Disclaimer!

This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.

This story is for entertainment only and is not part of the official story line.

Happy reading! :)

Drink My Blood by Osaki Luna


"Otsukaresama, Sakura-chan,"kata Ino setelah selesai membereskan gelas- gelas yang baru dicuci ke raknya. Sakura merenggangkan tubuhnya juga, merasa lega akhirnya shift mereka sudah selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dinihari dan klub malam semakin ramai. Dua orang bartender yang akan melanjutkan shift sudah siap ditempatnya masing- masing.

"Aku duluan, Tenten."

"Hati-hati,"kata Tenten seraya bersiap- siap mencuci tangannya.

Sakura dan Ino berjalan keluar bar bersama- sama. "Kau tidak apa-apa?"

Sakura menoleh ketika mendengar Ino bertanya demikian. "Apa maksudmu apa-apa?"

"Matamu sembab sehabis dari toilet,"kata Ino. "Jangan membohongiku, Forehead. Aku sudah lama mengenalmu."

Sakura terdiam, bayangan dirinya bersama Sasuke kembali berputar dikepalanya. Bayangan itu begitu mengganggunya, membuatnya jijik untuk diingat apalagi diungkit- ungkit. Ia tidak bisa mengatakan hal ini pada Ino. Apalagi Ino sedang dekat dengan Sai. Tak mau ia melihat Ino melabrak Sasuke habis-habisan dan berefek buruk pada hubungannya dengan Sai hanya karena dirinya. Biarlah itu menjadi urusan Sakura seorang.

"Aku hanya teringat ibuku,"gumam Sakura berbohong. Menguatkan aktingnya untuk membuat Ino percaya.

"Oh, Sakura,"kata Ino lembut. Ia mengelus pundak Sakura hangat. "Dia akan baik-baik saja. Kita doakan saja."

"Ya,"kata Sakura. "Aku tidak sempat menjenguknya hari ini karena kesiangan."

"Mau aku temani besok?"

"Daijoubu, Ino-pig. Kau besok ada jadwal foto untuk endorsement kan? Jangan khawatirkan aku."

Ino menatap Sakura yang hanya menyunggingkan senyum lebar. Selalu begitu. Sakura tak pernah mau merepotkannya untuk hal-hal yang begitu privasi. Ino mengerti bahwa Sakura bukanlah tipe orang yang nyaman membagi segala-galanya sebagaimana dirinya, namun tetap saja terkadang Ino ingin sekali Sakura membagikan setidaknya setengah—ah, tidak, seperempatnya saja kalau Sakura memang sesulit itu—beban padanya.

"Ino!"

Mereka menoleh saat Sai melambaikan tangannya pada mereka didepan jalan. Sai menyender dimobilnya, menatap mereka. "Mau kuantarkan?"

Ini saatnya bagi Sakura untuk berpikir tanpa diganggu apapun. Sakura menoleh pada Ino, menyikutnya pelan. "Kau saja Ino, aku bisa pulang sendiri kok."

"Eh? Tidak mau. Aku tak mau kau pulang sendirian,"kata Ino. Ino berseru pada Sai diseberang jalan. "Apakah ini berlaku pada dua orang?"

"Ino!" Cegah Sakura menahan lengan Ino yang sudah bergerak maju. "Tidak apa. Aku juga sedang ingin sendirian."

"Kau yakin?"Tanya Ino sedikit khawatir. "Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian dengan kondisi begini."

"Astaga,"kata Sakura seraya memutar bola mata. "Memangnya aku selemah itu?"

"Baiklah,"kata Ino masih ragu-ragu. "Segera telpon aku. Akan kutunggu."

Sakura mengangguk dan melambaikan tangan saat Ino menyeberang jalan. Beberapa saat kemudian, Ino melongokkan kepalanya keluar jendela mobil seraya berseru, "Telepon aku sampai rumah!"

Sakura memutar bola matanya mendengar perintah over-protective sahabatnya yang satu itu. Sakura mengangguk, lalu mobil mulai bergerak saat klakson pelan sebagai tanda pamit terdengar. Sakura berjalan kearah sebaliknya, menuju halte bis terdekat untuk pulang. Sakura memijat- mijat bahunya yang terasa pegal sekali setelah banyaknya pekerjaan yang harus ia lakukan semalaman di klub malam ini.

"Butuh tumpangan?"

Sakura membeku, menoleh ketika sebuah mobil Mercedes hitam bergerak pelan disebelahnya. Kaca jendelanya diturunkan, menampakkan kepala raven yang tak ingin ditemukannya itu menunduk untuk menatapnya. Sakura menggeleng. "Tidak, terima kasih."

"Ini sudah larut malam."

"Aku tahu,"kata Sakura ketus.

"Naiklah,"kata Sasuke. Sakura mendengus dan terus melangkah. Mobil itu merayap pelan mengiringinya. Sakura mencoba mengabaikan tatapan mengintimidasi yang diberikan Sasuke selama ego Sakura masih mati-matian berusaha mengalahkan perintah Sasuke barusan. Namun sulit rasanya berjalan tanpa mengabaikan tatapan mendominasi yang dilayangkan itu terus-terusan dilontarkan.

"Sialan,"keluh Sakura. "Apa maumu?"

"Mengantarmu pulang,"kata Sasuke tenang.

"Aku tidak menjual jasa seks,"kata Sakura pelan. Sasuke menatapnya tak berekspresi. "Pergilah. Aku tidak mau marah, Sasuke."

"Aku minta maaf."

Sakura berhenti melangkah. Sungguh, semudah itu pria dingin itu berbicara? Seolah- olah mengucapkan maaf saja bisa mengganti rugi perbuatannya tadi? Sakura menatap Sasuke marah. "Apakah semudah itu?"

Sasuke tidak menjawab. Sakura menyilangkan lengannya, mengerutkan dahi menyiratkan kemarahannya pada pria stoic itu. Laki- laki itu tetap saja diam, tidak mengatakan apapun sama sekali selain menatap Sakura. Sakura nelengos. "Kau tak akan pergi kalau aku tidak masuk kan?"

Dengan marah, Sakura membuka pintu mobilnya dan membanting penuh amarah. BLAM! Sasuke tidak bergeming, seolah- olah bantingan tadi tidak mengejutkannya sama sekali. Sakura duduk didalam mobil tidak berucap apa- apa. Sasuke menginjak kopling, memasukkan gigi lalu menjalankan mobilnya.

Dijalan, mereka tidak berkata apa- apa. Bahkan radio pun tidak digunakan fungsinya demi memecah keheningan. Sakura menghela napas, tanpa sadar menyentuh-nyentuh bekas luka di pipinya yang tertutup concealer itu. Atau mungkin sudah luntur karena air mata dan air keran yang menerpa wajahnya tadi. Sasuke juga fokus menatap jalanan, tidak mengatakan apa-apa.

Drrrt...drrrttt...

Sasuke mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya. Ia menempelkannya ke telinga. "Hai'."

Terdengar suara orang berbicara ditelepon. Sakura tidak bisa mendengar dengan pasti. Ditambah ia juga tidak mau peduli dengan urusan Sasuke. Sasuke hanya menjawab singkat berupa ucapan 'ya', 'tunggu sebentar' lalu 'baiklah'. Ketika ia mematikan teleponnya, Sasuke melirik Sakura yang menatap kaca jendela mobil.

"Dimana arah rumahmu?"

Sakura menghela napas. "Belok kiri setelah lampu merah. Masuk lorong sebelah kanan."

Sasuke mengantongi ponselnya lagi, lalu kakinya bergerak menekan pedal gasnya lebih cepat. Mobil melaju dengan kencang membelah keheningan dinihari tanpa ada kata ragu-ragu. Derum mesinnya yang halus itu tetap saja terdengar, membuat perasaan cemas dalam hati si penumpang jadi tak karuan kala seluruh objek dijalan yang mereka lewati hanya terlihat sebagai kelebatan saja.

Sakura sedikit ngeri akan perbuatan si pengendara meski Sasuke sepertinya tidak mengindahkan atau tepatnya tidak mempedulikan bagaimana reaksi Sakura mengenai kelajuan mobil ini. Ia terus melaju hingga menikung tajam saat tiba dipersimpangan, lalu merem keras saat nyaris melewati lorongnya.

Sakura terhempas kedepan, terantuk dashboard mobil. "Ittai!"

Sakura memegang dahi lebarnya yang memerah itu, menoleh marah pada Sasuke yang sudah berhenti didepan sebuah rumah sederhana. "Harusnya kau memakai seatbelt."

Sakura terduduk marah. Tidak adakah ucapan maaf dari pria ini? Dengan kesal, Sakura hendak membuka pintu. Baiklah, tidak akan ada ucapan terima kasih sebagai gantinya.

"Hei,"kata Sasuke.

Sakura menoleh, ekspresinya masih sama. Menunjukkan suasana hatinya yang buruk bukan kepalang. Sasuke memajukan wajahnya, lalu mencium Sakura. Lagi. Mengecupnya lembut, menyapu bibirnya dengan lidahnya. Sakura tertegun, tidak menyangka lagi-lagi ini terjadi padanya. Namun, kali ini yang membedakannya adalah...

Deg. Deg. Deg.

Jantungnya berdebar keras. Apakah ia bernafsu pada Sasuke?

Sakura mendorong Sasuke keras. Sasuke terhenyak, Sakura melap bibirnya yang dipenuhi saliva mereka berdua. "Kau memang bajingan, Sasuke. Enyahlah."

BLAM!

Sakura membanting pintu mobil seraya berjalan langsung kerumahnya. Ia merasa wajahnya memanas, air matanya mengalir lagi, dan bibirnya bergetar. Apakah karena ia bekerja di bar ia juga dipandang sebagai pelacur seperti yang lainnya?

Disatu sisi, Sasuke memandangi punggung Sakura yang semakin jauh. Tanpa sadar ia mencengkeram erat-erat kemudi, bergumam pelan. "Akhirnya kutemukan, putri Haruno."

~0~

Srak! Srak! Srak!

DOR! DOR!

"ARRGHHHHHHH!"

DOR! DOR!

Srak!

Sasuke bergeser kekiri, membidik laki- laki compang-camping yang sekarang merunduk kesakitan memegang lengannya. Laki- laki itu menatapnya marah seraya mendesis, memamerkan taringnya. "Kau Uchiha sialan."

Bzzztt.."Sasuke, kau baik- baik saja? Aku dibelakangnya."...bzzzttt..."Alihkan perhatiannya selagi aku akan menembaknya."

Sasuke menarik pelatuknya. Mengarahkannya kekepala laki-laki bertaring itu. "Kau mencoba membunuhku dengan itu? Kau pasti sudah tahu itu akan sia-sia. Uchiha."

Sasuke tidak menjawab. Ia beringsut mendekat. Pria didepannya mendesis, taringnya yang berdarah- darah itu terlihat bercampur dengan air liurnya yang bening. Sungguh pemandangan menjijikan. Sasuke benci sekali dengan makhluk- makhluk penghisap darah ini. Ia tak akan segan-segan membunuh mereka semua, kalau perlu. Kebencian dan dendamnya sudah mendarah daging pada vampir- vampir sialan ini.

"Darahmu begitu harum,"desis pria itu. "Aku tak sabar meminumnya, Uchiha."

Dor! Klik. Dor!

Vampir itu beringsut menjauh. Berlari, berkelit menaiki tangga lapuk yang segera remuk saat menumpu berat badannya. Vampir itu segera menjauh, berlari didinding menghindari seluruh tembakan yang nyaris mengenai dirinya.

"Kau merepotkan sekali, tidak seperti polisi- polisi itu, Uchiha!"

Laki- laki itu menjulurkan lidahnya, meneteskan air liurnya seraya terus berlari mengitari ruangan gelap itu. Ia terus berlari, membiarkan seluruh peluru itu menembus dinding. "Aku ingin darahmu! Aku mau darah! Aku mau darah! Darah! Darah! Darah!"

Dor! Dor! Dor!

"Darah! Darah! Darah!"

Sasuke mencoba memusatkan perhatiannya. Ia memicingkan mata tajamnya itu, mengarahkan pistol kesatu titik. Ada satu kesempatan.

DOR!

Laki-laki berambut panjang itu terpental jatuh, ketika peluru itu mengenai betisnya. Laki-laki itu hanya mendesis keras, memegangi betisnya yang berlubang karena peluru yang bersarang disana. Peluru itu menimbulkan bunyi desisan aneh, menguarkan aroma terbakar seperti hangus dihidung. Sasuke mendekatkan dirinya pada laki- laki berambut panjang itu, mengarahkan pistolnya tepat pada kepala pria itu.

"Orochimaru,"kata Sasuke dingin. "Temuilah ajalmu sekarang."

Orochimaru terkikik. Dengan histeris memegang betisnya, memasukkan jari- jarinya yang berkuku panjang itu mengorek sendiri dagingnya. Tak lama kemudian, peluru itu berhasil ia keluarkan dengan lihai, disertai desisan menyakitkan pada jari-jarinya yang memegang peluru emas itu. Cling! Peluru itu terjatuh disembarang tempat setelah Orochimaru melemparkannya asal-asalan. "Apakah kau sudah tidak butuh informasi dariku lagi, Uchiha?"

Sasuke benci sekali dengan cara Orochimaru menyebutkan nama keluarganya. Ia tidak akan pernah sudi nama keluarganya disebut oleh mulut- mulut kotor haus darah macam vampir terutama Orochimaru si manipulatif itu. Sasuke menarik selongsongnya. Klik.

"Sasuke,"bisik Orochimaru menyeringai. Sasuke tersentak ketika namanya disebut. "Masih ada satu keturunan Haruno yang masih hidup."

Sasuke tersentak. Haruno? Keluarga vampir elit yang telah menghabisi keluarganya? Bukankah ia sudah membunuh mereka semua? Sasuke menggertakkan giginya kala nama keluarga yang menjadi daftar hitamnya itu disebutkan oleh Orochimaru si vampir aneh bermata ular itu.

"Tidak ada lagi kesempatanmu mengulur- ulur waktu kematianmu."

"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA,"Orochimaru terbahak- bahak menjilat bibirnya. Orochimaru menarik peluru dari kakinya. Menyisakan lubang yang mengucurkan darah. "Sayang sekali misimu membunuh keluarga elit itu belum selesai, Uchiha."

Sasuke tidak menjawab, ia mempertimbangkan cara macam apa yang ingin Orochimaru lakukan untuk mengelabuinya saat ini. Apalagi ditambah kecurigaannya pada Orochimaru yang mengetahui dengan jelas alasan yang menghantarkannya menjadi bagian dari kepolisian Konoha ini; memburu vampir-vampir terutama yang memiliki hubungan darah dengan vampir elite Haruno.

"Dia hidup diantara segerombolan manusia. Kau tak tahu kapan saja dia akan berubah seperti kami dan memangsa mereka semua saat jiwa vampirnya itu muncul."

Orochimaru terkekeh.

"Kau pasti ingin menghabisinya kan, Uchiha?"

"Jangan sebut nama keluargaku dengan mulut kotormu itu, Orochimaru."

"Aw! Galak sekali, Wakil Kepala Pimpinan Kepolisian Tokyo kita ini!"

"Kalau kau ingin mengetahui keberadaannya, bebaskan aku. Akan kutunjukkan padamu keberadaannya sekarang."

"Sasuke, jangan dengarkan dia! Dia menipumu."...bbzzzttt..."Sasuke!"

Sasuke menimbang- nimbang setelah seruan Sai terdengar dari mic bando call dikepalanya itu. Orochimaru sepertinya tidak berbohong karena wajahnya terlihat begitu serius. Ia menjilat bibirnya sendiri, menunggu.

Sasuke menurunkan pistolnya. "Waktumu 10 menit sebelum peluru emas ini mendarat di jantungmu."

Orochimaru menyeringai.

Sasuke masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana seringai menjijikan makhluk vampir itu padanya saat itu. Mereka akhirnya pergi bersama menuju sebuah tempat, disebuah rumah sederhana yang terletak disudut perumahan, dengan tembok tinggi yang membatasi kompleks itu dengan hutan gelapnsana. Ini semakin membuat Sasuke tidak mengerti. Apakah Orochimaru sedang mengerjainya saja? Mengulur-ulur waktu kematiannya atau mencari celah untuk kabur sewaktu- waktu dari Sasuke? Kemungkinan yang kedua terdengar tidak masuk akal karena tidak akan pernah ada vampir yang bisa lolos darinya. Tak akan ada, satupun.

"Kau mau bercanda?"

Orochimaru mengulurkan lidahnya seraya berjongkok didekat tembok itu. "Kau harus mendekat sendiri ke sana, dan lihat siapa yang kumaksud."

Sasuke tidak akan tertipu pada muslihat Orochimaru, vampir yang selalu berhasil lolos dari Kepolisian Konohagakure itu. Sasuke mengeluarkan pistolnya, menimbang-nimbang apakah ia harus menembak Orochimaru sekararang juga sehingga ia tidak perlu melanjutkan omong kosong ini atau menembak vampir yang mungkin memang bersembunyi dirumah asri itu.

Srak.

Sasuke mengarahkan pistol itu pada Orochimaru yang sudah mengangkat tangannya sejak tadi. Orochimaru bahkan masih berdiri ditempat yang sama, meskipun Sasuke sudah bersiap- siap menembakkan peluru emas itu tepat ke kepala vampir yang licik itu. "Woah! Tenang dulu, Uchiha. Apakah kau bermaksud mengacaukan pertunjukan?"

"Pertunjukan yang sebenarnya adalah saat peluru ini menembus kepalamu sendiri."

Orochimaru terkikik, lidah panjangnya terjulur selama ia menatap Sasuke yang menatapnya tajam. Sedikitpun tak ada rasa gentar merayapi dirinya sendiri, tidak mencemaskan nasib nyawanya yang sudah berada diujung tanduk. Sasuke sudah hendak menarik pelatuknya, ketika ia mendengar gesekan daun-daun dan juga pergerakan langkah pelan menuju hutan dimana mereka berdiri, yang tak jauh dari rumah asri tempat tujuan mereka berada.

"Dia dibelakangmu,"bisik Orochimaru, matanya berkilat-kilat.

Sasuke tetap mengarahkan pistol itu pada Orochimaru, dan menoleh ke belakangnya. Ia bisa melihat dengan mata tajamnya itu, sebuah siluet melangkah melewatinya begitu saja. Membuatnya sedikit menggerakkan otot wajah, menampakkan ekspresi bingung namun kewaspadaannya tidak juga turun. Ia bisa melihat siluet itu samar-samar berbentuk tubuh perempuan, berjalan menjauhinya menuju kegelapan hutan.

Lalu, ia melihat dua sosok yang mengikuti gadis itu. Mereka adalah laki- laki yang mengendap-endap mengikuti gadis itu sembunyi-sembunyi tanpa menyadari eksitensi Sasuke apalagi vampir berbahaya yang ada didekat sana menyaksikan ulah mereka berdua. Yang mana yang vampir? Apa yang gadis itu lakukan pada malam- malam buta seperti ini pergi ke tengah hutan?

Orochimaru mengukirkan senyumnya. "Apakah kau penasaran siapa dia?"

Sasuke mendelik, lalu bergerak mengikuti mereka. "Tak akan ada lagi kesempatan berikutnya bagimu untuk lolos."

Inilah yang Orochimaru tunggu- tunggu. Ia terkikik lagi, membuat suasana malam semakin menyeramkan seraya berlari menjauhi Sasuke. Tidak usah berlama-lama lagi mencerna maksud Sasuke, karena kesempatan emas ini tidaklah datang dua kali. Orochimaru kembali bebas, mencekik keamanan seluruh manusia yang ada di kota ini. Atau mungkin dunia ini.

Sedangkan Sasuke sudah tidak memikirkan Orochimaru lagi. Saat ini rasa penasarannya akan aktivitas tiga orang yang mencurigakan itulah yang menyita seluruh perhatiannya, hanya ingin memastikan sesuatu. Jika Orochimaru hanya berbohong, tak akan pernah ada lagi kata ampun itu. Ya, tak akan pernah ada ampun pada vampir apapun alasannya.

~0~

Sasuke masuk kedalam kantornya. Kantor kepolisian masihlah ramai meskipun tengah malam sudah menggantikan jam, memerintahkan seluruh umat untuk segera tidur mempersiapkan diri untuk hari esok. Beberapa petugas bahkan sudah memakai rompi antipeluru, jubah hitamnya, dan tak lupa pula peluru emas yang mengisi selongsong pistol perburuan mereka nantinya. Semua orang membungkuk hormat menyapa Sasuke, yang hanya dibalas anggukan singkat oleh Sasuke sendiri.

"Oi, Teme!"

Sasuke melirik malas teman berambut pirangnya yang sekarang sedang menyesap kopinya seraya mengekorinya keruangan bertuliskan "Wakil Pimpinan". Hanya Naruto seoranglah yang bisa memanggilnya tanpa hormat itu meskipun mereka berada dikantor dengan seluruh formalitas pekerjaan yang mengekang mereka semua untuk bersikap. Sasuke membuka pintu ruangannya, masuk kedalam seraya membuka- buka lemari yang berisikan seluruh perlengkapannya sendiri.

"Apakah kau ikut perburuan vampir Suna itu malam ini?"

Sasuke mengangguk, seraya meraih pistol-pistolnya yang masih kosong. Naruto duduk di sofa, meletakkan kopinya. "Sudah kuduga, kau tidak akan pernah bisa menyerahkannya begitu saja pada kami semua. Kakashi seharusnya tidak perlu memerintahkanmu terus-menerus seperti ini."

"Aku sendiri yang mengajukan diri,"kata Sasuke seraya memasukkan peluru emas kedalam pistolnya.

"Oh, ya, kudengar Sai habis kena marah Kakashi karena masalah Orochimaru itu."

Sasuke tidak menjawab. Ia bisa menduga apa yang terjadi diruangan Kakashi selama Sai berada disana disalahkan atas masalah lolosnya Orochimaru begitu saja dari cengkeraman kepolisian. Sai bahkan tidak mengadukan perihal Sasuke yang pergi bersama Orochimaru itu, meskipun Sai berhak melaporkan itu pada Kakashi karena malam itu ketua misinya adalah Sai.

"Bukankah kau juga ikut misinya malam itu?"

"Hn."

"Ah, pasti berat sekali ya menangkap ular licin satu itu. Dia benar-benar vampir licik yang berbahaya sekali."

Tentu saja. Orochimaru bahkan sudah membuat Sasuke melepaskan dirinya hanya dengan iming-iming yang entah bagaimana tepat diberikan pada Sasuke; Haruno.

"Oi, kapan terakhir kali kau beristirahat? Kau tidak lihat matamu itu heh? Kantong gelapmu bahkan sudah seperti teh celup basah, Teme."

Sasuke mendelik tajam. Orang yang diliriknya malah seperti tidak peduli sama sekali akan ucapannya barusan yang telah membuat kesal si pendengar. Naruto malah menghela napas, menghembuskan nafasnya. "Tak kusangka vampir-vampir dari kota lain itu bisa lebih ganas dari vampir-vampir Konoha."

"Apa yang mereka lakukan?"

Sudah Naruto duga, sahabatnya itu hanya akan menjawab perkataannya jika itu berkaitan dengan vampir saja. Naruto bahkan sering mengolok-ngoloknya, menyebutnya sebagai vampireholic karena Sasuke seperti punya obsesi yang begitu hebat pada vampir. Tepatnya, obsesi membunuh. Naruto menyesap sisa kopinya, lalu berkata, "Menghipnotis korban untuk menyerahkan diri mereka begitu saja pada komplotan Suna itu. Kepolisian Sunagakure bahkan gagal menangkap mereka bertahun-tahun."

Sasuke mendengus. Selemah apa Kepolisian Sunagakure itu sampai-sampai mereka tidak berhasil menangkap komplotan vampir itu? Sasuke sudah selesai dengan seluruh perlengkapannya, ditambah jubah hitam yang selalu melingkupinya kemanapun ia pergi. Naruto bangkit berdiri, merenggangkan tubuhnya seraya menguap.

"Ah, jadi kita berangkat sekarang ya?"

.

.

.

To be continue


Haloo semuanyaaaa!!!

Aku pribadi sebagai author dari fanfiction ini, truly thankfull sama kalian semua yang sudah setia membaca dan mengikuti terus cerita satu ini. Beneran pribadi, aku bahagia bgt setelah baca review2 kalian semua yg blm bisa aku balas satu persatu dulu (kuusahakan nanti aku adakan sesi itu tapi gatau kapan tepatnya *plaaak!) hehehe. Terima kasih kuucapkan untuk semua pihak yang mendukungku, memberikanku saran dan kritik yg amat membangun terhadap fanfiction ini unch unchhhhh.

Dari kemarin ramai readers2 sudah baik ngingatin aku utk bikin soal 'disclaimer' atau 'hak cipta' soal fanfiction ini dan aku berterima kasih banget!!! Sudah aku edit ya gaes, klo gapercaya cek aja satu2 semua ff buatan aku, sekalian cek sudah direview apa belom sama kalian HAHAHAHAHAHAHAHA (sekali mendayung dua pulau terlampaui)

Pokoknya, arigatou minna-san!

See youu~