Pair: Okkotsu Yuuta x Inumaki Toge.

Disclaimer: Ini karya fiksi hiburan semata. JJK Belongs to Gege-sensei.

Warning: AU. Bahasa tidak baku. Shounen-ai.

Selamat menikmati, khalayak FFN


Ada hal yang menarik dari tahun kedua di SMA bagi Okkotsu Yuuta.

Tidak lain merupakan Inumaki Toge, teman sekelasnya.

Ia pandai olahraga dan pintar dalam pelajaran. Rupa fisiknya menarik. Keluarganya terbilang kaya raya. Meski sangat pendiam, tingkahnya kadangkala jenaka. Kalau mau kenal lebih dekat, Toge adalah anak yang sangat baik. Tak sedikit anak perempuan yang menaruh hati dan anak laki-laki yang menaruh dengki.

Yuuta dan Toge mulai dekat semenjak cowok berambut platinum blonde itu mengantarnya pulang naik mobil selepas tugas kelompok. Ia menyetir sendiri. Mereka berkendara dalam hening yang nyaman dalam alunan lagu-lagu random berbahasa Inggris dari radio. Sesekali Yuuta melirik, canggung. Saat Toge sadar dirinya diperhatikan ia cuma menaik-naikkan alisnya atau memasang ekspresi konyol. Atau saat lampu merah ia akan berjoget-joget kecil. Yuuta terkekeh geli, dan Toge menyeringai bangga sudah berhasil membuat Yuuta terhibur.

Lucu mengetahui bahwa ternyata mereka banyak berbagi hobi. Toge senang baca manga dan novel fantasi, Yuuta juga dan ia pun mahir menggambar. Toge doyan makan, dan Yuuta rupanya handal memasak. Yuuta senang lagu-lagu indie folk dan Toge pandai main gitar. Tak jarang keduanya memutuskan pulang sekolah bersama, kembali berinteraksi dalam hening sejuk sambil bertukar waktu bersama.

Ada kenyamanan yang begitu mistis saat dirinya bersama pemuda pendiam itu.

Dalam lamunannya, Yuuta seringkali menggambar Toge. Wajahnya mudah digambar, dan parasnya yang ekspresif menyenangkan untuk digurat diatas kertas. Selera berbusananya juga modis, sehingga banyak referensi bagi Yuuta untuk menggambar model pakaian. Dalam jam olahraga saat pelajaran renang, Yuuta cukup minder melihat postur ramping Toge ternyata well-build. Otot-otot tubuhnya kencang, katanya hasil dari keseringannya main badminton dengan Maki dan Panda, anak-anak kelasan mereka juga. Membayangkan bagaimana lekuk badan Toge membuat Yuuta bisa lebih handal menggambar proporsi tubuh manusia dengan lebih akurat.

Sikap Toge yang begitu hangat padanya membuatnya semakin kerasan. Dan saat bersama Toge, Yuuta seringkali dibuat lupa daratan. Bagaimana bisa seorang anak yang pendiam bisa menciptakan dunia mempesona yang penuh dengan dirinya sendiri tanpa kesan angkuh? Bagi Yuuta, Toge terlihat seperti bulan purnama. Ia bersinar terang meski bersama ribuan bintang yang tak kalah indah. Dekat, namun sangat sulit untuk dijangkau. Orang banyak bergosip katanya Okkotsu memanfaatkan Inumaki untuk menikmati hartanya dengan dalih teman. Toge tidak memberikan bantahan meski rumor itu membuat Yuuta mulai dijauhi anak-anak kelasannya. Ia merasa tak enak hati saat anak-anak juga menghasut Toge untuk menjauhinya. Yuuta merasa ada ganjalan di dalam dadanya ketika memikirkan hal itu; maka ia terus menerus menggambar Toge guna menenangkan diri. Saat menggambar, Yuuta cenderung terlalu fokus. Terlalu fokus hingga ia menyangkal bahwa tumbuh perasaan lebih pada pemuda bersurai platinum blonde itu. Terlalu fokus hingga ia tak pernah bertanya apakah status pertemanan mereka masih terjalin meski Yuuta menarik diri. Terlalu fokus sampai Yuuta tidak pernah mempertanyakan bagaimana perasaan Toge saat dirinya menjauh.


"Kamu punya kelemahan nggak, sih?" begitu tutur Yuuta suatu hari dalam sesi belajar bersama mereka. Toge mengaku tak pandai akutansi dasar, lalu pemuda bersurai legam itu dengan senang hati menawarkan bantuan. "Kayaknya Tuhan pilih kasih banget waktu menciptakanmu, Inumaki-kun."

"Ada." jawab Toge. "Akutansi."

"Yang lain. Yang lebih bikin malu."

"Apa?"

"Misalkan, Inumaki-kun kalau tidur ileran atau ngoroknya kayak kodok sawah."

"Ada."

Cowok bermarga Inumaki itu terdiam, memilih menatap kotak-kotak dan deretan angka yang selalu membuatnya sakit kepala. Ekspresi wajahnya mendung, salah satu wajah yang hampir tak pernah dilihat Yuuta.

"Aku orangnya penakut." ujar Toge.

"Bohong." Yuuta menyembur. "Nggak ingat siapa yang selalu mengantarku ke toilet sehabis kita nonton Detention?"

"Bukan takut hantu."

"Terus?"

Toge mengepalkan tangannya. "Aku suka pada seseorang. Karena suka padanya, aku jadi takut."

"Hah? Gimana?" Yuuta mengerenyit.

"Aku takut tidak sanggup membuatnya bahagia." ujar Toge murung. "Aku takut segala yang kupunya tidak cukup untuknya."

Okkotsu Yuuta merasa dasar perutnya melintir mendengar penuturan tersebut. Nada cerita Toge begitu sedih. Ia pasti sangat menyukai orang ini. Sebagai sahabat, Yuuta ingin meringankan beban Toge. Lagipula, ia merasa tak pernah berbalas budi atas segala kebaikan yang ia terima dari pemuda pendiam itu.

"Tidak mau diajak pacaran?" ucap Yuuta.

Toge mengulum senyum. "Kalau dia nggak mau gimana?"

"Tahu darimana?"

Toge menggedikkan bahunya. "Tiba-tiba dia menjauh."

"Cewek memang gitu." Yuuta menepuk pundak Toge. "Mereka suka cowok yang berusaha lebih keras. Inumaki-kun suka banget dengannya?"

Toge mengangguk singkat.

"Kalau rasa sukamu lebih besar dari rasa takutmu, lebih baik utarakan rasa sukamu."

Ucapan tadi memang tulus untuk mendukung Toge, tapi Yuuta merasa lidahnya berdarah saat mengucapkannya. Ia tercekat begitu melihat pemuda bermanik amethyst itu tersenyum lebar. Senyum cerah gembira seperti yang sering ditunjukkannya saat membuat Yuuta terkesan atau tertawa. Senyum yang begitu menawan. Senyum yang selalu mengisi lembar-lembar buku sketsa Yuuta. Senyum yang sayangnya, bukan untuk Yuuta. Ia membereskan barang-barangnya dengan tergesa lalu bergegas meninggalkan Toge tanpa ucapan pamit. Yuuta ngeri dirinya luluh lantak di hadapan Toge, karena hatinya sudah porak-poranda saat mendengar orang yang selama ini menjadi titik fokusnya, seluruh dunianya, ternyata mencintai orang lain.


"Heh?"

Yuuta mengorek-ngorek isi tasnya dengan panik, mencari dimana buku sketsanya yang mendadak raib dari dalam tas. Ia bahkan menumpahkan isi tasnya ke meja, mencari dengan teliti namun tiada hasil. Perasaan panik merambati syarafnya. Pasalnya Yuuta menulis namanya di balik cover buku tersebut dan isinya hampir penuh—semua tentang Inumaki Toge dari berbagai sisi, gaya, sudut dan warna. Yuuta tidak mau dicap seorang maniak. Kalau Toge sampai tahu atau lihat, bisa-bisa Toge akan betul-betul meninggalkannya karena jijik atau takut. Kekalutan membuat Yuuta tak mempedulikan teman-temannya yang langsung beranjak pergi saat mendengar dering bel pulang. Sementara Yuuta cuma menelungkupkan kepalanya di meja, tak tahu lagi caranya berpikir jernih.

"Yuuta."

Pemuda bersurai legam itu langsung menegakkan kepalanya begitu merasa ada seseorang yang mengetuk-ngetuk kepalanya. Manik legamnya mengerjap, dan rahangnya jatuh terkejut saat menemukan Inumaki Toge berdiri di sebelah mejanya memegang buku sketsa yang membuat Yuuta kalang kabut beberapa menit yang lalu.

"Ini punyamu?" tanyanya.

"Inumaki-kun, makas—"

Tangan Toge menjauh ketika Yuuta berusaha meraih buku sketsanya. Ia mundur selangkah, tampak defensif atas tatapan menyelidik dari amethyst cemerlang itu.

"Jelasin."

"Inumaki-kun, maaf." Yuuta menggigit bibir, berusaha meredam isakan pilu yang menggoyahkan suaranya. "Aku... aku..."

"Kamu menggambarku." katanya lagi. "Sebanyak ini? Buat apa?"

Yuuta cuma bisa tertunduk. Tak berani menatap. Tak berani menjawab. Kalaupun Toge memang menjauhinya setelah ini, Yuuta paham. Yuuta tidak lagi bisa menampik perasaannya pada Toge seperti yang biasa ia lakukan dulu, berkelit bahwa menjadi sahabat membuat keduanya lebih nyaman. Mereka berdua sama-sama laki-laki. Tidak semua orang mau menerima fakta itu.

"Yuuta, kau suka padaku?" Nada suaranya datar dan dingin seperti biasa, namun kali ini terasa seperti menyayat telinga Yuuta.

Bungkam Yuuta dibalas dengusan kesal Toge. Kepala bersurai hitam itu tiba-tiba semakin menunduk, membungkuk dalam-dalam.

"Maafkan aku membuatmu jijik, Inumaki-kun! Kamu boleh benci aku, tidak apa-apa. Tapi tolong jangan sebar ini ke anak-anak yang lain. Aku menjauh karena aku bingung sama perasaanku sendiri. Cukup aku aja yang dibenci orang-orang, kamu jangan. Aku nggak mau kamu ikutan dibenci karena kita deket, karena aku... aku... aku suka padamu."

"Jadi itu alasanmu nggak mau pulang bareng, nggak mau ngobrol, nggak mau deket-deket aku lagi sampai tadi aku minta kamu ngajarin aku akutansi?" Toge menodongnya dengan serangkaian pertanyaan.

Okkotsu Yuuta sudah hancur berantakan. Ia cuma mengangguk pasrah.

"Gini aja." Toge bersidekap sambil menyembunyikan buku sketsa Yuuta di dadanya. "Let's make a deal. Ini kusita."

"Hah?" Yuuta menegakkan kepalanya, bingung. "Kenapa? Buat apa?"

"Buat jaga-jaga." kata Toge dengan nada mengancam.

"Te... te... terus?" Yuuta tergagap.

Pemuda bersurai platinum blonde itu melangkah lebih dekat. Yuuta dibuat ciut dengan wajah serius Toge. Ia membeku seketika begitu melihatnya sedikit berjinjit, menempelkan bibirnya dengan lembut ke belahan bibir Yuuta. Ciuman yang singkat dan malu-malu. Wajah Toge berubah merah padam. Ia menunduk, meraih jari-jari Yuuta dan menggenggamnya longgar.

"Gambarmu di buku ini semua buatku." gerutunya, mirip anak-anak yang sedang merajuk. "Sebagai gantinya, kau boleh punya Inumaki Toge yang asli."

"Hah?" Yuuta terperangah kaget. "Hah? He'eh? Apa? Gimana, gimana?"

"Okkotsu Yuuta, nggak mau pacaran sama aku?"

"Hah!?" Yuuta menutup mulutnya saking tak percaya. "I-I-I Inumaki-kun, sehat? Ini beneran kamu? Bukan demit toilet sekolah, kan?!"

Toge memberengut. Ia mencubit keras hidung Yuuta. "Orang yang aku suka itu kamu, dasar nggak peka! Kalau aku nggak suka padamu, ngapain aku bela-belain nyetir ke rumahmu yang ada di Planet Name setiap hari? Ngapain aku bela-belain ngajak kamu jalan terus? Ngapain aku betah nempel terus sama kamu? Jujur aja, waktu kamu tiba-tiba ngejauh karena gosip itu aku kesel banget. Rasanya ingin kupukul orang-orang yang sirik karena Yuuta deket sama aku. Tapi aku nggak mau berserk depan Yuuta. Yuuta nggak salah. Takutnya kamu malah takut lihat aku marah. Tapi kamu malah ngejauh. Aku memang nggak pinter ngomong, nggak menarik, tapi aku berusaha bikin kamu nyaman sama aku. Aku berusaha buat Yuuta selalu ketawa dan senang bisa sama-sama aku terus. Yuuta kalo lagi ketawa manis banget, dan dadaku jadi anget lihat wajah senangmu. Makasih udah bikin aku galau, acak-acakan dan jatuh cinta, Okkotsu Yuuta."

Yuuta terhenyak. Ia jatuh terduduk di bangkunya lagi. Buat apa rasa sakit hatinya selama ini kalau ternyata Toge juga sama-sama menyukainya? Ungkapan Toge tadi yang bilang ia takut tidak sanggup membuatnya bahagia itu ternyata buat Yuuta? Bagaimana bisa ia berpikiran begitu padahal selama ini Toge adalah pengisi kertas sketsanya, penghuni tetap ruang imajinasinya, pemilik hatinya dan sumber kebahagiaannya?

Bagaimana caranya seorang yang pendiam bisa menciptakan dunia yang penuh dengan dirinya sendiri, lalu dengan tulus mempersembahkannya kepada orang lain? Apakah Yuuta pantas untuk Toge? Ia tak tahu, tetapi ia tidak mau melepaskan genggaman tangan Toge darinya. Sentuhan tipis yang terasa begitu berarti, seperti jembatan yang menghubungkan dua sisi yang telah lama terpisah meski mereka cuma tak saling bicara selama beberapa hari.

"Inuma—" Yuuta menggeleng. "Toge?"

"Ya?" jawab Toge singkat.

"Yuuta mau kok, pacaran sama Toge." Yuuta memberanikan diri menatap Toge dan tersenyum. "Makasih udah bersikap berani dengan nyatain perasaanmu. Kamu hebat. Toge udah ngalahin rasa takutnya Toge berarti, kan?"

Tangan Toge dengan lembut merangkul kepala Yuuta mendekat, sangat dekat sampai ia bisa mendengar degup jantung ribut pemuda pendiam itu dalam pelukan yang sunyi dan begitu nyaman.

"Ayo pulang."


bacotan author:

Ini hasil halu-in chapter 137 karena Yuuta pulang dan langsung khawatirin Inumaki. Udahlah aku yakin mereka canon. Dan di fandom JJK ini kayaknya aku akan coba-coba post short oneshot, mempermudah hidup karena fic-fic lain banyak yang hiatus semi discontinue hehehe. Tujuannya nulis banyak oneshot short gini biar lebih produktif sama meramaikan fanfom JJKID di FFN sih hehehehehehehe. Silahkan review ya pemirsaaah.