LABYRINTH
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
"This is one of the two great labyrinths into which human minds are drawn: the question of free will versus predestination."
― Neal Stephenson
.
happy reading!
.
Pulang adalah aksi yang tak pernah kulaku selama bertahun-tahun menuntut ilmu. Sebab tanah rantau agaknya lebih cocok untukku ketimbang empat dinding yang pernah kusebut rumah itu. Dengan populasi yang bahkan tak benar-benar awas akan eksistensiku, aku bisa sepuasnya menempa diri untuk menemukan jati yang kucari. Namun kala itu, lantaran satu dan lain hal, aku kembali ke kota kecil yang mulanya kukira tak bisa menawarkan apa-apa.
Berada disana, aku tentu tahu bahwa masa lalu yang tak pernah sedetik pun kulupa akan tampak nyata di depan mata. Mulai dari bayangmu yang pekat melekat di tiap-tiap sudut kota, hingga usang rajut memori kita yang selalu muncul bak fatamorgana di waktu-waktu yang tak terduga. Akan tetapi sore itu, ketika ada kelebat bayangmu di antara buku-buku, aku tahu dengan pasti bahwa pikiranku tidak sedang menggila dan kamu yang berdiri disitu bukan sebatas realisasi dari mimpiku.
Ada cekat yang bertandang di tenggorokanku, membuat seisi rongga mulutku kering sementara lidahku berubah kelu. Pelarian kecil dari kesibukan di tanah rantau yang kuambil lepas masa studiku usai, tak kusangka justru berubah menjadi momen dimana kotak kenangan ditarik paksa naik ke permukaan. Dan dengan eksistensimu dalam radius yang tak seberapa jauh itu, aku tahu ada pemikiran yang harus kucerna ulang. Sebab fakta bahwa kota itu tak bisa menawarkan apa-apa agaknya salah dalam kalkulasiku. Masih ada hal yang mampu ia tawarkan. Mungkin memang bukan untuk memuaskan ambisiku, tetapi satu yang mampu membebaskan pasung di jiwaku—kamu.
Ah, dan betapa takdir ternyata punya cukup humor untuk mempertemukan kita dan bisa jadi membukakan jalan untukku.
Lepas tahun demi tahun berlalu, kita tak lagi terjebak dalam tubuh sepasang remaja. Kamu yang kini tertangkap oleh netraku sudah jauh lebih matang dari gadis yang terekam di balik tempurung kepalaku. Meski sepasang ametis itu tetap tak berubah, namun postur mungil gadis muda yang kerap kali sembunyi di balik surai indigonya sudah hilang nyaris sempurna. Bertransformasi menjadi wanita dewasa yang bersinar bahkan tanpa harus melakukan apa-apa.
Berjalan dalam langkah-langkah ringan, kamu menyusuri satu demi satu rak buku tanpa sadar akan kehadiranku. Sedang aku, yang masih terhipnotis dengan situasi di antara kita, mengekorimu dalam langkah-langkah kaku. Rasanya seperti menjadi seorang penguntit ulung, menjadi bayanganmu bahkan tanpa kamu tahu. Akan tetapi hancur sudah aksiku ketika kamu menoleh ke belakang dan mata kita bertemu pandang. Imajiku lebur, baur dalam realita yang kucoba cari dalihnya.
Dengan ekspresi lucu yang naik di wajahmu saat menatapku, aku tahu kamu pun sama terkejutnya. Dan meski hal itu mencipta gelombang hangat juga cekat di dada yang lama tak kurasa, aku berusaha mengesampingkannya. Kita memang tak lagi bertemu sebagai dua remaja yang dimabuk cinta, sebab aku bahkan tak yakin kamu masih menyimpan secuil rasa meski itu hanya ada di tepi ruang rindu saja. Namun jika memang harus beralasan supaya bisa menahanmu lebih lama, sebagai dua orang dewasa, kupikir kita bisa saling menyapa.
Mengambil satu langkah mendekat ke arahmu, debar jantungku berpacu dengan membabi buta. Bisingnya bahkan mencipta talu yang terdengar hingga ke telinga. Aku tak tahu apakah kamu merasakan hal yang sama, tetapi ini tak ubahnya dengan malam-malam yang pernah kita habiskan berdua berjalan-jalan di taman kota ketika sedang berbagi romansa. Kenangan manis masa muda agaknya bisa membuatku sakit gula. Tetapi ketika melihat canggung juga rona malu di pipimu, bolehkah kuharap itu pertanda bahwa bukan hanya aku yang bergantung pada masa lalu di sore itu? Entahlah.
Kita berpandangan dalam keheningan. Tak ada kata, meski jelas asa menggantung pekat di udara. Sebagaimana kerinduan itu perlahan memenuhi rongga dadaku, kurasa aman untuk berkata bahwa dalam sorot matamu ada sendu yang tak kunjung layu. Dan di sela pendulum waktu yang laun melaju, entah bagaimana sorot itu menghipnotisku.
Dua patah kata yang terlontar dari bibirku kemudian adalah bukti, bahwa terlena dalam sayu pijar netramu selalu mampu membuat kebodohan menjadi lebih dominan ketimbang rasionalitas yang selalu kujadikan acuan. Betapa dari sekian banyak topik yang bisa kubuka juga basa-basi yang dapat kusuara sebagai sapa, justru malah tanya itu yang meluncur ke udara—"Apa kabar?"
Kamu tampak terkesiap, tetapi sejurus kemudian bibirmu melengkungkan senyuman. Menyelipkan sejumput rambut ke balik telinga sebagaimana yang selalu kamu lakukan tiap kali punya kekhawatiran, kamu menjawabku kemudian.
"Aku… baik," jawabmu, separuh ragu. Lalu sepasang ametis itu mengerjap beberapa kali, seolah masih tak bisa menerima fakta aku benar berada disana. "Bagaimana kabarmu?"
Tanyamu beresonansi dalam benakku. Dan alunan merdu yang tak pernah kukira ternyata sebegini parah kurindu itu agaknya baru saja menghancurkan dinding pertahananku. Picisan yang mulanya kupikir telah terkubur jauh ternyata hanya lelap di salah satu bilik lusuh. Satu yang hanya dengan manis suaramu segera bangun bahkan tanpa harus disuruh.
Mengangguk kaku dan mengupayakan segaris senyum, aku menjawab pertanyaanmu sebagaimana kamu menjawab pertanyaanku. Kita bertukar pandang lagi kemudian. Keheningan di antara kita perlahan menguarkan kecanggungan, dan binar yang tak teridentifikasikan dalam pijar permata bulanmu seolah berkata bahwa kamu ingin hilang ditelan bumi saja ketimbang harus terjebak dalam pusaran waktu bersamaku. Menyakitkan. Apakah kini aku tampak seperti jelmaan penyakit menular yang perlu kamu hindari keberadaannya?
Akan tetapi sebutlah aku tak tahu diri, sebab sekali pun aku menangkap hal itu, aku tak ingin kamu segera pergi dan berkeras mempertahankan basa-basi. Membawa langkah mendekatimu sekali lagi, aku berjudi dengan keadaan. Kamu tidak tahu betapa bersyukurnya aku ketika semua berjalan sesuai mauku: kecanggungan yang lenyap seiring waktu juga kamu yang mau menanggapiku.
Kita bicara tentang hal-hal superfisial disana. Tentang bagaimana studimu dan kelangsungan hidupku. Tentang keseharianmu dan mekanisme bertahanku. Serta banyak hal-hal sejenis itu yang tak bisa kusebutkan satu persatu. Namun di sela-selanya, sesekali ada tawa yang kau suara. Alunan merdu yang selalu kupuja dan betapa itu membuatku ingin merengkuhmu segera. Tetapi siapalah aku, cuma keping dari masa lalumu.
Menemanimu menyusuri satu persatu rak di toko itu hanya untuk sebuah buku yang isinya bahkan tak bisa otakku mengerti ternyata memakan banyak waktu. Sebab tanpa terasa sepeninggal kita dari dalam sana, ternyata mentari telah meninggalkan kota. Dengan berat hati, karena agaknya pertemuan kita harus terhenti, aku hendak menawarkan diri untuk mengantarmu kembali. Namun bila mana entitas yang lebih besar dari kita itu benar adanya dan ia mendengar doaku, pastilah ini hadiah darinya—sebab seketika itu juga kudengar perutmu bersuara.
Kamu jelas tak hanya menahan dahaga melainkan juga rasa lapar sepanjang pertemuan kita. Dan kini, karena tak lagi mampu ditutupi, rona malu yang menyebar di pipimu membuatku ikut mengulum senyum. Ternyata gadis pemalu yang kukenal bertahun-tahun lalu tetap meninggalkan jejaknya di dalammu.
"Makan malam?" usulku, masih dengan kepak sayap kupu-kupu di perut yang tak kunjung layu. Lalu dengan gestur yang kembali malu-malu, kamu mengangguk sembari memeluk buku.
Kita pergi ke kafe terdekat pada akhirnya. Satu yang sialnya membawa kecanggungan lantaran tempat itu merupakan saksi sejarah kita. Aku ingat betul, dua bangku dari tempat yang kita duduki saat ini, adalah tempat dimana kita seringkali menghabiskan waktu di akhir pekan. Kadang dengan setumpuk tugas yang tak kenal kata bebas, atau kadang dengan sebuah buku yang sama kita baca untuk didiskusikan di akhir waktu. Masa-masa itu seolah telah berlalu lama sekali. Dan betapa aku bersedia menukar keping keberuntunganku bila bisa mengulangnya lagi. Sebab ambisiku ternyata tak pernah jauh lebih berharga darimu, rasa rendah diriku tak seharusnya mengambil kendali atas perlakuanku.
Makanan datang tak lama berselang. Pelayan yang mengantarnya masihlah sama seperti dahulu kala. Ia menyapa kita berdua, bertanya tentang kealpaan yang berlangsung amat lama, dan betapa ternyata romansa masa muda mampu bertahan sedemikian jauhnya. Itu pernyataan yang salah, memang. Namun kita tak bisa berkata-kata, alih-alih malah sama tersenyum dan menggumamkan kata terima kasih seiring kepergiannya. Lalu sejurus setelah itu, matamu memenjara mataku. Sendu disana kian mendayu-dayu, bolehkah aku menanam harap bahwa kamu pun ingin kembali ke masa lalu?
Kita menghabiskan makanan dengan tenang. Percakapan yang berlangsung pun masih sama menyenangkan sebelum-sebelumnya. Sekali pun kecanggungan masih membayangi kita, namun kali ini kamu jauh lebih terbuka. Topik silih berganti tanpa jeda, mulai dari kabar teman-teman kita dari masa sekolah, hingga cita-citamu yang kini hanya sekedip mata jauhnya.
Aku tak banyak berkomentar, lebih memilih diam dan mengabadikan tiap detail ekspresimu malam itu. Sementara hati kerap larut dalam tanya—seperti apa jadinya bila kita tak pernah berpisah? Akankah di sela-sela waktu kita menyisihkan temu lalu bercengkerama seakan tak pernah mengenal sedu?
"Ah, maaf, ceritaku pasti terdengar membosankan, ya?" ucapmu di satu waktu, membuyarkan lamunanku. Kamu merona untuk yang kesekian kalinya hari itu, lagi-lagi bersemu dalam malu. Menyelipkan sejumput rambut ke balik telinga, lalu kamu berpura-pura memandangi lukisan di sebelah kita seolah itu mahakarya artis kenamaan.
Tersenyum, aku menggelengkan kepala. Mungkin terdengar seperti tengah merayu, tapi sungguh ini isi kepalaku, "Tidak ada yang membosankan bila itu datang darimu."
"Padahal aku yakin hidupmu disana jauh lebih menyenangkan," timpalmu kemudian, separuh tak percaya dan separuh bercanda. Dengan bibir yang mencebik lucu dan sebelum sempat menggigit sepotong cinnamon rolls, kamu melanjutkan lagi—kali ini kelihatan dalam dan lamat, "semua yang ada disini cuma potongan-potongan masa lalu, sekali pun kau bilang tak membosankan, pastilah mereka tak lebih dari nostalgia yang menyegarkan."
Aku ingin membantahnya, bahwa sekali pun akhirnya aku berhasil menapaki puncak yang kumau, tetapi segala hal yang ada disana terasa fana. Alih-alih menemukan bahagia, kurasa selama ini aku hidup dengan harapan tak merana. Namun momen di antara kita itu berlalu begitu saja. Topik bergulir lagi, dan kamu untuk yang kesekian kali tampak hidup dalam binar cahaya bahagia ketika bercerita. Pengakuanku mungkin tak akan ada artinya. Maka biarlah malam ini berlalu dengan kamu sebagai bintangnya, sedang aku yang redup lebih dulu mengamati pijarmu dengan harap kelak dapat berhenti menenun rindu.
Kita larut lagi dalam percakapan, kali ini tak seberapa lama. Karena kemudian ada panggilan yang mengharuskanmu kembali ke rumah sakit alih-alih pulang ke rumah dengan ranjang yang nyaman. Katamu, itu tidak mendesak, tetapi aku tidak ingin menjadi penghambat. Masa studimu yang nyaris berakhir menyisakan serentetan tanggung jawab yang perlu ditempuh dalam jenjang profesi, dan aku mengerti. Sebagaimana aku pernah mendahulukan citaku atas segalanya, tak sepantasnya aku mengesampingkan mimpimu. Maka kita beranjak dari kafe kecil yang menyimpan segudang kenangan masa lalu itu, dan dengan begitu keras kepala aku memutuskan mengantarmu.
Berkendara di jalanan yang lengang lagi-lagi membuatku kembali membuka kotak kenangan. Betapa pada tiap-tiap sudut kota terpatri momen antara aku dan kamu yang tak akan pernah hilang dari memori. Dan seolah sengaja memupuki kegundahanku yang berkelana dalam samudera masa lalu, kamu bicara seolah menabur garam pada luka terbukaku,
"Kamu ingat dulu kita pernah berteduh di halte itu?" tanyamu sambil menunjuk halte di kanan jalan, kelihatan antusias saat mendapati halte reyot yang tak pernah diperbarui oleh pemerintah masih mampu berdiri. Ada tawa di ujung suaramu, sedang dari ekor mataku, bisa kudapati binar wajahmu yang berseri mengenang masa lalu. Setidaknya bila aku yang pecundang ini tak cukup berani untuk memperbaiki hal-hal di antara kita, paling tidak memori yang ada tak lagi meninggalkan derita.
"Ingat," sahutku, rendah. Senyum perlahan terbit di bibirku meski tetap ragu-ragu. "Itu karena kamu tidak percaya ramalan cuaca dan berkeras untuk tetap berkendara."
Kamu tertawa lagi, kali ini sembari menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin kamu tak percaya bahwa dulu kita memang dua remaja yang sama cerobohnya. Senyum pada akhirnya terulas di bibirku dengan sempurna. Iya, dua remaja yang katanya sedemikian dimabuk cinta hingga menyerah saja pada kecerobohan yang ditawarkan dunia.
Menepikan mobil di depan rumah sakit, aku menyiapkan diri untuk membiarkanmu pergi. Namun bukannya segera bergegas untuk cepat mengakhiri degup jantungku yang seolah menanti hukuman mati, kamu malah termenung. Jemarimu membebaskan tubuh dari sabuk pengaman, dan lepas merapikan barangmu agar tak ada yang tertinggal, sepasang ametismu menatapku, "Kapan kamu akan pergi lagi?"
Menggedikan bahu, aku menjawabmu, "Aku belum memutuskannya." Ada jeda yang tak kumaksudkan hadir di sela-sela kalimatku. Namun karena sudah terlanjur begitu, kubiarkan senyum yang mahir berpretensi ini menari di bibir sebelum kemudian menggodamu dengan canda, "Berharap aku lekas meninggalkanmu sendiri?"
"Kebalikannya," katamu, cepat. Betapa sepatah kata itu berhasil menyergapku, lebih-lebih ketika detik berikutnya kamu melanjutkan, "kuharap kita bertemu lagi."
Aku kehilangan kata-kata. Tetapi cukuplah ucapanmu membuat jantungku yang bertalu-talu kini semarak ikut serta dipenuhi kepak sayap kupu-kupu.
Dengan gerak lambat, aku melihatmu hendak mengambil ancang-ancang turun dari mobil lepas mengucapkan sepotong terima kasih. Namun waktu dimana kakimu memijak tanah tak kunjung datang juga. Alih-alih, kamu menutup kembali pintu yang telah kamu buka, dan bersama itu memusatkan atensi padaku seluruhnya. Dalam pendulum waktu yang terasa bergulir teramat lama, barulah kamu kemudian bersuara—separuh berbisik dalam tanya dan harap,
"Apakah kita sudah cukup dewasa?"
Aku mengerti seutuhnya kemana pertanyaan itu akan bermuara. Dan tak kusangka-sangka kamu bahkan mendahului aku yang pengecut ini. Meski kekalutan jelas terpatri dalam wajahmu, aku tak bisa menahan diri untuk tak segera mengulas senyum yang tak mengimbangimu. Sebelah tanganku bergerak begitu saja, menangkup pipimu yang terasa membara. Dua pasang mata yang kontras ini lalu beradu, dan kamu tidak akan pernah tahu, betapa hanya dengan pertanyaan itu, kamu telah menjadikanku lelaki paling bahagia di dunia, "Aku berjanji bahwa kini aku sudah membawa peta. Jika kamu mengizinkanku berkelana, maka aku tak akan melepasmu meski kamu meminta."
.
.
.
Fin
