Disclaimer!
This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.
This story is for entertainment only and is not part of the official story line.
Happy reading! :)
Drink My Blood by Osaki Luna
Gadis itu berjalan dengan kaki telanjang melintasi tanah lembab itu sendirian. Ia berjalan dengan mata tertutup, kakinya melangkah nyaris tak menyentuh tanah itu sendiri. Tubuhnya yang putih tidak kedinginan sama sekali, meskipun hanya memakai tank top hitam dan celana pendek hijaunya yang kontras dengan rambut pink itu. Ia berjalan dengan pasti, tidak sadar bahwa sedari tadi dua laki-laki mengintainya dari belakang. Mengendap-endap, mengikuti kemana arah gadis itu melangkah semakin jauh kedalam hutan.
Hanya hewan-hewan malam yang meramaikan hutan itu, ditambah gemerisik daun akibat pergerakan angin. Belum lagi bisik-bisik pelan dari kedua laki-laki berniat jahat itu. Tentu saja. Ini sudah larut malam, gadis macam apa yang keluar dengan pakaian minim seperti itu? Tak mungkin hal semacam itu tak mengundang pandangan dan minat laki-laki manapun. Meskipun tubuhnya tidaklah montok, namun ia memiliki tinggi yang proporsional dengan lekuk tubuh yang sesuai.
Laki-laki berambut hitam itu mengangguk pada temannya. Mereka sudah mengendap-endap dibelakang gadis itu. Tak mungkin gadis itu tahu keberadaan mereka, ditengah hutan gelap ini. Dekut burung hantu membantu menyamarkan langkahnya yang mendekati gadis itu. Segera saja, ia menarik paksa gadis itu. Membekap mulutnya, membuat keributan dihutan itu. Suara gemerisik, rontaan, lalu derak ranting yang diinjak terdengar. Temannya segera berlari mendekat, membantu usaha temannya itu menyeret gadis yang meronta-ronta itu.
Namun, mata gadis itu segera terbuka. Menampakkan emeraldnya yang menyala terang dikegelapan hutan bagaikan mata kucing yang menyala dikegelapan. Rekan laki-laki yang membekap mulut gadis itu tersentak, terpaku pada mata menyeramkan itu.
"Oi, menjauhlah!"
"Eh?"Laki-laki yang membekapnya mengerutkan dahi tak mengerti seruan teman dekatnya itu. Tak lama kemudian ia menjerit. "Aaaaaaaaaaarrgghhh!"
Ia segera mundur, memegangi tangannya yang berdarah-darah. Daging terkoyak, mengucurkan darah diatas tanah lembab itu. Buak! Tiba-tiba saja ia sudah terbaring, dengan perempuan berambut merah muda itu sudah duduk diatas perutnya. Ia merasa ketakutan, ketika perempuan itu menyeringai. Memamerkan giginya dengan mata hijaunya yang menyorotkan kelaparan. Ia tidak bisa berkata apa-apa, tidak tahu bahwa temannya sudah melarikan diri. Meninggalkannya sendirian dengan perempuan jadi-jadian itu.
"T-tolong. Ampuni aku...Aku, aku hanya..."Ia terbata-bata. Ketakutan. Air mata bahkan mengalir diwajahnya. "Aku tak bermaksud..."
"Diamlah,"kata gadis itu pelan. Suaranya begitu halus, membuat bulu kuduk siapapun merinding mendengarnya. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah leher laki- laki itu. Menempelkan hidungnya disana. Mendengarkan aliran darah yang kencang dibawah sana. Membuat rasa hausnya menjadi-jadi. Ia segera membuka mulutnya. "Aku lapar."
Tak lama kemudian, suara jeritan keras terdengar. Membuat hutan yang tadi ramai dengan seluruh kegiatan hewan malan menjadi hening seolah-olah seluruh penghuni hutan ikut menyimak, mendengarkan pembuluh darah laki-laki itu terputus. Dengan suara deguknya menuju kematian, lalu suara hisapan darah yang begitu kencang, cepat dan rakus. Sungguh, gadis itu bahkan lupa, kewaspadaannya turun dalam sejenak. Membiarkan insting kelaparannya menuntun dirinya, memuaskan dahaga pertamanya.
Srek.
Bwush!
Bahkan gadis itu tak sempat waspada dengan suara desauan angin. Suara gesekan. Loncatan. Lalu, Bruak!
Gadis itu terlempar, membuatnya jatuh menjauh dari laki-laki yang sudah mati itu. Ia segera bangkit, nendesis memamerkan giginya yang penuh darah laki-laki yang barusan ia mangsa itu. Dengan mata tajamnya, ia bisa melihat sosok laki-laki tinggi menodongkan senapan kearahnya. Ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Laki-laki itu tak bergerak dari sana sama sekali. "Enyahlah."
Dor!
Dor!
Dor!
Laki-laki itu menembak dengan cepat dalam kegelapan. Namun gadis itu lebih cepat lagi bersama instingnya. Menghindari seluruh tembakan itu dengan cepat. Gadis itu berlari, memanjati setiap pohon tanpa berpegangan, hanya mengandalkan kaki telanjangnya. Laki-laki berambut raven itu terus menembak ke segala arah, mengandalkan pendengarannya untuk tahu direksi pergerakan gadis itu. Dor! Dor! Dor!
Srek! Srek! Srek!
Gadis itu terus berlari. Tidak mengeluarkan suara sama sekali. Terus berlari, mengitari pepohonan. Ia tidak akan berlari. Ia akan membunuh pria tak dikenal yang sudah mencoba membunuh dan mengganggu kegiatannya barusan.
Dor!
Gadis itu berdiri dibelakangnya. Pria itu masih menembak kearah kiri, tempatnya barusan berada. Gadis itu sudah hendak mencekiknya dari belakang, ketika moncong pistol itu tiba-tiba sudah didahinya. "Tak kusangka kau berani mendekat,"katanya.
Gadis itu tersenyum manis. Menyebarkan pesonanya yang memabukkan. "Darahmu begitu mengundang. Kurasa meminum darahmu barang beberapa teguk cukup menggantikan hausku ini, Tuan Tampan."
"Hausmu akan hilang setelah peluru ini menembus kepalamu, Nona. Rasakan logam terbaik yang dibuat untuk makhluk nista macam dirimu itu."
"Kau begitu pelit,"kata gadis itu. "Kau akan merasakan surga tersendiri saat darahmu terhisap."
Laki-laki itu menarik pelatuk tanpa melepaskan pistol itu dari kepala perempuan itu. Perempuan itu menatapnya dengan mata hijau menyalanya itu. Sungguh, mata gadis ini cantik sekali. Begitu indah, mempesona sekali.
"Kau akan merakan ejakulasi ternikmat saat gigiku berada ditubuhmu,"rayunya, mengirimkan sensasi aneh bagi pria itu.
"Ucapkan selama tinggal,"kata pria itu. Ia hendak melepaskan tarikan pelatuknya, ketika bunyi tembakan itu tak kunjung terdengar. Sial. Gadis itu tersenyum lalu menyeringai memamerkan giginya. Dagunya belepotan darah itu semakin menambah kesan menyeramkan itu. Pria itu segera mengeluarkan pistol satunya lagi. Namun, sial, gadis itu sudah berkelit. Menjauh. Berlari. Meninggalkan pria itu yang sigap mengejarnya. Tembak-tembakan terdengar, begitu dekat desingan peluru itu disekitar tubuh gadis itu. Gadis itu terus berlari, lihai menghindar. Hingga tak sadar ketika sebuah peluru menyerempet pipi kirinya. Ia tersentak, mendesis lalu melompat keatas pohon. Melompati setiap pohon, mengaburkan keberadaannya dari pria gila tak dikenal itu yang berusaha membunuhnya itu. Sungguh, ia merasa haus.
Ditambah lagi aroma darah pria itu begitu aneh. Memikat, menggoda. Membakar tenggorokannya sendiri, membuatnya ingin berbalik membunuh laki-laki itu.
Ya, suatu hari nanti ia akan menemukan keberadaan darah itu. Meminumnya sampai habis untuk dirinya sendiri. Tapi tidak sekarang.
Nanti.
~0~
Brak!
"Ittai!"Seru gadis yang baru saja terjatuh dari ranjangnya yang berantakan itu. Ia segera bangkit, mengeluh memegangi kepalanya yang baru saja membentur lantai terlebih dahulu. "Sial, tidak kusangka tidurku semakin parah saja."
Drrrt...drrrrt...
Gadis itu menoleh, mencari ponselnya. Ponselnya itu tidak ditemukan dimana- mana. Bahkan diatas mejanya pun tak ada. Ia merengut, terpaksa mengibaskan selimutnya, menurunkan bantalnya dan mendapati ponsel itu ada disana. Diselipan kasur dekat bantal. Gadis itu segera meraihnya, mendapati nama Ino dilayar.
"Sakura disini,"kata gadis berambut merah muda itu. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Yo! Sakura! Kau kemana saja sih? Sudah lima belas kali aku meneleponmu!"Seru Ino diseberang sana. Sakura menjauhkan teleponnya, melirik jam diponsel. Jam dua siang. Tak disangka ia sudah tidur begitu lama.
"Aku ketiduran, Ino-pig. Maaf, aku akan segera kesana."
"Astaga jam segini kau baru bangun? Yaampun, untunglah manajer belum kemari mengecek bar ini. Segera kemari, Bodoh!"
"Iya-iya,"kata Sakura malas. "Aku kesana dua puluh menit lagi."
Klik. Sakura mematikan teleponnya. Ia melempar ponselnya keatas ranjang yang berantakan. Lalu pergi meraih handuk dan berjalan kekamar mandi. Ia harus segera bersiap-siap sebelum Ino kembali mengkhawatirkannya. Ia masuk kekamar mandi, dengan kaki kotor penuh tanah dan lumpur. Tak sadar, ia menghidupkan shower dan memejamkan mata membiarkan air itu mengalir menyentuh tubuhnya yang sudah telanjang sejak tadi.
Entah kenapa, mimpi anehnya muncul didalam pikirannya. Ah, ya. Ia mimpi aneh. Laki-laki tampan dengan rambut raven. Lalu hutan. Darah. Ia meminum darah. Sungguh, mimpi paling tak relevan dalam hidupnya. Ia tak pernah bermimpi selama ini. Sejak kecil, bahkan ia tak ingat ia pernah bermimpi. Ketika teman-temannya bercerita atau berdiskusi mengenai mimpi macam apa yang mereka dapatkan disuatu malam, ia tak paham sama sekali bagaimana caranya mimpi itu terjadi.
Ia bahkan ingat pandangan aneh Ino dan juga Temari ketika ia bertanya dengan polos dulu disekolah. "Memangnya mimpi itu bagaimana rasanya?"
Sungguh, saat itu Ino dan Temari berpandang-pandangan. Mereka segera melupakan bahasan mereka tentang mimpi buruk yang mereka alami setelah menonton film horor bersama sebelumnya. "Kau ngomong apa sih, Sakura-chan? Tentu saja bermimpi. Mimpi. Kau melihat macam-macam saat tidur."
"Kurasa lebih mirip ke imajinasi deh,"sahut Temari.
"Ya begitu terserahlah. Pertanyaan kau aneh sekali Sakura-chan,"kata Ino seraya mengeluarkan lipgloss dari kantong rok sekolahnya. Ia mengoleskan lipgloss itu kebibirnya.
"Kau macam tak pernah bermimpi saja,"gumam Temari seraya tertawa. "Apa ya rasanya kalau memang ada manusia yang sejak kecil tidak pernah bermimpi?"
"Pasti aneh sekali, kan? Kau memejamkan mata, lalu terbangun dipagi hari begitu saja. Rasanya pasti seperti cuma memejamkan mata lalu tiba-tiba saja terbangun dan sudah pagi saja,"timpal Ino.
"Tapi ku memang tidak pernah bermimpi,"kata Sakura. "Apakah aku normal?"
Saat itu, Ino dan Temari lagi-lagi berpandangan. Heran. Lalu Temari yang pada dasarnya cuek bebek itu memilih untuk mengangkat bahu, tak mau memikirkan masalah itu sama sekali. "Yah, mungkin saja kau salah satu dari manusia aneh itu."
Dan pembicaraan itu berakhir dengan jitakan dari Sakura. Lalu pertengkaran kecil diantara Sakura dan Temari, ditambah Ino yang hanya tertawa mengompor-ngompori mereka berdua. Sungguh, pertemanan yang paling heboh pada saat itu.
Sakura mematikan showernya ketika ia sudah selesai mandi. Ia segera meraih handuk, hendak melap tubuhnya yang basah itu. Saat ia melap wajahnya dengan handuk, ia berjengit. Pipi kirinya terasa pedih, seolah-olah ada luka disana. Sakura berjalan keluar kamar mandi, menuju tata rias. Melihat wajahnya sendiri, dan baru sadar ada luka lecet disana. Sungguh, rasanya ia tak ingat ia pernah terkena sesuatu atau menabrak sesuatu sampai-sampai dapat luka semacam ini. Sakura akhirnya membuka laci. Mencari-cari plester untuk menutupi luka itu. Namun barang yang ia cari tak kunjung ditemukan. Sakura menyerah. Nanti saja sepulang kerja ia membeli plester itu.
Lebih baik sekarang ia segera berdandan dan bersiap-siap. Untung saja cuma lecet. Ia mengambil concealer yang ada didekat sana, memutar-mutar benda itu seraya berpikir. "Yah, kali ini aku harus memakainya lebih banyak untuk ini."
Setelah berdandan dan bersiap-siap selesai, Sakura segera pergi meninggalkan apartemennya. Ia pergi menuju bar menggunakan angkutan umum berupa bus seperti biasa. Ia harus bekerja keras lagi hari ini, agar tips yang didapatkannya lebih banyak dari yang kemarin.
Setibanya di bar, Sakura berjalan menuju bagian meja bar. Terlihat Ino disana sedang menyusun gelas- gelas minuman. Sakura segera mendekatinya, membantu pekerjaan Ino. Gadis berambut pirang sepinggang itu menoleh, dan mendengus. "Akhirnya kau datang, Sakura-chan."
"Gomen-ne, aku ketiduran. Entah kenapa aku kelelahan sekali,"kata Sakura nyengir. Ia meraih botol minuman yang belum dimasukkan ke rak-rak kosong seraya memeriksa botol minuman mana yang belum habis dan perlu diganti dengan yang baru.
"Kau bekerja terlalu keras sih,"kata Ino. "Tapi baru kali ini kau terlambat."
"Entahlah,"kata Sakura mengendikkan bahu. "Tadi malam aku akhirnya bermimpi, Ino-pig."
"Eh?"Ino menoleh. Ia menatap Sakura tak percaya dengan pendengarannya barusan. Ia segera menghentikan kegiatannya, mendekati Sakura. Sungguh, rasanya seperti mendengar bahwa kiamat sudah dekat ketika Sakura mengatakan hal yang amat tak lazim untuk dirinya sendiri itu. "Kau bermimpi?"
Sakura mengangguk. Ia menarik botol yang kosong dari rak. "Mimpi aneh sekali. Aku yakin aku bermimpi. Sulit dijelaskan, kecuali kau alami sendiri."
"Akhirnya kau mengerti maksud ucapan kami soal itu,"kata Ino terkekeh. "Temari pasti bakalan kaget dan kemari untuk dengar ceritamu itu."
"Berlebihan sekali,"dengus Sakura. Sakura mengambil botol baru pengganti botol minuman yang sudah habis. Ternyata banyak sekali botol minuman yang habis semalam karena ramainya pelanggan. Bar ini sepertinya akan semakin berjaya saja.
"Jadi apa yang kau mimpikan?"
Beberapa detik kemudian, suara musik mulai terdengar. Sakura menoleh ke bagian panggung dekat lantai dansa. Laki-laki berambut merah bata itu sudah memakai earphone dikepalanya. Sibuk menyetel alatnya, memainkan kasetnya. Klub sudah dibuka. Pasti sekarang sudah jam setengah empat.
"Mimpi aneh sekali. Pertama aku rasanya berjalan sendirian malam- malam...Lalu kemudian, eh sebentar vodka kutaruh mana sih? Oh, ada disini...Lalu ada yang membekapku. Sungguh, ada dua orang yang membekapku disana. Rasanya mengerikan sekali,"kata Sakura, bergidik.
"Lalu?"Ino semakin tak sabaran.
"Ah, ini bagian paling aneh. Aku membunuh salah satunya dengan meminum darahnya. Seperti...vampir. Sungguh tak masuk akal kan?"
"Mimpi pertamamu sungguh spektakuler, Sakura-chan,"kata Ino terkekeh. "Pasti lebih seru lagi kalau kau ketemu pangeran dimimpimu."
Sakura mendengus. "Mulai deh, putri kasmaran."
"Ish, kau ini!"Kata Ino. "Kenapa pula malah lari kesana?"
"Kau pikir aku tidak tahu, heh? Kau dan pria pucat berambut hitam aneh yang tidak berekspresi sama sekali itu duduk bersama disudut sana kan?"Kata Sakura.
Ino langsung bersemu merah padam ketika Sakura mengatakan hal itu. Tak disangkanya bahwa sahabatnya itu begitu peka dan peduli dengan apapun yang terjadi pada dirinya. Tak perlu ia jelaskan atau ceritakan, pastilah Sakura sudah tahu duluan. Sakura benar-benar mengawasinya sebagaimana dirinya mengawasi Sakura selalu. "Namanya Sai, Bodoh."
"Terserahlah, pokoknya dia aneh."Kata Sakura. Tiba-tiba Sakura teringat sesuatu. "Ah, soal pria. Aku juga ketemu pria lain dimimpi semalam."
Klub mulai ramai. Orang-orang sudah datang, ada yang segera menari dilantai dansa yang belum ramai itu. Dua perempuan memesan minuman pada Sakura. Sakura meracik minuman itu, kemudian memberikan pesanan lalu berbicara lagi pada Ino yang sedang duduk dibar itu. " Dia bahkan menembakiku dengan pistol."
"Ah! Ini semakin menarik. Lalu apa yang terjadi?"
"Hmm,"gumam Sakura. Ia berpikir keras, mencoba mengingat- ingat kelanjutan mimpinya itu seraya mengiris lemon untuk hiasan minuman nantinya.
"Halo, Ino,"tiba-tiba saja sebuah suara tenang terdengar. Membuat konsentrasi Sakura buyar, dan perhatian Ino teralihkan. Ino segera sumringah, lalu tersenyum manis pada laki-laki yang baru saja mereka bahas sebelumnya itu.
"Kau datang lagi,"kata Ino seraya tersenyum. "Ah, omong-omong, kenalkan ini Sakura. Sahabatku. Sakura-chan, dia Sai."
"Sakura,"kata Sakura, menerima jabatan tangan dari Sai.
"Sai,"katanya ramah. Lalu ia beralih pada Ino lagi. "Aku kemari bersama temanku. Sebentar lagi ia akan segera datang."
"Oh, tentu saja. Kau dari mana?"Kata Ino ramah. Ino menoleh pada Sakura. "Nee, Sakura-chan. Aku mau sampanye dingin dong."
Sakura mendengus lalu mengangguk. Sai menyebutkan pesanannya juga lalu ia dan Ino terlibat percakapan hangat berdua saja. Mereka membicarakan banyak hal, hingga Sakura tanpa sadar mendengarkan saja percakapan diantara mereka tanpa berniat untuk bergabung. Ia tidak mau merusak momen sahabatnya dengan pria baru itu. Ia akan mendengarkan saja, mencoba untuk memastikan apakah pria ini baik atau tidak untuk Ino.
"Nah, itu dia. Sasuke! Disini!"
Sakura bergeser kearah pria paruh baya yang terlihat kacau. "Ada yang bisa dibantu?"
"Ah, anggur tolong,"katanya. "Yang merah."
Sakura mengangguk, membuatkan pesanan pria itu. Setelah itu ia sibuk dengan orderan-orderan baru dari beberapa orang. Ia tidak lagi sempat menyimak atau bergabung dengan Ino dan Sai. Ia sibuk membuat minuman pesanan.
"Sakura-chan,"panggil Ino.
"Sebentar,"kata Sakura. Sakura meraih uang yang ditinggalkan diatas meja bar itu, lalu memasukkannya ke laci meja tempat uang disimpan. Lalu ia mendekati Ino. "Apa?"
"Vodka satu,"kata Ino, mengerlingkan matanya.
"Astaga, yang benar saja. Kau barusan sudah minum sampanye. Kau gila."
"Tentu saja bukan untukku!"Kata Ino seraya memutar bola matanya. "Untuk teman Sai, Sasuke-kun."
Sakura mengangkat alis. Bahkan Ino sudah berkenalan dan memanggil teman Sai dengan embel- embel kun dibelakang namanya. Betapa mudahnya Ino akrab dengan orang lain. Lalu ia menoleh ke laki-laki yang sedang duduk disebelah Sai. Rambut panjangnya menutupi sebelah matanya. Membuat Sakura penasaran dengan wajah yang tertutup bayang-bayang temaram klub ini. Musik sudah semakin keras, orang-orang semakin ramai berdatangan. Teman-teman Sakura berlalu-lalang membawakan botol minuman ke meja-meja VIP. Rekan kerja yang lainnya duduk dengan pria-pria berdompet tebal yang sudah beristri. Bahkan ada pula yang sudah bercumbu panas di sofa saksi bisu perbuatan dosa mereka itu. Sungguh tempat penuh maksiat yang menawarkan berbagai macam kenikmatan.
Sakura memberikan minuman itu kedepan pria yang menunduk itu. "Silahkan,"kata Sakura.
Pria itu mendongak. Sakura seketika tersentak, dan nyaris mundur ketika melihat wajah tampan pria itu. Pria itu balas menatapnya, tak memberikan ekspresi sama sekali. Namun, Sakura merasa jantungnya berdetak keras. Memompa aliran darahnya sendiri. Ia bisa merasakan adrenalinnya naik, entah kenapa ini terjadi. Sakura terkejut bukan kepalang bukan karena melihat ketampanan pria itu. Melainkan fakta bahwa wajah pria inilah yang masuk kedalam mimpinya semalam.
Yang menembakinya dan mencoba membunuhnya.
Entah kenapa, tenggorokannya seraya pedih terbakar. Dan ia begitu haus. Sungguh, ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya selama ia bertatap-tapan dengan pria bernama Sasuke itu.
Apakah ini adalah takdir?
.
.
.
To Be Continued...
