Naruto by Masashi Kishimoto

Warning: OOC, AU, Typo, Lemon, Smut, Porn Without Plot, non-Incest.

...

..

.

Helping

...

..

.

Enjoy it!

"Kushina-san, kotak ini aku letakkan disini!" Naruto berseru, dia meletakkan sebuah kotak ke sebuah lemari yang kosong. Saat ini dia membantu seorang wanita yang baru saja pindah, wanita itu sendiri mengenal Naruto sedari kecil, dan dia baru saja pindah ke sebuah apartemen disebelah apartemen milik Naruto, namanya Kushina Uzumaki.

Wanita berusia tiga puluh delapan tahun dengan status Janda, dia diceraikan oleh sang suami karena dia kalah cantik dari selingkuhan suaminya, Naruto yang mendengar cerita tersebut hanya bisa terdiam tak berkomentar apapun, dia tak menyangka Kushina bisa bercerai dengan pria itu, padahal keduanya saling mencintai sejak bangku sekolah menengah atas, tapi malah kandas ditengah jalan seperti ini.

Hadeh.

Namun, Kushina tak memikirkannya, karena dia bisa move on dari pernikahannya yang gagal ini, terlebih dia ingin sendiri untuk sementara setelah beberapa bulan ini mengurus surat perceraian serta beberapa hal, termasuk hak asuh anak yang jatuh pada suaminya. Kushina menerima semuanya, dia hanya pasrah karena sang anak sendiri memilih bersama ayahnya dibanding dirinya.

"Fuuh, sudah selesai."

"Woh, terima kasih Naruto, aku sangat terbantu saat kau menolongku," ujar Kushina, dia baru saja selesai membersihkan diri dari kotoran yang menempel ditubuhnya. Tubuhnya hanya dibalut dengan sebuah handuk putih yang menutupi bagian dadanya sampai paha putihnya. Naruto yang melihat Kushina selesai mandi pun hanya bisa diam serta meneguk ludahnya dengan susah payah.

Dia dibuat kagum dengan kemolekan tubuh Kushina, orang yang dia anggap kakaknya sendiri itu. Kushina sendiri berjalan mendekati Naruto, namun kakinya terpeleset sehingga membuat dia terjatuh ke depan. "Woooh!"

"Kyah!"

Handuk yang menutupi tubuhnya pun terlepas, membuat Kushina telanjang bulat tepat saat Naruto memeluknya agar tak jatuh. Mereka berdua saling tatap untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Kushina menarik diri dan mengambil handuknya, kepalanya tertunduk malu setelah dia tanpa sengaja terpeleset karena licinnya lantai.

"Ma-maafkan aku," ujar Naruto.

Kushina hanya diam tak mengatakan apa-apa, wajahnya sudah sangat merona setelah tubuhnya terekspos oleh lelaki lain. Dia membalikkan badannya, handuk putih itu kembali menutupi tubuh telanjangnya. Namun, Naruto yang berada dibelakangnya tak kuasa untuk melihat punggung putih Kushina yang telihat sangat mulus itu.

Lelaki dua puluh delapan tahun itu terus menatap lekat punggung Kushina, hingga kedua tangannya terangkat dan melangkah mendekati wanita itu, dia menarik wanita yang sedang berjongkok itu dengan cara memeluknya dari belakang, kedua tangannya merangkak maju ke depan hingga sampai pada kedua payudara yang berusaha ditutupi oleh handuk tersebut.

Kushina terkejut, dia langsung menatap ke belakang saat itu juga, handuk yang dia pegang pun terjatuh dan menampilkan kembali tubuh telanjangnya. Kushina menggenggam pergelangan tangan Naruto untuk dia tarik dari payudaranya. "Naruto hentikan..."

"..." Naruto mengabaikan perkataan Kushina, dia terus meremas payudara Kushina dari belakang, bibir Naruto menciumi leher Kushina memberikan beberapa bercak merah di leher putih tersebut. "Walaupun kau sudah memiliki anak, tapi tubuhmu masih seksi Kushina-san," bisik Naruto tepat ditelinga Kushina.

Wanita itu hanya diam menggigit bibir bawahnya untuk menahan segala desahan yang mungkin saja akan keluar dari mulutnya. Tubuhnya sendiri seolah tersengat sesuatu saat jemari panas Naruto menyentuh permukaan kulitnya, puting susunya pun mulai berdiri tegak saat payudaranya terus dimainkan Naruto.

"Lihatlah, putingmu saja sudah berdiri. Kau sepertinya suka dengan sentuhanku," ujar lelaki itu, gundukkan yang menjadi tempat penisnya berada dia gesekkan dibelahan pantat Kushina. Tangannya kanannya mulai merangkak kebawah hingga sampai pada vagina Kushina. Dia menyentuh permukaan vagina Kushina, lalu mencubit kecil klitoris Kushina membuat wanita itu kembali menahan desahannya. "Mendesahlah Kushina-san, seperti saat kita bermain dibelakang Minato dulu."

Iris violet itu melirik kebelakang, sebuah senyuman menggoda terpatri di wajah cantik Kushina. Dia berbalik kebelakang, lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Naruto dan mencium bibir lelaki itu dengan mesra. Lidah mereka saling bertautan, bertukar saliva sembari kedua kelamin mereka bergesekan. Nafsu Kushina tak terbendung saat itu juga setelah perceraiannya dengan Minato.

"Ugh... kau masih suka dengan pantat dan payudaraku ternyata."

"Hey, siapa yang tak mau disuguhi oleh payudaramu, terlebih lagi gumpalan daging bagian belakang ini membuatku ingin memakannya," balas Naruto. Dia meremas pantat Kushina dengan keras, membuat wanita itu mendesah kencang.

"Ahh... Jangan keras-keras bodoh!" Kushina menarik diri dari pelukan Naruto, dia lalu berjongkok tepat di depan gundukan yang sedari tadi menggesek vagina serta pantatnya, resleting celana Naruto dia buka kebawah dan mengeluarkan sebuah benda yang berdiri tegap tepat di depannya. "Masih besar seperti dulu, apa kau bermain dengan wanita lain?"

"Tidak, setelah menjebol keperawananmu, aku tak bermain dengan wanita lain."

Kushina lalu menggenggam batang kemaluan Naruto, dia meremasnya setelah Naruto mengatakan bahwa lelaki itu mengambil keperawanannya. "Salah siapa yang terlalu nafsu, hah?"

"Sa-sakit! Kushina!"

Setelah meremasnya, Kushina pun mulai menggerakkan tangannya naik turun pada penis Naruto, tangannya yang lain bermain dengan kedua buah zakar Naruto, meremasnya lembut lalu kembali memainkannya lagi. Tubuh Naruto menegang saat penisnya dimainkan oleh Kushina, ia merasa kembali ke masa lalu, saat dimana dia dan Kushina bermain dibelakang Minato sebelum akhirnya Kushina menikahi pria itu.

Dia juga yakin jika anak yang dibawa Minato saat ini adalah anaknya, karena terakhir dia berhubungan badan dengan Kushina, sebelum acara pernikahan tepat di dalam kamar rias pengantin.

"Dia selingkuh, tapi kau sendiri juga selingkuh, Kushina-san."

Kushina tertawa kecil mendengarnya. "Salah siapa punya penis besar seperti milikmu?" ia kembali meremas penis Naruto, membuat lelaki itu meringis merasakannya. Kushina kemudian membuka mulutnya lebar-lebar, dia melahap penis itu di dalam mulutnya, kepala merahnya bergerak maju mundur saat dia memberikan sebuah Blowjob pada lelaki itu.

"Keh! Mulutmu masih seperti dulu, sial!" Naruto memegang kepala merah Kushina, dia meremas rambut merah Kushina saat penisnya berada di dalam mulut Kushina. Dia juga ikut menggerakkan kepala Kushina, sehingga wanita itu agak tersedak saat penis Naruto terus masuk ke dalam. "Aku keluar!"

Kushina langsung menarik kepalanya, namun dia malah dihujani oleh sperma hangat Naruto, cairan putih itu menutupi wajah cantiknya serta kedua payudaranya. Kushina mencolek cairan Naruto, dan menjilatinya.

"Ah, aku mandi lagi."

"Untuk apa? Di sana ada tisu, dan kau bisa membersihkannya menggunakan tisu itu. Jika kau mandi, bagaimana dengan ini?" Naruto menunjuk ke arah penisnya yang tadinya lemas mulai berdiri lagi.

Kushina memenjamkan kedua matanya, dia tahu jika satu kali klimaks tak akan cukup bagi Naruto, terlebih dia tak pernah berhubungan badan dengan wanita lain selain dirinya. "Baik, baik." Kushina hanya pasrah, dia pun berjalan ke arah tempat tidurnya dan membuka kedua kakinya lebar-lebar. "Lakukan sesukamu!"

Naruto yang melihat tak ada penolakan pun langsung bergerak membuka semua pakaiannya hingga telanjang bulat, dia berdiri tepat di depan Kushina yang sedang merenggangkan kedua kakinya, penisnya saat ini berada tepat di depan vagina Kushina. Dia mengarahkan penisnya itu untuk masuk ke dalam tubuh Kushina, mendorong pinggulnya hingga penisnya masuk.

Kushina meringis merasakan kembali penis Naruto setelah sekian lama, dia meremas kasurnya saat Naruto dengan pelan mendorong pinggulnya, lenguhan nikmat keluar dari mulutnya saat penis itu bergerak di dalam tubuhnya. Kedua puting susunya menegang saat itu juga, dia benar-benar dibuat seperti melayang ke langit saat penis Naruto berada di dalam tubuhnya.

"Sudah lama aku... ahh, tak merasakan ini... penismu..."

"Aku sendiri menunggu lama untuk ini, Kushina!" lelaki itu langsung mendorong pinggulnya dengan kencang, membuat Kushina seolah tersedak akan sesuatu. "Sial, dinding rahimmu memijat penisku, punya mantan suamimu pasti tak sebesar ini ukurannya."

"Minato selalu memuaskan dirinya sendiri, aku tak pernah dipuaskan olehnya... ohhh, si-sial, besarnya!"

Di dalam tubuh Kushina seolah sesak akan penis Naruto, sementara pria itu terus menggerakkan pinggulnya maju mundur, kedua tangannya menggerayangi payudara Kushina mencubit puting susunya dan menariknya beberapa kali, membuat wanita itu mendesah kencang. Kedua kaki jenjang Kushina menguncin pinggul Naruto sehingga pria itu tak bisa keluar dari kunciannya.

"Naruto, Naru! Aku keluar!"

Naruto mengabaikan seruan Kushina, dia terus menggerakkan pinggulnya hingga penisnya terasa hangat karena disemprot oleh cairan cinta Kushina. Wanita itu klimaks untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia tak dipuaskan oleh mantan suaminya. Kushina tak sempat mengambil napas, dia dikejutkan oleh Naruto yang terus menggerakkan pinggulnya.

"Tu-tunggu, tolong berhen-ahhnn...Naruto..." Kushina berusaha mendorong dada bidang Naruto, namun itu semua sia-sia saja. Pria itu malah menarik penisnya, dan membalik tubuh Kushina. Dia kembali memasukkan penisnya ke dalam vagina wanita itu dari belakang. "Cu-cukup... Ahhh..." Kushina terus memohon pada Naruto untuk menghentikannya, tetapi semua sia-sia karena Naruto menulikan pendengarannya.

Pria itu memegang pinggul ramping Kushina, dia menggerakkan pinggul Kushina menggunakan kedua tangannya. "Aku belum puas Kushina-san." Gerakan pinggul Naruto semakin cepat, membuat Kushina menahan dirinya agar tak terbentur tembok di depannya, wanita itu terkejut saat Naruto bermain secara kasar pada dirinya.

Pinggul Naruto terus bergerak cepat, dia merasakan penisnya terus dipijat oleh dinding rahim Kushina. "Pelan Naruto... Ahhh..." Perkataan Kushina seolah di abaikan oleh pria itu, dia menarik tubuh Kushina lalu mulai menggerayangi kedua payudara wanita itu, Kushina mendesah tak karuan saat vaginanya serta kedua payudaranya dimainkan oleh Naruto.

Berbeda saat dia bersama suaminya, Naruto selalu bisa memuaskannya, pemuda itu memang pintar saat berhubungan seks. "Kau mau keluar?" Kushina mengangguk, dia sudah tak kuat lagi walaupun ini klimaksnya yang kedua. "Aku akan keluar."

"Yaahh, keluarkan semua Naruto, isi penuh rahimku dengan sperma hangatmu... Ahhh... Kumohon..."

"Sesuai perintah." Naruto mempercepat gerakannya, remasan pada payudara Kushina juga semakin kencang saat itu juga, dia juga mencubit puting susu Kushina. "Aku keluar!"

"Ahhnn!"

Mereka berdua pun klimaks secara bersamaan untuk mengakhiri kegiatan mereka.

...

..

...

"Jadi siapa yang akan pindah?"

Kushina cemberut mendengar pertanyaan Naruto barusan. Jika seperti ini jadinya, maka harus ada yang berkorban.

"Aku saja deh, bagaimana? Lagian, barangku juga tak banyak, dan disini juga masih banyak tempat kosong."

Kushina langsung tersenyum senang, dia meminum bir yang sudah disediakan olehnya tadi. "Hmmm, Uzumaki? Tak buruk juga sepertinya."

"Kita sepupu bego!"

"Tehe, aku lupa!"

"Hadeh."

...

..

.

End!