Disclaimer!

This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.

This story is for entertainment only and is not part of the official story line.

Happy reading! :)

Drink My Blood by Osaki Luna


Dor! Dor! Dor!

"Sial!"

Lelaki berambut pirang dengan rambut terikat diatas kepalanya itu menoleh, mendesis memamerkan taringnya saat sebuah peluru nyaris mengenai tubuhnya. Kemarahannya segera muncul karena kegiatannya yang sedang meminum darah itu diganggu oleh orang- orang merepotkan dari Konoha itu.

Lelaki yang bernama Deidara itu segera meloncat menjauh, meninggalkan tubuh wanita yang kejang-kejang dengan darah berkubang dilehernya sendiri menunggu ajal itu menjemputnya. Deidara mendecih, tidak ikhlas melihat darah segar itu mengalir sia-sia diatas tanah. Harusnya darah itu mengalir dalam tenggorokannya sekarang juga.

"Orang yang mengganggu makananku tak akan kumaafkan! Kemarilah kalian, pecundang! Jangan cuma berani menembak dari jauh, Brengsek!"

"Berisik,"seorang lelaki berambut nanas memutar bola matanya, tiba-tiba saja sudah muncul tak jauh dari Deidara berdiri.

"Oh, Anjing pemburu dari Konoha rupanya."

Deidara langsung tertawa mengejek ketika mengucapkan kalimat itu. Shikamaru, pria yang berada dihadapan Deidara hanya mengangkat alis seraya bergumam, "Mendokusai. Kupikir vampir buronan Sunagakure itu lebih cerdas dari perkiraan."

"Apa katamu, heh?"

Deidara beringsut maju. Tangannya sudah siap mencekik pria berwajah malas yang menyebalkan itu, yang hanya berdiri tanpa memegang apapun. Apakah manusia satu ini tidak tahu siapa dirinya? Berani-beraninya laki-laki nanas ini meremehkan dirinya?

"Seharusnya Kepolisian Konoha itu sebagus yang terdengar bukan? Lalu kenapa malah mengirim orang bodoh yang kemari tanpa membawa apa-apa, heh? Apakah kau lelah menjadi polisi dan mau menyerahkan nyawamu padaku?"

Deidara menjilat bibirnya, bergerak mendekati Shikamaru yang masih berdiri tenang tidak gentar sekalipun. "Kemarilah, akan kutunjukkan padamu seni adalah darah."

"Kau terlalu banyak bicara. Merepotkan sekali."

Deidara langsung terpancing ketika mendengar ucapan bernada tidak tertarik itu, ia langsung menunjukkan taring-taringnya dan meloncat menerkam Shikamaru. Shikamaru langsung mendongak, berkata lantang, "Sekarang."

Dor! Dor! Dor!

"Arghhhh! Sial! Brengsek!"

Deidara langsung terlontar, berdebam saat tubuhnya menyentuh lantai dengan beberapa peluru emas bersarang ditubuhnya. Kemarahannya semakin tak tertahankan, ketika menyadari ia baru saja dijebak oleh polisi-polisi dari kota ini. Dengan marah, ia berusaha bangkit mencabut peluru emas yang perlahan-lahan membakar dagingnya itu. "Kepolisian Konoha Brengsek!"

"Naruto!"

"Oke!"

Naruto segera berlari, dua belati khusus berkilat berada dikedua tangannya. Ia sudah siap menikam pria yang sudah melepaskan peluru emas yang ada dikakinya seraya mengaduh dan bersumpah serapah mengata-ngatai Kepolisian Konoha. Naruto sudah tak ragu-ragu lagi untuk segera menghabisi vampir yang terluka parah itu, dengan menusukkan belati logam murni itu langsung ke leher si vampir iti sendiri. Urat nadi dibalas urat nadi. Darah akan dibalas darah. Naruto menahan geli ketika mengingat ucapan yang sering dilontarkan oleh pria tanpa ekspresi yang menjadi wakil pimpinan kepolisian itu.

Bruk!

"Naruto!"

Naruto terjatuh, ketika mayat perempuan tadi menimpanya segera. Naruto segera bangkit berdiri, sedikit kaget melihat mata gadis itu yang membelalak terengah- engah seiring darahnya yang mengalir membasahi pakaian Naruto. Shikamaru segera mendekati Naruto, berjongkok memandangi gadis yang masih berdeguk-deguk meregang nyawa itu.

"Sialan, dia memakai perempuan ini untuk menghalangiku. Dia bahkan tidak bisa sekarat dengan tenang." Gumam Naruto, marah. "Mereka benar- benar iblis."

"Perempuan ini masih dalam pengaruh hipnotis,"kata Shikamaru memandangi kedua bola mata gadis itu dengan cermat. Shikamaru beralih memandangi luka besar yang menganga dileher gadis itu, menyadari bahwa harapan untuk menghentikan pendarahan apalagi probabilitas untuk mempertahankan nyawanya amatlah kecil. Shikamaru menghela napas, bangkit berdiri seraya mendekatkan mic bando call ke bibirnya.

"Tsunade-san! Korban ada di daerah X dengan pendarahan karena vampir. Segera kerahkan tim medis!"

"...Bzzzt..Diterima! Kami kesana!"

"Akhirnya kau keluar juga,"kata Sasuke yang tiba-tiba sudah berdiri didepan Naruto dan Shikamaru yang sibuk mengurusi 'calon' mayat itu. Sasuke mengeluarkan pistolnya, tatapan tajamnya mengarah tepat pada seorang pria yang duduk diatas beton pembatas daerah itu. "Sasori."

"Sungguh kehormatan bagiku, dikenal olehmu langsung, Uchiha."

Sasori menyunggingkan senyumnya, turun dengan luwes ketanah mendekati Deidara yang menggerutu setelah seluruh peluru itu berhasil dicabutnya sebelum lebih jauh membakar daging dan membunuhnya pelan-pelan. Sasori menelengkan kepalanya, rambut merahnya bergoyang ketika angin malam yang membuat hawa dingin itu melewatinya. Suasana begitu mencekam, hanya karena keberadaan kedua vampir itu.

Mereka berdua...memang berbahaya.

"Kami tak bermaksud membuat keributan,"kata Sasori. "Bukankah protokol kepolisian adalah bertindak ketika keributan terjadi?"

"Terlalu cepat seratus tahun untukmu memahami protokol kami,"kata Kakashi yang datang bersama Sai dan Kiba.

"Kalau begitu akan lebih baik kalau kita bertemu seratus tahun lagi,"kata Sasori. "Lagipula keramaian seperti ini kurang adil, bukan?"

"Kita bisa membicarakan keadilan saat kau menyerahkan diri."

"Ah, Sasori. Aku tidak mau lagi berurusan dengan Sunagakure dan kembali kesana."Keluh Deidara seraya menatapi tubuhnya yang sedang mengalami penyembuhan.

"Tentu saja, Deidara."Kata Sasori. "Bersenang-senang dengan Kepolisian Konoha mungkin akan sedikit menarik."

Dor!

Sasori dan Deidara sudah berpencar ketika peluru emas dari pistol milik Sasuke menembak mereka. Peluru itu langsung bersarang di dinding belakang sana, tidak mengenai daging sang vampir. Sasori segera mengeluarkan pistolnya sendiri, berlari mengitari mereka dengan kecepatan tak normal berusaha menembaki kawanan polisi itu.

Deidara segera menimpa tubuh Sai, mereka langsung berkelit diatas tanah. Meninju satu sama lain, menghindar dan melayangkan tendangan. Sai segera menghentakkan kepalanya ke kepala Deidara, membuatnya tersungkur menjauh dari atas tubuh Sai. Sai segera bangkit berdiri, menarik kepala Deidara, hendak menghentakkan kepala vampir itu pada lututnya namun kakinya segera ditarik oleh Deidara, membuatnya terjungkal jatuh ke tanah.

"Berbaringlah dan biarkan aku minum darahmu dengan tenang!"

Sai berguling ketika Deidara melompat hendak mengarahkan sikunya kewajah Sai, membuat Deidara terbanting ketanah. Sai segera menendang wajah Deidara, membuat Deidara terbatuk-batuk, berusaha bangkit meskipun tendangan-tendangan penuh perhitungan dan tenaga itu mengenainya bertubi-tubi.

Sai mengeluarkan pistolnya sendiri. "Enyahlah."

"Sai!"

Sai ambruk, tepat saat Naruto berseru keras mendapati Kiba yang sudah meninju keras pipi pucat Sai. Sai terkejut, berusaha menguasai dirinya lagi meskipun rasa pening itu mengacaukan sedikit keseimbangannya. "Kiba?"

"Sialan!"Naruto segera berlari meninggalkan Shikamaru bersama perempuan berdarah itu, menghadang Kiba yang sudah bersiap- siap melayangkan tinju berikutnya. "Oi! Kiba! Sadarlah!"

"Kurasa ini akan sedikit imbang jika tim kami sekarang menjadi tiga orang ya"Kata Sasori tenang ketika Sasuke sedang mengambil pistol baru yang masih berisikan peluru emas itu. Sasori bergerak maju, telunjuk kanannya menekuk, seketika Kiba langsung menghajar Naruto membabi-buta.

Sasuke mendecih. "Caramu cukup pengecut."

"Lho, memangnya aku mengajak kawananku untuk menyerangmu juga?"

"Baiklah,"kata Sasuke seraya memasukkan kembali pistol itu kedalan sakunya. "Akan kuturuti permintaanmu sebelum kematianmu menjemput."

Sasori tersenyum kecil, membuat wajah baby-facenya menjadi menyeramkan seiring senyum itu merekah ketika Sasuke sudah bergerak maju. Permainan sesungguhnya akan dimulai sekarang. Inilah dia, Uchiha yang ditakuti oleh kaum vampir seluruh Konohagakure. Uchiha tunggal yang tidak punya siapapun untuk menjadi keluarganya. Sama seperti dirinya.

"Sasuke, jangan bercanda,"kata Kakashi menahan bahu Sasuke. "Kau akan dihipnotis juga olehnya saat jarakmu sudah dekat dengannya. Kendalikan dirimu."

Sasuke menatap Kakashi. "Pengaruhnya tidak berlaku untukku."

"Tidak ada yang menjaminmu,"kata Kakashi tenang. "Mereka berbahaya. Semakin dekat kau disekitarnya, semakin besar potensi mereka untuk mengendalikanmu."

"Kebencianku adalah perisai terbaik,"kata Sasuke. Sasuke menyingsingkan lengan kemejanya hingga ke siku seraya mendekati Sasori yang sudah melipat tangan didada dengan telunjuk yang bergerak pelan. Kiba bereaksi dengan cepat sesuai gerakan pelan itu, dan Sasuke yakin pusat kendalinya ada ditelunjuk kanan itu. Tak ada pilihan lain. Ia harus mematahkan telunjuk itu.

"Ready..."

Sasori menatap Sasuke seraya menyunggingkan senyum miringnya. "Go."

Wus! Wus! Tap! Tap! Wus!

Sasori menghindar dengan tenang seraya mundur, selama tangan Sasuke bergerak cepat mencoba melayangkan tinju ke wajahnya dengan gesit. Sasori tetap menyilangkan kedua tangannya didada selama bergerak mundur, telunjuknya terus bergerak membuat pergerakan Kiba dan Deidara disebelah lainnya semakin mudah terhadap Naruto dan Shikamaru.

"Caramu menyerang bagus sekali. Kepolisian Konoha memang tidak main-main ya,"kata Sasori seraya merunduk saat kaki Sasuke melayang ke atas. Sasuke tidak menjawab, ia memfokuskan diri menatap segala titik kelemahan Sasori yang ada. Ia memicingkan mata, menajamkan pandangan untuk mencari celah pada diri Sasori itu.

"Tapi tetap saja kau cuma manusia biasa,"kata Sasori seraya meloncat dan melayangkan tendangan keras pada kepala Sasuke. Sasuke mengelakkan diri, lalu menarik kaki Sasori yang membuat Sasori terjatuh dengan bunyi debum keras.

BUM!

"Sasori!"Seru Deidara yang sedang berkelit dengan Sai diatas tanah. Buagh! Deidara terpelanting saat tinju dari Naruto baru saja menghantamnya, diikuti darah yang mengalir dari hidungnya. "Cih!"

Shikamaru masih berpikir keras, memandangi seluruh gerak- gerik Kiba yang dengan luwes dan tangkasnya menyerang dirinya saat ini. Ia sudah terjebak, tembok gang itu sudah menyapa punggungnya sekarang. Kiba menatap Sasuke dengan pandangan kosong, tangannya bergerak terus-menerus melayangkan tinju yang cukup sulit ditangkap oleh mata. Shikamaru masih saja tidak bisa menemukan celahnya, kemana ia harus menyadarkan Kiba.

"Kiba,"kata Shikamaru. "Bukankah kau itu merepotkan sekali?"

Buagh! Shikamaru menghindar, membuat kepalan tangan kekar milik Kiba itu sudah melayang tepat disebelah kepala Shikamaru, mendarat di tembok gang itu. Sungguh tinju yang mengerikan. Shikamaru tidak bisa membayangkan seberapa parahnya luka yang akan ia dapatkan diwajah malasnya itu jika tinjuan tadi berhasil mendarat sempurna diwajahnya. Shikamaru menghela napas seraya merogoh jaketnya sendiri.

"Aku tidak suka melakukan ini pada temanku, tapi apa boleh buat,"kata Shikamaru. Shikamaru mengeluarkan pengejut listrik yang ia simpan didalam jaket anti pelurunya, seraya menghela napas.

Bbzzzzzzttt...Bzzzzzzttt...

"Ini akan sedikit sakit jadi bertahanlah,"kata Shikamaru hendak mendekatkan setrum listrik itu ke Kiba.

Bruk.

Kiba terjatuh, membuat kening Shikamaru mengerut heran. Bahkan alat kejut listrik itu masih berada ditangan Shikamaru. Kiba mendongak, menatap Shikamaru. "Lho? Aku kenapa?"

Shikamaru mematikan alat listrik itu, membantu Kiba untuk bangkit berdiri. Seketika saat mereka tersadar oleh lingkungan, mereka baru tahu bahwa dua vampir itu telah kabur dengan selamat. Sasuke terlihat masam, lecet di pipinya menunjukkan kesan mengerikan itu semakin jelas. Naruto membantu Sai bangkit berdiri, Sai terlihat lebam disana-sini karena pertarungan sengitnya dengan Deidara barusan.

"Jadi mereka berhasil kabur,"gumam Shikamaru dengan malas.

"Mereka memang bukan vampir biasa,"kata Sai seraya meringis memegangi pipinya yang bengkak.

"Ini akan jadi merepotkan,"kata Shikamaru lagi.

"Oi! Teme!"

Sasuke tidak menggubris panggilan Naruto itu seraya berjalan melewati mereka semua. Wajahnya masih sama, memancarkan kemarahan yang tidak dibuat-buat. Ia masih saja kesal karena vampir Suna itu berhasil kabur begitu saja, lolos dari pertarungannya barusan. Harusnya sedikit lagi ia bisa menjatuhkan Sasori dengan mudah, lalu menyeret mereka semua. Tapi sialnya, entah kenapa Sasori bisa menggerakkan tubuhnya—sekali lagi ditekankan, tubuh Sasuke sendiri—hingga Sasuke menjauh dari dirinya. Sialan. Ternyata Sasori bukanlah vampir sembarangan. Kemampuan telekinesisnya sangat berbahaya.

Ia tak akan pernah membiarkan vampir manapun lolos dari dirinya. Sama sekali.

"Otsukaresama, Sasuke,"kata Kakashi seraya menepuk pundak Sasuke. Sasuke melirik Kakashi tajam, merasa tersinggung akan ucapan itu. "Setidaknya kita bisa belajar dari pengalaman hari ini, persiapan macam apa yang dibutuhkan saat berhadapan dengan mereka lagi nantinya."

Sasuke tidak menjawab, ia mempercepat langkahnya menuju mobil sport itu lalu berkata, "Aku duluan."

BRRRRRMMMMM!

Mobil itu meraung kencang saat Sasuke menekan gas tanpa memasukkan gigi kuat-kuat, memecah keheningan malam setelah keributan tadi. Ia mendecih, memegang pipinya yang lecet karena berbenturan dengan tanah. Sasuke memasukan gigi mobilnya, lalu menginjak gas tanpa tedeng aling-aling. Ia lampiaskan kemarahannya itu hanya pada laju kendaraannya yang sudah menggila itu, membelah kesunyian malam dikala seluruh umat sudah terlelap nyenyak tanpa menyadari akan adanya ancaman vampir disekitar mereka.

~0~

Sakura bergerak gelisah dalam tidurnya. Tenggorokannya terasa amat perih, begitu panas membakar. Membuatnya berkeringat dingin, tak mampu menahan rasa sakit itu lebih lama. Dalam mimpinya, ia bisa melihat sesuatu yang mengalir dengan pelan. Aliran itu entah datang dari mana, yang pasti terlihat menggiurkan sekali.

Berwarna pekat, dan aromanya...begitu menggoda hingga dahaga Sakura terasa perih menusuk.

Sakura membuka matanya, wajahnya kosong. Matanya bersinar hijau terang, menyala seram didalam kegelapan kamar. Mengalahkan sinar mata kucing-kucing yang biasanya tampak dimalam hari. Sakura bangun dari tidurnya, mengerang memegangi lehernya sendiri yang terasa panas. Panas sekali.

Ia berjalan keluar kamar, menuju pintu depan, lalu keluar dari rumahnya. Telinganya menajam, mendengarkan sesuatu yang ia ingin dengar. Ia tidak tahu suara apa, tapi dirinya memerintahkan untuk mencari tahu. Sakura berhenti melangkah saat belum jauh dari rumahnya, mendengar sesuatu.

Deg...Deg...Deg...

Bunyi seperti denyutan. Lalu aliran pelan yang teratur seirama dengan denyutan itu. Dimana? Tenggorokan Sakura semakin sakit mendengarkannya, lidahnya semakin mengucurkan liur mengingikan sumber bunyi itu.

Deg..Deg...Deg...

Sakura menelengkan kepalanya, lalu hembusan angin membantunya mencium sesuatu. Bau amis yang manis, membuat instingnya mengendalikan diri, berlari segera ke hutan yang tak jauh dari rumahnya.

Srak! Srak! Srak! Srak!

Bruagh!

"Kkkhhhhhhh~"

Sakura meronta saat menyadari sebuah kuncian yang kuat mengkungkung dirinya dari belakang. Sakura menoleh, mendesis memamerkan taringnya seraya mendapati seorang pemuda berwajah dingin dengan rambut raven itu menatapnya dengan tajam. Sakura menyeringai, menyadari asal bunyi denyutan itu ada pada tubuh yang menempel di punggungnya sekarang. Aroma manis menggiurkan itu sudah menyapa penciumannya dengan tajam, menyerbak membuatnya semakin haus.

"Tak kusangka kau memiliki darah yang manis ini."

"Apakah kau masih menginginkannya?"

Sakura mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud pria berambut raven itu. Sakura mencoba melepaskan diri dari kuncian tangan pria itu, namun pria itu tidak bergeming dari lehernya. Sakura mencoba menghentakkan kepalanya keatas, namun pria itu sudah memundurkan kepalanya sendiri.

"Kalau kau ingin darahku—"

Sakura sempat membeku saat Sasuke membisikkan kata-kata bernada merendahkan itu ditelinganya.

"—Enyahlah, Haruno."

Mata Sakura membesar, seketika ia terperanjat dan mengejang ketika sesuatu menyentrum pinggangnya. Sakura langsung merasakan pandangannya gelap, lalu terjatuh kealam mimpi lagi. Atau mungkin, berpindah mimpi.

Laki-laki yang menguncinya dalam pelukan itu, segera melonggarkan kunciannya dan Sakura nyaris ambruk karena itu. Pria itu segera meraih Sakura, menggendongnya dengan gaya bridal dan membawanya masuk kedalam rumah sederhana tempat Sakura keluar tadi. Sakura terkulai lemas tak berdaya dalan tidurnya, tak bergeming selama pria itu berjalan masuk kedalam sebuah kamar yang terlihat dimata pria itu.

Pria itu meraih selimut yang terlipat rapi didekat sana, lalu membentangkannya ke seluruh tubuh Sakura. Sakura meringkuk nyaman dalam selimutnya, mendesah pelan, lalu bergumam.

"Sasuke..."

Pria itu membeku. Ia menatap Sakura dengan waspada, memastikan bahwa Sakura hanya sekedar mengigau saja. Sakura pastilah masih tertidur karena sengatan listrik tadi. Manusia mungkin bisa pingsan karena benda bertegangan listrik itu, tapi vampir tidaklah begitu. Ini seperti obat bius yang dijejalkan secara paksa ke tubuh seseorang dan mereka langsung tertidur karenanya.

Sakura masih bernapas dengan tenang, menandakan ia tidaklah terbangun atau sadar akan apa yang terjadi sedari tadi. Pria yang namanya disebut itu akhirnya berjalan keluar kamar, menutup pintunya pelan dan berjalan keluar rumah. Ia menghela napas, rasa pusing mulai melandanya karena tidak tidur sejak beberapa hari yang lalu. Harusnya tadi pagi ia segera menemui dokternya untuk meminta resep obat tidur lagi. Tapi waktunya selalu saja tersita dengan kesiagaan memburu vampir, waktu untuk makan saja sedikit.

Atau sebenarnya, ia yang tidak memberikan waktu beristirahat barang sejenak karena pikirannya sendiri. Seandainya saat ini ibunya masih hidup, pastilah ia akan diomeli habis- habisan karena jarang makan apalagi tidur. Ibunya pasti akan mengirimkan bekal makanan sebagai peringatan waktu makan tidak boleh dilewatkan, sebagaimana taktik ibu- ibu lainnya demi memastikan gizi anak-anaknya tetap terjaga.

Sasuke masuk kedalam mobil yang terparkir diluar gang sana, memijit-mijit kepalanya sendiri. Masih banyak teka-teki yang belum ia pecahkan, ditambah kasus keberadaan vampir Sunagakure itu. Ia meletakkan kepalanya diatas setir, memejamkan mata untuk melepaskan penatnya sejenak.

Oka-san..

Aku ingin bersamamu lagi.

.

.

.

To be continued