Disclaimer!
This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.
This story is for entertainment only and is not part of the official story line.
Happy reading! :)
Drink My Blood by Osaki Luna
Sasuke membuka matanya, menguceknya lalu merenggangkan tubuhnya yang terasa lelah. Ia meraba-raba nakasnya, mencoba meraih ponselnya yang biasa ia letakkan disana sebagai alarm. Sakura mengerutkan dahi bingung saat benda yang ia cari-cari itu tak ada disana, membuatnya terpaksa memiringkan tubuh dan mengangkat kepala mencari ponsel itu. Nihil.
Sakura segera duduk. Ia langsung memutar tubuh, mengibaskan selimut yang berada dibawah kakinya. Lalu mengangkat bantal-bantal. Tidak ada. Kecemasannya langsung muncul. Apakah dia lupa membawa ponselnya? Atau dia menyimpan ditasnya sejak malam tadi? Sakura ingat dia semalam begitu kelelahan sampai-sampai langsung berganti baju dan langsung tidur. Ya, pasti lupa ia keluarkan dari tasnya.
Sakura turun dari ranjang, dan tertegun. Tunggu. Ini kamar siapa? Sakura memandangi sekeliling kamar dengan heran, lalu bernafas lega saat menyadari fakta ia berada dikamar ibunya.
Hah?
"Astaga!"Seru Sakura seraya berdiri kaget. "Apakah aku sebegitu capek sampai-sampai ketiduran dikamar Oka-san?"
Sakura segera merapikan ranjang itu, membenahi seluruhnya lalu berjalan keluar menutup pintu kamar. Ia langsung masuk kedalam kamarnya sendiri, mencari- cari tasnya yang tergeletak diatas kursi tata rias. Sakura membukanya, mendapati ponselnya sudah berdering sejak tadi didalam sana. Sakura mematikan alarm itu, melirik jam yang tertera.
Jam sebelas siang.
Sakura menguap, meletakkan ponselnya lagi diatas nakas. Ia berjalan ke kamar mandi seraya meraih handuknya, hendak bersiap- siap untuk kerumah sakit. Ia ingin berjumpa dengan ibunya, rindu sudah membayangi dirinya karena sehari belum bertemu. Meskipun Sakura tahu wanita itu bukanlah ibu kandungnya, tetap saja dia menganggapnya sebagai ibunya sendiri karena telah merawatnya sejak kecil. Sakura begitu menyayanginya, lebih dari apapun. Tak masalah ia tak tahu siapa keluarga sebenarnya, asalkan dia memiliki seorang ibu yang selalu menjaganya dan mencintainya.
Setelah selesai bersiap- siap, ia pun pergi kerumah sakit. Tak lupa ia mampir sebentar ke toko bunga milik keluarga Yamanaka untuk membelikan bunga krisan sebagai hadiah untuk ibunya. Sakura masuk kedalam ruangan yang amat familier itu, menyapa ibunya yang tergeletak lemah diranjang sedang memakan bubur sarapannya.
"Oka-san! Tadaima."
Ibunya tersenyum manis ketika Sakura mengucapkan itu dengan ekspresi riang. Sakura meraih vas bunga didekat jendela sebelah ranjang Ibu, mengeluarkan bunga matahari yang sudah layu disana seraya menggantinya dengan krisan yang ia beli. "Apa kabarmu, Sakura-chan?"
"Kemarin aku tidur sampai jadwal shiftku, jadi aku tidak datang kemari. Gomen-ne, Oka-san."
"Kau tak perlu kemari setiap hari kok,"kata Oka-san seraya mengunyah makanannya lamat-lamat.
Sakura berbalik, menatap ibunya dengan tatapan sayang. "Hm, aku tidak tahan dengan perasaan rindu. Makanya aku harus kesini terus, hehe."
"Kerjamu pasti melelahkan sekali,"kata Oka-san. "Kau terlihat semakin kurus. Apakah kau makan dengan teratur?"
"Jangan khawatirkan aku, Oka-san. Akhir- akhir ini aku merasa kenyang. Aku juga heran kenapa tiba-tiba nafsu makanku turun."
Sakura berjalan mendekati ranjang, menarik kursi lalu duduk disana. Sakura memandangi ibunya yang sedang makan dengan pelan itu. "Kenapa kau baru sarapan jam segini?"
"Mereka baru mengantarkannya setengah jam lalu."
"Kenapa tidak kau makan langsung?"
"Aku juga tidak bernafsu makan, Sakura."
Sakura terdiam. Perasaan sedihnya muncul memikirkan fakta bahwa pelayanan yang didapatkan ibunya oleh rumah sakit ini tidak begitu baik. Ia menatap ibunya dengan perasaan bersalah. "Aku akan mengusahakanmu pindah ke VIP bulan ini. Sebentar lagi gajiku akan masuk, tabunganku akan cukup."
"Ne, Sakura,"kata Oka-san seraya menggeleng. "Bukan itu yang aku inginkan. Simpanlah tabunganmu untuk keperluan lain yang lebih penting."
Sakura menggeleng. "Kesehatanmu itu penting."
"Umurku juga sudah cukup tua untuk sembuh, Sakura."
Sakura tersentak. "Sudah kubilang jangan mengatakan itu padaku, Oka-san. Kau itu harus hidup, berumur panjang melihatku sukses dimasa depan nanti. Jadi kau belum boleh pergi, mengerti?"
Oka-san menghela napas melihat kekeraskepalaan anak satu-satunya itu. Ia mengelus kepala Sakura lembut, yang berwarna merah muda. Dulu Sakura suka sekali memelihara rambut panjangnya, memakai poni hingga akhirnya ketika insiden vonis kankernya dijatuhkan tiba-tiba saja Sakura berubah menjadi seseorang yang bekerja keras untuk dirinya. Tak ada lagi gadis manis yang selalu semangat menceritakan mimpi-mimpinya masuk universitas dan menjadi dokter dirumah sakit terkenal menyembuhkan banyak pasien. Tidak ada lagi gadis berambut panjang yang selalu berkata, "Kau akan menangis bangga melihatku jadi dokter terkenal di Jepang."
Sekarang, Sakura sudah berubah menjadi seseorang yang terpaksa menggugurkan mimpi-mimpinya itu. Bekerja paruh waktu sejak SMA, melepaskan ambisinya untuk terus menjadi juara umum karena waktu kosongnya yang biasanya dijadikan waktu belajar berubah jadi waktunya bekerja mencari uang. Saat kelulusan, Sakura bahkan menyimpan surat undangan masuk dari universitas ternama di Jepang yang ia dapatkan, lalu sibuk menyiapkan CV dan mapnya untuk mencari pekerjaan tetap sana-sini.
Lalu, Sakura akhirnya tiba di bar itu. Ino yang mengajaknya, karena Ino tahu bagaimana kesulitan dan tuntutan yang dilalui Sakura sejak SMA itu. Sakura membiarkan rumor-rumor buruk tentangnya tersebar di gunjingan alumni sekolah, tentang "si juara umum yang berubah menjadi seorang pekerja malam". Sejak saat itu, Sakura memotong rambutnya dan memanjangkan poninya sehingga tidak ada lagi helai rambut yang menutupi dahi lebarnya itu.
"Tidak ada hal yang bisa menggoyahkanku,"kata Sakura saat itu pada Oka-san.
"Oka-san,"kata Sakura lagi. Ia meletakkan kepalanya diranjang berbau obat itu, memejamkan matanya. "Aku akhirnya bermimpi."
"Hm?"Oka-san mendorong pelan buburnya yang masih ada setengah dari hadapannya. "Mimpi?"
"Ya, mimpiku aneh sekali."
"Soal apa?"
"Hmm...Aku bermimpi tentang seseorang yang mencoba menembakiku. Aku bertingkah aneh, seperti— aduh, aku bingung menjelaskannya— aku ingin minum darah orang itu."
Oka-san tersentak. Ia menoleh ke Sakura yang masih di posisi sama, sehingga Sakura tidak bisa melihat perubahan ekspresi wajah Oka-san saat ini. Oka-san merasa jantungnya mulai berdebar-debar lebih kencang dari biasanya selama Sakura menuturkan ceritanya soal mimpi anehnya.
"Awalnya ada yang mengikutiku dihutan, tapi aku membunuh mereka dengan meminum darahnya. Bukankah aneh sekali itu? Aku seperti—"
"Vampir."
Sakura tersentak, lalu terduduk menatap ibunya yang menggumamkan kata-kata itu dengan pelan. Ibunya masih mematung, pandangannya kosong setelah menggumamkan kata itu.
"Oka-san?"
"Kumohon, bawalah putriku padamu, Haruka! Aku mengharapkanmu!"
"Bawalah kartu ini. Pakailah uang direkening ini untuk biaya hidup kalian!"
"Selamat tinggal, Sakura."
"Aku mencintaimu, Sakura."
Dor! Dor!
"NYONYA HARUNO!!!!!"
Dor!
"Tuan!!!"
"Lari, Haruka! Lari! Bawa Sakura!"
Dor! Dor! Dor!
...
"Oka-san?!"
Wanita yang memakai selang infus ditangannya itu tersentak ketika bayangan masa lalu itu bertamu sebentar dikepalanya. Sakura memegang tangannya yang dingin, wajahnya terlihat cemas. "Kau baik-baik saja? Apakah sakit? Akan kupanggilkan dokter—"
"Daijobu, Sakura. Aku hanya merasa pusing saja."
"Oh,"kata Sakura, wajahnya terlihat lega. Ia bangkit berdiri, menarik meja makan itu seraya mendorongnya sehingga ibunya bisa berbaring. Sakura meraih obat-obatan yang berada diatas nakas, menyerahkannya satu persatu tablet masing-masing ke ibunya. "Minumlah, setelah itu istirahatlah, Oka-san."
Oka-san mengangguk seraya menelan pil-pil itu, mengakhirinya dengan meneguk segelas air mineral ditangannya. Sakura kemudian membantunya berbaring, merapikan selimutnya lalu meluruskan kepala ibunya dibantal untuk memberikan kenyamanan. "Tidurlah, aku akan disini sampai kau terlelap."
Sakura menggenggam tangan ibunya yang dingin itu, lalu ibunya menatap Sakura dengan tatapan teduh seraya lamat-lamat menutup matanya. Lalu bergumam, "Arigatou, Sakura."
Setelah ibunya terlelap, Sakura pun pergi meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan keluar rumah sakit, seraya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi temannya, Temari. Ia ingin bertemu dengan sahabatnya yang satu itu, sudah lama mereka tidak ngobrol bersama- sama. Sakura sibuk menekan ponselnya tanpa memperhatikan jalan, hingga akhirnya tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Ah, sumimasen."
Sakura kembali berjalan setelah mengangguk pelan meminta maaf pada orang yang ia tabrak tadi, lalu kembali fokus mengetikkan pesan.
Temari, kau ada ditempat latihan? Aku akan kesana, sekarang aku dirumah sakit baru saja menjenguk Oka-san.
Sakura sudah mendekati lampu merah. Ia harus menunggu lampu merah untuk menyeberang ke halte bis yang ada disana.
Ting.
Ya, aku ada disini. Kemarilah. Bawakan aku minuman penambah ion, oke ;)
Sakura memutar bola matanya. Ia mulai mengetik lagi, tidak menyadari bahwa lampu masih hijau. Tanda menyeberang belum menyala. Ia terus melangkah, melewati trotoar itu dan—
TIIIIIIIN!
SWOOSH! GYUT.
Sakura tersentak. Sebuah mobil berhenti, seseorang melongokkan kepalanya dengan marah. "Apakah matamu buta? Tidak bisa kau lihat lampu hijau itu apa artinya heh?!"
Sakura baru sadar ia hendak menyeberang tanpa disadarinya sebelumnya. Sakura langsung menunduk. "Sumimasen."
Pria itu kembali memasukkan kepalanya, menaikkan kaca mobilnya lalu meninggalkan Sakura yang merasa malu dilihati banyak orang disekitarnya. Kemudian Sakura sadar bahwa sebuah tangan mencengkeram lengan kirinya. Sakura mendongak, menatap pria yang memegang tangannya.
Sasuke.
Ah, ternyata hari ini adalah hari terburuk selanjutnya.
Sakura menyentakkan tangannya, memaksa Sasuke melepaskan pegangannya. Sakura mengibas-ngibaskan tangannya yang sedikit sakit akan cengkeraman itu, lalu kekesalannya memuncak saat melihat ponselnya yang tergeletak dipinggir trotoar.
"Ponselku!"
Sakura berlari meraih ponselnya yang mati, layarnya retak habis dan beberapa keping dari bagian ponsel itu berserakkan disekitar sana. Sakura mengerang. Ini adalah kesialannya yang berikutnya. "Demi ninja dan seluruh siluman Konoha."
Sasuke nyaris tersenyum geli mendengar sumpah-serapah Sakura barusan. Apa katanya tadi? Ninja dan siluman? Gadis ini ternyata punya imajinasi tersendiri soal bicara kasar. Sakura berdiri, membolak-balikkan ponselnya sambil mengeluh. "Ah, sialan. Kenapa ini harus terjadi padaku sih?"
"Harusnya kau tidak memainkannya saat sedang berada di jalan."
Sakura mendelik ketika suara baritone itu menyela pikiran dan perasaannya yang kalut akan ponsel keluaran lama itu. "Kalau begitu kenapa tidak kau selamatkan ponselku?"
"Aku tidak tahu kalau ponselmu lebih penting dari nyawamu."
"Aku tidak minta untuk diselamatkan,"desis Sakura kesal. Ia mengantongi ponsel yang sudah almarhum itu, lalu berjalan ke lampu merah untuk menunggu gilirannya menyeberang. Kenapa sih dia harus bertemu Sasuke dihari yang indah dan cerah seperti ini? Merusak moodnya saja. Ingin sekali rasanya Sakura pindah ke Antartika sana demi menghindari pria yang sudah membuatnya illfeel sejak kemarin atas perbuatannya itu. Tampang dingin itu ternyata menutupi sifat aslinya, mesum tidak ketulungan.
Lampu merah. Tanda menyeberang sudah menyala. Sakura berjalan menyeberangi zebra cross itu dengan orang- orang lainnya, wajahnya masih merah karena kesal. Ia bingung harus kesal pada yang mana, ponselnya yang rusak atau orang yang baru saja ia temui hari ini. Sasuke.
"Apakah mengucapkan terima kasih sesulit itu?"
Demi Ninja Konoha.
Sakura menoleh ketika menyadari pria bersetelan hitam putih itu menyeberangi jalan dengannya. Sasuke terlihat tenang dan ekspresinya masih sama, dingin sekali. Mantel hitamnya yang panjang itu semakin membuat tingginya terlihat menjulang, mengintimidasi. Lebih mirip anggota mafia daripada anggota kepolisian, pikir Sakura. Pasti Sasuke bukan orang kepolisian macam Sai.
"Arigatou gozaimasū, Uchiha-san."Kata Sakura dingin.
Sakura bisa mencium aroma parfum maskulin Sasuke saking dekatnya mereka berjalan menyeberang. Tiba- tiba saja Sasuke menarik bahunya, membuat tubuh mereka menempel tiba- tiba. Sakura langsung jengah, kecurigaannya pada pria mesum ini langsung muncul. "Lepaskan atau aku teriak."
"Ssst,"kata Sasuke. "Jangan bergerak, diamlah."
"Apa sih, kau pikir aku ini sudi disentuh-sentuh olehmu? Ini bukan bar, dan harusnya kau tahu saat ini kau bukan pelangganku jadi aku tak punya kewajiban untuk melayanimu dengan—"
"Pria dibelakangmu sudah mengintaimu sejak kau ada dirumah sakit itu."
Sakura tersedak, pupil matanya membesar ketika bisikan Sasuke itu hinggap ditelinganya segera. Sasuke semakin mengeratkan rengkuhannya, menyeret Sakura untuk terus berjalan bersamanya. Mereka sudah tiba diseberang jalan dekat halte. Sasuke membawa mereka berjalan menjauhi halte itu, lalu mendekati Starbucks yang berada tak jauh dari sana.
"Jangan menoleh."
Lalu mereka masuk, dan Sakura masih saja panik selama Sasuke masih merangkulnya. Pikirannya jadi kalut, ketakutan muncul dipermukaan. Seseorang mengintainya? Siapa? Siang- siang begini? Sejak kapan? Apakah dia stalker maniak? Atau mungkin psikopat berdarah dingin? Pembunuh berantai?
Mereka duduk di meja yang agak kedalam, sehingga sulit untuk dilihat dari luar. Setelah pesanan mereka tiba, Sasuke berkata dengan tenang, "Sudah pergi."
Seketika Sakura langsung lemas. Ketegangannya surut perlahan, namun ekspresinya masih sama; takut. "Demi siluman Konoha, kau pasti cuma bercanda."
Sasuke tidak menjawab seraya mendorong gelas minuman Frappé itu ke Sakura. Sakura masih saja menatap Sasuke dengan tajam. Sasuke menyesap americano-nya itu, tidak merasa terdistraksi sama sekali akan pandangan tajam yang ditembakkan Sakura sejak tadi.
"Apa maksudmu dia menguntitiku sejak tadi? Apakah kau mengikutiku juga sejak kerumah sakit?"
Pertanyaan yang logis, Sakura.
Sasuke tidak menjawab. Ia meletakkan cangkirnya dengan tenang, membuat Sakura semakin gemas dengan sikap acuh pria ini. "Jangan- jangan kau naksir padaku?"
Otot- otot wajahnya nyaris saja menjalankan fungsinya saat telinganya baru saja mendengar ucapan aneh itu. Sasuke akhirnya menatap Sakura, tidak memberikan bantahan ataupun pembenaran sama sekali. Sakura menatapnya dengan mata emeraldnya itu, sarat tantangan pada mata onyx kelam sang keturunan terakhir Uchiha. Matanya tidak gentar sekalipun tatapan mengintimidasi dari Sasuke dikirimkan padanya. Bibir Sakura membentuk garis lurus, menegaskan tekadnya untuk mendesak Sasuke bicara.
"Aku tertarik padamu."
Setelah Sasuke mengucapkan itu, barulah Sakura mengubah ekspresi wajahnya jadi bingung. Lalu berubah jengkel. "Sudah kubilang, aku bukan wanita mainanmu."
Sasuke tidak bergeming lagi. Astaga, ingin sekali rasanya bagi Sakura menyiramkan frappe yang belum ia minum itu ke wajah tak berekspresi itu. Mari kita lihat apakah dinginnya frappe itu bisa mengalahkan dinginnya si Uchiha.
"Kau ini tuli atau bisu sih?"
"Hn."
Hilang sudah kesabaran Sakura. Sakura menghenyakkan tubuhnya di kursi, mendongakkan kepalanya seraya bergumam frustasi, "Kenapa sih aku harus bertemu Squidward versi Jepang disini sih?"
Sungguh hebat sekali, perumpamaanmu barusan. Bukankah metaforamu soal Sasuke dan Squidward ini terlalu berlebihan? Apakah Sasuke begitu jelek dimatamu? Jujur saja Sakura, aku yang menceritakan ini saja sangat terkejut dengan ucapan tak terdugamu barusan.
"Ah, lebih baik aku segera pergi dari sini sebelum pembuluh darahku pecah karena marah- marah terus. Nah, Uchiha-san,"kata Sakura seraya bangkit berdiri. Ia meraih frappe dingin yang belum disentuhnya itu, mengeluarkan dompet lalu meletakkan uang diatas meja. "Kuganti uangmu. Arigatou gozaimasu."
Sakura membungkuk pamit, berjalan keluar pintu Starbucks. Persetan dengan penguntit. Pasti penguntit itu sudah pergi mencari buruan lain. Lagi pula ini masih terang, masih banyak orang yang berlalu- lalang jadi harusnya tak masalah. Penjahat itu tak akan berani mengganggu atau menyerangnya sekalipun selama ia berada di keramaian.
Sakura menyedot minumannya, rasa segar dan dingin membanjiri tengorokannya yang sudah kering sejak tadi. Ah, untung saja ia tak jadi menyiramkan minuman enak ini ke wajah Sasuke yang menyebalkan itu. Perutnya sedikit bergemuruh, mengingatkannya akan fakta ia belum makan apapun sejak bangun tidur tadi. Ugh, ia harus mampir ke supermarket dulu untuk beli sesuatu untuk Temari.
Sakura akhirnya beralih ke minimarket dekat Starbucks, mengambil dua roti yang terlihat baru dipanggang dan juga dua botol minuman penambah ion. Sakura meletakkan belanjaannya dimeja kasir, menunggu kasir selesai menghitung. Sakura pun menyedot minumannya seraya menunggu.
"Totalnya 522 yen, apakah ada tambahan?"
Sakura menggeleng seraya membuka dompetnya. Ia mengeluarkan lembaran kertas seribu yen, lalu menyerahkannya ke kasir. Baru saja kasir itu hendak menerimanya, sebuah minuman kaleng diletakkan dimeja kasir.
"Tambah yang ini juga."
Sakura membulatkan matanya, menoleh dan mendapati Sasuke yang berdiri tenang disebelahnya. Sakura melotot. "Aku tidak menraktirmu."
"Gunakan saja kartu debitku,"kata Sasuke pada kasir, mengabaikan ucapan Sakura. Pelayan kasir terlihat bingung, akhirnya memberikan uang lembaran itu pada Sakura seraya menerima kartu yang diberikan Sasuke.
Sakura semakin jengkel. Apa-apaan sih pria ini? Apakah sekaramg dia berlagak keren dan sok kaya didepannya? Bukankah berlebihan sekali kalau kau belanja sekitaran 500 yen saja mau pakai kartu debit? Pria ini benar- benar bukan tipenya.
Setelah mereka keluar dari minimarket, Sakura menghentakkan kakinya marah. "Apa sih maumu? Tidak bisa ya kau pergi jauh- jauh dariku?"
Sasuke membuka minuman kalengnya itu, lalu menatap Sakura. "Kau mau kuantarkan kemana?"
"Aku tidak butuh tumpangan,"kata Sakura ketus.
"Mobilku ada disana."
"Aku tidak mau!"Seru Sakura dengan nada tinggi. "Pulang sana ke kantormu! Kerja!"
Sasuke menatap Sakura dengan tajam. Lagi- lagi sirat intimidasi itu, membuat Sakura menjadi gentar dan menutup mulut. Sasuke berjalan maju, mendekati Sakura. Sakura menatap Sasuke dalam diam, tanpa sadar mundur seiring langkah maju Sasuke pada dirinya. Mereka terus begitu, hingga akhirnya punggung Sakura berhenti disebuah mobil.
Sasuke meletakkan tangan kirinyanya disisi kepala Sakura, bertumpu pada Mercedes hitam itu. "Jangan buat aku mengulangi tawaranku."
...
Satu detik.
Sakura masih menatap onyx kelam itu, berusaha melawan.
Dua detik.
Sasuke menelengkan kepalanya, mendekatkan wajahnya pada Sakura.
Tiga detik.
Hidung mereka sudah bersentuhan. Sakura sudah memejamkan matanya, takut akan kemungkinan yang terjadi. Nafas beraromakan kopi itu menerpa wajahnya, membuat jantung Sakura berdebar keras.
"Masuk."
Sakura membuka matanya. Pintu mobil didekatnya terbuka, dengan tangan Sasuke menahan pintu itu tetap terbuka. Sasuke menjauhkan kepalanya tanpa melepaskan pandangannya pada Sakura. Sakura merasa pipinya memanas karena malu pada reaksi dirinya sendiri tadi. Ia langsung masuk kedalam, merasa malu sekaligus jengkel. Memangnya apa sih yang kau harapkan?
Sakura menghempaskan tubuhnya didalam mobil itu lagi, menatap keluar jendela. Ia bersumpah untuk tidak lagi membuka pembicaraan dan berujung merasa terabaikan. Tidak akan. Maka Sakura mencoba memikirkan berbagai macam hal yang bisa menyibukkan kepalanya, tapi yang muncul malah bayangan bagaimana bibir Sasuke menciumnya.
"Aish, kuso!"
Sasuke melirik Sakura yang menutup wajahnya dengan jengkel itu, lalu Sakura menyisir kepalanya sendiri dengan frustasi. Sasuke memperhatikannya saja selama Sakura sibuk dengan tingkahnya sendiri itu, hingga akhirnya Sasukelah yang memecahkan suasana hening yang mencekam diantara mereka.
"Kemana kau mau kuantarkan?"
Sakura menjawab tempat dimana Temari berada. Sasuke mengangguk singkat lalu kembali menatap jalanan. Sakura kemudian mengeluarkan ponselnya yang sudah hancur itu dari saku mantelnya, menghela napas. Sial. Terpaksa ia harus menggunakan tabungannya untuk membeli ponsel. Ah, atau mungkin ia harus bertahan dulu selama dua bulan tanpa ponsel demi Oka-san?
"Kenapa sih harus sekarang ponselku "Gumam Sakura pelan.
"Tidak seharusnya kau meratapinya."
"Aku tidak bicara denganmu."Sahut Sakura ketus.
Sasuke diam, tidak memberikan tanggapan setelah mendengar kata-kata Sakura barusan. Mereka akhirnya diam saja selama perjalanan itu, hingga akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Sakura pun turun dari mobil, mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Uchiha-san. Semoga kita tak akan pernah bertemu lagi."
"Hn,"kata Sasuke pelan seraya memutar mobil meninggalkan Sakura. Sakura pun membalikkan badan, berjalan menuju tempat latihan tinju yang terlihat ramai. Tepat saat ia membuka pintu, Temari sudah berdiri dihadapannya dengan sport bra biru dan celana legging berwarna senada. Tubuh langsingnya berkilat-kilat karena keringat, menambah kesan seksi pada dirinya. Sakura melirik iri dada Temari yang cukup besar meskipun tidak menyamai ukuran Hinata. Seandainya saja dadanya juga lebih besar pastilah Sakura tak akan insecure setiap kali melihat tubuh molek Temari si tomboi ini.
"Apakah sekarang kau punya pacar?"
"Hah?"
"Tak pernah kulihat seseorang mengantarmu seperti ini. Siapa dia?"
"Ah, mengucapkan namanya saja sudah membuatku jengkel."
"Siapa memangnya?"
"Uchiha Sasuke."
"HAH! UCHIHA SASUKE YANG ITU?"
"Pelankan suaramu, Temari!"
"Oh, maaf."Temari berjalan meraih botol minumnya yang berisikan infused-water itu seraya menoleh pada Sakura dan memelankan suaranya lagi. "Jadi, bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang. Tapi kenapa kau bisa seterkejut itu?"
"Kau tidak tahu ya Uchiha sasuke itu siapa?"
Temari meletakkan sarung tinjunya yang ia letakkan sembarangan tadi ke rak asalnya, lalu memasukkan botol minumannya kedalam tas olahraganya. Temari mengeluarkan handuk kecil dari tas itu, lalu mulai menyeka keringatnya perlahan- lahan. Sakura duduk dikursi yang tersedia, menatap Temari.
"Ino bilang dia anggota kepolisian."
"Sejak kapan Ino bisa ketinggalan gosip? Biasanya dia selalu tahu masalah apapun dimanapun,"dengus Temari. "Uchiha Sasuke itu kan wakil pimpinan kepolisian yang baru saja dipromosikan."
"Benarkah? Tapi potongannya seperti mafia,"kata Sakura tidak peduli.
"Kau tahu kakakku Gaara, kan? Dia kepala kepolisian kampung halamanku sekarang, dan dia pernah bilang padaku soal reputasi Uchiha Sasuke di kepolisian."
"Lalu?"
"Katanya dia bersih dari segala macam korupsi, penyelewengan dana ataupun suap. Dia bahkan dijuluki Pemburu."
"Pemburu?"
"Dia itu pemburu vampir yang tidak kenal ampun dari Konoha."
Temari memasukkan handuk yang sudah basah itu kedalam tasnya, lalu meraih jaket yang berada didekat Sakura. Temari memakai jaket itu tanpa mengancingkannya, kemudian menyandang tas olahraganya.
Sakura tertawa mendengar kalimat Temari barusan. "Pemburu vampir?"
"Vampir itu ada, Sakura,"kata Temari. "Meskipun kita tidak pernah bertemu langsung jangan meremehkannya. Koran kan tak pernah berhenti memuat berita korban kematian karena vampir-vampir itu. Karena itulah Gaara selalu memperingatkanku. Ditambah lagi, ada berita yang kudapatkan dari Kankurou soal vampir."
"Hm? Apa memangnya?"
Mereka berjalan keluar ruang latihan tinju itu. Beberapa pemuda bersuit- suit menggoda mereka, atau tepatnya ditujukan pada Sakura yang mencolok dengan rambut merah mudanya. Seluruh anggota tim tinju disini semua sudah kenal akrab dengan Temari, karena itulah tak heran jika Temari merespon suitan mereka dengan mengacungkan jari tengahnya.
"Ada vampir terkenal di Sunagakure yg berbahaya sekali. Mereka buronan polisi sejak dulu tapi selalu lolos dari tangkapan. Dan buruknya, mereka sekarang kabur dari kampungku. Kudengar mereka sekarang ada di Konoha."
Mereka berjalan melewati trotoar, hendak berjalan ke restoran ramen Ichiraku yang tidak jauh dari tempat Temari latihan tinju itu. Temari menatap Sakura serius. "Namanya adalah Sasori dan Deidara."
Sakura merinding seketika saat Temari membicarakan itu.
~0~
Sasori dan Deidara.
Nama itu tiba- tiba saja terngiang- ngiang dikepala Sakura ketika ia berjalan cepat. Ia merutuki dirinya yang bodoh sekali berjalan kaki untuk pulang kerumah. Hari sudah larut malam, jam setengah tiga dan semua orang sudah terlelap dibuaian kecuali bar-bar yang mengadakan pesta dimalam hari dengan hingar-bingarnya. Sakura menyesali tindakan bodohnya yang buru- buru pulang karena tidak mau bertemu Sasuke yang lagi- lagi ada di bar itu.
Ia tidak mau lagi berurusan dengan pria aneh nan dingin itu. Mungkin satu- satunya cara untuk berhenti memikirkan Sasuke adalah dengan menghindar, jangan pernah bertemu dengannya lagi didunia nyata ini.
Tap..tap...tap...tap
Sakura bisa merasa punggungnya menegang ketika mendengar suara langkah yang berganti-gantian dengan langkah kakinya. Ia sudah mendengarnya sejak tadi, dan ia merasa sedang diawasi saat ini juga dari belakang. Ia ingin menoleh tapi takut melihat apa yang ada dibelakangnya itu.
Sakura mempercepat langkahnya. Ia bisa merasakan sosok tak diketahui dibelakangnya itu juga mempercepat langkahnya, membuat Sakura merasakan panik. Jantungnya sudah berdebar- debar keras sejak tadi, memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan sekarang juga. Haruskah ia berteriak? Haruskah ia berlari?
Ah, ya. Berlari.
Seketika ia menyetujui pemikirannya soal itu. Sakura akhirnya berlari tanpa tedeng aling-aling, berlari sekencang- kencangnya. Ia harus menemukan minimarket yang buka jam segini untuk bersembunyi didalam sana sampai si penguntit itu pergi. Ya, maka dari itu ia harus berlari sebelum penguntit itu memperkosanya. Atau segala sesuaru buruk yang mungkin niat dilakukannya pada Sakura.
Drap drap drap drap drap drap
Sakura tersedak kala berlari ketika ia mendengar langkah kaki yang mengejarnya dengan gesit dibelakang sana. Orang itu mengejarnya. Ia bisa merasakan orang itu mengejarnya dengan cepat sekali. Sakura terus berlari dengan sepatu tingginya itu, memaksakan diri dengan rasa takut membayangi dirinya.
Sasori dan Deidara.
Nama itu terngiang lagi dikepala Sakura. Astaga, bukan waktunya memikirkan makhluk mitos itu, Sakura. Tidak mungkin kan itu salah satu dari mereka. Mungkin ini hanyalah penjahat biasa. Meskipun penjahat biasa tetaplah menyeramkan.
Drap drap drap drap drap drap drap drap drap drap drap drap drap drap drap drap drap drap
Sakura berlari mengitari trotoar yang melewati terowongan. Bodoh. Bagaimana bisa ia malah berlari ke tempat yang gelap seperti ini? Kemana ia harus mencari pertolongan? Sakura yang sudah dilanda kepanikan mulai kebingungan tidak tahu harus melakukan apa. Kemana? Dimana ia harus berlari?
Drap drap drap drap drap drap
"HEHEHEHEHEHEHEHEHEHEH."
Sakura bisa merasakan air matanya mengalir ketika kekehan seram itu terdengar dibelakang sana. Sakura berhenti berlari saat terowongan gelap itu ada didepannya. Ia menegang, terpaku ditempat kala kekehan itu bergema kedalam terowongan didepannya itu. Sakura bisa merasakan tubuhnya yang sudah panas dingin, bergetar menahan tangisnya.
"Kemarilah..."
Sakura nyaris menjerit histeris saat sebuah tangan berkuku panjang meraba pinggangnya dari belakang itu. Sakura takut sekali. Melihat untuk tahu siapa pelakunya saja ia tidak berani. Sakura menegang, air matanya terus bercucuran seiring kepala dibelakangnya mengendus rambutnya pelan.
Lalu tangan dipinggangnya naik ke perutnya, lalu dadanya. Sakura memejamkan matanya, terisak kecil saat tangan itu meraba dadanya perlahan lalu naik ke lehernya. Tangan itu mengelus lehernya, membuat Sakura tersedak lagi.
Seseorang. Siapapun, tolong aku.
Sakura tidak bisa menjeritkan itu. Apalagi memberikan perlawanan pada pria aneh mengerikan dibelakangnya ini.
"Aromamu berbeda sekali, heh,"kata pria itu ketika menyingkapkan rambut Sakura.
Vampir itu ada, Sakura.
Sepertinya ucapan Temari baru bisa ia percayai sekarang. Sakura bisa merasakan hembusan napas ditengkuknya, membuat merinding. Lalu caranya mengendus- endus dan menggeram kecil...begitu mengerikan.
"Apakah kau memang ingin diminum?"
Sakura menggeleng pelan, terisak- isak.
"Kalau begitu kenapa tidak memberontak?" Deidara mengelus leher Sakura dari belakang, membuat Sakura mendongakkan kepalanya ketakutan. "Kau ingin aku minum kan? Ya kan?"
"Kumohon,"bisik Sakura akhirnya. Air matanya semakin deras turun. "Lepaskan aku..."
"Heh?"
Deidara mencekik leher Sakura dari belakang. Deidara menempelkan bibirnya ke telinga Sakura. "Bicara apa kau, hah? Bukannya kau sendiri yang kemari minta untuk diminum hah? Apakah kau sudah gila?"
"Hiks, hiks..."
"Diamlah. Jangan menangis. Aku cuma minta darahmu, bukan ginjalmu. Anggap saja sebagai donor darah. Amal."
Deidara menjilat pelan leher Sakura, membuat Sakura memekik. "SASUKEEEEEE!"
BRUAK! BRUAK! PLAK!
Sakura menjerit ketika Deidara menjambaknya kencang, membuat Sakura terjatuh ke jalan dan terguling. Deidara menampar Sakura keras- keras, membuat kepala Sakura berdenging sebagai akibatnya. Deidara menarik dagu Sakura kasar, ia duduk diatas perut Sakura. "Jangan membuat repot, Bangsat. Aku sudah capek mengikutimu seharian ini, harusnya kau serahkan saja darahmu!"
"Tidak! Lepaskan!"
Sakura mencoba meronta- ronta, kakinya menendang- nendang udara mencoba menjatuhkan Deidara dari atas tubuhnya. Namun sayang Deidara begitu kokoh, tidak bergeming sekalipun. Deidara memegangi kedua tangan Sakura, lalu ia mendekatkan bibirnya ke leher Sakura yang terekspos itu. Sakura meronta- ronta mencoba menjauhkan lehernya dari Deidara yang sudah menjilat lehernya.
"Tidak! Jangan! Kumohon! Hentikan!"
Graup.
"ARGGGGHHHH!"
Sakura menegang, ia memekik keras ketika sesuatu yang tajam menembus kulit lehernya itu. Sakit sekali. Sakura membeliakkan matanya, ketika gigi taring itu sudah masuk kedalam sana. Kepala Sakura begitu pusing, nyaris kehilangan dirinya sendiri. Pandangannya mulai kabur, menggelap seiring detik jam.
Deidara tinggal memutus urat nadinya saja untuk mendapatkan aliran darah segar itu. Kalau saja tidak ada yang memukul kepalanya dengan keras dari belakang. Deidara tersedak, terguling memegangi kepalanya yang mengucurkan darah karena pukulan benda tumpul barusan.
Deidara segera bangkit. Lagi- lagi kegiatannya berburu harus terdistraksi, dan orang yang mengganggunya juga sama. "Uchiha Brengsek!"
Sasuke mengeluarkan pistolnya. Ia mengarahkan moncongnya tepat kedahi Deidara, membuat Deidara terpaku dengan bibir belepotan darah. Deidara terdiam. Matanya terpaku pada pistol di dahinya itu. "Mengerikan sekali gerakmu."
Sasuke mulai menarik kokangnya. Setelah ia lepaskan kokang ini, peluru emas akan mendarat dikepala vampir itu. Deidara menegang, lalu tangannya bergerak.
"Mana kawananmu?"
"Akan kutunjukkan kalau kau tidak menembakku."
"Terlambat."
DOR!
Deidara langsung tersentak, mengejang dengan posisi aneh selama peluru emas itu menembus otaknya. Deidara menjerit keras, memegangi kepalanya yang berlubang itu, meratapi rasa sakit yang pelan-pelan membakar dirinya itu. Deidara meronta-ronta, meneriakkan suara parau mengerikan memecahkan ketenangan malam, membuat siapapun yang mendengarkan akan ketakutan. Mata Deidara berubah gelap sepenuhnya, hidungnya sudah mengucurkan darah hitam yang mengerikan.
"SAKIITTT! BRENGSEEEEKKK! UCHIHHHHAAAAAAA!"
Sasuke membalikkan badannya. Ia tidak peduli lagi pada vampir sekarat itu. Ia berjalan mendekati Sakura yang terkulai lemah. Sasuke mendekatkan tangannya pada leher Sakura yang terdapat bekas noda darah karena gigitan Deidara. Berdenyut tenang. Dan lukanya sudah menutup dengan baik.
Sasuke mengangkat tubuh Sakura yang lemas itu, menggendongnya dengan posisi bridal style. Ia berjalan menuju bar tempat Sakura bekerja dimana mobilnya masih ia parkir disana. Ia tidak menoleh sama sekali ketika Deidara masih memekik memegangi tubuhnya sendiri menggeliat kesakitan dibelakang sana.
Tapi, bibir Sasuke bergerak pelan, "Enyahlah."
.
.
.
.
.
To be continued
