Praise This Day with Absurdity

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC, typo, gaje parah, humor garing banget, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Tokuda Shuusei (01/02/2021).


Pertama kalinya mengunjungi rumah Tokuda Shuusei, akhirnya Kunikida Doppo dan Tayama Katai menyadari bahwa Kompleks Bungou terlalu kehabisan gaya. Mereka berputar-putar pasti akibat bangunannya saling mencontek, sewaktu diberikan soal oleh arsiteknya mengenai seperti apakah tubuh impian itu–tidak sadar diri bahwa kediaman keduanya juga mirip-mirip dari semua segi.

Lantas di depan rumah Shuusei ditemani Nekozaki, dibandingkan menekan bel dan masuk untuk merayakan satu Februari, mereka justru ribut apakah jangan-jangan, ini sebenarnya kediaman Kunikida atau mungkin Tayama. Melalui jendela, Shuusei pun memperhatikan perdebatan keduanya, sebenarnya. Jika saja bukan karena suruhan ibu, bahkan Shuusei yang mengundang mereka jadi ogah menerima tamu rasanya.

"Coba tanyain, deh, ke tuan rumahnya." Usulan Kunikida terdengar samar-samar oleh Shuusei. Mereka masih enak-enak mengangguk-angguk, sedangkan Nekozaki malas-malasan di atas kepala Katai sambil menggigit sebungkus tulang ikan dibalut pita merah.

"Apanya yang coba tanya ke tuan rumahnya?"

"Eh. Kebetulan banget ada Shuusei. Ini rumahmu? Kami udah muter-muter satu jam demi kamu, lho," jawab Katai bangga. Wajah Shuusei tampak merengut, padahal rumah mereka bertiga masih satu deret.

"Langsung masuk aja. Ibuku udah nunggu."

"Ih, Shuusei! Jawab dulu, dong, jawaban kami."

"Ha? Jawab dulu jawaban kami? Apaan coba? Ini emang rumahku, kok. Ya kali aku lupa rumah sendiri." Dengan nada tak habis pikir Shuusei turut berkacak pinggang. Ketika Kunikida dan Katai mesem-mesem seperti memiliki cerita kelewat lucu, maka Shuusei pastikan ini hanyalah keanehan yang membuang-buang waktu.

"Jangan salah sangka, Shuusei. Menurut penelitian kami, rumah-rumah di Kompleks Bungou itu mirip-mirip. Testimoni dari TK juga berkata, bahwa dia pernah salah dan malah masuk ke rumah KD, begitu pun KD yang kesasar ke rumah TK. Ya iyalah wajar dia salah masuk. Namanya aja kalo disingkat jadi TK. Bocah TK, hahaha … emang pinter aku ini."

Punggung Katai tiba-tiba ditepuk berulang-ulang. Gagal memahami apa yang terjadi, Katai ikut tertawa saja dan melakukan hal serupa. Baru menyuruh mereka masuk pun, Shuusei merasa sangat lelah. Hati kecilnya sampai berdoa, agar ibunya yang masih beramah-tamah dengan Katai serta Kunikida di ruang tamu, tidak tiba-tiba mengusir mereka.

"Walah. Ternyata ini bener-bener rumahmu, ya." Penuh antusiasme Katai berkeliling. Ia tidak bisa menjelaskan apa-apa, sebab isinya seperti rumahnya juga. Lantas Katai bingung lagi, jadi ini rumahnya atau rumah Shuusei jika di dalamnya sebelas-dua belas?

"Dikata ini rumahku. Susah banget percaya. Omong-omong Nekozaki ke mana?"

"Lah, iya. Tadi Nekozaki di atas kepalaku, kok. Dia bawain kamu tulang ikan, by the way. Ikannya udah telanjur dia makan di perjalanan, gara-gara kita keliling satu jam." Kado yang dimaksud telah berada di atas kotatsu. Sempat dibuang oleh ibu Shuusei, tetapi Nekozaki yang ternyata berendam dalam kehangatan kotatsu segera mengambilnya balik. Meletakannya lagi di tempat semula.

"Oh, iya, Shuusei. Kami bawain hadiah juga, lho."

"Hadiah? Tapi kau sama Katai enggak megang apa-a–"

Usai mengulas kejutannya sekilas, Kunikida mengeluarkan sesuatu dari balik jaket yang tebal disusul Katai. Buku adalah sesuatu yang cukup normal. Padahal Shuusei sudah berniat terharu, andaikata ia tak menyadari kejanggalan yang mendiami pojok kanan.

"Bentar. Kalian dapet buku ini dari mana?" Bagian pojok kanannya terus Shuusei perhatikan. Berharap pengelihatannya salah agar setidaknya sekali saja, ia memang memiliki teman yang baiknya waras.

"Bukunya unik banget, 'kan? Itu bahkan gak dijual di toko buku mana pun, lho."

"Bener, tuh, kata Doppo. Pengarangnya Tokuda Shuusei, kelas 1-B. Subjek, ilmu pengetahuan alam. Jelas limited edition."

"Ini buku catatanku pas masih kelas satu! Kalian ngambil ini dari Dostoevsky-san ya?" Nun jauh di sana, seolah-olah tahu namanya disebut Fyodor Dostoevsky mendadak bersin. Rahasia yang tertebak begitu saja membuat Katai dan Kunikida cengat-cengir bersamaan. Shuusei kembali menatap mereka datar seolah-olah berkata, "Dikira aku bakal lupa apa baru loakin ini tadi pagi?".

"Tau aja. Abisnya kami lupa bawain hadiah, terus kebetulan banget dia buka yatai jualan buku bekas. Yaudah kami beli aja. Apalagi dia bilang, 'Itu pasti isinya kiat-kiat jadi orang kaya' dengan lantang."

Tiruan Kunikida cukup menyaingi aslinya, walau tidak mirip pun buat apa Shuusei mempermasalahkannya. Ia lebih penasaran, mengapa Fyodor dapat mengatakan isi buku ini adalah kiat-kiat jadi orang kaya. Kedua catatannya tak ia kembalikan pada Kunikida dan Katai. Ditaruh di atas kotatsu bersama tulang ikan yang untuk sementara akan dibiarkan, daripada Nekozaki balik lagi dan justru mengacak-acak tempat sampah.

"Tolong bilang ke Dostoevysky-san, anak kelas satu SD enggak nulis begituan."

"Tapi Shuusei, aku gak nyangka, lho, anak yang langganan tiga besar kayak kamu buang buku pelajaran."

"Udah gak kepake, kan. Daripada menuh-menuhin ruangan, mending dijual ke tukang loak." Pertanyaan Katai dijawab tanpa Shuusei memikirkan apa-apa. Sejenak pula Shuusei merasa kakinya geli. Mungkin itu ekor Nekozaki yang bergerak-gerak sesuka hatinya, sebab berbahagia ia terhangatkan.

"Nekozaki pas musim dingin makin diem rasanya. Awal-awal aku males kemari sebenernya. Tadinya mau saranin aja biar kita rayakan lewat jendela belakang." Akhirnya Kunikida ingat, rumah mereka bertiga bersebelahan. Entah kenapa Shuusei lebih terharu karena itu. Jika waktunya tipu lilin tiba pun, ia malah ingin berdoa agar Katai sama Kunikida sedikit waras.

(Rasa-rasanya ada yang janggal mengenai tiup lilin itu. Namun, Shuusei pikir ia hanya berprasangka lagi–soalnya begitu terus, sejak kedatangan Katai dan Kunikida.)

"… jujur aja aku gak nyangka kalian dateng. Kita baru kenal musim panas tahun lalu, tapi … kalian baik …" Semburat merah menghias sepasang pipi Shuusei. Penuh keakraban Kunikida dan Katai merangkulnya. Lantas dengan iseng sampai mengacak-acak rambut Shuusei jua.

"Bahkan ini pertama kalinya kita merayakan ulang tahun barempat. Tahun lalu kami sempat melewatinya sama Nekozaki. Malahan Nekozaki punya tanggal ulang tahun, lho."

"Tanggal berapa, Katai … san?" Shuusei belum dapat menghilangkan sufiks itu sepenuhnya. Bukan berarti melewati musim gugur bersama-sama membuatnya merasa, mereka tidak dekat atau tidak akan bisa. Ia hanya perlu terbiasa, tegasnya kepada Kunikida serta Katai, dan keduanya juga bilang supaya Shuusei pelan-pelan.

"Tanggal 25 Maret. Kami punya cara merayakan yang khusus, lho. Nanti Shuusei tau kalo kuenya udah dateng, tapi ini mana, ya, kagak dateng-dateng? Atau mungkin Shuusei merayakannya tanpa–"

Dari arah belakang, samar-samar mereka yakin mendengar suara orang berbincang, lalu pintu ditutup membuat Katai bergegas mengeceknya–katanya dia saja yang maju, dan melayani tuan rumah (logikanya terbalik padahal). Ibu Shuusei tampak mematung dengan kue di tangan. Namun langsung elus dada mendapati Katai yang ternyata muncul.

"Katai ternyata. Tolong rahasiakan dari Shuusei, ya. Tante bener-bener lupa soal kuenya." Yang mengantar tadi adalah Kouda Rohan–kurirnya Kompleks Bungou, entahlah alasan apa yang melatarinya. Lilin berangka sebelas pun bergegas ditaruh di bagian tengah. Katai tiba-tiba hormat ala militer dengan cengiran lebar.

"TENANG AJA, TANTE. RAHASIAMU AMAN BERSAMAKU!"

"… bukannya suaramu terlalu keras?"

"Nah. Karena kata 'rahasia'-nya udah diteriakin keras-keras, gak bakal ketahuan soalnya udah keras."

Jempol diacungkan pada ibu Shuusei yang ekspresinya sulit diidentifikasi. Di ruang tamu Kunikida dan Shuusei berpura-pura bodoh, setidaknya. Sementara Nekozaki mengeong pada pangkuan Shuusei–diseret keluar kotatsu oleh Kunikida. Pemantik pun disulut ke arah lilin. Penuh antusias Kunikida mengajukan diri untuk memimpin nyanyian.

"Selamat ulang tahun kami ucapkan."

Hanya Katai dan Kunikida yang bernyanyi ditemani Nekozaki yang mengeong, sebenarnya, sedangkan Shuusei serta ibunya lebih memilih bertepuk tangan. Ayahnya Shuusei baru pulang malam hari. Namun, ia yang pada akhirnya bisa merayakan ulang tahun bersama teman-temannya (walaupun mereka aneh-aneh), tentu amat membuat Shuusei terharu. Di mana semoga perasaan yang ini tidak gagal.

"Selamat ulang tahun, kita kan doakan. Salam sejahtera, sehat sentosa."

Ah … senyuman Shuusei mendadak terasa kecut. Kunikida serta Katai masih bertepuk tangan, selagi Shuusei dan ibunya berpandangan heran.

"Selamat ulang tahun, dan kami ucapkan. Selamat panjang umur kita kan doakan. Salam sejahtera. Sehat santoso. Selamat ulang tahun, dan kita kan doakan. Selamat ulang tahun kami ucapkan. Selamat panjang umur–", "Berhenti, kalian! Berhenti! Lagunya jangan diulang-ulang, dong," potong Shuusei keki. Ibunya mematung di tempat. Tentu beliau senang Shuusei punya teman, tetapi takutnya tertukar dengan pasien RSJ.

"Selamat ulang tahun, Shuusei! Ayo tiup lilin," seru Katai dan Kunikida berbarengan. Walaupun sempat curiga pada Katai yang tiba-tiba mengangkat tubuh Nekozaki, pada akhirnya Shuusei tetap mendekatkan tubuh ke arah kue.

Kunikida dan Katai ikut meniup lilin bersama Shuusei, dan seolah-olah paham Nekozaki mengeong satu kali, saat mereka bertiga melakukannya. Setidaknya ini cukup normal, Shuusei pikir. Meskipun mendapati Katai menjabat tangan Kunikida agak membingungkan.

"Selamat ulang tahun, Doppo."

"Iya, Katai. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun juga Nekozaki. Selamat ulang tahun, Tante."

"Ulang tahun kalian … satu Februari juga?" tanya ibu Shuusei dengan air muka semakin tidak karuan. Gelengan Katai beri sebagai jawaban. Ia menatap Kunikida menyuruhnya menjelaskan secara singkat, padat, kendatipun tak akan pernah jelas bagi Shuusei.

"Pas Katai ulang tahun, aku juga ucapin selamat ulang tahun ke diri sendiri, kok, sama Nekozaki. Ketika Nekozaki ulang tahun juga sama. Jadi, nanti sewaktu Nekozaki ulang tahun tanggal 25 Maret, kita ucapin HBD sekali lagi ke Shuusei."

"Berarti tanggal tiga puluh Agustus juga aku ulang tahun?"

Hari kelahiran Kunikida tidak ikut Shuusei rayakan, padahal mereka bertemu pada jauh-jauh waktu sebelum tiga puluh Agustus. Seingat Shuusei ia masih di desa kakek-neneknya. Pulang ke Kompleks Bungou juga terlampau mepet, sampai-sampai Shuusei kepayangan seharian di kelas.

"Tepat sekali. Tapi kalo dipikir-pikir, kamu pas Katai ulang tahun ke mana, ya? Harusnya Shuusei udah tau." Memasang pose berpikir ala detektif pun tidaklah berguna, Shuusei rasa.

"Di tanggal 22 Januari kalian mengabaikanku, lho, seolah-olah aku yang ulang tahun."

"Dulu malah kalo Doppo lagi ulang tahun, dia harus ngacangin dirinya sendiri. Susah banget itu. Aku juga ngalamin, lho. Karena Shuusei gak akan mau lakuin itu, ya udah kita yang ngacangin kamu."

"Sejujurnya kalian cuma mau isengin aku, 'kan?"

"Tau aja, hahaha … nanti tahun depan kacangin dirimu sendiri, ya."

Keabsurdan dari Kunikida itu tidak Shuusei respons. Nekozaki lebih menyebalkan lagi dengan menindih kuenya menggunakan tubuhnya, lalu guling-guling mengotorkan meja.


Tamat.


A/N: Sesuai judulnya cerita ini hanya keabsurdan semata. Aku udah dari kapan tau mau bikin ini, cuma rasanya males karena bakalan ngelawak. Ternyata lancar juga meski sempet berhenti, karena buka bunal dulu, ngobrol dulu di FFA, tapi seenggaknya yang ini murni humor. Buat latarnya, ini masih satu AU dengan nekozaki dan kompleks bungou kok. Aku sengaja bikin terpisah, karena 1 februari jatuhnya musim dingin. Sementara di cerita itu latarnya musim panas. Kalo pun update lagi, aku emang pengennya latarnya ya musim panas lagi.

Sekali lagi, HBD buat husbuku tersayang. Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Semoga kalian suka humor recehku abis ngeangst~ (atau jangan2 kebalik? meski yang satunya jangan dibaca sebenernya)