semerta-merta memberi delikan netra skeptis tanda merasa terusik – sepertinya sadar kalau dari tadi diamati. "Maumu apa?" kraaak! Hancur harapan untuk mengetahui namanya, Satoru malah menerima satu kalimat interogatif yang terlisan begitu sarkastis. Alih-alih menjawab, dia malah terkekeh renyah sembari menggaruk-garuk tengkuknya. "Ini, mata –"

"Memangnya ada apa dengan mataku?" tanpa menyelesaikan tanya, serta-merta makhluk Adam di hadapannya itu menyela ucapan Satoru. Ampun, galak sekali! Beberapa saat, dia kehilangan suaranya untuk sekadar kembali tertawa-tawa ringan. Manis, setidaknya inilah penilaian kedua setelah peringai buruk si pemilik iris ametis yang dimaksud.

Ia sedikit menggeleng, lanjut menampilkan sunggingan yang dirasanya terbaik. Bukannya menerima tanggapan berupa respons yang sama, sang pemuda imut yang tingginya cuma sepundak Satoru dengan seenaknya berlalu. "Sebaiknya, kau pulang. Tidur sana. Matamu lebih mengerikan daripada panda yang ada di kebun binatang!" saran darinya terlontar, seraya tetap berjalan menjauhi.

Alih-alih menerima gagasan tersebut begitu saja, lelaki itu seloroh mengejar langkah sosok menggemaskan di depan sana. Tentu dengan mudah menyusulnya, dan secara impulsif Satoru menanyakan satu hal penting, "siapa namamu?" dia yang mendapat tanya tak memberikan jawaban apa-apa, entah si ametis anonim ini sedang jual mahal atau memang sifat cuek telah mendarah daging dalam dirinya.

"Heei, aku tanya, Moyashi-kun…!" anak Adam ini cuma asal bicara, karena tinggi badan orang yang bersangkutan dianggapnya menyerupai kecambah. Bagai mantra yang dapat menghentikan pergerakan tubuh seseorang, tiba-tiba saja sosok tersebut mengurungkan niatnya melangkah lebih jauh. Menatap Satoru yang sekarang memberikan pandangan bingung, sedetik kemudian, pemuda itu tersenyum ambigu. Bahkan, ia tertawa kecil.

Bersamaan dengan itu, panah imajiner dewa Cupid menancap tepat di dada Satoru.

"Kalau sudah tahu, untuk apa bertanya?"

Satoru sukses dibikin gagal paham, "hah?! Maksudnya?"

"Toge."

Maaf, lelaki berusia dua puluh dua tahun itu semakin bingung. "Moyashi? Toge? Mana yang benar, sih?"

"Toge. Hanya saja dalam bahasa Indonesia, moyashi berarti toge."

Seusai memberi penjelasan demikian, Toge main berlalu begitu saja. Kali ini Satoru tidak mengikutinya, karena statis di tempat memikirkan kata-kata yang barusan diterimanya. Maklum, kinerja otaknya memang lagi sangat payah. Sampai saat dia mengerti, si Moyashi imut sudah mempunyai jarak yang sangat jauh darinya. Menepuk keningnya, menggeleng-gelengkan kepala, nyaris tertawa seperti orang gila.

"Besok, lusa, terserah kapan, kutunggu kau di sini, Toge!" dari spasi yang begitu jauh, tentu saja dia harus mengeraskan suaranya. Entah teriakan ini terdengar atau tidak pada insan yang dimaksud. Sedetik kemudian memukul jidatnya lagi, sebab lupa memberi tahu siapa namanya sendiri. Sosok itu telah menghilang dari jangkauan pandang, dan Satoru bergegas melanjutkan kakinya menuju pulang. Bukan untuk tidur, tapi cepat-cepat menelepon Suguru guna menceritakan kejadian (fantastis) barusan.

Memangnya, hanya para gadis saja yang bisa curhat-curhatan?!

Bukan cuma itu, ia juga jadi bertekad keras untuk tak lagi menggunakan waktu tidurnya buat bermain game. Sebab, laki-laki ini tidak mau bertemu Toge dengan mata jeleknya, juga khawatir loading otaknya selambat tadi, membuatnya telat mengambil keputusan cerdas. Harusnya Satoru bersikukuh saja mengikuti ke mana arah tujuan si ametis mungil menggemaskan.

Well, faktanya, Satoru merupakan tipikal manusia yang bisa melakukan dan mendapatkan apa pun. Selama benar-benar menempatkan fokus serta tekad, tak ada yang mustahil baginya. Oleh sebab itu, masalah memerbaiki pola tidur bukan sesuatu yang harus dipusingkan. Apalagi determinasinya sekeras batu karang yang diterjang ganasnya ombak lautan. Ampun… memang, dia sudah jatuh cinta!

Yaa, semudah ini.

Seminggu kemudian Tuhan kembali memberikan kesempatan pada kondisi cuaca, tempat, suasana yang persis sama saat pertama kali melihat sosok tersebut. Kali ini Satoru takkan membuang peluang sekadar mengamatinya seperti predator yang siap menerkam mangsa. Cepat-cepat mendekati Toge, berdiri di sampingnya yang memandangi bunga-bunga bermahkota ungu itu.

"Namaku Satoru," ucapnya sembari mengajak bersalaman, yang tidak langsung disambut lawan bicaranya. Terlebih dahulu Toge melihatinya dengan mendetail, sebegitu defensif menyilangkan lengan di depan dada. Lambat-laun, tangan pun bergerak untuk menggenggam jemari laki-laki (asing) ini, tak perlu lagi membalas kalimat tersebut, pasalnya orang yang barusan mengenalkan diri telah mengetahui namanya dari tujuh hari yang lalu.

"Ooh, iya. Aku jatuh cinta padamu, by the way."

Spontan lelaki itu menarik tangan, serta-merta pergi meninggalkan Satoru yang tetap dalam posisi seperti menjabat seseorang. Kali ini ia tak slow reaction lagi, dengan tanggap mampu menyetarakan jejak kaki di sebelah Toge. "Mataku sudah tidak panda lagi, nih. Coba lihat!" katanya sambil menurunkan sun-glasses, dan orang yang diajak mengobrol hanya mengangguk pelan sebagai respons non-verbal.

Toge menduga ada yang tidak betul pada lak-laki ini, mungkin Satoru butuh lebih banyak istirahat.

Apa perlu memberikan saran buat pergi ke psikolog sekarang?

Sayangnya, Satoru tak salah; ia benar.

Karena, jatuh cinta itu memang bisa seperti polaroid… instan!

Yaa, seperti dalam kasus ini, love at first sight.

Finish


A/N: Hello! Kali ini saya datang kembali dalam usaha memerbaiki mood kacau-balau. Kemarin pagi saya menerima kabar duka, bahwa paman saya meninggal dunia dengan mendadak. Semenjak beliau bisa dikatakan orang tua saya yang lain, saya benar-benar merasa kehilangan, dan jadi terbawa perasaan sedih. Apalagi chapter 137 JJKS yang begitu sekali. Ooh, maaf, jadi curhat di sini.

Seperti yang lalu-lalu, ide cerita ini sudah pernah dikerjakan. Cuma karena akhir-akhir ini saya berkeinginan memerbaiki fanfic-fanfic lama, maka saya putuskan memilih plot yang pernah dikerjakan dengan hasil yang kurang memuaskan. Lagipula, saya sendiri memang geregetan mau masukin bagian moyashi itu dalam bahasa Indonesia berarti toge. Dan sepertinya fanfic ini mengakhiri proyek revisi (?) saya. *peace-sign

Terakhir, seperti biasa, semoga fandom JJKS makin ramai, khususnya arsip-arsip (GoToge) yang berbahasa Indonesia.

Terima kasih telah menyempatkan untuk membaca. Bersediakah buat memberi review? Saya tunggu.

Salam,

M0N.