Disclaimer

Sekotengs (c) Lifina

Warning

Contains BL, PWP, explicit


"Panggil saya 'Mas'. Kamu itu junior saya, tahu?" pinta Raka sambil memojokkan Ezra ke dinding.

Ezra terlihat terkejut dengan perbuatan Raka. Mata dokter residen kardiologi tersebut terlihat sedikit membesar. Tak lama, Ezra mulai menundukkan pandangannya.

"Ma-maaf, Mas Raka ..." lirihnya dengan wajah memerah.

Raka yang melihat Ezra pun langsung mengalihkan pandangannya.

'Imutnya ...' batin Raka.

Ezra mungkin bisa melihat wajah Raka yang memerah. Namun, dia tidak menyadari 'sesuatu' yang berada di bawah.


"Ahhh ... Raka," desah seorang pria berambut coklat di ranjang berukuran king.

Di atas pria bertubuh mungil itu terlihat ada pria bertubuh kekar berambut hitam sedang mengisap puting pria bertubuh mungil tersebut.

"Panggil aku dengan sebutan 'Mas'," kata Raka setelah melepaskan isapannya di puting Ezra.

"Iyahh ... ahhh, Mas Raka," desah Ezra saat Raka memainkan jari di putingnya.

Raka pun tersenyum kecil setelah mendengar Ezra memanggil dirinya dengan sebutan "Mas".

"Aku sayang sama kamu," ucap Raka sebelum mencium bibir Ezra.

"Aku juga sayang sama Mas Raka," balas Ezra.

Raka pun kembali mengecup bibir Ezra. Lalu, dia menurunkan kecupannya ke leher Ezra. Terlihat sudah ada banyak bercak merah yang tadi sudah dia buat. Dia pun kembali menurunkan ciumannya sampai ke dada Ezra. Terlihat ada bekas luka di tengah dada Ezra. Bekas luka itu ia dapatkan saat ia kecil karena menjalani open heart surgery.

Raka mencium dada Ezra sebelum kembali mengisap puting Ezra. Ia juga menggigit puting Ezra dengan gemas sesekali.

"Akh--Mas ..." pekik Ezra saat Raka menggigit putingnya.

Tangan Raka terlihat sedang mengelus perut Ezra. Elusannya terlihat makin turun hingga mencapai resleting celana Ezra. Raka pun menurunkan resleting dan membuka kancing celana Ezra. Terlihat ada sesuatu yang menonjol dari balik celana dalam Ezra. Dengan 1 gerakan, Raka menurunkan celana dan celana dalam Ezra secara bersamaan. Raka merasakan penis Ezra yang sudah menegang menyentuh perut bagian bawahnya.

Sambil terus menjilat dan mengisap puting Ezra, Raka menurunkan resleting dan membuka kancing celananya. Lalu, Raka menurunkan celana dan celana dalamnya. Terlihat penis Raka yang juga sudah menegang mencuat dengan gagah.

Tiba-tiba, Raka berhenti dari aktifitasnya. Terlihat Ezra sedang berusaha mengatur nafasnya dengan wajahnya yang sudah memerah tidak karuan. Raka pun mendekati laci di sebelah ranjang dan membukanya. Tangannya terlihat mengambil sebungkus kondom. Dia pun membukanya dengan giginya dan memasangnya di penisnya. Raka pun menarik tubuh Ezra sampai bokongnya berada di ujung ranjang. Lalu, Raka berlutut di hadapan Ezra dan menaikkan kaki Ezra di bahunya.

"Kalau sakit, bilang ya," ucap Raka.

"I-iya, Mas," sahut Ezra.

Raka pun mendekatkan penisnya ke lubang pantat milik Ezra. Lalu, dia pun memasukkan ujung penisnya ke dalam Ezra secara perlahan.

"Ah ... Mas Raka," desah Ezra.

Lalu, Raka memasukkan penisnya lebih dalam lagi.

"Eennggghhh ... Mas-" erang Ezra.

"Ssshhh, Ezra ..." desis Raka kenikmatan.

Raka pun mendekatkan wajahnya ke wajah Ezra dan mencium bibir Ezra. Lalu, Raka mulai memaju mundurkan pinggulnya. Raka memastikan dia tidak melakukannya dengan terlalu cepat supaya Ezra tidak kesakitan.

"Mmmhhh ..." desah Ezra di sela-sela ciuman mereka.


Saat terbangun, Ezra melihat dirinya sudah dipakaikan kaus oblong milik Raka. Saat melirik ke sebelahnya, dia tidak melihat adanya Raka. Ezra pun menyibakkan selimutnya dan pergi ke luar kamar. Dia melihat Raka sedang menonton televisi. Ezra pun berjalan dengan perlahan mendekati Raka.

"Mas Raka~" ucapnya sambil memeluk Raka dari belakang.

"E-Ezra ..." Raka terkejut karena tidak menyadari keadaan Ezra.

"Mas Raka udah makan belum?" tanya Ezra.

"Ezra, lebih baik kamu jangan panggil aku 'Mas' lagi, deh," Raka tidak menjawab pertanyaan dari Ezra.

"Loh? Memangnya kenapa? Bukannya Raka suka dipanggil 'Mas', ya?"

"I-itu karena-" Raka tidak melanjutkan kalimatnya karena malu.

"Kenapa?"

"Lupakan saja. Pokoknya jangan panggil aku 'Mas' lagi, kecuali kalau kamu-" Raka kembali tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

Ezra terlihat kebingungan melihat tingkah Raka. Lalu dia pun menurunkan pandangannya. Wajahnya memerah karena melihat ada sesuatu yang menonjol di celana Raka, lebih tepatnya di bagian selangkangannya.

"Karena yang di bawah itu ya, Raka?" tanya Ezra.

"I-iya ..." jawab Raka dengan malu.

"Ja-jadi sekarang harus gimana, dong?"

Wajah Raka terlihat datar seperti biasanya, walaupun sebenarnya dia sedang memikirkan sesuatu.

"Ya ... kamu harus tanggung jawab, dong," kata Raka dengan seringaiannya.