Disclaimer!

This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.

This story is for entertainment only and is not part of the official story line.

Happy reading! :)

Drink My Blood by Osaki Luna


"Aku ingin darahmu."

Sakura tersentak ketika Sasuke menampakkan taringnya yang berlumurkan darah dengan seram itu, membuatnya mundur selangkah. Sasuke menatapnya dengan mata kelamnya, yang perlahan- lahan berubah jadi warna hitam sepenuhnya membuat Sakura mematung tak percaya. Sasuke yang pucat itu menyeringai. Tiba-tiba saja Sakura sudah berada di dalam pelukan Sasuke, tertegun ketika Sasuke mendekatkan wajahnya ke leher dan taring itu langsung menyentuh lehernya.

"Hah!"

Sakura tersentak, terduduk kaget ketika mimpi aneh itu memaksanya untuk segera bangun. Ia segera menutup wajahnya, menenangkan diri sendiri dengan mengatur napas. Lalu ia segera meraba lehernya yang mulus itu, sekedar memastikan bahwa itu hanyalah mimpi. Ia mengernyit lega. Ternyata memang cuma mimpi saja.

"Tapi kenapa harus Sasuke yang ada didalam mimpiku?"

"Aku?"

Sakura tersentak, menoleh ke asal suara. Matanya membulat melihat perut sixpack yang berkilat basah dengan handuk dipinggangnya itu ada didepannya, membuatnya segera menyibak selimut memastikan pakaiannya masih ada disana. Tidak. Dia hanya memakai pakaian dalamnya saja. Apa yang terjadi?

"Kau—"

Sakura bahkan tidak bisa melanjutkan perkataannya ketika pikiran buruk itu melintas pada dirinya. Ia segera turun dari ranjang itu, meraba seluruh tubuhnya dengan panik. Lalu ia menatap Sasuke yang rambutnya basah sehabis mandi.

"Apa yang kau lakukan padaku?!"

Sasuke menatap Sakura dengan tatapan datar. Sasuke menatap Sakura dari atas kebawah, mengintimidasi. Entah kenapa Sakura merasakan tubuhnya yang panas-dingin ditatap sedemikian rupa oleh Sasuke, membuatnya tanpa sadar segera menutup dadanya dengan kedua tangan.

"Keluar!"

Sasuke mengangkat alisnya, mendengus. "Sepertinya kau lupa kau ada dimana saat ini."

Sakura membelalakkan matanya, segera memandang kesekelilingnya. Tidak ada satupun perabotan yang ada diruangan ini ia kenal. Ia baru sadar seprai ranjang king size itu berwarna maskulin, abu- abu. Lalu satu foto keluarga yang tergantung dihadapan ranjang itu, Ruangan ini terlalu luas untuk dijadikan kamar. Tapi, yang Sakura tahu dengan pasti adalah—

Ini bukan kamarnya. Apalagi rumahnya.

"Aku dimana?"

Sakura langsung terduduk diranjang itu, menekuk wajahnya dalam tangannya sendiri ketika kebingungannya melanda dirinya. Ia tidak ingat sama sekali atas apa yang terjadi pada dirinya semalam, bagaimana bisa dia berakhir dikamar Sasuke, melakukan one night stand tanpa ia sadari. One night stand. Sakura tersentak ketika kengerian melanda dirinya mengenai hal itu. Ia...melakukannya dengan Sasuke semalam? Ia mendongakkan kepalanya menatap Sasuke yang sudah membuka lemarinya sendiri mencari pakaian.

Sakura bangkit dari ranjang itu segera. Ia harus segera memeriksa sesuatu pada dirinya sendiri, memastikan dirinya baik-baik saja. Atau ia bisa menemukan jejak sperma didalam kemaluannya sebagai bukti pemerkosaan. Ya, ia harus melakukannya.

"Aku akan menuntutmu atas pemerkosaan jadi bersi—"

Grep. Sakura terkejut ketika Sasuke tiba- tiba saja sudah berbalik, menarik tangannya. Sasuke menatap Sakura dengan pandangan penuh intimidasi, membuat Sakura membuang mukanya. "Bisa tidak kau hentikan kebiasaanmu yang suka menarik tangan orang? Sakit, Sialan."

"Apakah menurutmu aku terlihat sudah memperkosamu?"

"Tentu saja!"Seru Sakura tanpa berpikir lagi. Emosinya sudah memuncak, membalas tatapan yang dilontarkan oleh Sasuke.

"Kalau begitu,"kata Sasuke tenang. Ia melangkah maju, membuat jarak diantara mereka semakin tipis. Saat Sasuke sudah beberapa senti dari tubuh Sakura, Sasuke menarik dagu Sakura untuk menatapnya. "Akan kubuktikan kalau aku tidak melakukan apapun padamu semalam."

Sakura baru saja hendak membuka mulutnya protes, namun memekik saat Sasuke sudah mendorongnya hingga terjerembab diatas ranjang itu. Sasuke langsung menindih Sakura, membuat kulit telanjang mereka bergesekan satu sama lain. Sakura meronta- ronta, memukul bahu Sasuke keras- keras bahkan mendorong dada bidang Sasuke. "Lepaskan aku! Brengsek!"

Sasuke langsung menarik tangan Sakura, menguncinya tepat diatas kepala dengan satu tangan kekarnya. Ia menahan dagu Sakura dengan satu tangan lainnya, lalu mencium Sakura. Ia biarkan lidahnya kembali bermain didalam mulut Sakura, membelit lidah Sakura tak lupa pula mengabsen gigi- gigi Sakura didalam sana. Sakura masih meronta- meronta berusaha melepaskan pagutan panas itu segera, namun kekuatan Sasuke tiga kali lipat lebih besar daripada dirinya.

Gawat.

Sakura mulai merasakan respon aneh tubuhnya pada Sasuke. Ia bisa merasakan tubuhnya menggeliat aneh mengikuti permainan lidah ini, bukan lagi bahasa tubuh perlawanan. Apa yang terjadi? Sakura bahkan tidak menutup matanya sama sekali selama Sasuke sibuk mendominasi ciuman mereka. Tubuhnya panas, darahnya semakin cepat berdesir setiap kali kulit mereka bersentuhan satu sama lain dan ini membuat Sakura gila sekaigus marah pada dirinya sendiri. Tak seharusnya ia begini. Harusnya ia marah pada lelaki angkuh ini karena sudah lancang pada dirinya sejak awal.

"Ngghhhh!"

Sial. Sakura menyesal sudah mencoba menyuarakan protesnya saat mereka berciuman setelah ia mendengar sendiri yang ia keluarkan adalah suara aneh berupa lenguhan. Sakura bahkan merasa pusing, kehabisan tenaga selama lidah Sasuke masih bergerliya didalam mulutnya, membelit lidahnya dengan kasar dan penuh tekanan. Kakinya sudah berhenti menendang- nendang, lemas dengan sendirinya selama pagutan panas dan lama itu berlangsung.

Ketika Sasuke melepaskan pagutan mereka, Sakura langsung terengah- engah karena kehabisan napas. Sasuke kemudian menatap dalam- dalam emerald Sakura yang mulai sayu itu, lalu ia kembali mencium Sakura.

"Ngggghhhh~ Mmmmhhhb!"

Sasuke menghisap bibir Sakura keras- keras, menariknya dengan giginya membuat Sakura mengerang kesakitan. Sasuke kemudian melepaskannya, lalu kembali melesakkan lidahnya kedalam mulut Sakura. Sakura bisa merasakan debaran jantungnya yang begitu kencang, seiring hisapan lidah yang ia dapatkan Sasuke.

Tangan Sasuke merayap perlahan- lahan kedada Sakura yang masih berbalut bra hitam berenda itu, kemudian meremasnya pelan. Sakura terkejut, mencoba meronta- ronta lagi saat tangan Sasuke yang kiri itu menjamah payudaranya dari luar sana. Sasuke melepaskan ciumannya, lalu beralih turun keleher Sakura. Sakura mencoba menendang Sasuke, namun apa daya Sasuke tetap tidak bergeming sama sekali dari atasnya.

"Nghhh!"

Sakura merasa wajahnya memerah ketika ia mendengar sendiri desahannya yang lolos. Ia segera mengigit bibirnya sendiri, berusaha untuk menyembunyikan perasaan aneh yang menggelayuti dirinya saat ini. Sasuke menjilat pelan lehernya, lalu tangan kirinya sudah asyik menyusup kedalam bra Sakura dari bawah, menyapa putingnya yang sudah mengeras entah sejak kapan. Sasuke menyeringai, lalu mendongak. "Kau bahkan sudah keras dibagian sini."

Suara serak Sasuke membuat Sakura merasa selangkangannya berdenyut- denyut aneh. Ia semakin tidak nyaman, namun suatu perasaan semacam gairah mulai bangkit didalam dirinya. Sasuke memandangi wajah Sakura yang sudah memerah bukan main, meskipun Sakura membuang mukanya kesamping. Mari kita lihat seberapa jauh Sakura bisa bertahan.

Sasuke memilin-milin puting Sakura, membuat Sakura menggelinjang kecil seperti tersengat. Sakura menggigit bibirnya keras- keras, menahan untuk tidak mendesah selama tangan itu memainkan putingnya dengan amat lihai. Sasuke akhirnya menaikkan bra itu keatas, membuat payudara berukuran sedang itu terekspos dengan kedua puting merah muda yang tegak menantang. Sasuke mulai memainkan payudara itu seraya mendekatkan kepalanya ke payudara lainnya. Sasuke akhirnya melahap puting itu, membuat Sakura menegang dan memekik.

"Aaaaahhhh! Ah! Ooohhhhh!"

Sasuke merasa menang ketika akhirnya kekalahan Sakura terjadi begitu saja dengan mudahnya. Sasuke masih memainkan kedua payudara Sakura, membuat Sakura semakin lantang mendesah seiring permainan lidahnya disana. "Aaahhhh~ Jangan! Ahhhh~ Ssssshhhh unggghhhh~"

Sasuke menghisapnya dengan keras, merespon desahan Sakura. Sakura langsung mengangkat bagian atas tubuhnya, tanpa sadar melingkari pinggang Sasuke yang handuknya mulai terancam lepas. Sakura meronta- ronta atas sensasi baru yang tidak pernah ia rasakan atau alami sebelumnya itu, membuat akal sehatnya menghilang.

Sasuke melepaskan remasannya pada payudara Sakura lalu tangannya merayap keatas perut rata Sakura. Sakura merinding ketika tangan itu bergerilya pelan disana, lalu mengangkat kepalanya saat tangan itu sudah masuk kedalam celananya. "U-uchiha! He-hentikannnhhhhh~"

Sasuke menekan klitoris Sakura, lalu menggeseknya pelan didalam sana. Sakura langsung menggeliat panas, membuat payudaranya bergesekan langsung dengan dada bidang Sasuke. Sungguh panas, menggairahkan sekali. Sakura merintih, menggeleng- gelengkan kepalanya menikmati sensasi aneh yang berkumpul di klitorisnya saat ini. Ia bahkan merasakan kedutan aneh dibawah sana, seiring gesekan klitorisnya semakin cepat dan intens.

"Haaahhh~ Aaaahhhhh~"

Sasuke menggosok klitoris yang sudah licin karena basahnya selangkangan Sakura akibat perbuatannya itu. Sasuke mengarahkan telunjuknya ke bibir vagina Sakura, lalu menyelipkannya perlahan- lahan. Ia menatap Sakura selama ia memasukkannya kesana, membuat Sakura sontak membuka mata dan bertatapan langsung dengan Sasuke.

"Mari kita lihat apakah benar jejakku ada disana."

"AH! Sakit! Sakit! Aaaahhhh!"

Sasuke membiarkan telunjuknya berada didalam vagina sempit itu, membiarkan ototnya mengencang menjepit keras telunjuknya. Ia menyeringai ketika tahu fakta ialah yang pertama kali menyentuh tubuh gadis berambut merah muda ini. Sasuke mencium bibir Sakura lagi, mengalihkan perhatian Sakura. Beberapa saat setelahnya, Sasuke mulai mengeluarmasukkan telunjuknya didalam vagina Sakura yang masih ditutupi celana dalam itu.

"Aaahhh~"

Sasuke menyibakkan celana dalam itu kesamping, lalu mulai fokus memompa vagina Sakura dengan jarinya saja. Ia memandangi Sakura yang mengerang lemas dalam kunciannya, wajahnya memerah, bibirnya bengkak dan air mata sudah mengalir diwajahnya. Sasuke terus melakukannya berulang kali, membuat Sakura tanpa sadar mengangkangkan kakinya sendiri dan mendesah keras.

"Ahhh! Ungh! Huf! Huf! Ahhhhh~ Nnngh~"

Sasuke menikmati momen itu, egonya sebagai seorang pria semakin naik seiring desahan itu terdengar lantang dikamarnya itu. Sasuke terus mengeluarmasukkannya jarinya disana, membawa keluar cairan cinta Sakura yang sudah membanjir disekitar selangkangannya sendiri.

"Aaaahh! Ahhhhh! Hentikan! Nggghhh!"

Sasuke bisa melihat tubuh Sakura yang sudah semakin tegang, pinggangnya mulai terangkat kecil dan cairannya yang semakin banjir membuat bunyi kecipak terdengar begitu menggairahkan. Sasuke tahu sebentar lagi orgasme akan segera dicapai Sakura, maka Sasuke juga menggosok klitorisnya dengan jempolnya membuat kenikmatan yang diterima Sakura bertambah banyak.

"Ah! Nggggh! Ah! Ah! Oh! Ssssshhhh!"

"Sebut namaku."

Suara sensual Sasuke membuat Sakura semakin kehilangan kendalinya. Ia semakin liar menggelinjang menikmati tusukan jari Sasuke, matanya sudah membeliak. Kepalanya sudah bergoyang kesana kemari, keringat membanjiri wajahnya sendiri karena suasana panas diantara mereka ini.

"Ah~"

"Sakura,"bisik Sasuke penuh tekanan.

"AH! SASUKEEEEEEE~ NGGGGGHHHH!"

Sakura menegang, mengangkat kepalanya dengan wajah mengekspresikan kenikmatan dan pinggulnya yang menggelinjang tak henti- hentinya menyalurkan kenikmatan dari orgasme barusan. Sasuke menatap Sakura yang masih merintih mendesahkan orgasmenya, ia bisa merasakan cairan cinta Sakura yang melumuri tangannya itu. Sasuke menarik telunjuknya dari liang sempit itu, menempelkannya ke bibir Sakura.

Sakura yang masih belum pulih itu tanpa sadar menghisap telunjuk Sasuke, tidak tahu bahwa itu adalah cairannya sendiri. Sasuke mencium telinganya, lalu berbisik, "Apakah menurutmu ini cairanmu sendiri atau sudah tercampur cairanku?"

Sakura mengatur napasnya setelah Sasuke menarik telunjuknya. Ia merasa malu, sekaligus jengkel. Namun, pertanyaan Sasuke barusan membuatnya sadar akan hal penting.

"Kau menipuku, Uchiha-san."

"Sasuke saja,"kata Sasuke seraya bangkit dari ranjangnya, memperbaiki handuknya yang sudah terlepas itu seraya membelakangi Sakura. "Mandilah, setelah itu akan kuantarkan kau pulang."

Sakura duduk, merasa aneh dengan denyutan dari vaginanya sendiri. Ia berusaha bangkit, merapikan branya sendiri. "Berikan handuknya agar aku bisa segera minggat dari sini, Sialan."

Sasuke menatap Sakura dengan ekspresi dinginnya, lalu memberikan handuk bersih pada Sakura. Sakura menerimanya, lalu melipir ke kamar mandi seraya mencuci bersih tubuhnya karena perasaan terhina itu masih membaluti dirinya sendiri saat ini.

Sakura masuk kedalam kamat mandi dengan wajah merona malu. Ia masih tidak habis pikir akan reaksi tubuhnya pada Sasuke, si pria dingin aneh itu. Kenapa sih dia mudah sekali terbawa akan alur permainan pria jahat itu?

"Apa sih yang dia inginkan dariku?"Gerutu Sakura seraya mulai menghidupkan shower kamar mandi. Ia memejamkan matanya saat air itu mengguyur tubuhnya dari atas kepala hingga ke kakinya, mendinginkan suasana hatinya yang masih panas. Sakura menunduk, menatap celana dalamnya sendiri.

"SIALAAAN!"

Tok! Tok! Tok!

Sakura terkejut. Ia mematikan shower, berseru, "Apa lagi?"

"Pakaianmu ada diatas ranjang."

Sakura menghidupkan airnya lagi, memilih untuk tidak menjawab kata- kata Sasuke barusan. Ia menghela napas, mengacak- acak rambutnya dengan kesal. Saking emosinya dirinya, ia lupa untuk membuka pakaian dalamnya. Lalu apa yang harus dipakai setelah mandi nanti?

Sakura akhirnya melepaskan branya yang basah itu, kemudian melepaskan celana dalamnya. Ia merasa malu kembali menggerogotinya saat melihat celana dalamnya yang terlihat digenangi banyak cairan kewanitaannya dengan aroma khas itu. Sial!

Sakura segera mencuci bersih- bersih celana dalamnya, menghilangkan jejak- jejak insiden sebelumnya. Setelah dirasanya bersih, ia melempar celana dalamnya ke lantai dimana branya tergeletak sembarangan. Sakura meraih shower, membilas seluruh tubuhnya. Saat ia menggosok selangkangannya, lagi-lagi ia harus merasa malu pada dirinya sendiri ketika cairan kemaluannya yang merembes disekitar pahanya meskipun air bersih itu sudah membasahi seluruh tubuhnya. Ia akhirnya mengangkangkan kakinya sedikit, menyemprotkan air ke daerah sana untuk membersihkan kemaluannya.

Sasuke sialan.

Jadi Sasuke tidak memperkosanya semalam? Hebat sekali dia, menahan diri untuk tidak memperkosa Sakura saat Sakura tidur tak berdaya diranjangnya semalam lalu memilih untuk memperkosanya saat dia dalam keadaan sadar. Jadi Sasuke berusaha bertingkah menjadi pemerkosa yang gentle ya?

Ha. Ha. Ha. Pikiranmu sungguh absurd. Diamlah, leluconmu tak lucu, pikir Sakura pada dirinya sendiri. Setelah selesai mandi, ia keluar kamar mandi dengan memakai handuk saja. Sasuke tidak ada didalam kamar, hanya aroma parfum maskulinnya saja yang tersisa diruangan ini. Sakura akhirnya berjalan santai keluar kamar mandi, celingukkan tidak tahu harus memakai apa sekarang.

"Dimana sih dia meletakkan pakaianku semalam?"

Sakura mendekati ranjang dan disitulah ia baru melihat adanya dua paperbag dengan merk terkenal terletak disana. Sakura meraih paperbag itu, membukanya tanpa ragu- ragu. Saat ia mengeluarkan barang-barang yang ada disana, ia terperangah.

Sebuah tank-top hijau bertali- tali dengan label harga yang belum dilepaskan, juga sebuah short-skirt dengan potongan rok dibagian depan tapi ada celana pendeknya dibagian belakang sehingga potongan rok itu hanya untuk gaya didepan saja. Jadi Sasuke punya selera seperti ini ya soal pakaian heh?

Sakura meraih paperbag satunya lagi, dan matanya kembali melotot ketika melihat pakaian dalam Victoria Secret dengan renda-renda sexy itu ada ditangannya. Astaga...Sasuke memang kaya setengah mampus. Tak bisa ia bayangkan Sasuke pergi sendiri membelikan ini semua. Sakura menjadi sedikit tersentuh. Ia akhirnya bangkit berdiri, untuk segera bersiap-siap.

Sedangkan dibawah sana, Sasuke sudah menyelesaikan sarapannya dan sedang membuka- buka ponselnya. Ia memandangi peta penyebaran vampir yang diperkirakan masih ada di Jepang, memperhitungkan segala penyerangannya. Pikirannya masih dipenuhi oleh masalah- masalah perburuan vampir itu, hingga akhirnya Sakura datang ke meja makan dengan canggung.

Sasuke mendongak, matanya menatap intens penampilan Sakura yang terlihat seksi bukan main sekarang. Lihat saja. Sakura dengan tank-top selengan hijaunya, juga celana aneh berwarna krem itu terlihat serasi dengan rambut merah mudanya yang basah setelah mandi. "Ayo."

"Sarapanlah,"kata Sasuke. Ia melirik ke piring dihadapannya yang berisikan pancake yang sudah disirami madu.

Sakura berjalan ke meja makan, duduk dihadapan Sasuke. Sasuke mengernyit ketika menyadari sesuatu pada pakaian Sakura. Pakaian Sakura...terbuka sekali disisi tubuhnya. Crop-top hijau itu ternyata terhubung karena disambungkan dengan tali yang terikat sisi- sisi tubuhnya sehingga renda branya terlihat dari luar. Tak ia sangka, pakaian yang ia ambil asal- asalan itu punya model seperti ini.

"Kenapa sih kau selalu harus memandangiku seperti itu? Kau melihatku seolah- olah aku bukan manusia saja. Memangnya aku vampir?"

Sasuke mengalihkan pandangannya setelah Sakura menggerutu demikian seraya memakan pancake enak itu. Sakura mengunyahnya dengan cepat, karena lambungnya sudah meraung minta diisi dengan segera. Sasuke akhirnya menatap Sakura yang sibuk dengan makanannya sendiri itu.

"Manis sekali,"gumam Sakura.

"Apakah jadi masalah buatmu?"

"Tidak, akhir- akhir ini aku begitu sering ingin makan yang manis- manis."

Sasuke menajamkan pandangannya ketika Sakura menjawab itu sambil lalu. Sakura terlihat sibuk dengan makanannya sendiri, tidak sadar ia diperhatikan lagi oleh Sasuke sejak tadi. Mereka tidak banyak berbicara lagi hingga akhirnya mereka masuk mobil Mercedes hitam Sasuke itu.

"Hei, Uchiha,"kata Sakura.

"Sasuke saja,"kata Sasuke tenang. Ia memajukan mobilnya, keluar dari area mansion itu menuju jalan raya.

"Sasuke,"kata Sakura, mengernyit ketika menyebutkannya. "Apa yang terjadi padaku semalam?"

"Kau mabuk lalu pingsan ditengah jalan,"kata Sasuke.

"Benarkah?"

Sasuke bergumam pelan. Sakura memijit- mijit kepalanya, jujur saja ia akui ia merasa sedikit pusing sekarang. Apakah ia kurang darah? Sepertinya ia darah rendah karena kualitas tidurnya yang semakin memburuk sejak ia mulai bermimpi.

"Apakah aku muntah semalam?"

Sasuke mencerna pertanyaan itu dan lamat- lamat menjawab, "Ya. Pakaianmu sedang dicuci."

"Antarkan saja aku ke bar. Aku akan bersiap- siap saja disana."

"Masih belum sore."

"Ah,"kata Sakura. "Kalau begitu aku akan menelepon—"

Sakura terdiam ketika ingat ponselnya sudah tidak berfungsi lagi. Ia terhenyak. "Sialan."

Sasuke melirik Sakura yang menggerutu, mempercepat laju kendaraannya membelah jalan raya. Sepuluh menit kemudian, mereka berhenti disebuah gerai ponsel mahal membuat Sakura kebingungan. Sasuke menatap Sakura sekilas. "Tunggu disini."

Tanpa mematikan mobil, Sasuke berjalan keluar mobil dan masuk kedalam gerai ponsel bermerk itu. Apakah Sasuke memang sekaya itu? Memangnya sebesar apa sih gaji polisi Uchiha sampai- sampai ia bisa membeli seluruh barang- barang mahal itu?

Dua puluh menit dalam kebosanan, Sasuke kembali lagi dengan membawa paperbag berukuran sedang. Ia menyerahkannya pada Sakura. "Pakailah."

Mata Sakura membulat ketika paperbag itu sudah ada dipangkuannya. Sakura meneguk ludah kala melihat sedikit kedalam sana. Kotak ponsel keluaran terbaru. Sasuke memasang seatbeltnya, melepas rem tangan.

"Aku tidak bisa mengganti uangmu."

Sasuke membelokkan mobilnya. "Aku tidak memintamu untuk menggantinya."

"Pasti ada yang kau inginkan dariku."Sakura berkata dengan nada penuh kecurigaan.

Sasuke merem mobilnya saat mereka tiba dilampu merah. "Akan kupikirkan apa bagusnya."

Sakura membulatkan mulutnya, bersiap mengata- ngatai Sasuke. "Kau—"

"Terima atau...kau tahu maksudku."

Sakura merona seketika ketika Sasuke menatapnya dengan intens, memberikan makna penekanan atas kalimatnya barusan. Sakura mengerang frustasi, meletakkan kepalanya di dashboard mobil. Bukannya tidak tahu terima kasih atau bagaimana, hanya saja dia benci sekali harus menerima kebaikan orang lain. Ia tidak suka menanggung hutang budi, yang akan membebaninya sejak lama.

"Jadi kemana?"

"Aku harus ke rumah Ino."

"Tunjukkan arahnya."

Setibanya mereka dirumah dengan toko bunga didepan rumahnya, Sakura mengucapkan terima kasih seraya berjalan keluar dari mobil. "Sakura."

Sakura menoleh. Sasuke ikut keluar dari mobil, lalu memutari mobil hingga akhirnya ia berdiri didepan Sakura. Ia mengulurkan jaket parasut dongkernya pada Sakura yang mengangkat alis. "Kau terlihat tidak nyaman."

Sakura menggeleng. "Tidak usah, terima kasih. Aku tidak mau banyak memakai barang- barangmu lagi."

Sakura berbalik, meninggalkan Sasuke yang memandanginya masuk kedalam etalase toko bunga milik keluarga Yamanaka itu. Sasuke akhirnya masuk kembali kedalam mobilnya, melempar jaket itu sembarangan kesebelah kursi, lalu menggas mobilnya kencang menuju kantor Kepolisian Uchiha. Waktunya untuk bekerja kembali.


"Permisi, Paman,"sapa Sakura pada seorang laki- laki yang mirip sekali dengan Ino itu. "Apakah Ino ada dikamarnya?"

"Ah, Sakura,"kata ayahnya Ino. "Ino belum pulang sejak tadi malam, kupikir dia menginap dirumahmu?"

"Oh,"kata Sakura sedikit heran. Melihat ekspresi bingung ayah Ino yang memegang penyiram air, ia cepat- cepat menambahkan, "Pasti Ino tidur dirumah Temari. Akan kutelepon saja Temari sekarang."

Sakura akhirnya duduk dikursi yang tergeletak didepan meja kasir toko bunga itu, lalu membuka kotak ponsel baru itu. Ia menggigit bibirnya sendiri tanpa sadar saat mengeluarkan ponsel baru itu. Astaga. Kalau ponsel ini ia jual, pasti cukup untuk biaya pengobatan Oka-san. Sakura menggelengkan kepalanya, lalu menghidupkan smartphone mahal itu.

Sakura berjalan mendekati ayah Ino, dengan sopan meminta nomor telepon Ino. Ayah Ino terlihat heran namun memberikannya nomor telepon Ino ketika tahu Sakura baru saja beli ponsel baru. Setelah pamit dari toko itu, Sakura menelepon Ino didepan toko bunga. Beberapa suitan yang menggodanya terdengar, namun diabaikan saja oleh Sakura.

Setelah dering ketiga, teleponnya pun diangkat.

"Moshi-moshi?"

"Nee, Ino-pig. Kau kemana saja sih? Aku kerumahmu tapi kau tidak ada disini."

"Hm?"Suara Ino masih terdengar berat, seperti orang yang setengah tertidur. Tak lama kemudian terdengar bunyi gerakan, lalu suara seseorang yang menguap. "Astaga, jam berapa sekarang?"

Sakura menghela napas. "Kau dimana? Kutemui saja disana."

"Tunggu sebentar, aku lupa dimana aku berada." Beberapa detik kemudian Ino berseru keras, "Astaga! Aku tidur di suite room hotel Y. Aku baru ingat."

"Hah? Kenapa kau menghabiskan uangmu untuk tidur disana?"

"Kita ketemuan saja di Starbucks dekat rumah sakit. Dua puluh menit. Aku punya berita menarik yang harus kuceritakan pada kalian semua."

Sakura mendengus, sudah menduga apa yang akan disampaikan Ino padanya nantinya. "Baiklah, akan kuhubungi Hinata dan Temari."

Klik. Sakura akhirnya berjalan ke halte yang terletak lima meter dari toko bunga Yamanaka itu, lalu menaiki bus yang tujuannya kearah rumah sakit tempat ibunya dirawat. Setibanya di Starbucks, Sakura memesan frappe kesukaannya lalu mengambil kursi untuk duduk di sudut dekat jendela. Sakura menyedot minumannya, matanya menatap keluar jendela memandangi kesibukan orang- orang diluar sana. Terlihat beberapa murid yang berjalan menyeberangi jalan raya dengan rok pendek. Lalu pekerja kantoran yang melihat jam tangannya bolak-balik tidak sabaran menunggu bus. Ada pula nenek- nenek yang berjalan dengan seekor anjing yang menjulurkan lidahnya.

Sakura sibuk dengan pikirannya sendiri, menikmati frappe-nya. Cring. Lonceng pintu masuk terdengar tanda pelanggan lainnya masuk. Angin berhembus masuk, membawa aroma manis ke hidung Sakura. Sakura menoleh ketika mencium aroma manis yang tajam itu, ingin tahu siapa yang memakai parfum sebanyak itu. Seorang perempuan cantik dengan kacamata merahnya sedang berdiri didepan konter memesan minuman. Sakura mengernyitkan hidungnya, aroma perempuan itu begitu tajam menusuk hidung. Memangnya seberapa banyak si dia memakai parfum?

Cring.

"Sakura!"

Sakura menoleh ketika Temari datang dengan big t-shirt kuning dimasukkan kedalam navy boyfriend jeans dengan beberapa rantai yang digantungkan dipinggangnya membuat kesan tomboinya semakin terlihat. Sakura melambaikan tangannya, lalu Temari memesan minuman setelah perempuan tadi.

"Kau sudah lama?"

Sakura menggeleng ketika Temari datang dengan ice americano-nya dan duduk dihadapannya. Temari mengangkat alisnya, bergumam. "Wow."

"Apa?"

"Tak kusangka kau punya selera fashion sebagus ini juga. Maksudku, kau jarang sekali mau memakai pakaian yang sedikit terbuka."

Sakura mengangkat bahunya. "Tentu saja aku tidak akan membeli pakaian- pakaian kurang bahan ini."

"Eh? Maksudmu kau tidak membeli pakaian- pakaian ini?"Tiba- tiba Temari mendongak dan melambai kearah pintu. Sakura menoleh, mendapati Hinata yang masuk bersama Ino. Sakura mengernyit ketika aroma Hinata sedikit manis tercium olehnya.

Ino dan Hinata duduk setelah memesan minuman mereka. Sakura menatap Hinata yang terlihat feminin dengan pakaian kerjanya. "Kau ganti parfum ya? Aromamu manis sekali."

"Eh?"Hinata mencium rambut lavendernya sendiri. "Tidak kok, aku tidak mengganti parfumku."

"Aku punya berita bagus yang harus kalian dengarkan."

Ino terlihat menggebu- gebu saat ini, membuat Temari yang duduk disebelahnya memandanginya dengan alis berkerut. Ino memajukan tubuhnya, wajahnya menyiratkan ekspresi senang dan mata berkilat- kilat. "Aku sudah berpacaran dengan Sai."

"Selamat, Ino-chan! Akhirnya ya,"kata Hinata dengan suara lembutnya itu.

"Sai? Anggota Kepolisian itu?"Tanya Temari seraya meminum americanonya.

Ino mengangguk. Ia menatap curiga Temari yang kadang sering bolot itu. "Jangan bilang kau lupa?"

"Hmmm..."Temari terlihat berpikir, berusaha mengingat- ingat tampang Sai. "Orangnya yang pucat macam vampir itu kan?"

"Ih! Dia tidak mirip vampir kok!"Kata Ino, merengut. "Kami resmi berpacaran setelah tadi malam bersama- sama."

"Oh, pantas saja kau tidur di suite room,"sahut Sakura.

Sontak Temari dan Hinata menatap Ino tak percaya. Temari langsung bergumam, "Holy shit. Memangnya kalian sedang bulan madu?"

Sakura langsung terbahak- bahak mendengar ucapan Temari barusan, diikuti pelototan Ino. "Kau ini tidak punya sekali sisi romantis ya."

"Entahlah, tidak ada cowok yang menarik minatku,"kata Temari sambil angkat bahu dengan cuek. "Aku tidak berminat untuk pacaran jadi apa boleh buat."

"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Naruto sekarang, Hinata?"Goda Ino. Hinata langsung bersemu merah, memainkan jari- jarinya.

"E-etto...Masih seperti itu kok."

"Astaga, si Bodoh itu masih saja mau menggantungimu ya?"Gerutu Sakura. "Temanku itu memang kurang bisa romantis jadi maafkan saja ya kalau dia tidak begitu cepat tanggap."

"Un...Da-daijbou, Sakura-chan. Bukan salahnya kok."

"Hinata! Ino!"

Ino bangkit berdiri ketika pelayan menyebut nama mereka untuk mengambil pesanan minuman. Temari menghela napas. "Tak kusangka seluruh teman- temanku berpacaran dengan polisi Konoha."

"A-aku kan belum pacaran, Tema-chan,"kata Hinata malu-malu.

"Ah, tetap saja kan kalian semua sudah punya sesuatu yang disebut hubungan romantis dengan anggota kepolisian."

Sakura tertawa, lalu mengangguk setuju. "Tinggal kita berdua saja yang belum ya."

Ino datang membawa dua minuman, bergabung kembali dengan mereka. Temari mengangkat alisnya. "Aku juga membicarakanmu, kok."

"Ada apa?"Tanya Ino.

"Kok aku?"

"Lho, bukannya kau dan Sasuke itu ada hubungan ya?"

Giliran Sakura yang mendapatkan tatapan kaget dari teman- temannya. Sakura tersentak, menyilangkan tangannya seraya menggeleng. "Tidak kok! Aku tidak ada hubungan apa- apa dengan Sasuke."

"Apakah aku ketinggalan berita?"Ino terlihat tertarik.

"Ne, Ino, apakah aku mabuk semalam?"Tiba- tiba Sakura mempertanyakan hal itu untuk memastikan sesuatu. Ino langsung mengerutkan dahinya, bingung.

"Ngomong apa kau? Kau saja tidak minum- minum semalam kok. Kan kau langsung pulang setelah shiftmu selesai."

Sakura langsung dilanda kebingungan ketika mendengar jawaban Ino barusan. Kalau ia tidak mabuk, kenapa ia tidak ingat apa yang terjadi semalam? Sakura memaksa dirinya untuk mengorek-ngorek kejadian semalam tapi yang ia ingat hanyalah kerjanya di bar saja. Setelah itu dia tidak ingat.

"Aneh,"gumam Sakura. "Lalu kenapa aku bisa dirumah Sasuke?"

"Rumah Sasuke?!"Seru Temari kaget. "Kau ngapain? Bercinta juga?!"

"Ssst, Temari!"Seru Sakura, menyuruh Temari untuk tenang kembali. Temari langsung meminta maaf dan duduk tenang kembali. Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku benar- benar tidak ingat apa yang terjadi. Tapi aku tidur dirumah Sasuke semalam."

"Jangan bilang ini pakaian dari Sasuke?"Tuding Temari.

Sakura mengangguk lemah. Ino membelalak kaget, tak mempercayai perkataan Sakura barusan. "Astaga, Sakura. Kau pasti bercanda."

"Sialan, aku tidak mengerti situasinya. Aku bahkan menuduhnya memperkosaku."

"Jangan- jangan iya?"

"Ti-tidak! Aku sudah memeriksanya sendiri,"kata Sakura. Pipinya memerah ketika bayangan ia dan Sasuke bercumbu muncul dibenaknya. "Dia tidak melakukan apapun padaku walaupun aku tidur dikamarnya."

Itu untuk kondisi semalam. Jadi separuh benar.

"Aku bahkan tidak bisa berkata apa- apa soal itu. Kau. Tidur. Di kamarnya. Wow."

Temari meraih ponsel baru Sakura. Matanya membulat. "Jangan katakan ini juga dari Sasuke. Gila, empat kamera disini. Sekaya apa sih dia?"

"Aku taruhan 100 yen itu dari Sasuke,"kata Ino ikut mebilik ponsel mahal canggih itu. "Astaga, Sakura. Sepertinya Sasuke tergila- gila padamu."

"Tidak mungkin,"bantah Sakura. Mana ada orang naksir langsung memperkosamu begitu saja.

"Aku yakin Sasuke memakai kondom untuk memerawanimu semalam,"gumam Temari seraya mengembalikan ponsel itu. "Mungkin dia menculikmu, membiusmu, lalu memperkosamu tanpa meninggalkan jejak."

"Kurasa kau bilang dia punya reputasi bagus di Kepolisian?"Sakura terlihat kesal ketika Temari mengucapkan kata-kata yang menakutkan itu.

"Konteksnya berbeda. Itu soal korupsi. Ini soal seks. Seks. Sakura."Kata Temari menggeleng-geleng.

"Bagaimana ini? Apakah aku harus memeriksa sendiri keperawananku?"

"Eh, tunggu,"kata Ino. "Biasanya pertama kali melakukan itu bakalan sakit kok. Bukankah kau merasa baik- baik saja dibawah sana?"

"Pembicaraan macam apa ini,"gerutu Temari.

Sakura mengangguk lega. "Aku tidak merasa sakit barang sedikitpun disana. Ah, terima kasih Ino-pig, kau sudah menenangkanku."

"Sebenarnya ponselku rusak, terlindas mobil,"kata Sakura lagi. Ia memilih untuk tidak menceritakan pertemuannya dengan Sasuke disana dan juga masalah penguntit berbahaya itu. Sakura mengerutkan dahinya. Ia ingat soal itu. "Ponsel ini kuanggap pinjaman saja. Kalau sudah ada uang akan kubeli ponselku sendiri dan mengembalikan ini pada Sasuke."

"Aneh,"gumam Hinata tiba- tiba. "Kudengar dari cerita- cerita Naruto-kun, Sasuke tidak pernah tertarik pada wanita manapun."

"Sasuke pasti punya maksud padamu."

Aku tertarik padamu.

Sakura merasa geli ketika ingat ucapan Sasuke kemarin di Starbucks ini juga. Sakura mengangkat bahu, menyerah. "Aku tidak peduli. Itu urusannya."

"Aku masih tidak bisa percaya, Sasuke ternyata bisa seagresif itu ya. Padahal saat kukenalkan waktu itu sepertinya Sasuke punya kesan dingin dan cuek,"kata Ino. "Dia bahkan mengabaikan semua perempuan yang mengajaknya menari di bar."

Tiba- tiba Sakura tersadar akan sesuatu. "Sialan."

"Sa-sakura-chan."

Ia menatap horor teman- temannya. "Pakaian dalamku! Aku meninggalkannya dikamar mandinya!"

Temari terbahak- bahak mendengar seruan histeris Sakura yang memerah karena malu itu. Ino dan Hinata malah melongo ketika Sakura mengucapkan itu. Tiba- tiba Temari berkata, "Apakah pakaian dalammu seksi? Kalau iya, mari kita tunggu sampai ia mencarimu lagi."

Sakura langsung menjedukkan kening lebarnya ke meja, melampiaskan frustasinya.

"Sepertinya Sasuke mengincarmu, Sakura-chan,"kata Temari seraya menggoda Sakura.

Ah, sial.


.

.

.

To be continued

.


Yosh! Mohon maaf minna-san, aku ga aktif nyaris beberapa bulan dikarenakan kesibukan kuliahkepanitiaanorganisasi yang numpuk abis walaupun kondisinya semua dilakukan online T_T Masa- masa online gini malah bikin bengek abis dengan tugas kuliah seabrek jadi ga pernah sempat buat buka FFnet dan lanjutin ceritanya padahal aku tuh jg dah kgn bgt huhuhuhu.. Aku usahain dalam waktu dekat post next chapter lagi untuk mengobati kerinduan readers2ku semuanya. See youu!33