Satu Februari Yang Lewah Pikir

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC, typo, full of description, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Tokuda Shuusei (01/02/2021).


Yang pertama kali terlintas pada pukul dua belas malam ini, bagiku adalah diriku sendiri yang mengabarkan bahwa aku insomnia. Langit-langit gelap sebagai selimut kedua pun mampir ke mataku. Sementara jendela terasa temaram, mungkin karena gorden menghalau sinar rembulan yang berusaha menembus masuk.

Tidak tahu harus melakukan apa, aku langsung menghela napas walaupun kurang menghendakinya. Kalender pasti telah menjadi satu Februari. Semenjak eksistensiku menginjak tanggal 31 Januari, setiap jam, menit, bahkan detik, terus kuhitung tanpa jeda soalnya. Seolah-olah aku amat menunggunya–sebenarnya pula merupakan hari di mana aku berulang tahun. Menciptakan kesan bahwa aku insomnia, sebab tak sabar ingin merayakannya.

Sebab tak sabar ingin merayakannya, kah? ulangku pada diriku sendiri. Kalimat itu semakin janggal saja, sayangnya. Ketika yang kupikirkan bukanlah kue cokelat dengan lilin bertabur di atasnya, atau nyanyian riang dari para kawan.

Manusia tak akan bisa lari dari pikiran mereka, bukan? Tiba-tiba pula aku membatin demikian, dan memang benar. Dadaku membuncah seperti meledak dalam proses yang singkat, tetapi waktu terasa panjang. Namun, pernahkah orang-orang di luar perpustakaan ini berpikir– Ah, tidak, tidak. Jangankan yang asing. Apakah teman-temanku pernah menerka-nerka, mengapa manusia tak dapat lari dari pikirannya sendiri?

Pertanyaan ini sederhana sebetulnya. Bahkan cenderung bodoh, kurasa. Tentu saja siapa pun tidak bisa, karena pikiran-pikiran itu pun berada dalam diri kita. Sebanyak apa pun seseorang berlari, memang mustahil ia pergi dari dirinya sendiri, jika kabur pun masih membawa serta tubuh serta jiwa yang diberikan kepadanya.

Pilihan menjadi terbatas. Kita seolah-olah adalah ibu dari pikiran-pikiran itu, sebab kita jua yang melahirkannya, dan langsung sangat banyak. Ada tentang bahagia, amarah, bingung, kesedihan. Di mana yang paling kita acuhkan adalah pikiran keempat.

Ah ... kasihan sekali. Malang banget ia sampai terlahir di dalam kepala kita; kepala manusia yang tak pernah berhenti berangan, kecuali dihentikan mati.

Karena ia adalah kesedihan, ia pun memperoleh seluruh atensi dari ibu; manusia yang merasainya. Kita iba padanya. Apalagi sejak terlahir pun, ia sudah tampak sangat lelah. Tanpa sadar kita pun terus mengasuh; merawat serta menimang kesenduan tersebut. Mana bisa ditinggalkan. Mana boleh dilupakan. Tanpa sadar jua, terus mengulang kata kasihan, kasihan, kasihan. Toh, perlahan-lahan mengunyah kita pun, dia juga hanya ingin bertahan.

Dia juga hanya ingin bertahan. Lagi-lagi aku mengulang ucapanku sendiri, tetapi bedanya kali ini aku merasa melengkungkan senyuman kecut.

Manusia yang dibuat akan bersimpati kepada yang lemah dan bersedih, pada akhirnya hanyalah sangat melelahkan. Menurutku, karenanya kita kesulitan mengabaikan pikiran-pikiran sedih. Terlebih jika "mereka" termasuk bagian dari diri sendiri. Perasaan-perasaan tersebut pasti selalu berseru secara tak kasatmata, "Masa iya ibu mengabaikan kami? Kami adalah kau. Justru merawat kami yang lemah, rapuh, dan tiada berdaya membuatmu kuat".

Makanya kubilang, kesedihan pun ingin bertahan hidup sehingga diam-diam berkata demikian. Mungkin karena ia dilahirkan manusia, jadilah memiliki insting demikian. Bahwa bukanlah melemparnya keluar yang membuat kita kuat. Dibuang masih dapat kembali. Akan tetapi apabila dirawat, nanti juga sembuh (entah kapan). Dengan begitu kesedihan yang sekarang ini dirasakan, di masa depan takkan dikecap lagi.

Begitulah manusia. Sering kali terlihat sebagai monyet pandir, dibandingkan tampak cadas karena akalnya.

Kira-kira berapa lama kau dan aku tertipu? Padahal sudah benar yang bisa kita perbuat hanyalah membuangnya, setiap luka menghampiri. Lebih baik kembali lagi kesedihan yang pernah dirasakan itu, karena begitu juga lebih memanusiakan diri sendiri.

Memeliharanya berarti terus berkutat dalam kesedihan. Sementara membuangnya dengan bersenang-senang, dan itu kembali lagi pada saat mentalmu lelah atau benak tengah kusut, adalah wajar bagiku. Toh, saat kita tidak dapat lari dari diri sendiri, pikiran pun tak bisa benar-benar meninggalkan kita. Ia hanya terus merayap. Berpindah-pindah ke tangan kita, hidung, telinga, perut, atau apalah. Lalu saat kita bilang lupa, dia ada di telapak kaki sebetulnya.

Alasan mengapa tiba-tiba aku begini, awalnya kupikir tidaklah ada. Namun, sebenarnya mungkin penyebabnya nyata, tetapi ogah kuakui saja.

Mungkin jika aku terang-terangan mengakuinya, aku akan mendengar suara-suara yang berujar, "Masa kau sedih gara-gara hal sepele?", "Salahmu juga, kenapa terus memikirkan kesedihanmu padahal tahu itu tak penting. Dasar tukang mengasihani diri sendiri! Egois! Pecundang! Pikirkan saja yang di bawahmu". Walau yang paling kutakutkan adalah, "Nanti juga berlalu".

(Justru aku takut melaluinya. Bagaimana jika melewatinya membuatku menemui kesedihan yang lebih kejam lagi? Kenapa aku harus terus menempuh berbagai hal, padahal aku juga sekarat pun letih).

Sebelum memikirkan, "Kenapa kita tak dapat kabur dari pikiran kita?", memang iya aku sempat khawatir terhadap seseorang, sebetulnya. Dia adalah Shimazaki Touson. Sayangnya pula ia bukan tidur, melainkan tak sadarkan diri semenjak pulang delving.

Shinshokusha yang melukai dan mencemarinya mencapai taraf parah, kata manajer. Kira-kira sudah tiga hari–termasuk sekarang–ia seolah-olah mengalami koma. Kira-kira mungkin, itulah yang menyebabkanku mengungkit-ungkit perihal kesedihan.

Di mana sekarang ini telah mengakui alasannya pun, aku tetap tidak bisa berhenti. Tentu aku ingin bebas; keluar dari arus menyesakkan ini. Namun, telah lumayan sadar pun, jika tiada seseorang yang bersuara ke arahku, mungkin memang aku takkan bisa melepaskan jeratannya.

Shimazaki adalah penulis naturalisme sepertiku. Kami bersahabat baik, kendatipun ia kerap menyebalkan dengan menyebutku, "membosankan". Sewaktu manajer bilang, tiada yang tahu kapan Shimazaki bangun sebab keadaannya kritis, sejujurnya aku sempat berpikir, "Ah. Shimazaki akan meninggal". Aku benar-benar memikirkannya. Bukan bermimpi Shimazaki menutup mata selama-lamanya, dan itu membuatku takut.

Bisa-bisanya aku berpikir, seseorang yang berharga untukku akan meninggal. Walaupun suatu hari nanti menjadi benar, tetap saja tak boleh begitu, bukan? Apa jadinya pula jika Katai dan Kunikida mendengar ini? Mereka pasti marah. Menyempatkan mencercaku habis-habisan, barulah memeluk guna menenangkanku. Pandanganku makin rumit saja kalau begitu jadinya.

Kecemasan yang baru pun tumbuh dari sana, gara-gara aku gagal berhenti di pemikiran pertama. Gambar-gambar penyesalan kini memenuhiku; bayang-bayang bahwa kami belum banyak menghabiskan waktu bersama. Makanya Shimazaki, jangan pergi dulu. Kendatipun setelah kita menciptakan banyak kenang-kenangan, aku tetap menyesal, setidaknya jauh lebih baik ... bukan?

Jauh lebih aku menyesal, ketika merasa kita belum banyak merangkai memori, padahal sebenarnya sudah melimpah ruah. Dibandingkan aku menyesal, karena masih sedikit yang kita lalui bersama-sama, dan itu memang benar, bukan?

Kenapa aku tetap menyesal, walaupun kita telah melakukan banyak hal? Kurasa karena aku tak pernah puas, biarpun sulit dipungkiri aku juga pernah berpikir, ingin meninggalkan kalian saja hanya gara-gara pernah mengkhawatirkan kalian, tetapi tidak sanggup bilang–melelahkan rasanya, maaf.

Egois sekali, ya. Saking egoisnya pula, diam-diam aku sering membayangkan bagaimana kalian merespons. Yakin seratus persen itu benar, padahal belum tentu. Makanya aku jarang bercerita padamu, Katai maupun Kunikida.

Sementara buat alasan lainnya, kenapa aku akan tetap menyesal, kadang aku merasa aku dikutuk dewa penyesalan (entah siapa dia. Palingan khayalanku saja, macam serangga melankolis yang menggerogoti tubuhku).

Anggaplah sewaktu Kyouka mencerocos kepadaku, aku tak apa telah diam mendengarkan. Namun, beberapa saat kemudian aku jadi berpikir, "Kenapa tidak sekali saja aku marah akibat terganggu?". Merasa agak menyesal.

Mengapa pula aku sering, bahkan selalu terlambat, ya? Tampaknya sejak telat melihat napas terakhir ibu, aku baru sadar aku diikuti dewa penyesalan. Hukuman, kah? Kalau memang iya ... sayangnya aku tak bisa mengatakan apa-apa. Katakanlah menyerupai, "Mau bagaimana lagi?", yang disambung, "Tinggal jangan terlambat". Aku yang dipaksa harus bisa serta menerimanya.

(Kenapa bukan orang lain saja yang sering terlambat, dan harus memperbaikinya?).

Kemudian, benakku melompat lagi ke dalam laut pikiran yang lain. Tiba-tiba aku jadi bertanya kepada diriku sendiri, mungkinkah ini alasannya, mengapa aku menggenggam pena dan menggunakan nama Tokuda Shuusei menggantikan Tokuda Sueo?

Semua terjadi, karena aku pun tidak pandai berkata-kata melalui mulut, bukan? Jika aku pintar bercakap-cakap, mana mungkin orang-orang bilang, aku ini membosankan. Jadilah kutuangkan segala-galaku ke dalam bisunya kertas. Menjadi penulis beraliran naturalisme yang artinya apa adanya. Menggambarkan sesuatu sebagaimana adanya yang tak pernah dibuat-buat.

Apa adanya diriku pun, ternyata adalah pemikiran-pemikiran seperti kehidupan yang tiada bermakna. Kesenangan yang hanya dapat dirasakan panca indra, dan tak akan menetap. Perjuangan yang melelahkan yang ujungnya sia-sia. Atau bahasa singkatnya disebut angst, ya?

Walaupun yang kutuliskan merupakan kesedihan dan kesia-siaan, kupikir aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Hal-hal seperti itu paling bisa kugambarkan dengan baik. Buktinya sebelum kami bereinkarnasi Kunikida pernah bilang, tiada seorang pun mau membaca karyaku jika ia di ambang kematian (atau ingin mati saja).

Terkadang pula aku memang disarankan, agar sesekali menuliskan hal-hal menyenangkan. Tentu aku mempertimbangkannya. Namun, karena bisa dibilang setiap aku bersama teman-temanku, atau bungou lainnya, aku merasa bahagia, bukankah menuangkan yang demikian jadi kurang pas? Makanya aku tetap menggambarkan duka yang sarat, karena itulah diriku yang sulit kalian lihat, dan enggan kutunjukkan terang-terangan jua.

(Jangan lupakan diriku yang ini juga, kumohon–kurasa aku berpikir begitu. Meskipun sering kali menyusahkan dan menyebabkanku kosong, kesedihan pun penting, 'kan, agar aku bisa tinggal di masa kini?)

"Oi, Shuusei! Apa kau masih tidur? Berulang tahun justru harus bangun pagi, Shuusei."

Suara Katai terdengar memanggilku, sambil menggedor-gedor pintu. Tahu-tahu sudah pagi saja ternyata. Lama-kelamaan mungkin pikiranku tak akan tertolong lagi, ya? Namun, syukurlah mereka datang, atau semua ini masih bersambung.

"Masuklah. Aku baru bangun." Tidak aneh melihat Katai datang bersama Kunikida. Mata berbeda warna iris itu sempat memperhatikanku lamat-lamat, membuatku memiringkan kepala saja.

"Wajahmu kelihatan capek, deh. Iya, kan, Katai?"

"Iya, sih, bener. Tapi Doppo, aku yakin itu karena Shuusei gak sabar, mau merayakan ulang tahunnya. Cepatlah bersiap-siap. Ayo kita rayakan di kamar Touson. Siapa tahu dia bangun, terus mau makan kue."

"Berisik di kamar orang yang lagi pingsan itu jahat, lho." Dengan tak habis pikir aku menanggapi Katai. Yang bersangkutan mesem-mesem saja, lantas mengangkat tangannya hendak berpamitan sejenak.

"Daripada khawatir terus-terusan, 'kan? Kami tunggu, ya, di luar. Abis itu jangan lupa senyum."

Katai bilang jangan lupa senyum, tetapi responsku malah mengangguk. Tak langsung melengkungkan garis. Pasti Katai dan Kunikida pun tahu, aku cemas terhadap Shimazaki. Hal seperti itu masih bisa kuiyakan. Namun, apabila terang-terangan membicarakan segenap kerisauanku mengenai Shimazaki, belum tentu aku bisa melakukannya.

Sekali lagi maaf.

Sebagai gantinya, mulai sekarang akan kulupakan semua pikiranku tadi dengan bersenang-senang bersama kalian. Kesedihan kambuh lagi pun tak apa. Mungkin bakalan kurawat sebentar, baru kubuang lagi. Pasti juga selalu bisa kutinggalkan kesedihan-kesedihan itu, sebab ...

Ada kalian, teman-temanku, yang selalu tahu caranya bersenang-senang. Mengingatkanku bahwa aku juga bisa bertahan bersama kalian. Lukaku tak akan menjadi segalaku.


Tamat.


A/N: Aku inget banget bikin ini tanggal 30 januari, dan perasaanku di tanggal 29 itu lagi kurang enak, makanya secara gak langsung ini bisa dibilang curhat. Akhir2 januari itu emang lagi banyak pikiran. Belum lagi ada masalah di X sama soal temenku yang berharga, tapi ya sekarang udah baik2 aja sih. Soal aku bayangin dia bakal meninggal. Aku yang capek hidup cuma gara2 gak bisa bilang khawatir sama orang2 yang kukhawatirin (dan ada hal2 lainnya, tentu, tapi ga relevan sama isi cerita ini makanya enggak dituangkan). Semuanya murni perasaanku, makanya aku minta maaf kalo kalian keganggu atau apa.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Bagi siapa pun yang mau2nya baca curhatanku, aku bener2 berterima kasih. Padahal sebenernya ini gak pernah penting.