Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto
Warning : Mature Content 18, Doubious consent, Hate sex, Revenge, BDSM
A/N : Aku denger lagu ini di youtube dan jadi terinspirasi. Sebenarnya ini tulisan iseng semata. Kebetulan ada yang request SaiIno lemon jadi aku buat deh. Kalau belum siap mental sama hal yang kinky please go back. Kayaknya aku kebanyakan baca hentai ini.. wk..wk..wk..wk.
CHOKE ME LIKE YOU HATE ME.
But you love me
.
.
"Kau lagi? Berapa kali aku katakan Enyahlah." Sai melempar dan menginjak rokok yang tadi dihisapnya dengan kasar. Melihat wanita ini membuatnya kesal.
"Enyah? Bukan itu yang kau katakan tiga bulan yang lalu." Ino berdiri menatap lurus ke arah lelaki yang jelas-jelas gusar. Ia tidak bergeming meski sosok bermata gelap itu balas menatapnya dengan intimidasi. "Bukankah kau bilang aku adalah muse-mu? Kau membutuhkanku?"
Sai mengeretakkan giginya. "Tidak lagi. Haruskah aku menyeretmu keluar?"
Mengapa wanita ini begitu keras kepala? Berkali-kali dia sudah mengatakan tak lagi ingin berurusan dengan Ino Yamanaka, tapi wanita itu terus menerus menganggunya. Apa dia tak puas dengan lelaki itu sampai harus mencari-cari dirinya lagi? Sai tak suka terlibat skandal.
"Khawatir dengan reputasimu? Sai, kau tahu satu kata dariku bisa membuat sponsormu menarik dukungan dan pameran itu tak akan bisa berjalan."
Sai tak percaya dengan kata-kata yang terucap dari mulut Ino. Wanita itu berani mengancamnya.
"Aku bukan mainanmu Nyonya Uchiha. Kenapa kau tak bersama suamimu saja?"
Bibir Ino yang berwarna merah senada dengan warna cat kukunya melengkung membentuk senyuman liar. Ia melangkahkan kakinya yang beralaskan high heels enam inchi dan berbalutkan stoking hitam mendekati sosok pelukis yang kini memasang wajah lelah.
"Apa itu yang membuatmu marah?" Ucap Ino setengah berbisik. Ia hendak menyentuh bahu lelaki itu tapi tangan Sai mengehentikannya.
"Tentu aku harus marah bila seseorang menipuku." Ujar Sai dengan dingin sembari menghempaskan tangan dalam gengamannya.
Obsidian dan Aquamarine bersibobrok dan Sai tak menyembunyikan rasa sakitnya. Ino telah mempermainkannya dalam sebuah sandiwara dan sekarang dia malah menjadi seorang yang terhujat karenanya. Pria tak bisa menjadi korban kata mereka padahal Sai memang tak tahu apa-apa.
"Jika kau tahu aku telah menikah, apa kau masih akan mendekatiku?"
"Aku tak akan bermain api dengan istri orang." Sai mengucapkan kalimatnya dengan penyesalan. Dia tahu batas mana yang bisa dia lewati dan mana yang tidak, tapi Ino terus menerus mendesak dan membuat garis yang Sai gambar perlahan kabur. Seperti sekarang, Ketika wanita itu begitu dekat ia bisa mencium wangi parfum yang manis mengingatkan Sai pada padang bunga. Atau bagaimana jantungnya berdegup kencang hanya dengan sebuat tatapan. Sai berusaha keras menyembunyikan emosi yang ia temukan karena Ino. Ketika ia tidak tahu wajar dia mengejar, ketika ia telah sadar siapa Ino yang sebenarnya apa masih pantas baginya menjadi kekasih wanita yang telah bersuami?
"Agak terlambat bukan untuk berucap demikian? Bagaimana kau bisa kembali bila sudah tenggelam terlalu dalam?"
Sai tak menjawab pertanyaan itu, karena mereka berdua tahu. Ia telah tercekik dan terikat, tunduk dalam pesona Ino yang bagaikan sihir. Membuat dirinya tak berdaya dan tak lagi memiliki kuasa atas hatinya sendiri.
Sai menatap Ino dengan muak, di balik kekagumannya terbesit juga kebencian. Mengapa begitu mudah bagi Ino datang padanya tanpa merasa berdosa?
Ino tersenyum seolah dia telah menang dan Sai enggan mengakui apa yang dipikirkan wanita itu benar. Dia tak boleh memberikan lebih banyak ruang bagi Ino untuk mendominasinya. Cinta yang berlandaskan kebohongan bukanlah cinta.
' Such a manipulative women.' Desis Sai dalam hati
"Apa kau tak merasa apa yang kau lakukan sekarang ini begitu murahan?"
Ino meraih dagu Sai dengan tatapan intimidasi. Dia wanita yang selalu mendapatkan apa yang dia mau. Jika pria ini mau lari dia akan mengejar dan mengikatnya.
"Dan kau memuja wanita murahan ini. Apa kau mau mengingkari kenyataan kalau kau berada di bawah kakiku? Atau bagaimana kau mendesis ketika aku menarik rantaimu. Kau milikku dan aku tak akan melepaskanmu."
Sai tertawa sinis, "Jadi hanya itu nilaiku di matamu? Sebuah property, budak yang akan melakukan apa saja untuk memuaskan hasratmu? Cukup Ino cukup." Sai menyingkirkan tangan Ino dari wajahnya dan mendesak wanita pirang itu hingga punggungnya menempel pada pintu yang berada di belakang mereka.
Ino menelan ludah, tak menyangka lelaki yang selalu submissive bisa menjadi agresif. Api amarah menyala di mata kelamnya dan bukannya takut Ino malah merasa tertarik dengan sisi lain Sai yang ia tidak tahu.
"Sai, Kenapa kau marah? Aku bahkan bukan kekasihmu."
Wajah Sai menjadi semakin gelap dan sinis. Dia menarik rambut Ino yang panjang. Membuat wanita itu mengernyit sedikit tapi tak cukup untuk membuat Ino merasa sakit. "Menurutmu, Apa ada kata yang tepat bagi hubungan kita?"
"Aku modelmu, Aku menanggalkan pakaianku agar kau bisa melukis keindahanku. Di lain tempat aku adalah tuan-mu dan kau budak kecilku."
Sai kembali tertawa dengan hambar melihat rasa percaya diri Ino. Wanita ini cuma memikirkan dirinya sendiri, tapi Sai malah terpikat. Mungkin dia memang real masochist menyukai wanita seperti ini. Wanita yang tak akan segan menginjak hati dan harga dirinya.
Ino menjengit, Sai menjambak rambutnya lebih keras lagi hingga membuatnya terpaksa menengadah dan terpaku pada wajah pucat yang diwarnai amarah. "Kau bisa mengontrolku karena aku membiarkanmu. Bagaimana jika sekarang situasinya terbalik? Apa tak pernah berpikir aku juga bisa menguasaimu?"
Ancaman Sai membuat tubuh Ino mengelenyar. Gairah merayap dari perut hingga ujung jarinya. Ino yang selama ini selalu berkuasa mendadak bisu, terintimidasi oleh tubuh maskulin dan aura menakutkan yang ia tak pernah sadar bisa dimiliki oleh seorang yang pendiam dan kalem seperti Sai.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Ino sambil menelan ludahnya.
"Melakukan apa yang kau lakukan padaku. Mungkin sedikit penghinaan akan membuatmu sadar dunia ini tak hanya tentang dirimu."
"Kya…" Ino memekik saat Sai memuntir tangannya dan mendorong Ino berjalan ke kamar tidur. Dia diperlakukan bak tawanan dan anehnya di antara semua kekasaran itu Ino tak minta untuk dilepaskan.
Tubuh Ino dihempaskan ke ranjang, tapi tak tampak ekspresi panik di wajahnyanya. Hanya rasa ingin tahu akan tindakan Sai selanjutnya.
"Kau tidak takut? Apa kau pikir aku bercanda?" Pria itu mengambil tali di bawah tempat tidur. Tali yang biasanya Ino gunakan untuk mengikatnya.
"Mengapa aku harus takut? Kau tak punya nyali untuk menyakitiku." Ejek Ino memancing kemarahan Sai lebih jauh lagi.
"Aku yakin sebentar lagi kau tak akan tertawa." Sai mendorong Ino hingga wanita itu telungkup dan mengunci tubuh Ino agar tak bisa bergerak dengan tubuhnya. Dengan cekatan dia mengikat kedua tangan Ino di belakang punggung.
"Kau pikir bisa menjatuhkan aku hanya dengan seperti ini?"
Sai menyeringai. "Wanita jalang sepertimu pantas mendapatkan hukuman." Ia menggulung rok yang Ino kenakan hingga ke pinggang. Memamerkan garter belt dan celana dalam berenda dengan warna senada seperti stoking fish net yang membalut kaki jenjang Ino.
"Selalu sempurna, Apa kau memang datang ke sini untuk menggodaku?"
Ino nyaris mendesah merasakan tangan Sai meremas dan mengelus bokongnya. Sai tidak salah. Dia memang berniat menggoda Sai untuk membuat lelaki itu kembali jatuh ke pelukannya setelah kebenaran terkuak. Pernikahannya dengan Sasuke tak berarti apa-apa. Suaminya juga punya simpanan dan Ino lelah menghadapinya hingga ia juga tutup mata dan tutup telinga dengan kelakuan Sasuke. Sudah setahun mereka pisah ranjang dan sebagai wanita dia juga punya kebutuhan. Apa salah dia mencari kesenangan?
Dari awal mereka bertemu Ino sudah tahu Sai adalah pria polos yang enggan bermain api atau terlibat affair, karena Ino menginginkan Sai dia berbohong tentang status perkawinannya bahkan nama aslinya. Awalnya hanya untuk sekedar bersenang-senang dan setelah bosan Ino akan mengakhirinya seperti pria-pria lain, tapi Sai berbeda. Dia bersedia melakukan apa saja untuk memuaskan Ino, Sai bahkan bersedia merendahkan ego dan harga dirinya agar Ino senang dan pemujaan seperti itu Ino tak pernah temukan dari pria mana pun. Dia jadi terus dan terus kembali pada lelaki yang membuatnya nyaman, tapi kemudian sandiwara Ino hancur kala Sasuke yang kesal dengan prilakunya memutuskan menemui Sai dan mengobral semua kebusukan Ino.
Dia benci suaminya yang selalu saja merusak kebahagiaannya. Sejak hari itu Sai terus -menerus menghindarinya hingga hari ini akhirnya dia berhasil memasuki rumah selingkuhannya.
Ino merebahkan kepalanya di kasur yang empuk, Desahan pun akhirnya terlontar dari bibirnya.
"Plak!"
"Ahk…k!" Ino terkejut dan mendadak berteriak, remasan lembut Sai berubah menjadi tamparan keras bertubi-tubi yang pastinya akan meninggalkan bekas kemerahan di bokongnya.
"Apa kau keberatan, Ino? Bukankah ini hukuman yang pantas bagi wanita nakal yang doyan selingkuh." Sai kembali memukul pantat Ino.
"Tidak, kau pantas marah." Ino meringis, tapi semakin kuat pukulan Sai semakin Ino merasa bagian bawah tubuhnya menjadi lembab. Puas memukuli bokong Ino, Sai kembali merubah posisi Ino. Dia tak lagi telungkup. Masih dengan tangan terikat Ino duduk dengan punggung tersangga bantal yang menempel di kepala tempat tidur. Sai duduk di antara kaki Ino yang terbuka lebar.
Sai mencondongkan tubuhnya dan mulai mengelus pipi Ino.
"Jika aku suamimu, Aku akan mendisiplinkanmu setiap hari. Aku akan mengikatmu di tempat tidur seperti ini hingga kau tidak bisa pergi dan aku tak akan membiarkan bibirmu mengucapkan nama lain selain namaku."
"Sayangnya kau bukan suamiku." Balas Ino singkat.
"Bukan berarti aku tak bisa memberimu pelajaran." Sai menyeringai dan melumat bibir Ino. Tangan pria itu mengular ke mana-mana. Mulai dari meremas payudaranya kemudian merayap turun dan menghilang di balik celana dalam Ino.
Wanita itu mengigit bibir manakala jari-jemari Sai menjelajahi organ intimnya. Tak ada yang terlewati. Jari telunjuknya bergerak bolak balik dari ujung atas hingga perinerium. Memberi stimulasi sepanjang vulva yang mengakibatkan Ino menjadi terangsang. Sentuhan-sentuhan kecil itu mengirim percikan api pada amigdalanya dan membuat fungsi syaraf Ino kian sensitif.
Ino memejamkan mata menikmati telunjuk yang sekarang bergerak memutar di atas klitorisnya. Pakaian yang dia kenakan berasa semakin menggangu. Dalam keadaan terikat Ino hanya bisa pasrah, menikmati ala yang dikehendaki Sai pada tubuhnya.
Merasakan kelembaban di bawah sana Sai tertawa mengejek. "Bukankah kau wanita sadis? Aku tak menduga menjadi tak berdaya juga membuat dirimu terangsang."
Ino tak mau kalah, "Kau marah padaku bukan? Why don't give me the worst selagi kau punya kesempatan."
Mata Sai menyipit dengan serius. "Jangan sesali kata-katamu nanti, karena aku tidak selalu Masochist!"
Detik itu juga Sai melepaskan sepatu Ino dan menarik stokingnya. Ino merasa lega karena kulitnya bebas bernafas. Dari tadi dia terasa panas dan berkeringat dan jaring-jaring nilon itu membuat tubuhnya makin lengket. Sai kemudian menarik lepas celana dalam Ino hanya untuk mejejalkan renda hitam tersebut ke dalam mulut wanita malang itu.
"Kau tahu, hari ini aku tak ingin mendengarkan bualan dan kecongkakanmu." Ucapnya sinis. "Apa kau tak merasa malu pada dirimu sendiri, berpikir seolah kau mengenalku dengan baik padahal tidak."
Sai membuka laci di samping tempat tidur. Mengambil sebuah beads vibrator yang selama ini Ino gunakan kepadanya. Mata wanita berambut pirang itu terbelalak. Ino buru-buru beringsut menyatukan kakinya.
"Mau lari? Bukankah kau dengan senang hati menggunakan benda Ini padaku. Sekarang kau akan tahu sendiri bagaimana rasanya."
Suara Ino hanya terdengar sebagai gumam, Dia menggelengkan kepala. Tapi Sai bersikeras.
"Kau menghukumku berkali-kali, sekarang ketika kau benar-benar bersalah kau mau lari? Aku tak akan mengizinkannya." Sai membuka kaki Ino dengan paksa, kedua pahanya menjepit paha Ino. Dengan kaki terentang lebar, semua miliknya terkuak. Tak ada yang tak terlihat.
Cairan lubrikan berbentuk gel bening dituangkan. Sai menguji lubang itu dengan menyelipkan jari telunjuknya. Ino menjenggit dengan intrusi di tempat yang tak seharusnya. Rasanya sedikit aneh. Perlahan jari itu bergerak naik turun. Ino awalnya merasa tak nyaman, tapi lama kelamaan dia bisa mentolerir nya. Satu jari lagi bertambah. Ino hanya bisa mejamkan mata. Rasanya seperti ada yang menganjal seolah ia tak menyelesaikan buang air besar.
"Jika kau tegang hanya akan terasa sakit."
"Nggh…h" Ino ingin menggeliat. Tapi tubuh Sai menahannya.
Setelah beberapa menit Sai merasa puas dan mencabut jari-jarinya. Ino pikir siksaannya sudah berhenti, tapi dia bisa merasakan kembali gel dingin dituangkan lebih banyak ke bokongnya. Ino terbelalak karena dia hapal betul prosesnya.
Satu per satu beads itu dimasukan dari ukuran terkecil dan Sai berhenti di beads ke tiga. Dia tahu Ino tak akan sanggup menerima yang lebih besar lagi, tanpa dilatih. Otot rektal tak se-elastis vagina, tapi ia cukup puas dengan reaksi Ino yang nampak agak kesakitan. Hm.. sungguh menyenangkan melihat posisi terbalik. Dia tak masalah didominasi, tapi mendominasi Ino ternyata membawa kepuasan tersendiri.
Sai meraih remote kontrolnya, melihat itu Ino menggelengkan kepalanya semakin keras, tapi Sai tak peduli ia menyalakan vibratornya. Ino berkelonjotan dia tak terbiasa dengan stimuli asing ini. Air matanya mengalir sendiri. Sakit tapi nikmat, getaran pada rektumnya juga membuat G-spot yang berada di dinding sebelahnya terstimulasi. Vaginanya berkedut dan terus menerus mengalirkan cairan.
Sai melihatnya dengan senang, oh Dia masih sakit hati pada Ino, tapi melihat wanita pembohong itu tak berdaya dia merasa agak puas. Sai ingin menyiksanya sedikit lagi. Celana jeans nya menjadi sesak dan Sai memutuskan menanggalkan semua pakaiannya.
"Um…umm.m." Guman Ino merapatkan kakinya, tapi getaran itu semakin berasa.
Sai sudah kembali ke tempat tidur bersamanya. Ino menatap pria itu dengan memohon, tapi sekali lagi Sai mengabaikannya. Ia malah kembali Merentangakan kaki Ino guna mencecap keintimannya.
Stimulasi di dua tempat membuat Ino meronta-ronta. Lidah yang menyapu labia dan klitorisnya diiringi getaran yang terasa sampai di G-spotnya membuat Ino merasa mau meledak dan ketika Sai mengatupkan bibir dan menyesap organ serupa biji di atas vulvanya Ino tak lagi terbendung. Kenikmatan datang bagaikan air bah. Jari-jari kakinya melengkung dan ototnya berkontraksi dengan kilat. Tubuh Ino gemetar dan cairan menyembur dari kewanitaannya. Ino tak peduli bila ia terlihat memalukan, ia tak peduli dengan air liur yang membasahi dagunya. Satu dari banyak alasan mengapa ia tak ingin Sai pergi karena dia benar-benar tahu cara mendorong Ino hingga melewati batasannya.
Tangan yang terikat merasa kesemutan, dan rahangnya juga lelah karena dipaksa untuk terus terbuka. Sai merasa murah hati dan melepaskan Ino, tapi kemarahannya masih di sana. Buru-buru dia menindih Ino. Menyelipkan kejantanannya di liang yang masih basah dan sensitif. Sungguh dia membenci Ino karena menghancurkan hatinya dan ia ingin menghancurkan wanita ini juga.
"Sai.." Ino memanggil namanya hanya untuk mendapatkan tangan pucat melingkari lehernya.
"Aku membencimu." Sai memasuki tubuh Ino dengan keras. Bergerak dengan cepat hingga ranjang berguncang dan berkeriat. Ino melingkarkan lengan dan kakinya ditubuh Sai membiarkan dirinya bergelayut mengikuti ritme kenikmatan. Mendadak saja ia merasa sesak. Tangan Sai mencekik lehernya. Ino megap-megap mencari udara.
" You don't love me do you? But I know you love my dick." Bisik Sai sambil melumat bibir Ino.
Bagaimana Ino bisa mengatasi ini? Tubuhnya terasa agak melayang dan pandangannya mulai kabur akibat kekurangan oksigen. Semua lubangnya penuh terisi. Segalanya terasa begitu sureal. Rasa sakit, sesak dan kenikmatan. Kemarahan Sai terjustifikasi
"Yes, Choke me like you hate me, but never let me go."
Ino melihat bintang-bintang. Sekali lagi ia meraih kenikmatan bersamaan dengan rembesan cairan semen yang mengisi rahimnya. Sai menghabiskan lima menit untuk berbaring bersama Ino. Dia tak lagi memeluk atau mencium wanita itu. Keenganannya menyakiti Ino dan ketika Sai meninggalkan tempat tidur Ino merasa begitu hampa.
Ino membereskan penampilannya dan keluar dari kamar tidur. Dia tak akan minta maaf pada Sai.
Pria itu berdiri di pinggir pintu keluar yang sengaja dibuka. Menandakan keberadaan wanita itu tak disambut lagi.
"Jangan datang lagi, Apa kau sadar aku juga bisa bersikap lebih dari sekedar submissive?"
"Tentu saja Sai, Aku bisa sudah merasakan sendiri kebencianmu seperti apa. Apakah nikmat memperlakulan aku seperti itu?"
"Oh aku menikmati membuatmu terlihat memalukan."
Ino tersenyum tipis. Apa pun yang Sai ucapkan, faktanya dia membutuhkan Ino seperti Ino membutuhkannya.
"Kalau begitu selamat tinggal, Sai."
"Kembalilah pada suamimu, Jangan cari aku lagi." Sai merasa telah melakukan hal yang benar. Dia tak ingin jadi pihak ke tiga yang menghancurkan rumah tangga orang.
Ino malah tertawa, "Sai, Aku sudah bercerai darinya dan itu bukan hanya karena dirimu."
"Apa?" Giliran Sai yang terkejut.
"Sai, tak ada lagi halangan di antara kita selain harga dirimu. Jika kau mau kembali merangkak di kakiku. Aku akan mempertimbangkan perasaanmu." Ino pergi begitu saja melangkah dengan angkuh. Biarlah anjing yang mencari tuan-nya. Ino merasa tak perlu lagi merengek.
Sai menutup pintu, ia masih tak percaya. Apa ini berarti Ino memilih bersamanya?
Pria pucat itu menarik napas dalam. Merasa dia tak akan bisa menang dari Ino meski hanya satu langkah.
"Dasar wanita sadis!"
