Disclaimer!

This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.

This story is for entertainment only and is not part of the official story line.

Happy reading! :)

Drink My Blood by Osaki Luna


"Sakura-chan?"

Tidak mungkin. Yang benar saja. Benarkah pria yang didepannya ini mirip dengan pria didalam mimpinya itu? Pikirannya berkecamuk heran. Ia tidak pernah bertemu pria itu sebelumnya, tapi pria itu sudah hadir didalam mimpinya sebelumnya. Apa-apaan ini?

"Sakura-chan?"

Sakura tersentak ketika tangan Ino memegangnya. Ia segera mengalihkan pandangannya dari Ino. "Ah, maaf aku cuma banyak pikiran saja tadi. Ada apa?"

"Kenalkan ini temanku. Sasuke."Kata Sai pada Sakura. Lalu ia menoleh pada Sasuke. "Sasuke, ini Sakura. Teman Ino."

"Senang bertemu denganmu,"kata Sakura mencoba tersenyum ramah pada Sasuke yang menatapnya tak berekspresi.

"Hn. Aku juga."

Sai terkekeh. "Dia memang orang paling dingin yang pernah ada. Maklumi saja, ya. Kau akan terbiasa nantinya."

"Tak masalah,"kata Sakura seraya tersenyum ramah pada Sai. "Nikmati saja waktu kalian. Ino, nanti segeralah kemari bantu aku. Pelanggan sudah semakin ramai."

"Iya aku tahu, Sakura. Tenang saja. Aku sebentar lagi akan kesana."

Sakura kembali pada kegiatannya sendiri. Membuat minuman, melayani orderan, menerima bayaran dan sejumlah tips. Ia mencoba membuat dirinya tetap sibuk, demi mengalihkan perhatiannya dari Sasuke. Pria yang baru saja ia temui itu benar-benar membuatnya tak habis pikir. Padahal ini cuma kebetulan saja. Tapi kenapa pikirannya terus berkecamuk memikirkan pria itu? Ia bahkan merasa dirinya sendiri seperti menginginkan sesuatu dari pria itu. Sungguh, selama dua puluh tahun ia hidup tak pernah sekalipun ia merasakan ketertarikan pada lawan jenisnya. Ia sendiri heran dengan dirinya sendiri, sempat meragukan orientasi seksualnya. Namun setelah ia menguji dirinya sendiri dengan memastikan apakah ia punya kecenderungan lesbian, ia percaya ia normal. Hanya saja belum ada laki- laki yang membuatnya tertarik.

Sakura merasa punggungnya panas. Ia merasa setiap gerak- geriknya diawasi. Entah kenapa, hatinya begitu yakin bahwa pelaku yang mengawasi kegiatannya saat ini adalah Sasuke itu sendiri. Astaga, dasar baka. Tidak mungkin dia mengawasiku. Memangnya apa menariknya aku bagi dirinya itu?Sakura mencoba melawan firasatnya sendiri. Jika ia terus memikirkan firasat, konsentrasinya bisa buyar dan mengacaukan performanya dimata pelanggan. Tidak. Ia harus fokus dan konsentrasi. Konsentrasi, Sakura-chan, kata Sakura dalam hati.

"Yo, forehead. Aku datang, hehe,"kata Ino tiba-tiba sudah disampingnya. "Sudah ramai sekali, kau pasti butuh bantuanku."

Sakura mendengus. "Sejak tadi aku menunggumu sadar, Pig."

Ino nyengir. Ia membantu Sakura, melayani orderan dan membuat minuman sesuai pesanan. Sakura merasa terbantu, namun disisi lain khawatir karena kesibukannya berkurang. Pikirannya malah semakin tak menentu, ditambah Sasuke yang masih duduk disana berbicara dengan Sai berdua saja. Sempat seorang perempuan mendekati Sasuke, menawarkan diri namun Sasuke mengabaikannya memutuskan harapan perempuan itu.

"Ne, Ino-chan. Apakah kau tahu pekerjaan Sai itu apa?"

"Dia bilang dia bekerja di Kepolisian Konoha, kalau tidak salah dengar,"kata Ino.

"Pantas saja, cocok dengan penampilannya sih,"kata Sakura mengangguk setuju. "Perlente."

Ino terkikik mendengar kata-kata Sakura barusan. Lalu, Sakura diam beberapa detik untuk melontarkan pertanyaan selanjutnya. "Teman barunya itu...Sasuke..Apakah dia bekerja di tempat yang sama dengan Sai?"

Ino mengangguk. "Rasanya iya deh, soalnya tadi dia bilang Sasuke-kun itu rekan kerjanya dikantor."

Sakura akhirnya paham kenapa aura mengintimidasi Sasuke ada pada dirinya. Pastilah pekerjaannya yang membuat aura itu terasah tajam, membuat siapapun gentar untuk melawannya. Sakura mengantarkan pesanan, lalu Sai memanggil lagi. "Ano, Sakura-chan. Boleh pesan minuman lagi yang ini?"

"Tak masalah. Sebentar ya,"kata Sakura berusaha tidak melihat kearah Sasuke sama sekali. Lima menit kemudian, Sakura memberikan minuman itu pada Sai. Tanpa sadar, Sakura melirik Sasuke. Ia tersentak, ketika matanya yang tajam dan dingin itu terang-terangan menatapnya. Apa- apaan ini? Kenapa ia malah jadi salah tingkah? Dan perasaan gelisah apa yang menggelayuti dirinya saat ini?

Sakura harus menenangkan dirinya sendiri. Ia harus pergi dari sini sebentar. Ia akhirnya pamit undur diri, lalu pergi meninggalkan Ino sebentar. Ia segera kekamar mandi, melewati lorong yang ramai dengan orang-orang yang bercakap-cakap. Adapula yang mabuk disana-sini dipapah teman-temannya. Sekali lagi ditekankan, pasangan muda-mudi yang bercumbu pun tak kalah banyaknya. Sakura masuk ke kamar mandi, kemudian menatap dirinya sendiri didepan wastafel kamar mandi.

"Astaga, apa sih yang terjadi pada diriku?"

Sakura menekan dadanya sendiri. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar- debar tak karuan, pipinya memerah. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam. Menenangkan dirinya sendiri. "Tenanglah, Sakura. Dia cuma pelanggan biasa. Tak ada yang penting. Tak ada hubungan denganmu."

Sakura segera menunduk, memutar keran wastafel dan menyiram wajahnya dengan air. Sensasi dingin menerpa kulit wajahnya, membuatnya memejamkan mata sejenak. Sakura merasa sedikit tenang. Jantungnya kembali berdetak normal. Syukurlah. Dia pasti cuma kelelahan makanya jadi aneh seperti ini. Ya, ia yakin sekali.

Sakura membuka matanya.

Ia terlompat kaget, ketika pria yang membuatnya kacau tadi sekarang sudah berdiri dibelakangnya. "Astaga! Apa yang kau lakukan disini?"

Sasuke berjalan mendekatinya. Mencuci tangan di wastafel. "Hn, ini kamar mandi pria."

"Kau bercanda! Maksudmu mungkin kamar-"Sakura terdiam ketika melihat tempat pipis berjejer yang ada disisi kanan. Ah, ternyata ia salah masuk kamar mandi tanpa ia sadari. Pipinya merah padam. "Aku akan segera keluar, kalau begitu."

Cklek.

Sakura terkejut ketika pintu kamar mandi terbuka. Tanpa ia sadari, tiba- tiba saja ia sudah diseret kebilik toilet. Ia terkejut, mendapati Sasuke didepan tubuhnya yang terhimpit bersandar dipintu bilik. Sakura membelalak. Sasuke baru saja menyelamatkannya dari suatu kejadian memalukan. Sasuke menatapnya, memberikan perintah untuk tidak bergerak.

"Sial, punyaku sakit sekali gara-gara main dengan perempuan itu semalaman."

"Maksudmu pelacur rambut hitam itu?"Kata temannya.

Sakura merasa pipinya merah padam mendengar suara air yang jatuh. Suara kencing. Memalukan sekali mendengar pria pipis dengan laki-laki didepannya saat ini.

"Tak kusangka dia begitu haus pria,"gerutu laki-laki pertama.

Kemudian kucuran air berhenti. Lalu langkah kaki. "Tapi kau pasti keluar lebih dari sekali kan berkat servisnya?"

"Tentu saja, spermaku seperti habis-habisan diperas olehnya. Sial, malam ini aku rasanya tidak berniat untuk bercinta dulu."

Suara keran wastafel dibuka terdengar. Mereka pasti sedang mencuci tangan. Sebentar lagi akan selesai. Setelah itu ia akan bisa kabur, segera lari dari pria ini. Ketika pintu kamar mandi dibuka lalu menutup, Sakura terlihat lega. Ia mendongak ke Sasuke yang menghimpitnya. "Kurasa aku berhutang padamu. Arigatou, Sasuke."

"Hn, tentu saja,"Kata Sasuke tenang. Lalu, ia menghimpit tubuh Sakura lebih dekat. Membuat Sakura membulatkan padangannya, kaget.

"Eh, bisakah kau minggir? Rasanya sesak. Aku harus segera pergi."

Sasuke malah menahan kepalanya dengan meletakkan kedua tangannya disisi kepala Sakura. Sakura merasa jantungnya berdebar- debar lebih keras dari sebelumnya. Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura yang menegang. "Kau...menginginkanku kan?"

Sakura merasa tubuhnya mematung ketika suara penuh seduktif itu menggelitik telinganya saat itu. Ia bahkan merasa tubuhnya memanas hanya dengan merasakan nafas Sasuke yang menerpa telinganya saat itu.

"Sa-Sasuke?"

Sasuke tidak bergeming. Ia tetap bernapas ditelinga Sakura yang masih saja terkejut dan tidak tahu harus melakukan apa. Ia merasa cemas namun disatu sisi dirinya ingin tahu apa yang akan dilakukan Sasuke selanjutnya. Sasuke perlahan menarik pinggangnya untuk semakin merapatkan tubuhnya pada Sasuke. Sakura masih saja diam, tak tahu harus melakukan apa. Rambut pria itu menyentuh pipinya, memberikan gesekan tersendiri.

Ketika Sasuke menjauh darinya, Sakura mencoba mendorong Sasuke. Ia merasa ada gejolak aneh didalam dirinya, dan ia tidak tahu apa itu. Apakah ia merasa tertarik pada Sasuke? Atau apa ini? Apakah ia ketakutan? Sungguh perasaan mulas ini tak bisa ia identifikasi, ditambah tubuh mereka yang begitu rapat dibilik sempit ini. "Sasuke, jangan macam-macam atau- hmmphh!"

Sakura terkejut. Bibir Sasuke sudah berada dibibirnya, menciumnya pelan, lembut namun penuh intimidasi. Membuat kakinya lemas, tidak sanggup berdiri. Ia begitu kaget, tidak tahu harus melakukan apa lagi ketika lidah Sasuke melesak kedalam. Menekannya begitu keras, mendesaknya untuk menerima serangan tak terduga itu. Lidah Sasuke bertaut dengan lidahnya, membuat saliva mereka berjatuhan dan membasahi dagu Sakura segera. Sakura merasa tubuhnya panas, dan kepalanya terasa ringan sekali sekarang. Ia merasa aneh. Ada apa? Kenapa ia lemah sekali pada pria tak dikenal ini?

"Kau milikku,"kata Sasuke ketika ia melepaskan pagutannya karena Sakura kehabisan nafas. Sakura terengah- engah, dan matanya menjadi sayu. Ia menatap Sasuke yang menatapnya tajam. "Dan tubuhmu hanya untukku."

Sakura menggeliat ketika Sasuke menciumnya lagi. Kali ini begitu kasar, cepat dan dalam mengobrak-abrik mulutnya. Membuatnya tak bisa memberontak sama sekali apalagi merespon perbuatan penuh dominasi dari Sasuke itu. Tanpa sadar ia malah semakin jauh terbawa arus, perlahan- lahan memasuki dunia putih itu. Tidak. Apa yang terjadi?

Sasuke melepaskan pagutannya lalu beralih ke lehernya. Menciumnya, menggerakkan lidahnya disana. Sakura mendesah. "Ssshhh...Angh...Sa-Sasuke...Ti- tidak...aah!"

Sasuke seakan tuli, tidak mendengarkan Sakura yang mulai mengeluarkan suara-suara aneh dibilik toilet ini. Sasuke menggerakkan lidahnya diseluruh leher Sakura, lalu berhenti disebuah titik. Ia menghisap leher Sakura, membuat Sakura berjengit kesakitan. Lalu ia menjilat bekas kissmark itu kemudian beralih ke sisi belakang lehernya. Sakura medesah, ketika hisapan kedua terjadi disana.

"Ahhh~ Ngghh~ Ssh-Sasuke..ah!"

Sakura memekik ketika Sasuke memegang dadanya dari luar. Meremasnya lembut, membuat Sakura tanpa sadar membusungkan dadanya. Ia mulai kehilangan kendali, kewaspadaannya pada Sasuke menurun. Ia semakin lemas tak bisa melawan serangan- serangan Sasuke barusan.

Sasuke melepaskan ciumannya, menatap Sakura dengan tatapan mengintimidasi. Lalu ia menjauh dari tubuh Sakura yang sudah berantakan. Dengan marah, Sakura mendorong Sasuke. "Kau bajingan!"

Lalu Sakura keluar bilik itu, air matanya sudah menggenang dipelupuk. Ia segera mengusapnya dan berlari keluar toilet laki- laki. Untung sekali toilet itu dalam keadaan sepi. Sakura segera masuk ke toilet perempuan dan duduk dikloset. Menumpahkan rasa terhina yang ia dapatkan akibat perlakuan tak sopan Sasuke barusan padanya. Apakah ia terlihat murahan? Apakah ia serendah itu sampai-sampai pria yang baru dikenalnya itu seenaknya mencuri ciuman pertamanya?

Ah, ya.

Mengingat fakta bahwa ciuman pertamanya baru saja direnggut membuatnya semakin terisak- isak. Tak dipedulikannya suara isak tangisnya itu menggema disana, tanpa ia sadari. Bahkan pria berambut raven dongker yang berdiri didepan toilet pun mendengarnya tanpa berniat masuk. Ia kemudian melengang pergi, kembali ke dunia hingar-bingar barusan.

.

.

.

To be continued