Dalam rangka meminta doa menjelang SNMPTN, haha.


Rumor

Assassination Classroom belongs to Yuusei Matsui

Warnings: typo(s), kinda OOC, alternate settings

Enjoy!


Nagisa heran.

Bagaimana bisa tidak ada satu pun siswi SMA Kunugigaoka yang tergila – gila dengan seorang Karma Akabane? Secara, sahabatnya itu punya tampang yang cukup menjual—sangat, malah. Well, meskipun dia juga laki – laki, Nagisa masih bisa menilai kalau Karma memang sangat menawan. Proporsi badannya juga bagus (Nagisa sedikit iri dengan tinggi badannya, huft).

Bukan cuma tampangnya saja, isi kepala Karma pun tak kalah glowing. Bersaing dengan Gakushuu Asano, pemuda bersurai merah itu selalu berhasil menempatkan dirinya di peringkat dua besar paralel. Ya, peringkat Karma selama di SMA tidak pernah turun dari angka dua. Padahal, kalau dibandingkan dengan effort Gakushuu dan para penyabet ranking 10 besar sekolah, usaha Karma untuk meraih posisinya tersebut sungguh tidak ada apa – apanya. Susah memang kalau melawan orang yang sudah jenius dari sananya.

Kalau untuk kemampuan non-akademik seperti olahraga atau kesenian, meskipun tidak bisa dibilang 'jago', Nagisa sama sekali tidak merasa Karma lemah di bidang – bidang tersebut.

Jadi, kesimpulannya, Karma Akabane adalah salah satu sosok yang pas untuk dinikahi apabila ingin memperbaiki keturunan.

Yah, terlepas dari sifatnya yang jahil dan barbar tentunya. Tapi, kalau menurut Nagisa sendiri, hal itu bukan masalah yang terlalu besar sih. Nagisa saja lama – lama sudah terbiasa dengan tingkah Karma yang memang terkadang di luar akal sehat. Kuncinya hanya satu; banyak - banyak bersabar.

Oke, kembali ke permasalahan inti.

Bagaimana bisa seorang Karma Akabane tidak pernah mendapatkan satu pun love confession dari siswi – siswi di sekolah mereka? Nagisa saja pernah. Tidak dia terima sih, tapi tetap saja kan, setidaknya pernah ada seseorang yang ingin menjadikannya pacar.

Sedangkan, Karma? Nihil.

Kecuali kalau Karma selama ini merahasiakan hal – hal semacam itu dari Nagisa. Tapi rasanya tidak mungkin, karena Karma adalah orang paling transparan yang pernah Nagisa kenal. Hal sepele seperti kuku jari kakinya yang lepas karena terantuk daun pintu saja dia cerita.

"Sa? Kok ngelamun?"

Nagisa tersentak kecil. Tanpa dia sadari, Kayano, Sugino, dan Okuda sudah memperhatikannya daritadi.

"Ah, maaf, maaf. Mendengar obrolan kalian, aku jadi kepikiran sesuatu."

"Kepikiran apa emangnya, Sa?"

"Hmmm, itu," Nagisa terlihat berpikir sejenak, sebelum akhirnya kembali berucap, "aku cuma heran aja sih. Kok cowok kayak Karma nggak ada yang mau ya? Maksudku, kok nggak ada yang pernah nembak dia gitu."

Ketiga temannya mendadak hening untuk beberapa saat.

"Guys? Kok diem?"

Kayano tertawa pelan sebagai tanggapan. Nagisa menatap temannya itu dengan sangsi. Dia yang salah dengar atau memang tawa Kayano barusan terdengar sangat canggung?

"Gimana ya, Sa... bukannya nggak ada yang mau, tapi lebih ke udah nggak ada harapan aja gitu..."

"Oh, gitu ya? Sayang banget. Padahal Karma bukan orang yang suka nyepelein orang lho. Emang sih dia kadang agak jahat, tapi menurutku dia kayak gitu cuma ke orang – orang yang menurut dia nyebelin. Kalau kamu nggak pernah cari gara – gara sama dia, ya it's okay."

"Bukan gitunya, Sa.. gimana ya?" Kayano terlihat bingung. "Duh, bantuin ngomong kek, Sugino!"

Sugino mengaduh pelan setelah tiba – tiba disikut oleh Kayano. Dia melirik Kayano tajam, sebelum kembali fokus pada Nagisa. "Kamu janji dulu ya, Sa. Jangan ngamuk kalau aku ngomong gini."

"Emangnya kamu mau ngomong apa?"

"Pokoknya janji dulu."

Nagisa menghela napas. "Iya, iya. Janji."

Sugino pun mengangguk. Dia bertukar pandang dengan Kayano sejenak dan kemudian saling berbisik antara satu sama lain, sementara Nagisa hanya bisa memperhatikan mereka dengan raut datar. Sejak kapan teman – temannya menjadi tukang drama seperti ini?

Oh, kecuali Okuda.

Nagisa melirik gadis berkacamata itu. Dia tidak ikut nimbrung sama sekali semenjak topik obrolan mereka berempat berganti menjadi Karma.

Hmm, mencurigakan.

"Eh, Okuda, kalau menurut kamu sendiri gimana?" tanya Nagisa, sengaja memancing. Yang jadi sasaran pertanyaannya pun gelagapan.

"Gimana apanya, Sa?"

"Ya Karma itu tadi. Menurutmu kenapa kok sampai sekarang nggak ada yang berani nembak dia?"

"Menurutku ya sama kayak apa yang diomongin Kayano tadi sih..."

"Ah, masa? Kok bisa—"

"Jadi gini, Sa."

Ucapan tiba – tiba dari Sugino membuat Nagisa menghentikan omongannya. Dia ganti menatap Sugino sembari menaikkan sebelah alis, menantikan jawaban.

"Sebenernya, ini rumor udah lama sih. Mulai dari kita kelas 10 kalau nggak salah. Aku agak bingung sih ini, masa kamu nggak tahu tentang rumor – rumor itu sama sekali? Tapi kamu emang anaknya clueless banget sih, jadi ya oke lah, bisa dimaklumi."

"Rumor – rumor? Rumor yang mana?"

Kali ini, giliran Kayano yang menjawab. "Inget nggak sih? Karma dulu sempat populer banget pas awal – awal kita masuk SMA, gara – gara dia jadi peraih nilai UN tertinggi waktu itu. Awalnya juga banyak banget sih temen – temen kos aku yang suka ngomongin Karma gitu. Ganteng lah, pinter lah. Apalagi vibes-nya dia kan kayak bad boy gitu, jelas aja banyak yang kesengsem."

"TAPI!"

Sugino menggebrak meja, membuat Nagisa, Kayano, bahkan Okuda, ikut terkejut. Untung saja hanya kelas mereka yang sedang jam kosong, jadi kantin tidak begitu ramai.

"Aku liat – liat daritadi kamu banyak tingkah ya, Sugino," ucap Nagisa datar, membuat Sugino meringis malu. Pemuda itu kembali duduk tenang di kursinya, lalu melanjutkan ucapannya.

"Tapi, pas anak – anak yang lain tahu kalau ternyata Karma ini tiap waktu sama kamu terus, rumor – rumor nggak bener akhirnya mulai beredar."

Kayano mengangguk. "Dalam artian, hampir seisi sekolah, ngiranya kalian berdua itu gay."

Mendengarnya, Nagisa terdiam, membuat ketiga orang lainnya menatap pemuda bersurai bitu itu dengan sedikit cemas. Dalam hati mereka berdoa semoga teman mereka itu tidak tersinggung atau lebih parahnya lagi, mengamuk. Meskipun terkenal kalem, ramah, dan murah senyum, mereka bertiga cukup sayang nyawa untuk tidak pernah memancing amarah Nagisa untuk yang kedua kalinya.

Sekali saja sudah cukup untuk membuat ketiganya trauma.

Setelah beberapa saat, Nagisa pun akhirnya menghela napas. Ketiga temannya refleks ikut melakukan hal yang sama, bersyukur karena tidak ada tanda – tanda bahwa Nagisa akan mengamuk.

"Oh, yang itu yang kalian maksud? Sebenernya aku tau sih kalau soal rumor – rumor yang itu, Karma juga. Tapi ya kita bodo amat aja lah ya, lagian kan itu semua cuma berita boong doang. Aku pikir lama – kelamaan juga bakalan ilang sendiri... ternyata masih ada yang percaya ya?"

"Ya gmana mau nggak percaya, Sa? Meskipun udah pisah kelas pun, kalian berdua juga selalu bareng – bareng kalau kemana – mana. Kita bertiga aja jarang banget bisa kumpul bareng di kantin kayak gini. Biasanya kamu udah diculik duluan kan buat makan bareng sama Karma di rooftop?"

"Iya sih, bener. Tapi mau gimana lagi coba? Karma itu meskipun hawanya nyeremin, aslinya dia bayi banget. Masih suka ngambek kalo maunya nggak diturutin."

"Tuhkan, emang cuma kamu doang yang bisa ngertiin Karma sampai segitunya. Ya nggak heran juga jadinya kalau anak – anak lain ngiranya kalian itu diem – diem pacaran."

"Ya nggak lah, mana ada. Kalaupun emang bener kita pacaran, udah pasti aku bakalan cerita ke kalian."

Mengejutkan, bukannya Sugino atau Kayano, justru Okuda lah yang mendadak ambil suara untuk menanggapi ucapan Nagisa barusan.

"Kalau Nagisa bisa ngomong kayak gitu, berarti ada kemungkinan Nagisa mau dong kalau beneran diajak pacaran sama Karma?"


Ucapan Okuda di kantin tadi masih terngiang – ngiang di benak Nagisa. Bisa – bisanya ya temannya itu. Jarang ngomong, tapi sekali nyeletuk langsung buat orang kepikiran. Memang benar kalau Nagisa bisa dengan mudah menjawab 'tidak' untuk pertanyaan Okuda saat di kantin tadi, tapi sebenarnya dia masih memikirkan pertanyaan gadis itu hingga sekarang.

Kenapa dia sempat ragu ya saat menjawab pertanyaan Okuda? Bukannya sudah jelas – jelas dia tidak akan mungkin mau punya hubungan lebih dengan Karma? Nagisa berani bersumpah kalau dia benar – benar masih suka dengan perempuan dan tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya untuk membelok.

But when it comes to Karma...

"Karma, mau nanya boleh?"

"Kamu minta anak aja aku sanggupin kok, Sa. Masa nanya aja nggak boleh?"

"IH, SERIUS!" Nagisa menggembungkan pipinya, kesal. "Lagian ya, mana bisa lah aku minta anak sama kamu. Orang kita sama – sama cowok."

"Ish, keliatan banget pengetahuannya cetek. Di luar negeri kan udah banyak, adopsi anak tiri yang legal."

"Ya tapi kan kamu bukan gay."

"Emang bukan sih," Karma menyeringai, "tapi kalau pasangannya kamu, ya gas lah."

Di saat – saat seperti ini lah Nagisa mengutuk dirinya sendiri yang sangat mudah untuk tersipu.

Sesuai prediksi, setelah melihat reaksinya, tawa Karma meledak. Teman merahnya itu sampai berguling – guling di ranjang karena menertawakan wajahnya yang pasti sudah sangat merah saat ini.

"Awas ya kamu."

Di sela – sela tawanya, Karma menyahut. "Apa? Kamu mau apain aku emangnya?" godanya membuat wajah Nagisa makin memanas.

"Udahlah, aku mau pulang aja."

Tanpa bicara apa pun lagi, setelah mendengar ucapan Nagisa barusan, Karma dengan sigap langsung menarik sebelah tangan temannya itu, membuat si empunya limbung dan jatuh dalam dekapannya.

"Enak aja kamu main pulang – pulang seenaknya kayak gitu."

Seakan belum cukup dalam membuat Nagisa malu, Karma justru semakin mengeratkan pelukannya pada pemuda malang tersebut. Yah, setidaknya posisi Nagisa kini memunggungi Karma, membuatnya bisa menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah menyaingi warna rambut Karma.

"Kamu sih, aku mau tanya beneran padahal."

"Yaudah, aku serius nih sekarang. Mau nanya apa kamu tadi?"

Nagisa terdiam sejenak, sebelum akhirnya menghela napas.

"Nggak jadi. Lupa aku mau nanya apa."

"Yakin?"

"Iya. Sekarang, lepasin aku ya?"

Bukannya menurut, yang ada Karma justru semakin mengeratkan dekapannya. Kepalanya kini bersender di bahu Nagisa, membuat Nagisa bisa merasakan napas pemuda itu menggelitik leher jenjangnya.

"Nggak mau. Lagian, kapan lagi coba kamu dapet jasa cuddle gratis kayak gini?"

Menanggapinya, Nagisa hanya berdeham pelan dan mulai memejamkan matanya, menyamankan diri di dekapan Karma, tanpa mempedulikan degup jantungnya yang semakin menggila.

Yah, biarlah itu menjadi pertanyaan di lain hari saja.


Dan... berakhir dengan gaje-nya.


A/N:

Haiii, aku baru di fandom ini, hehew. Udah lama sih sebenernya nggak mampir ke , tapi kayak udah kebiasaan aja gitu untuk selalu nulis one-shot singkat gitu setiap mau ada sesuatu. Suka aja gitu minta doa ke kalian para readers T^T

Omong2 soal doa, iyaa, doain aku ya kawan, habisini mau SNMPTN, ueueue. Pusing sekali. Doakan semoga aku diterima di PTN dan jurusan pilihanku ya! Aamiin.

Last but not least, kind to RnR?

(Eh, ada yg mau mutualan di twitter sama aku nggak? Hehe)