Chapter 1

Garis Keturunan Yang Hilang


Jepang, Kota Kuoh


"Issei.. Maukah kau mati untukku!"

Adalah kata-kata kejam yang diucapkannya kepada seorang anak yang mengharapkan sebuah ketulusan.

"Aku mati?" Tanyanya di dalam benaknya.

Siluet gadis yang membunuhnya sudah lama tidak terlihat lagi. Dia menghilang seakan angin yang berlalu, dan disinilah dia terbaring. Issei Hyodou yang tidak pernah selalu dianggap orang bajingan mesum yang tak berguna mati. Mati tanpa sempat mewujudkan mimpinya, mati sebelum sempat membahagiakan kedua orang tuanya, mati tanpa ada yang tahu penyebabnya.

"Aku ingin hidup!"

Dalam keadaan putus asa dia berharap kepada sesuatu yang tidak ada dihadapannya.

"Beri aku kesempatan kedua..."

Dia memohon dengan putus asa seraya air mata mengalir deras keluar dari matanya dengan darah yang sudah berceceran di tempat dimana dia tergeletak diatas hamparan tanah.

"Apa kau ingin kekuatan?"

Sebuah suara muncul dari benaknya. Bukan suara orang tua tapi laki-laki yang lembut namun tegas... dia berpikir entah karena sekarat atau mungkin yang lainnya dia berhalusi nasi mendengar hal itu.

"Apa kau ingin kekuatan?"

Suara itu kembali bertanya. Lalu dia kembali berpikir.

"Apakah dengan kekuatan aku bisa hidup kembali?"

"Kau akan hidup... dengan mengemban tugas dan kewajiban kami..."

Tugas? Kewajiban? sebenarnya Issei sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hal itu.. walau demikian, jika dia bisa hidup kembali dia tidak akan ragu...

"Ya..."

"Kalau begitu ujian dimulai..."

Seiring dengan kata-kata itu kesadaran Issei berpudar. Yang dia lihat hanyalah kegelapan..


Dia kembali sadar... dia berdiri ditengah kegelapan.. dia bisa melihat dengan jelas.

"Tempat apa ini?"

Issei melihat sekelilingnya, ida tidak tahu dimana ini karena hanya ada kegelapan. Dia berbalik untuk melihat sesuatu tetapi tidak ada siapa-siapa disana. Tiba-tiba dia merasakan seseorang sedang menatapnya.

"S-siapa disana?" Tanya memberanikan diri..

"Pewaris Kehendak Arbitrium..." Sebuah gema suara kali-laki tua di tempat dia berada.

"Pewaris? Arbitrium? Apa itu?" Pikir Issei.

"Engkau yang harus menanggung beban ini... beban Arbitrium..."

Suara seorang wanita bergema di sekelilingnya, satu demi satu nyala api hitam dengan kilauan ungu dan biru mulai mengelilinginya. Issei membeku saat api mulai muncul, keringat terbentuk di kepalanya. Dia menahan nafas tetapi melepaskannya ketika dia menyadari ternyata api itu tidak terasa panas tetapi hangat dan dingin di saat yang bersamaan.

Dia mulai meragukan tekadnya sendiri ketika tiba-tiba dihadapkan gambar-gambar yang mengerikan baginya. Sebuah gambar bangunan runtuh dan rumah yang terbakar, suara-suara mulai terdengar di telinganya layaknya sebuah alunan musik.. ya alunan musik yang sangat menyedihkan, 'Berhenti!' 'Maafkan aku' 'Tolong jangan bunuh anak ini' 'Ampuni aku' 'Kumohon'

"Apakah engkau bersedia? Apakah engkau bersedia menanggung beban ini?"

Suara pria lain berbicara saat gambar berubah menjadi pertempuran, orang-orang mulai berjatuhan, satu per satu, tembakan, bom dan api dimana-mana.

"Inilah Arbitrius.. sebuah beban yang harus engkau tanggung..."

Kata suara lain saat gambar kembali berubah menjadi orang yang membunuh orang lain, seseorang yang membunuh anak yang tidak bersalah, wanita yang terbunuh melindungi anaknya sendiri, kakaknya yang berjuang untuk adiknya, ayah yang melindungi keluarganya dari serbuan senjata api, anak kecil yang bertahan hidup diatas ribuan mayat yang bertumpuk diatas tanah.

"Bisakah engkau menanggungnya? Oh yang terpilih?" Tanya suara lainnya.

"Tidak... Hentikan... Jangan..." Issei mulai gemetaran, melihat gambar itu, dia takut, dia takut bagaimana orang bisa melakukan sesuatu yang mengerikan semudah itu.

"Jangan berpaling! Jangan berlari!" Kata suara lain dengan tegas.

"Tidak..."

"Ini takdirmu.. takdir yang terpilih. Takdir salah satu dari mereka yang mewarisi kehendak Arbitrius," Kata seorang pria bersuara.

"Ini adalah alasan utama engkau dilahirkan ke dunia ini" Jawab satu-satunya wanita di tempat itu.

'Berhenti!' 'Tidak!' 'Jangan'

"Tidak.. aku tidak akan melakukannya! ini bukan takdirku! Bukan!"

"Engkau tidak bisa mendapatkan kekuatan jika engkau tidak membayar harganya..."Kata suara orang pertama.

"Mereka yang menginginkan kekuasaan harus membayar harganya..." Kata Seorang pemuda.

"Keinginanmu tidak dapat dipenuhi tanpa membayar harganya..." Kata suara orang ketiga.

"Jika engkau menginginkan kekuasaan, jika engkau ingin keinginan engkau terpenuhi, engkau harus memiliki tekad untuk melannjutkan warisan agung ini.." Kata suara laki-laki kedua.

"W-warisan? Y-yang a-agung? Keinginanku?" Kata Issei.

"Apa yang akan kau lakukan, Arbitrius Muda?" Suara pertama bertanya.

"Bisakah kau menanggung beban ini? Ini dosa kita?" Suara laki-laki kedua bertanya.

"Bisakah kau menanggung beban ini? Ini dosa kita? Dosa kita... Arbitrius!" Kata suara orang kelima.

"Aku tidak pernah menginginkan ini... aku tidak pernah mengharapkan kekuatan.."

"Di dalam dirimu mengalir darah Arbitrius.. engkau harus mewaris kekuatan serta dosa kami!" Kata suara orang kelima.

"Kau pasti berhasil.. kau harus memikul beban Arbitrius.. Dosa-dosa Arbitrius!" Kata satu-satunya suara perempuan.

"Tanggunglah! Dosa Arbitrius!" Kata suara orang pertama.

Issei hampir tidak tahan dengan ini, tidak tahan melihat bayangan yang datang lagi dan lagi. Tiba-tiba dia teringat pada pak tua yang dia panggil kakek ketika masih berumur delapan tahun ketika dia bertemu dengannya di taman.

"Issei, kamu tidak sendiri. Tidak sekarang, tidak sebelumnya dan tidak di masa depan.."

'Tapi tidak ada yang ingin berteman denganku kecuali Rin-kun.."

Kakek itu tertawa kecil kepada Issei dan berkata, "Issei, di masa depan kamu pasti bertemu dengan mereka.. orang-orang yang akan menjadi keluargamu seperti aku.. aku juga keluargamu, bagaimanapun juga aku adalah kakekmu. Juga ayah dan ibumu selalu menyayangimu.. bagaimanapun kau tidak sendirian.. Setiap cerita punya tahapannya.."

"Karena itulah kamu tidak boleh menyerah, jangan menyerah, jangan berputus asa. Teruslah berharap dan kelak keinginanmu pasti akan terwujud." Lanjutnya.

"Di..." Issei mulai gemetar mengingat keinginannya yang sebenarnya.

"Apa?" Kata suara laki-laki kedua.

"Di.. Diam! Aku hanya ingin hidup! hanya ingin menjalani hidupku untuk kedua kalinya! Berjanji tidak akan menjadi orang mesum lagi! Menghormati orang lain! Menyayangi kedua orang tuaku! Jika ini yang harus kuambil maka aku lebih baik pergi ke neraka!" Teriak Issei.

Pria itu tersenyum, pria yang bersembuyi dibalik siluet lainnya tersenyum mendengar jawaban Issei. Keturunannya masih memiliki hati yang murni, hati murni yang akan menerangi gelapnya malam dan dinginnya angin dikala mentari tak bersinar.

Lingkungan Issei tiba-tiba menjadi cerah, saat dia membuka matanya. Banyak sosok tokoh yang bertopeng sebelumnya membuka kedok saat mereka memegang senjata mereka sendiri. Empat sosok di sebelah kanan dalam barisan berdiri seorang wanita dan tiga pria, sedangkan dibagian kiri terdapat empat pria tanpa wanita. Mereka mulai menyalakan api hitam diselubungi percikan ungu dan biru di dalam senjata mereka masing-masing.

Ditengah depan orang-orang ini terdapat singgasana dengan pria berambut runcing dengan warna pirang yang terlihat hampir mirip perawakan Issei kecuali gaya rambut dan ekspresi santai dan dinginnya yang duduk di singgasana itu. Pria itu berdiri kemudian menyalakan apinya tetapi tidak dengan senjatanya, dia menyalakannya dengan sarung tangan logamnya.

"Aku menerima sepenuhnya tekadmu!" Kata pria berambut pirang itu.

"Apa ini? Mimpi? Ilusi?" Tanya Issei dengan penasaran, dia agak lelah secara mental setelah dihadapkan berbagai gambar tadi.

"Kesadaran kita, telah terukir di dalam Jam kerja kita.." Sambung Pria itu.

"Jam? Waktu? Kesadaran?" Kata Issei sambil memiringkan kepalanya.

"Kau bebas menggunakan kekuatan ini.. baik itu melanjutkan atau menghancurkannya itu terserah padamu.. Pewaris Singgasana Tanpa Mahkota, Arbitrius Decimo.."

"Decimo? Dimana aku pernah mendengar kalimat itu? Italia? Kesepuluh?"

"Kami sudah menunggumu. Untukmu yang sekarang akan mewarisi tanda kami, tanda singgasana Arbitrius.." Ucap pria berambut pirang itu.

Sosok-sosok itu mulai mulai menyalakan api mereka dan mereka sendiri akhirnya menjadi api itu sendiri, lalu pria berambut pirang itu menjadi api yang terakhir. Nyala api itu mulai berpindah ke tubuh Issei dan dia merasa hangat, ketika lelaki pirang yang mulai menjadi api hitam itu berata, "Kami memberimu hidup.. sebuah kesempatan kedua.. harapan dan kekuatan kami... masa depan kami di dalam dirimu, Arbitrius Decimo." Dan puncak lambang dibawah Issei tiba-tiba bersinar cerah membuat Issei memejamkan matanya. Sekarang ia merasa aman dan rileks seolah-olah kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi.

"Semoga impian yang ada jauh di dalam dirimu bisa di wujudkan, ahli warisku. Semoga kau bisa menjadi cahaya bagi orang-orang disekitarmu. Semoga keinginan dan kebahagiaanmu dipenuhi dengan senyum dan tawa sepanjang hidupmu." Katanya sebelum larut menjadi api meninggalkan Issei yang masih terbaring tak sadarkan diri di taman.


Akademi Kuoh, Klub Okultisme


Seorang gadis berambut merah yang menjulur hingga melebihi pinggangnya dari tadi mondar mandir sambil menggigit jarinya berpikir sambil frustasi.

"Kenapa dia tidak menggunakan kertas pemanggilannya?"

Semua yang ada disana juga mengawasinya dan berpikir frustasi.

"Makanya aku berkata lebih baik mendekatinya sebelum hal ini terjadi!" Sambung gadis lain yang memiliki rambut hitam yang diikat ekor kuda.

"Aku sudah bilang bagaimana jika dia menolaknya.. lagipula kita semua sudah sepakat, bukan." Protesnya dengan tegas.

Kedua anggota lainnya hanya diam tidak berani mengikuti pembicaraan mereka.

"Terlambat, mungkin dia sudah mati sekarang!" Sambung si rambut hitam.

"I-itu bukan salahku!" Protesnya dengan lemah.

Di dalam benaknya dia sadar kalau dia bertanggung jawab atas kematian satu orang manusia, tapi entah sejak kapan dia mulai berpikir kalau itu hanya manusia.. dia juga putus asa, itu semua karena tuntutan orang tuanya, untuk menikah dengan orang yang sangat tidak diinginkannya.

"Baiklah biar aku yang memberitahu Sona mengenai hal ini..." Sambungnya... walau demikian dia tetap merasa bersalah.. satu jiwa malang yang tidak tahu apa-apa tentang dunia supernatural meninggal dikarenakan sesuatu yang seharusnya menjadi berkah menjadi sebuah kutukan untuknya.


Kota Kuoh, Taman


"Ugh.. dimana aku?" Tanyanya sambil memegangi kepalanya yang masih sakit.

"Apa semua itu mimpi?"

Issei kemudian melihat sekelilingnya. Lalu dia melihat tubuhnya. Ya.. ada lubang di bajunya..

"Nyata! Ini bukan mimpi! Semuanya nyata!" Teriaknya pada dirinya sendiri.

Dia masih tidak tahu apa yang telah terjadi padanya, tapi satu hal yang dia tahu, dia diberi kesempatan kedua..

[Ya.. semuanya nyata!]

Issei terkejut ketika mendengar suara lain, suara itu lebih keras dan agak kasar daripada yang di dengarnya sebelumnya. Lalu perlahan tangan kirinya bersinar mewujudkan sebuah gauntlet berwarna merah crimson dengan permata hijau zamrud di tengahnya.

"S-siapa kau? Lebih tepatnya apa kau?" Tanyanya dengan gemetaran.

Satu demi satu hidupnya mulai menjadi aneh, dia bertemu orang-orang yang mengaku leluhurnya dan sekarang dia memiliki gauntlet di tangan kirinya yang bisa berbicara padanya.

[Seharusnya aku yang bertanya kepadamu.. sebelumnya energi hidupmu benar-benar memudar dan kau akhirnya akan mati.. tapi tiba-tiba itu menyala kembali seolah terbakar dan kau hidup kembali...]

Gauntlet itu ada benarnya. Dan ternyata dia benar-benar akan mati sebelumnya. Jadi dia menceritakan semua kejadiannya di dalam mimpi itu.. Sekarang dia ingat pria berambut pirang itu mengatakan sesuatu tentang Jam Kerja. Tanpa sadar dia meraih sebuah liontin yang menggantung di lehernya. Dia ingat Liontin itu diberikan kepadanya oleh kakek yang dia temui di taman ketika dia berusia delapan tahun. Dia membukanya dan sadar lambangnya sama dengan yang dia lihat di mimpi itu, sebuah lambang Arbitrius.

[Hmmph... sungguh menarik... karena itu rasiomu menjadi 50% iblis 50% manusia]

"Tunggu- Apa?"

[Arbitrius atau apapun namanya itu mungkin saja merupakan salah satu klan iblis hilang di masa lalu dan seiring berjalannya waktu darah keturunannya mulai mengencer disebabkan diturunankan kepada manusia. Dan sepertinya entah bagaimana leluhurmu kembali membuka potensimu untuk mengendalikan kekuatan leluhurmu..]

"Jadi maksudmu sekarang ini aku telah menjadi setengah iblis..?"

[Ya.. mungkin seiring kau menguasai kekuatan leluhurmu kau bisa menjadi iblis dengan darah murni...]

"Yah.. tidak kusangka kalau aku memiliki darah iblis di dalam diriku, terlebih lagi ternyata iblis itu nyata.."

[Ya.. semua makhluk supranatural itu nyata.. bahkan gadis yang mencoba membunuhmu sebelumnya itu sebenarnya adalah malaikat jatuh]

Issei agak mengernyitkan wajahnya mengingat tentang Yuuma. Dia sedikit mulai melupakannya karena dia tidak ingin lagi ada hubungan dengannya.

"Kesampingkan masalah itu? Jadi kau siapa?" Tanya Issei penasaran.

[Aku adalah jiwa yang menghuni Sacred Gear yang terdapat pada dirimu.. Aku adalah Naga Dominasi Merah, Ddraig... dan kau sebagai Host-ku akan dianggap sebagai Sekiryuutei Generasi ini]

Dan itulah awal mula Issei bertemu dengan Ddraig dan membuka garis keturunannya yang hilang.


Kisah ini terinspirasi dari berbagai macam sudut pandang. Dan juga hasil dari pemikiran penulis serta dari beberapa referensi lainnya.

Di cerita ini Hyoudou Issei sebenarnya merupakan pemuda yang cerdas namun kesepian, karena itu dia memakai topeng seorang badut dan mesum sehingga orang-orang mulai memperhatikannya.

Kisah ini tidak akan membuat Rias dan yang lainnya menjadi Bashing seperti cerita-cerita yang sudah ada, tapi berdasarkan kenyataan dimana Rias sangat putus asa sehingga membuat Issei terbunuh dengan sengaja sehingga dia bisa menghidupkan kembali dirinya. Sebenarnya dia sendiri tidak sadar akan konsekuensinya.

Untuk harem itu sendiri masih menjadi rahasia juga akan bertambah seiring berjalannya cerita.

Dan tentunya untuk awal cerita ini terinspirasi dari Anime Katekyo Hitman Reborn dimana Tsuna diberikan tes untuk membuka kekuatan sebenarnya yang tersembunyi di dalam cincin vongola. Dan lebih banyak lagi crossover dengan anime lainnya tentunya ceritanya plotnya mengikuti kanon dan beberapa tambahan lainnya.

Peerage Issei H Arbitrius.

Raja : Issei H Arbitrius

Ratu : ...

Uskup : ...

Uskup : ...

Benteng : ...

Benteng : ...

Kesatria : ...

Kesatria : ...

Pion : ...

Pion : ...

Pion : ...

Pion : ...

Pion : ...

Pion : ...

Pion : ...

Pion : ...


Highschool DxD atau apapun yang berhubungan dengannya dan apapun anime yang masuk ke dalam cerita saya bukan milik saya...