Title : When The Darkness Found The Song of Freedom

The Guardian Yaksha. Lima Adepti yang dipanggil oleh Archon geo, Rex Lapis atau Morax, dengan membawa amanah untuk menjaga Liyue sekaligus membasmi iblis-iblis yang berasal dari Dewa yang kalah dari perang Archon. Takdir memberikan kami kekuatan yang lebih untuk kami yang menjalankan tugas tersebut. Berat, bahkan hampir semua dari lima Adepti itu mengalami kegilaan karena nya. Alatus, Yaksha pengguna elemen angin adalah salah satu korban dari ketidakadilan takdir yang tercipta.

Mungkin banyak orang, seperti manusia, ingin memiliki kekuatan seperti mereka. Entah untuk kekuasaan ataupun melindungi yang lemah. Orang yang mengharapkan hal tersebut adalah orang yang tidak pernah menghadapi kegelapan ketika memiliki kelebihan seperti ini. Orang-orang bodoh, batin Alatus di tiap sepasang netra emas nya melihat sekelompok manusia seperti itu.

Dibalik itu, ia bersyukur dengan kelebihannya. Ia harus memiliki kekuatan untuk menjalankan kontrak dengan Rex Lapis dalam melindungi Liyue. Walaupun awalnya ia sedikit tidak terima dengan elemen angin yang sudah ia dapatkan. Pikiran tidak-tidak tentang Rex Lapis menjajah otak Adepti itu. Apakah kesetiaannya masih kurang sehingga elemen yang tidak dapatkan tidak sama dengan Tuannya?

"Kau bahkan terlalu setia kepada ku, wahai Alatus." Jawab Rex Lapis. Ia sedang duduk santai di atas rerumputan di gunung Aozang, menemani Guizhong yang sedang menikmati angin yang menari di fajar. Rex Lapis tidak sadar melukis senyum di wajah tampannya ketika melihat ekspresi tenang dari teman hidupnya.

"Lalu, kenapa?! Apa aku kurang kuat bagi anda, Wahai Rex Lapis yang terhormat?!" Bentakan di sela protes Alatus tidak memperlihatkan rasa hormat sama sekali. Sang Tuan dan teman hidupnya sudah terbiasa dengan sifat tempramen dari Adepti itu. Mereka sudah sering melihat murka Alatus ketika dihina pendek oleh Bosacius tentang tinggi badannya. "Julukan penakluk para iblis itu bukanlah hal yang bercanda, Adepti Alatus." Guizhong akhirnya ikut serta dalam perbincangan mereka.

"Lalu, kenapa?" Alatus tidak lelah untuk meminta penjelasan. Alatus memang keras kepala jika ada yang berurusan dengan tugasnya.

"Mungkin kau akan mendapatkan jawabannya dari dia.." Jawab Guizhong dengan senyum manisnya.

"Dia?"

"Astaga.. ya, dia." Berbeda dengan Rex Lapis. Ia memasang wajah lelah ketika ia mengerti maksud dari Guizhong.

Melihat ekspresi tidak baik dari Tuannya, Alatus langsung memutuskan untuk membenci sosok yang mereka maksud. "Tuan, apakah dia iblis? Apakah saya harus membunuhnya untuk Anda?"

"Bukan, Adepti Alatus. Dia dewa seperti kami. Bahkan sosoknya sangat indah. Aku bisa merasakan para penghuni langit cemburu dengan keberadaannya. Aku pun salah satu nya." Jawab Guizhong dengan jelas.

"Kau lebih indah dibandingkan pemabuk itu." Gumam Rex Lapis jujur.

"Terima kasih telah menghiburku."

"Apakah dia musuh Anda, Tuan?" Alatus masih penasaran dengan dewa tersebut. Ia berani mengabaikan mereka yang sedang menebarkan warna merah muda satu sama lain.

Belum sempat Rex Lapis menjawab, mereka mendengar suara teriakan melengking dari langit dengan menyebut nama Tuannya. Beruntung fajar tidak terlalu menyilaukan. Alatus mampu melihat sosok layaknya malaikat bersayap lebar menuju ke tempat mereka.

"MOOOOORAAAAAAAAAXX!"

Kedua kaki mulusnya mendarat dengan sempurna di atas rerumputan hijau gunung Aozang. Tawa nya membawa udara segar ke arah mereka. Alatus, dengan jujur, menyukai hempasan udara fajar yang dibawa nya. Sejuk menyelimuti permukaan kulitnya, sekaligus menghangatkan di hati nya. Baru kali itu, Alatus sang pembasmi iblis, percaya dengan keberadaan surga.

"Sebelum kau berbicara denganku, pertama.." Rex Lapis mengambil paksa botol hitam yang dibawa oleh sosok itu. "Kau tidak boleh mabuk di sini."

"Heeeee.. kenapa?! Guizhong.. naga mu jahat!" Rengeknya.

"Kali ini aku setuju dengan Morax, Barbatos. Kau tidak akan fokus di saat perang jika kau mabuk." Ucap Guizhong seraya mengambil botol dari Morax dan memecahkannya. Cairan berwarna bening itu terserap ke dalam tanah hijau. Dewa itu langsung berteriak histeris.

Namanya Barbatos. Diam-diam Alatus membuat catatan di dalam pikirannya.

"Guizhong! Itu minuman langka!"

"Baguslah kalau begitu."

"Apanya yang bagus, Morax?!"

"Cepat beritahu apa yang ingin kau katakan jika tidak mau aku melemparmu ke udara. Lagi." Ancam Rex Lapis dengan nada suara yang tegas. Namun ancaman itu tidak mempan bagi Barbatos. Yang diancam hanya melempar senyum jahil ke Rex Lapis. Guizhong yang melihatnya hanya tertawa.

"Tiga…" Archon geo mulai menghitung mundur.

"Tu-tunggu, Morax, Sahabatku. Bagaimana kalau kita berbincang dulu tentang anggur terenak di Monds-"

"Dua…"

"Iya-iya! Aku minta maaf! Astaga. Nanti cepat tua lho."

"Sa-"

"AKU SALAH APA HEI?!" Barbatos menarik napasnya perlahan. "Aku hanya ingin numpang untuk bersantai di kolam Luhua. Makanya aku minta izin kepada mu." Akhirnya Barbatos menjelaskan tujuannya. Rex Lapis semakin bingung, terlihat dahinya mengerut setelah mendengar penjelasan Barbatos. "Baru kali ini kau bertingkah sopan dan meminta izin."

Barbatos menggaruk tengkuknya. "Yahh, aku hanya ingin meminjam anak itu untuk menemaniku bersantai." Ucapnya sambil menunjuk Alatus yang dari tadi memperhatikan dirinya. Rasa penasaran Alatus semakin meningkat. Dari semua orang yang ada di sini, kenapa harus dia?

Oke, mungkin Rex Lapis enggan menemani Archon angin itu. Guizhong mungkin saja mau menemaninya, tetapi Rex Lapis akan melarang Dewa Debu itu. Apapun alasan dibalik itu, Alatus akan menggunakan kesempatan ini untuk bertanya kepada Barbatos tentang elemen yang ia dapatkan.

Rex Lapis hanya mengangguk, memperbolehkan Barbatos untuk meminjam Alatus sebagai teman bersantai nya. Alatus, tanpa protes, langsung mengikuti Barbatos dari belakang. Namun sebelum dirinya menyusul Barbatos, Rex Lapis menahan Alatus dan memberi pesan kepada nya. "Kunci untuk mendapatkan jawabanmu adalah sabar."

"Kenapa?" Alatus bertanya alasan Rex Lapis memberitahukan hal itu. Bukan alasan untuk sabar menghadapi Barbatos yang mungkin menguji naluri nya untuk tidak membunuh dewa itu.

"Kau akan tahu sendiri. Tidak semua waktu memperbolehkanmu untuk memperoleh jawaban yang kau inginkan." Alatus tidak menanggapi dengan ucapan, hanya menangguk meskipun tak satu patah kata dari Tuannya yang dapat ia mengerti.

.

.

.

.

.

"Kau ini membosankan, ya. Apakah dibalik topeng menyeramkanmu itu tidak punya mulut untuk berbicara?" Di tengah perjalanan, Barbatos mengeluh soal Alatus yang selalu pasif di tiap dirinya bercerita banyak hal tentang Mondstat. Alatus tidak memberikan tanggapan apapun, bahkan tidak ada suara gumaman dari Adepti pembasmi iblis itu.

"Kenapa Anda memilih saya?" Alatus, yang benci dengan basa-basi, langsung melemparkan pertanyaan tentang dirinya yang dipilih sebagai penganut elemen angin oleh Barbatos. Yang ditanya hanya melempar tawa kecilnya dan menjawab. "Tidak mungkin aku mengganggu mereka yang sedang bermesraan, Alatus."

"Bukan itu yang saya tanyakan. Tunggu—kenapa Anda mengetahui nama saya?"

"Hmm, Morax terlalu sayang kepada mu dan nama itu selalu keluar dari mulutnya." Jawab Barbatos lagi. Pemandangan kolam Lihua sudah di depan mereka. Archon angin itu langsung memposisikan dirinya untuk duduk di tepi kolam, lalu memasukkan kedua kakinya ke cairan bening itu hingga tenggelam sampai lututnya. "Kau tidak perlu terlalu kaku padaku. Ayo, duduk sini." Ucapnya sambil menepuk pelan tanah di sampingnya.

Alatus tetap akan sopan kepada para dewa. Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri. Ia pun menuruti ajakan Barbatos untuk duduk di sampingnya. Di balik topengnya, ia dapat mencium bau anggur yang sedikit menyengat dan udara segar dari dewa itu. Alatus tidak menyukai bau anggur, tapi ia tidak membenci nya jika bau tersebut berasal dari Archon di sampingnya. Karena hawa udara di sekitarnya sangat sejuk, menenangkan. Bahkan bisa menjadi obat untuknya yang selalu terluka parah akibat perang.

"Kenapa saya menjadi pilihan Anda.. sebagai pengguna elemen angin?" Alatus mencoba untuk memperjelas pertanyaannya. Sepasang netra biru terang itu langsung menatap serius ke Alatus. Ia merasa tak nyaman dengan tatapan intens yang dilempar oleh Barbatos.

" .si.a. Hehe!"

Sialnya, dewa angin itu mempermainkan dirinya.

Sumbu pendek adalah julukan kedua untuk Alatus (bagi Bosacius). Hanya Rex Lapis yang dapat menenangkan amukan dari Yaksha itu. Jadi tidak heran jika Alatus menyerang orang yang mencari masalah kepada nya, walaupun itu adalah Archon selain Tuannya.

"Woa! Kau ini pemarah ya. Pantas saja cocok menjadi bawahan Morax."

"Beritahu jawabannya atau mati."

Posisi yang tidak menguntungkan bagi dewa angin. Sekarang dirinya berada di bawah Adepti Alatus, dengan kedua lengan yang ditahan oleh salah satu tangannya, dan ujung tombak milik Alatus yang menyentuh kulit lehernya. Tak ada raut ketakutan dari Barbatos, membuat Alatus semakin tak sabar untuk memenggal nya.

"Archon angin bukan nama sembarangan, lho." Seketika tubuh Alatus terhempas oleh angin kuat. Ia pun terjatuh di tengah kolam Luhua. Semua bagian tubuhnya basah, Barbatos tertawa puas melihatnya.

"Hahaha! Aku menang. Aku menang!"

Sangat kekanakan.

Setidaknya tindakan Barbatos menyadarkan dirinya yang sudah ingin mencoba membunuh Archon angin itu. Sadar dengan kemampuannya yang jauh dari kekuatan dewa. Namun, Alatus tidak akan menyerah untuk memberi nya pelajaran.

Alatus mengapungkan badannya di tengah kolam, berpura-pura tewas akibat ulah Barbatos. Seringai usil di balik topengnya terlukis di saat dirinya mendengar kepanikan Barbatos.

"AKH! BAGAIMANA INI?! NANTI AKU DIBUNUH MORAX KARENA TELAH MEMBUNUH ALATUS!"

Kepakan sayap terdengar, Barbatos langsung menuju ke tengah kolam dan mengangkat tubuh Alatus. Sang Adepti dapat merasakan sentuhan dari jemari lentik dewa itu di bahu nya. Sebelum berhasil mengangkat tubuhnya, Alatus langsung menarik lengan Barbatos hingga ikut masuk ke kolam.

Barbatos memasang ekspresi kesal ke arah Alatus. "Hei! Kau jahat sudah berpura-pura denganku!"

Alatus tidak sadar tertawa karena ekspresi Barbatos yang menggemaskan. "Kau yang bodoh. Aku tidak mudah mati dengan hempasanmu."

Barbatos tercengang dengan ucapan yang dilontarkan oleh Alatus. Sekali lagi, Alatus tidak nyaman dengan tatapan dari dua netra indah itu. Detakan jantungnya terasa dan menyakitkan ketika Barbatos melakukannya. Tak lama kemudian, senyuman hangat terlukis di wajah indah Barbatos. Kedua tangan menangkup wajah yang masih ditutupi oleh topeng Alatus.

Alatus enggan melepaskan tangan dewa itu dari wajahnya. Refleks tangannya memegang salah satu tangan yang sedang berada di sisi wajahnya. Suara gumaman terdengar dari dewa itu. Gumaman yang tedengar seperti melodi, bahkan indah layaknya suara seruling yang sering ia dengar di Dihua.

Barbatos berhenti bernyanyi. Akhirnya ia menjawab pertanyaan Alatus sebelumnya. "Kau harus belajar menjadi bebas." Salah satu tangannya menepuk kepala Alatus dengan lembut. "Kontrakmu dengan Morax bukanlah satu-satunya alasan untuk tidak membebaskanmu dalam mengekspresikan dirimu."

Mereka pulang dalam keadaan basah. Rex Lapis tidak sempat bertanya kepada kepada Barbatos karena dewa angin itu sudah kabur darinya. Ketika ia bertanya kepada Alatus, ia menjawab dengan tawa kecil dan mengatakan ia sudah mendapatkan jawaban yang ia inginkan, walaupun ia tidak mengerti maksud dari kebebasan yang disebut oleh dewa itu.

.

.

.

.

.

Setelah itu, Alatus selalu berkunjung ke kolam Luha. Menunggu angin yang ia undang secara tersirat namun hanya hampa yang menghampirinya. Tapi ia tetap menunggu, dengan luka yang hampir menggores di tiap sudut tubuhnya, ia ingin suara gumaman merdu itu datang lagi sebagai obatnya. Ia sempat bercerita tentang hal ini kepada Rex Lapis dan Guizhong. Tentang dewa itu yang selalu menghampiri di pikirannya, suara gumaman merdu yang selalu diputarbalik oleh otaknya. Mereka hanya tertawa dan tidak ingin menjawabnya.

Alatus tidak dapat memaksa. Akhirnya ia membiarkan waktu yang menjawabnya.

Hari dan hari berlalu. Terlalu lambat waktu berjalan, menurutnya. Melihat Yaksha lain yang semakin gila. Yaksha air dan geo semakin tidak akur dan berakhir menguji kekuatan sama sekali, Yaksha api yang tidak tahan dengan kegelapan monster-monster di Liyue, Yaksha elektro yang tidak tahu keberadaannya. Keadaan Liyue semakin suram, terutama kematian Guizhong yang membuat Liyue menangis akan kepergiannya.

Sakit. Ketika ia merasakan hal ini, kebiasaan untuk berkunjung ke kolam Lihua tetap menempel di benaknya. Namun kolam itu sedang dalam keadaan binasa. Tidak ada keindahan lagi di sana. Tidak ada sepasang permata biru dan nyanyian merdu membuat tempat itu semakin suram. Alatus, dibalik topeng miliknya, menggigit bibir bawahnya. Menahan sakit dan pergi dari sana. Langkah kaki tanpa kompas, pergi tanpa arah.

Malam yang gelap. Sama seperti dirinya yang tersesat dengan kegelapan. Takdir yang tidak adil namun Alatus harus menjalankannya. Ia menghentikan langkah kakinya di Dihua Marsh. Enggan mencari cahaya yang dapat menghapus kelam hati nya. Ujung tombak ia arahkan ke lehernya, mencoba untuk mengakhiri hidupnya.

Namun usaha nya terhenti ketika mendengar suara seruling yang lembut. Di saat bersamaan, cahaya rembulan menerangi teluk. Siluet seseorang yang terlihat asing baginya, tapi suara seruling itu mengobati rasa rindu nya. Hembusan angin yang pelan, melembutkan, menenangkan hati nya yang kesakitan.

Alatus menunggu siluet itu memandangnya. Apakah sosok itu memiliki sepasang permata yang ia rindukan?

Suara seruling itu berhenti. Sosok itu akhirnya menyadari keberadaan Alatus yang sedang menunggu nya di tepi teluk. Siluet yang duduk di atas bebatuan itu melihat sosok Yaksha yang ia kenal. Raut wajah berubah menjadi penuh khawatir. Segera sosok itu menghampiri nya.

"Alatus! Kau ingat aku, kan?"

Mana bisa aku melupakan sayap dan permata biru mu. "Tuan Barbatos.."

Barbatos diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku turut berduka cita." Ia langsung duduk di hamparan rumpur tepi teluk Dihua, tangannya menarik lengan Alatus untuk ikut bersama nya. "Morax sepertinya masih berduka atas kepergian Guizhong."

Alatus hanya menjawab dengan keheningan. Barbatos yang tidak mengharapkan tanggapan dari Alatus langsung membunyikan serulingnya. Melodi yang terdengar seperti gumaman Barbatos di pertemuan pertama mereka. Alatus menikmati tiap nada yang keluar dari alat musik itu.

"Kau tahu.." Setelah ia memainkan seruling itu, ia mengarahkan alat musik itu ke Alatus. "Guizhong memberikanku seruling ini padaku. Katanya kau senang mendengar suara nya."

Alatus menjawabnya dengan anggukan. "Seolah-olah itu adalah wasiat terakhir bagiku."

Hening kembali menyelimuti malam. Barbatos, lagi-lagi, memulai percakapannya. "Maaf, aku tidak ada di sisi mu ketika kau membutuhkanku."

"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa."Karena Alatus sudah terbiasa dengan menyendiri. Bahkan tiada seorang yang mengetahui rasa sakitnya.

Angin berhembus kencang. Topeng Alatus kini terlepas dari wajahnya. Rembulan menyinari wajah Alatus yang seperti pria muda. Kedua netra emas yang terpantul oleh cahaya bulan, Barbatos terpesona ketika melihatnya.

"Hei." Tangan Barbatos mendarat lembut di sisi wajah tampan Alatus. "Marahlah padaku."

Alatus mengerti maksud dari dewa angin itu. Ketiadaan Barbatos ketika dibutuhkan membuat dirinya hampir gila. Keinginan untuk mengekangnya dari kebebasan, namun ia tak mampu melakukannya. Layaknya udara, ia tak dapat menahannya, bahkan tak bisa ia genggam. "Kalau aku marah, kau akan melemparku ke air lagi."

"Kau belum mencoba nya. Ayo marah. Atau tampar wajahku."

Seketika Alatus menarik tubuh dewa mungil itu ke dekapan hangat. Bibir nya mendarat di bibir milik dewa itu. Ia mempelajari hal ini dari Rex Lapis dan Guizhong. Kau akan memberikan hal ini untuk orang yang membuat dirimu senang dengan keberadaan sosoknya. Alatus menyukai kehadiran Barbatos di hidupnya.

"Aku menamparmu dengan bibir." Alatus beralasan. Ia masih tidak sudi menyebutnya ciuman. Tawa jahil dari dewa itu semakin membuatnya kesal.

Tetesan hujan mulai membasahi pundak Barbatos. Suara isakan dari sang Adepti terdengar. Barbatos menepuk punggung pria itu perlahan.

"Cup-cup. Jangan nangis."

"Diam."

"Hehehe."

Barbatos membiarkan Alatus meluapkan rasa sakitnya. Membunuh dan membunuh. Bahkan ia pernah membunuh anak kecil (diam-diam ia membangkitkan anak itu kembali ke dunia). Ia ingin berhenti untuk membunuh. Namun ia menghormati Tuan Rex Lapis di saat bersamaan. Kegelapan yang dijadikan makanan sehari-hari kini sirna akibat suara kebebasan dari Archon angin.

"Aku tahu kau terikat kontrak dengan Morax. Tapi bukan berarti kau tidak bebas, Xiao." Ucap Barbatos setelah Alatus berhenti menangis.

"Xiao?"

"Ah… suatu saat Morax akan memberitahu mu tentang itu. Tidak semua waktu memperbolehkanmu untuk memperoleh jawaban yang kau inginkan."

Alatus memposisi kan kepala nya, menaruhnya di atas pangkuan dewa angin. "Terserah kau saja." Karena yang ia pedulikan adalah menikmati udara sejuk dan menenangkan dirinya. Menikmati kehadiran Tuan Barbatos yang telah menyelamatkannya.

"Wow, akhirnya aku bisa menjinakkan peliharaan galak milik Morax."

"Diam atau kubunuh kau."

Barbatos merendahkan kepala nya ke arah Alatus, "Ancaman itu tidak akan mempan lagi padaku, tuan Adepti."

Di malam itu. Angin berdansa dan rembulan yang menyesuaikan suasana, merayakan keselamatan Adepti Alatus dengan senyap.

FIN

OMAKE

"Barbatos, mau kah kau memainkan seruling ini untukku?" Guizhong mengarahkan alat musik tiup ke Barbatos yang sedang meneguk anggur nya.

"Kenapa tidak Morax saja?" Tanya Barbatos yang mengerutkan dahi nya.

"Aku tidak bisa bermain musik." Jawab Rex Lapis yang sedang di belakang Guizhong. Barbatos baru mengingat hal itu.

"Apakah aku perlu menjalankan kontrak denganmu agar kau dapat memainkannya?"

"Huh, kontrak lagi kontrak lagi." Keluh Barbatos terhadap pola pikir temannya. Di saat bersamaan, sepasang permata biru menangkap sosok pemuda Adepti yang penuh luka-luka kering akibat perang. Sorot kedua mata di balik topeng itu layaknya sayang yang terkekang oleh takdir. Hidup yang cacat, hanya menjalankan tugas sebagai hidupnya.

Barbatos kembali mengingat teman lama nya. Ia ingin menyelamatkannya, sekali lagi.

"Oke. Ada syaratnya.." Rex Lapis dan Guizhong mendengarkan permintaan dari Barbatos.

"Akan kuberikan vision elemen angin kepada anak itu. Itu adalah bayaran yang sepadan kan?"