Minato bukan pengharap jahat yang egois. Dia laki-laki santun yang tahu darimana dia berasal dan batasan-batasan tertentu yang tidak boleh dia lewati. Mendapatkan papan melindungi dari panas dan dingin itu lebih dari cukup bagi anak-anak yatim piatu yang ditinggal kedua orang tua pergi ke medan ke matian. Mengenal laki-laki seperti Jiraya yang mau memberinya akses ke seluruh buku di desa adalah kehormatan. Bahkan mendapatkan teman-teman baik yang tidak melihatnya sebagai anak yatim adalah berkah dari dewa. Tapi sekuntum bunga, merah merakah, mekar dalam jantung yang muncul bagaikan kilat dan mengamuk juga bagaikan kilat. Minato pertama kali berupaya untuk mendapatkannya demi dirinya sendiri. Dosa pertama dalam hidup bocah Namikaze.

Minato menemukannya bercahaya diantara puing-puing. Kadang dia selalu melihat dunia seperti itu. tidak indah dan tanpa sama sekali makna. Seorang laki-laki tua mendekatinya dan mengatakan jika dunia itu jahat, mungkin benar. Lalu laki-laki tua lain juga mendekatinya dan mengatakan jika dunia itu baik selama kamu menemukan dan merasakan cinta, ini juga benar.

Lalu apa itu cinta?

Minato membaca di buku-buku jika cinta adalah rasa haus yang ingin terus dimiliki.

Bahwa cinta adalah pemberi semangat,

Bahwa cinta juga adalah cara dewa memberimu alasan untuk hidup,

Dan banyak cinta-cinta lain yang tidak dia mengerti.

Tapi satu hal yang pasti, bunga merah itu membuat dia menatap terpesona, menimbulkan gemetar lebih parah dibanding ketika Jiraya mengajaknya makan dan cerita tentang dunia luar desa. apa Minato cinta pada cerita Jiraya? Rasanya tidak seperti itu. tapi sosok itu benar-benar membuat bergetar.

"Kali ini… ambil sehelai kebanggaan masa lalu ku dan bersama kita akan melihat hal-hal baik."

Lantas tanpa Minato sadari, dia ambil helai rambut merah itu. bocah Namikaze menyimpannya hati-hati dalam kantung seperti dia menjaga nyawa orang-orang sebagai seorang shinobi.

Minato selalu berpikir hidup setelah perempuan itu masuk seperti mimpi. Bayangkan, anak yatim berkenalan dengan perempuan yang dilindungi Anbu, meski perempuan itu tidak menyadari. Kehidupan mengalir menuju arah yang tidak dimengerti, orang-orang satu demi satu melihatnya sebagai bentuk keajaiban dunia, puji-puji tentang anak ajaib ataupun anak ramalan. Semuanya rumit, meski dia bisa memahaminya. Tidak masalah, selama perempuan itu tetap ada di sampingnya.

Kadang shinobi juga butuh kehidupan indah, entah mimpi atau nyata.

Hujan hanyalah cara alam menangis. Jiraya sensei bilang hujan adalah hukuman manusia karena banyak membunuh. Tapi bagi Minato adalah alarm untuk segera kembali ke rumah. Lalu ada juga hari-hari tanpa hujan, matahari bersinar marah menyengat batok-batok kepala manusia. Tapi tanpa hujan, alarm Minato berbunyi di saat-saat tertentu untuk mengingatkannya jika dia akhirnya punya rumah sungguhan.

Rumahnya adalah tempat dimana tiap pagi, di meja selalu terhidang sepiring nasi dan segelas teh manis. Tengah malam atau hari-hari setelah misi panjang, Minato menemukan rumah yang telah rapi mengkilat, aroma madu manis dan sosok perempuan tidur di sofa dengan wajah lelah namun tersenyum bahagia.

Dicium mahkota bunga merahnya, "Selamat tidur." Selapis debu tertinggal di bibirnya. Diseka perlahan menciptakan garis coklat di punggung jelita! Ah, bahkan jika dia adalah rubah iblis bagi semua orang, di mata Minato dia adalah Dewi Inari (Dewa Rubah dalam mitos Jepang) yang turun menebarkan gandum bagi rakyat jelata. Sambil duduk di kursi sebelahnya, Minato memandangi Inari mungil itu. dulu Inari itu adalah kilat dahsyat yang membuat semua orang sekitarnya percaya jika dunia tidak sepenuhnya jahat, kilat merah yang menunjukkan jika takdir jahat sebenarnya cara dewa mengajarkan jika memahami adalah cara menyelesaikan perang, bukan adu ninjutsu. Kilat yang ditakuti karena sesuatu disebut rubah iblis, tapi sebenarnya adalah pahlawan tanpa pamrih yang melawan kejahatan seorang diri.

Malam itu Minato terus berpikir jika selama ini dia melihat perempuan itu adalah harta karun. Tapi sekarang, itu berubah menjadi tanah subur untuk ditanami kehidupan baru.

Dan Minato ingin benihnya bersarang tumbuh di dalam tanah itu.

Sampai suatu malam yang sendu karena gerimis membuang gang jadi lengang. Minato pulang, membawa sederet emosi akibat kata-kata rekan Uchiha yang tidak mengerti arti menahan diri. Tergesa, tapi begitu aroma madu dan rumah menyambut, segala caruk-maruk desa lenyap begitu saja seakan diterpa angin. Melepas rompi dan sepatu, tanpa Minato sadari, bunga merah duduk mengawasi. Kadang bunga merah bisa benar-benar berwujud rubah iblis, tapi saat itu adalah perpaduan antara Dewi dan iblis. Minato begitu gugup dan buru-buru berganti pakaian, lalu duduk di sampingnya.

Mata-mata abu-abunya masih menatapnya, tapi kedalamannya lebih jauh seakan ada ruang-ruang gelap di dalamnya. Ada kegetiran dan rasa bersalah, bunga merahnya jarang menampilkan kerut semacam itu.

"Jika Kita punya anak… apakah dia akan bernasib sama sepertiku?"

"Jika desa mendorong terlalu jauh, aku akan jadi pertama melawan dan tidak peduli jika bahkan orang itu adalah Jiraya sensei," Minato tersenyum.

"Aku takut, kutukan ku akan diwarisi anak kita nantinya."

"Kutukan itu milik kita berdua. Jika anak kita lahir, maka jadi milik kita bertiga."

"Kenapa kamu mecintaiku seperti ini? Aku beban untukmu."

"Karena kamu adalah kilat yang memberi ku sengatan untuk terus melawan kejahatan shinobi."

Minato meraih jari-jarinya—Ah, tulang yang pipih dan ringkih. "Tidak ada yang akan menghalangi kebahagiaan kita berdua. Di sini ataupun di luar sana, kita akan sama-sama melawannya." Didekap bunga merahnya, keperihan yang telah membuat Minato menerima pahitnya dunia.

Lalu mereka berdua menikah. Disaksikan roh-roh purba yang bangkit dari palung kekelaman, iblis dan malaikat. Teman-teman membawakan tahi dibungkus bingkisan manis menggambarkan kebenaran dari wajah penuh kebohongan, "Semoga kalian tetap saling setia, sampai neraka…" bunga merahnya tertawa menerima semua itu. sungguh tawa luar biasa, mengingatkan Minato akan kilat yang berkali-kali menyambar nya. Memberinya tekad untuk terus berjuang.

Minato merengguk sake dalam cawan. Ini kemenangan! Ketika dunia menertawaimu, tapi dirimulah yang sebenarnya tertawa melihat kebodohan dunia.

"Sungguh pasangan yang serasi," orang-orang menatap keduanya dengan perasaan iri, dan tentu juga caci maki. Tapi Minato dan Inari-nya tak peduli. Mereka bercinta sepanjang hari. Keduanya tidur berlapis keringat dan bersatu membentuk cinta lebih dalam. Tanpa mengenal lelah menunjukkan kebahagiaan dua insan yang disatukan. Mereka bangun bagai mumi setelah malam panjang pada pagi hari.

"Apa kita akan mengambil nama dalam buku ini? Rasanya agak jahat menamainya dengan bahan makanan."

"Yeah, nama adalah doa orang tua. Kita berdua tahu kita mengharapkan semangat anak ini sama seperti semangat Naruto-kun."

Yeah, Naruto? Salah satu pelengkap ramen, tidakkah itu jahat? Tapi mereka berdua tahu nama itu adalah spirit untuk kehidupan baru di takdir jahat yang baru. Perutnya istrinya membuncit, menyimpan anak pertama mereka. apakah kelak kalau anak ini lahir ia kana menanyakan siapa nama ibunya? Mestikah, Minato mengatakan jika ibunya adalah kilat yang kini turun dalam wujud Inari jelita yang membuat hidupnya tidak lagi mendung. Suatu hari Minato bertanya pada istrinya atas pemikiran itu yang dijawab dengan gemuruh tawa. "Katakan saja kalau ibunya adalah bidadari yang turun dari langit." Seakan tengah menyembunyikan jika perempuan itu tidak akan memiliki waktu untuk memberikan kilat serupa kepada anaknya. Minato selalu bahagia, tapi dia tidak akan lupa pada takdir jahat. Sama seperti rasa sopan santun sebagai anak yatim piatu dulu. semakin perut istrinya membuncit, waktu akan menunjukkan saat penghabisan semakin dekat. Dia sudah belajar dan mencari sempai dunia jungkir balik dibuatnya. Dia laki-laki jenius sebagai calon potensial Hokage. Dia anak ramalan yang disebut Jiraya sensei. Tapi kali ini ada satu hal yang tetap pada kodrat dan tidak akan bisa dirubah.

"Apa yang kamu pikirkan Minato?"

"Bukan apa-apa Kushina," kata Minato lembut. "Cuma memikirkan seperti apa anak kita nanti."

Bukan berarti dia menyerah pada takdir begitu saja. Minato sudah menjungkir balikan dunia. Dia tahu apa yang harus diperbuatnya nanti.

Bayinya istimewa karena membutuhkan waktu sepuluh bulan sebelum keluar dari perut istrinya. Bayi merah dan gembir sebagai tanda jika sekarang Minato adalah sosok ayah. Batinnya bahagia, meski kebahagiaan hanyalah sebentar dan sedikit berat meski dia sudah tahu inilah jalanya. Keistimewaan istrinya adalah betapa kuat fisiknya ketika rubah dipindahkan dan kini bersarang ke bentuk hasil cinta mereka berdua. Diambang akhir waktunya, istrinya menyuruhnya mendekat lalu berbisik, "Sepertinya aku harus pamit," bisiknya lirih. Seperti bunga yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai simbol keindahan yang dipetik manusia tanpa ampun, mahkota perlahan layu dan sepasang mata yang kian kelam. "Tidak usah repot-repot, aku juga tidak mau menyatu dengan tanah desa busuk yang sudah membakar kampung halaman leluhurku. Bakarlah tubuhku dan hanyutkan abuku di sungai. Aku ingin mengalir bersama darah leluhurku. Uzumaki adalah aliran kehidupan."

Istrinya masih tersenyum. Nyawa di ujung ubun-ubun tapi dia terus berjuang. "Lalu… kali ini bekerja samalah dengan Kurama… sekali lagi kita tertawa menyaksikan dunia terus menunjukkan kebodohannya."

Menjelang matahari terbit, dua jam setelah Naruto lahir. Istrinya meninggal. Minato membakar dan membuang abunya di atas sungai. Dia berdoa semoga istrinya tak menderita dia alam baka. Amin. Hujan, serpihan kepedihan itu, membuat kesedihan menjadi lengkap. Bayi dalam dekapannya waktu itu, tak terasa tumbuh begitu cepat. Ia mewarisi rambut kuning Minato dan wajah istrinya. Naruto tumbuh dan tampaknya dia lebih suka menyendiri dan kegelapan. Sekali dua kali Minato melihat anaknya bicara dengan rubah. Keduanya tak banyak cakap, Minato dipindah tugaskan sebagai duta serikat bangsa dan menugaskan Kakashi mengawasi Minato. Hokage Danzo selalu licik, tapi Minato bisa bermain lebih licik jika dia mau. Mata anaknya biru, tapi kadang abu-abu dan sekali dua kali merah. Bocah yang dulu sering menangis dalam dekapan kini tumbuh dengan kulit terbakar matahari dan pulang tengah malam dengan mata lebam dan hidung berdarah.

"Kenapa anakku?"

"Kelahi!" dengusnya pendek.

"Kenapa hampir setiap hari kamu berkelahi?"

"Mereka selalu bilang kalau aku anak iblis dan Kurama rubah jahat! Bukankah itu keterlaluan ayah?!"

Minato mengangguk. Mengelus kepala anak laki-lakinya. Lantas dengan tegas menceritakan siapa ibunya. Diceritakan, suatu hari ada inari turun ke bumi meniti pelangi. Ia mandi dan berenang di sungai belakang kuil. Seorang laki-laki melihat inari itu mandi. Kemudian dicurinya selendang bidari itu, hingga ia tak bisa kembali. Kemudian bidadari itu menjadi istri si laki-laki.

"Nah, bidadari itulah ibumu."

"Lalu si laki-laki?"

"Ya bapakmu ini?" kata Minato sambil tertawa.

"Jadi bapak dulu suka mencuri?"

Minato tertawa, "Tak apa sesekali laki-laki mencuri."

"Laki-laki juga tak apa kan kalau sesekali berkelahi."

"Sebenarnya tak apa," lalu ingat jika bunganya dulu memang suka berkelahi. "Tapi ibumu tak suka kalau punya anak suka berkelahi."

"Tapi mereka selalu mengolok-olokku anak rubah iblis."

"Tidak. Kamu anak bidadari."

"Dan anak pencuri."

Minato sekali lagi tertawa.

Lalu ia menghambur, masuk kegelapan. Entah apa yang dikerjakannya dalam kegelapan bersama rubah iblis. Berhari-hari dia akan menghilang, tapi tidak ada rasa khawatir. Minato semakin sering dijauhkan dari sistem pusat desa, tapi sebenarnya itu celah agar dia leluasa mengontak kawan-kawan seperjuangan. Minato menyaksikan anaknya tumbuh dalam didikan rubah untuk kekuatan dan Kakashi untuk moralitas sebagai manusia.

Dari kejauhan, Minato bisa melihat anaknya dalam wujud Kyuubi sempurna melolong dan meratakan desa busuk itu dalam kobaran neraka. Bergema dalam ruang dan waktu, sementara bulan menjadi saksi bisu malam berdarah dalam sepanjang sejarah Shinobi. Delapan tempat lain juga berakhir sama. Minato dan rekan-rekannya akan memulai era yang baru. Naruto/Kyuubi masih terus melolong.

Kalian mungkin merasa ngeri oleh lolongan itu. tapi Minato kian tersenyum. Dendam harus dibayar tuntas![]